Anda di halaman 1dari 24

Makalah

Resin Fenol Formaldehid dan Resin Melamin


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bahan Konstruksi dan Korosi

Dosen : Ir. Retno Indarti, MT

Oleh :

Arijan Vevayose Tarigan (161411068)

Rima Amira Darmawanti (161411084)

Kelompok 12

2C – TKI

PROGRAM STUDI D III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan Karunia-
Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tetap kita
limpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, dan
semoga sampai kepada kita selaku umatnya.

Dalam penulisan makalah ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang kami hadapi.
Namun dengan penuh kesabaran, pertolongan, serta atas izin-Nya, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan judul “Resin Fenol Formaldehid dan Resin Melamin”.
Penulisan makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah bahan
konstruksi dan korosi (BKK).

Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya
dan kami pada khususnya. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
jauh dari kata sempurna. Untuk itu kami menerima kritik dan saran yang positif demi
perbaikan ke arah yang sempurna.

Bandung, Oktober 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................. i

Daftar isi .................................................................................................... ii

Bab I Pendahuluan .................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................. 2

Bab II Isi.................................................................................................... 3

RESIN FENOL FORMALDEHID


2.1 Sejarah Formaldehid ................................................................................... 3
2.2 Pengertian Resin ......................................................................................... 3
2.3 Resin Fenol Formaldehid ............................................................................ 4
2.4 Sifat Fisika .................................................................................................. 6
2.5 Sifat Kimia .................................................................................................. 7
2.6 Sifat Mekanik .............................................................................................. 7
2.7 Proses Pembuatan ....................................................................................... 7
2.8 Kegunaan .................................................................................................... 10
2.9 Bahaya yang Ditimbulkan........................................................................... 11
2.10 Cara Penanggulangan ................................................................................. 11

RESIN MELAMIN
A. Pengertian ........................................................................................................... 12
B. Sifat Resin .......................................................................................................... 13
C. Sintesis Melamin ................................................................................................ 13
D. Pembentukan Resin Melamin ............................................................................. 14
E. Proses Produksi .................................................................................................. 15
F. Aplikasi............................................................................................................... 19
G. Bahaya ................................................................................................................ 19

Bab III Kesimpulan ................................................................................... 20

Bab IV Daftar Pustaka .............................................................................. 21

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perkembangan dan pertumbuhan industri merupakan bagian dari usaha


pembangunan ekonomi jangka panjang yang ditujukan untuk menciptakan struktur
ekonomi yang kokoh dan seimbang, yaitu struktur dengan titik berat industri maju yang
didukung sektor industri yang tangguh. Dengan memasuki era globalisasi, kita dipacu
untuk lebih efesien dalam melakukan terobosan-terobosan baru sehingga produk yang
dihasilkan mempunyai pangsa pasar tinggi, daya saing, efektif dan efesien, serta ramah
terhadap lingkungan.
Salah satu sektor industri yang saat ini dibutuhkan dan dihasilkan adalah novolac
resin. Ada dua jenis resin fenol formaldehida (Phenolic Resin) yaitu resol dan novolac
(Hesse, 1991). Novolac resin merupakan salah satu jenis resin fenol formaldehida yang
merupakan resin sintetik jenis termoset yang banyak digunakan secara luas sebagai lak,
pernis, senyawa cetakan, bahan laminating, untuk panel dinding dekorasi, taplak meja,
dan bahan perekat khususnya untuk kayu lapis dan particle board (Pilato, 2010).
Penggunaan novolac resin yang cukup besar disebabkan oleh berkembangnya
industri-industri seperti industri mobil, industri plastik, industri perekat, industri cat dan
lain-lain (Prasetyanigrum, 2008). Namun kebutuhan novolac resin belum dapat dipenuhi
oleh produksi dalam negri, kebutuhan novolac resin diperdangangan dunia terus
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Untuk memenuhi kebutuhan novolac resin
dalam negeri, negara Indoesia masih harus mengimpor.
Selain resin fenol formaldehid, jenis resin lain yang hampir sama sifatnya dengan
resin ini yaitu resin melamin formaldehid. Resin melamin formaldehida dibentuk melalui
reaksi polikondensasi antara melamin dan formaldehida. Melamin diantaranya
digunakan sebagai bahan baku pembuatan melamin resin, bahan sintesa organik, bahan
pencampur cat, pelapis kertas, tekstil, leather tanning dan lain-lain. Bahan baku yang
digunakan pada proses pembuatan melamin adalah urea dan campuran amoniak karbon
dioksida sebagai fluidizing gas dengan katalis alumina.

1
1.2. Rumusan Masalah

1) Apa pengertian dari resin fenol dan melamin formaldehid ?

2) Apa saja sifat fisik, sifat kimia dan sifat kimia dari resin fenol dan
melamin formaldehid ?

3) Bagaimana proses pembuatan resin fenol dan melamin formaldehid ?

4) Apa saja kegunaan resin fenol dan melamin formaldehid ?

5) Apa bahaya yang dapat ditimbulkan dari resin fenol dan melamin formaldehid ?

1.3. Tujuan Penulisan

1) Mengetahui apa itu resin fenol dan melamin formaldehid.

2) Mengetahui sifat fisik, sifat kimia dan sifat kimia dari resin fenol dan
melamin formaldehid.

3) Mengetahui proses pembuatan resin fenol dan melamin formaldehid.

4) Mengetahui kegunaan resin fenol dan melamin formaldehid.

5) Mengetahui bahaya yang dapat ditimbulkan dari resin fenol dan

melamin formaldehid.

2
BAB II

ISI

RESIN FENOL FORMALDEHID


2.1 Sejarah Formaldehid
Formaldehida adalah senyawa organik alami yang tersusun dari karbon, hidrogen
dan oksigen. Rumus kimianya yaitu CH2O. Formaldehida pertama kali ditemukan oleh
Alexander Mikhailovich Butlerov pada tahun 1859 saat ia mencoba mensintesis metilen
glikol. Namun, formaldehida tidak dikenali sampai tahun 1868, ketika August Wilhelm
von Hofmann, seorang profesor kimia dan direktur laboratorium Universitas Berlin,
secara jelas menetapkan struktur dan identitas formaldehid. Metode yang digunakan
Hoffman untuk mengidentifikasi formaldehid lebih jelas untuk menetapkan proses
pembuatan formaldehida modern.
Produksi formaldehida komersial dimulai di Jerman pada tahun 1880-an dan
diambil oleh Belgia, Prancis dan Amerika Serikat pada awal 1900-an. Selama waktu ini
formaldehida terutama digunakan sebagai agen pembalseman atau pengawet medis,
namun penggunaan awal ini mewakili kurang dari 1% dari total penjualan formaldehid
saat ini. Formaldehida awalnya diproduksi dalam jumlah kecil (5-20kg) untuk digunakan
di beberapa pabrik dan laboratorium universitas, namun perbaikan pada proses
pembuatannya akhirnya menghasilkan produksi formaldehid skala besar.
Permintaan akan formaldehida telah meningkat selama abad yang lalu, didorong
oleh perkembangan sains dan teknologi. Sebagai contoh, pada tahun 1907 seorang ahli
kimia Belgia, Dr. Leo Baekeland, menggunakan resin fenol formaldehida untuk
menemukan Bakelite, plastik moldable keras yang umumnya dianggap sebagai bahan
polimer sintetis pertama. Partikel kelas komersial pertama diproduksi di sebuah pabrik di
Bremen, Jerman pada tahun 1940an dan meluncurkan sebuah revolusi di industri
konstruksi dan furnitur. Aplikasi komersial untuk formaldehid terus berkembang. Pada
tahun 2010, lebih dari 3,6 juta ton formaldehida diproduksi oleh produsen Eropa untuk
digunakan di sejumlah industri yang berbeda.

2.2 Pengertian Resin


Resin adalah zat padat yang amorf atau setengah padat, suatu campuran yang
kompleks dari ekskret tumbuh-tumbuhan dan insekta. Resin tidak larut didalam air tetapi
larut didalam alkohol atau pelarut organik lainnya dan membentuk sabun dengan alkali.
Secara fisis, resin (damar) ini yaitu keras, transparan plastis dan jika dipanaskan menjadi
lembek. Secara kimiawi, resin adalah campuran yang kompleks dari asam-asam resinat,
alkoholresinat, resinotannol, ester-ester dan resene-resene.

3
Lebih luas, istilah "resin" juga mencakup banyak sekali zat sintetis sifat mekanik
yang sama (cairan kental yang mengeras menjadi padatan transparan), serta shellacs
serangga dari superfamili Coccoidea. Senyawa cairan lain yang ditemukan dalam
tanaman atau memancarkan oleh tanaman, seperti getah, lateks, atau lendir, kadang-
kadang rancu dengan resin, akan tetapi secara kimiawi tidak sama. Tidak ada konsensus
tentang mengapa tanaman mengeluarkan resin. Namun, resin terutama terdiri dari
metabolit sekunder atau senyawa yang tampaknya tidak memainkan peran dalam
fisiologi utama dari tanaman. Sementara beberapa ilmuwan melihat resin hanya sebagai
produk limbah, manfaat perlindungan mereka untuk menanam secara luas
didokumentasikan. Senyawa resin beracun dapat menghancurkan berbagai herbivora,
serangga, dan patogen, sedangkan senyawa fenolik volatil dapat mengundang yang
menguntungkan seperti parasitoid atau predator dari herbivora yang menyerang tanaman.

Gambar resin

Kata resin telah diterapkan dalam dunia modern untuk hampir semua komponen
dari cairan yang akan ditetapkan menjadi lacquer keras atau enamel-seperti barang jadi.
Contohnya adalah cat kuku, sebuah produk modern yang berisi resin yang merupakan
senyawa organik, tetapi resin tanaman tidak klasik. Tentunya pengecoran resin dan resin
sintetis (seperti epoxy resin) juga telah diberi nama resin karena mereka memperkuat
dengan cara yang sama seperti beberapa resin tanaman, tetapi resin sintetis monomer cair
thermosetting plastik, dan tidak berasal dari tanaman.

2.3 Resin Fenol Formaldehid


Resin fenol formaldehid merupakan resin sintetis yang dihasilkan dari reaksi
polimerisasi antara phenol dan formaldehid. Resin ini pertama kali digunakan secara
komersial baik dalam industri plastik maupun cat (surface coating). Ada dua jenis resin
phenol formaldehid yaitu : novolak yang bersifat termoplast dan resol yang bersifat
termoset.
1.) Novolak

4
Novolak merupakan hasil reaksi antara phenol ekses dengan formaldehid oleh
adanya katalis asam. Novolak dibuat pada suasana asam. Katalis yang sering
digunakan adalah asam sulfat, asam klorida, dan asam oksalat dengan konsentrasi
rendah. Hasil reaksi akan membentuk produk yang termoplast dengan berat
molekul500 - 900. Aplikasi jenis novolak sebagai vernis kayu menghasilkan warna
yang lebih cerah (tingkat gloss tinggi) dibanding dengan jenis resol.

2.) Resol

Resol merupakan hasil reaksi antara phenol dengan formaldehid ekses oleh
adanya katalis basa. Jenis resol dibuat pada suasana basa dengan suhu 800C dan
waktu reaksi 3 jam. Untuk jenis resol dicapai pada pH 10. Jenis katalis basa yang
sering digunakan adalah natrium hidroksida dan ammonium hidroksida pada pH =8-
11. Beberapa contoh dari polimer thermosetting adalah resin Urea-Formaldehida dan
resin Melamin-Formaldehida.

5
2.4 Sifat Fisika
a. Fenol (C6H6O)
Sifat fisis (Perry and Chilton, 1984)

Titik didih, °C : 181,66


Titik lebur, °C : 40,55
Densitas,kg/L, at 293 K : 1,07
Tekanan kritis, atm : 60,48
Temperatur kritis, °C : 420,55
Panas pembentukan, kkal/gmol : -10443,45
Panas penguapan, kkal/gmol : 4940,87
Spesific gravity : 1,0801

b. Formaldehida (CH2O)
Sifat fisis (Perry and Chilton, 1984)
Titik didih, °C : 99,06
Titik lebur, °C : -91,66
Densitas,kg/L, at 293 K : 1,0149
Tekanan kritis, atm : 64,98
Temperatur kritis, °C : 134,44
Panas pembentukan, kkal/gmol : -12556,18
Panas penguapan, kkal/gmol : 2492,99
Spesific gravity : 0,7563

c. (Novolak resin, C7H8O2)


Sifat fisis (Perry and Chilton, 1984)
Titik didih, °C : 350
Titik lebur, °C : 55
Densitas,kg/L, at 293 K : 0,75
Tekanan kritis, psia : 49,03
Temperatur kritis, °C : 487,77
Panas pembentukan, kkal/gmol : -26976,13
Spesific gravity : 1,1587

6
2.5 Sifat Kimia
a.) Fenol :
 Dengan dimetil eter atau dietil sulfat dalam media alkali lemah akan membentuk
derifat eter yaitu anisol.
 Nitrasi fenol dengan HNO3 encer menghasilkan isomer orto-para.
 Direaksikan dengan broom menghasilkan derifat tri broom phenol .
b.) Formaldehid :
 Keberadaan katalis basa, formaldehida bisa mengalami reaksi Cannizzaro,
menghasilkan asam format dan metanol .
 Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen menjadi asam format, karena itu
larutan formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara
(Reuss 2005).
c.) Novolak Resin
 Terurai terhadap asam kuat

2.6 Sifat Mekanik


Termoplastik :
- Tidak tahan terhadap panas
- Jika dipanaskan akan melunak
- Dapat dibentuk ulang (daur ulang)
- Jika didinginkan akan mengeras
- Mudah untuk diregangkan
- Fleksibel
Termoseting :
- Tahan terhadap panas
- Keras dan kaku (tidak fleksibel)
- Jika dipanaskan akan mengeras
- Tidak dapat dibentuk ulang (sukar didaur ulang)

2.7 Proses Pembuatan


a. Novolak

7
Pembuatan novolac resin dari fenol dan formaldehida merupakan reaksi
katalitik fase cair. Reaksi ini merupakan reaksi eksotermis. Reaksi berlangsung
didalam reaktor alir tangki berpengaduk (RATB) menggunakan katalis asam sulfat
(H2SO4) pada suhu 94°C dan tekanan 1 atm. Pemurnian produk keluar reaktor
menggunakan dekanter untuk memisahkan katalis H2SO4, sedangkan untuk
mendapatkan produk yang diinginkan menggunakan menara distilasi. Sebagai hasil
bawah menara distilasi berupa produk novolac resin (C7H8O2). Tahap proses
meliputi tahap penyimpanan bahan baku, tahap penyiapan bahan baku, tahap reaksi,
dan tahap pemurnian produk. Kemurnian produk dilakukan dengan distilasi.
Novolac resin digunakan pada industri otomotif, industri cat, pernis, industri plastik,
senyawa cetakan, bahan laminating, untuk panel dinding dekorasi, taplak meja,
bahan perekat khususnya untuk kayu lapis dan particle board.
Tahap reaksi dalam pembentukan novolak meliputi :
a. Reaksi Adisi (Methylolasi)
Pada tahap pertama, phenol dan formaldehid akan bereaksi membentuk
monomethylol phenol.

OH OH

+CH2O CH2OH

Phenol Formaldehid Monomethylol phenol

Gambar 1. Reaksi Methylolasi

b. Reaksi Kondensasi Polimerisasi (Methylenasi)


Pada tahap ini, gugus methylol akan bereaksi dengan phenol membentuk jembatan methylene dan air.

OH OH OH OH

CH2OH CH2
+ + H2O

Dihidroksi diphenil methane

Gambar 2. Reaksi Methylenasi


(Hesse, 1991)

8
b. Resol

Resol merupakan produksi reaksi antara fenol-formaldehida berlebih dalam


kondisi basa. Tahap pertama dalam polimerisasinya melibatkan reaksi adisi anion
formaldehida untuk memberikan metilol phenol tersubstitusi orto- dan para-.
Dikarenakan fenol sangat reaktif, reaksi-reaksi monoadisi sederhana sangat jarang,
sebagai gantinya suatu campuran dari monometilol phenol, dimetilol phenol dan
trimetilol phenol dibentuk dengan substitusi yang terjadi pada posisi orto- dan para.
Dalam produksi komersial, resol-resol biasanya diproses menjadi polimer
degan berat molekul tinggi (resit) yang dengan mudah diefektifkan dengan cara
pemanasan. Dalam hal ini biasanya langsung bekerja dengan larutan basa
resol/netral/larutan dengan sedikit asam.
Contoh : bahan perekat kayu lapis dibuat dengan mencampurkan bahan-bahan
tambahan yang cocok seperti bubuk kayu dengan larutan resol basa. Campuran
tersebut kemudian dilapiskan keatas permukaan vernis kayu sebelum ditaruh dalam
suatu hot press. Panas dari penekanan tersebut tidak hanya menyebabkan
polimerisasi tetapi juga menguapkan komponen airnya. Pengikatan yang baik sekali
dicapai melalui reaksi antara resin dengan konstituen fenol dari kayu tersebut. Tahap
reaksi pembentukan resol, meliputi :

a. Reaksi Adisi (Methylolasi)


Pada tahap pertama, phenol dan formaldehid akan bereaksi secara adisi membentuk monomethylol phenol.

OH OH

CH2OH

+ CH2O

Phenol Formaldehid Monomethylol phenol

Pada monomethylol phenol ini masih ada 2 gugus reaktif yang dapat bereaksi lagi dengan formaldehid
menjadi dimethylol phenol.

9
OH OH

CH2OH CH2OH

+ CH2O

CH2OH
Monomethylol phenol Formaldehid Dimethylol phenol
dan pada akhirnya membentuk trimethylol phenol.

OH OH

CH2OH HOH2C CH2OH

+ CH2O

CH2OH
CH2OH
Dimethylol phenol Formaldehid Trimethylol phenol

b. Reaksi Kondensasi Polimerisasi.

OH OH

CH2OH CH2OH CH2OH CH2O HC2 CH2OH

+ -H2O

-CH2O

OH OH OH OH

CH2OH CH2OH CH2 CH2OH

-H2O
+

2.8 Kegunaan
Beberapa kegunaan resin fenol formaldehid yaitu :
- Resin fenol-formaldehida yang memiliki tingkat polimerisasi rendah sangat
lembut,memiliki sifat perekat yang sangat baik dan biasanya digunakan sebagai
lem pengikat untuk kayu laminasi papan .
- Untuk membuat barang cetakan seperti bagian radio dan TV, sisir, pulpen tong,
catatan fonograf, dll.
- Untuk membuat laminasi dekoratif, penutup dinding, dll.
- Untuk membuat barang listrik seperti switch, colokan dll.
- Digunakan sebagai lem pengikat untuk papan kayu berlapis.
- Untuk membuat vernis.

10
- Digunakan untuk membuat kayu lapis eksterior yang biasa dikenal sebagai
kayu lapis WBP (Weather & boil proof) karena resin fenol formaldehid tidak
memiliki titik leleh tetapi hanya titik didekomposisi pada zona suhu 220 ° C
(428 ° F) ke atas digunakan sebagai pengikat pada komponen suspensi driver
loudspeaker yang terbuat dari kain.

2.9 Bahaya yang Ditimbulkan


Karena resin formaldehida dipakai dalam bahan konstruksi seperti kayu
lapis/tripleks, karpet, dan busa semprot dan isolasi, serta karena resin ini melepaskan
formaldehida pelan-pelan, formaldehida merupakan salah satu polutan dalam ruangan
yang sering ditemukan. Apabila kadar di udara lebih dari 0.1 mg/kg, formaldehida yang
terhisap bisa menyebabkan iritasi kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan
keluar air mata, pusing, teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan.
Kalau terpapar formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa
menyebabkan kematian.
Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi jadi asam format yang
meningkatkan keasaman darah, tarikan nafas menjadi pendek dan sering, hipotermia,
juga koma, atau sampai kepada kematiannya.
Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein, sehingga
mengganggu ekspresi genetik yang normal. Binatang percobaan yang menghisap
formaldehida terus-terusan terserang kanker dalam hidung dan tenggorokannya, sama
juga dengan yang dialami oleh para pegawai pemotongan papan artikel. Tapi, ada studi
yang menunjukkan apabila formaldehida dalam kadar yang lebih sedikit, seperti yang
digunakan dalam bangunan, tidak menimbulkan pengaruh karsinogenik.

2.10 Cara Penanggulangannya


Pertolongan pertama yang dapat dilakukan yaitu :
 Sebelum ke rumah sakit, berikan arang aktif (norit) bila tersedia.
 Jangan melakukan rangsangan agar korban muntah, karena akan
menimbulkan resiko trauma korosif pada saluran cerna atas.
 Di rumah sakit biasanya tim medis akan melakukan bilas lambung (gastric
lavage), memberikan arang aktif.
 Untuk meningkatkan eliminasi formalin dari tubuh dapat dilakukan
hemodialisis (cuci darah). Tindakan ini diperlukan bila korban menunjukkan
tanda-tanda asidosis metabolik berat.

11
RESIN MELAMIN

A. Pengertian Resin Melamin


Melamin merupakan senyawa berwarna, termasuk dalam kelompok senyawa
heterosiklik-basa kuat yang memiliki rumus molekul C3H6N6 dengan nama IUPAC
1,3,5-triazine-2,4,6-triamine, diperoleh dari sintesis sianamida. Nama lain dari melamin
adalah cyanurotriamide, cyanurotriamine atau cyanuramide. Senyawa ini berbentuk
kristal monocyclic berwarna putih. Melamin diantaranya digunakan sebagai bahan baku
pembuatan melamin resin, bahan sintesa organik, bahan pencampur cat, pelapis kertas,
tekstil, leather tanning dan lain-lain. Bahan baku yang digunakan pada proses pembuatan
melamin adalah urea dan campuran amoniak karbon dioksida sebagai fluidizing gas
dengan katalis alumina.
Melamin dapat berkondensasi dengan formaldehida membentuk polimer
termoplas dengan berat molekul tinggi. Melamin bereaksi dengan formaldehida dalam
suasana basa, membentuk melamin metilol, selanjutnya dengan pemanasan akan
dihasilkan resin melamin-formaldehida. Resin melamin banyak digunakan pada
formulasi molding dan laminating, sebagai bahan modifikasi dalam industri tekstil, dan
pemakaian yang terbesar adalah dalam pembuatan alat makan dekoratif.

Gambar diatas menunjukkan bahwa dari total produksi melamin dunia tahun 2004
sebesar 1.017 KMT, Indonesia menyumbang sebanyak 6 %. Jumlah ini dapat
ditingkatkan dengan meningkatkan jumlah produksi melamin di Indonesia, sehingga
setelah kebutuhan melamin dalam negeri dapat dipenuhi, maka melamin dapat diekspor
untuk menambah devisa negara. Melihat kebutuhan melamin pada masa sekarang ini,
seiring dengan industri-industri pemakainya yang semakin meningkat, maka pendirian
pabrik melamin dirasa sangat perlu. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi permintaan
didalam negeri, mengurangi impor melamin dan membuka tenaga kerja baru.

12
B. Sifat Fisik, Kimia dan Mekanik Resin Melamin
Bentuk Solid
Penampilan Bubuk putih
Bau
Titik leleh Sedikit Berbau
Kelarutan dalam air 90-100 oC
Specific Gravity Sedikit
Ph 0,60-0,70 (dalam bentuk bubuk)
Tekanan uap <1 mmHg pada suhu 20°C
Titik nyala >93 oC
Kesetabilan kimia Stabil pada kondisi normal
Sifat Mekanik Keras, tahan abrasi

C. Sintesis Melamin
Melamin pertama kali disintesis oleh kimiawan Jerman Justus von Liebig pada
1834. Pada produksi awal, calcium cyanamid diubah menjadi dicyandiamide, kemudian
dipanaskan di atas suhu lelehnya untuk memproduksi melamin. Pada awal 1940, Mackay
menemukan bahwa melamin juga bisa disintesa dari urea pada suhu 400 oC dengan atau
tanpa katalis. Reaksi yang terjadi :

6 (NH2)2CO ——–> C3 H6 N6 + 6 NH3 + 3 CO2

Hal ini dapat dipahami sebagai dua langkah. Pertama-tama, urea terurai menjadi asam dan
amonia cyanic dalam reaksi endotermik:

(NH2)2CO → HCNO + NH3

Kemudian, asam cyanic polimerisasi untuk membentuk melamin dan karbon dioksida:

6 HCNO → C3H6N6 + 3 CO2

Reaksi kedua adalah eksotermik, namun keseluruhan proses endotermik. Reaksi


di atas dapat dilakukan oleh salah satu dari dua metode: dikatalisasi produksi gas-fasa
atau tekanan tinggi-fase cair produksi. Dalam satu metode, cair urea fluidized
diperkenalkan ke atas tempat tidur dengan katalis untuk reaksi. Panas gas amonia juga
hadir untuk fluidize tempat tidur dan menghambat deammonization. Limbah kemudian
didinginkan. Amonia dan karbon dioksida di offgas dipisahkan dari bubur yang
mengandung melamin. Bubur lebih lanjut yang terkonsentrasi dan mengkristal untuk
menghasilkan melamin. Mayor produsen dan pemberi lisensinya seperti DSM, BASF,
dan Eurotecnica telah mengembangkan beberapa metode kepemilikan.

13
D. Pembentukan Resin Melamin
Reaksi pembentukan resin melamin-formaldehida merupakan reaksi
polikondensasi yang sampai pada tahap akhir penggunaannya terdiri dari tiga tahap.
Tahap pertama adalah reaksi metilolasi dengan formaldehida membentuk melamin
termetilolasi (gambar 1).

Molekul melamin mengandung tiga gugus amina primer dan setiap gugus tersebut
mempunyai potensi untuk bereaksi dengan dua mol formaldehida hingga dapat
membentuk produk heksametilolmelamin, jika rasio formaldehida/melamin cukup tinggi.
Dalam medium alkali (pH >9) maka produk yang dihasilkan secara esensial adalah
trimetilolmelamin dan heksametilolmelamin

Tahap kedua adalah tahap kondensasi membentuk jembatan eter dan melepaskan
air atau pembentukan jembatan metilen dengan melepaskan formaldehida, bergantung
pada pH. Sebagai contoh kondensasi dari molekul monometilolmelamin

14
Tahap akhir adalah tahap kondensasi lanjut yang pada akhirnya membentuk
produk polimer terikatsilang dengan struktur jejaring tiga dimensi.

Parameter yang sangat penting dalam pembentukan resin melamin-formaldehida adalah:

- rasio molar atau rasio massa dari bahan baku (melamin dan formaldehida)

- kemurnian bahan baku

- pH

- waktu dan

- temperature

E. Proses Produksi

Resin melamin-formaldehida biasanya dipreparasi secara batch (5 – 20 m3).


Proses kontinu juga dapat dilakukan, terutama untuk produksi resin perekat (lem).

a. Produksi Batchwise

Prosedur batchwise adalah metode yang paling banyak digunakan untuk produksi
resin melamin-formaldehida secara industrial. Walaupun kapasitas produksi relative
kecil, proses ini dapat dilakukan perluasan varitas produk dan setiap saat dapat
dilakukan perubahan produk. Gambar 1 menyajikan diagram pabrik untuk produksi
resin dalam bentuk larutan berair (aqueous solutions).

15
Gambar 1. Diagram pabrik untuk produksi larutan berair resin melamin-formaldehida.

a) Reaktor, b) masukan/umpan starting materials, c) kondensor refluks, d) kontener/wadah


temporer, e) pompa, f) alat penguap (vaporizer), g) wadah produk final, h) kondensor, i)
pompa vakum, k) wadah uap terkondensasi (kondensat), l) pendingin.

Reaksi dilakukan dengan dua atau lebih tahapan dalam reaktor (stainless steel,
No. St. 1.4541 atau St. 1.4571) berpengaduk (berbentuk piringan atau jangkar).
Reaktor ini juga dilengkapi dengan alat pemanas dan pendingin,serta alat ukur pH dan
temperatur. Pada tahap pertama (reaksi hidroksimetilasi atau metilolasi) dilakukan
pada pH, temperatur dan waktu tertentu, bergantung pada sifat produk yang
diinginkan. Tahap berikutnya adalah reaksi kondensasi dengan pengadukan dan
pemanasan secara refluks. pH larutan dipertahankan pada nilai tertentu dan lamanya
refluks bergantung dari sifat produk yang diinginkan.Setelah kondensasi selesai,
produk dievaporasi dengan tekanan tereduksi untuk memproteksi resin terhadap
oksidasi/deteorisasi. Evaporasi dilakukan hingga diperoleh larutan dengan konsentrasi
tertentu. Kualitas resin yang dihasilkan kemudian dibandingkan dengan spesifikasinya
dan selanjutnya dimasukkan kedalam tangki penyimpan (wadah produk final).

Sebagai contoh, pembuatan resin untuk impragnasi kertas yang digunakan


dalam memproduksi bahan laminasi dekoratif. 126 bagian (berbasis massa) melamin
dimasukkan ke dalam larutan yang diaduk berisi 120 bagian formaldehida 40% dan
70 bagian air pada temperature ruang. Campuran reaksi dibawa ke pH 9 dengan
penambahan larutan natrium hidroksida dan dipanaskan secara cepat (20 – 30 menit)
sampai temperature 100oC. Setelah melamin terlarut, proses berlangsung secara

16
eksotermal, penambahan larutan natrium hidroksida dilakukan secara kontinu, untuk
memelihara pH 8,5 – 8,8 sampai sepanjang proses kondensasi. Kondensasi dilakukan
dengan cara refluk dan pengadukan secara kuat. Indikator bahwa kondensasi selesai
yakni dengan mengambil sampel, kemudian diuji kompatibilitasnya dengan air. Jika
pada rasio 1 : 1,5 masih kompatibel, dicirikan dengan sedikit kekeruhan ketika air
yang ditambahkan sebanyak 1,5 kali dari jumlah larutan sampel pada suhu 20oC.
Selanjutnya, larutan didinginkan secara cepat dan pH dibawa ke nilai 9,5 – 10 pada
temperature ruang. Produk yang dihasilkan mempunyai kandungan padatan 55% dan
biasanya jernih.

Resin melamin-formaldehida dapat juga diproduksi dalam bentuk


bubuk/padatan (gambar 2). Dalam hal ini, pertama-tama dibuat larutan resin aqueous
dan kemudian diumpankan/dimasukkan ke dalam spray drier, dimana ia akan
teratomisasi oleh suatu spray disk atau nozzle.

Gambar 2. Diagram pabrik untuk produksi bubuk resin melamin-formaldehida

a) Masukan/umpan starting materials, b) reactor, c) kondensor refluks, d) wadah


temporer, e) pompa, f) spray drier, g) blower, h) pemanas udara, i) filter, j) mixing bin, k)
penyaring dengan vibrasi

17
Tetesan (droplets) yang dihasilkan dipanaskan dalam aliran gas panas yang
dibangkitkan melalui pemanasan udara tak langsung dalam suatu heat exchanger atau
dengan campuran gas buangan panas dengan udara. Bubuk dikumpul pada menara
dan dialirkan kedalam pemisah siklon atau filter. Selanjutnya dilewatkan ke wadah
pencampur (mixing bin) dan penyaring vibrasi untuk kemudian dikemas dalam
kantong atau drum.

b. Produksi Kontinu (Sinambung)

Industri produksi kontinu dari resin melamin-formaldehida diselenggarakan


untuk memperbesar kapasitas karena adanya peningkatan permintaan. Kekurangan
dari produksi kontinu adalah bahwa banyaknya yang diproduksi per satuan waktu
pada pabrik tertentu hanya dapat bervariasi dalam batas yang relatif sempit. Merubah
produk juga bukan hal yang mudah. Dilain pihak, prosedur kontinu memberikan
kualitas produksi sangat seragam.

Gambar 3. Diagram proses produksi kontinu dari larutan resin aqueous melamin-
formaldehida. a) umpan starting materials, b) reaktor, c) kondensor refluks, d) flare, e)
wadah temporer, f) pompa, g) alat penguap, h) wadah produk, i) pendingin, k) kondensor, l)
pompa vakum, m) wadah untuk uap terkondensasi

18
Dari berbagai proses kontinu yang dipatenkan, umumnya menunjukkan
perbedaan dalam variasi temperature, pH, konsentrasi atau modifier. Aliran proses dan
produk tetap tidak berubah. Gambar 3 menyajikan diagram prose produksi kontinu
untuk larutan resin aqueous. Dibanding dengan proses batch, perbedaan utama
nampak pada seri reaktor yang digunakan dalam proses kontinu.

Produksi resin dalam bentuk bubuk juga dapat dilakukan dengan proses
kontinu, yakni larutan resin dalam wadah temporer diumpankan secara kontinu ke
spray tower dan selanjutnya seperti dalam pembentukan bubuk dalam proses batch.

F. Aplikasi
Aplikasi dari resin melamin-formaldehida sangat luas meliputi:

a. Bahan perekat dalam industri pengerjaan kayu (woodworking industry)

b. Pembuatan kertas untuk tujuan dekoratif

c. Bahan cetakan (molding materials)

d. Bahan baku untuk pelapis permukaan (surface coatings)

e. Bahan peningkat daya regang/rentang dan kekuatan basah(wet strength) dalam


industry kertas

f. Sebagai textile auxiliaries dan leather auxiliaries

g. Sebagai flameproofing agents

G. Bahaya
 Racun dari formaldehid yang muncul karena paparan panas, sinar UV atau
tergerusnya permukaan melamin sehingga partikel formaldehid terlepas.
 Iritasi pada hidung, kerongkongan dan sistem pernapasan bila terhirup uap
atau abu produk.
 Menyebabkan mual atau muntah (karena lambung mengalami iritasi) bila
produk termakan.
 Kontak pada mata dapat menyebabkan mata berair, pedih dan mata merah.
 Iritasi pada kulit dapat menyebabkan kulit kemerahan dan gatal-gatal.
 Resin melamin yang dibuang begitu saja ke sungai menyebabkan
penyumbatan pada aliran sungai.

19
BAB III

KESIMPULAN
Resin fenol formaldehid merupakan resin sintetis yang pertama kali digunakan
secara komersial baik dalam industri plastik maupun cat. Resin fenol formaldehid
merupakan resin sintetis yang dihasilkan dari reaksi polimerisasi antara phenol dan
formaldehid. Reaksi terjadi antara fenol pada posisi ortho maupun para dengan
ormaldehid untuk membentuk rantai yang crosslinking dan pada akhirnya akan
membentuk jaringan tiga dimensi. Ada 2 jenis, yaitu novolak yang bersifat termoplast dan
resol yang bersifat termoset.

Resin melamin-formaldehida diperkenalkan di Jerman oleh Henkel pada tahun 1935.


Resin ini termasuk dalam golongan resin amino yang diproduksi melalui reaksi
polikondensasi antara melamin dan formaldehida. Melamin merupakan senyawa berwarna,
termasuk dalam kelompok senyawa heterosiklik-basa kuat yang memiliki rumus molekul
C3H6N6 dengan nama IUPAC 1,3,5-triazine-2,4,6-triamine, diperoleh dari sintesis
sianamida. Nama lain dari melamin adalah cyanurotriamide, cyanurotriamine atau
cyanuramide. Senyawa ini berbentuk kristal monocyclic berwarna putih.

20
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Baskoro, Bimmo Dwi. 2006. “Formaldehid”.


http://bimmo.blogspot.co.id/2006/06/formaldehid.html

Dinda. 2009. “Resin”. http://medicafarma.blogspot.co.id/2009/01/resin.html

Haryanto,U.T. 2010. “Polimer Termoplastik dan Termosetting”.


http://rinapuspita996.blogspot.co.id/2014/02/polimer-termoplastik-dan-
termosetting.html

Prabawa, Hari. 2012. “Prarancangan Pabrik Fenol Formaldehid (Resin Novolak) Dari Fenol
Dan Formaldehid Kapasitas 26.000 Ton/Tahun”.
https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/26963/Prarancangan-Pabrik-Fenol-
Formaldehid-Resin-Novolak-Dari-Fenol-Dan-Formaldehid-Kapasitas-26000-
TonTahun

TN. TT. “The History of Formaldehyde”. http://www.formacare.org/history/

https://id.wikipedia.org/wiki/Resin

http://eprints.ums.ac.id/26245/2/04._BAB_1.pdf

https://www.scribd.com/doc/243783696/79284205-Resin-Fenol-urea-Formaldehid-pdf

21