Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN PREMATURE RUPTURE OF

MEMBRANE (PROM) atau KETUBAN PECAH DINI (KPD)

DI RUANG RAWAT INAP A RS. WAVA HUSADA KEPANJEN

Disusun Oleh :

Chaya Hamami Ishmah (17.30.012)

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


KEPANJEN
Jl. Trunojoyo No. 16 Telp. / Fax (0341) 397644 Kepanjen – Malang 65163
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan Premature Rupture Of Membrane (PROM) atau Ketuban


Pecah Dini (KPD) di Ruang Rawat Inap A RS. Wava Husada Kepanjen, yang
disusun oleh:
Nama : Chaya Hamami Ishmah
NIM : 17.30.012
Prodi : Profesi Ners
Sebagai salah satu syarat dalam pemenuhan tugas praktik Profesi Ners
departemen Maternitas, yang dilaksanakan tanggal 29 Januari 2018 s/d 10
Februari 2018, yang telah disetujui dan disahkan pada :
Hari : …………………………………………
Tanggal : …………………………………………

Malang, …… Februari 2018


Mahasiswa

Chaya Hamami Ishmah


17.30.012

Mengetahui :

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik

(………………………………..) (………………………………..)

Kepala Unit Ruang Rawat Inap A

(………………………………..)
LAPORAN PENDAHULUAN KETUBAN PECAH DINI (KPD)
atau PREMATURE RUPTURE OF MEMBRANE (PROM)

A. PENGERTIAN
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah spontan yang terjadi
pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai (William,2010).
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan berupa air dari vagina
setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses persalinan berlangsung
dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum kehamilan 37 minggu
maupun kehamilan aterm. (Saifudin,2009)
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan
berlangsung. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya
kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua
faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan mambran disebabkan adanya infeksi
yang dapat berasal dari vagina serviks. (Sarwono Prawiroharjo, 2011)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu
bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm.
(Sarwono Prawirohardjo, 2013)

B. ANATOMI FISIOLOGI
Volume air ketuban pada kehamilan cukup bulan yaitu 1000–1500 cc
Ciri-ciri kimiawi :
Air ketuban berwarna putih kekeruhan, berbau khas amis, dan berasa
manis, reaksinya agak alkalis atau netral, berat jenis 1,008. Komposisinya
terdiri atas 98 % air, sisanya albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel-sel epitel,
rambut lanugo, verniks kaseosa dan garam anorganik. Kadar protein kira-kira
2,6 gr % per liter terutama sebagai albumin.
Dijumpai lecitin spingomyelin dalam air ketuban amat berguna untuk
mengetahui apakah janin sudah mempunyai paru-paru yang matang. Sebab
peningkatan kadar lecitin pertanda bahwa permukaan paru-paru diliputi zat
surfaktan. Ini merupakan syarat bagi paru-paru untuk berkembang dan
bernapas. Bila persalinan berjalan lama atau ada gawat janin atau pada letak

1
sungsang akan kita jumpai warna ketuban keruh kehijau-hijauan, karena telah
bercampur dengan mekonium.

Fungsi Air Ketuban:


1. Untuk proteksi janin.
2. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion.
3. Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
4. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
5. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin
6. Meratakan tekanan intra–uterin dan membersihkan jalan lahir bila ketuban
pecah.
7. Peredaran air ketuban dengan darah cukup lancar dan perputarannya cepat,
kira-kira 350-500 cc.

Asal Air Ketuban:


1. Kencing janin (fetal urin)
2. Transudasi dari darah ibu
3. Sekresi dari epitel amnion
4. Asal campuran (mixed origin)

C. ETIOLOGI
Yang menjadi faktor predesposisi adalah:
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun
asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan
terjadinya KPD.
2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh
karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, curetage).
3. Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan
(overdistensi uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh
beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya
KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan
dalam, maupun amnosintesis menyebabakan terjadinya KPD karena
biasanya disertai infeksi.

2
4. Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah
yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan
terhadap membran bagian bawah.
5. Keadaan sosial ekonomi
6. Faktor lain
a. Faktor golongan darah
b. Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak sesuai dapat
menimbulkan kelemahan bawaan termasuk kelemahan jarinngan kulit
ketuban.
c. Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu.
d. Faktor multi graviditas, merokok dan perdarahan antepartum.
e. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).

D. MANIFESTASI KLINIS (TANDA & GEJALA)


1. Keluar ketuban warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau/kecoklatan
sedikit/banyak
2. Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi
3. Janin mudah teraba
4. Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering
5. Inspekulo, tampak air ketuban mengalir/selaput ketuban tidak ada dan air
ketuban ketuban sudah kering.

E. KOMPLIKASI
1. Infeksi
Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden
dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya
KPD.
2. Partus peterm
Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi
pada kehamilan kurang dari 37 minggu (antara 20–37 minggu) atau
dengan berat janin kurang dari 2500 gram

3
3. Prolap Tali Pusat
Tali pusat menumbung
4. Distasia (partus Kering)
Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan
menyebabkan dry labour atau persalinan kering

F. PATOFISIOLOGI
Kantong amnion yang utuh berfungsi sebagai suatu mekanik terhadap.
infeksi tetapi selain itu cairan amnion mempunyai beberapa sifat bakteri ostatik
yang dapat memainkan peran dalam pencegahan kario amnionitis dan infeksi
janin. Membran yang utuh bukan merupakan sawar mutlak terhadap infeksi
karena kolonisasibakteri terjadi 10% pasien dalam persalinan cukup bulan,
dengan membrane yang utuh sampai 25% pasien dalam persalinan kurang
bulan. Janin kurang bulan dengan ketuban pecah dini, resiko infeksi dan sepsis
yang keberadaannya di dalam rahim ahkan dapat menjadi problematik, bagi ibu
resikonya bukan saja terjadi kariomnitis tetapi juga bisa terjadi kegagalan
induksi, maka harus dilakukan operasi section caesaria.

4
5
6
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Leukosid darah > 15000/ul bila terjadi infeksi


2. Test lakmus merah berubah menjadi biru
3. Amnio sentetis
4. USG (menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion berkurang)

H. PENATALAKSANAAN
1. Keperawatan
- Rawat rumah sakit dengan tirah baring.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.
- Umur kehamilan kurang 37 minggu.
- Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.
- Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan
kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin.
- Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda
persalinan.
- Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau
gawat janin.
- Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi
uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air
berlangsung terus, lakukan terminasi kehamilan.
2. Medis
- Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila
ditemukan tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan
terminasi kehamilan.
- Induksi atau akselerasi persalinan.
- Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan
mengalami kegagalan.
- Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat
ditemukan.

7
I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan

1. Biodata klien
Biodata klien berisi tentang: Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku,
Agama, Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan,
Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.
2. Keluhan utama :
Keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau/kecoklatan
sedikit/banyak, pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban
sudah kering, inspeksikula tampak air ketuban mengalir/selaput ketuban
tidak ada dan air ketuban sudah kering
3. Riwayat haid
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar,
konsistensi, siklus haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal
partus
4. Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan
sah atau tidak, atau tidak direstui dengan orang tua?
5. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium: USG, darah,
urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi,
upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh
6. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara
pengobatan yang dijalaninya, dimana mendapat pertolongan, apakah
penyakit tersebut diderita sampai saat ini atau kambuh berulang–ulang
7. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara
genetik seperti panggul sempit, apakah keluarga ada yg menderita
penyakit menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang
pernah di derita oleh keluarga

8
8. Kebiasaan sehari –hari
a. Pola nutrisi: pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan
nafsu makan, frekuensi minum klien juga mengalami penurunan
b. Pola istirahat dan tidur: klien dengan KPD mengalami nyeri pada
daerah pinggang sehingga pola tidur klien menjadi terganggu, apakah
mudah terganggu dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan
pada perineum)
c. Pola eliminasi: Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah
inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin),hilangnya
kontrol blas, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi urine
karena rasa takut luka episiotomi, apakah perlu bantuan saat BAK.
Pola BAB, freguensi, konsistensi,rasa takut BAB karena luka
perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
d. Personal Hygiene: Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi,
penggunaan pembalut dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tata
rias rambut dan wajah
e. Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan
KPD di anjurkan untuk bedresh total
f. Rekreasi dan hiburan: Situasi atau tempat yang menyenangkan,
kegiatan yang membuat fresh dan relaks.
9. pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan kesadaran klie, BB/TB, tekanan darah, nadi, pernafasan
dan suhu
b. Head To Toe
1) Rambut: warna rambut, jenis rambut, baunya, apakah ada luka
lesi/lecet
2) Mata: sklera nya apakah ihterik/tidak, konjungtiva anemis/tidak,
apakah palpebra oedema/tidak, bagaimana fungsi penglihatannya
baik/tidak, apakah klien menggunakan alat bantu penglihatan/tidak.
Pada umumnya ibu hamil konjungtiva anemis.

9
3) Telinga: apakah simetris kiri dan kanan, apakah ada terdapat
serumen/tidak, apakah klien menggunakan alat bantu
pendengaran/tidak, bagaimana fungsi pendengaran klien baik/tidak
4) Hidung: apakah klien bernafas dengan cuping hidung/tidak, apakah
terdapat serumen/tidak, apakah fungsi penciuman klien baik/tidak
5) Mulut dan gigi: bagaimana keadaan mukosa bibir klien, apakah
lembab atau kering, keadaan gigi dan gusi apakah ada peradangan
dan pendarahan, apakah ada karies gigi/tidak, keadaan lidah klien
bersih/tidak, apakah keadaan mulut klien berbau/tidak. Pada ibu
hamil pada umumnya berkaries gigi, hal itu disebabkan karena ibu
hamil mengalami penurunan kalsium
6) Leher: apakah klien mengalami pembengkakan tyroid
7) Paru–paru
Inspeksi : warna kulit, apakah pengembangan dada nya simetris
kiri dan kanan, apakah ada terdapat luka memar/lecet, frekuensi
pernafasan nya
Palpasi : apakah ada teraba massa/tidak , apakah ada teraba
pembengkakan/tidak, getaran dinding dada apakah simetris/tidak
antara kiri dan kanan
Perkusi : bunyi Paru
Auskultasi : suara nafas
8) Jantung
Inspeksi : warna kulit, apakah ada luka lesi/lecet, ictus cordis
apakah terlihat/tidak
Palpasi : frekuensi jantung berapa, apakah teraba ictus cordis pada
ICS% Midclavikula
Perkusi : bunyi jantung
Auskultasi : apakah ada suara tambahan/tidak pada jantung klien
9) Abdomen
Inspeksi : keadaan perut, warna nya, apakah ada/tidak luka lesi dan
lecet

10
Palpasi : tinggi fundus klien, letak bayi, persentase kepala apakah
sudah masuk PAP/belum
Perkusi : bunyi abdomen
Auskultasi : bising usu klien, DJJ janin apakah masih
terdengar/tidak
10) Payudara: puting susu klien apakah menonjol/tidak,warna aerola,
kondisi mamae, kondisi ASI klien, apakah sudah mengeluarkan
ASI/belum
11) Ekstremitas
Atas : warna kulit, apakah ada luka lesi/memar, apakah ada
oedema/tidak
Bawah : apakah ada luka memar/tidak, apakah oedema/tidak
12) Genitalia : apakah ada varises atau tidak, apakah ada
oedema/tidak pada daerah genitalia klien
13) Intergumen : warna kulit, keadaan kulit, dan turgor kulit
baik/tidak

2. Diagnosa Keperawatan
I. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, pecah ketuban,
kerusakan kulit, penurunan hemoglobin, pemajanan pada patogen
II. Nyeri akut b.d agen cidera fisik (luka operasi)
III. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
IV. Defisiensi Pengetahuan b.d keterbatasan informasi mengenai tanda
dan gejala penyakit.

11
3. Nursing Care Plan

DX NOC NIC
Kurang Pengetahuan NOC:  Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
Berhubungan dengan : keterbatasan  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
kognitif, interpretasi terhadap  Kowlwdge : disease process
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
informasi yang salah, kurangnya  Kowledge : health Behavior
tepat.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
keinginan untuk mencari informasi,  Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,
tidak mengetahui sumber-sumber selama …. pasien menunjukkan
dengan cara yang tepat
pengetahuan tentang proses penyakit
informasi.
dengan kriteria hasil:  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat
 Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara
 Pasien dan keluarga menyatakan yang tepat
pemahaman tentang penyakit,  Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien
kondisi, prognosis dan program dengan cara yang tepat
DS: Menyatakan secara verbal pengobatan  Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
adanya masalah  Pasien dan keluarga mampu  Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second
DO: ketidakakuratan mengikuti melaksanakan prosedur yang opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
instruksi, perilaku tidak sesuai dijelaskan secara benar  Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara
 Pasien dan keluarga mampu yang tepat
menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan
lainnya
Nyeri akut berhubungan dengan: NOC : NIC :
Agen injuri (biologi, kimia, fisik,  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
psikologis), kerusakan jaringan  pain control, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
 comfort level  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
Setelah dilakukan tinfakan keperawatan  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
DS: selama …. Pasien tidak mengalami dukungan
nyeri, dengan kriteria hasil:  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
- Laporan secara verbal ruangan, pencahayaan dan kebisingan
DO:  Mampu mengontrol nyeri (tahu  Kurangi faktor presipitasi nyeri
penyebab nyeri, mampu menggunakan  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
- Posisi untuk menahan nyeri tehnik nonfarmakologi untuk  Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi,
- Tingkah laku berhati-hati
12
- Gangguan tidur (mata sayu, mengurangi nyeri, mencari bantuan) distraksi, kompres hangat/ dingin
tampak capek, sulit atau gerakan  Melaporkan bahwa nyeri berkurang  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
kacau, menyeringai) dengan menggunakan manajemen  Tingkatkan istirahat
- Terfokus pada diri sendiri nyeri  Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa
- Fokus menyempit (penurunan  Mampu mengenali nyeri (skala, lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari
persepsi waktu, kerusakan proses intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) prosedur
berpikir, penurunan interaksi  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik
dengan orang dan lingkungan) berkurang pertama kali
- Tingkah laku distraksi, contoh :  Tanda vital dalam rentang normal
jalan-jalan, menemui orang lain  Tidak mengalami gangguan tidur
dan/atau aktivitas, aktivitas
berulang-ulang)
- Respon autonom (seperti
diaphoresis, perubahan tekanan
darah, perubahan nafas, nadi dan
dilatasi pupil)
- Perubahan autonomic dalam tonus
otot (mungkin dalam rentang dari
lemah ke kaku)
- Tingkah laku ekspresif (contoh :
gelisah, merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu makan dan
minum

13

Anda mungkin juga menyukai