Anda di halaman 1dari 2

ANALISIS DATA

Pengamatan dan identifikasi jamur dilakukan dengan mengamati morfologi koloni, morfologi
sel, dan ciri lain yang nampak. Pengamatan morfologi koloni jamur menyangkut warna,
miselium, dan jumlah koloni. Pengamatan morfologi sel jamur menyangkut ada tidaknya
miselium, sekat hifa, spora, dan bentuk spora. Data yang diperoleh ini digunakan untuk
menentukan jenis jamur biakan. Dalam hal ini, terdapat dua cawan petri berisi jamur biakan.
Jamur I merupakan jamur yang diambil di bawah pohon dekat mushola biologi, sedangkan
jamur II diambil di selokan dekat kanopi putih.

Morfologi koloni dari jamur I yaitu: 1) warna koloni bagian dasar putih, sedangkan atas
hitam; 2) miselium panjang; 3) koloni berjumlah 10. Morfologi sel jamur I yaitu: 1) memiliki
miselium; 2) hifa bersekat; 3) memiliki spora; 4) bentuk spora bulat. Morfologi koloni dari
jamur II yaitu: 1) warna koloni bagian dasar putih, sedangkan atas hitam; 2) miselium
panjang; 3) koloni berjumlah 2. Morfologi sel jamur II yaitu: 1) memiliki miselium; 2) hifa
bersekat; 3) memiliki spora; 4) bentuk spora bulat. Jika dilihat dari data tersebut, antara jamur
I dan jamur II hanya berbeda dalam hal jumlah koloninya, semua karakteristik yang diamati
sama.

PEMBAHASAN

Jamur I dan jamur II merupakan jamur yang sejenis. Hal ini dikarenakan ciri-ciri pada jamur I
dan jamur II memiliki kemiripan, kecuali jumlah koloni. Penelitian yang dilakukan oleh
Fithri, N. K (2016) memberikan hasil bahwa jumlah koloni bakteri dipengaruhi oleh faktor
fisik, misalnya kelembapan. Hasil penelitiannya yaitu terdapat hubungan antara variabel
bebas kelembaban dan variabel terikat jumlah koloni jamur udara. Hubungan antara dua
variabel tersebut menunjukkan nilai negatif, ini berarti bahwa semakin tinggi nilai
pencahayaan dalam ruang menyebabkan menurunnya jumlah koloni bakteri udara dalam
ruang.

Berdasarkan data, kesamaan karakteristik dari jamur I dan jamur II yaitu: 1) warna koloni
bagian dasar putih, sedangkan atas hitam; 2) memiliki miselium yang panjang; 3) memiliki
hifa bersekat; dan 4) bentuk spora bulat. Kedua jamur yang kami amati tersebut merupakan
jamur Rhizopus. Penjabaran secara khusus mengenai penentuan jenis jamur dengan nama
Rhizopus sp didasarkan pada data yang diperoleh, gambar amatan mikroskop dan kajian
literatur menurut Priadi, A (2009).. Hal ini dikarenakan karakteristik dari Rhizopus sp adalah:

1. Merupakan jamur yang termasuk dalam divisi Zygomycota karena memiliki spora
bulat yang dinamakan zigospora.
2. Merupakan jamur berfilamen (kapang) dengan hifa yang bersekat dan miselium
berwarna putih yang tertutup oleh sporangium berwarna coklat gelap kehitaman.
3. Memiliki tiga tipe hifa, yaitu rizoid, stolon, dan sporangiofor. Rizoid berfungsi
sebagai akar, stolon membentuk anyaman pada permukaan substrat, dan sporangiofor
merupakan bentukan tegak si permukaan substrat yang diatasnya terdapat sporangium
yang menghasilkan spora.
Terdapat kesesuaian antara data yang diperoleh dengan literatur. Ciri utamanya yaitu hifa
bersekat, memiliki miselium (dalam hal ini disebutkan dalam data berupa warna dasar
koloni putih), memilliki spora berbentuk bulat (dalam hal ini disebutkan dalam data
berupa warna atas koloni hitam), dan ciri lain yang lebih luas, seperti yang dikemukakan
oleh Priadi, A (2009) sebelumnya. Dengan demikian, jamur I dan jamur II merupakan
Rhizopus sp yang berada dalam divisi Zygomycota. Untuk identifikasi spesies yang lebih
jelas, praktikan belum bisa menentukan dikarenakan penampakan jamur melalui
mikroskop belum bisa terlihat secara jelas.

KESIMPULAN

DAFTAR RUJUKAN

Fithri, N. K.,dkk. 2016. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Jumlah-Jumlah


Mikroorganisme Udara dalam Ruang Kelas Lantai 8 Universitas Esa Unggul. Forum
Ilmiah. 13(1): 21-26

Priadi, A. 2009. Biologi. Jakarta: Yudhistira