Anda di halaman 1dari 24

PERCOBAAN 2

PENENTUAN SPEKTRUM KERJA DAN PEMILIHAN ANTIBIOTIKA

Kelompok/Shift : 7A
M.Fawwaz Fauzi (10060315039)
Novia Sagita (10060315040)
Rahayu Rahmadini (10060315041)
Pinondang Kurnia H (10060315042)
Alfath Nauli Pulungan (10060315043)
Mira Nurseha (10060315044)

Tanggal Praktikum : 20 Februari 2018


Tanggal Penyerahan : 27 Februari 2018

Asisten Penanggung Jawab:


Shelvy Asmiranda ,S.Farm

LARORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT D

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

1439 H / 2018 M
PERCOBAAN 2

PENENTUAN SPEKTRUM KERJA DAN PEMILIHAN ANTIBIOTIKA

I. Tujuan
1.1 Terampil dan memahami cara menguji spectrum kerja antibiotika
1.2 Mampu membedakan antibiotika spectrum luas dan spectrum sempit
1.3 Dapat memahami penggunaan antibiotika spectrum luas dan antibiotika
spectrum sempit

II. Pendahuluan

2.1 Antibiotik

Antibiotika adalah zat-zat kimia yang dihasilkan mikro-organisme hidup


terutama fungi dan bakteri tanah, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat
pertumbuhan banyak bakteri dan beberapa virus besar, sedangkan toksisitasnya bagi
manusia relatif kecil (Tjay, 1978).

Kegiatan antibiotika untuk pertama kalinya ditemukan oleh sarjana Inggris dr.
Alexander Flemming pada tahun 1928 (penisilin). Tetapi penemuan ini baru
diperkembangkan dan dipergunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh dr.Florey
(Oxford). Kemudian banyak zat lain dengan khasita antibiotik diisolir oleh penyelidik-
penyelidik di seluruh dunia, akan tetapi berhubung dengan sifat toksisnya hanya
beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat (Tjay, 1978).

Suatu bahan diklasifikasikan sebagai antibiotika apabila (Pelczar, 2005) :

 Bahan tersebut merupakan produk metabolisme (alami maupun sintesis).


 Bahan tersebut adalah produk sintesis yang dihasilkan sebagai analog struktur
suatu antibiotika yang terdapat di alam.
 Bahan tersebut mengantagonis pertumbuhan atau keselamatan suatu spesies
mikroorganisme atau lebih.
 Bahan tersebut efektif dalam konsentrasi rendah.

Secara umum antibiotika terbagi atas (Pelczar, 2005) :

1. Penisilin

Penisilin-G dan turunannya bersifat bakterisid terhadap terutama kuman Gram-


positif (khususnya Cocci) dan hanya beberapa kuman Gram-negatif. Contohnya :
Benzilpenisilin, Fenoksimetilpenisilin Kloksasilin, Asam Klavulanat, Ampisilin.

2. Sefalosporin

Spektrum kerjanya luas dan meliputi banyak kuman Gram-positif dan Gram-
negatif termasuk Escherichia coli. Berkhasiat bakterisid dalam fase pembunuhan
kuman, berdasarkan penghambatan sintesa peptidoglikan yang diperlukan kuman
untuk ketangguhan dindingnya. Contohnya : Sefaleksin, Sefamandol, Sefouroksin,
Sefotaksim, Seftazidim, Aztreonam.

3. Aminoglikosida

Aktivitasnya bakterisid, berdasarkan dayanya untuk mempenetrasi dinding


bakteri dan mengikat diri pada ribosom di dalam sel. Proses translasi (RNA dan
DNA) diganggu sehingga biosintesa proteinnya dikacaukan. Efek ini tidak saja
terjadi pada fase pertumbuhan juga bila kuman tidak membelah diri. Contohnya :
Streptomisin, Gentamisin, Amiksin, Neomisin Paromomisin.

4. Tetrasiklin

Mekanisme kerja berdasarkan diganggunya sintesa protein kuman. Spectrum


kerjanya luas dan meliputi banyak cocci Gram-positif dan Gram-negatif serta
kebanyakan bacilli, kecuali pseudomonas dan proteus. Contohnya : Tetrasiklin,
Doksisiklin,

5. Makrolida dan linkomisin

Eritromisin bekerja bakteriostatis terhadap terutama bakteri Gram-positif, dan


spectrum kerjanya mirip penisilin-G. Mekanisme kerjanya melalui pengikatan
reversible pada ribosom kuman, sehingga sintesis proteinnya dirintangi. Contohnya
: Eritromisin, Azitromisin, Spiramisin, Linkomisin.

6. Polipeptida

Khasiatnya adalah bakterisid berdasarkan aktivitas permukaannya dan


kemampuannya untuk melekatkan diri pada membran sel bakteri, sehingga
permeabilitas sel meningkat dan akhirnya sel meletus. Contohnya : Polimiksin B,
Basitrasin, Gramsidin.

7. Antibiotika lainnya

Khasiatnya bersifat bakteriostatis terhadap enterobacter dan Staphylococcus


aureus berdasarkan perintangan sintesa polipeptida kuman. Contohnya :
Kloramfenikol, Vankomisin, Asam fusidat, Mupirosin, Spektinomisin.

Berdasarkan mekanisme kerjanya antimikroba dibagi dalam lima kelompok


(Lim, D. 1998) :

1. Antimikroba yang menghambat metabolisme sel mikroba

Antimikroba yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid, trimetoprim,


asam p-aminosalisilat dan sulfon.

2. Antimikroba yang menghambat sintesis dinding sel mikroba


Obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah penisilin, sfalosforin, basitrasin,
vankomisin, dan sikloserin.

3. Antimikroba yang mengganggu keutuhan membran sel

Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah polimiksin, golongan polien serta
berbagai antimikroba kemoteraupetik, seperti antiseptik surface active agents.

4. Antimikroba yang menghambat sintesis protein sel mikroba

Obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah golonbgangna aminoglikosid,


makrolid, linkimisin, tetrasiklin dan kloramfenikol.

5. Antimikroba yang menghambat sintesis asam nukleat sel mikroba

Antimikroba yang termasuk kelompok ini ialah rimpisin dan golongan kuinolon.

Penggolongan Berdasarkan Spektrum Kerjanya

Spektrum luas (aktivitas luas) : Antibiotik yang bersifat aktif bekerja terhadap
banyak jenis mikroba yaitu bakteri gram positif dan gram negative. Contoh antibiotik
dalam kelompok ini adalah sulfonamid, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol,
tetrasiklin, dan rifampisin.

Spektrum sempit (aktivitas sempit) : Antibiotik yang bersifat aktif bekerja


hanya terhadap beberapa jenis mikroba saja, bakteri gram positif atau gram negative
saja. Contohnya eritromisin, klindamisin, kanamisin, hanya bekerja terhadap
mikroba gram-positif. Sedang streptomisin, gentamisin, hanya bekerja terhadap
kuman gram-negatif (Syamsuni, 2005).

Prinsip penggunaan antibiotik didasarkan pada dua pertimbangan utama,


yaitu:

1. Penyebab infeksi
Pemberian antibiotik yang paling ideal adalah berdasarkan hasil pemeriksaan
mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun dalam praktek sehari-hari, tidak
melakukan pemeriksaan mikro-biologis untuk setiap pasien yang dicurigai menderita
suatu infeksi. Di samping itu, untuk infeksi berat yang memerlukan penanganan
segera dimulai setelah pengambilan sampel bahan biologik untuk biakan dan
pemeriksaan kepekaan kuman. Pemberian antibiotik tanpa pemeriksaan
mikrobiologis dapat didasarkan pada educated guess.

2. Faktor pasien

Diantara faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotik antara
lain fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi (status
imunologis), daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah
sedang hamil atau menyusui, dan lain-lain.

2.2 Morfologi dan Karakteristik Bakteri


Staphylococcus aureus

Klasifikasi Staphylococcus aureus, yaitu:


Domain : Bakteri
Kingdom : Eubacteria
Filum : Firmicutes
Kelas : Coccus
Order : Bacillales
Keluarga : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies : S. aureus
Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang
menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan
spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok,
dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm. S. aureus tumbuh dengan optimum pada
suhu 37̊C dengan waktu pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan mikroflora
normal manusia. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernafasan atas dan
kulit. Keberadaan S. aureus pada saluran pernafasan atas dan kulit pada
individu jarang menyebabkan penyakit, individu sehat biasanya hanya berperan
sebagai karier. Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah
karena adanya perubahan hormon; adanya penyakit, luka, atau perlakuan
menggunakan steroid atau obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga
terjadi pelemahan inang.
Infeksi S. aureus diasosiasikan dengan beberapa kondisi patologi,
diantaranya bisul, jerawat, pneumonia, meningitis, dan arthritits. Sebagian
besar penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini memproduksi nanah, oleh
karena itu bakteri ini disebut piogenik. S. aureus juga menghasilkan katalase,
yaitu enzim yang mengkonversi H2O2 menjadi H2O dan O2, dan koagulase,
enzim yang menyebabkan fibrin berkoagulasi dan menggumpal. Koagulase
diasosiasikan dengan patogenitas karena penggumpalan fibrin yang disebabkan
oleh enzim ini terakumulasi di sekitar bakteri sehingga agen pelindung inang
kesulitan mencapai bakteri dan fagositosis terhambat (Dewi, dkk., 2011).
Bahan pangan terutama dalam kondisi mentah jika dibiarkan dalam
suhu kamar terlalu lama dapat menyebabkan perkembangan S. aureus dengan
menghasilkan toksin. Salah satu usaha pencegahan adalah dengan menjaga
kebersihan makanan baik selama proses pembuatan atau saat mengkonsumsi,
dengan pemasakan yang benar dan sampai matang dan selam proses
menggunakan alat-alat steril (Dewi, dkk., 2011).
S. aureus terjadi karena adanya gangguan dari faktor lingkungan dan
akhirnya menyebabkan infeksi pada kulit dan menyebabkan luka. Infeksi kulit
ringan biasanya diobati denagn salep antibiotik seperti campuran triple-
nonprescription antibiotik. Dalam beberapa kasus antibiotik oral dapat
diberikan untuk infeksi kulit. Infeksi yang lebih serius dapat diobati dengan
antibiotik Intravena (Dewi, dkk., 2011).

Escherichia Coli

Klasifikasi E. coli menurut Nugraha (2013), yaitu:


Kingdom : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Spesies : Escherichia coli

Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis
spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya, bakteri yang ditemukan
oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia.
Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, seperti E. Coli tipe
O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia.
E. Coli yang tidak berbahaya dapat menguntungkan manusia dengan
memproduksi vitamin K2, atau dengan mencegah baketi lain di dalam usus.
Termasuk ke dalam divisi Prothophyta, kelas Schizomycetes, ordo
Eubacteriales, famili Enterobacteriaceae, dan genus Escherichia. Bakteri
Eschericia coli merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang lurus dan
pendek, bergerak dengan flagel peritrik atau tidak dapat bergerak. Ukuran sel
umumnya berdiameter 0.5 μ dan panjang 1-3 μ (Alke, 2012)
Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri coliform, bakteri coliform
merupakan golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan
manusia Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri
patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah
bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal
menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi
positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform
jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik
lain (Alke, 2012)
Bakteri Escherichia coli adalah penyebab yang paling lazim dari infeksi
kandung kemih dan merupakan penyebab infeksi saluran kemih pertama pada
kira-kira 90% wanita muda (Jawetz, 1992). Selain itu, dapat menyebabkan
infeksi saluran empedu, hati, cystitis, meningitis dan penyakit infeksi lainnya.
Menurut Alke (2012), untuk menghindari supaya tidak tertular E. coli,
cara pencegahan yang dapat dilakukan yaitu :
1. Pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif, sampai umur 4-6 bulan.
Pemberian ASI mepunyai banyak keuntungan bagi bayi atau ibunya. Bayi
yang mendapat ASI lebih sedikit dan lebih ringan episode diarenya dan
lebih rendah risiko kematiannya jika disbanding bayi yang mendapat ASI.
ASI mengandung antibodi yang melindungi bayi terhadap infeksi terutama
diare, yang tidak terdapat pada susu sapi atau formula.
2. Perilaku bersih, memersihkan dapur, mencuci tangan setelah menyentuh
daging mentah, serta membedakan pisau untuk memotong buah dan
sayuran dengan daging mentah seperti daging ayam atau ikan.
3. Mencuci tangan, mencuci tangan merupakan hal penting yang harus
dilakukan terutama setelah menggunakan kamar mandi dan menyentuh
binatang, serta sebelum menyiapkan makanan. Membilas tangan dengan air
dan menggunakan sabun antiseptik akan membantu mengurangi infeksi
bakteri.
E. coli terjadi karena banyaknya bakteri yang terdapat pada usus besar
sehingga menyebabkan terjadinya infeksi pada saluran pencernaan (diare).
Cara penanganan dapat dilakukan dengan pemberian obat spectinomycin,
neomycin, kanamycin, amikacin, dan gentamicin (Alke, 2012).

III. Alat dan Bahan

Alat Bahan
- Autoklaf - Alumunium Voil
- Cawan petri - Cakram kertas
- Inkubator - Kapas Berlemak
- Jarum Ose - Antibiotik ( Ampisilin Na,
- Labu Erlenmeyer Kloramfenikol, Tetrasiklin
- Pinset HCL)
- Pipet Eppendorf - Medium ( NaCl 0,9 %, Nutrien
- Tabung reaksi Agar, Nutrien Broth)
- Spektrofotometer - Mikroba Uji ( Eschericia Coli,
- Vortex Staphylococcus aureus)

IV. Prosedur
1. Persiapan Praktikum
a. Sterilisasi alat dan media pertumbuhan bakteri.
Dilakukan dengan cara panas lembab menggunakan autoklaf
pada suhu 121̊ C selama 15 menit. Untuk alat-alat tertentu seperti
jarum ose dapat disterilisasi dengan cara fiksasi pada nyala api
Bunsen.
b. Penyiapan media pertumbuhan bakteri.
Nutrien Agar (NA) dibuat dengan melarutkan 23 gram serbuk
NA dalam air suling steril sebanyak 1000 ml. Sedangkan Nutrien
Broth (NB) dibuat dengan melarutkan 8 gram serbuk NB dalam air
suling steril sebanyak 1000 ml. Kemudian masing-masing
dipanaskan hingga larut dalam labu Erlenmeyer, lalu disumbat
dengan kapas berlemak dan ditutup dengan aluminium foil lalu
disterilkan dengan autoklaf pada suhu 121̊ C selama 15 menot.

c. Penyiapan Bakteri Uji


Tiap bakteri uji yaitu E. Coli dan S. Aureus dibiakkan pada
media pertumbuhan nutrient agar (NA) miring dan diinkubasi pada
suhu 37̊ C selama 24 jam.

d. Penyiapan perhitungan konsentrasi antibiotika


Antibiotika yang digunakan yaitu ampisilin, tetrasiklin dan
kloramfenikol. Dibuat perhitungan pengenceran antibotik yang
digunakan pada percobaan. Larutan antibiotic kloramfenikol,
ampisilin dan tetrasiklin dibuat dengan 6 konsentrasi berbeda yaitu
masing-masing 1µg/ml, 10µg/ml, 50µg/ml, 100µg/ml, 200µg/ml
dan 1000µg/ml.

2. Hari Praktikum
a. Pensuspensian bakteri uji
Dilakukan dengan mengumpulkan biakan yang terdapat pada
permukaan media agar miring ke dalam 50 ml larutan NaCl
fisiologis atau aquadest atau medium cair (NB) steril.
Kemudiandiatur transmitan inoculum bakteri dengan alat
spektrofotometer pada λ 530 nm, sebesar 25% dengan penambahan
medium cair.

b. Pembuatan larutan antibiotic


Disiapkan antibiotic kloramfenikol, ampisilin dan tetrasiklin
dibuat dengan 6 konsentrasi yang berbeda yaitu masing-masing
1µg/ml, 10µg/ml, 50µg/ml, 100µg/ml, 200µg/ml dan 1000µg/ml.

c. Pengujian aktivitas antibakteri (penentuan spectrum kerja dan


pemilihan antibiotika )
Pertama, sebanyak 15ml nutrient agar (NA) dicairkan dan
dibiarkan mencapai suhu ± 45-53̊ C, kemudian dituangkan ke dalam
cawan petri steril yang sudah berisi suspense bakteri sebanyak 0,5
ml/ kemudian campuran diputar hingga homogen dan dibiarkan
selama beberapa menit sehingga menjadi padat.
Kemudian diletakkan 4 buah cakram kertas pada tiap lempeng
agar dalam cawan petri. Setiap cakram ditetesi dengan 10µl larutan
antibiotic yang berbeda konsentrasi. Larutan antibiotic dibuat
dengan konsentrasi 1µg/ml, 10µg/ml, 50µg/ml, 100µg/ml,
200µg/ml dan 1000µg/ml. kemudian dibiarkan 1 jam, setelah itu
cawan petri kemudian dimasukkan ke dalamm incubator pada suhu
37°C selama 18-24 jam.
Setelah diinkubasi, diamati dan diukur diameter hambat yang
terbetuk disekitar cakram kertas. Kemudian dibuat tabel
pengamatan dan dibandingkan besarnya diameter hambatan untuk
masing-masing antibiotic pada konsentrasi yang sama. Ditentukan
spectrum kerja antibiotic yang diuji, dan ditentukan antibiotic
pilihan utama untuk S.aureus dan E.coli. kemudian dibuat kurva
hubungan konsentrasi dengan diameter hambat atau log konsentrasi
dengan diameter hambatan untuk masing-masing antibiotic.

V. Data Pengamatan

Perhitungan Pembuatan Nutrien Agar

Nutrien Agar yang dibutuhkan : 20 gram / 1000 mL

Yang diabuat : 140 mL + 10 % = 154 mL

154 mL
Yang ditimbang : 1000 mL x 20 gram = 3,08 gram

Pengenceran Antibiotik

Kekuatan kaspul antibiotik Tetrasiklin : 500 mg / kaapsul

Bobot kapsul antibiotik Tetrasiklin : 528 mg

 1000 µg/mL

500 mg 100 mg
= 528 mg = x

= 105 mg + aquadest ad 100 mL

 200 µg/mL
= V1. 1000 µg/mL = 100 mL.200 µg/mL
V1 = 20 mL
 100 µg/mL
= V1. 200 µg/mL = 100 mL. 100 µg/mL

V1 = 50 mL
 50 µg/mL
= V1. 100 µg/mL = 100 mL.50 µg/mL
V1 = 50 mL
 10 µg/mL
= V1. 50 µg/mL = 100 mL.10 µg/mL
V1 = 20 mL
 1 µg/mL
= V1. 10 µg/mL = 100 mL.1 µg/mL
V1 = 10 mL

Penentuan spectrum kerja antibiotic dengan metode difusi agar

 Pertumbuhan Bakteri Pada Media Yang Mengandung Antibiotik Ampisilin

Konsentrasi Diameter Hambat (mm)


Ampisilin
Staphylococcus aureus Esherichia coli
(µg/cakram)

0,01 2 3,3

0,1 3,15 3,1

0,5 0,4 4,5

1 4 5,6

2 10 6,9

10 2,5 19,2
 Pertumbuhan Bakteri Pada Media Yang Mengandung Antibiotik Tetrasiklin

Konsentrasi Diameter Hambat


Tetrasiklin
Staphylococcus aureus Esherichia coli
(µg/cakram)

0,01 - -

0,1 - -

0,5 6 11

1 5 10,1

2 9 13,7

10 20 35

 Pertumbuhan Bakteri Pada Media Yang Mengandung Antibiotik


Kloramfenikol

Diameter Hambat
Konsentrasi
Kloramfenikol Staphylococcus aureus Esherichia coli
(µg/cakram)

0,01 - 3,8

0,1 1 -

0,5 - 5,1

1 2 4

2 2 1

10 - 1,6

Diameter Hambat pada S.aureus


25
Diaemter Hambat (mm)

20

15
Ampisilin
10 Tetrasiklin

5 Kloramfenikol

0
0 2 4 6 8 10 12
Konsentrasi Antibiotik (µg/cakram)
Diameter Hambat pada E.coli
40
35
Diaemter Hambat (mm)

30
25
20 Ampisilin
15 Tetrasiklin
10 Kloramfenikol
5
0
0 2 4 6 8 10 12
Konsentrasi Antibiotik (µg/cakram)

VI. Pembahasan

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan spektrum kerja dari
antibiotik kloramfenikol, ampisilin dan tetrasiklin. Kloramfenikol adalah antibiotik
spektrum luas, menghambat bakteri gram-positif dan negatif aerob dan anaerob.
Untuk Ampisilin bisa digolongkan ke dalam antibiotik dengan spektrum kerja
sempit khususnya untuk bakteri gram positif, dan sebagian kecil untuk bakteri gram
negatif. Oleh karena itulah ampisilin digolongkan ke dalam antibiotik dengan
spektrum kerja relatif luas. Dan untuk tetrasiklin merupakan golongan antibiotik
spektrum luas dan dapat menghambat berbagai bakteri gram-positif, gram-negatif
baik yang bersifat aerob dan anaerob.

Antibiotik adalah suatu senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang


pada konsentrasi rendah dapat memusnahkan atau menghambat pertumbuhan
mikroorganisme lain. Pengujian potensi antibiotik dilakukan untuk memberikan
jaminan bahwa kualitas dan mutu antibiotik yang digunakan dalam pengobatan
memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Antibiotik memiliki spektrum
aktivitas antibiosis yang beragam.

Antibiotik Ampicillin merupakan derivat penisilin yang merupakan kelompok


antibiotik beta-laktam yang mempunyai aktivitas terhadap bakteri gram positif dan
gram negatif. Ampicillin efektif terhadap bakteri gram-positif seperti S.
pneumonia, enterokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilinase,
sedangkan pada bakteri gram-negatif, diantaranya gonokokus, H. influenza,
beberapa jenis E.coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis. Mekanisme kerja
ampisilin yaitu penghambatan sintesis dinding sel bakteri dengan menghambat
transpeptidasi sintesis peptidoglikan pada aksi enzim transpeptidase bakteri.
Transpeptidase merupakan enzim yang bekerja dalam proses cross-linking dari
rantai peptida dalam membentuk senyawa peptidoglikan yang terjadi pada tahap
akhir pembentukan dinding sel. (Essack, 2001).

Tetrasiklin merupakan antibiotik yang bersifat bakteriostatik dengan


mekanisme kerja menghambat sintesis protein bakteri pada ribosomnya. Paling
sedikit terjadi 2 proses dalam masuknya antibiotik ke dalam ribosom bakteri gram-
negatif, pertama difusi pasif melalui kanal hidrofilik, kedua yaitu sistem transport
aktif. Setelah masuk maka antibiotik berikatan dengan ribosom 30 S dan
menghalangi masuknya komplek tRNA asam amino pada lokasi asam amino.
Antibiotik golongan ini mempunyai spektrum luas dan dapat menghambat berbagai
bakteri Gram-positif, Gram-negatif, baik yang bersifat aerob maupun anaerob, serta
mikroorganisme lain seperti Ricketsia, Mikoplasma, Klamidia, dan beberapa
spesies mikobakteria. (Ganiswarna, 1995). Kloramfenikol adalah antibiotik
berspektrum luas, yang dapat menghambat bakteri Gram-positif dan negatif aerob
dan anaerob, Klamidia, Ricketsia, dan Mikoplasma. Mekanisme kerja
kloramfenikol yaitu mencegah sintesis protein dengan berikatan pada subunit
ribosom 50S. (Myceket al.,2001)
Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif berbentuk bola
yang tersusun dalam bentuk kluster yang tidak beraturan. Bakteri ini hidup bebas
di lingkungan dan membentuk kumpulan yang terdiri atas empat atau delapan
kokus menyerupai anggur. (Jawetz et al, 2001). Staphylococcus aureus merupakan
bakteri yang tidak membentuk spora, tidak berkapsul, dan dinding selnya
mengandung dua komponen utama yaitu peptidoglikan dan asam teikhoat. S.
aureus merupakan bakteri yang biasa terdapat pada jaringan lunak, aksila,
perineum, dan sering ditemukan di jaringan kulit normal pada 20-30% orang sehat.
Bakteri ini dapat melakukan metabolism baik secara aerob maupun anaerob.

Eschericia coli atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies
utama bakteri gram negatif. Bakteri gram negatif adalah bakteri yang tidak
mempertahankan zat warna kristal violet sewaktu proses pewarnaan gram sehingga
akan berwarna merah sedangkan bakteri gram positif akan berwana ungu bila
diamati dengan mikroskop. Perbedaan keduanya didasarkan pada perbedaan
struktur dinding sel dan dapat dinyatakan dengan prosedur pewarnaan gram.
Kebanyakan spesies bakteri gram negatif bersifat patogen, yang berarti berbahaya
bagi organisme inang (Pelzcar & Chan, 1986). E. coli merupakan bakteri fakultatif
anaerob, kemoorganotropik, mempunyai tipe metabolisme fermentasi dan
respirasi. Pertumbuhan yang baik pada suhu optimal 37o C pada media yang
mengandung 1% pepton sebagai sumber karbon dan nitrogen. Penyakit yang
mungkin akan muncul akibat dari adanya bakteri E. coli adalah jenis-jenis penyakit
yang dapat menular dengan mudah dari satu orang ke orang lain seperti diare,
muntaber, dan mual-mual. Masa inkubasi bakteri E. coli sekitar 6-24 jam hingga
akhirnya gejala semakin parah pada tubuh orang yang terjangkiti. Penyakit-
penyakit yang ditimbulkan oleh E. coli berupa infeksi saluran kemih dengan gejala
yang timbul berupa sering kencing, disuria, hematuria dan piuria. Infeksi piogenik
seperti infeksi luka, peritonitis, kolesistis dan meningitis (Bonang, 1992).
Metode yang di gunakan pada praktikum kali ini adalah metode cakram kertas.
Metode cakram kertas merupakan merupakan cara untuk menentukan sensitivitas
antibiotik untuk bakteri. Sensitivitas suatu bakteri terhadap antibiotik ditentukan
oleh diameter zona hambat yang terbentuk. Semakin besar diameternya maka
semakin terhambat pertumbuhannya, sehingga diperlukan standar acuan untuk
menentukan apakah bakteri itu resisten atau peka terhadap suatu antibiotic.

Sebelum dilakukan percobaan terlebih dahulu dilakukan sterilisasi alat-alat dan


media( Natrium agar ) yang akan digunakan, fungsi dari sterilisasi agar alat dan
bahan bebas dari mikroba baik dalam bentuk vegetative maupun spora, apabila alat
dan media yang digunakan tidak steril maka kemungkinan ada kontaminasi alat-
alat dan bahan yang digunakan sehingga mempengaruhi hasil pengujian. Sterilisai
alat dan media dilakukan dengan cara panas-lembab menggunakan alat autoklaf
pada suhu 1210C selama 15 menit, uap air dari autoklaf menyebabkan bakteri
terkoagulasi dan diruksak pada temperature yang lebih rendah dibandingkan bila
tidak ada kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah
karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari
mikroorganisme tersebut

Sebanyak 15ml nutrien agar (NA) dicairkan dan biarkan mencapai suhu 45-
53oC, jika media yang terlalu panas dikhawatirkan biakan bakteri akan mati.
Kemudian dituangkan ke dalam cawan petri yang sudah berisi bakteri, kemudian
campuran di putar hingga homogen. Sebanyak 6 buah cakram kertas di tempel pada
media kemudian di tetesi antibiotik dengan pipet eppendorf dengan konsentrasi
yang berbeda. metode cakram kertas ini praktis namun volumenya kecil dan
difusinya kurang bagus. Dibiarkan 1 jam, setelah itu cawan petri dimasukan
kedalam inkubator pada suhu 37oC selama 18-24 jam. Dimasukan kedalam
inkubator pada suhu 37oC karena suhu tersebut adalah suhu optimal bakteri untuk
berkembang biak. Setelah diinkubasi, diamati dan di ukur diameter hambat yang
terbentuk.
Dilihat dari hasil pengamatan, pada cawan petri A (S. Aureus dengan antibiotik
ampisilin) menunjukan adanya zona bening disekeliling cakram kertas tersebut
terlihat adanya tanda-tanda adanya aktivitas antibiotik terhadap bakteri tersebut.
Hal ini terjadi pada ketiga cakram kertas yang ditempel pada media pertumbuhan
bakteri tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada cawan petri B yang berisi bakteri
E. Coli dengan antibiotik yang sama (ampisilin). Zona bening terbentuk disekitar
cakram kertas. hal ini menunjukan bahwa antibiotik ampisilin merupakan spektrum
kerja luas dan jika di lihat dari konsentrasi antibioik ampisilin lebih cenderung ke
bakteri E.coli.

Dilihat dari hasil pengamatan, pada cawan petri A (S. Aureus dengan antibiotik
Kloramfenikol) menunjukan adanya zona bening disekeliling cakram kertas
tersebut terlihat adanya tanda-tanda adanya aktivitas antibiotik terhadap bakteri
tersebut. Hal ini terjadi pada ketiga cakram kertas yang ditempel pada media
pertumbuhan bakteri tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada cawan petri B yang
berisi bakteri E. Coli dengan antibiotik yang sama (kloramfenikol). Zona bening
terbentuk disekitar cakram kertas. hal ini menunjukan bahwa antibiotik
kloramfenikol merupakan spektrum kerja luas dan jika di lihat dari konsentrasi
antibioik kloramfenikol lebih cenderung ke bakteri E.coli.

Dilihat dari hasil pengamatan, pada cawan petri A (S. Aureus dengan antibiotik
Tetrasiklin) menunjukan adanya zona bening disekeliling cakram kertas tersebut
terlihat adanya tanda-tanda adanya aktivitas antibiotik terhadap bakteri tersebut.
Hal ini terjadi pada ketiga cakram kertas yang ditempel pada media pertumbuhan
bakteri tersebut. Hal yang sama juga terjadi pada cawan petri B yang berisi bakteri
E. Coli dengan antibiotik yang sama (tetrasiklin). Zona bening terbentuk disekitar
cakram kertas. hal ini menunjukan bahwa antibiotik tetrasiklin merupakan
spektrum kerja luas dan jika di lihat dari konsentrasi antibioik tetrasiklin lebih
cenderung ke bakteri E.coli.
Dilihat dari hasil percobaan masing-masing kelompok, dapat disimpulkan
bahwa ketiga antibiotik uji (Ampisilin, Tetrasiklin, dan Kloramfenikol) ini
merupakan antibiotik dengan spektrum kerjanya luas.

VII. Kesimpulan
 Penentuan spetrum kerja antibiotik dapat dilakukan dengan menggunakan
metode difusi agar (cakram kertas).
 Antibiotik spektrum luas bekerja pada bakteri Gram positif dan bakteri Gram
negatif. Sedangkan antibiotik spektrum sempit hanya bekerja pada bakteri gram
positif atau bakteri gram negatif saja.
 Antibiotik spektrum luas digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh
infeksi bakteri gram positif ataupun bakteri gram negatif. Sedangkan antibiotik
spektrum sempit digunakan untuk penyakit yang disebabkan oleh infeksi
bakteri gram negatif atau bakteri gram positif saja.
 Ampisilin, Tetrasiklin, dan Kloramfenikol merupakan antibiotik dengan
spektrum kerja luas.
Daftar Pustaka

Alke Rumimpunu. 2012. Pola Bakteri Aerob Dan Uji Kepekaan Terhadap Antibiotika
Pada Penderita Otitis Media Di Poliklinik Tht-Kl Blu Rsup Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado Periode Desember 2012 – Januari 2013. Universitas Sam

Bonang G. 1992. Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan Edisi 16. Jakarta : Buku

Kedokteran EGC.

Dewi, dkk,. 2011. Staphylococcus aureus pada Komunitas Lebih Resisten terhadap
Ampisilin dibandingkan Isolat Rumah Sakit. Universitas Brawijaya.
Malang. (http:// www. jkb.ub. ac. id/ index. php/ jkb/ article/
download/ 385/ 360). Diakses pada hari Minggu, tanggal 25 Februari 2018.
Pukul 08.25 WIB.

Lim, D. 1998. Microbiology 2nd Edition. McGraw Hill. United of States America.

Nugraha, Aditya, 2013. Echericia coli. Universitas Udayana. Denpasar.


(http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-877-1831746254-
tesis%20aditya%20nugraha.pdf). Diakses pada Minggu 25 Februari, Pukul
08.10 WIB.

Ganiswarna, S., 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi IV, 271-288 dan 800-810, Bagian

Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

Mycek MJ, Harvey RA, Champe PC. Farmakologi Ulasan Bergambar.Jakarta:

Widya Medika

Jawetz, E., Melnick, J. L., Adelberg, E. A., 1996, Mikrobiologi Kedokteran, Edisi

ke-20, 213, EGC, Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta


Pelczar, M., E.C.S. Chan. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Penerbit Universitas
Indonesia. Jakarta.

Ratulangi.Manado.(http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/ebiomedik/article/download
/3860/3375). Diakses pada hari Minggu, tanggal 25 Februari 2018. Pukul
08:00 WIB

Syamsuni, H., Drs. 2005. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. EGC, Jakarta.

Tjay, Tann Hoan., Rahardja, Kirana. 2008. Obat-Obat Penting. Penerbit Elexmedia
Komputindo. Jakarta.