Anda di halaman 1dari 11

AKUNTANSI MANAJEMEN

BIAYA KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS : PENGUKURAN, PELAPORAN, DAN


PENGENDALIAN

KELOMPOK 12 :

IB SURYA CAHYADI LUHUR (1415351088)

IB TEJA PERMANA (1415351103)

AGUS SURIAMBAWA (1415351137)

I MADE CAESAR JULIARTHA N (1415351142)

GEDE HARA YOGISWARA (1415351154)

PROGRAM EKSTENSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2016

1|UNIVERSITAS UDAYANA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat karunia-
Nya

kami dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. Dalam paper ini akan dibahas
mengenai “BIAYA KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS : PENGUKURAN, PELAPORAN, DAN PENGENDALIAN”

Kami menyadari bahwa paper ini jauh dari sempurna, menyadari tentang hal itu, kami

sebagai penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca agar hasil penulisan ini

semakin baik.

Kami sebagai penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada

pihak yang telah membantu terselesainya laporan ini.

Demikianlah paper ini kami buat, semoga dapat berguna dan bermanfaat bagi dunia

pendidikan khususnya bagi kami pribadi dan umumnya bagi para pembaca

Denpasar, 1 Mei 2016

Penulis

Kelompok 12

2|UNIVERSITAS UDAYANA
PEMBAHASAN

PENGUKURAN BIAYA KUALITAS

Peningkatan kualitas dapat meningkatkan profitabilitas melalui dua cara, seperti : dengan
meningkatkan pelanggan atau menghemat biaya biaya

Peningkatan kualitas dapat menghasilkan peningkatan yang berarti dalam profitabilitas dan
efisiensi perusahaan secara keseluruhan. Kualitas telah menjadi dimensi kompetitif yang
penting bagi perusahaan manufaktur maupun jasa, juga bagi usaha kecil dan usaha besar.

DEFINISI KUALITAS

Pengertian kualitas (kamus) adalah “derajat atau tingkat kesempurnaan”. Dalam hal ini, kualitas
adalah ukuran relatif dari kebaikan (Goodness). Harapan pelanggan dapat digambarkan melalui
atribut atribut kualitas yang sering disebut dengan dimensi kualitas. Jadi produk atau jasa yang
berkualitas adalah yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan dalam 8 dimensi berikut :

1. Kinerja (Performance)
2. Estetika (Aesthetics)
3. Kemudahan perawatan dan perbaikan (Serviceability)
4. Fitur (Features)
5. Keandalan (Reliability)
6. Tahan lama (Durability)
7. Kualitas kesesuaian (Quality of Conformance)
8. Kecocokan penggunaan (Fitness for Use)

4 dimensi pertama merupakan atribut kualitas yang penting, tetapi sulit untuk diukur. Kinerja
mengacu pada konsistensi dan seberapa baik fungsi-fungsi sebuah produk. Dalam jasa, prinsip
tidak tidak tepisahkan (Inseparability Principle) mengandung arti bahwa jasa dilakukan secara
langsung dihadapan pelangan.

Dengan demikian, perbaikan kualiatas berarti perbaikan satu atau lebih dari 8 dimensi tersebut
diatas sambil tetap mempertahankan kinerja dimensi lainnya. Menyediakan produk yang lebih
baik kualitasnya daripada pesaing berarti mengungguli produk pesaing setidaknya satu dimensi
sementara kinerja dimensi lainnya tetap setara.

DEFINISI BIAYA KUALITAS

Kegiatan yang berhubungan dengan kualitas adalah kegiatan yang dilakukan karena mungkin
atau telah terdapat kualitas yang buruk. Biaya-biaya untuk melakukan kegiatan-kegiatan
tersebut disebut biaya kualitas. Biaya kualitas (Cost of Quality) adalah biaya-biaya yang
timbul karena mungkin atau telah terdapat produk yang buruk kualitasnya. Definisi ini
mengimplikasikan bahwa biaya kualitas berhubungan dengan 2 sub kategori dari kegiatan-
kegiatan yang berkaitan dengan kualitas, antara lain :

3|UNIVERSITAS UDAYANA
Kegiatan pengendalian (Control Activities) dilakukan oleh suatu perusahaan untuk
mencegah atau mendeteksi kualitas yang buruk (karena kualitas yang buruk mungkin terjadi).
Jadi, kegiatan pengendalian terdiri dari kegiatan-kegiatan pencegahan dan penilaian.

Biaya pengendalian (Control Cost) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan
kegiatan pengendalian.

Kegiatan karena kegagalan (Failure Activities) dilakukan oleh perusahaan atau oleh
pelanggannya untuk merespon kualitas yang buruk (kualitas buruk memalng telah terjadi).
Biaya kegagalan (failure cost) adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan karena
telah terjadinya kegiatan karena kegagalan.

Definisi mengenai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kualitas juga menunjukkan 4


kategori biaya kualitas, antara lain :

Biaya pencegahan (Preventional Cost)

Biaya ini digunakan untuk mencegah kualitas yang buruk pada produk atau jasa yang
dihasilkan. Sejalan dengan peningkatan biaya pencegahan, kita mengharapkan biaya
kegagalannya turun.

Biaya penilaian (Appraisal Cost)

Terjadi unutk menentukan apakah produk dan jasa telah sesuai dengan persyaratan atau
kebutuhan pelanggan.Contoh : biaya pemerikasaan dan pengujian bahan baku, pemerikasaan
kemasan, pengawasan kegiatan penilaian, penerimaan produk, penerimaan proses, peralatan
pengukuran (pemerikasaan dan pengujian) dan pengesahan dari pihak luar.

Biaya kegagalan internal (Internal Failure Cost)

Terjadi karena produk dan jasa yang diinginkan tidak sesuai dengan spesifikasi kebutuhan
pelanggan. Ketidaksesuaian ini dideteksi sebelum dikirim kepihak luar. Ini adalah kegagalan
yang dideteksi oleh kegiatan penilaian

Biaya kegagalan eksternal (Eksternal Failure Cost)

Terjadi karena produk dan jasa yang dihasilkan gagal memenuhi persyaratan atau tidak
memuaskan kebutuhan pelanggan setelah produk disampaikan kepada pelanggan.

MENGUKUR BIAYA KUALITAS

Biaya kualitas dapat diklasifikasikan sebagai biaya yang dapat diamati atau tersembunyi. Biaya
kualitas yang dapat diamati (Observable Quality Cost) adalah biaya-biaya yang tersedia atau
dapat diperoleh dari catatan akuntansi perusahaan. Biaya kualitas yang tersembunyi (hidden
quality cost) adalah biaya kesempatan (opportunity) yang terjadi karena kualitas yang buruk.

Ada 3 metode yang disaranakan untuk mengestimasi biaya kualitas yang tersembunyi, antara
lain :

4|UNIVERSITAS UDAYANA
Metode Pengali (Multiplier Method), metode ini, mengasumsikan bahwa total biaya
kegagalan adalah hasil pengali dari biaya-biaya kegagalan yang terukur.

Total Biaya Kegagalan Eksternal = k (biaya kegagalan eksternal yang terukur)

Metode Penelitian Pasar (Market Research Method), Metode ini digunakan untuk menilai
dampak kualitas yang buruk terhadp penjualan dan pangsa pasar.

Fungsi Kerugian Kualitas Taguchi (Taguchi Quality Loss Function), Fungsi ini
mengasumsikan bahwa biaya kualitas yang tersembunyi hanya terjadi atas unit-unit yang
menyimpang dari batas spesifikasi atas dan bawah. Dimana setiap penyimpangan dari nilai
target suatu karakteristik kualitas dapat menimbulakn biaya kualitas yang tersembunyi.
Sehingga biaya kualitas yang tersembunyi dapat meningkat secara kuadrat pada saat nilai
aktual menyimpang dari nilai target. Persamaan Taguchi :

L(y) = k (y – T)2

k= Konstanta proporsionalitas yang besarnya bergantung pada struktur biaya kegagalan


eksternal perusahaan.

y = Nilai aktual dari karakteristik kualitas.

T= Nilai target dari karakteristik kualitas.

L= Kerugian kualitas

PELAPORAN INFORMASI BIAYA KUALITAS

Sebuah sistem pelaporan akuntansi memiliki arti penting bagi perusahaan yang menaruh
perhatian serius pada perbaikan dan pengendalian biaya kualitas. Langkah pertama dan paling
sederhana dalam menciptakan sistem ini ialah dengan menilai biaya kualitas aktual saat ini.
Pencatatan biaya kualitas secara rinci berdasarkan kategorinya memberikan dua masukan
pandangan penting. Pertama catatan tersebut mengungkapkan besarnya biaya kualitas setiap
periode, sehingga manajer dapat menilai dampak keuangannya. Kedua catatan tersebut
menunjukkan distribusi biaya kualitas menurut kategori, sehingga para manajer dapat menilai
kepentingan relatif masing-masing kategori.

Laporan Biaya Kualitas

Pentingnya biaya kulaitas terhadap keuangan perusahaan dapat lebih mudah dinilai dengan
menampilkan biaya biaya kualitas sebagai persentase dari penjualan aktual

Fungsi Biaya Kualitas : Pandangan Kualitas yang Dapat Diterima

Pandangan kualitas yang dapat diterima mengasumsikan terdapat perbandingan terbalik antara
biaya pengendalian dan biaya kegagalan. Ketika biaya pengendalian meningkat , biaya
kegagalan seharusnya menurun . Selama penurunan biaya kegagalan lebih besar daripada
kenaikan biaya pengendalian , perusahaan harus terus meningkatkan usahanya untuk
mencegah atau mendeteksi unit unit yang tidak sesuai. Pada akhirnya akan dicapai suatu titik

5|UNIVERSITAS UDAYANA
dimana kenaikan tambahan biaya dalam upaya tersebut menimbulkan biaya yang lebih besar
daripada penurunan biaya kegagalan. Titik ini mewakili tingkat minimum dari total biaya
kualitas. Hal ini merupakan perbandingan optimal antara biaya pengendalian dan biaya
kegagalan, serta mendefinisikan apa yang dikenal sebagai tingkat kualitas yang dapat diterima
(acceptable quality level –AQL)

Fungsi Biaya Kualitas : Pandangan Cacat-Nol

Dalam pengertian klasik, produk dikatakan cacat, bila kualitasnya di luar batas toleransi
karateristik kualitas. Biaya kegagalan timbul hanya jika produk tidak sesuai spesifikasi. Selain
itu, terdapat perbandingan terbalik optimal antara biaya kegagalan dan biaya pengendalian.
Pada akhir tahun 1970-an, model cacat nol ( zero- defects model ) menentang model AQL
karena model cacat nol menyatakan bahwa dengan mengurangi unit cacat hingga nol maka akan
diperoleh keunggulan biaya. Perusahaan dengan semakin sedikit produk cacat akan lebih
kompetitif relatif daripada perusahaan dengan model AQL tradisional. Pertengahan tahun 1980-
an, model cacat nol disempurnakan dengan model kualitas kokoh ( robust quality model ), yang
menentang AQL. Menurut pandangan ini penyimpangan dari spesifikasi ideal adalah merugikan
dan batas toleransi spesifikasi tidak menawarkan manfaat apapun, bahkan menipu.

Model cacat nol menekankan pada biaya kualitas dan potensi penghematan dari upaya yang
lebih besar untuk meningkatkan kualitas. Model kualitas kokoh menentang definisi unit cacat,
menyempurnakan pandangan terhadap biaya kualitas, mengintensifkan upaya perbaikan
kualitas. Perusahaan yang berupaya mencapai kondisi cacat nol atas produk mereka ( kondisi
dengan toleransi nol ), dapat mengkapitalisasi kualitas dengan menurunkan jumlah unit cacat
sambil menekan total biaya kualitas. Tingkat optimal dari biaya kualitas ialah keadaan di mana
produk-produk yang diproduksi memenuhi nilai target. Upaya untuk mencapai nilai target
menciptakan sebuah dunia kalitas dinamis, berlawanan dengan dunia kualitas statis AQL

Manajemen Berbasis Kegiatan Dan Biaya Kualitas Optimal

Manajemen berbasis kegiatan ( ABM )mengklasifikasikan berbagai kegiatan sebagai bernilai


tambah, serta tidak bernilai tambah, dan hanya mempertahankan kegiatan yang bernilai
tambah. Prinsip ini diaplikasikan pada kegiatan berkaitan dengan kualitas. Biaya kegagalan,
penilaian, dan biaya-biaya yang tudak menghasilkan nilai tambah harus dihilangkan.

ABM mendukung pandangan cacat nol robust, di mana tidak ada perbandingan terbalik optimal
antara biaya kegagalan dan biaya pengendalian; biaya kegagalan tidak menghasilkan nilai
tambah, sehingga harus dikurangi hingga nol. Beberapa biaya pengendalian juga tidak
memberikan nilai tambah, sehingga juga harus dihilangkan. Sedangkan untuk biaya
pengendalian yang memberikan nilai tambah mungkin dijalankan namun tidak efisien, dan
biaya untuk kegiatan tidak efisien dianggap tidak bernilai tambah, sehingga biaya untuk
kategori ini juga dapat dikurangi menjadi lebih rendah.

Analisis Tren

Laporan biaya kualitas menunjukkan jumlah dan distribusi biaya kualitas di antara 4 kategori
yaitu biaya pencegahan, penilaian, kegagalan internal dan kegagalan eksternal, sehingga
menunjukkan peluang untuk perbaikan kualitas. Perubahan biaya kualitas dari waktu ke waktu
dapat digambarkan oleh grafik tren atau biasanya disebut laporan tren kualitas multi-periode.

6|UNIVERSITAS UDAYANA
PENGGUNAAN INFORMASI BIAYA KUALITAS

Tujuan utama pelaporan biaya kualitas adalah memperbaiki dan mempermudah perencanaan,
pengendalian, dan pengambilan keputusan manajerial. Informasi biaya kualitas dapat
digunakan dalam keputusan penetapan harga strategis dan analisis produk baru. Informasi
biaya kualitas menjadi dasar yang sangat penting bagi penelusuran perusahaan atas perbaikan
yang berkelanjutan.

PRODUKTIVITAS : PENGUKURAN DAN PENGENDALIAN

Produktivitas berkaitan dengan memproduksi output secara efisien dan spesifik yang nantinya
akan ada kesinambungan antara output dan input yang mana nantinya digunakan untuk
memproduksi output. Dalam produktivitas ini ada juga istilah mengenai Efisiensi Produksi Total
dimana pengertiannya adalah suatu titik dimana ada dua kondisi yang terpenuhi, yaitu :

Setiap bauran input untuk memproduksi output tertentu, dimana tidak ada satupun input yang
digunakan melebihi yang diperlukan guna menghasilkan yang namanya output. Melirik dari
bauran yang ada di point pertama, dipilih bauran dengan biaya yang paling rendah.

Kondisi pada point pertama diatas tersebut digerakkan oleh hubungan teknis dan karenanya
sering disebut dengan istilah Efisiensi Teknis atau Technical Efficiency. Berbeda dengan kondisi
yang pertama, kondisi yang ada pada point dua diatas lebih pada digerakkan oleh hubungan
relative dari harga input, maka dari itu kondisi ini sering mendapat istilah Efisiensi Trade-Off
input atau Input Trade-Off Efficiency.

Pengukuran Produktivitas Parsial

Pengukuran produktivitas (productivity measurement) adalah penilaian kuantitatif atas


perubahan produktivitas. Tujuan pengukuran ini adalah untuk menilai apakah efesiensi
produktif telah meningkat atau menurun. Pengukuran produktivitas dapat berupa actual atau
perspektif. Pengukuran produktivitas aktual memungkinkan manajer untuk menilai, memantau,
dan mengendalikan perubahan.

Pengukuran prospektif melihat ke masa depan, dan berguna sebagai input bagi pengambilan
keputusan strategis. Secara khusus, pengukuran prospektif memungkinkan para manajer untuk
membandingkan manfaat relatif diri berbagai kombinasi input, pemilihan input dan bauran
input yang memberikan manfaat terbesar. Pengukuran produktivitas dapat dikembangkan
untuk masing-masing input secara terpisah atau seluruh input secara bersama-sama.
Pengukuran produktivitas parsial (partial productivity measurement).

Definisi Pengukuran Produktivitas Parsial adalah produktivitas dari satu input tunggal
biasanya diukur dengan menghitung rasio output terhadap input.

Rasio produktivitas = output/input

Karena hanya produksitivitas dari satu input yang sedang diukur, maka ukuran itu disebut
pengukuran produktivitas parsial. Jika output dan input diukur dalam kuantitas fisik, maka kita
memperoleh ukuran produksitivitas operasional (operational productivity measure). Jika
output dan input dinyatakan dalam dolar, maka kita memperoleh ukuran produktivitas
keuangan (financial productivity measure).

7|UNIVERSITAS UDAYANA
Ukuran-Ukuran Parsial dan Pengukuran Perubahan Efesiensi Produktif, Rasio
Produktivitas tenaga kerja sebesar tiga mesin per jam adalah ukuran produktivitas Ladd
Lighting pada tahun 2007, rasio tersebut menunjukkan sedikit informasi mengenai efesiensi
produktif atau apakah produktivitas perusahaan telah meningkat atau menurun. Namun, dapat
juga dibuat laporan mengenai peningkatan atau penurunan. Efesiensi produktivitas melalui
pengukuran perubahan dalam produktivitas. Untuk mengukur perubahan dalam produktivitas,
ukuran prroduktivitas yang aktual berjalan dibandingkan dengan ukuran produktivitas periode
sebelumnya. Periode sebelumnya ini disebut periode dasar (base period) dan menjadi acuan
atau standar bagi pengukuran perubahan efesiensi produktif. Periode sebelumnya dapat
ditentukan secara bebas. Misalnya, tahun sebelumnya, minggu sebelumnya, atau bahkan
periode di mana batch produk terakhir diproduksi. Untuk evaluasi strategis, periode dasar yang
biasanya dipilih adalah tahun sebelumnya. Untuk pengendalian operasional, periode dasar
cenderung mendekati periode berjalan-seperti batch produk terakhir atau minggu sebelumnya.

Keunggulan Ukuran Parsial, keunggulan parsial memungkinkan manajer untuk memfokuskan


perhatiannya pada penggunaan input tertentu. Penggunaan ukuran parsial memiliki
keunggulan, yaitu mudah diinterprestasikan oleh semua pihak di dalam perusahaan, sehingga
ukuran tersebut mudah digunakan untuk menilai kinerja produktivitas dari karyawan
operasional.

Kelemahan Ukuran Parsial, Ukuran parsial, yang digunakan secara terpisah, dapat
menyesatkan. Penurunan produktivitas suatu input mungkin diperlukan untuk meningkatkan
produktivitas yang lainnya. Trade-off seperti itu di perlukan jika biaya secara keseluruhannya
turun, tetapi pengaruh tersebut akan hilang jika digunakan ukuran parsial masing-masing.
Misalnya, mengubah proses agar tenaga kerja langsung menggunakan lebih sedikit waktu untuk
merakit sebuah produk mungkin akan meningkatkan sisa bahan baku dan limbah produksi
sementara output totalnya tidak berubah. Dalam hal ini, produktivitas tenaga kerja meningkat,
tetapi produktivitas penggunaan bahan baku menurun. Jika kenaikan biaya sisa bahan baku dan
limbah produksi melebihi penghematan dari pengurangan tenaga kerja, maka produktivitas
secara keseluruhan menurun.

Pengukuran Produktivitas Total

Pengukuran produktivitas dari seluruh input disebut pengukuran produktivitas total (total
productivity measurement). Perusahaan hanya mengukur produktivitas dari faktor-faktor yang
dianggap sebagai indikator relevan bagi keberhasilan dan kinerja perusahaan. Jadi, pengukuran
produktivitas total dapat didefinisikan sebagai pemfokusan perhatian pada beberapa input yang
menunjukkan keberhasilan perusahaan secara total. Pengukuran produktivitas total
mensyaratkan pengembangan dari pendekatan pengukuran multifaktor yang umum disarankan
dalam literatur produktivitas adalah menggunakan indeks produktivitas agregat. Indeks agregat
bersifat kompleks, sulit diinterpretasikan dan belum diterima secara umum. Dua pendekatan
yang telah memperoleh beberapa pengakuan adalah pengukuran profil (profile measurement)
dan pengukuran produktivitas yang berkaitan dengan laba (profit-linked productivity
measurement).

Pengukuran Profil Produktivitas, Pengukuran profil menyediakan serangkaian atau sebuah


vektor ukuran operasional parsial yang berbeda dan terpisah

8|UNIVERSITAS UDAYANA
Pengukuran Produktivitas yang Berkaitan dengan Laba, Pengukuran jumlah perubahan
laba yang diakibatkan oleh perubahan produktivitas disebut pengukuran produktivitas yang
berkaitan dengan laba. Keterkaitan perubahan produktivitas dengan laba dijelaskan oleh aturan
berikut:

Aturan Keterkaitan dengan Laba (Profit-Linkage Rule): untuk periode berjalan, hitunglah biaya
input yang seharusnya digunakan dalam keadaan tanpa adanya perubahan produktivitas dan
bandingkan biaya tersebut dengan biaya input aktual yang digunakan. Selisih biayanya adalah
sejumlah perubahan laba yang disebabkan oleh perubahan produktivitas.

Untuk mengaplikasikan aturan ini, input yang seharusnya digunakan selama periode berjalan
dalam keadaan tanpa perubahan produktivitas harus dihitung terlebih dahulu.

PQ = Output periode berjalan/Rasio produktivitas periode dasar

KOMPONEN PEMULIHAN HARGA

Komponen pemulihan harga ( price recovery component ) adalah selisih antara perubahan laba
total dan perubahan produktivitas terkait dengan harga. Komponen ini adalah perubahan
pendapatan dikurangi perubahan biaya input, dengan asumsi tidak ada perubahan
produktivitas. Oleh karena itu, komponen pemulihan harga mengukur kemampuan perubahan
pendapatan untuk menutupi perubahan biaya input, dengan asumsi tidak ada perubahan
aktivitas.

Pemulihan harga = Perubahan harga – Perubahan produktivitas terkait dengan laba

Kenaikan pendapatan tidak akan cukup untuk menutupi kenaikan biaya input. Penurunan
produktivitas hanya akan memperburuk masalah pemulihan harga. Tetapi kenaikan
produktivitas dapat digunakan untuk mengimbangi kerugian pemulihan harga.

KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS

Peningkatan kualitas dapat meningkatkan produktivitas dan juga sebaliknya. Sebagai contoh,
jika pengerjaan ulang berkurang karena menurunnya unit produk cacat maka lebih sedikit
tenaga kerja dan bahan yang digunakan untuk menghasilkan output yang sama. Penurunan
jumlah unit cacat memperbaiki kualitas, sementara pengurangan jumlah output yang digunakan
meningkatkan produktivitas.

Oleh karena sebagian besar peningkatan kualitas mengurangi jumlah sumber daya yang
digunakan untuk memproduksi dan menjual output perusahaan, maka kebanyakan peningkatan
kualitas secara umum akan tercermin pada ukuran – ukuran produktivitas. Namun, ada juga
cara – cara lain untuk meningkatkan produktivitas. Sebuah perusahaan mungkin saja
memproduksi barang dengan sedikit atau tanpa cacat akan tetapi masih menjalankan proses
yang tidak efisien.

9|UNIVERSITAS UDAYANA
INSENTIF PEMBAGIAN KEUNTUNGAN

Insentif pembagian keuntungan (gainsharing) adalah pemberian insentif ulang tunai bagi
seluruh tenaga kerja perusahaan yang menjadi kunci pencapaian kualitas dan produktivitas.
Pembagian keuntungan memberikan insentif dengan menawarkan bonus kepada pegawai
sesuai dengan persentase penghematan biaya. Insentif pembagian keuntungan dapat digunakan
sebagai insentif bagi para manjer dan pekerja untuk mencari cara – cara untuk meningkatkan
kualitas dan produktivitas. Bonus dapat diberikan misalnya dengan melihat kualitas produk
keseluruhan. Jumlah bonus dapat bertambah atau berkurang tergantung pada seberapa baik
target produktivitas dan kualitas dapat dipenuhi.

10 | U N I V E R S I T A S U D A Y A N A
DAFTAR PUSTAKA

Akuntansi Manajerial (Jilid 2) (Edisi 8) Don R. Hansen, Maryanne M. Mowen

11 | U N I V E R S I T A S U D A Y A N A