Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PENDAHULUAN

ABORTUS INKOMPLIT

RUANG KAMAR BERSALIN RUMAH SAKIT WAVA HUSADA


KEPANJEN

DI SUSUN OLEH :

SITI AULIYA ULFAH

1730054

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN

PROGRAM STUDI NERS

TAHUN AJARAN 2017/2018


ASUHAN KEPERAWATAN

Pada Ny.D Dengan Diagnosa Medis Abortus Inkomplit

RUANG KAMAR BERSALIN RUMAH SAKIT WAVA HUSADA


KEPANJEN

DI SUSUN OLEH :

SITI AULIYA ULFAH

1730054

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KEPANJEN

PROGRAM STUDI NERS

TAHUN AJARAN 2017/2018


LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan “ABORTUS INKOMPLIT” di


Ruang Kamar Bersalin Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen Malang yang
dilakukan oleh :

Nama : Siti Auliya Ulfah

NIM : 17.30.054

Prodi : Profesi Ners

Sebagai salah satu syarat dalam pemenuhan tugas praktik departemen


Keperawatan Anak, yang dilaksanakan pada tanggal 26 Februari – 03 Maret 2018,
yang telah disetujui dan disahkan pada :

Hari :……………………

Tanggal :……………………

Malang,………………………….

Mahasiswa

(Siti Auliya Ulfah)

Mengetahui :

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik

(…………………………..) (…………………………..)

Kepala Ruang

(…………………………..)
LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho,2010).
Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah
pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin
belum mampu hidup di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau
usia kehamilan kurang dari 28 minggu karena pada saat ini proses
plasentasi belum selesai. Pada bulan pertama kehamilan yang mengalami
abortus, hampir selalu didahului dengan matinya janin dalam Rahim
(Manuaba, 2007:683).
Abortus inkomplit adalah perdarahan pada kehamilan muda
dimana sebagaian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui
kanalis servikal yang tertinggal pada desidua atau plasenta ( Ai Yeyeh,
2010).
Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi
pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal
dalam uterus. Reproduksi manusia relatif tidak efisien, dan abortus adalah
komplikasi tersering pada kehamilan, dengan kejadian keseluruhan sekitar
15% dari kehamilan yang ditemukan.Namun angka kejadian abortus
sangat tergantung kepada riwayat obstetri terdahulu, dimana kejadiannya
lebih tinggi pada wanita yang sebelumnya mengalami keguguran daripada
pada wanita yang hamil dan berakhir dengan kelahiran hidup(Manuaba,
2007:683).
Abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi
pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang tertinggal
dalam uterus. Pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis terbuka dan
jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah
menonjol dari ostium uteri eksternum. Pada USG didapatkan endometrium
yang tipis dan irreguler(Dr. M. Hakim, Phd, keadaan darurat ginekologi
umum).
Abortus inkompletus yaitu pengeluaran produk konsepsi secara
spontan sebelum minggu ke 24 kehamilan (lebih sering terjadi minggu ke
8-12, lebih jarang trimester II karena mungkin etiologinya berbeda). (Dr.
M. Hakim, Phd, keadaan darurat ginekologi umum).

B. ETIOLOGI
Penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti,
tetapi beberapa faktor yang berpengaruh adalah :
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian
janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi
dikeluarkan, gangguan pertumbuhan hasil kosepsi dapat terjadi karena:
a. Faktor kromosom: Gangguan terjadi sejak semula pertemuan
kromosom, termasuk kromosorn seks.
b. Faktor lingkungan endometritum.
Endometrium belum siap untuk menerima implasi hasil konsepsi.
Gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak
kehamilan.
2. Pengaruh luar
a. Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil
konsepsi.
b. Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan
pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.
3. Kelainan pada plasenta
a. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak
dapat berfungsi.
b. Gangguan pembuluh darah palsenta, diantaranya pada diabetes
melitus.
c. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta
sehingga menimbulkan keguguran.
4. Penyakit ibu. Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi
pertumbuhan janin dalam kandungan melalui plasenta:
a. Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis,
malaria, sifilis.
b. Anemia ibu melalui gangguan nutrisi dan peredaran O2 menuju
sirkulasi retroplasenter.
c. Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit
hati, penyakit diabetes melitus.
5. Kelainan yang terdapat dalam rahim
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan
abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkatus, uterus septus,
retrofleksi uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks (konisasi,
amputasi serviks), robekan serviks postpartum.
6. Faktor antibody autoimun, terutama :
Antibody antiphosfolipid :
a. Menimbulkan thrombosis, infrak plasenta, perdarahan
b. Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan diikuti abortus
c. Antibody anticardiolipin, dalam lupus anticoagulant (LAC)
d. Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan
menyebabkan abortus.

C. PATPFISIOLOGIS
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis
kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut
menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga
merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8
minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi
korialis belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan
antara 8 sampai 14 minggu villi korialis menembus desidua lebih dalam,
sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat
menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas
umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul
beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta
segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai
persalinan dalam bentuk miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai
bentuk. Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya
benda kecil tanpa bentuk yang jelas dan mungkin pula janin telah mati
lama. Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang
cepat maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah, isi uterus
dinamakan mola kruenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa apaila pigmen
darah telah diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi sehingga
semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberose, dalam
hal ini amnion tampak berbenjol – benjol karena terjadi hematoma antara
amnion dan korion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat
terjadi proses mumifikasi diamana janin mengering dan karena cairan
amnion berkurang maka ia jadi gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat
lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus).
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak segera dikeluarkan
adalah terjadinya maserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek,
perut membesar karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna kemerah –
merahan dan dapat menyebabkan infeksi pada ibu apabila perdarahan yang
terjadi sudah berlangsung lama. (Prawirohardjo, 2005).
D. PATHWAY

Perdarahan
nekrosis

Hasil konsepsi
terlepas dari uterus

Uterus berkontraksi

Hasil konsepsi keluar Hasil konsepsi keluar


sempurna (abortus tidak sempurna (abortus
kompletus) inkompletus)

Merasa
kehilangan perdarahan

Ansietas
Duka cita Kekurangan
volume
Stress cairan

Risiko
Nyeri infeksi
Akut

Risiko syok
Intolerans
i aktifitas
E. KLASIFIKASI
Klasifikasi abortus digolongkan menjadi 2 yaitu:
1. Abortus spontaneous yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului
faktor-faktor mekanis atau medisinalis, tetapi karena faktor alamiah.
Aspek klinis abortus spontaneus meliputi:
a. Abortus Imminens.
Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan
dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil
konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.
Diagnosis abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan
pervaginam pada paruh pertama kehamilan. Yang pertama kali
muncul biasanya adalah perdarahan, dari beberapa jam sampai
beberapa hari kemudian terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus
mungkin terasa di anterior dan jelas bersifat ritmis, nyeri dapat
berupa nyeri punggung bawah yang menetap disertai perasaan
tertekan di panggul, atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di
garis tengah suprapubis. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan
selama beberapa minggu.
b. Abortus insipiens
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri
yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam
hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan
bertambah.
c. Abortus inkompletus
Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di uterus,
cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda
utama abortus inkompletus. Pada abortus yang lebih lanjut,
perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga
menyebabkan hipovolemia berat.
d. Abortus kompletus
Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah
dikeluarkan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium
uteri telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis
dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat
dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.
e. Abortus Servikalis
Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus
dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka,
sehingga semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks
uteri menjadi besar, kurang lebih bundar, dengan dinding menipis.
Pada pemeriksaan ditemukan serviks membesar dan di atas ostium
uteri eksternum teraba jaringan. Terapi terdiri atas dilatasi serviks
dengan busi Hegar dan kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi
dari kanalis servikalis.
f. Missed Abortion
Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20
minggu, tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8
minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi
diduga pengaruh hormone progesterone. Pemakaian Hormone
progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat
menyebabkan missed abortion.
g. Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3
kali atau lebih berturut turut. Pada umumnya penderita tidak sukar
menjadi hamil, tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu

2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat) yaitu menghentikan


kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada
umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila
kehamilan belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badanbayi
belum 1000 gram, walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000
gram dapat terus hidup. Abortus ini terbagi menjadi dua yaitu :
a. Abortus medisinalis (abortus therepeutika)
Adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan
bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (
berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan
dua sampai tiga tim dokter ahli
b. Abortus kriminalis
Adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan– tindakan
yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

F. MANIFESTASI KLINIS
Abortus inkomplit ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil
konsepsi dari uterus, sehingga sisanya memberikan gejala klinis sebagai
berikut:
1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
2. Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis
3. Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat
4. Terjadi infeksi dengan ditandai suhu tinggi
5. Dapat terjadi degenerasi ganas/koriokarsinoma (Manuaba, 2010).

Gejala lain dari abortus incomplit antara lain:


1. Perdarahan biasa sedikit/banyak dan biasa terdapat bekuan darah .
2. Rasa mules (kontraksi) tambah hebat.
3. Perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium
bau busuk dari vulva
4. Ostium uteri eksternum atau serviks terbuka.
5. Pada pemeriksaan vaginal, jaringan dapat diraba dalam cavum uteri
atau kadang-kadang sudah menonjol dari eksternum atau sebagian
jaringan keluar.
6. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan dapat
menyebabkan syok (Maryunani, 2009).
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Ginekologi:
1. Inspeksi vulva
a. Perdarahan pervaginam sedikit atau banyak
b. Adakah disertai bekuan darah
c. Adakah jaringan yang keluar utuh atau sebagian
d. Adakah tercium bau busuk dari vulva
2. Pemeriksaan dalam speculum
a. Apakah perdarahan berasal dari cavum uteri
b. Apakah ostium uteri masih tertutup / sudah terbuka
c. Apakah tampak jaringan keluar ostium
d. Adakah cairan/jaringan yang berbau busuk dari ostium.
3. Pemeriksaan dalam
a. Apakah portio masih terbuka atau sudah tertutup
b. Apakah teraba jaringan dalam cavum uteri
c. Apakah besar uterus sesuai, lebih besar atau lebih kecil dari usia
kehamilan
d. Adakah nyeri pada saat porsio digoyang
e. Adakah rasa nyeri pada perabaan
f. Adakah terasa tumor atau tidak
g. Apakah cavum douglasi menonjol, nyeri atau tidak

Pemeriksaan kadar Hb, golongan darah dan uji padanan silang


(crossmatch)

1. Bila terdapat tanda – tanda sepsis, berikan antibiotic yang sesuai


2. Temukan dan hentikan segera sumber perdarahan
3. Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan
perkembangan lanjut
H. PENATALAKSANAAN
Penanganan umum:
1. Kuretase dapat dilakukan untuk mengeluarkan sisa hasil konsepsi
dalam uterus Sebelum dilakukan kuretase, biasanya pasien akan
diberikan obat anestesi (dibius) secara total dengan jangka waktu
singkat, sekitar 2-3 jam. Setelah pasien terbius, barulah proses kuretase
dilakukan.Ketika melakukan kuret, ada 2 pilihan alat bantu bagi
dokter. Pertama, sendok kuret dan kanula/selang. Sendok kuret
biasanya dipilih oleh dokter untuk mengeluarkan janin yang usianya
lebih dari 8 minggu karena pembersihannya bisa lebih maksimal.
Sedangkan sendok kanula lebih dipilih untuk mengeluarkan janin yang
berusia di bawah 8 minggu, sisa plasenta, atau kasus endometrium.Alat
kuretase baik sendok maupun selang dimasukkan ke dalam rahim
lewat vagina. Bila menggunakan sendok, dinding rahim akan dikerok
dengan cara melingkar searah jarum jam sampai bersih. Langkah ini
harus dilakukan dengan saksama supaya tak ada sisa jaringan yang
tertinggal. Bila sudah berbunyi “krok-krok” (beradunya sendok kuret
dengan otot rahim) menunjukkan kuret hampir selesai. Sedikit berbeda
dengan selang, bukan dikerok melainkan disedot secara melingkar
searah jarum jam. Umumnya kuret memakan waktu sekitar 10-15
menit (Fajar, 2007).
2. Lakukan penilaian awal untuk menentukan kondisi pasien (gawat
darurat, komplikasi berat atau masih cukup stabil)
3. Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi pasien sebelum
melakukan tindakan lanjutan (yindakan medic atau rujukan)
4. Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas
kesehatan setempat atau dirujuk kerumah sakit.
a. Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan
hebat segera atasi komplikasi tersebut
b. Gunakan jarum infuse besar (16G atau lebih besar) dan berikan
tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam
fisiologis atau Ringer
Penatalaksanaan berdasarkan jenis abortus (abortus inkomplitus)

1. Bila disertai syok karena perdarahan segera pasang infuse dengan


cairan NaCl fisiologis atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul
dengan transfuse darah
2. Setelah syok teratasi, lakukan kerokan
3. Pasca tindakan berikan injeksi metal ergometrin maleat intra muscular
untuk mempertahankam kontraksi otot uterus
4. Perhatikan adanya tanda – tanda infeksi
5. Bila tak ada tanda–tanda infeksi berikan antibiotika prifilaksis
(ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg)
6. Bila terjadi infeksi beri ampisilin I g dan metronidazol 500 mg setiap 8
jam

Penatalaksanaan keperawatan yang dapat dilakukan:

1. Melakukan vulva hygiene untuk mengurangi terjadinya infeksi pada


area vagina minimal 2x sehari
2. Menganjurkan pasien istirahat yang cukup
3. Menjelaskan kepada klien tentang penyebab abortus dan penaganan
terhadap abortus
4. Monitor intake dan output cairan klien

I. KOMPLIKASI
Abortus inkomplit yang tidak ditangani dengan baik dapat
mengakibatkan syok akibat perdarahan hebat dan terjadinya infeksi akibat
retensi sisa hasil konsepsi yang lama didalam uterus.Sinekia intrauterin
dan infertilitas juga merupakan komplikasi dari abortus.
Berbagai kemungkinan komplikasi tindakan kuretase dapat terjadi,
seperti perforasi uterus, laserasi serviks, perdarahan, evakuasi jaringan sisa
yang tidak lengkap dan infeksi. Komplikasi ini meningkat pada umur
kehamilan setelah trimester pertama. Panas bukan merupakan
kontraindikasi untuk kuretase apabila pengobatan dengan antibiolik yang
memadai segera dimulai.Komplikasi yang dapat terjadi akibat tindakan
kuretase antara lain :
1. Komplikasi Jangka pendek
a. Dapat terjadi refleks vagal yang menimbulkan muntah-muntah,
bradikardi dan cardiac arrest.
b. Perforasi uterus yang dapat disebabkan oleh sonde atau dilatator.
Bila perforasi oleh kanula, segera diputuskan hubungan kanula
dengan aspirator. Selanjutnya kavum uteri dibersihkan sedapatnya.
Pasien diberikan antibiotika dosis tinggi. Biasanya pendarahan akan
berhenti segera. Bila ada keraguan, pasien dirawat.
c. Serviks robek yang biasanya disebabkan oleh tenakulum. Bila
pendarahan sedikit dan berhenti, tidak perlu dijahit.
d. Perdarahan yang biasanya disebabkan sisa jaringan konsepsi.
Pengobatannya adalah pembersihan sisa jaringan konsepsi.
e. Infeksi akut dapat terjadi sebagai salah satu komplikasi.
Pengobatannya berupa pemberian antibiotika yang sensitif terhadap
kuman aerobik maupun anaerobik. Bila ditemukan sisa jaringan
konsepsi, dilakukan pembersihan kavum uteri setelah pemberian
antibiotika profilaksis minimal satu hari.
2. Komplikasi jangka panjang.
Infeksi yang kronis atau asimtomatik pada awalnya ataupun karena
infeksi yang pengobatannya tidak tuntas dapat menyebabkan:
a. Infertilitas baik karena infeksi atau tehnik kuretase yang salah
sehingga terjadi perlengketan mukosa (sindrom Asherman)
b. Nyeri pelvis yang kronis.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
Menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan
perawatan bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a. Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ;
nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan, perkawinan ke-, lamanya perkawinan dan alamat
b. Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya
perdarahan pervaginam berulang pervaginam berulang
c. Riwayat kesehatan, yang terdiri atas :
1. Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke
Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan
pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari
usia kehamilan.
2. Riwayat kesehatan masa lalu
3. Riwayat pembedahan: Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami
oleh klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan di mana
tindakan tersebut berlangsung.
4. Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang
pernah dialami oleh klien misalnya DM, jantung, hipertensi, masalah
ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit
lainnya
5. Riwayat kesehatan keluarga: Yang dapat dikaji melalui genogram
dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit
turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
6. Riwayat kesehatan reproduksi: Kaji tentang mennorhoe, siklus
menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya
dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta
keluahan yang menyertainya
7. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas: Kaji bagaimana keadaan
anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana
keadaan kesehatan anaknya.
8. Riwayat seksual: Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis
kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
9. Riwayat pemakaian obat: Kaji riwayat pemakaian obat-
obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
10. Pola aktivitas sehari-hari: Kaji mengenai nutrisi, cairan dan
elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene,
ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
11. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak
hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera
pendengaran dan penghidung.Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi,
lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan
kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan
ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya
b. Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh
dengan jari.
Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu,
derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan
kontraksi uterus.
Tekanan: menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema,
memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk
mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan/tonus otot atau
respon nyeri yang abnormal
c. Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung
pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi
tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari: ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi
yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi: ketuk lutut dan amati ada
tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks
kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak
d. Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan
bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan
menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar:
mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada
untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau
denyut jantung janin. (Johnson & Taylor, 2005: 39)
d. Pemeriksaan laboratorium :Darah dan urine serta pemeriksaan
penunjang: rontgen, USG, biopsi, pap smear. Keluarga berencana: Kaji
mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah
klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa.
e. Data lain-lain :
1. Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan
selama dirawat di RS.
2. Data psikososial. Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola
komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien
dan mekanisme koping yang digunakan.
3. Status sosio-ekonomi: Kaji masalah finansial klien
4. Data spiritual: Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME,
dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.
2. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
a. Pre Kuretase
1. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus, perubahan
dinding endometrium dan jalan lahir.
2. Ansietas berhubungan dengan kemungkinan akan kehilangan janin
b. Post Kuretase
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya
pendarahan
2) Dukacita b.d kehilangan calon anak
3) Intoleransi aktifitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
4) Risiko Infeksi b.d perdarahan, dan kondisi vulva lembab
5) Risiko syok b.d hipovolemik: perdarahan pervaginam
3. INTERVENSI
No. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi Rasional
Tujuan
Pre Kuretase
1. Nyeri akut berhubungan dengan Pain Management Pain Management
dengan kontraksi uterus, perubahan
dinding endometrium dan jalan 1. Lakukan pengkajian nyeri secara 1. Untuk memberikan tindakan
lahir. komprehensif termasuk lokasi, keperawatan yang sesuai
Setelah dilakukan tindakan karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas 2. Untuk mengetahui kemajuan
keperawatan selama 1x60 menit (1 dan faktor presipitasi,. persalinan dan ketidaknyamanan
jam) diharapkan nyeri akan 2. Kaji kontraksi uterus dan yang dirasakan ibu
berkurang ketidaknyamanan (awitan, frekuensi, 3. Respon mimik dari nyeri yang
NOC: durasi, intensitas, dan gambaran dirasakan ibu.
1. Pain level ketidaknyamanan) 4. Dapat mengurangi faktor yang
2. Pain control 3. Observasi reaksi nonverbal dari reaksi memperparah tingkat nyeri
3. Comfort level ketidaknyamanan 5. Membantu mengurangi nyeri
Kriteria Hasil: 4. Kontrol lingkungan yang dapat 6. Untuk diberikan tindakan
1. Mampu mengontrol nyeri mempengaruhi nyeri seperti suhu selanjutnya dalam mengatasi nyeri
2. Menyatakan rasa nyaman ruangan, pencahayaan, dan kebisingan yang tidak berhasil tersebut
3. Mengungkapkan penurunan 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
nyeri 6. Kolaborasikan dengan dokter jika ada Analgesic administration
4. Menggunakan tehnik yang tepat keluhan dan tindakan penanganan nyeri 1. Verifikasi dalam pemberian obat,
untuk mempertahankan kontrol yang tidak berhasil menghindari kesalahan dalam
nyeri. pemberian obat
Analgesic administration 2. Menurunkan tingkat nyeri dengan
teknik farmakologi
1. Cek instruksi dokter tentang jenis obat,
3. Penurunan sirkulasi darah dapat
dosis dan frekuensi
terjadi peningkatan kehilangan
2. Kolaborasi dengan dokter pemberian cairan mengakibatkan hipotensi
obat analgesik pada klien dan takikardi
3. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan
sesudah diberikan analgesik

2. Ansietas berhubungan dengan NIC:


kemungkinan akan kehilangan janin Anxiety Reduction Anxiety Reduction
NOC: 1. Kaji, sifat, sumber dan manifestasi 1. mengidentifikasi perhatian pada
Anxiety self-control, anxiety level, kecemasan. bagian khusus dan menentukan
coping. 2. Berikan informasi tentang arah dan kemungkinan pilihan/
Setelah dilakukan tindakan penyimpangan genetic khusus, resiko intervensi.
keperawatan selama (1x30 menit) yang dalam reproduksi dan 2. dapat menghilangkan ansietas
Ansietas klien teratasi dengan ketersediaan tindakan/pilihan diagnosa berkenaan dengan ketidaktahuan
kriteria hasil : 3. Kembangkan sikap berbagi rasa secara dan membantu keluarga mengenai
1. Klien mampu terus menerus. stress, membuat keputusan, dan
mengidentifikasi dan 4. Berikan bimbingan antisipasi dalam beradaptasi secara positif terhadap
mengungkapkan gejala hal perubahan fisik/psikologis. pilihan.
cemas 3. kesempatan bagi klien untuk
2. Mengidentifikasi, mencari pemecahan situasi.
mengungkapkan dan 4. dapat menghilangkan kecemasan/
menunjukkan tekhnik untuk depresi pada pasangan.
mengontrol cemas
3. Vital sign dalam batas
normal
4. Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya
kecemasan

Post Kuretase
3. Kekurangan volume cairan NIC :
berhubungan dengan adanya Fluid Management Fluid Management
pendarahan 1. Monitor vital sign 1. mengetahui keadaan umum
NOC:Fluid Balance, Hydration, 2. Monitor status hydrasi (kelembaban pasien
Intake membrane mukosa, nadi adekuat, 2. mengetahui perkembangan
Setelah dilakukan tindakan selama tekanan darah ortostatik), jika rehidrasi
1x24 jam, masalah teratasi dengan diperlukan 3. rehidrasi optimal evaluasi
kriteria hasil: 3. Monitor masukan makanan/ cairan dan intervensi
 Mempertahankan urin output hitung intake kalori harian 4. mengurangi risiko kekurangan
dalam batas normal sesuai 4. Kolaborasi pemberian cairan IV voume cairan semakin bertambah
dengan usia, dan BB, 5. Dorong masukan oral 5. mengurangi risiko kekurangan
 TD, nadi, suhu tubuh dalam batas 6. Berikan penggantian nasogastric sesuai voume cairan semakin bertambah
normal output 6. mengurangi risiko kekurangan
 Tidak ada tanda dehidrasi 7. Atur kemungkinan transfusi voume cairan semakin bertambah
 Elastisitas turgor kulit baik. 8. Persiapan untuk transfuse 7. mengurangi risiko kekurangan
Membrane mukosa lembab, tidak voume cairan semakin bertambah
ada rasa haus tambahan. Hypovolemia Management
Hypovolemia Management 1. mengetahui perkembangan
1. Monitor intake dan output cairan rehidrasi
2. Pelihara IV line 2. mencegah infeksi dan
3. Monitor adanya kelebihan cairan mempertahankan input cairan
4. Monitor BB yang adekuat
5. Monitor tingkat HB dan hemtokrit 3. mencegah masuknya cairan
6. Pasang urin kateter jika diperlukan berlebihan
7. Kolaborasikan pemberian diuretic 4. mengetahui BB dan
sesuai interuksi membandingkan BB pasien
sebelum dan sesudah diberikan
intervensi
5. memonitor status kebutuhan
cairan pasien
6. mengetahui jumlah output cairan
7. membantu mempermudah output
cairan, menjaga keseimbangan
cairan
4. Dukacita b.d kehilangan calon anak NIC: Grief Work Facilitation
NOC: Grief resolution Grief Work Facilitation 1. Mengetahui penyebab dari
Setelah dilakukan tindakan 1. Identifikasi perasaan kehilangan klien kehilangan atau dukacita yang
keperawatan selama 1x45 menit 2. Dengarkan cerita pasien terhadap dialami klien saat ini dan mencari
masalah dukacita klien teratasi perasaan kehilangan yang dialaminya solusi terhadap penyelesaian
dengan kriteria hasil: 3. Buat pernyataan empati tentang kehilangan tersebut
1. Mencari solusi terhadap perasaan dukacita yang dialami klien 2. Memberikan kesempatan kepada
kehilangan 4. Dorong diskusi tentang pengalaman klien untuk mengutarakan semua
2. Melisankan perasaan dan kehilangan atau dukacita sebelumnya perasaan yang berkaitan dengan
penerimaan terhadap kehilangan yang pernah dialami klien kehilangan yang dialami
3. Mengekspresikan harapan positif 5. Ajarkan secara bertahap proses berduka 3. Sikap yang ditunjukkan untuk
terhadap masa depan sebagai progresi dukungan yang tepat memahami apa yang dirasakan
6. Sertakan orang lain yang dekat dengan dan kemampuan untuk
klien untuk berdiskusi mengenali, mempresepsi, dan
7. Komunikasikan kepada klien untuk bisa merasakan perasaan orang lain.
menerima terhadap kehilangan yang 4. Mengetahui pengalaman dukacita
dialami dimasalalu yang pernah dialami
klien dan membandingkan
perasaan tersebut dengan saat ini.
5. mengantisipasi kebutuhan
emosional klien dan keluarganya
dan juga rencana intervensi untuk
membantu mereka memahami
kesedihan mereka dan
mengatasinya.
6. membantu dalam memberikan
dukungan kepada klien
7. reorganisasi perasaan kehilangan.
Pikiran yang selalu berpusat pada
objek yg hilang akan mulai
berkurang atau bahkan hilang.
Perhatiannya akan beralih pada
objek yg baru.
5. Intoleransi aktifitas b.d kelemahan, NIC: Activity theraphy
penurunan sirkulasi Activity theraphy 1. Mungkin klien tidak mengalami
NOC: 1. Kaji tingkat kemampuan klien untuk perubahan berarti, tetapi
Activity tolerance, energy beraktivitas perdarahan masif perlu
conservation, self care: ADLs. 2. Evaluasi perkembangan kemampuan diwaspadai untuk menccegah
Setelah dilakukan tindakan klien melakukan aktivitas kondisi klien lebih buruk
keperawatan selama 1x24 jam (1 3. Bantu klien untuk memenuhi 2. Aktivitas merangsang
hari) diharapkan klien dapat kebutuhan aktivitas sehari-hari peningkatan vaskularisasi dan
toleransi dengan aktivitas dengan 4. Bantu klien untuk melakukan tindakan pulsasi organ reproduks
kriteria hasil: sesuai dengan kemampuan/kondisi 3. Mengistiratkan klilen secara
1. Mampu melakukanaktifitas klien optimal
sehari-hari secara mandiri 5. Kaji pengaruh aktivitas terhadap 4. Menilai kondisi umum klien
2. Berpatisipasi dalam aktivitas kondisi uterus/kandungan 5. Mengoptimalkan kondisi klien,
fisil tanpa disertai pada abortus inkomplit, istirahat
peningkatan TD, N, RR mutlak sangat diperlukan
3. Mampu berpindah dengan
atau alat bantu

4. Risiko Infeksi f.r perdarahan, dan NIC: Infection control


kondisi vulva lembab Infection control 1. Perubahan yang terjadi pada
NOC: 1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang dishart dikaji setiap saat dischart
1. Immune Status keluar ; jumlah, warna, dan bau keluar. Adanya warna yang lebih
2. Knowledge: Infection 2. Terangkan pada klien pentingnya gelap disertai bau tidak enak
Control perawatan vulva selama masa mungkin merupakan tanda infeksi
3. Risk Control perdarahan 2. Infeksi dapat timbul akibat
3. Lakukan perawatan vulva kurangnya kebersihan genital yang
Setelah dilakukan tindakan lebih luar
4. Amati luka dari tanda infeksi
keperawatan selama 4 jam 3. Inkubasi kuman pada area genital
(flebitis)
diharapkan diharapkan tidak terjadi yang relatif cepat dapat
5. Anjurkan pada ps untuk melaporkan
infeksi menyebabkan infeksi.
dan mengenali tanda-tanda infeksi
6. Anjurkan pada suami untuk tidak 4. Daerah ini merupakan port de
Kriteria Hasil
melakukan hubungan senggama entry kuman Penanda proses
1. Tidak ditemukan tanda-tanda se;ama masa perdarahan infeksi
adanya infeksi. 5. Mencegah infeksi
2. Jumlah Leukosit dalam batas 6. Pengertian pada keluarga sangat
normal Infection Control penting artinya untuk kebaikan
1. monitor tanda dan gejala infeksi ibu; senggama dalam kondisi
2. Pantau hasil laboratorium perdarahan dapat memperburuk
3. Amati faktor-faktor yang bisa kondisi system reproduksi ibu dan
meningkatkan infeksi sekaligus meningkatkan resiko
4. monitor Vital Sign infeksi pada pasangan.
5. Kontrol infeksi
6. Ajarkan tehnik mencuci tangan Infection Control
7. Ajarkan tanda-tanda infeksi 1. Proteksi diri dari infeksi
8. Batasi pengunjung 2. Mengetahui hasil laboratorium
9. Cuci tangan sebelum dan sesudah status imunitas terhadap
merawat ps kemungkinan infeksi
10. Tingkatkan masukan gizi yang cukup 3. Mencegah infeksi sekunder
11. Anjurkan istirahat cukup 4. Mengetahui keadaan umum pasien
12. Pastikan penanganan aseptic daerah 5. Meningkatkan daya tahan tubuh
IV 6. Mencegah terjadinya perpindahan
13. Berikan PEN-KES tentang risk infeksi
infeksi 7. membantu proteksi infeksi
8. Mencegah terjadinya infeksi
9. Mencegah terjadinya infeksi
10. Meningkatkan asupan nutrisi
pasien agar meningkatkan status
imunisasi
11. Meningkatkan relaksasi
12. Mencegah terjadinya infeksi
melalui IV
13. Meningkatkan pengetahuan pasien
terhadap risiko infeksi

7. Risiko syok f.r hipovolemik: NIC: 1. Memonitor terhadap tanda-gejala


perdarahan pervaginam syok
NOC: Syok prevention 2. Kebutuhan oksigen dalam tubuh
Syok prevention, syok management minimal 95%
Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor status sirkulasi, warna kulit, 3. Suhu tinggi dan nafas cepat
keperawatan selama 1x30 menit suhu, denyut jantung, HR, dan ritme, mendapatkan terjadinya sepsis
risiko syok teratasi dengan kriteria nadi perifer 4. Untuk mempertahankan intake
hasil: cairan dalam tubuh dan menjaga
2. Monitor tanda inadekuat oksigenasi keseimbangan
1. TTV dalam batas yang jaringan
diharapkan
2. Mata cekung tidak ditemukan 3. Monitor suhu dan pernafasan
demam tidak ditemukan
3. Irama jantung dalam batas 4. Berikan cairan iv atau oral yang tepat
normal
DAFTAR PUSTAKA

Affandi B, Adriaansz G, Gunardi ER, Koesno H. Buku panduan praktis


kontrasepsi pelayanan kontrasepsi. Edisi 3. Jakarta: PT Bina Pustaka.
Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Herdman, T.H. 2015. Nanda International Inc. Diagnosis Keperawatan: definisi
& Klasifikasi 2015-2017. Edisi 10. Jakarta: EGC.
Jhonson, Marion dkk. 2008. Nursing Outcomes Classification (NOC). St.
Louise, Misouri: Mosby, Inc.
JNPK_KR. 2008. Pelayanan obsetri dan neonatal emergensi dasar (PONED).
Kusmiyati, Dkk. 2009. Perawatan ibu hamil. Yogjakarta : Fitramaya.
Manuaba, 2007. Pengantar kuliah obstetric. Jakarta: EGC.
McCloskey, Joanne C, 2008. Nursing Intervention Classification (NIC). St.
Louise, Misouri: Mosby, Inc.
Nugroho, taufan. 2010. Buku ajar obstetric. Yogjakarta : Nuha Medika.
Lampiran
PEMBAHASAN
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum
janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho,2010).
Abortus inkompletus yaitu pengeluaran produk konsepsi secara spontan
sebelum minggu ke 24 kehamilan (lebih sering terjadi minggu ke 8-12, lebih
jarang trimester II karena mungkin etiologinya berbeda). (Dr. M. Hakim, Phd,
keadaan darurat ginekologi umum).
Sedangkan penyebab abortus inkomplit ini belum diketahui secara pasti,
tapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi :
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin
dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan,
gangguan pertumbuhan hasil kosepsi dapat terjadi karena:
a. Faktor kromosom: Gangguan terjadi sejak semula pertemuan
kromosom, termasuk kromosorn seks.
b. Faktor lingkungan endometritum.
Endometrium belum siap untuk menerima implasi hasil konsepsi. Gizi
ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan.
2. Pengaruh luar
a. Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil
konsepsi.
b. Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan
pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.
3. Kelainan pada plasenta
a. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak
dapat berfungsi.
b. Gangguan pembuluh darah palsenta, diantaranya pada diabetes
melitus.
c. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga
menimbulkan keguguran.
4. Penyakit ibu. Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi
pertumbuhan janin dalam kandungan melalui plasenta:
a. Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis ,
malaria, sifilis.
b. Anemia ibu melalui gangguan nutrisi dan peredaran O2 menuju
sirkulasi retroplasenter.
c. Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit
hati, penyakit diabetes melitus.
d. Kelainan yang terdapat dalam rahim
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan
abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus arkatus, uterus septus,
retrofleksi uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks
(konisasi, amputasi serviks), robekan serviks postpartum.
5. Faktor antibody autoimun, terutama :
Antibody antiphosfolipid :
a. Menimbulkan thrombosis, infrak plasenta, perdarahan
b. Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan diikuti abortus
c. Antibody anticardiolipin, dalam lupus anticoagulant (LAC)
d. Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan menyebabkan
abortus.

Pada kasus Ny.D ini didapatkan data subjektif (keluhan saat MRS, saat
pengkajian serta riwayat kesehatan). Klien mengatakan keluar flek-flek darah dari
jalan lahir selama 3 hari karena klien selama 2 minggu pulang pergi Bantur-
Kepanjen sedangkan usia kehamilan Ny.D masih berumur 6 minggu. Pagi klien
mengajar dan sore sampai malam menunggu paman nya yang sakit di RS Wava
Husada, serta klien juga memikirkan kondisi ibunya yang menderita penyakit
jantung. Klien juga mengatakan punya riwayat darah tinggi jika kecapekan
(kelelahan).
Dalam kasus ini Ny.D ini, klien terdiagnosis “ABORTUS INKOMPLIT”,
disebabkan karena kelelahan karena selama 2 minggu klien pulang pergi Bantur-
Kepanjen untuk mengajar dan merawat pamannya yang sakit serta klien tidak bisa
beristirahat dengan tenang karena memikirkan kondisi ibunya yang sakit jantung
sehingga darah tinggi klien kambuh karena darah tinggi klien kambuh
mengakibatkan aliaran darah keplasenta terganggu dan dapat terjadi keguguran
diusia kehamilan yang masih 6 minggu.