Anda di halaman 1dari 4

Pembahasan

Tablet merupakan salah satu sediaan farmasi yang paling banyak di buat atau di
produksi dewasa ini.karena bentuk tablet dapat menjamin kestabilan sifat fisika dan kimia
bahan obat. Sebab tablet merupakan sediaan kering,mudah dalam pengemasan
,pengepakan,transportasi,dan penggunaannya. Disamping itu takaran obatnya pun cukup
teliti dan serba sama untuk setiap tablet.

Praktikum teknulogi sediaan solid kali ini memiliki tujuan agar mahasiswa dapat
menformulasikan tablet dengan zat aktif yang telah di tentukan oleh pembimbing
laboratorium,mengevaluasi granul antalgin yang di buat dengan metode granulasi
basah,dan mengevaluasi kapsul antalgin yang di buat dengan metode granulasi basah.Zat
aktif yang di berikan adalah antalgin yang memiliki sifat tahan terhadap panas ,tahan
terhdapa air,namun tidak memiliki sifat aliran yang baik.Dengan melihat karakteristik
dari antalgin ini dapatdi buat dengan metode pembuatan tablet yakni granulasi
basah.Karena,metode granulasi basah dapat di lakukan jika zat aktifnya tahan terhadap
pemanasan dan air.

Pada metode granulasi basah ,terlebih dahulukami membuat larrutan pengikat yang
mempunyai peranan yang cukup penting di mana jembatan cair yang terbentuk di antara
partikel dan kekuatan ikatan nya akan meningkat bila jumlah cairan yang di tambahkan
meningkat,gaya tegangan permukaan dan tekanan kapiler paling penting pada awal
pembentukan granul.Larutan pengikat yang yang kami gunakan adalah musilago
amili.Pemilihan musilago amili ini dengan pertimbangan bahwa amilum akan
memberikan daya ikat yang kuat.Namun,amilum pun memiliki kekurangan karena
berasal dari alam adanya kemungkinan kontaminasi mikroba pada tablet.Namun
musilago amili tetap di pilih karena melihat berbagai keuntungan-keuntungannya jika di
bandingkan kekurangannya.Amilum yang di timbang di suspensikan dengan
aquadest,kemudian suspensi di panaskan hingga terbentuk musilago amili.Setelah
musilago amili jadi lalu di masukkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran serbuk fase
dalam(antalgin,amilum,dan laktosa)sampai terbentuk massa yang bisa di kepal dan di
patahkan tetapi tidak hancur dan berantakan,Tindakan ini disebut Banana Breaking test
yang bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi serbuk yang memisah.

Tahap selanjutnya yaitu pengayakan,pengayakan di lakukan dengan menggunakan


ayakan yang nomornya tidak di ketahui karena tidak tersedia ayakan nomor 6-12.

Laktosa pada formulasi ini berperan sebagai zat pengisi,karena laktosa biasa di
gunakan dan dapat bercampur dengan komponen lain terutama zat aktif. Pengisi ini biasa
di gunakan jika kandungan zat aktif tidak cukup untuk membuat tablet dengan ukuran
yang sesuai selain itu pengisi juga dapat meningkatkan daya ikat antar serbuk dan dapat
memperbaiki sifat alir granul. Jika kandungan zat aktif cukup tinggi,mungkin di butuhkan
pengisi yang sedikit atau bahkan tidak di butuhkan sama sekali. Tablet yang di buat
dengan penggunaan laktosa menunjukkan laju pelepasan zat aktif yang baik.granul yang
di hasilkan akan cepat kering dan menunjukkan waktu hancur yang bagus.

Komponen yang tidak kalah pentingnya adalah komponen penghancur tablet.Zat ini di
tambahkan untuk meningkatkan daya hancur dan disolusi dari tablet, pada proses
pembuatan tablet denagn metode granulasi basah kali ini,zat penghancur di tambahkan
pada saat proses granulasi atau dengan kata lain zat penghancur di tambahkan secara
internal(pada fase dalam). Ketika tablet di konsumsi, tablet keudian akan berkontak
dengan cairan dalam saluran pencernaan dengan adanya komponen penghancur, tablet
akan mengembang dan selanjutnya pecah menjadi granul-granul , kondidi ini karena
pengaruh penghancur luar,selanjutnya granul-granulpecah menjadi fines dengan adanya
penghancur dalam. Hal ini sangat berpengaruh terhadap waktu hancur dan pelepasan zat
aktif. Waktu hancur dari tablet menjadi bertahap sehingga kadar zat aktif dalam darah
dapat dapat di control dan tidak langsung memberikan konsentrasi yang maksimal karena
di khawatirkan akan mencapai efek toksik. Komponen penghancur yang kami gunakan
dalam formulasi ini adalah amylum kering, karena amylum sudah sangat sering di
gunakan sebagai penghancur,dapat menunjukkan proses penghancuran yang bertahap dan
dapat bercampur dengan komponen lain.
Setelah melewati tahap evaluasi granul, selanjutnya kami melakukan pengkapsulan
terhadap granul karena tidak tersedianya mesin pencetak tablet. Pengkapsulan dilakukan
dengan cara menimbang 15 gram granul antalgin untuk 30 kapsul. Bobot tiap kapsul yang
kami buat yaitu sebanyak 500 mg per kapsul. Adapun evaluasi kapsul yang kami lakukan
yaitu uji fisik,uji keseragaman bobot,dan uji waktu hancur.

Uji fisik dilakukan dengan cara memperhatikan bentuk,warna ,dan ukuran masing-
masing kapsul,dan semua kapsul yang kami peroleh masih memenuhi syarat uji fisik dan
tidak cacat sama sekali.

Uji keseragaman bobot dilakukan dengan cara menimbang 20 cangkang kapsul


sekaligus yang diambil secara acak kemudian dicatat bobotnya dan dihitung rata-rata
bobot cangkang kapsul,selanjutnya, ditimbang kapsul yang telah berisi granul antalgin
satu persatu yang diambil secara acak lalu dicatat lalu dicatat bobot dan dihitung rata-
ratanya. Kemudian ditimbang 20 kapsul sekaligus dan dicatat hasilnya serta dihitung
bobot rata-ratanya. Bobot kapsul antalgin yang kami buat memenuhi keseragaman bobot
secara keseluruhannya sesuai persyaratan yang tertera di farmakope Indonesia edisi III.

Evaluasi kapsul yang terakhir kami lakukan adalah uji waktu hancur. Pengujian ini
dilakukan dengan cara memanaskan air pada disintegrator tester hingga suhu 37˚C.
selanjutnya memasukkan 5 kapsul yang telah kami buat masing-masing ke dalam
keranjang yang terpasang pada disintegrator tester lalu ditutup dengan menggunakan
penutup. Lalu yang tersisa. Waktu yang kami peroleh untuk menghancurkan kelima
kapsul adalah 8,41 menit. Hal ini berarti bahwa kapsul yang kami buat memenuhi
persyaratan waktu hancur kapsul yang tertera di farmakope edisi III karena tidak
melampaui waktu hancurnya yaitu15 menit.
Kesimpulan
Dari praktikum yang telah kami lakukan dapat di simpulkan bahwa :
 Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi.
 Bahan pengikat pada formula yang di buat adalah musilago amili.
 Bahan penghancur pada formula yang di buat adalah laktosa.
 Metode granulasi basah yang di gunakan untuk zat yang memiliki sifat alir yang
buruk,tahan terhadap panas , dan tahan terhadap lembab.
 Antalgin memiliki sifat alir yang buruk,tahan terhadap panas,dan tahan terhadap
lembab.
 Metode granulasi basah dapat memperbaiki sifat alir dari antalgin.
 Kapsul yang kami buat dalam keadaan baik/tidak rusak ,memiliki bentuk,warna dan
ukuran yang seragam.
 Kapsul yang kami buat memenuhi syarat keseragaman bobot yang tertera di
farmakope Indonesia edisi III.

Saran
 Sebaiknya di lakukan pembuatan tablet sehingga evaluasi sediaan yang di
lakukan yaitu sediian tablet bukan sediian kapsul.
 Sebaiknya praktikan lebih teliti dalam penimbangan bahan dan pembuatan
granul sehingga tidak mengalami penyimpangan bobot.
 Praktikan lebih berhati-hati pada saat penambahan zat pengikat pada massa
fase dalam agar massa yang terbentuk tidak terlalu lembek.
 Sebaiknya semua metode yang di lakukan harus sesuai denagn protap
sehingga hasil yang di peroleh sesuai dengan yang di inginkan.