Anda di halaman 1dari 37

Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

AUDIT KEUANGAN NEGARA


d. Tingkat kesesuaian
PERTEMUAN 1 Seberapa sesuai asersi-asersi tersebut dapat dicocokkan
dengan kriteria yang telah ditentukan.
PENGANTAR AUDIT KEUANGAN NEGARA
e. Kriteria yang telah ditetapkan:
standar penilaian untuk asersi-asersi atau pernyataan-
pernyataan. Kriteria dapat berupa Standar Akuntansi
Saat ini audit dalam sektor pemerintahan digunakan istilah Pemerintahan, atau peraturan khusus yang ditetapkan
pemeriksaan, merupakan salah satu pilar utama dalam oleh dewan legislatif, anggaran atau pengukur performa
mewujudkan tata kelola organisasi yang baik (good lain yang ditetapkan management.
governance). Secara etimologi, istilah audit berasal dari
bahasa latin ‘audire’ yang berarti mendengar. Secara f. Menyampaikan hasil
tradisional auditing dapat dipahami sebagai upaya hasil dilaporkan dalam laporan tertulis yang
pemeriksaan atas informasi akuntansi untuk mendapat mengindikasikan tingkat kesesuaian antara asersi dan
kayakinan bahwa informasi tersebut telah disajikan secara kriteria yang telah ditentukan. Tujuan pengauditan
wajar (true and fair). (pemeriksaan) adalah untuk menambah kredibilitas
pernyataan managemen sehingga pihak yang
Jika mengacu kepada definisi audit, akan tampak berkepentingan dapat memakai informasi dengan
perbedaan antara definisi audit sektor privat/swasta penjaminan yang memadai bahwa informasi tersebut
dengan audit sektor pemerintahan. Pada sektor swasta bebas dari salah saji material.
terdapat perbedaan makna untuk audit dengan
pemeriksaan (examination), sedangkan pada sektor g. Pihak yang berkepentingan
pemerintahan penggunaan kata pemeriksaan dan pihak yang menggunakan laporan audit atau laporan hasil
pengauditan hingga saat ini masih memiliki kata yang pemeriksaan.
bermakna sama. Sebagai pengantar berikut adalah definisi
audit dari sektor privat atau swasta. Jenis-Jenis Auditor Berdasarkan Organisasinya (Entitas)
Berdasarkan pemberi kerja atau tempat auditor bekerja,
Definisi Audit auditor dapat diklasifikasikan menjadi:
Audit adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan a. Akuntan Publik (External Auditor/Independent Auditor)
dan mengevaluasi bukti secara obyektif yang berhubungan b. Pemeriksa Internal (Internal Auditor)
dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian- c. Auditor Pemerintah (Goverment Auditor): BPKP (Badan
kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menentukan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan), BPK (Badan
tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan Pemeriksa Keuangan) atau Inspektorat di Departemen
kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan Pemerintah.
hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan
(Arens, et.al., 2010). Beberapa ciri-ciri atau komponen Audit yang dilakukan pada sektor publik pemerintah
audit didasarkan pada definisinya adalah: berbeda dengan yang dilakukan pada sektor swasta.
Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan
a. Proses sistematis latar belakang institusional dan hukum, dimana audit
Rangkaian langkah atau prosedur yang logis, terstruktur sektor publik pemerintah mempunyai prosedur dan
dan terorganisasi. tanggung jawab yang berbeda serta peran yang lebih luas
dibanding audit sektor swasta (Wilopo, 2001).
b. Untuk mendapatkan &mengevaluasi bukti secara
obyektif Secara umum, ada tiga jenis audit dalam audit sektor
Dengan dasar pemeriksaan / pengujian atas asersi dan publik, yaitu :
menetapkan hasilnya tanpa bias atau berprasangka (baik
buruk maupun baik) terhadap pembuat asersi. 1. Audit keuangan (financial audit)
2. Audit kepatuhan (compliance audit)
c. Pernyataan-pernyataan (asersi) tentang tindakan- 3. Audit kinerja (performance audit).
tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi
Asersi merupakan suatu pernyataan, atau suatu rangkaian Audit keuangan adalah audit yang menjamin bahwa sistem
pernyataan secara keseluruhan, oleh pihak yang akuntansi dan pengendalian keuangan berjalan secara
bertanggung jawab atas penyataan tersebut untuk efisien dan tepat serta transaksi keuangan diotorisasi serta
digunakan oleh pihak lain. Perbedaan mendasar asersi dicatat secara benar. Audit kepatuhan adalah audit yang
dengan pernyataan biasa adalah pada asersi adanya memverifikasi/memeriksa bahwa pengeluaran-
pertanggung jawaban atas pernyataan tersebut ketika pengeluaran untuk pelayanan masyarakat telah disetujui
digunakan oleh pihak lain. Contoh asersi: laporan dan telah sesuai dengan undang-undang peraturan. Dalam
keuangan, SPT, dan lain-lain.
M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1221
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

audit kepatuhan terdapat asas kepatutan selain kepatuhan Berdasarkan pengertian keuangan negara dengan
(Harry Suharto, 2002). Dalam kepatuhan yang dinilai pendekatan
adalah ketaatan semua aktivitas sesuai dengan kebijakan, objek, terlihat bahwa hak dan kewajiban negara yang
aturan, ketentuan dan undang-undang yang berlaku. dapat dinilai dengan uang diperluas cakupannya, yaitu
Sedangkan kepatutan lebih pada keluhuran budi pimpinan termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal,
dalam mengambil keputusan. Jika melanggar kepatutan moneter dan pengelolaan kekayaan negara yang
belum tentu melanggar kepatuhan. dipisahkan.
Audit yang ketiga adalah audit kinerja yang merupakan Dengan demikian, bidang pengelolaan keuangan negara
perluasan dari audit keuangan dalam hal tujuan dan dapat dikelompokkan dalam:
prosedurnya. Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan a. subbidang pengelolaan fiskal,
pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi b. subbidang pengelolaan moneter, dan
yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang c. subbidang pengelolaan kekayaan negara yang
diaudit. Audit kinerja merupakan suatu proses yang dipisahkan.
sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti
secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara Pengelolaan keuangan negara subbidang Pengelolaan
independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas Fiskal
dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan meliputi kebijakan dan kegiatan yang berkaitan dengan
terhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku, pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah dicapai (APBN) mulai dari penetapan Arah dan Kebijakan Umum
dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta (AKU), penetapan Strategi dan Prioritas Pengelolaan APBN,
mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak penyusunan anggaran oleh pemerintah, pengesahan
pengguna laporan tersebut. anggaran oleh DPR, pelaksanaan anggaran, pengawasan
anggaran, penyusunan perhitungan anggaran negara (PAN)
sampai dengan pengesahan PAN menjadi Undang-Undang.
PERTEMUAN 2
Pengelolaan keuangan negara subbidang Pengelolaan
KEUANGAN NEGARA Moneter berkaitan dengan kebijakan dan pelaksanaan
kegiatan sektor perbankan dan lalu-lintas moneter baik
dalam maupun luar negeri. Pengelolaan keuangan negara
Pengertian Keuangan Negara subbidang Kekayaan Negara yang Dipisahkan berkaitan
Definisi keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban dengan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan di sektor
negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/BUMD) yang
sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang orientasinya mencari keuntungan (profit motive).
dapat dijadikan milik negara berhubung dengan
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Dalam Pengertian keuangan negara dalam arti luas dan arti
penjelasan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang sempit.
Keuangan Negara dinyatakan bahwa pendekatan yang Pengertian keuangan negara dalam arti luas
digunakan dalam merumuskan keuangan negara adalah pendekatannya
dari sisi objek, subjek, proses, dan tujuan. adalah dari sisi objek yang cakupannya sangat luas, dimana
keuangan negara mencakup kebijakan dan kegiatan dalam
Dari sisi objek, yang dimaksud dengan keuangan negara bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara
meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat yang dipisahkan. Sedangkan pengertian keuangan negara
dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam arti sempit hanya mencakup pengelolaan keuangan
dalam bidang fiskal, moneter dan pengelolaan kekayaan negara subbidang pengelolaan fiskal saja.
negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa
uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Asas-asas Umum Pengelolaan Keuangan Negara
negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance
tersebut. Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan keuangan dalam penyelenggaraan negara, pengelolaan keuangan
negara meliputi seluruh subjek yang memiliki/menguasai negara perlu diselenggarakan secara profesional, terbuka,
objek sebagaimana tersebut di atas, yaitu: pemerintah dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang
pusat, pemerintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945.
badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan negara. Aturan pokok keuangan negara telah dijabarkan ke dalam
asasasas
Dari sisi proses, keuangan negara mencakup seluruh umum, yang meliputi baik asas-asas yang telah lama
rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan dikenal
objek sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan dalam pengelolaan keuangan negara, seperti asas tahunan,
kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan asas universalitas, asas kesatuan, dan asas spesialitas
pertanggunggjawaban. Dari sisi tujuan, keuangan negara maupun asas-asas baru sebagai pencerminan penerapan
meliputi seluruh kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum kaidah-kaidah yang baik (best practices) dalam
yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan pengelolaan keuangan negara.
objek sebagaimana tersebut di atas dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan negara. Penjelasan dari masing-masing asas tersebut adalah
sebagai
Pengelompokkan Keuangan Negara berikut.

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1222
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

a. Asas Tahunan, memberikan persyaratan bahwa h. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah
anggaran negara dibuat secara tahunan yang harus dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan
mendapat persetujuan dari badan legislatif (DPR). dan/atau kepentingan umum
b. Asas Universalitas (kelengkapan), memberikan batasan i. kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan
bahwa tidak diperkenankan terjadinya percampuran menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah
antara penerimaan negara dengan pengeluaran negara. j. kekayaan pihak lain sebagaimana dimaksud meliputi
c. Asas Kesatuan, mempertahankan hak budget dari dewan kekayaan yang dikelola oleh orang atau badan lain
secara lengkap, berarti semua pengeluaran harus berdasarkan kebijakan pemerintah, yayasan-yayasan di
tercantum dalam anggaran. Oleh karena itu, anggaran lingkungan kementerian negara/lembaga, atau perusahaan
merupakan anggaran bruto, dimana yang dibukukan dalam negara/daerah.
anggaran adalah jumlah brutonya.
d. Asas Spesialitas mensyaratkan bahwa jenis pengeluaran
dimuat dalam mata anggaran tertentu/tersendiri dan
diselenggarakan secara konsisten baik secara kualitatif PERTEMUAN 3
maupun kuantitatif. Secara kuantitatif artinya jumlah yang
telah ditetapkan dalam mata anggaran tertentu ADMINISTRASI KEUANGAN NEGARA
merupakan batas tertinggi dan tidak boleh dilampaui.
Secara kualitatif berarti penggunaan anggaran hanya
dibenarkan untuk mata anggaran yang telah ditentukan. Dalam pengelolaan keuangan negara, fungsi perencanaan,
e. Asas Akuntabilitas berorientasi pada hasil, mengandung pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian
makna bahwa setiap pengguna anggaran wajib menjawab merupakan suatu siklus yang dapat digambarkan sebagai
dan menerangkan kinerja organisasi atas keberhasilan atau berikut:
kegagalan suatu program yang menjadi tanggung
jawabnya.
f. Asas Profesionalitas mengharuskan pengelolaan
keuangan negara ditangani oleh tenaga yang profesional.
g. Asas Proporsionalitas; pengalokasian anggaran
dilaksanakan secara proporsional pada fungsi-fungsi
kementerian/lembaga sesuai dengan tingkat prioritas dan
tujuan yang ingin dicapai.
h. Asas Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara,
mewajibkan adanya keterbukaan dalam pembahasan,
penetapan, dan perhitungan anggaran serta atas hasil
pengawasan oleh lembaga audit yang independen.
i. Asas Pemeriksaan Keuangan oleh badan pemeriksa yang
bebas dan mandiri, memberi kewenangan lebih besar pada
Badan Pemeriksa Keuangan untuk melaksanakan
pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara secara
objektif dan independen.
Asas-asas umum tersebut diperlukan pula guna menjamin
terselenggaranya prinsip-prinsip pemerintahan daerah.
Dengan dianutnya asas-asas umum tersebut di dalam
undang-undang tentang Keuangan Negara, pelaksanaan
undang-undang ini selain menjadi acuan dalam reformasi
manajemen keuangan negara, sekaligus dimaksudkan Reformasi Pengelolaan Anggara
untuk memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang
dan otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik dalam pembahasan berbagai literatur sering disebut
Indonesia. anggaran negara atau anggaran sektor publik, dalam
perkembangannya telah menjadi instrumen kebijakan
Ruang Lingkup Keuangan Negara multi-fungsi yang digunakan sebagai alat untuk mencapai
Ruang lingkup keuangan negara meliputi: tujuan bernegara. Hal tersebut terutama terlihat dari
a. hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan komposisi dan besarnya anggaran yang secara langsung
mengedarkan uang, dan melakukan pinjaman merefleksikan arah dan tujuan pelayanan kepada
b. kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas masyarakat yang diharapkan.
layanan umum pemerintahan negara dan membayar
tagihan pihak ketiga Anggaran negara sebagai alat perencanaan kegiatan publik
c. penerimaan negara yang dinyatakan dalam satuan mata uang (rupiah)
d. pengeluaran negara sekaligus dapat digunakan sebagai alat pengendalian. Agar
e. penerimaan daerah fungsi perencanaan dan pengawasan dapat berjalan
f. pengeluaran daerah dengan baik, maka sistem anggaran dan pencatatan atas
g. kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri penerimaan dan pengeluaran harus dilakukan dengan
atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, cermat dan sistematis.
barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, Sebagai sebuah sistem, perencanaan anggaran negara
termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan telah
negara/perusahaan daerah

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1223
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

mengalami banyak perkembangan. Sistem perencanaan Perubahan Pendekatan Anggaran Negara


anggaran negara pada saat ini telah mengalami Reformasi sektor publik yang salah satunya ditandai
perkembangan dan perubahan sesuai dengan dinamika dengan
manajemen sektor publik dan tuntutan yang muncul di munculnya era New Public Management telah mendorong
masyarakat, yaitu sistem penganggaran dengan upaya di berbagai negara untuk mengembangkan
pendekatan New Public Management (NPM). pendekatan yang lebih sistematis dalam perencanaan
anggaran negara. Seiring dengan perkembangan tersebut,
Anggaran dengan Pendekatan New Public Management muncul beberapa teknik penganggaran sektor publik,
(NPM) antara lain yaitu:
Sejak pertengahan tahun 1980-an, telah terjadi perubahan a. Teknik Anggaran Kinerja (Performance Budgeting)
manajemen sektor publik yang cukup drastis dari sistem b. Zero Based Budgeting (ZBB)
manajemen tradisional yang terkesan kaku, birokratis, dan c. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)
hierarkis menjadi model manajemen sektor publik yang
fleksibel dan lebih mengakomodasi pasar. Perubahan Uraian lebih lanjut teknik penganggaran tersebut adalah
tersebut bukan sekedar perubahan kecil dan sebagai berikut:
sederhana, tetapi perubahan besar yang telah mengubah
peran pemerintah terutama dalam hal hubungan antara a. Teknik Anggaran Kinerja (Performance Budgeting)
pemerintah dan masyarakat. Paradigma baru yang muncul Pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi berbagai
dalam manajemen sektor publik tersebut adalah kelemahan yang terdapat dalam anggaran tradisional,
pendekatan New Public Management (NPM). khususnya kelemahan karena tidak adanya tolok ukur yang
dapat digunakan untuk mengukur kinerja dalam
Model NPM berfokus pada manajemen sektor publik yang pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.
berorientasi pada kinerja, bukan pada kebijakan. Pendekatan ini sangat menekankan pada konsep value for
Penggunaan paradigma baru tersebut menimbulkan money dan pengawasan atas kinerja output. Pendekatan
beberapa konsekuensi pada pemerintah diantaranya ini juga mengutamakan mekanisme penentuan prioritas
adalah tuntutan untuk melakukan efisiensi, pemangkasan tujuan serta pendekatan yang sistematik dan rasional
biaya (cost cutting), dan kompetisi tender. Salah satu dalam proses pengambilan keputusan. Untuk
model pemerintahan di era NPM adalah model mengimplementasikan hal-hal tersebut, anggaran kinerja
pemerintahan yang dilengkapi dengan teknik analisis antara
diajukan oleh Osborne dan Gaebler (1992) yang tertuang biaya dan manfaat.
dalam pandangannya yang dikenal dengan konsep
“Reinventing Government”. Sistem penganggaran kinerja pada dasarnya merupakan
sistem yang mencakup kegiatan penyusunan program dan
Perspektif baru pemerintah menurut Osborne dan Gaebler tolok ukur kinerja sebagai instrumen untuk mencapai
tersebut adalah: tujuan dan sasaran program. Penerapan sistem anggaran
a. pemerintahan katalis (fokus pada pemberian arahan kinerja dalam penyusunan anggaran dimulai dengan
bukan produksi layanan publik) perumusan program dan penyusunan struktur organisasi
b. pemerintah milik masyarakat (lebih memberdayakan pemerintah yang sesuai dengan program tersebut.
masyarakat dari pada melayani) Kegiatan tersebut mencakup pula penentuan unit kerja
c. pemerintah yang kompetitif (mendorong semangat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program, serta
kompetisi dalam pemberian pelayanan publik) penentuan indikator kinerja yang digunakan sebagai tolok
d. pemerintah yang digerakkan oleh misi (mengubah ukur dalam mencapai tujuan program yang telah
organisasi yang digerakkan oleh peraturan menjadi ditetapkan.
digerakkan oleh misi)
e. pemerintah yang berorientasi hasil (membiayai hasil b. Zero Based Budgeting ( ZBB )
bukan masukan) Konsep Zero Based Budgeting dimaksudkan untuk
f. pemerintah berorientasi pada pelanggan (memenuhi mengatasi kelemahan yang ada pada sistem anggaran
kebutuhan pelanggan, bukan birokrasi) tradisional. Penyusunan anggaran dengan menggunakan
g. pemerintah wirausaha (mampu menciptakan konsep ZBB dapat menghilangkan kelemahan pada konsep
pendapatan dan tidak sekedar membelanjakan) incrementalism dan line item karena anggaran diasumsikan
h. pemerintah yang antisipatif (berupaya mencegah mulai dari nol (zero base). Penyusunan anggaran yang
daripada mengobati) bersifat incremental mendasarkan besarnya realisasi
i. pemerintah desentralisasi (dari hierarki menuju anggaran tahun ini untuk menetapkan anggaran tahun
partisipasi dan tim kerja) depan, yaitu dengan menyesuaikan tingkat inflasi atau
j. pemerintah berorientasi pada mekanisme pasar jumlah penduduk. ZBB tidak berpatokan pada anggaran
(mengadakan perubahan dengan mekanisme pasar/sistem tahun lalu untuk menyusun anggaran tahun ini, namun
insentif dan bukan mekanisme administratif/sistem didasarkan pada kebutuhan saat ini. Dengan ZBB, seolah-
prosedur dan pemaksaan). olah proses anggaran dimulai dari hal-hal yang baru sama
sekali. Item anggaran yang sudah tidak relevan dan tidak
Munculnya konsep New Public Management (NPM) mendukung pencapaian tujuan organisasi dapat hilang dari
berpengaruh langsung terhadap konsep anggaran negara struktur anggaran, atau mungkin juga muncul item baru.
pada umumnya. Salah satu pengaruh itu adalah terjadinya
perubahan sistem anggaran dari model anggaran c. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS)
tradisional menjadi anggaran yang lebih berorientasi pada PPBS merupakan teknik penganggaran yang didasarkan
kinerja. pada teori sistem yang berorientasi pada output dan
tujuan dengan penekanan utamanya pada alokasi sumber

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1224
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

daya berdasarkan analisis ekonomi. Sistem anggaran PPBS mengeluarkan dan mengedarkan uang, yang
tidak mendasarkan pada struktur organisasi tradisional pelaksanaannya diatur dengan undang-undang. Untuk
yang terdiri dari divisi-divisi, namun berdasarkan program, mencapai kestabilan nilai rupiah, tugas menetapkan dan
yaitu pengelompokan aktivitas untuk mencapai tujuan melaksanakan kebijakan moneter serta mengatur dan
tertentu. menjaga kelancaran sistem pembayaran dilakukan oleh
PPBS adalah salah satu model penganggaran yang bank sentral. Menteri keuangan sebagai pembantu
ditujukan presiden dalam bidang keuangan pada hakikatnya adalah
untuk membantu manajemen pemerintah dalam membuat Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Republik
keputusan alokasi sumber daya secara lebih baik. Hal Indonesia, sementara setiap menteri/pimpinan lembaga
tersebut disebabkan sumber daya yang dimiliki pemerintah pada hakikatnya adalah Chief Operational Officer (COO)
sangat terbatas jumlahnya, sedangkan tuntutan untuk
masyarakat tidak terbatas jumlahnya. Dalam keadaan suatu bidang tertentu pemerintahan. Prinsip ini perlu
tersebut pemerintah dihadapkan pada pilihan alternatif dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan
keputusan yang memberikan manfaat paling besar dalam dalam pembagian wewenang dan tanggung jawab,
pencapaian tujuan bernegara secara keseluruhan. terlaksananya mekanisme check and balance, serta untuk
mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam
PPBS memberikan kerangka untuk membuat pilihan penyelenggaraan tugas pemerintahan.
tersebut. Pendekatan baru dalam sistem anggaran negara
tersebut menurut Mardiasmo, dalam bukunya Akuntansi Menteri keuangan selaku pengelola fiskal bertanggung
Sektor Publik cenderung memiliki karakteristik sebagai jawab terhadap fungsi-fungsi:
berikut: 1. pengelolaan kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi
1) komprehensif/komparatif makro
2) terintegrasi dan lintas departemen 2. penganggaran,
3) proses pengambilan keputusan yang rasional, 3. administrasi perpajakan,
4) berjangka panjang 4. administrasi kepabeanan
5) spesifikasi tujuan dan urutan prioritas, 5. perbendaharaan
6) analisis total cost and benefit (termasuk opportunity 6. pengawasan keuangan.
cost)
7) berorientasi pada input, output, dan outcome, bukan Kewenangan presiden terhadap pengelolaan keuangan
sekedar input negara yang dilimpahkan kepada pejabat negara, meliputi
8) adanya pengawasan kinerja. kewenangan yang bersifat umum yang timbul dari
pengurusan umum, dan kewenangan yang bersifat khusus
Administrasi Keuangan Negara yang timbul dari pengurusan khusus. Kewenangan yang
Pengelolaan keuangan negara secara teknis dilaksanakan bersifat umum meliputi kewenangan untuk:
melalui dua pengurusan, yaitu pengurusan
umum/administrasi yang mengandung unsur penguasaan 1. menetapkan Arah dan Kebijakan Umum (AKU);
dan pengurusan khusus yang mengandung unsur 2. menetapkan strategi dan prioritas dalam pengelolaan
kewajiban. Pengurusan umum erat hubungannya dengan APBN, antara lain menetapkan:
penyelenggaraan tugas pemerintah di segala bidang dan a. pedoman pelaksanaan dan pertanggungjawaban APBN,
tindakannya dapat membawa akibat pengeluaran dan/atau b. pedoman penyusunan rencana kerja kementerian
menimbulkan penerimaan negara. Sedangkan pengurusan negara/lembaga,
khusus atau pengurusan komptabel mempunyai kewajiban c. gaji dan tunjangan,
melaksanakan perintah-perintah yang datangnya dari d. pedoman pengelolaan penerimaan negara.
pengurusan umum.
Kewenangan yang bersifat khusus meliputi kewenangan
Presiden selaku kepala pemerintahan memegang membuat keputusan/kebijakan teknis yang berkaitan
kekuasaan dengan pengelolaan APBN, antara lain menetapkan:
umum pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari 1. keputusan sidang kabinet di bidang pengelolaan APBN,
kekuasaan pemerintahan. Dalam pelaksanaannya, 2. keputusan rincian APBN,
kekuasaan presiden tersebut tidak dilaksanakan sendiri 3. keputusan dana perimbangan, dan
oleh presiden, melainkan: 4. penghapusan aset dan piutang negara.
1. Dikuasakan kepada menteri keuangan, selaku pengelola
fiskal dan wakil pemerintah dalam kepemilikan kekayaan
negara yang dipisahkan
2. Dikuasakan kepada menteri/pimpinan lembaga negara PERTEMUAN 4
dan lembaga pemerintah non kementerian negara, selaku
pengguna anggaran/ pengguna barang kementerian PERBENDAHARAAN NEGARA
negara/lembaga yang dipimpinnya
3. Diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku
kepala pemerintahan daerah sebagai perwujudan Pengertian Perbendaharaan Negara
pelaksanaan asas desentralisasi, untuk mengelola Pengertian Perbendaharaan Negara menurut UU No. 1
keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam Tahun 2004 adalah “pengelolaan dan pertanggungjawaban
kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. keuangan negara, termasuk investasi dan kekayaan yang
dipisahkan, yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan
Pelimpahan kekuasaan tersebut tidak termasuk dan Belanja Negara/Daerah (APBN/APBD)”. Sejalan dengan
kewenangan di bidang moneter, yang meliputi antara lain perkembangan kebutuhan pengelolaan keuangan negara,

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1225
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

dirasakan semakin pentingnya fungsi perbendaharaan Otorisasi bersifat sempit/khusus adalah otorisasi yang
dalam rangka pengelolaan sumber daya keuangan mempunyai akibat langsung terhadap penerimaan
pemerintah yang terbatas secara efisien. dan/atau
pengeluaran negara. Contoh otorisasi khusus adalah surat
Fungsi perbendaharaan tersebut meliputi: keputusan pengangkatan pegawai, surat keputusan
1. perencanaan kas yang baik penunjukan bendahara, surat keputusan pensiun, dan
2. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan sebagainya.
penyimpangan
3. pencarian sumber pembiayaan yang paling murah; dan 2. Ordonator
4. pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk Ordonator adalah pejabat yang berwenang untuk
meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan. melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang
diajukan kepada kementerian negara/lembaga
Upaya untuk menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan sehubungan dengan tindakan otorisator, serta
keuangan yang dilaksanakan di dunia usaha ke dalam memerintahkan pembayaran dan/atau menagih
pengelolaan keuangan pemerintah tidak dimaksudkan penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan
untuk menyamakan pengelolaan keuangan sektor anggaran. Secara garis besar, ordonator bertugas untuk
pemerintah dengan pengelolaan keuangan sektor swasta. menguji, meneliti dan mengawasi penerimaan-penerimaan
Pada hakikatnya, negara adalah suatu lembaga politik. dan pengeluaran-pengeluaran negara termasuk tagihan-
Dalam kedudukannya yang demikian, negara tunduk pada tagihan yang diajukan oleh pihak ketiga kepada
tatanan hukum publik. Melalui kegiatan berbagai lembaga pemerintah, apakah benar-benar telah sesuai dengan
pemerintah, negara berusaha memberikan jaminan otorisasi yang dikeluarkan oleh otorisator dan belum
kesejahteraan kepada rakyat (welfare state). Namun, kedaluwarsa. Apabila tagihan-tagihan tersebut telah
pengelolaan keuangan sektor publik yang selama ini memenuhi persyaratan, maka ordonator menerbitkan
menggunakan pendekatan superioritas negara telah Surat Perintah Membayar (SPM) dan/atau Surat
membuat aparatur pemerintah yang mengelola keuangan Penagihan.
sektor publik tidak lagi dianggap berada dalam kelompok
profesi manajemen oleh para profesional. Oleh karena itu, Sebelum berlakunya UU No. 17 Tahun 2003 tentang
perlu dilakukan pelurusan kembali pengelolaan keuangan Keuangan Negara dan UU No. 1 Tahun 2004 tentang
pemerintah dengan menerapkan prinsip-prinsip Perbendaharaan Negara, kewenangan ordonator ini
kepemerintahan yang baik (good governance) yang sesuai sepenuhnya berada di tangan menteri keuangan, namun
dengan lingkungan pemerintah sejak diberlakukannya kedua undang-undang itu,
kewenangan tersebut diberikan kepada kementerian
Pengurusan umum negara teknis, sehingga kementerian teknis sepenuhnya
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa memegang kewenangan pengurusan administratif/umum.
pengurusan umum atau pengurusan administrasi
mengandung unsur penguasaan, yang erat hubungannya Pengurusan Khusus (Kebendaharaan)
dengan penyelenggaraan tugas pemerintahan di segala Kewenangan pengurusan khusus atau pengurusan
bidang dan tindakannya dapat membawa akibat kebendaharaan (komptable) dipegang oleh menteri
pengeluaran dan atau menimbulkan penerimaan negara. keuangan, sesuai pasal 7 UU No. 1 Tahun 2004 yang
Dalam pengurusan umum terdapat dua pejabat atau menetapkan bahwa menteri keuangan adalah Bendahara
subjek pengurusan, yang disebut Otorisator dan Umum Negara.
Ordonator.
Bendahara adalah setiap orang atau badan yang diberi
1. Otorisator tugas untuk dan atas nama negara/daerah, menerima,
Otorisator adalah pejabat yang memperoleh pelimpahan menyimpan, dan membayar/menyerahkan uang atau surat
wewenang untuk mengambil tindakan-tindakan yang berharga atau barang-barang negara/daerah.Dari definisi
mengakibatkan adanya penerimaan dan/atau pengeluaran di atas, bendahara yang ditugaskan untuk pengurusan
negara. Tindakan-tindakan otorisator yang bisa berakibat keuangan negara dapat dijabat oleh orang-orang (pegawai
penerimaan dan/atau pengeluaran tersebut disebut negeri atau swasta) dan badan hukum yang diangkat oleh
otorisasi. menteri atau ketua lembaga negara yang menguasai
bagian anggaran negara untuk mengelola uang, surat-surat
Otorisasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: berharga, dan barang-barang milik negara.
a. otorisasi bersifat luas atau otorisasi umum
b. otorisasi bersifat sempit atau otorisasi khusus Pengangkatan bendahara oleh menteri atau ketua lembaga
negara ditetapkan dengan surat keputusan. Beberapa
Otorisasi bersifat luas/umum adalah otorisasi yang tidak ketentuan yang berkaitan dengan masalah bendahara
membawa akibat langsung pada pengeluaran dan atau yaitu sebagai berikut:
penerimaan negara. Contoh otorisasi umum: undang- 1) Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran
undang, peraturan pemerintah, peraturan pemerintah diangkat oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/
pengganti undang-undang, keputusan presiden, instruksi bupati/walikota.
presiden, peraturan gaji pegawai negeri, peraturan 2) Bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran
pemberian tunjangan, dan sebagainya. Otorisasi umum adalah Pejabat Fungsional dan tidak boleh dirangkap oleh
baru akan berakibat pengeluaran dan atau penerimaan Kuasa Pengguna Anggaran atau Kuasa Bendahara Umum
apabila sudah ada/dilengkapi otorisasi yang bersifat Negara.
khusus. 3) Bendahara penerimaan/pengeluaran dilarang
melakukan baik secara langsung maupun tidak langsung,

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1226
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

kegiatan perdagangan,pekerjaan pemborongan dan negara/lembaga/satuan kerja. Tugas kebendaharaan


penjualan jasa, atau bertindak sebagai penjamin atas dimaksud meliputi kegiatan menerima, menyimpan,
kegiatan/pekerjaan/penjualan tersebut. menyetor/membayar/menyerahkan, menatausahakan,
4) Persyaratan pengangkatan dan pembinaan karier dan
bendahara diatur oleh Bendahara Umum Negara selaku mempertanggungjawabkan penerimaan/pengeluaran uang
Pembina Nasional Jabatan Fungsional Bendahara. dan surat berharga yang berada dalam pengurusannya.
Berdasarkan objek pengurusannya, bendahara dapat
dibedakan menjadi bendahara uang dan bendahara barang Bendahara khusus penerimaan adalah orang yang ditunjuk
. pejabat yang berwenang, yang khusus melakukan
Bendahara Uang penerimaan atas pendapatan negara dan selanjutnya
Bendahara uang mempunyai tugas untuk melakukan menyetorkan ke Kas Negara, sehingga bendahara ini sering
pengurusan uang yang dinyatakan dalam kegiatan disebut juga “penyetor tetap“ atau “penyetor berkala”
menerima, menyimpan, mengeluarkan, karena dari uang yang diterimanya, pada waktu yang tetap
mengadministrasikan serta mempertanggungjawabkan harus disetorkan ke Kas Negara. Contoh bendahara jenis ini
uang yang berada dalam pengurusannya.Yang dimaksud adalah bendahara penerima bea dan cukai, bendahara
uang di sini adalah uang milik negara dan uang milik pihak penerima pada departemen/lembaga negara yang
ketiga yang dikuasai oleh negara, dan juga surat-surat mengelola Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) antara
berharga seperti cek, bea meterai, prangko, dan juga surat lain dari hasil pertanian, kehutanan, penjualan jasa, sita,
perintah membayar. denda, dan sebagainya. Secara periodik, bendahara ini
membuat surat pertanggungjawaban tentang uang yang
Bendahara uang dapat dikelompokkan lagi menjadi: diterima dan disetorkannya meskipun tidak ada uang yang
1) Bendahara umum yaitu bendahara yang mengurus harus disetor (tidak ada penerimaan).
perbendaharaan negara baik di bidang penerimaan
maupun pengeluaran negara. 3) Bendahara Khusus Pengeluaran
2) Bendahara khusus penerimaan yaitu bendahara yang Bendahara ini tugasnya melakukan pembayaran atas
hanya mengurus penerimaan negara. tagihan kepada negara baik secara langsung maupun
3) Bendahara khusus pengeluaran yaitu bendahara yang melalui Uang Persediaan dengan dana yang diperolehnya
hanya mengurus pengeluaran negara. melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) atau
dokumen lain yang dipersamakan.
Masing-masing jenis bendahara diuraikan lebih lanjut di
bawah ini: Secara lengkap, pengurusan keuangan negara disajikan
pada gambar di bawah ini:
1) Bendahara Umum Negara (BUN)
Bendahara Umum Negara (BUN) adalah pejabat yang
diberi
tugas untuk melaksanakan fungsi bendahara umum
negara. Menteri keuangan selaku Bendahara Umum
Negara mengangkat Kuasa Bendahara Umum Negara
untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka
pelaksanaan anggaran dalam wilayah kerja yang telah
ditetapkan. Dalam pelaksanaannya, yang ditunjuk sebagai
Kuasa Bendahara Umum Negara adalah Direktorat
Jenderal
Perbendaharaan Negara di tingkat pusat dan Kantor
Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal (Ditjen)
Perbendaharaan Negara serta Kantor Pelayanan
Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk tingkat
wilayah/daerah.
Tugas kebendaharaan dimaksud meliputi kegiatan
menerima, menyimpan, membayar atau menyerahkan,
menatausahakan, danmempertanggungjawabkan uang dan
surat berharga yang berada dalam pengelolaannya. Kuasa
Bendahara Umum Negara berkewajiban memerintahkan
penagihan piutang negara kepada pihak ketiga sebagai
penerimaan anggaran, serta melakukan pembayaran
tagihan pihak ketiga sebagai pengeluaran anggaran setelah
dilakukan pengujian dan pembebanan pada anggaran yang
telah disediakan sebelumnya. Kewenangan Pejabat Perbendaharaan Negara
1. Pengguna Anggaran
2) Bendahara Khusus Penerimaan Menteri/pimpinan lembaga adalah Pengguna Anggaran/
Menteri/pimpinan lembaga mengangkat Bendahara Pengguna Barang bagi kementerian negara/lembaga yang
Penerimaan dan/atau Bendahara Pengeluaran untuk dipimpinnya. Sebagai pengguna anggaran,
melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka menteri/pimpinan lembaga memiliki wewenang:
pelaksanaan angggaran pendapatan dan belanja negara a. menyusun dokumen pelaksanaan anggaran;
pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian b. menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran/Pengguna Barang;

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1227
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

c. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan anggaran negara. Kuasa Bendahara Umum Negara
pemungutan penerimaan negara; berkewajiban:
d. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan a. memerintahkan penagihan piutang negara kepada pihak
pengelolaan utang dan piutang; ketiga sebagai penerimaan anggaran;
e. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran b. melakukan pembayaran tagihan pihak ketiga sebagai
anggaran belanja; pengeluaran anggaran.
f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian
dan perintah pembayaran; 3. Bendahara Penerimaan/Pengeluaran
g. menggunakan barang milik negara; Menteri/pimpinan lembaga mengangkat Bendahara
h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran untuk
pengelolaan barang milik negara; melaksakan tugas kebendaharaan dalam rangka
i. mengawasi pelaksanaan anggaran; pelaksanaan anggaran pendapatan dan anggaran belanja
j. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan dari pada kantor/satuan kerja di lingkungan kementerian
kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya. negara/lembaga/satuan kerja perangkat daerah. Tugas
kebendaharaan dimaksud meliputi kegiatan menerima,
2. Bendahara Umum Negara (BUN) menyimpan, menyetor/ membayar/
Menteri keuangan selaku Bendahara Umum Negara menyerahkan,menatausahakan,Mempertanggungjawabka
memiliki wewenang: n penerimaan/pengeluaran uang dan surat berharga yang
a. menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan berada dalam pengelolaannya.
anggaran negara;
b. mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran; Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran
c. melakukan pengendalian pelaksanaan anggaran negara; adalah
d. menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas Pejabat Fungsional dan tidak boleh dirangkap oleh Kuasa
negara; Pengguna Anggaran atau Kuasa Bendahara Umum Negara.
e. menunjuk bank dan/atau lembaga keuangan lainnya Bendahara Penerimaan/Pengeluaran dilarang melakukan,
dalam rangka pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran baik secara langsung maupun tidak langsung, kegiatan
anggaran negara; perdagangan, pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa,
f. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan atau bertindak sebagai penjamin atas
dalam pelaksanaan anggaran negara; kegiatan/pekerjaan/penjualan tersebut. Persyaratan
g. menyimpan uang negara; pengangkatan dan pembinaan karier bendahara diatur
h.menempatkan uang negara dan oleh Bendahara Umum Negara selaku Pembina Nasional
mengelola/menatausahakan Jabatan Fungsional Bendahara.
investasi. Dalam rangka pengelolaan kas, investasi yang
dimaksud adalah pembelian Surat Utang Negara (SUN);
i. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat
Pengguna Anggaran atas beban rekening kas umum PERTEMUAN 5
negara;
j. melakukan pinjaman dan memberikan jaminan atas DASAR-DASAR PEMERIKSAAN KEUANGAN
nama NEGARA
pemerintah;
k. memberikan pinjaman atas nama pemerintah;
l. melakukan pengelolaan utang dan piutang negara; 1. Pengertian, Tujuan dan Dasar Hukum Pemeriksaan
m. mengajukan rancangan peraturan pemerintah tentang Keuangan
Standar Akuntansi Pemerintahan;
n. melakukan penagihan piutang negara; Berdasarkan pasal 1 undang-undang nomor 15 tahun 2004
o. menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
negara; Keuangan Negara, pemeriksaan (keuangan negara)
p. menyajikan informasi keuangan negara; didefinisikan sebagai proses identifikasi masalah, dan
q. menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta evaluasi yang dilakukan secara independen, objektif, dan
penghapusan barang milik negara; profesional berdasarkan standar pemeriksaan, untuk
r. menentukan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan
dalam rangka pembayaran pajak keandalan informasi mengenai pengelolaan dan tanggung
s. menunjuk pejabat Kuasa Bendahara Umum Negara. jawab keuangan negara. Menurut ayat 1 pasal 4 Undang-
Undang tersebut, jenis-jenis pemeriksaan adalah
Menteri keuangan selaku Bendahara Umum Negara Pemeriksaan Keuangan, Pemeriksaan Kinerja, dan
mengangkat Kuasa Bendahara Umum Negara untuk Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu. Ayat 2 pasal 4 UU
melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka yang sama menyatakan bahwa pemeriksaan keuangan
pelaksanaan anggaran dalam wilayah kerja yang adalah pemeriksaan atas laporan keuangan.
ditetapkan. Tugas kebendaharaan dimaksud meliputi
kegiatan menerima, menyimpan, membayar atau Selanjutnya Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
menyerahkan, menatausahakan, dan menyatakan bahwa pemeriksaan keuangan bertujuan
mempertanggungjawabkan uang dan surat berharga yang untuk memberikan opini tentang kewajaran laporan
berada dalam pengelolaannya. Kuasa Bendahara Umum keuangan. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk
Negara melaksanakan penerimaan dan pengeluaran Kas memberikan keyakinan yang memadai (reasonable
Negara sekaligus melakukan pengendalian pelaksanaan assurance) apakah laporan keuangan telah disajikan secara
wajar,dalam semua hal yang material sesuai dengan

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1228
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

prinsip akuntansi berterima umum (PABU) di Indonesia Indonesia (BPK-RI). Berdasarkan ayat 1 pasal 49 Peraturan
atau basis komprehensif selain prinsip akuntansi berterima Pemerintah (PP) nomor 60 tahun 2008, APIP terdiri dari
umum di Indonesia. Selain untuk memberikan opini, BPKP; Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara
pemeriksaan keuangan juga ditujukan untuk fungsional melaksanakan pengawasan intern; Inspektorat
mengidentifikasi kemungkinan adanya kelemahan dalam Provinsi; dan Inspektorat Kabupaten/Kota. Oleh karena itu,
sistem pengendalian intern (SPI) serta mengidentifikasi yang melaksanakan reviu atas laporan keuangan
kemungkinan adanya penyimpangan dari ketentuan pemerintah daerah adalah Inspektorat Provinsi untuk
peraturan perundangan, kecurangan (fraud), serta Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi dan Inspektorat
ketidakpatutan (abuse). Kabupaten/Kota untuk Laporan Keuangan Pemerintah
Kabupaten/Kota.
Dasar hukum pemeriksaan keuangan meliputi:
o Undang Undang Dasar Negara Republik 3. Ruang Lingkup Pemeriksaan Keuangan
Indonesia tahun 1945 Ruang lingkup pemeriksaan meliputi hal-hal berikut ini:
o Undang Undang nomor 17 tahun 2003  Anggaran dan realisasi pendapatan, belanja dan
tentang Keuangan Negara pembiayaan
o Undang Undang nomor 1 tahun 2004  Posisi aset, kewajiban dan ekuitas
tentang Perbendaharaan Negara  Arus kas dan saldo kas akhir sesuai dengan sisa
o Undang Undang nomor 15 tahun 2004 lebih pembiayaan anggaran (SILPA) dalam laporan
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan realisasi anggaran dan ekuitas dalam neraca;
Tanggung Jawab Keuangan Negara  Pengungkapan informasi yang diharuskan seperti
o Undang Undang nomor 15 tahun 2006 disebutkan dalam SAP.
tentang Badan Pemeriksa Keuangan.  Efektivitas pengendalian intern dan kepatuhan
2. Perbedaan Reviu dan Pemeriksaan Laporan Keuangan terhadap peraturan perundang-undangan yang
Dalam praktik, pelaksanaan kegiatan reviu seringkali terkait dengan pelaporan keuangan dalam Laporan
dianggap memiliki persamaan dengan pelaksanaan Keuangan
kegiatan pemeriksaan. Untuk menghindari hal tersebut, .
maka perlu diberikan batasan-batasan yang membedakan
antara kegiatan reviu dengan kegiatan pemeriksaan. PERTEMUAN 6
Perbedaan paling utama adalah tujuan pemeriksaan STANDAR PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA
dengan reviu. Tujuan pemeriksaan (laporan) keuangan
yaitu untuk memberikan keyakinan yang memadai
(reasonable assurance) apakah laporan keuangan telah
disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material BPK dilaksanakan berdasarkan Standar Pemeriksaan
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan, PABU Keuangan Negara (SPKN) sesuai Peraturan BPK RI nomor
atau basis akuntansi komprehensif selain PABU di 01 tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan
Indonesia. Sedangkan tujuan reviu laporan keuangan Negara. SPKN memuat persyaratan profesional pemeriksa,
adalah untuk memberikan keyakinan terbatas bahwa mutu pelaksanaan pemeriksaan, dan persyaratan laporan
laporan keuangan telah disusun berdasarkan SPI yang pemeriksaan yang profesional. Tujuan Standar
memadai dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi Pemeriksaan ini adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi
pemerintahan. Oleh karena itu, reviu tidak mencakup para pemeriksa dan organisasi pemeriksa dalam
suatu pengujian atas validitas substansi bukti/dokumen melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan
sumber seperti perjanjian kontrak pengadaan barang/jasa, tanggung jawab keuangan negara. SPKN ini berlaku bagi:
bukti pembayaran/kuitansi, serta berita acara fisik atas
pengadaan barang/jasa, dan prosedur lainnya yang a. Badan Pemeriksa Keuangan.
biasanya dilaksanakan dalam sebuah pemeriksaan. b. Akuntan Publik atau pihak lainnya yang melakukan
pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab
Berbeda dengan pemeriksaan, reviu tidak mencakup Keuangan Negara, untuk dan atas nama Badan Pemeriksa
pengujian terhadap SPI, catatan akuntansi, dan pengujian Keuangan.
atas respon terhadap permintaan keterangan melalui c. Aparat Pengawas Internal Pemerintah, satuan
perolehan bukti, serta prosedur lainnya seperti yang pengawasan intern maupun pihak lainnya dapat
dilaksanakan dalam suatu pemeriksaan. Sebagai contoh, menggunakan SPKN sebagai acuan dalam menyusun
dalam hal pengadaan barang modal yang nilainya material, standar pengawasan sesuai dengan kedudukan, tugas, dan
proses reviu hanya meyakinkan bahwa pengadaan barang fungsinya.
telah dicatat dalam Aset Tetap, sedang dalam
pemeriksaan, harus dilakukan pengujian bahwa prosedur Dalam pelaksananaan pemeriksaan pengelolaan dan
pengadaan barang tersebut telah dilakukan sesuai dengan tanggung jawab keuangan negara diperlukan suatu
ketentuan yang berlaku. standar. Standar pemeriksaan keuangan negara adalah
amanat dari UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Hal lain yang membedakan reviu dengan pemeriksaan Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
adalah pelaksanaan aktivitas. Reviu dilakukan secara Negara dan UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan
internal, dalam hal ini oleh auditor pada Aparat Pemeriksa Keuangan. Standar Pemeriksaan diperlukan
Pengawasan Intern Pemerintah (APIP), sedangkan untuk menjaga kredibilitas serta profesionalitas dalam
pemeriksaan dilakukan oleh auditor eksternal yaitu pelaksanaan maupun pelaporan pemeriksaan baik
pemeriksa pada Badan Pemeriksa Keuangan Republik pemeriksaan keuangan, kinerja, serta pemeriksaan dengan
tujuan tertentu. Standar Pemeriksaan Keuangan Negara
M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1229
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

ditetapkan dengan Peraturan BPK Nomor 1 Tahun 2007 Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan
yang berlaku sejak 7 Maret 2007. keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan aspek
ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas.
SPKN ini berlaku untuk semua pemeriksaan yang Contoh tujuan pemeriksaan atas hasil dan efektivitas
dilaksanakan terhadap entitas, program,kegiatan serta program serta pemeriksaan atas ekonomi dan efisiensi
fungsi yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan adalah penilaian atas:
dan tanggung jawab Keuangan Negara sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. SPKN berlaku bagi BPK a. Sejauhmana tujuan peraturan perundang-undangan dan
atau akuntan publik serta pihak lain yang diberi amanat organisasi dapat dicapai;
untuk melakukan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung b. Kemungkinan alternatif lain yang dapat meningkatkan
jawab keuangan negara untuk dan atas nama BPK. SPKN kinerja program atau menghilangkan faktor-faktor yang
juga dapat menjadi acuan bagi aparat pengawasan internal menghambat efektivitas program;
pemerintah maupun pihak lain dalam penyusunan standar c. Perbandingan antara biaya dan manfaat atau efektivitas
pengawasan sesuai kedudukan, tugas, dan fungsinya. biaya suatu program;
d. Sejauhmana suatu program mencapai hasil yang
PENDAHULUAN STANDAR PEMERIKSAAN diharapkan atau menimbulkan dampak yang tidak
diharapkan;
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara memuat e. Sejauhmana program berduplikasi, bertumpang tindih,
persyaratan profesional pemeriksa, mutu pelaksanaan atau bertentangan dengan program lain yang sejenis;
pemeriksaan, dan persyaratan laporan pemeriksaan yang f. Sejauhmana entitas yang diperiksa telah mengikuti
profesional. Pelaksanaan pemeriksaan yang didasarkan ketentuan pengadaan yang sehat;
pada Standar Pemeriksaan akan meningkatkan kredibilitas g. Validitas dan keandalan ukuran-ukuran hasil dan
informasi yang dilaporkan atau diperoleh dari entitas yang efektivitas program, atau ekonomi dan efisiensi;
diperiksa melalui pengumpulan dan pengujian bukti secara h. Keandalan, validitas, dan relevansi informasi keuangan
obyektif. Apabila pemeriksa melaksanakan pemeriksaan yang berkaitan dengan kinerja suatu program.
dengan cara ini dan melaporkan hasilnya sesuai dengan
Standar Pemeriksaan maka hasil pemeriksaan tersebut Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu bertujuan untuk
akan dapat mendukung peningkatan mutu pengelolaan memberikan simpulan atas suatu hal yang diperiksa.
dan tanggung jawab keuangan negara serta pengambilan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu dapat bersifat:
keputusan Penyelenggara Negara. eksaminasi (examination), reviu (review), atau prosedur
yang disepakati (agreed-upon procedures).
Pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara juga merupakan salah satu unsur penting dalam Dalam pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara,
rangka terciptanya akuntabilitas publik. Tujuan SPKN setiap manajemen entitas yang berkaitan dengan
adalah untuk menjadi ukuran mutu bagi para pemeriksa keuangan negara memiliki tanggung jawab sesuai
dan organisasi pemeriksa dalam melaksanakan kedudukan, fungsi, dan tugasnya. Manajemen entitas yang
pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab diperiksa bertanggung jawab untuk:
keuangan negara.Pemeriksaan Pengeloaan dan Tanggung a. Mengelola keuangan negara secara tertib, ekonomis,
Jawab Keuangan Negara dalam rangka mewujudkan efisien, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
akuntabilitas publik adalah bagian dari reformasi bidang memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan, sesuai
keuangan negara yang dimulai sejak tahun 2003. dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
Pengertian pengelolaan dan tanggung jawab Keuangan berlaku;
Negara mencakup akuntabilitas yang harus diterapkan b. Menyusun dan menyelenggarakan pengendalian intern
semua entitas oleh pihak yang melakukan pengelolaan dan yang efektif gunamenjamin:
tanggung jawab keuangan negara. Akuntabilitas diperlukan (1)pencapaian tujuan sebagaimana mestinya,
untuk dapat mengetahui pelaksanaan program yang (2)keselamatan/keamanan kekayaan yang dikelola,
dibiayai dengan keuangan negara, tingkat kepatuhannya (3) kepatuhan terhadap ketentuan peraturan
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang perundang-undangan,
berlaku, serta untuk mengetahui tingkat kehematan, (4) perolehan dan pemeliharaan data/informasi yang
efisiensi, dan efektivitas dari program tersebut. handal, dan pengungkapan data/informasi secara
wajar.
Setiap pemeriksaan dimulai dengan penetapan tujuan dan c. Menyusun dan menyampaikan laporan pengelolaan dan
penentuan jenis pemeriksaan yang akan dilaksanakan serta tanggung jawab keuangan negara secara tepat waktu;
standar yang harus diikuti oleh pemeriksa. Jenis d. Menindaklanjuti rekomendasi BPK, serta menciptakan
pemeriksaan yang diuraikan dalam SPKN meliputi: dan memelihara suatu proses untuk memantau status
pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan tindak lanjut atas rekomendasi dimaksud.
pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Pemeriksaan
keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan. Pemeriksa juga memiliki tanggung jawab secara profesi
Pemeriksaan keuangan tersebut bertujuan untuk dalam melaksanakan dan melaporkan hasil pemeriksaan
memberikan keyakinan yang memadai (reasonable sebagaimana diatur dalam SPKN. Pemeriksa harus
assurance) apakah laporan keuangan telah disajikan secara memenuhi beberapa tanggung jawab sebagai berikut:
wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau a. Pemeriksa secara profesional bertanggung jawab
basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan
berlaku umum di Indonesia. untuk memenuhi tujuan pemeriksaan;

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1230
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

b. Pemeriksa harus mengambil keputusan yang pengendalian mutu yang memadai, dan sistem
konsisten dengan kepentingan publik dalam pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain
melakukan pemeriksaan; yang kompeten (pengendalian mutu ekstern).
c. Untuk mempertahankan dan memperluas
kepercayaan publik, pemeriksa harus melaksanakan
seluruh tanggung jawab profesionalnya dengan
derajat integritas yang tertinggi; PERTEMUAN 7
d. Pelayanan dan kepercayaan publik harus lebih STANDAR PELAKSANAAN DAN PELAPORAN
diutamakan di atas kepentingan pribadi; PEMERIKSAAN KEUANGAN NEGARA
e. Pemeriksa harus obyektif dan bebas dari
benturan kepentingan (conflict of interest) dalam
menjalankan tanggung jawab profesionalnya.;
f. Pemeriksa bertanggung jawab untuk Untuk pemeriksaan keuangan, SPKN memberlakukan tiga
menggunakan pertimbangan profesional dalam pernyataan standar pekerjaan lapangan SPAP yang
menetapkan lingkup dan metodologi, menentukan ditetapkan IAI, berikut ini:
pengujian dan prosedur yang akan dilaksanakan,
melaksanakan pemeriksaan, dan melaporkan a. Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya
hasilnya; dan jika digunakan tenaga asisten harus disupervisi dengan
g. Pemeriksa bertanggung jawab untuk membantu semestinya;
manajemen dan para pengguna laporan hasil b. Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern
pemeriksaan lainnya untuk memahami tanggung harus diperoleh untuk merencanakan audit dan
jawab pemeriksa berdasarkan Standar Pemeriksaan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan
dan cakupan pemeriksaan yang ditentukan dilakukan;
berdasarkan ketentuan peraturan perundang- c. Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui
undangan. inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, dan
konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan
Organisasi pemeriksa juga memiliki tanggung jawab untuk pendapat atas laporan keuangan yang diaudit;
meyakinkan bahwa:
SPKN juga memberikan standar pelaksanaan tambahan
a. Independensi dan obyektivitas dipertahankan dalam sebagai berikut:
seluruh tahap pemeriksaan; a. Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang
b. Pertimbangan profesional (professional judgment) berkaitan dengan sifat, saat, lingkup pengujian, pelaporan
digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan yang direncanakan, dan tingkat keyakinan kepada
pemeriksaan dan pelaporan hasil pemeriksaan; manajemen entitas yang diperiksa dan atau pihak yang
c. Pemeriksaan dilakukan oleh personil yang mempunyai meminta pemeriksaan;
kompetensi profesional dan secara kolektif mempunyai b. Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan
keahlian dan pengetahuan yang memadai, dan sebelumnyaserta tindak lanjut atas rekomendasi yang
d. Peer-review yang independen dilaksanakan secara signifikan dan berkaitan dengan tujuan pemeriksaan yang
periodik dan menghasilkan suatu pernyataan, apakah sedang dilaksanakan;
sistem pengendalian mutu organisasi pemeriksa tersebut c. (1)Pemeriksa harus merancang pemeriksaan untuk
dirancang dan memberikan keyakinan yang memadai memberikan keyakinan yang memadai guna mendeteksi
sesuai dengan Standar Pemeriksaan. salah saji material yang disebabkan oleh ketidakpatuhan
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan yang
STANDAR UMUM berpengaruh langsung dan material terhadap penyajian
Standar umum memberikan kerangka dasar untuk dapat laporan keuangan. Jika informasi tertentu menjadi
menerapkan standar pelaksanaan dan standar pelaporan perhatian pemeriksa, diantaranya informasi tersebut
secara efektif yang dijelaskan pada pernyataan standar memberikan bukti yang berkaitan dengan penyimpangan
berikutnya. Dengan demikian, standar umum ini harus dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang
diikuti oleh semua pemeriksa dan organisasi pemeriksa berpengaruh material tetapi tidak langsung berpengaruh
yang melakukan pemeriksaan berdasarkan Standar terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan,
Pemeriksaan Keuangan Negara. Beberapa standar umum pemeriksa harus menerapkan prosedur pemeriksaan
yang termuat dalam PSP Nomor 01 sebagai berikut: tambahan untuk memastikan bahwa penyimpangan dari
ketentuan peraturan perundang-undangan telah atau akan
I. Pemeriksa secara kolektif harus memiliki kecakapan terjadi;
profesional yang memadai untuk melaksanakan tugas (2) Pemeriksa harus waspada pada kemungkinan adanya
pemeriksaan; situasi dan/atau peristiwa yang merupakan indikasi
II. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan kecurangan dan/atau ketidakpatutan dan apabila timbul
pemeriksaan, organisasi pemeriksa dan pemeriksa, harus indikasi tersebut serta berpengaruh signifikan terhadap
bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan kewajaran penyajian laporan keuangan, pemeriksa harus
pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi menerapkan prosedur pemeriksaan tambahan untuk
independensinya; memastikan bahwa kecurangan dan/atau
III. Dalam pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan ketidakpatutan telah terjadi dan menentukan dampaknya
laporan hasil pemeriksaan, pemeriksawajib menggunakan terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan;
kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama; d. Pemeriksa harus merencanakan dan melaksanakan
IV. Setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan prosedur pemeriksaan untuk mengembangkan unsur-
pemeriksaan berdasarkan SPKN harus memiliki sistem unsur temuan pemeriksaan;

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1231
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

e. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara mengungkapkan sifat informasi yang tidak dilaporkan
dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja tersebut dan ketentuan peraturan perundang-undangan
pemeriksaan. Dokumentasi pemeriksaan yang berkaitan yang menyebabkan tidak dilaporkannya informasi
dengan perencanaan, pelaksanaan, danpelaporan tersebut;
pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk f. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman, tetapi perwakilan, entitas yang diperiksa, pihak yang mempunyai
tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan tersebut kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa, pihak
dapat memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut
tersebut dapat menjadibukti yang mendukung hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain yang diberi
pertimbangan dan simpulan pemeriksa. Dokumentasi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan
pemeriksaan harus mendukung opini, temuan,simpulan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dan rekomendasi pemeriksaan. yang berlaku.
STANDAR PELAPORAN PEMERIKSAAN KEUANGAN STANDAR PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KINERJA
Untuk pelaksanaan pemeriksaan kinerja, SPKN
Untuk pemeriksaan keuangan, SPKN memberlakukan memberikan beberapa standar sebagai berikut:
empat standar pelaporan SPAP yang ditetapkan IAI berikut
ini: a. Pekerjaan harus direncanakan secara memadai;
a. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan b. Staf harus disupervisi dengan baik;
keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang c. Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan harus
berlaku umum di Indonesia atau prinsip akuntansi yang diperoleh untuk menjadi dasar yang memadai bagi temuan
lain yang berlaku secara komprehensif (PSAP). dan rekomendasi pemeriksa;
b. Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, d. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara
ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam dokumen pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja
penyusunan laporan keuangan periode berjalan pemeriksaan. Dokumen pemeriksaan yang berkaitan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan
tersebut dalam periode sebelumnya; pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk
c. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman tetapi
dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan tersebut
audit; dapat memastikan bahwa dokumen pemeriksaan tersebut
d. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan dapat menjadi bukti yang mendukung temuan, simpulan,
pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan dan rekomendasi pemeriksa.
atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat
diberikan. Jika pendapat STANDAR PELAPORAN PEMERIKSAAN KINERJA
secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasannya Untuk pelaporan pemeriksaan kinerja, SPKN memberikan
harus Standar Pelaporan Pemeriksaan Keuangan beberapa standar sebagai berikut:
dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan a. Pemeriksa harus membuat laporan hasil pemeriksaan
laporan keuangan, laporan auditor harus memuat petunjuk untuk mengkomunikasikan setiap hasil pemeriksaan;
yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang b. Laporan hasil pemeriksaan harus mencakup:
dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang i. pernyataan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai
dipikul auditor. dengan SPKN ,
SPKN juga memberikan standar pelaporan tambahan ii. tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan ,
sebagai berikut: iii. hasil pemeriksaan berupa temuan pemeriksaan,
simpulan, dan rekomendasi ,
a. Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa iv. tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas
pemeriksaan dilakukan sesuai dengan SPKN; hasil pemeriksaan,
b. Laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan harus v. pelaporan informasi rahasia apabila ada ,
mengungkapkan bahwa pemeriksa telah melakukan vi. Pernyataan bahwa Pemeriksaan Dilakukan Sesuai
pengujian atas kepatuhan terhadap ketentuan peraturan dengan SPKN;
perundang-undangan yang berpengaruh langsung dan c. Laporan hasil pemeriksaan harus tepat waktu, lengkap,
material terhadap penyajian laporan keuangan; akurat, obyektif, meyakinkan, serta jelas, dan seringkas
c. Laporan atas pengendalian intern harus mengungkapkan mungkin;
kelemahan dalam pengendalian intern atas pelaporan d. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga
keuangan yang dianggap sebagai kondisi yang dapat perwakilan, entitas yang diperiksa, pihak yang mempunyai
dilaporkan; kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa, pihak
d. Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut
kelemahan dalam pengendalian intern, kecurangan, hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain yang diberi
penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang- wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan
undangan, dan ketidakpatutan, harus dilengkapi tanggapan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dari pimpinan atau pejabat yang bertanggung jawab pada yang berlaku.
entitas yang diperiksa mengenai temuan dan rekomendasi
serta tindakan koreksi yang direncanakan; STANDAR PELAKSANAAN PEMERIKSAAN DENGAN
e. Informasi rahasia yang dilarang oleh ketentuan TUJUAN TERTENTU
peraturan perundang-undangan untuk diungkapkan Untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu, SPKN
kepada umum tidak diungkapkan dalam laporan hasil memberlakukan dua pernyataan standar pekerjaan
pemeriksaan. Namun laporan hasil pemeriksaan harus

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1232
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

lapangan perikatan/penugasan atestasi SPAP yang Untuk pemeriksaan dengan tujuan tertentu, SPKN
ditetapkan IAI berikut ini: memberlakukan empat pernyataan standar pelaporan
perikatan/penugasan atestasi dalam SPAP yang ditetapkan
a. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan IAI sebagai berikut:
jika digunakan asisten harus disupervisi dengan
semestinya; a. Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan
b. Bukti yang cukup harus diperoleh untuk menyatakan sifat perikatan atestasi yang bersangkutan;
memberikan dasar rasional bagi simpulan yang b. Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai
dinyatakan dalam laporan. apakah asersi disajikan sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan atau kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai
SPKN juga memberi standar pelaksanaan tambahan alat pengukur;
sebagai berikut: c. Laporan harus menyatakan semua keberatan praktisi
a. Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang yang signifikan tentang perikatan dan penyajian asersi;
berkaitan dengan sifat, saat, dan lingkup pengujian serta d. Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu
pelaporan yang direncanakan atas hal yang akan dilakukan asersi yang disusun berdasarkan kriteria yang disepakati
pemeriksaan, kepada manajemen entitas yang diperiksa atau berdasarkan suatu perikatan untuk melaksanakan
dan atau pihak yang meminta pemeriksaan; prosedur yang disepakati harus berisi suatu pernyataan
b. Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan tentang keterbatasan pemakaian laporan hanya oleh
sebelumnya serta tindak lanjut atas rekomendasi yang pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau prosedur
signifikan dan berkaitan dengan hal yang diperiksa; tersebut. SPKN juga memberikan standar pelaporan
c. Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan tambahan sebagai berikut:
Tertentu dalam bentuk eksaminasi dan merancang
prosedur untuk mencapai tujuan pemeriksaan, pemeriksa a. Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa
harus memperoleh pemahaman yang memadai tentang pemeriksaan dilakukan sesuai dengan SPKN;
pengendalian intern yang sifatnya material terhadap hal b. Laporan Hasil Pemeriksaan dengan tujuan tertentu
yang diperiksa; harus mengungkapkan:
d. (1)Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan
Tertentu dalam bentuk eksaminasi, pemeriksa harus i. kelemahan pengendalian internal yang berkaitan dengan
merancang pemeriksaan dengan tujuan untuk memberikan hal yang diperiksa,
keyakinan yang memadai guna mendeteksi kecurangan ii. kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-
dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang- undangantermasuk pengungkapan atas penyimpangan
undangan yang dapat berdampak material terhadap hal administrasi, pelanggaran atas perikatan perdata, maupun
yang diperiksa. penyimpangan yang
(2)Dalam merencanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan mengandung unsur tindak pidana yang terkait dengan hal
Tertentu dalam bentuk reviu atau prosedur yang yang diperiksa,
disepakati, pemeriksa harus waspada terhadap situasi atau iii. ketidakpatutan yang material terhadap hal yang
peristiwa yang mungkin merupakan indikasi kecurangan diperiksa;
dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-
undangan. Apabila ditemukan indikasikecurangan c. Laporan hasil pemeriksaan yang memuat adanya
dan/atau penyimpangan dari ketentuan peraturan kelemahan dalam pengendalian intern, kecurangan,
perundang-undangan yang secara material mempengaruhi penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang-
hal yang diperiksa, pemeriksa harus menerapkan prosedur undangan, dan ketidakpatutan, harus dilengkapi tanggapan
tambahan untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau dari pimpinan atau pejabat yang bertanggung jawab pada
penyimpangan tersebut telah terjadi dan menentukan entitas yang diperiksa mengenai temuan dan simpulan
dampaknya terhadap halyang diperiksa. serta tindakan koreksi yang direncanakan;
(3)Pemeriksa harus waspada terhadap situasi dan/atau d. Informasi rahasia yang dilarang oleh ketentuan
peristiwa yang mungkin merupakan indikasi kecurangan peraturan perundang-undangan untuk diungkapkan
dan/atau ketidakpatutan, dan apabila ditemukan indikasi kepada umum tidak diungkapkan dalam laporan hasil
tersebut serta berpengaruh signifikan terhadap pemeriksaan. Namun laporan hasil pemeriksaan harus
pemeriksaan, pemeriksa harus menerapkan prosedur mengungkapkan sifat informasi yang tidak dilaporkan
tambahan untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau tersebut dan ketentuan peraturan perundang-undangan
ketidakpatutan tersebut telah terjadi dan menentukan yang menyebabkan tidak dilaporkannya informasi
dampaknya terhadap hasil pemeriksaan; tersebut;
e. Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara e. Laporan hasil pemeriksaan diserahkan kepada lembaga
dokumentasi pemeriksaan dalam bentuk kertas kerja perwakilan, entitas yang diperiksa, pihak yang mempunyai
pemeriksaan. Dokumentasi pemeriksaan yang terkait kewenangan untuk mengatur entitas yang diperiksa, pihak
dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan yang bertanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut
pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk hasil pemeriksaan, dan kepada pihak lain yang diberi
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman tetapi wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan
tidak mempunyai hubungan dengan pemeriksaan tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
dapat memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan yang berlaku.
tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung
pertimbangan dan simpulan pemeriksa.
STANDAR PELAPORAN PEMERIKSAAN DENGAN TUJUAN
TERTENTU

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1233
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Keuangan Badan


PERTEMUAN 8 Pemeriksa, asersi yang diuji mencakup 5 aspek, yaitu:
METODOLOGI DAN TAHAPAN PEMERIKSAAN (1) keberadaan dan keterjadian,
KEUANGAN (2) kelengkapan,
(3) hak dan kewajiban,
(4) penilaian dan pengalokasian,
(5) penyajian dan pengungkapan.
1. Metodologi Pemeriksaan
Metodologi pemeriksaan keuangan terdiri dari tiga tahap Existence
pemeriksaan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan Asersi Keberadaan dan Keterjadian (existence or
pelaporan hasil pemeriksaan. occurrence) berhubungan dengan aspek:
a. Tahap Perencanaan • Apakah Aset, kewajiban dan ekuitas yang tercantum
Tahap perencanaan pemeriksaan meliputi 10 langkah dalam neraca dan Catatan Atas Laporan Keuangan (CaLK)
kegiatan, yaitu: memang benar benar ada (exist) per tanggal neraca
(1) Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan
Penugasan, • Apakah pendapatan serta belanja yang dilaporkan dalam
(2) Pemenuhan Kebutuhan Pemeriksa, Laporan Realisasi Anggaran (LRA) dan CaLK memang benar
(3) Pemahaman atas Entitas, benar telah terjadi (occurred) selama periode pelaporan.
(4) Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan
Sebelumnya, • Apakah transaksi operasional, investasi, pembiayaan dan
(5) Pemahaman atas Sistem Pengendalian Intern, transaksi non anggaran yang mempengaruhi kas yang
(6) Pemahaman dan Penilaian Risiko, dilaporkan dalam Laporan Arus Kas (LAK) dan CaLK
(7) Penetapan Materialitas Awal dan Kesalahan memang benar benar telah terjadi (occurred) selama
Tertoleransi, (8) Penentuan Metode Uji Petik, periode pelaporan
(9) Pelaksanaan Prosedur Analitis Awal, .
(10) Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program
Kegiatan Perseorangan. Completeness
Asersi Kelengkapan (completeness) berhubungan dengan
b. Tahap Pelaksanaan jaminan bahwa semua transaksi dan rekening yang
Tahap pelaksanaan pemeriksaan meliputi tujuh langkah seharusnya telah disajikan dalam laporan keuangan
kegiatan, yaitu: memang telah tercermin dalam laporan keuangan dan
(1) Pelaksanaan Pengujian Analitis Terinci, tidak ada hal-hal yang material (signifikan) yang tertinggal
(2) Pengujian Sistem Pengendalian Intern, dan tidak diungkapkan.
(3) Pengujian Substantif Atas Transaksi dan Saldo Akun,
(4) Penyelesaian Penugasan, Rights & Obligation
(5) Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan (TP), Asersi Hak dan Kewajiban (rights and obligation)
(6) Perolehan Tanggapan Resmi dan Tertulis, berhubungan dengan keyakinan bahwa Aset yang disajikan
(7) Penyampaian TP. dalam laporan keuangan memang benar-benar hak entitas
c. Tahap Pelaporan dan bahwaa hutan yang disajikan dalam laporan keuangan
memang benar-benar kewajiban entitas per tanggal
Langkah pelaporan pemeriksaan meliputi lima langkah laporan keuangan.
kegiatan, yaitu:
(1) Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan, Valuation
(2) Penyampaian Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan Asersi Penilaian (valuation) berhubungan dengan
kepada Pejabat Entitas Yang Berwenang, keyakinan bahwa akun-akun yang disajikan dalam laporan
(3) Pembahasan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan keuangan telah mencerminkan nilai yang semestinya.
dengan Pejabat Entitas Yang Berwenang,
(4) Perolehan Surat Representasi,
(5) Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian Laporan Presentation & Disclosure
Hasil Pemeriksaan. Asersi Penyajian dan Pengungkapan (presentation and
2. Asersi Manajemen disclosure) berhubungan dengan jaminan bahwa akun-
Kewajaran laporan keuangan sangat ditentukan kualitas akun yang disajikan dalam laporan keuangan telah
diklasifikasikan, dijelaskan, dan diungkapkan secara
berbagai asersi manajemen yang terkandung dalam semestinya.
laporan keuangan karena dalam pelaksanaan pemeriksaan,
tim pemeriksa BPK akan menguji asersi manajemen Sebagai contoh, Neraca Kabupaten AAA tanggal 31
(Kepala Daerah dan para Kepala SKPD/SKPKD/PPKD) atas Desember 2011 mencantumkan rekening kas sebesar Rp.
laporan keuangan pemerintah daerah.
99.800.765.000. Pada hakikatnya manajemen membuat dua
Asersi (assertion) adalah pernyataan manajemen yang asersi eksplisit (keberadaan dan penilaian), yaitu:
terkandung di dalam komponen laporan keuangan. 1) Bahwa kas tersebut benar-benar ada pada tanggal 31 Des
Pernyataan tersebut dapat bersifat implisit atau eksplisit. 2012;
Berdasarkan Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan 2) Bahwa jumlah kas tersebut yang benar adalah Rp
Republik Indonesia Nomor 04/K/1-III.2/5/2008 Tentang 99.800.765.000.

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1234
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

sebaliknya SPI yang lemah maka jumlah bukti yang


Implicite dikumpulkan diperbanyak.
Selain dua asersi eksplisit manajemen juga membuat tiga
buah asersi implisit (kelengkapan, hak dan kewajiban, serta 2. Bukti Analitis (Analytical Evidence)
penyajian/pengungkapan) sebagai berikut: Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan
1) Bahwa semua kas yang seharus dilaporkan memang perbandingan data klien dengan anggaran atau standar
telah dimasukkan dalam jumlah tersebut secara lengkap prestasi, trend industri dan kondisi ekonomi umum. Bukti
2) Bahwa semua kas yang dilaporkan pada tanggal 31 analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran
Desember 2012 tersebut adalah milik Kabupaten AAA suatu pos tertentu dalam laporankeuangan. Keandalan
Modul Akuntansi Keuangan Pemerintah Daerah 197 bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data
3) Bahwa tidak ada batasan apapun terhadap penggunaan pembanding
kas yang dilaporkan tersebut
3. Bukti Fisik (Physical Evidence)
bukti yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik atau
inspeksi, misalnya: cash-opname, stock-opname sediaan,
PERTEMUAN 9 dan lainnya.Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo
aset berwujud terutama kas dan sediaan. Bukti fisik
TEKNIK PEMERIKSAAN DAN PENGENDALIAN INTERN merupakan jenis bukti yang paling bisa dipercaya.
4. Bukti Dokumentasi (Documentary Evidence)
meliputi berbagai macam dokumen sumber dan dokumen
Pemeriksaan pada dasarnya dapat diartikan sebagai proses seperti notulen rapat, rekening koran bank, kontrak-
sistematis yang dikerjakan oeh orang yang independen dan kontrak perjanjian, maupun surat representasi. Reliabilitas
kompeten, untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bukti, bukti dokumenter tergantung sumber dokumen, cara
mencocokkan informasi yang terkandung dalam bukti memperoleh bukti, dan sifat dokumen itu sendiri. Sifat
dengan kriteria yang telah ditetapkan dan melaporkan dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya
hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan
demikian, dalam pemeriksaan diperlukan pengetahuan dokumen.
atas bukti pemeriksaan, teknik/prosedur untuk
mendapatkan bukti, serta jenis-jenis laporan yang akan 5. Konfirmasi (Confirmation)
dihasilkan. merupakan bukti dokumen yang termasuk dalam
kelompok khusus yang tidak lain adalah suatu jawaban
Bukti Pemeriksaan langsung tertulis dari pihak ketiga yang dipandang
Bukti pemeriksaan adalah semua informasi yang digunakan mengetahui atas permintaan tertentu untuk memberikan
pemeriksa untuk menentukan apakah informasi yang informasi yang sesungguhnya. Ada tiga jenis konfirmasi
sedang diperiksa telah dinyatakan sesuai dengan kriteria yaitu:
yang telah ditetapkan. Standar pemeriksaan keuangan
menyatakan bahwa bukti audit yang kompeten harus 1.Konfirmasi positif, merupakan konfirmasi yang
diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan respondennya diminta untuk menyatakan
pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk persetujuan atau penolakan terhadap informasi
menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang yang ditanyakan.
diperiksa. 2.Konfirmasi kosong (Blank confirmation),
merupakan konfirmasi yang respondennya diminta
Dengan demikian terdapat 2 (dua) sayarat bukti untuk mengisikan saldo atau informasi lain sebagai
pemeriksaan yaitu kecukupan dan kompetensi bukti. jawaban atas suatu hal yang ditanyakan.
Kompetensi bukti adalah tingkat keyakinan bahwa bukti 3.Konfirmasi negatif, merupakan konfirmasi yang
tersebut dapat dipercaya atau dapat diandalkan. respondenya diminta untuk memberikan jawaban
Kompetensi suatu bukti tergantung dari relevansi, hanya jika ia menyatakan ketidaksetujuannya
pengetahuan langsung pemeriksa, keaslian bukti, terhadap informasi yang ditanyakan.
independensi yang menyajikan, kualifikasi individu,
objektifitas, keefektivan pengendalian intern, dan 6. Representasi Tertulis (Written representation)
ketepatan waktu. merupakan pernyataan yang ditandatangani individu yang
Jenis-jenis bukti pemeriksaan yang dikumpulkan dan bertanggungjawab dan berpengetahuan mengenai
dievaluasi oleh pemeriksa meliputi: rekening, kondisi, atau kejadian tertentu. Bukti suatu
pernyataan tertulis dapat berasal dari manajemen atau
a. Data Akuntansi yang mendasari (underlying accounting organisasi klien maupun sumber eksternal termasuk bukti
data) yang terdiri atas: jurnal, buku besar, kebijakan dari seorang ahli. Representasi tertulis yang dibuat oleh
akuntansi dan catatan informal seperti kertas kerja. Auditi merupakan bukti yang berasal dari internal auditan.
b. Bukti atau informasi pendukung dan penguat Surat pernyataan konsultan hukum klien, ahli teknik yang
(Corroborating information) terdiri atas: berkaitan dengan kegiatan teknik operasional organisasi
klien merupakan bukti yang berasal dari pihak ketiga.
1. Struktur Pengendalian Intern (Internal Control
Structure); jika SPI yang diterapkan adalah baik maka dapat 7. Bukti Matematis (Mathematical Evidence)
menjadi bukti yang kuat mengenai keandalan informasi perhitungan ulang secara matematis yang dilakukan
yang dicantumkan dalam laporan keuangan sehingga auditor, misal perhitungan kembali depresiasi, perhitungan
jumlah bukti yang harus dikumpulkan dapat dikurangi, kembali taksiran kerugian piutang, dan sebagainya.

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1235
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

8. Bukti Lisan (Oral Evidence) 7. Wawancara (inquiring)


Jawaban secara lisan diterima oleh auditor pada saat mengajukan pertanyaan baik secara lisan maupun tertulis
pekerjaan lapangan audit yaitu dengan mengajukan kepada auditi atau pihak luar
pertanyaan lisan kepada auditee. Masalah yang dapat
ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi, lokasi 8. Perhitungan (counting)
dokumen dan catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi dilakukan dengan tujuan mengecek ketelitian
yang tidak lazim, kemungkinan adanya utang bersyarat penghitungan auditee, misalnya membuat kembali
maupun piutang yang sudah lama tidak ditagih. Jawaban rekonsiliasi.
atas pertanyaan yang dinyatakan merupakan bukti lisan.
9. Pemindaian (scanning)
9. Bukti Analitis (Analytical Evidence) (Analytical Evidence) melakukan penelaahan terhadap dokumen, catatan dan
pembandingan antara data tahun ini dengan tahun daftar pendukung untuk mendeteksi adanya elemen-
sebelumnya, misal menghitung kerugian piutang tahun ini elemen yang memerlukan penyelidikan.
dan dibandingkan dengan piutang tahun lalu.
10. Pelaksanaan ulang (reperforming)
10.Bukti elektronik (Electronic Evidence) melakukan kembali beberapa aspek dalam proses
menyangkut semua informasi yang dihasilkan atau transaksi tertentu untuk memastikan kesesuaian dengan
diperoleh dengan peralatan elektronik yang digunakan prosedur dan SPI yang telah ditetapkan
auditor untuk merumuskan suatu pendapat mengenai
suatu asersi. 11. Computer-assisted audit techniques
teknik-teknik yang dapat dikembangkan dengan bantuan
Prosedur pemeriksaan komputer baik perangkat keras maupun piranti lunak
Untuk mendapatkan bukti-bukti pemeriksaan tersebut (hardware/software)
diperlukan prosedur dan teknik-teknik pemeriksaan.
Prosedur pemeriksaan adalah langkah dan teknik yang Pengendalian Intern Dalam Pemeriksaan Keuangan
diambil pemeriksa selama pelaksanaan pemeriksaan. Pengendalian merupakan proses yang dilakukan oleh
Teknik pengujian adalah teknik yang digunakan auditor manajemen pemerintahan yang memberikan jaminan
untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti audit yang memadai bahwa tujuan pemerintahan dapat tercapai.
kompeten dan cukup. Terdapat beberapa prosedur audit Pengendalian intern dalam kenyataannya terdiri dari
yang harus dilaksanakan oleh auditor dalam memperoleh prosedur standar, kebijaksanaan, struktur organisasi,
bukti audit antara lain: sistem informasi dan monitoring yang menjamin secara
memadai bahwa tujuan pemerintahan dapat berjalan
1. Prosedur analitis (analitical procedures) secara efektif, efisien dan ekonomis, peraturan
mempelajari dan membandingkan hubungan antar data perundangan dipatuhi dan pelaporan disajikan secara
dengan menggunakan rasio atau membandingkan data handal.
aktual dengan tahun lalu (anggaran).
Dalam pemeriksaan keuangan, agar suatu pemeriksaan
2. Inspeksi (inspecting) dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka
mengamati atau memeriksa secara detil dokumen dan aset langkah pertama yang harus dilakukan pemeriksa dalam
berwujud. Biasanya digunakan dalam mengumoulkan dan pekerjaan pemeriksaannya adalah memahami dan menguji
mengevaluasi bukti bottom-up maupun top-down. Inspeksi berjalannya SPI pada entitas yang diperiksa. Pemerintah
dokumen termasuk menentukan ketelitian faktur atau (auditan) harus menjamin SPI yang dibuat sudah efektif
dokumen kontrak leasing. agar opini yang diberikan baik. Pada konteks inilah
terdapat hubungan antara pengendalian intern dengan
3. Observasi (observing) pemeriksaan.
mengamati suatu pelaksanaan aktivitas atau proses, untuk
melihat bahwa pegawai telah melakukan tugas Jika pengendalian intern dianggap efektif oleh pemeriksa,
kewajibanya sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang maka pemeriksa dapat mengurangi aktivitas pelaksanaan
ditetapkan. pengujian yang ekstensif. Sebaliknya jika pengendalian
intern dianggap lemah, maka pemeriksa harus melakukan
4. Konfirmasi (confirming) pengujian substantif dengan ekstensif. Dalam kondisi SPI
kegiatan mengajukan pertanyaaan untuk mendapat sangat lemah, pemeriksa dapat memberikan opini tidak
informasi kepada pihak ketiga terkait dengan suatu akun memberikan pendapat (disclaimer). Unsur-unsur SPI
dan permintaan jawaban dikirim langsung ke auditor. Pemerintah dijelaskan dalam pasal 3 PP 60 tahun 2008:
5. Penelusuran (tracing) a. lingkungan pengendalian;
yaitu penelusuran secara mendalam dari dokumen dasar b. penilaian risiko;
ke catatan akuntansi (jurnal, buku besar) untuk c. kegiatan pengendalian;
menentukan bahwa dokumen dari setiap transaksi telah d. informasi dan komunikasi; dan
dicatat. e. pemantauan pengendalian intern.
6. Vouching yaitu penelusuran secara mendalam dari Walaupun dalam mengevaluasi SPIP, auditor harusnya
catatan ke dokumen dasar untuk menentukan validitas dan mengevaluasi keseluruhan unsur tersebut, namun dalam
akurasi pencatatan transaksi. Prosedur vouching pelaksanaan pemeriksaannya, pemeriksa lebih banyak
berlawanan dengan tracing.

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1236
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

mengevaluasi unsur kegiatan pengendalian, informasi dan itu juga bertujuan untuk menentukan dan mengidentifikasi
komunikasi, dan penilaian risiko. penyebab terjadinya praktik-praktik yang tidak ekonomis
atau tidak efisien, termasuk ketidakmampuan organisasi
AUDIT KINERJA dalam mengelola sistem informasi, prosedur administrasi
Kinerja suatu organisasi dinilai baik jika organisasi yang dan struktur organisasi
bersangkutan mampu melaksanakan tugas-tugas dalam
rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada Menurut The General Accounting Office Standards (1994),
standar yang tinggi dengan biaya yang rendah. Kinerja yang beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam audit
baik bagi suatu organisasi dicapai ketika administrasi dan ekonomi dan efisiensi, yaitu dengan mempertimbangkan
penyediaan jasa oleh organisasi yang bersangkutan apakah entitas yang diaudit telah:
dilakukan pada tingkat yang ekonomis, efisien dan efektif.
Konsep ekonomi, efisiensi dan efektivitas saling (1) mengikuti ketentuan pelaksanaan pengadaan yang
berhubungan satu sama lain dan tidak dapat diartikan sehat;
secara terpisah. Konsep ekonomi memastikan bahwa biaya (2) melakukan pengadaan sumber daya (jenis, mutu dan
input yang digunakan dalam operasional organisasi dapat jumlah) sesuai dengan kebutuhan pada biaya terendah;
diminimalkan. Konsep efisien memastikan bahwa output (3) melindungi dan memelihara semua sumber daya yang
yang maksimal dapat dicapai dengan sumber daya yang ada secara memadai;
tersedia. Sedangkan konsep efektif berarti bahwa jasa yang (4) menghindari duplikasi pekerjaan atau kegiatan yang
disediakan/dihasilkan oleh organisasi dapat melayani tanpa tujuan atau kurang jelas tujuannya;
kebutuhan pengguna jasa dnegan tepat. (5) menghindari adanya pengangguran sumber daya atau
jumlah pegawai yang berlebihan;
Jadi, audit yang dilakukan dalam audit kinerja meliputi (6) menggunakan prosedur kerja yang efisien;
audit ekonomi, efisiensi dan efektivitas. Audit ekonomi dan (7) menggunakan sumber daya (staf, peralatan dan
efisiensi disebut management audit atau operational audit, fasilitas) yang minimum dalam menghasilkan atau
sedangkan audit efektivitas disebut program audit. Istilah menyerahkan barang/jasa dengan kuantitas dan kualitas
lain untuk performance audit adalah Value for Money yang tepat;
Audit atau disingkat 3E’s audit (economy, efficiency and (8) mematuhi persyaratan peraturan perundang-undangan
effectiveness audit). Penekanan kegiatan audit pada yang berkaitan dengan perolehan, pemeliharaan dan
ekonomi, efisiensi dan efektivitas suatu organisasi penggunaan sumber daya Negara;
memberikan ciri khusus yang membedakan audit kinerja (9) melaporkan ukuran yang sah dan dapat
dengan audit jenis lainnya. dipertanggungjawabkan mengenai kehematan dan
efisiensi (Mardiasmo, 2002)
Berikut ini adalah karakteristik audit kinerja yang
merupakan gabungan antara audit manajemen dan audit Untuk dapat mengetahui apakah organisasi telah
program. menghasilkan output yang optimal dengan sumber daya
yang dimilikinya, auditor dapat membandingkan output
A. Audit Ekonomi dan Efisiensi yang telah dicapai pada periode yang bersangkutan dengan
Konsep yang pertama dalam pengelolaan organisasi sektor standar yang telah ditetapkan sebelumnya, kinerja tahun-
publik adalah ekonomi, yang berarti pemerolehan input tahun sebelumnya dan unit lain pada organisasi yang sama
dengan kualitas dan kuantits tertentu pada harga yang atau pada organisasi yang berbeda.
terendah. Ekonomi merupakan perbandingan input dengan
input value yang dinyatakan dalam satuan moneter. B. Audit Efektivitas
Ekonomi terkait dengan sejauh mana organisasi sektor Konsep yang ketiga dalam pengelolaan organisasi sektor
publik dapat meminimalisir input resources yang publik adalah efekivitas. Efektivitas berarti tingkat
digunakan, yaitu dengan menghindari pengeluaran yang pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan.
boros dan tidak produktif. Efektivitas merupakan perbandingan antara outcome
dengan output. Outcome seringkali dikaitkan dengan
Konsep kedua dalam penegelolaan organisasi sektor publik tujuan (objectives) atau target yang hendak dicapai. Jadi
adalah efisiensi, yang berarti pencapaian output yang dapat dikatakan bahwa efektivitas berkaitan dengan
maksimum dengan input tertentu atau penggunaan input pencapaian tujuan. Sedangkan menurut Audit Commission
yang terendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi (1986) disebutkan bahwa efektivitas berarti menyediakan
merupakan perbandingan output/input yang dikaitkan jasa-jasa yang benar sehingga memungkinkan pihak yang
dengan standar kinerja atau target yang telah ditetapkan. berwenang untuk mengimplementasikan kebijakan dan
tujuannya (Mardiasmo, 2002).
Dapat disimpulkan bahwa ekonomi mempunyai arti biaya
terendah, sedangkan efisiensi mengacu pada rasio terbaik Audit efektivitas bertujuan untuk menentukan tingkat
antara output dengan biaya (input). Karena output dan pencapaian hasil atau manfaat yang diinginkan, kesesuaian
biaya diukur dalam unit yang berbeda, maka efisiensi hasil dengan tujuan yang ditetapkan sebelumnya dan
dapat terwujud ketika dengan sumber daya yang ada dapat menentukan apakah entitas yang diaudit telah
dicapai output yang maksimal atau output tertentu dapat mempertimbangkan alternatif lain yang memberikan hasil
dicapai dengan sumber daya yang sekecil-kecilnya. yang sama dengan biaya yang paling rendah. Secara lebih
rinci, tujuan pelaksanaan audit efektivitas atau audit
Audit ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk menentukan program adalah dalam rangka:
bahwa suatu entitas telah memperoleh, melindungi,
menggunakan sumber dayanya (karyawan, gedung, ruang (1) menilai tujuan program, baik yang baru maupun yang
dan peralatan kantor) secara ekonomis dan efisien. Selain sudah berjalan, apakah sudah memadai dan tepat;

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1237
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

(2) menentukan tingkat pencapaian hasil suatu program mengembangkan hasil-hasil temuan audit dan
yang diinginkan; membandingkan antara kinerja yang dicapai dengan
(3) menilai efektivitas program dan atau unsur-unsur kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya.
program secara terpisah;
(4) mengidentifikasi faktor yang menghambat pelaksanaan Hasil temuan kemudian dilaporkan kepada pihak-pihak
kinerja yang baik dan memuaskan; yang membutuhkan yang disertai dengan rekomendasi
(5) menentukan apakah manajemen telah yang diusulkan oleh auditor. Pada akhirnya, rekomendasi-
mempertimbangkan alternatif untuk melaksanakan rekomendasi yang diusulkan oleh auditor akan
program yang mungkin dapat memberikan hasil yang lebih ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berwenang. Struktur
baik dan dengan biaya yang lebih rendah; audit kinerja terdiri atas tahap pengenalan dan
(6) menentukan apakah program tersebut saling perencanaan, tahap pengauditan, tahap pelaporan dan
melengkapi, tumpang-tindih atau bertentangan dengan tahap penindaklanjutan. Pada tahap pengenalan dilakukan
program lain yang terkait; survei pendahuluan dan review sistem pengendalian
(7) mengidentifikasi cara untuk dapat melaksanakan manajemen. Pekerjaan yang dilakukan pada survei
program tersebut dengan lebih baik; pendahuluan dan review sistem pengendalian manajemen
(8) menilai ketaatan terhadap peraturan perundang- bertujuan untuk menghasilkan rencana penelitian yang
undangan yang berlaku untuk program tersebut; detail yang dapat membantu auditor dalam mengukur
(9) menilai apakah sistem pengendalian manajemen sudah kinerja dan mengembangkan temuan berdasarkan
cukup memadai untuk mengukur, melaporkan dan perbandingan antara kinerja dan kriteria yang telah
memantau tingkat efektivitas program; ditetapkan sebelumnya.
(10) menentukan apakah manajemen telah melaporkan
ukuran yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan Tahap pengauditan dalam audit kinerja terdiri dari tiga
mengenai efektivitas program elemen, yaitu telaah hasil-hasil program, telaah ekonomi
dan efisiensi dan telaah kepatuhan. Tahapan-tahapan
Efektivitas berkenaan dengan dampak suatu output bagi dalam audit kinerja disusun untuk membantu auditor
pengguna jasa. Untuk mengukur efektivitas suatu kegiatan dalam mencapai tujuan audit kinerja. Review hasil-hasil
harus didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan program akan membantu auditor untuk mengetahui
sebelumnya. Jika hal ini belum tersedia, auditor bekerja apakah entitas telah melakukan sesuatu yang benar.
sama dengan manajemen puncak dan badan pembuat Review ekonomis dan efisiensi akan mengarahkan auditor
keputusan untuk menghasilkan kriteria tersebut dengan untuk mengetahui apakah entitas telah melakukan sesuatu
berpedoman pada tujuan pelaksanaan suatu program. yang benar secara ekonomis dan efisien. Review
Meskipun efektivitas suatu program tidak dapat diukur kepatuhan akan membantu auditor untuk menentukan
secara langsung, ada beberapa alternatif yang dapat apakah entitas telah melakukan segala sesuatu dengan
digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan suatu cara-cara yang benar, sesuai dengan peraturan dan hukum
program, yaitu mengukur dampak/pengaruh, evaluasi oleh yang berlaku. Masing-masing elemen tersebut dapat
konsumen dan evaluasi yang menitikberatkan pada proses, dijalankan sendiri-sendiri atau secara bersama-sama,
bukan pada hasil. tergantung pada sumber daya yang ada dan pertimbangan
waktu.
Tingkat komplain dan tingkat permintaan dari pengguna
jasa dapat dijadikan sebagai pengukuran standar kinerja Tahap pelaporan merupakan tahapan yang harus
yang sederhana untuk berbagai jasa. Evaluasi terhadap dilaksanakan karena adanya tuntutan yang tinggi dari
pelaksanaan suatu program hendaknya masyarakat atas pengelolaan sumber daya publik. Hal
mempertimbangkan apakah program tersebut relevan tersebut menjadi alasan utama untuk melaporkan
atau realistis, apakah ada pengaruh dari program tersebut, keseluruhan pekerjaan audit kepada pihak manajemen,
apakah program telah mencapai tujuan yang telah lembaga legislatif dan masyarakat luas. Penyampaian hasil-
ditetapkan dan apakah ada cara-cara yang lebih baik dalam hasil pekerjaan audit dapat dilakukan secara formal dalam
mencapai hasil. bentuk laporan tertulis kepada lembaga legislatif maupun
secara informal melalui diskusi dengan pihak manajemen.
C. Struktur Audit Kinerja
Sebelum melakukan audit, auditor terlebih dahulu harus Namun demikian, akan lebih baik bila laporan audit
memperoleh informasi umum organisasi guna disampaikan secara tertulis, karena pengorganisasian dan
mendapatkan pemahaman yang memadai tentang pelaporan temuan-temuan audit secara tertulis akan
lingkungan organisasi yang diaudit, struktur organisasi, misi membuat hasil pekerjaan yang telah dilakukan menjadi
organisasi, proses kerja serta sistem informasi dan lebih permanen. Selain itu, laporan tertulis juga sangat
pelaporan. Pemahaman lingkungan masing-masing penting untuk akuntabilitas publik. Laporan tertulis
organisasi akan memberikan dasar untuk memperoleh merupakan ukuran yang nyata atas nilai sebuah
penjelasan dan analisis ynag lebih mendalam mengenai pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor. Laporan yang
sistem pengendalian manajemen. disajikan oleh auditor merupakan kriteria yang penting
bagi kesuksesan atau kegagalan pekerjaannya.
Berdasarkan hasil analisis terhadap kelemahan dan
kekuatan sistem pengendalian dan pemahaman mengenai Tahapan yang terakhir adalah tahap penindaklanjutan,
keluasan (scope), validitas dan reabilitas informasi kinerja dimana tahap ini didesain untuk memastikan/memberikan
yang dihasilkan oleh entitas/organisasi, auditor kemudian pendapat apakah rekomendasi yang diusulkan oleh auditor
menetapkan kriteria audit dan mengembangkan ukuran- sudah diimplentasikan. Prosedur penindaklanjutan dimulai
ukuran kinerja yang tepat. Berdasarkan rencana kerja yang dengan tahap perencanaan melalui pertemuan dengan
telah dibuat, auditor melakukan pengauditan, pihak manajemen untuk mengetahui permasalahan yang

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1238
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

dihadapi organisasi dalam mengimplementasikan pemungutan dan penyetoran penerimaan


rekomendasi auditor. Selanjutnya, auditor mengumpulkan negara/daerah/perusahaan milik
data-data yang ada dan melakukan analisis terhadap data- negara/daerah serta pelaksanaan program
data tersebut untuk kemudian disusun dalam sebuah /kegiatan pada entitas yang diperiksa.
laporan. 3. Kelemahan struktur pengendalian intern, yaitu
kelemahan yang terkait dengan ada/tidak
adanya struktur pengendalian intern atau
AUDIT Investigatif (Pemeriksaan dengan Tujuan efektivitas struktur pengendalian intern yang
Tertentu/PDTT) ada dalam entitas yang diperiksa.
Selain melakukan pemeriksaan terhadap keuangan dan
kinerja pemerintah pusat/daerah, lembaga negara Sedangkan kelompok temuan ketidakpatuhan terhadap
termasuk BUMN dan lembaga negara lainnya, BPK juga ketentuan perundang-undangan dibagi berdasarkan akibat
memiliki wewenang untuk melakukan pemeriksaan dengan yang ditimbulkan, yaitu: ketidakpatuhan pada perundang-
tujuan tertentu (PDTT). Hal ini telah diamanatkan melalui undangan yang mengakibatkan kerugian negara/daerah
UU Nomor 15 Tahun 2004 pasal 4 ayat (1). Pada UU atau kerugian negara atau daerah yang terjadi pada
tersebut dinyatakan bahwa PDTT adalah pemeriksaan yang perusahaan milik negara, ketidakpatuhan pada perundang-
dilakukan dengan tujuan khusus, di luar pemeriksaan undangan yang menyebabkan timbulnya potensi kerugian
keuangan dan pemeriksaan kinerja. Termasuk dalam negara/daerah atau potensi kerugian negara/daerah yang
pemeriksaan tujuan tertentu ini adalah pemeriksaan atas terjadi pada perusahaan milik negara, kekurangan
hal-hal yang berkaitan dengan keuangan dan pemeriksaan penerimaan, penyimpangan administrasi, ketidakhematan,
investigatif. ketidakefisienan, dan ketidakefektifan.
Berdasarkan SPKN, PDTT bertujuan untuk memberikan PERTEMUAN 10
simpulan atas suatu hal yang diperiksa. PDTT bisa bersifat
eksaminasi (pengujian), reviu atau prosedur yang
disepakati (agreed upon procedure). Adapun eksaminasi TEMUAN DAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN
ialah pengujian yang memadai untuk menyatakan
simpulan dengan tingkat keyakinan positif bahwa suatu
pokok masalah telah sesuai atau telah disajikan secara
wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan Temuan Pemeriksaan
kriteria. Sedangkan reviu yang dimaksud sebelumnya, ialah Pada akhir tahap pelaksanaan pemeriksaan keuangan,
pengujian yang memadai untuk menyatakan simpulan pemeriksa menyusun konsep temuan pemeriksaan yang
dengan tingkat keyakinan negatif bahwa tidak ada kemudian akan disampaikan kepada pejabat yang
informasi yang diperoleh pemeriksa dari pekerjaan yang bertanggungjawab untuk mendapatkan tanggapan.
dilaksanakan, menunjukkan bahwa pokok masalah tidak Temuan pemeriksaan ini kemudian akan dimasukkan
sesuai dengan kriteria dalam semua hal yang material. Dan dalam laporan hasil pemeriksaan. Temuan Pemeriksaan
prosedur adalah pengujian yang memadai untuk (TP) atas laporan keuangan yang diperiksa merupakan
menyatakan simpulan atas hasil pelaksanaan prosedur permasalahan yang ditemukan oleh pemeriksa yang perlu
tertentu yang disepakati dengan pemberi tugas terhadap dikomunikasikan kepada pihak yang terperiksa.
pokok masalah. Permasalahan tersebut meliputi:

Menentukan sifat PDTT dalam pemeriksaan dapat a. Ikhtisar Koreksi


dilakukan melalui pertimbangan prosedur yang akan Ikhtisar Koreksi merupakan rekapitulasi koreksi atau
dijalankan dan tingkat keyakinan yang diinginkan oleh penyesuaian (adjustments) yang diusulkan tim pemeriksa
pengguna. Jika prosedur pemeriksaan yang akan dijalankan kepada pemerintah daerah. Koreksi pemeriksaan yang
telah disepakati dengan pemakai tertentu, pemeriksa dimasukkan tersebut merupakan koreksi terhadap LKPD
harus melakukan PDTT yang bersifat agreed upon yang di atas nilai TE dan secara keseluruhan di atas nilai
procedures. Jika tidak, maka pemeriksa dapat melakukan materialitas. Koreksi pemeriksaan tersebut
pemeriksaan PDTT yang bersifat eksaminasi atau menggambarkan penyajian LKPD yang tidak sesuai dengan
permeriksaan yang bersifat reviu. Sebagian besar Standar Akuntansi Pemerintahan dan kecukupan
pemeriksaan yang dijalankan BPK adalah PDTT yang pengungkapan. Jurnal koreksi hanya pada akun utama
bersifat reviu. pada LKPD. Penyesuaian pada buku dan sistem akuntansi
dilakukan kemudian. Selain itu, koreksi terhadap
Berasarkan dengan tujuan pemeriksaannya, hasil kecukupan pengungkapan merupakan koreksi pada
pemeriksaan disajikan dalam dua kategori yaitu SPI dan catatan atas laporan keuangan LKPD.
kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-
undangan. Kelompok temuan pemeriksaan sistem
pengendalian intern (SPI) atas PDTT, meliputi:
b. Kelemahan Sistem Pengendalian Intern
1. Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan Kelompok temuan kelemahan SPI dibagi dalam
pelaporan, yaitu kelemahan sistem subkelompok temuan berikut ini:
pengendalian yang terkait kegiatan pencatatan 1. Temuan kelemahan sistem pengendalian
akuntansi dan pelaporan keuangan. akuntansi dan pelaporan yang mengungkap
2. Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan kelemahan sistem pengendalian terkait kegiatan
anggaran pendapatan dan belanja, yaitu pencatatan akuntansi dan pelaporan keuangan
kelemahan pengendalian yang terkait dengan yang dapat mempengaruhi keandalan pelaporan
keuangan dan pengamanan atas aset.
M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1239
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

2. Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan


anggaran pendapatan dan belanja mengungkap LANDASAN OPERASIONAL BADAN PEMERIKSA
kelemahan pengendalian terkait dengan KEUANGAN (BPK)
pemungutan dan penyetoran penerimaan Untuk mewujudkan pengelolaan keuangan negara sesuai
negara/daerah serta pelaksanaan dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam UU No. 17
program/kegiatan pada entitas yang diperiksa dan Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan UU No. 1 Tahun
dapat mempengaruhi efisiensi dan efektivitas 2004 tentang Perbendaharaan Negara, perlu dilakukan
pelaksanaan kegiatan serta membuka peluang pemeriksaan oleh satu badan pemeriksa keuangan yang
terjadinya ketidakpatuhan terhadap peraturan bebas dan mandiri, sebagaimana telah ditetapkan dalam
perundang-undangan UUD 1945 pasal 23E. Secara khusus, landasan operasional
3. Kelemahan struktur pengendalian intern BPK diatur dalam UU No.15 Tahun 2006 tentang Badan
mengungkap kelemahan yang terkait dengan Pemeriksa Keuangan (BPK).
ada/tidak adanya struktur pengendalian intern
atau efektivitas struktur pengendalian intern yang Sebelum berlakunya UU No. 15 Tahun 2006, BPK masih
ada dalam entitas yang diperiksa dan belum memiliki landasan operasional yang memadai, dan
berpengaruh terhadap efektivitas sistem dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan pengelolaan dan
pengendalian intern secara keseluruhan. tanggung jawab keuangan negara masih berpedoman pada
peraturan perundang-undangan peninggalan zaman
c.Ketidakpatuhan Terhadap Ketentuan Peraturan kolonial yaitu:
Perundangan-undangan
Kelompok temuan ketidakpatuhan terhadap ketentuan a. Instructie en Verdere Bepalingen voor de Algemene
peraturan perundang-undangan dibagi dalam Rekenkamer atau IAR (Staatsblad 1898 Nomor 9
subkelompok berikut ini: sebagaimana telah diubah terakhir dengan Staatsblad 1933
Nomor 320).
1. Temuan kerugian negara/daerah atau kerugian b. Indische Comptabiliteitswet atau ICW (Staatsblad 1925
negara/daerah yang terjadi pada perusahaan milik Nomor 448 Jo. Lembaran Negara 1968 Nomor 53).
negara/daerah yaitu mengungkap permasalahan
berkurangnya kekayaan negara/daerah atau perusahaan Peraturan perudang-undangan tersebut sudah tidak sesuai
milik negara/daerah berupa uang, surat berharga, dan dengan perkembangan zaman, khususnya perkembangan
barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat pemerintahan negara yang berubah sangat cepat sejalan
perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai adanya globalisasi, sehingga perlu diganti dengan undang-
2. Temuan potensi kerugian negara/daerah atau kerugian undang baru yang lebih responsif dan akomodatif terhadap
negara/daerah yang terjadi pada perusahaan milik perubahan. Dengan keluarnya UU No. 15 Tahun 2004
negara/daerah yaitu mengungkap adanya suatu perbuatan tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
melawan hukum baik sengaja maupun lalai yang dapat Keuangan Negara, BPK dapat mewujudkan fungsinya
mengakibatkan risiko terjadinya kerugian di masa datang sebagaimana diamanatkan dalam UUD Tahun 1945 pasal
berupa berkurangnya kas, surat berharga, dan aset nyata 23E secara efektif.
dan pasti jumlahnya
3. Temuan kekurangan penerimaan negara/daerah atau Dalam undang-undang ini diatur hal-hal pokok yang
perusahaan milik negara/daerah yang mengungkap adanya berkaitan dengan pemeriksaan pengelolaan dan tanggung
penerimaan yang sudah menjadi hak negara/daerah atau jawab keuangan negara, yaitu:
perusahaan milik negara/daerah tetapi tidak atau belum 1. pengertian pemeriksaan dan pemeriksa,
masuk ke kas negara/daerah atau perusahaan milik 2. lingkup pemeriksaan,
negara/daerah karena adanya unsur ketidakpatuhan 3. standar pemeriksaan,
terhadap ketentuan perundang-undangan 4.kebebasan dan kemandirian dalam pelaksanaan
4. Temuan administrasi yang mengungkap adanya pemeriksaan,
penyimpangan terhadap ketentuan yang berlaku baik 5. akses pemeriksa terhadap informasi,
dalam pelaksanaan anggaran atau pengelolaan aset 6. kewenangan untuk mengevaluasi pengendalian internal,
maupun operasional perusahaan, tetapi penyimpangan 7. hasil pemeriksaan dan tindak lanjut,
tersebut tidak mengakibatkan kerugian atau potensi 8. pengenaan ganti kerugian negara, dan
kerugian negara/daerah atau perusahaan milik 9. sanksi pidana.
negara/daerah, tidak mengurangi hak negara/daerah,
(kekurangan penerimaan), tidak menghambat program LINGKUP PEMERIKSAAN
entitas, dan tidak mengandung unsur indikasi tindak Sebagaimana telah ditetapkan dalam UUD 1945,
pidana. pemeriksaan yang menjadi tugas BPK meliputi
5. Temuan Indikasi Tindak Pidana mengungkap adanya pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab
perbuatan yang diduga memenuhi unsur-unsur tindak mengenai keuangan negara. Pemeriksaan tersebut
pidana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan mencakup seluruh unsur keuangan negara sebagaimana
dan diancam dengan sanksi pidana dalam peraturan dimaksud dalam UU No. 17
perundang-undangan. Tahun 2003 pasal 2. Sehubungan dengan itu, kepada BPK
diberi kewenangan untuk melakukan tiga jenis
PERTEMUAN 11
pemeriksaan, yakni :
 pemeriksaan keuangan
 pemeriksaan kinerja
LANDASAN OPERASIONAL BPK DAN LAPORAN HASIL  pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
PEMERIKSAAN BPK

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1240
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

Pengertian masing-masing jenis pemeriksaan tersebut pengembangan, kajian, pendapat dan keterangan
adalah sebagai berikut.: organisasi profesi terkait, berita media massa, atau
pengaduan langsung dari masyarakat.
1. Pemeriksaan keuangan adalah pemeriksaan atas laporan c. Memperhatikan permintaan, saran, dan pendapat
keuangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. lembaga perwakilan, berupa hasil keputusan rapat
Pemeriksaan keuangan ini dilakukan oleh BPK dalam paripurna, rapat kerja, dan alat kelengkapan lembaga
rangka memberikan pernyataan opini tentang tingkat perwakilan dengan mengadakan pertemuan konsultasi.
kewajaran informasi yang disajikan dalam laporan
keuangan pemerintah. Kebebasan dalam pelaksanaan kegiatan pemeriksaan
2. Pemeriksaan kinerja adalah pemeriksaan atas aspek antara
ekonomi dan efisiensi, serta pemeriksaan atas aspek lain meliputi kebebasan dalam penentuan waktu
efektivitas yang lazim dilakukan untuk kepentingan pelaksanaan dan metode pemeriksaan, termasuk metode
manajemen oleh aparat pengawasan intern pemerintah. pemeriksaan yang bersifat investigatif. Selain itu,
UUD 1945 pasal 23 E mengamanatkan BPK untuk kemandirian BPK dalam pemeriksaan keuangan negara
melaksanakan pemeriksaan kinerja pengelolaan keuangan mencakup ketersediaan sumber daya manusia, anggaran,
negara. Tujuan pemeriksaan kinerja adalah untuk dan sarana pendukung lainnya yang memadai. Disamping
mengidentifikasikan hal-hal yang perlu menjadi perhatian itu, BPK dapat memanfaatkan hasil pemeriksaan yang
lembaga perwakilan rakyat (DPR/DPRD). Ditinjau dari sisi dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah.
pemerintah, pemeriksaan kinerja dimaksudkan agar Dengan demikian, luas pemeriksaan yang akan dilakukan
kegiatan yang dibiayai dengan keuangan negara/daerah dapat disesuaikan dan difokuskan pada bidang-bidang yang
diselenggarakan secara ekonomis dan efisien serta secara potensial berdampak pada kewajaran laporan
memenuhi sasarannya secara efektif. keuangan serta tingkat efisiensi dan efektivitas
3. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu adalah pengelolaan keuangan negara.
pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan khusus, di luar
pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja. Termasuk Untuk itu, aparat pengawasan intern pemerintah wajib
dalam pemeriksaan tujuan tertentu ini adalah pemeriksaan menyampaikan hasil pemeriksaannya kepada BPK. Dalam
atas hal-hal lain yang berkaitan dengan keuangan dan hal pemeriksaan dilaksanakan oleh akuntan publik
pemeriksaan investigatif. berdasarkan ketentuan undang-undang, laporan hasil
pemeriksaan tersebut wajib disampaikan kepada BPK dan
Pelaksanaan pemeriksaan sebagaimana dimaksudkan di dipublikasikan. Penyampaian laporan hasil pemeriksaan ini
atas didasarkan pada suatu standar pemeriksaan yang diperlukan agar BPK dapat melakukan evaluasi
disusun oleh BPK dengan mempertimbangkan standar di pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan oleh akuntan
lingkungan profesi audit secara internasional dan publik. Hasil pemeriksaan akuntan publik dan evaluasi
dikonsultasikan dengan pihak pemerintah dan organisasi tersebut selanjutnya disampaikan oleh BPK kepada
profesi di bidang pemeriksaan. lembaga perwakilan, sehingga dapat ditindaklanjuti sesuai
dengan kewenangannya.
PELAKSANAAN PEMERIKSAAN
Dalam melaksanakan tugas pemeriksaan, BPK dapat
1. Kebebasan dan Kemandirian BPK menggunakan pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar
Dalam pasal 6 UU No.15 Tahun 2004 dinyatakan bahwa BPK yang bekerja untuk dan atas nama BPK. Penggunaan
penentuan objek pemeriksaan, perencanaan dan pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar BPK dilakukan
pelaksanaan pemeriksaan, serta penyusunan dan apabila BPK tidak memiliki/tidak cukup memiliki pemeriksa
penyajian laporan pemeriksaan dilakukan secara bebas dan dan tenaga ahli yang diperlukan dalam suatu pemeriksaan.
mandiri oleh BPK. Hal itu berarti BPK memiliki kebebasan Yang dimaksud pemeriksa dan/atau tenaga ahli dalam
dan kemandirian dalam ketiga tahap pemeriksaan, yakni bidang tertentu dari luar BPK, adalah pemeriksa
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil dilingkungan aparat pengawasan intern pemerintah,
pemeriksaan. pemeriksa dan/atau tenaga ahli lain yang memenuhi
persyaratan yang ditentukan oleh BPK. Penggunaan
Kebebasan dalam tahap perencanaan mencakup pemeriksa yang berasal dari aparat pengawasan intern
kebebasan dalam menentukan objek yang akan diperiksa, pemerintah dilakukan dengan penugasan dari pimpinan
kecuali pemeriksaan yang objeknya telah diatur tersendiri instansi yang bersangkutan
dalam undang-undang, atau pemeriksaan berdasarkan
permintaan khusus dari lembaga perwakilan. Untuk 2. Kewenangan Pemeriksa BPK
mewujudkan perencanaan yang komprehensif, BPK dapat Dalam pelaksanaan tugas pemeriksaan, pemeriksa BPK
melaksanakan hal berikut. memiliki wewenang sebagai berikut.
a. Memanfaatkan hasil pemeriksaan aparat pengawasan a. Meminta dokumen yang wajib disampaikan oleh pejabat
intern pemerintah, memperhatikan masukan dari pihak atau pihak lain yang berkaitan dengan pelaksanaan
lembaga perwakilan, serta informasi dari berbagai pihak. pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
b. Mempertimbangkan informasi dari pemerintah, bank negara.
sentral, dan masyarakat. Informasi dari pemerintah b. Mengakses semua data yang disimpan di berbagai
termasuk dari lembaga independen yang dibentuk dalam media, aset, lokasi, dan segala jenis barang atau dokumen,
upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme, yang dikuasai atau dikendalikan oleh entitas yang menjadi
seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi objek pemeriksaan atau entitas lain yang dipandang perlu
Pengawasan Persaingan Usaha, dan Pusat Pelaporan dan dalam pelaksanaan tugas pemeriksaannya.
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Informasi dari c. Melakukan penyegelan tempat penyimpanan uang,
masyarakat dapat berasal dari hasil penelitian dan barang, dan dokumen pengelolaan keuangan negara

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1241
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

. keuangan akan menghasilkan opini, pemeriksaan kinerja


Penyegelan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh akan menghasilkan temuan, simpulan, dan rekomendasi,
pemeriksa sebagai salah satu bagian dari prosedur sedangkan pemeriksaan dengan tujuan tertentu akan
pemeriksaan. Penyegelan dilakukan paling lama 2 x 24 jam menghasilkan simpulan. Setiap laporan hasil pemeriksaan
dengan memperhatikan kelancaran pelaksanaan BPK disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan
pekerjaan/pelayanan di tempat yang diperiksa. Penyegelan kewenangannya untuk ditindaklanjuti, antara lain dengan
hanya dilakukan apabila pemeriksaan atas persediaan membahasnya bersama pihak terkait. Selain disampaikan
uang, barang, dan/atau dokumen pengelolaan keuangan kepada lembaga perwakilan, laporan hasil pemeriksaan
negara terpaksa ditunda karena sesuatu hal. Penyegelan juga disampaikan oleh BPK kepada pemerintah untuk
dilakukan dimintakan tanggapan dan penyesuaian/koreksi.
untuk mengamankan uang, barang, dan/atau dokumen
pengelolaan keuangan negara dari kemungkinan usaha Dalam hal laporan hasil pemeriksaan keuangan oleh BPK
pemalsuan, perubahan, pemusnahan, atau penggantian digunakan oleh pemerintah untuk melakukan koreksi dan
pada saat pemeriksaan berlangsung. penyesuaian yang diperlukan, laporan keuangan yang telah
diperiksa (audited financial statements) memuat koreksi
d. Meminta keterangan kepada seseorang. Permintaan dimaksud sebelum disampaikan kepada DPR/DPRD.
keterangan dilakukan oleh pemeriksa untuk memperoleh, Pemerintah diberi kesempatan untuk menanggapi temuan
melengkapi, dan/atau meyakini informasi yang dibutuhkan dan simpulan yang dikemukakan dalam laporan hasil
dalam kaitan dengan pemeriksaan. Yang dimaksud dengan pemeriksaan. Tanggapan tersebut disertakan dalam
seseorang adalah perseorangan atau badan hukum. laporan hasil pemeriksaan BPK yang disampaikan kepada
e. Memotret, merekam, dan/atau mengambil sampel DPR/DPRD. Apabila pemeriksa menemukan unsur pidana,
sebagai alat bantu pemeriksaan. BPK wajib menindaklanjutinya dengan melaporkan kepada
instansi yang berwenang (kepolisian, kejaksaan, KPK, dan
Kegiatan pemotretan, perekaman, dan/atau pengambilan sebagainya).
sampel (contoh) fisik objek yang dilakukan oleh pemeriksa
bertujuan untuk memperkuat dan/atau melengkapi BPK diharuskan menyusun ikhtisar hasil pemeriksaan yang
informasi yang berkaitan dengan pemeriksaan. Dalam dilakukan selama satu semester. Ikhtisar dimaksud
rangka meminta keterangan, BPK dapat melakukan disampaikan kepada DPR/DPD/DPRD sesuai dengan
pemanggilan kepada seseorang yang tata cara kewenangannya, dan kepada presiden serta
pemanggilannya ditetapkan oleh BPK setelah berkonsultasi gubernur/bupati/walikota yang bersangkutan agar
dengan pemerintah. memperoleh informasi secara menyeluruh tentang hasil
pemeriksaan. Dalam rangka transparansi dan peningkatan
3. Pengujian dan Penilaian atas Pelaksanaan Sistem partisipasi publik, undang-undang ini menetapkan bahwa
Pengendalian Intern Pemerintah setiap laporan hasil pemeriksaan yang sudah disampaikan
Dalam rangka pemeriksaan keuangan dan/atau kinerja, kepada lembaga perwakilan dinyatakan terbuka untuk
pemeriksa melakukan pengujian dan penilaian atas umum. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh
pelaksanaan sistem pengendalian intern pemerintah. kesempatan untuk mengetahui hasil pemeriksaan, antara
Dalam pengujian dan penilaian tersebut, termasuk lain melalui publikasi dan situs web BPK. Selanjutnya,
pelaksanaan sistem kendali mutu dan hasil pemeriksaan pemerintah diwajibkan untuk menindaklanjuti
aparat pemeriksa intern pemerintah. Dengan pengujian rekomendasi BPK. Sehubungan dengan itu, BPK perlu
dan penilaian tersebut, BPK dapat dan efektivitas memantau dan menginformasikan hasil pemantauan atas
pelaksanaan pemeriksaan. Hasil pengujian dan penilaian tindak lanjut tersebut kepada DPR/DPD/DPRD.
tersebut menjadi masukan bagi pemerintah untuk
memperbaiki pelaksanaan sistem pengendalian dan kinerja 2. Laporan Hasil Audit
pemeriksaan internal. Pemeriksa menyusun laporan hasil pemeriksaan setelah
pemeriksaan selesai dilakukan. Dalam hal diperlukan,
4. Pemeriksaan Investigatif pemeriksa dapat menyusun laporan interim pemeriksaan
Pemeriksa dapat melaksanakan pemeriksaan investigatif yaitu laporan yang dibuat dan diterbitkan oleh pemeriksa
guna mengungkap adanya indikasi kerugian negara/daerah sebelum pelaksanaan pemeriksaan selesai secara
dan/atau unsur pidana. Apabila dalam pemeriksaan keseluruhan dengan tujuan untuk segera dilakukan
ditemukan unsur pidana, BPK segera melaporkan hal tindakan
tersebut kepada instansi yang berwenang sesuai dengan pengamanan dan/atau pencegahan bertambahnya
ketentuan peraturan perundang-undangan dengan tata kerugian. Sesuai dengan jenis pemeriksaannya, isi laporan
cara penyampaian laporan yang diatur bersama oleh BPK hasil pemeriksaan juga berbeda. Laporan hasil
dan Pemerintah (pasal 13 UU No.15 Tahun 2004). pemeriksaan keuangan pemerintah memuat opini; laporan
hasil pemeriksaan atas kinerja memuat temuan,
kesimpulan, dan rekomendasi, sedangkan laporan hasil
pemeriksaan dengan tujuan tertentu memuat kesimpulan.

HASIL PEMERIKSAAN DAN TINDAK LANJUT Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa
mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan
1. Hasil Pemeriksaan dalam laporan keuangan, yang didasarkan pada kriteria:
Hasil setiap pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK disusun
dan disajikan dalam laporan hasil pemeriksaan (LHP) a. kesesuaian dengan Standar Akuntansi
segera setelah kegiatan pemeriksaan selesai. Pemeriksaan Pemerintahan,

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1242
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

b. kecukupan pengungkapan (adequate disclosures),


c. kepatuhan terhadap peraturan perundang- BPK memberitahukan hasil pemantauan tindak lanjut
undangan, kepada lembaga perwakilan dalam hasil pemeriksaan
d. efektivitas sistem pengendalian internal. semester. Selanjutnya, lembaga perwakilan
menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK dengan melakukan
Terdapat empat jenis opini yang dapat diberikan oleh pembahasan sesuai dengan kewenangannya. Apabila
pemeriksa, yaitu: terdapat ketidakjelasan dan/atau keraguan, DPR/DPRD
meminta penjelasan kepada BPK dalam rangka
a. opini wajar tanpa pengecualian (unqualified menindaklanjuti hasil
opinion), pemeriksaan. DPR/DPRD juga dapat meminta BPK untuk
b. opini wajar dengan pengecualian (qualified melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap hal-hal yang
opinion), berkaitan dengan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan
c. opini tidak wajar (adversed opinion), pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Disamping itu,
d. pernyataan menolak memberikan opini (disclaimer DPR/DPRD juga dapat meminta pemerintah untuk
of opinion). melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan BPK.
Tanggapan pejabat pemerintah yang bertanggung jawab
atas temuan, simpulan, dan rekomendasi pemeriksa, PERTEMUAN 12
dimuat atau dilampirkan pada laporan hasil pemeriksaan.
LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK
3. Pengiriman Laporan
Laporan hasil pemeriksaan keuangan pemerintah
pusat/daerah, pemeriksaan kinerja dan pemeriksaan
dengan tujuan tertentu, disampaikan oleh BPK kepada LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK
DPR/DPRD/DPD dan presiden/ gubernur/bupati/walikota Hasil pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan oleh
sesuai dengan kewenangannya. Khusus laporan hasil pemeriksa dituangkan secara tertulis ke dalam suatu
pemeriksaan keuangan pemerintah pusat/daerah harus bentuk laporan yang disebut dengan Laporan Hasil
disampaikan selambat-lambatnya dua bulan setelah Pemeriksaan (LHP). LHP merupakan bukti penyelesaian
menerima laporan keuangan dari pemerintah penugasan bagi pemeriksa yang dibuat dan disampaikan
pusat/daerah. kepada Pemberi Tugas, yakni BPK-RI. Laporan tertulis
Di samping itu, BPK juga diwajibkan menyampaikan berfungsi untuk:
Ikhtisar
hasil pemeriksaan semester kepada lembaga perwakilan (1) Mengkomunikasikan hasil pemeriksaan kepada pejabat
dan kepada presiden/gubernur/bupati/walikota selambat- pemerintah, yang berwenang berdasarkan peraturan
lambatnya tiga bulan sesudah berakhirnya semester yang perundang-undangan yang berlaku;
bersangkutan. Laporan hasil pemeriksaan yang telah (2) Membuat hasil pemeriksaan terhindar kesalah
disampaikan kepada lembaga perwakilan, dinyatakan pahaman; (3) Membuat hasil pemeriksaan sebagai bahan
terbuka untuk umum, artinya dapat diperoleh dan/atau untuk tindakan perbaikan oleh instansi terkait
diakses oleh masyarakat, kecuali laporan yang memuat (4) Memudahkan tindak lanjut untuk menentukan apakah
rahasia negara yang diatur dalam peraturan perundang- tindakan perbaikan yang semestinya telah dilakukan.
undangan.
Jenis-jenis Laporan Hasil Pemeriksaan
4. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK Dalam pemeriksaan tahunan atas laporan keuangan
Pejabat yang diperiksa wajib menindaklanjuti rekomendasi pemerintah daerah, Badan Pemeriksa Keuangan akan
dalam laporan hasil pemeriksaan BPK, baik berupa menerbitkan laporan hasil pemeriksaan (LHP), yang terdiri
pelaksanaan seluruh atau sebagian dari rekomendasi. dari:
Dalam hal sebagian atau seluruh rekomendasi tidak dapat
dilaksanakan, pejabat wajib memberikan alasan yang sah. a. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Disamping itu, pejabat juga diwajibkan memberikan LHP menyatakan opini BPK-RI atas kewajaran Laporan
jawaban atau penjelasan kepada BPK tentang tindak lanjut Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Opini pemeriksaan
atas rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan BPK terhadap LKPD menggunakan opini standar sesuai
selambatlambatnya 60 hari setelah laporan hasil Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
pemeriksaan diterima. Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan
Negara, yaitu:
BPK memantau pelaksanaan tindak lanjut hasil
pemeriksaannya dan menatausahakan serta 1) Wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion).
menginventarisasi permasalahan, temuan, rekomendasi, Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian menyatakan bahwa
dan/atau tindak lanjut atas rekomendasi dalam laporan laporan keuangan entitas yang diperiksa, menyajikan
hasil pemeriksaan. Selanjutnya, BPK menelaah jawaban secara wajar dalam semua hal yang material, posisi
atau penjelasan yang diterima dari pejabat yang diperiksa keuangan, realisasi anggaran, dan arus kas entitas tertentu
dan/atau atasannya untuk menentukan apakah tindak sesuai dengan standar akuntansi keuangan (SAK) di
lanjut telah dilakukan. Indonesia.
Pejabat yang diketahui tidak melaksanakan kewajiban 2) Wajar dengan pengecualian (qualified opinion).
menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK dapat dikenai Pendapat wajar dengan pengecualian, menyatakan bahwa
sanksi administratif sesuai dengan ketentuan peraturan laporan keuangan entitas yang diperiksa menyajikan secara
perundang-undangan di bidang kepegawaian. wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan,
realisasi anggaran, dan arus kas entitas tersebut sesuai
M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1243
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia, 1) Tidak ada pemisahan tugas yang memadai sesuai
kecuali dampak hal-hal yang berhubungan dengan yang dengan tujuan pengendalian yang layak.
dikecualikan. 2) Tidak ada reviu dan persetujuan yang memadai untuk
3) Pendapat tidak wajar (adverse opinion). Pendapat tidak transaksi, pencatatan akuntansi atau output dari suatu
wajar menyatakan bahwa laporan keuangan entitas yang sistem.
diperiksa tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, 3) Tidak memadainya berbagai persyaratan untuk
realisasi anggaran, dan arus kas entitas tertentu sesuai pengamanan Aset.
dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia. 4) Bukti kelalaian yang mengakibatkan kerugian, kerusakan
4) Menolak memberikan pendapat (disclaimer opinion). atau penggelapan Aset.
Pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan 5) Bukti bahwa suatu sistem gagal menghasilkan output
bahwa pemeriksa tidak memberikan pendapat atas yang lengkap dan cermat sesuai dengan tujuan
laporan keuangan, jika bukti pemeriksaan tidak cukup pengendalian yang ditentukan oleh entitas yang diperiksa,
untuk membuat kesimpulan. karena kesalahan penerapan prosedur pengendalian.
6) Bukti adanya kesengajaan mengabaikan pengendalian
Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan intern oleh orang-orang yang mempunyai wewenang,
Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap laporan keuangan sehingga menyebabkan kegagalan tujuan menyeluruh
Pemerintah Kota/Kabupaten tidak menjamin pejabat sistem tersebut.
daerah itu bebas dari kasus korupsi. Opini WTP hanya 7) Bukti kegagalan untuk menjalankan tugas yang menjadi
penilaian atas baiknya tata kelola keuangan yang dilakukan bagian dari pengendalian intern, seperti tidak dibuatnya
oleh pemprov/pemkot/pemkab. WTP tidak menjamin tidak rekonsiliasi atau pembuatan rekonsiliasi tidak tepat waktu.
ada korupsi. 8) Kelemahan dalam lingkungan pengendalian, seperti
tidak adanya tingkat kesadaran yang memadai tentang
Perkembangan Pemberian Opini BPK 2006-2012 pengendalian dalam organisasi tersebut.
9) Kelemahan yang signifikan dalam desain atau
pelaksanaan pengendalian intern yang dapat
mengakibatkan pelanggaran ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berdampak langsung dan
material atas laporan keuangan.
10) Kegagalan untuk melakukan tindak lanjut dan
membentuk sistem informasi pemantauan tindak lanjut
untuk secara sistematis dan tepat waktu memperbaiki
kekurangan-kekurangan dalam pengendalian intern yang
sebelumnya telah diketahui.
Dalam melaporkan kelemahan pengendalian intern atas
pelaporan keuangan, pemeriksa harus mengidentifikasi
“kondisi yang dapat dilaporkan” yang secara sendiri-sendiri
atau secara kumulatif merupakan kelemahan yang
material. Pemeriksa harus menempatkan temuan tersebut
dalam perspektif yang wajar.
c. Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundangan,
Kecurangan (fraud) dan Ketidakpatutan (abuse)
Standar Pemeriksaan mengharuskan pemeriksa untuk
melaporkan kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan kepada pihak yang
berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di BPK.
Dalam hal pemeriksa menyimpulkan bahwa
ketidakpatuhan atau penyimpangan dari ketentuan
peraturan perundang-undangan telah terjadi atau
kemungkinan telah terjadi, maka BPK harus menanyakan
Sesuai dengan hal di atas, maka selain kesesuaian dengan kepada pihak yang berwenang tersebut dan atau kepada
standar akuntansi pemerintahan dan kecukupan penasihat hukum apakah laporan mengenai adanya
pengungkapan, opini didasarkan pula kepada kepatuhan informasi tertentu tentang penyimpangan dari ketentuan
perundang-undangan dan efektivitas sistem pengendalian peraturan perundang-undangan tersebut akan
intern yang berpengaruh terhadap laporan keuangan. mengganggu suatu proses penyidikan atau proses
Laporan yang memuat kepatuhan dan sistem pengendalian peradilan.
intern dapat dilaporkan terpisah.
Apabila laporan hasil pemeriksaan akan mengganggu
b. Laporan Kepatuhan atas Pengendalian Intern proses penyidikan atau peradilan tersebut, BPK harus
Pemeriksa harus melaporkan kelemahan pengendalian membatasi laporannya, misalnya pada hal-hal yang telah
intern atas pelaporan keuangan yang dianggap sebagai diketahui oleh umum (masyarakat). Selain ketiga laporan
“kondisi yang dapat dilaporkan”. Beberapa contoh “kondisi tersebut di atas, BPK dapat menyampaikan laporan
yang dapat dilaporkan” seperti yang dirumuskan dalam tambahan sesuai dengan kebutuhan. Contoh: pemeriksa
SPAP adalah sebagai berikut: dapat menyampaikan hasil transparansi fiskal pada
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1244
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

Langkah-langkah Penyusunan dan Penyampaian Laporan undangan


Hasil Pemeriksaan f. Rekomendasi BPK;
Pelaporan hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan g. Perkembangan Opini Laporan Keuangan Kementerian
meliputi lima langkah, yaitu: Negara/Lembaga (LKKL) lima tahun terakhir
h. Hasil Reviu atas Pelaksanaan Transparansi Fiskal.
1. Penyusunan konsep laporan hasil pemeriksaan. Konsep
laporan hasil pemeriksaan disusun oleh ketua tim 2. Laporan I: Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan
pemeriksa dan disupervisi oleh pengendali teknis. Keuangan
2. Penyampaian konsep laporan hasil pemeriksaan kepada Laporan I memuat:
Pejabat Entitas yang Berwenang. Konsep LHP yang telah a. Hasil pemeriksaan atas laporan keuangan yang memuat
disetujui penanggung jawab harus disampaikan kepada opini BPK;
pimpinan entitas sebelum batas akhir waktu penyampaian b. Gambaran Umum Pemeriksaan yang berisi dasar hukum
Laporan keuangan yang telah diperiksa sesuai ketentuan pemeriksaan, standar pemeriksaan, tujuan pemeriksaan,
yang berlaku bagi entitas. entitas yang diperiksa, lingkup pemeriksaan, sasaran
3. Pembahasan konsep hasil pemeriksaan dengan Pejabat pemeriksaan, metodologi pemeriksaan, jangka waktu
Entitas yang Berwenang. Konsep LHP yang telah disetujui pemeriksaan, batasan pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan
penanggung jawab dibahas bersama dengan pimpinan atas LKKL dan Laporan Keuangan Bendahara Umum Negara
entitas yang diperiksa. (LKBUN)
4. Perolehan surat representasi, dan c. LKPP Tahun 2014.
5. Penyusunan konsep akhir dan penyampaian laporan
hasil pemeriksaan. Langkah ini terdiri dari dua kegiatan, 3. Laporan II: Laporan Hasil Pemeriksaan atas Sistem
yaitu: Pengendalian Intern
(1) Penyusunan konsep akhir LHP Laporan II memuat:
(2) Penyampaian LHP kepada pihak-pihak yang a. Resume Laporan atas SPI; dan
diwajibkan sebagaimana ditetapkan dalam peraturan b. Hasil Pemeriksaan atas SPI.
perundangan.
4. Laporan III: Laporan Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan
Surat Representasi terhadap Peraturan Perundang-undangan
Sesuai SPAP SA Seksi 333 [PSA No.17] Representasi Laporan III memuat:
Manajemen, pemeriksa harus memperoleh surat a. Resume Laporan atas Kepatuhan terhadap Peraturan
representasi yang dilampiri dengan LKPD yang akan Perundang-undangan; dan
disampaikan Kepala Daerah kepada DPRD. Surat b. Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan terhadap Peraturan
representasi tersebut menggambarkan representasi resmi Perundang-undangan.
dan tertulis dari pemerintah daerah atas berbagai
keterangan, data, informasi, dan laporan keuangan yang 5. Laporan IV: Laporan Pemantauan Tindak Lanjut
disampaikan selama proses pemeriksaan berlangsung. Laporan IV memuat:
Surat tersebut merupakan bentuk tanggung jawab a. Resume Pemantauan Tindak Lanjut; dan
pemerintah daerah.Hal tersebut akan mempengaruhi b. Pemantauan Tindak Lanjut atas Rekomendasi Hasil
opini. Pemeriksaan yang Diungkapkan dalam Laporan Hasil
Pemeriksaan LKPP tujuh tahun sebelumnya
Apabila surat representasi dan lampirannya tidak diperoleh
sampai dengan penerbitan laporan hasil pemeriksaan, 6. Laporan Tambahan: Laporan Hasil Reviu atas
ketua tim pemeriksa dan atau pengendali teknis Pelaksanaan Transparansi Fiskal
menyampaikan laporan hasil pemeriksaan dengan opini Laporan tambahan tersebut memuat hasil reviu mengenai
tidak dapat menyatakan pendapat kepada penanggung pemenuhan kriteria-kriteria terkait:
jawab untuk disetujui. Surat tersebut harus ditandatangani a. Pelaporan fiskal;
kepala daerah dan diberi tanggal yang sama dengan b. Perkiraan fiskal dan penganggaran; dan
tanggal pembahasan konsep LHP atau tanggal LHP. c. Analisis dan manajemen risiko fiskal.
SISTEMATIKA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS
LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT
Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP) terdiri dari ringkasan eksekutif, PERTEMUAN 13
empat laporan pokok dan satu laporan tambahan sebagai
berikut. KOMUNIKASI DALAM PEMERIKSAAN KEUANGAN
NEGARA
1. Ringkasan Eksekutif
Ringkasan Eksekutif memuat:
a. Dasar Hukum, Lingkup dan Tanggung Jawab, Tujuan, dan KOMUNIKASI DALAM PEMERIKSAAN
Standar Pemeriksaan; Interaksi antara auditor dengan auditan dan dengan pihak
b. Sistematika Pelaporan; lain memerlukan komunikasi. Oleh karena itu, komunikasi
c. Tindak Lanjut atas Hasil Pemeriksaan Sebelumnya; merupakan salah satu aspek penting dalam pemeriksaan.
d. Opini BPK atas LKPP Tahun 2014; Komunikasi dalam pemeriksaan dimulai dari saat pertama
e. Permasalahan Signifikan dalam LHP Sistem Pengendalian kami mendatangi auditan untuk memperkenalkan diri
Intern (SPI) dan Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang- hingga auditor menyerahkan laporan hasil pemeriksaan,

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1245
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

bahkan diteruskan hingga pemantauan tindak lanjut hasil Pemeriksa dituntut untuk mengadakan hubungan insani
pemeriksaan. dengan auditan. Hubungan insani tersebut ditunjukkan
dengan tidak adanya saling menyakiti tetapi saling
Dengan demikian, sepanjang proses pemeriksaan yang menghargai, tanpa saling merugikan tetapi berusaha untuk
dilakukannya, seorang pemeriksa memerlukan sama-sama merasakan manfaat dari hasil kerjasamanya.
keterampilan berkomunikasi untuk menghasilkan Seorang pemeriksa harus berkomunikasi secara etis,
pemeriksaan yang terbaik. ramah, sopan, menghargai dan menghormati orang lain.
Auditan janganlah dipandang sebagai objek, melainkan
1. Pengertian dan Tujuan Komunikasi Dalam Pemeriksaan sebagai subjek atau individu yang memiliki kepribadian
Komunikasi adalah bagian integral dalam pemeriksaan tersendiri. Dengan diciptakannya hubungan insani oleh
yaitu mulai dari perencanaan penugasan, pelaksanaan pemeriksa, diharapkan pemeriksa dan auditan merasa
pengujian hingga pemantauan tindak lanjut. Komunikasi puas dengan pemeriksaan yang dilakukan dan auditan
dapat didefinisikan sebagai transmisi informasi dan percaya dengan fungsi pemeriksaan.
pemahaman melalui penggunaan simbol-simbol biasa atau
umum. Proses komunikasi merupakan tahap-tahap antara Salah satu persyaratan untuk dapat mempraktikan
komunikator dengan komunikan yang menghasilkan hubungan insani, adalah mengetahui tentang psikologi,
pentransferan dan pemahaman makna. Proses komunikasi khususnya mengenai perilaku seseorang di dalam
meliputi 5 (lima) bagian, yakni: lingkungannya. Beberapa hal penting yang perlu
 sumber komunikasi (komunikator) diperhatikan dalam hubungan psikologis antara pemeriksa
 pesan dengan auditan adalah:
 penerima (komunikan)
 media a. Bahwa setiap manusia pada dasarnya selalu ingin
 efek. diperlakukan secara terhormat dan ingin selalu dihargai.
b. Bahwa manusia itu satu sama lain berbeda.
Penjelasan: c. Bahwa setiap tingkah laku manusia mempunyai tujuan
Komunikator tertentu, misalnya untuk dapat memuaskan kebutuhan-
Orang yang menyampaikan pesan kebutuhannya, walaupun kebutuhan itu tidak selalu
merupakan hal yang harus diperoleh, tetapi sesuatu yang
Pesan mereka inginkan. Dalam hal ini seorang pemeriksa yang
Dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, baik akan selalu berusaha untuk mengetahui kebutuhan-
himbauan dan anjuran dengan bantuan bahasa, gerak- kebutuhan apa saja yang diingini auditan, supaya dapat
gerik, ekspresi wajah, gambar, warna dan isyarat lainnya. memberikan motivasi yang tepat untuk bisa bekerjasama
d. Bahwa setiap orang mempunyai keinginan untuk dapat
Komunikan memilih serta bekerja sesuai dengan kehendaknya serta
Orang yang menerima pesan perasaannya.

Media 3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi dalam


Sarana atau saluran yang mendukung pesan bila Pemeriksaan
komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya. Dalam praktik banyak faktor yang mempengaruhi
hubungan (komunikasi) antara pemeriksa dan auditi yang
Efek dapat dikelompokkan dalam:
Dampak sebagai pengaruh dari pesan.
a. Peran.
Dengan menerapkan keterampilan berkomunikasi, Sesuai dengan fungsinya, pemeriksa mempunyai
pelaksanaan pemeriksaan akan berjalan secara efektif kewenangan untuk melakukan verifikasi atas dokumen,
(dapat mencapai hasil-hasil yang diinginkan) dan efisien wawancara, konfirmasi, inspeksi dan lain-lain terhadap
(proses pemeriksaan berlangsung lancar sehingga sumber auditan. Oleh karena itu auditan mempunyai kewajiban
daya benar-benar digunakan untuk mencapai tujuan untuk memberikan informasi dan melayani pemeriksa
pemeriksaan itu). Komunikasi selama pelaksanaan sehingga situasi ini memberikan keuntungan bagi auditor
pemeriksaan terjadi antara tiga pihak, yaitu: berupa “conformity pressure” kepada auditi.
 komunikasi pemeriksa dengan rekan satu tim
 komunikasi pemeriksa dengan pihak auditi b. Image.
 komunikasi pemeriksa dengan pihak-pihak luar. Image yang positif adalah bahwa seorang pemeriksa harus
jujur, tegas dan menjunjung tinggi kebenaran.
2. Komunikasi Antara Pemeriksa dengan Auditi
Interaksi antara pemeriksa dengan auditan, pada c. Atribut Pribadi.
umumnya terjadi dalam kegiatan-kegiatan tersebut: Pangkat/Jabatan, pendidikan, usia, penampilan,
pengalaman dan prestasi merupakan atribut-atribut
a. Pada saat memperkenalkan diri dan menyerahkan surat pribadi yang dapat memberikan pengaruh positif ataupun
tugas audit negatif dalam hubungan antara pemeriksa dan auditan.
b. Pada saat mengumpulkan informasi umum d. Atribut Organisasi. Atribut organisasi pertama yang
c. Pada saat mengumpulkan bukti-bukti audit dapat memberikan pengaruh adalah kedudukan hirarkis
d. Pada saat akan berhubungan dengan pihak ketiga organisasi. Semakin tinggi kedudukan organisasi
e. Pada saat membicarakan temuan hasil audit pemeriksaan (unit pemeriksa), makin tinggi pula nilai yang
f. Pada saat pemantauan tindak lanjut. diberikan oleh auditan.

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1246
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

e. Perilaku.
Dalam mendapatkan informasi dari auditan maka d. Identifikasi/kuasai seluk-beluk proses operasional
pemeriksa harus memperhatikan faktor perilaku seperti entitas.Pahami dengan baik keseluruhan proses
sopan, halus dalam tutur kata, hormat pada orang lain, operasional organisasi anda. Bila perlu gunakan diagram
sikap rukun, tahu diri, simpatik dan mudah menolong. alir (flow chart) untuk membantu anda dalam memetakan
input–output organisasi anda. Biasanya pemeriksa akan
f. Jenis-jenis Pemeriksaan. betul-betul menanyakan anda tentang ketiga tahapan ini.
General audit akan memberikan respon yang sewajarnya Karena dari situ pemeriksa mengetahui apa yang
dari auditan daripada pemeriksaan khusus yang diarahkan sebetulnya menjadi tugas dan wewenang anda serta
untuk menemukan kecurangan. Pemeriksa seyogyanya dokumen atau prosedur serta rekaman apa yang harusnya
menempatkan auditi sebagai subjek atau rekan kerja untuk anda miliki. Ingat, pemeriksa adalah orang luar organisasi
membangun komunikasi dan suasana psikologis yang baik, yang tidak memahami tugas dan wewenang anda kecuali
sehingga proses pemeriksaan dapat berjalan efektif dan dari apa yang anda utarakan.
efisien
e. Setiap proses memiliki bukti berupa kuitansi, catatan,
g. Temuan Pemeriksaan. laporan, sertifikat dan sebagainya. Persiapkan semua
Apabila selama pemeriksaan pemeriksa menemukan sesuai dengan prosesnya. Pastikan anda memiliki bukti
sesuatu yang dapat mengancam kedudukan auditan maka pelaksanaan untuk setiap proses yang dilakukan. Susun
besar kemungkinan auditan akan bersikap bermusuhan. rekaman tersebut dan letakkan di tempat yang rapi dan
mudah anda cari, karena kemampuan telusur (traceability)
h. Kebijaksanaan Pemerintah. merupakan salah satu tolok ukur dalm pemeriksaan.
Dalam hal ini kebijakan yang menekankan pentingnya
pengawasan melekat dan pengawasan fungsional f. Jawab pertanyaan pemeriksa dengan memberikan fakta
berdampak conformity pressure. dan data, sehingga bagi pemeriksa fakta dan data tersebut
dapat dijadikan dasar untuk memberikan saran perbaikan
i. Suasana Setempat. dan penyempurnaan.
Pemeriksa yang menghadapi auditan di daerah (dimana
kepatuhan terhadap birokrasi masih sangat tinggi) Biasakan untuk menjawab pertanyaan pemeriksa dengan
umumnya akan diterima dan dilayani dengan baik. bukti, bukan sekedar jawaban lisan semata. Artinya, jika
pemeriksa bertanya tentang tugas dan tanggung jawab
4. Kiat-kiat Menghadapi Pemeriksa anda, sangat dianjurkan untuk menjelaskan hal tersebut
Menghadapi pemeriksa jangan menjadi beban, sebab sambil menunjukkan uraian tugas (job description) anda.
mereka pun juga manusia, seorang pekerja yang sedang Hindari asumsi atau jawaban asal-asalan yang membuat
menjalankan tugasnya sebagai pemeriksa. Berikut ini pemeriksa berpikiran Anda bukanlah orang yang jujur.
beberapa kiat menghadapi pemeriksa:
Meskipun demikian, rasanya tidak mungkin jika auditan
a. Pemeriksa adalah tamu organisasi, sambut seperti diperiksa tanpa adanya temuan. Temuan yang perlu anda
laiknya menyambut tamu. Buatlah pemeriksa senyaman hindari adalah temuan yang bersifat signifikan. Adapun
mungkin saat berkunjung. Image anda sebagai tuan rumah temuan minor sebisa mungkin Anda tekan dengan betul-
yang baik akan membekas di benak pemeriksa, sehingga betul memahami dan menerapkan persyaratan yang
awal kebaikan inilah yang akan membuka kebaikan- diminta oleh SPIP. Anggaplah temuan minor dari
kebaikan lainnya. pemeriksa sebagai bahan perbaikan di masa mendatang.
b. Pemeriksa adalah manusia, jadi tidak perlu kita takut 5. Pendekatan Dalam Menyelesaikan Temuan
karenanya. Saat berkenalan atau jeda tanyakan hal-hal Selain kita-kiat umum dalam menghadapi pemeriksa
kecil mengenai pemeriksa seperti tinggal dimana, sebagaimana tersebut diatas, berikut ini kiat-kiat untuk
keluarganya, dan sebagainya untuk mencairkan suasana menyelesaikan temuan. Perlu diketahui bahwa walaupun
dan membuat proses pemeriksaan berjalan dengan lebih seharusnya pemeriksa memiliki karakteristik kualitas yang
santai. tinggi, dalam praktik tidak selalu demikian adanya. Berikut
ini merupakan kondisi yang bisa saja terjadi:
c. Identifikasi kriteria yang akan dijadikan acuan pemeriksa
sehingga wajib diketahui oleh auditan. Kriteria yang a) Pemeriksa juga manusia yang bisa saja salah.
dijadikan acuan pemeriksa dalam pemeriksaan tergantung b) Menurut auditan umumnya pemeriksa dianggap lebih
dari tujuan pemeriksaan. ahli daripada auditan walaupun dalam kenyataannya tidak
selalu demikian.
Dalam pemeriksaan keuangan kriteria tersebut meliputi: c) Temuan kadang tidak didasarkan pada bukti yang kuat,
lengkap dan relevan serta argumentasi logis.
a. Standar akuntansi pemerintahan (SAP) d) Temuan terkadang tidak jelas kriteria yang digunakan.
e) Temuan yang buktinya lemah bisa menjadi fitnah dan
b. Sistem pengendalian intern pemerintahan (SPIP) berpotensi menjadi pembunuhan karakter pihak tertentu.
f) Pemeriksa terkadang memiliki kepentingan finansial
c. Peraturan-peraturan perundangan yang menaungi dan kepada auditan. Misalnya pemeriksa ingin menjual jasa
wajib ditaati oleh entitas yang sedang diperiksa. Pahamilah tertentu kepada auditan dengan menggunakan
dengan baik dokumen-dokumen di atas dan pastikan anda perusahaan lain.
memahami betul standar, prosedur dan peraturan yang g) Pemeriksa memiliki kewenangan yang kuat sehingga
tertuang. pemeriksa terkadang arogan dan tidak mau menerima

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1247
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

kebenaran Dengan demikian penyelesaian temuan terdapat prosedur yang kurang baik dalam pembayaran
sebaiknya harus berhati-hati jangan sampai justru gaji anggota DPRD, maka auditan dapat berjanji bahwa
menimbulkan permasalahan lain yang lebih serius. kejadian tersebut tidak akan diulangi di masa yang akan
Kelemahan mendasar dalam sistem pemeriksaan keuangan datang. Lebih lanjut, pada bulan Desember tahun 2012
oleh BPK adalah tidak terdapatnya mekanisme check and pemegang kas telah menerima SPM Gaji untuk bulan
balance. BPK yang membuat standar pemeriksaan, yang Januari tahun 2013. SPM ini harusnya dicairkan pada tahun
melaksanakan, dan mengawasi pelaksanaan standar 2013. Akan tetapi pemegang kas mencairkannya pada
tersebut. Sehingga jika terjadi perbedaan pendapat antara akhir Desember 2012 dengan alasan bahwa pada tanggal 1
pemeriksa dengan auditan maka kemungkinan besar yang Januari merupakan tahun baru dan bank libur. Tidak ada
dianggap benar adalah pemeriksa. Auditan dapat saja kerugian negara, tetapi gaji ini harus di bebankan pada
mengajukan keberatan kepada struktur internal BPK baik laporan realisasi anggaran pada tahun 2012. Pemeriksa
kepada pengendali teknis, kepada penanggung jawab menemukan kejadian ini dan membuat management letter
maupun Majelis Kehormatan Dewan Etik. bahwa hal tersebut tidak terjadi lagi di masa yang akan
datang.
Seharusnya terdapat dewan kehormatan yang mengawasi
pelaksanaan standar ini berada di luar organisasi BPK yang Contoh lain, misal ditemukan oleh pemeriksa bahwa
merupakan organisasi independen untuk mengawasi pemerintah daerah tidak memiliki Kartu Aset Tetap
pelaksanaan standar dan menjadi organisasi yang dapat sehingga semua aset tetap yang dimiliki tidak tercatat
menyelesaikan perbedaan antara pemeriksa dan auditan. dengan baik. Akibatnya aset tetap tersebut mudah sekali
hilang atau digelapkan. Temuan seperti ini dapat
Beberapa pendekatan dan cara-cara praktis penyelesaian diselesaikan dengan janji melakukan perbaikan atas SPI.
temuan adalah:
c. Perbaikan Atas Temuan Administratif Pelaporan
a. Penjelasan Sebagai Pembelaan Jika temuan pemeriksa merupakan temuan administratif
Temuan material dapat diselesaikan tanpa menjatuhkan misalnya terjadi kesalahan pencatatan dan pelaporan yang
sanksi kepada auditan melalui penjelasan sebagai tidak menimbulkan kerugian negara, maka auditan dapat
pembelaan. Misalnya pemeriksa mendapatkan temuan langsung menerima temuan tersebut jika memang
sementara bahwa saat mobil dinas dicat di bengkel demikian adanya. Temuan seperti ini lazim sekali terjadi
ternyata masih terdapat pengeluaran BBM untuk dalam pemeriksaan keuangan. Misalnya laporan realisasi
kendaraan dinas tersebut. Setelah dilakukan wawancara anggaran satker terjadi kesalahan pencatatan rekening.
diperoleh penjelasan bahwa selama mobil dinas tersebut Biaya foto copy dibebankan ke rekening biaya ATK. Koreksi
dikerjakan proses pengecatannya di bengkel, ternyata oleh semacam ini lazim dan tidak perlu dipermasalahkan selama
pihak bengkel, auditan diberi pinjaman mobil untuk memang ini benar adanya.
kelancaran operasi auditan yang bersangkutan. Oleh
karena itu bukti pendukung berupa surat dan catatan dari d. Penyelesaian di Tempat
bengkel atau atasan langsungnya mengenai peminjaman Jika terdapat kerugian negara misalnya jika kesalahan ini
kendaraan pengganti tersebut dapat menjadi bukti bukan kesengajaan maka auditan dapat melakukan
tambahan bahwa pengeluaran BBM pada masa pembayaran ke kas daerah atau pemerintah pada saat
pengecatan tidaklah mengada-ada. proses pemeriksaan dilakukan. Dengan demikian
pemeriksa dapat mengeluarkan temuan tersebut dari
Contoh lain misalnya kasus temuan berupa pembangunan laporan hasil pemeriksaan. Akan tetapi jika kesalahan ini
gedung kantor ternyata menggunakan atap dari kayu yang mengandung unsur kecurangan maka pemeriksa dapat
masih muda. Sehingga gedung tersebut baru setahun memandang kasus tersebut sebagai kasus korupsi dan
dipakai atapnya sudah hampir patah. Akibatnya biaya terdapat unsur tindak pidana. Hanya saja, beda kesalahan
pemeliharaan gedung pada tahun kedua meningkat. dengan kecurangan adalah tipis. Kecurangan adalah
Pemeriksa melihat hal tersebut sebagai kejanggalan kesalahan yang disengaja dan ada unsur merugikan negara.
sehingga meneliti secara detil dan diketahui bahwa kayu Sedangkan kesalahan adalah hal yang tidak disengaja
untuk atap sebagian ternyata masih merupakan kayu yang mungkin karena auditan tidak memahami peraturan
masih muda. Hal ini terjadi karena pengawas (supervisor) perundangan yang berlaku.
bangunan secara tidak sengaja menerima kayu yang masih
muda tersebut. Tanggung jawab ini tidak hanya terkena
pada supervisor yang bersangkutan saja tetapi secara PERTEMUAN 14
tanggung renteng juga mengenai atasannya kecuali jika
atasan yang bersangkutan telah melakukan pengendalian TINDAK LANJUT ATAS AUDIT KEUANGAN
intern yang cukup. Jika atasan yang bersangkutan misalnya NEGARA
menunjukkan bukti bahwa dia telah membuat kebijakan
pencegahan melalui organisasi, prosedur, pencatatan,
otorisasi dan lain-lain bahwa kayu yang masih muda tidak
boleh diterima maka atasan yang bersangkutan dapat KETENTUAN PIDANA DAN SANKSI ADMINISTRATIF
terbebas dari tanggung renteng. Sebagai konsekuensi dari pertanggungjawaban
pengelolaan
b. Janji Auditi Melakukan Perbaikan keuangan negara, baik dalam UU No. 17 Tahun 2003
Jika temuan yang diajukan oleh pemeriksa menyangkut tentang Keuangan Negara, UU No. 1 Tahun 2004 tentang
perbaikan SPI maka jika auditan meyakini bahwa Perbendaharaan Negara, maupun UU No. 15 Tahun 2004
pemeriksa memang benar dan beralasan kuat maka tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
auditan dapat berjanji melakukan perbaikan. Misalnya jika Keuangan Negara, diatur mengenai ketentuan pidana,
sanksi administratif, dan ganti rugi yang berlaku bagi
M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1248
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

menteri/pimpinan lembaga serta pimpinan unit organisasi kerugian negara, dilaksanakan sesuai dengan
kementerian negara/lembaga yang terbukti melakukan ketentuan peraturan perundangundangan yang ada
penyimpangan kebijakan/kegiatan yang telah ditetapkan sebelum berlakunya UU No. 15 Tahun 2004.
dalam undang-undang.

Hal yang sama juga diberlakukan terhadap para bendahara


yang dalam pengurusan uang/barang yang menjadi PEJABAT YANG BERHAK MENGENAKAN SANKSI
tanggung jawabnya telah melakukan perbuatan melawan Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian negara adalah
hukum yang berakibat merugikan keuangan negara. menteri/pimpinan lembaga, surat keputusan pembebanan
Penyelesaian kerugian negara perlu segera dilakukan untuk penggantian kerugian sementara dimaksud diterbitkan
mengembalikan kekayaan negara yang hilang/berkurang oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
serta meningkatkan disiplin dan tanggung jawab para Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian negara adalah
pegawai negeri/pejabat negara pada umumnya, dan para Menteri Keuangan, surat keputusan pembebanan
pengelola keuangan pada khususnya. penggantian kerugian sementara dimaksud diterbitkan
oleh Presiden.
Sanksi tersebut dimaksudkan sebagai upaya preventif dan
represif, serta berfungsi sebagai jaminan atas ditaatinya Pengenaan ganti kerugian negara terhadap bendahara
undang-undang tentang APBN yang bersangkutan. Dalam ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Apabila dalam
UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, hal pemeriksaan kerugian negara ditemukan unsur pidana,
mengenai ketentuan pidana, sanksi administrasi, dan ganti Badan Pemeriksa Keuangan menindaklanjutinya sesuai
rugi diantaranya diatur dalam pasal 34 dan 35, yaitu: dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu
menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut beserta bukti-
1. Menteri/pimpinan lembaga yang terbukti melakukan buktinya kepada instasi yang berwenang. Pengenaan ganti
penyimpangan kebijakan yang telah ditetapkan dalam kerugian negara terhadap pegawai negeri bukan
undang-undang tentang APBN diancam dengan pidana bendahara ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga.
penjara dan denda sesuai dengan ketentuan undang- Tata cara tuntutan ganti kerugian negara diatur dengan
undang. Kebijakan dimaksud tercermin pada manfaat/hasil peraturan pemerintah.
yang harus dicapai dengan pelaksanaan fungsi dan
program PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA
kementerian negara/lembaga yang bersangkutan. Penyelesaian kerugian negara/daerah dalam UU No. 1
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara diatur dalam
2. Pimpinan unit organisasi kementerian negara/lembaga pasal 59 sampai dengan pasal 67. Materi pokok yang diatur
yang terbukti melakukan penyimpangan kegiatan anggaran dalam ketentuan tersebut adalah sebagai berikut:
yang telah ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN
diancam dengan pidana penjara dan denda sesuai dengan 1. Setiap kerugian negara yang disebabkan oleh tindakan
ketentuan undang-undang. melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera
diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundangan-
3. Presiden memberi sanksi administratif sesuai dengan undangan yang berlaku. Kerugian negara dapat terjadi
ketentuan undang-undang kepada pegawai negeri serta karena pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara
pihak-pihak lain yang tidak memenuhi kewajibannya atau pegawai negeri bukan bendahara dalam rangka
sebagaimana ditentukan dalam undang-undang ini. pelaksanaan kewenangan administratif atau oleh
bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan
4. Setiap pejabat negara dan pegawai negeri bukan kebendaharaan.
bendahara yang melanggar hukum atau melalaikan
kewajibannya baik langsung atau tidak langsung yang 2. Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau
merugikan keuangan negara diwajibkan mengganti pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum
kerugian dimaksud. atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya
secara langsung merugikan keuangan negara wajib
5. Setiap bendahara bertanggung jawab secara pribadi atas mengganti kerugian tersebut. Pejabat lain dimaksud
kerugian keuangan negara yang berada dalam meliputi pejabat negara dan pejabat penyelenggara
pengurusannya. pemerintahan yang tidak berstatus pejabat negara, tidak
termasuk bendahara dan pegawai negeri bukan
Di dalam UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan bendahara.
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara,
ketentuan pidana diatur secara khusus pada pasal 24 3. Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga/kepala
sampai dengan pasal 26 dengan materi pokok sebagai satuan kerja dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi,
berikut: setelah mengetahui bahwa dalam kementerian
negara/lembaga/satuan kerja yang bersangkutan terjadi
a. Tata cara penyelesaian ganti kerugian negara kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun.
selambat-lambatnya satu tahun setelah berlakunya
UU No. 15 Tahun 2004. Tata cara pengenaan ganti rugi berbeda antara pegawai
b. Penyelesaian ganti kerugian negara/daerah yang negeri bukan bendahara dengan bendahara, sebagaimana
sedang dilakukan oleh BPK dan/atau Pemerintah diuraikan sebagai berikut.
pada saat UU No. 15 Tahun 2004 mulai berlaku dan
belum ditetapkannya tata cara penyelesaian ganti 1. Pengenaan Ganti Rugi Terhadap Pegawai Negeri Bukan

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1249
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

Bendahara Pembelaan diri ditolak oleh BPK apabila bendahara tidak


Pengenaan ganti rugi terhadap pegawai negeri bukan dapat membuktikan bahwa dirinya bebas dari kesalahan,
bendahara ditetapkan oleh menteri/pimpinan kelalaian, atau kealpaan.
lembaga/gubernur/ bupati/walikota. Tata cara tuntutan d. Tata cara penyelesaian ganti kerugian negara/daerah
ganti kerugian negara/daerah diatur dengan peraturan terhadap bendahara ditetapkan oleh BPK setelah
pemerintah, yang sampai saat modul ini selesai disusun berkonsultasi dengan pemerintah.
peraturan pemerintah tersebut belum ada. Pokok-pokok e. Tata cara penyelesaian ganti kerugian sebagaimana
yang telah diatur dalam UU No. 1 Tahun 2004 adalah dimaksud pada huruf d di atas berlaku pula bagi pengelola
sebagai berikut: perusahaan umum dan perusahaan perseroan yang
seluruh atau paling sedikit 51% sahamnya dimiliki oleh
a. Setiap kerugian negara wajib dilaporkan oleh atasan Negara Republik Indonesia, sepanjang tidak diatur dalam
langsung atau kepala kantor kepada menteri/pimpinan undang-undang tersendiri.
lembaga dan diberitahukan kepada BPK selambat- f. Menteri /pimpinan lembaga /gubernur /bupati /walikota
lambatnya tujuh hari kerja setelah kerugian negara itu /direksi perusahaan negara dan badan-badan lain yang
diketahui. mengelola keuangan negara melaporkan penyelesaian
b. Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui, kerugian negara/daerah kepada BPK selambat-lambatnya
kepada bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau 60 (enam puluh) hari setelah diketahui terjadinya kerugian
pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau negara/daerah dimaksud.
melalaikan kewajibannya, segera dimintakan surat g. BPK memantau penyelesaian pengenaan ganti kerugian
pernyataan kesanggupan dan atau pengakuan bahwa negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara
kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan dan/atau pejabat lain pada kementerian
bersedia mengganti kerugian negara dimaksud. Surat negara/lembaga/pemerintah daerah.
pernyataan tersebut biasa disebut Surat Pernyataan
Tanggung Jawab Mutlak atau SKTM. KETENTUAN LAIN YANG BERKAITAN PENGENAAN GANTI
c. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak tidak KERUGIAN NEGARA
mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin Di samping ketentuan-ketentuan pokok tersebut di atas,
pengembalian kerugian negara, menteri/pimpinan ada beberapa ketentuan lain yang berlaku umum baik
lembaga yang bersangkutan segera menetapkan Surat untuk pengenaan ganti kerugian negara bagi pejabat
Keputusan Pembebanan Penggantian Kerugian Sementara negara dan pegawai negeri bukan bendahara, maupun
yang ditujukan kepada yang bersangkutan. Surat untuk bendahara/pengelola perbendaharaan negara, yaitu
keputusan dimaksud mempunyai kekuatan hukum untuk sebagai berikut:
pelaksanaan sita jaminan (conservatoir beslaag).
1. Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, dan
2. Pengenaan Ganti Rugi terhadap Bendahara pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti
Dalam UU No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan kerugian negara dapat dikenai sanksi administratif dan
Negara pasal 62 dinyatakan bahwa pengenaan ganti atau sanksi pidana. Putusan pidana tidak membebaskan
kerugian negara/daerah terhadap bendahara ditetapkan dari tuntutan ganti rugi.
oleh BPK dan apabila dalam pemeriksaan tersebut 2. Kewajiban bendahara, pegawai negeri bukan bendahara,
ditemukan unsur pidana, BPK menindaklanjutinya sesuai atau pejabat lain untuk membayar ganti rugi, menjadi
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, kedaluwarsa jika dalam waktu lima tahun sejak
yaitu menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut beserta diketahuinya kerugian tersebut atau dalam waktu delapan
bukti-buktinya kepada instansi yang berwenang. tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan
penuntutan
Ketentuan lebih lanjut mengenai pengenaan ganti kerugian ganti rugi terhadap yang bersangkutan.
negara terhadap bendahara diatur dalam UU No. 15 Tahun 3. Dalam hal bendahara, pegawai negeri bukan bendahara,
2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung atau pejabat lain yang dikenai tuntutan ganti kerugian
Jawab Keuangan Negara pasal 22 dan pasal 23, dengan negara berada dalam pengampuan, melarikan diri, atau
uraian sebagai berikut: meninggal dunia, penuntutan dan penagihan terhadapnya
beralih kepada pengampu yang memperoleh hak/ahli
a. BPK menerbitkan surat keputusan penetapan batas waris, terbatas pada kekayaan yang dikelola atau
waktu pertanggungjawaban bendahara atas kekurangan diperolehnya, yang berasal dari bendahara, pegawai negeri
kas/barang yang terjadi, setelah mengetahui ada bukan bendahara, atau pejabat lain yang bersangkutan.
kekurangan kas/barang dalam persediaan yang merugikan 4. Tanggung jawab pengampu yang memperoleh hak/ahli
keuangan negara/daerah. Surat keputusan dimaksud waris untuk membayar ganti kerugian negara dimaksud
diterbitkan apabila belum ada penyelesaian yang dilakukan menjadi hapus apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak
sesuai dengan tata cara penyelesaian ganti kerugian keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan
negara yang ditetapkan oleh BPK. kepada bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau
b. Bendahara dapat mengajukan keberatan atau pejabat lain yang bersangkutan, atau sejak bendahara,
pembelaan diri kepada BPK dalam waktu 14 hari kerja pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang
setelah menerima surat keputusan sebagaimana dimaksud bersangkutan diketahui melarikan diri atau meninggal
pada huruf a di atas. dunia, pengampu/yang memperoleh hak/ahli waris tidak
c. Apabila bendahara tidak mengajukan keberatan atau diberi tahu oleh pejabat yang berwenang mengenai
pembelaan dirinya ditolak, BPK menetapkan surat adanya kerugian negara.
keputusan pembebanan penggantian kerugian 5. Ketentuan penyelesaian kerugian negara sebagaimana
negara/daerah kepada bendahara bersangkutan. diatur dalam ketiga paket undang-undang ini berlaku pula
untuk uang dan/atau barang bukan milik negara, yang

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1250
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

berada dalam penguasaan bendahara, pegawai negeri


bukan bendahara, atau pejabat lain yang digunakan dalam CONTOH LAPORAN HASIL
penyelenggaraan tugas pemerintahan.
6. Ketentuan penyelesaian kerugian negara dalam undang- PEMERIKSAAN BPK RI
undang ini berlaku pula untuk pengelola perusahaan
negara dan badan-badan lain yang menyelenggarakan
pengelolaan keuangan negara, sepanjang tidak diatur LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI ATAS LAPORAN
dalam undang-undang tersendiri. KEUANGAN PEMERINTAH PUSAT TAHUN 2014
7. Pengenaan ganti kerugian negara terhadap pengelolaan
perusahaan umum dan perusahaan perseroan yang
seluruh atau paling sedikit 51% sahamnya dimiliki oleh 01 Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun
negara Republik Indonesia ditetapkan oleh BPK, sepanjang 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
tidak diatur dalam undang-undang tersendiri Jawab Keuangan Negara dan UU Nomor 15 Tahun 2006
. tentang Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pemeriksa
PERLAKUAN TERHADAP PEJABAT YANG TERLIBAT Keuangan (BPK) telah memeriksa Neraca Pemerintah Pusat
KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME (KKN) tanggal 31 Desember 2014 dan 2013, Laporan Realisasi
Dalam rangka percepatan pemberantasan korupsi, Menteri Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara telah Laporan Arus Kas (LAK) untuk tahun yang berakhir pada
mengeluarkan Surat Edaran Nomor :SE/03/M.PAN/4/2007 tanggal-tanggal
tanggal 18 April 2007 tentang Perlakuan Terhadap Pejabat tersebut, serta Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
yang Terlibat Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Surat Laporan keuangan adalah tanggung jawab Pemerintah.
Edaran tersebut ditujukan kepada para Menteri Kabinet Tanggung jawab BPK terletak pada pernyataan opini atas
Indonesia Bersatu, Panglima TNI, Jaksa Agung, Kepala laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang telah
POLRI, para Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen, dilakukan.
para Pimpinan Sekretariat Lembaga Tinggi Negara, para
Pimpinan Sekretariat Dewan/Komisi/Badan, para 02 Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf 05 s.d. 08
Gubernur, dan para Bupati/Walikota. berikut ini, BPK melaksanakan pemeriksaan berdasarkan
Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Standar
Melalui Surat Edaran tersebut, Menpan mengharapkan tersebut mengharuskan BPK merencanakan dan
perhatian dan bantuan dari pihak-pihak yang disebutkan di melaksanakanpemeriksaan agar memperoleh keyakinan
atas agar meningkatkan kerja sama dan dukungan upaya- memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji
upaya penanganan perkara korupsi yang dilakukan oleh material. Suatu pemeriksaan meliputi pengujian bukti-
aparat penegak hukum. Kerja sama dan dukungan tersebut bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan
dilakukan melalui mekanisme sebagai berikut: dalam laporan keuangan. Pemeriksaan juga meliputi
penilaian atas penerapan prinsip akuntansi yang digunakan
a. Segera memberikan ijin pemeriksaan terhadap pejabat dan estimasi signifikan yang dibuat oleh Pemerintah Pusat,
atau pegawai baik sebagai saksi atau sebagai tersangka, penilaian atas kepatuhan terhadap peraturan perundang-
jika memang ijin tersebut diperlukan sesuai peraturan undangan, penilaian atas sistem pengendalian intern yang
perundang-undangan. berdampak material terhadap laporan keuangan, serta
b. Memberhentikan sementara dari jabatannya, terhadap penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara
pejabat yang terlibat perkara korupsi, berstatus sebagai keseluruhan. BPK yakin bahwa pemeriksaan tersebut
tersangka/terdakwa, dan dilakukan penahanan oleh aparat memberikan dasar memadai untuk menyatakan opini.
penegak hukum, sampai dengan adanya keputusan yang
mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht) dari 03 Dalam Laporan BPK Nomor 69a/LHP/XV/05/2014
pengadilan atau resmi dinyatakan dihentikan proses tanggal 28 Mei 2014, BPK memberikan opini Wajar Dengan
hukumnya oleh aparat penegak hukum. Pengecualian (WDP) atas LKPP Tahun 2013 karena:
c. Menjatuhkan sanksi administratif sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang (1) piutang over lifting sebesar Rp3,81 triliun tidak
Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil terhadap sepenuhnya menggambarkan hak negara yang akan
pejabat/pegawai yang telah mendapatkan vonis bersalah diterima pada periode berikutnya;
dari pengadilan atau jika terbukti adanya pelanggaran (2) piutang penjualan minyak dan gas bumi (migas)
disiplin pegawai negeri sipil, meskipun pejabat/pegawai bagian negara sebesar Rp2,46 triliun mengandung
tersebut mendapatkan vonis bebas dari pengadilan. ketidakpastian; (3) Pemerintah belum selesai
d. Memulihkan nama baik dan dapat menempatkan menelusuri Aset Kredit Eks Badan Penyehatan
kembali pada jabatan yang semestinya terhadap Perbankan Nasional (BPPN) sebesar Rp3,06 triliun
pejabat/pegawai yang tidak terbukti melakukan tindak (4) Pemerintah belum mengakui piutang atas saldo
pidana korupsi dan tidak terdapat pelanggaran terhadap Dana Belanja Pensiun sebesar Rp302,06 miliar yang
disiplin pegawai negeri sipil. belum disetorkan kembali karena lebih dari 6 bulan
e. Menyampaikan laporan setiap semester kepada Menpan berturut-turut tidak diambil oleh penerima pensiun
tentang namanama pejabat/pegawai yang terlibat kasus (5) Pemerintah belum menyelesaikan permasalahan
korupsi dengan status hukumnya Suspen Belanja Negara yaitu selisih lebih pengakuan
belanja oleh Bendahara Umum Negara (BUN) dengan
Kementerian/Lembaga (KL) sebesar Rp140,40 miliar
(6) Pemerintah tidak dapat memberikan penjelasan
yang memadai atas pencatatan fisik kas yang
merupakan bagian fisik Saldo Anggaran Lebih (SAL)

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1251
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

antara lain terkait dengan permasalahan selisih dan Informatika sebesar Rp1,12 triliun tidak dapat
ketidakkonsistenan pencatatan Kas di Bendahara direkonsiliasi dengan nilai prestasi kerjanya dan tidak
Pengeluaran dan Kas Hibah Langsung KL serta selisih didukung dengan parameter perhitungan yang jelas atas
kiriman uang. nilai prestasi kerja penyedia jasa
(2) Utang kepada Pihak Ketiga pada Lembaga Penyiaran
04 Pemerintah telah menindaklanjuti masalah tersebut Publik Televisi Republik Indonesia sebesar Rp59,12
dengan melakukan upaya perbaikan yaitu: miliar tanpa dokumen pendukung yang lengkap
(3) Utang kepada Pihak Ketiga berupa jaminan
(1) mengungkapkan secara memadai terkait piutang pelaksanaan pembangunan sebesar Rp23,33 miliar pada
over lifting yang tidak sepenuhnya menggambarkan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan
hak negara dalam LKPP Tahun 2014 Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam), yang dananya
(2) melakukan upaya penagihan, verifikasi dan koreksi tersimpan pada rekening bank atas nama BP Batam,
untuk menghapus pencatatan piutang yang masih tidak dapat dipastikan nilai yang seharusnya masih
mengandung ketidakpastian tercatat sebagai utang.
(3) melakukan pemetaan dan penelusuran
keberadaan Aset Kredit Eks BPPN Data yang tersedia tidak memungkinkan BPK
(4) melakukan verifikasi kepada pensiunan atas saldo melaksanakan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk
uang pensiun yang masih menjadi hak pensiunan memperoleh keyakinan mengenai nilai yang
sebagai dasar pengakuan piutang mencerminkan kewajiban Pemerintah kepada pihak ketiga
(5) melakukan beberapa langkah mitigasi untuk tersebut.
memperkecil selisih pengakuan belanja antara BUN
dengan KL dalam rekonsiliasi pencatatan dengan 07 Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan C.2.48 atas
melakukan koreksi di tingkat pusat, membuat aplikasi laporan keuangan, Pemerintah mengungkapkan SAL
koreksi dan membuat reklasifikasi pengembalian setelah penyesuaian per 31 Desember 2014 sebesar
belanja yang tidak diakui KL menjadi Penerimaan Rp86,13 triliun. SAL per 31 Desember 2014 tersebut terdiri
Negara Bukan Pajak (PNBP) BUN dari SAL Awal Setelah Penyesuaian sebesar Rp66,59 triliun
(6) menyusun mekanisme yang dapat menjamin dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) setelah
validitas dan menjelaskan perbedaan catatan dan fisik penyesuaian sebesar Rp19,53 triliun. Nilai Catatan SAL per
SAL. Tindak lanjut pemerintah tersebut belum 31 Desember 2014 tersebut sama dengan nilai fisik SAL,
sepenuhnya efektif untuk menyelesaikan namun terdapat permasalahan pada transaksi dan/atau
permasalahan terkait suspen serta selisih catatan dan saldo yang membentuk SAL sehingga penyajian catatan
fisik SAL sehingga permasalahan tersebut masih dan fisik SAL tersebut tidak akurat, yaitu:
terjadi pada Pemeriksaan LKPP Tahun 2014.
(1) Pemerintah belum memiliki metode perhitungan SAL
05 Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan C.2.30 atas yang menjamin saling uji antara catatan dan fisik SAL
laporan keuangan, Pemerintah mengungkapkan saldo Aset dilaksanakan secara menyeluruh dan konsisten
Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) per 31 Desember (2) proses rekonsiliasi antara BUN dan KL atas saldo akun
2014 dan 31 Desember 2013 masing-masing sebesar yang berpengaruh terhadap catatan dan fisik SAL tidak
Rp286,08 triliun dan Rp221,74 triliun. Pada Tahun 2014 efektif sehingga masih ada suspen belanja karena KL
terdapat pencatatan mutasi Aset KKKS senilai Rp2,78 triliun mencatat belanja lebih besar senilai Rp654,75 miliar dan
yang tidak dapat dijelaskan. Kondisi tersebut terjadi karena suspen belanja karena BUN mencatat belanja lebih besar
pencatatan dan pelaporan Aset KKKS belum didukung oleh senilai Rp557,36 miliar, serta masih ada perbedaan saldo
sistem pengendalian yang memadai yang dapat menjamin Kas Hibah Langsung KL sebesar Rp110,20 miliar, Kas pada
keakuratan dan kelengkapan transaksi. Data yang tersedia BLU sebesar Rp69,17 miliar, dan Kas di Bendahara
tidak memungkinkan BPK melaksanakan prosedur Pengeluaran sebesar Rp2,72 miliar antara LKPP yang
pemeriksaan yang memadai untuk menilai kemungkinan disusun berdasarkan konsolidasi data KL dengan LKBUN
dampak salah saji atas pencatatan mutasi Aset KKKS yang yang disusun berdasarkan konsolidasi data Kantor
tidak dapat dijelaskan tersebut. Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
(3) usulan koreksi dari Pemerintah sebesar Rp2,40 triliun
06 Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan C.2.34 atas atas LKPP Tahun 2014 Unaudited yang membentuk catatan
laporan keuangan, Pemerintah mengungkapkan saldo dan fisik SAL pada LKPP Tahun 2014 Audited tidak
Utang kepada Pihak Ketiga per 31 Desember 2014 dan 31 didukung dengan dokumen dan penjelasan tertulis yang
Desember 2013 masing-masing sebesar Rp37,98 triliun dan mendasari
Rp55,38 triliun. Utang kepada Pihak Ketiga per 31 Perubahan
Desember 2014 tersebut di antaranya merupakan Utang (4) saldo Kas Dalam Transito yang menjadi bagian dari fisik
kepada Pihak Ketiga yang berada di KL sebesar Rp17,49 SAL belum dapat diyakini kewajarannya karena adanya
triliun. Terdapat permasalahan Utang kepada Pihak Ketiga transaksi kiriman uang senilai Rp3,32 triliun yang tidak
di tiga KL sebesar Rp1,21 triliun yang tidak dapat ditelusuri dapat ditelusuri
dan tidak didukung dokumen yang memadai, BPK LHP – (5) terdapat penyesuaian catatan SAL sebesar Rp7,38
LKPP Tahun 2014 yaitu: miliar yang tidak didukung dengan dokumen sumber
(6) catatan Kas di beberapa KPPN menunjukkan selisih
(1) Utang kepada Pihak Ketiga terkait pekerjaan jasa lebih senilai Rp4,77 miliar dan selisih kurang Rp3,35 miliar
penyediaan layanan Kewajiban Pelayanan dibandingkan dengan saldo rekening koran yang tidak
Universal/Universal Service Obligation pada Balai dapat
Penyedia dan Pengelola Pembiayaan Telekomunikasi Dijelaskan
dan Informatika (BP3TI) Kementerian Komunikasi dan (7) retur belanja yang diterima kembali di Kas Negara dan

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1252
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

dicatat sebagai Utang kepada Pihak Ketiga sebesar


Rp404,62 miliar tidak memiliki daftar rincian. Data yang
tersedia tidak memungkinkan BPK melaksanakan prosedur
pemeriksaan yang memadai untuk menilai kemungkinan
dampak permasalahanpermasalahan tersebut terhadap
salah saji SAL.
08 Sebagaimana diungkapkan dalam Catatan C.2.34 atas
laporan keuangan, Pemerintah mengungkapkan saldo
Utang kepada Pihak Ketiga per 31 Desember 2014 dan
2013 masing-masing sebesar Rp37,98 triliun dan Rp55,38
triliun. Selain itu, pada Catatan C.3 angka 12 Pemerintah
mengungkapkan adanya Kewajiban Kontinjensi terkait
tuntutan hukum kepada Pemerintah berupa putusan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap
(inkracht) pada dua KL sebesar Rp171,75 miliar. Untuk
menyelesaikan kewajiban yang timbul sehubungan dengan
putusan pengadilan yang inkracht, UU APBN-P Tahun 2014
memperbolehkan pergeseran anggaran belanja KL. SOAL-SOAL LATIHAN
Berdasarkan data Nota Keuangan APBN-P Tahun 2015,
terdapat putusan pengadilan yang inkracht berupa AUDIT KEUANGAN NEGARA
pembayaran ganti rugi minimal senilai Rp1,66 triliun dan
USD216.76 juta,serta penyerahan aset tanah seluas 4,84
juta m2 dan bangunan.
Hasil pengumpulan data dari KL menunjukkan adanya 1. Pengertian keuangan negara dalam arti luas mencakup
putusan pengadilan yang inkracht atas 45 perkara pada ....
delapan KL berupa pembayaran ganti rugi sebesar a. semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai
Rp499,79 miliar dan penyerahan aset tanah seluas 113,60 dengan uang
ribu m2. Namun, putusan pengadilan yang inkracht b. kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal dan moneter
tersebut belum seluruhnya dicatat sebagai kewajiban atau c. kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter dan
diungkapkan sebagai Kewajiban Kontinjensi dalam LKPP pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan
Tahun 2014. Hal d. pengelolaan perpajakan, retribusi, belanja negara, utang
tersebut terjadi karena Pemerintah belum memiliki piutang
mekanisme pengelolaan dan pelaporan tuntutan hukum negara serta pengelolaan barang milik negara
sehingga belum jelas unit kerja yang bertanggung jawab
untuk melakukan administrasi dan validasi atas tuntutan 2. Pernyataan yang menyatakan bahwa jenis pengeluaran
hukum yang telah inkracht untuk dicatat/diungkap sebagai dimuat dalam mata anggaran tertentu/tersendiri dan
kewajiban. Data yang tersedia tidak memungkinkan BPK diselenggarakan secara konsisten baik secara kualitatif
melaksanakan prosedur pemeriksaan yang memadai untuk maupun kuantitatif adalah merupakan salah satu asas
memperoleh keyakinan mengenai nilai yang pengelolaan keuangan negara yaitu ....
mencerminkan kewajiban Pemerintah. a. Asas Fleksibilitas dan Transparan
b. Asas Profesionalitas
09 Menurut opini BPK, kecuali dampak penyesuaian, jika c. Asas Spesialitas
ada, yang mungkin perlu dilakukan jika Pemerintah d. Campuran dari ketiga asas tersebut di atas
menyelesaikan permasalahan mengenai pencatatan Aset
KKKS, Utang kepada Pihak Ketiga, permasalahan catatan 3. Pengelolaan keuangan negara subbidang Pengelolaan
dan fisik SAL, serta kewajiban Pemerintah yang timbul dari Moneter berkaitan dengan ....
tuntutan hukum, laporan keuangan yang disebut dalam a. kebijakan dan pelaksanaan kegiatan sektor perbankan
paragraf pertama di atas, menyajikan secara wajar, dalam b. kebijakan dan pelaksanaan kegiatan sektor perbankan
semua hal yang material, posisi keuangan Pemerintah dan lalulintas moneter dalam negeri
Pusat per 31 Desember 2014 dan 2013, realisasi APBN, c. kebijakan dan pelaksanaan kegiatan sektor perbankan
arus kas, dan CaLK untuk tahun yang berakhir pada dan lalulintas moneter dalam dan luar negeri
tanggal-tanggal d. kebijakan dan pelaksanaan kegiatan sektor perbankan
tersebut, sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan dan kebijakan pelaksanaan kegiatan perpajakan serta
(SAP). sumber dana lainnya
10 Untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas 4. Fungsi perbendaharaan dirasakan semakin penting
kewajaran laporan keuangan tersebut, BPK juga melakukan sejalan dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan
pemeriksaan terhadap SPI dan kepatuhan terhadap keuangan negara. Pernyataan di bawah merupakan fungsi
peraturan perundang-undangan. LHP atas SPI dan dari perbendaharaan, kecuali ....
Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan a. perencanaan kas yang baik
disajikan dalam Laporan Nomor 74b/LHP/XV/05/2015 b. pencegahan agar jangan sampai terjadi kebocoran dan
tanggal 25 Mei 2015 dan Nomor 74c/LHP/XV/05/2015 penyimpangan
tanggal 25 Mei 2015 yang merupakan bagian yang tidak c. pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah dengan
terpisahkan dari laporan ini. biaya sekecil mungkin

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1253
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

d. pemanfaatan dana yang menganggur (idle cash) untuk b. pengawas keuangan


meningkatkan nilai tambah sumber daya keuangan c. manajer keuangan
d. ketiga jawaban di atas dalam satu kesatuan
5. Dalam penggunaan sistem anggaran berimbang dan
dinamis yang digunakan sebagai tolok ukur keberhasilan 12. Berdasarkan ketentuan UU No. 17 Tahun 2003 dan UU
adalah .... No. 1 Tahun 2004, kewenangan ordonancering diserahkan
a. analisis biaya dan manfaat kepada ....
b. analisis harga satuan dan analisis beban tugas a. menteri keuangan
c. tercapainya target kegiatan dan besarnya penyerapan b. menteri koordinator bidang ekuin
dana yang tersedia c. kementerian teknis masing-masing
d. input, proses, output, outcome, dan impact d. Bank Indonesia sebagai pemegang rekening kas negara
6. Pendekatan yang digunakan dalam penerapan anggaran 13. Kewenangan yang semula berada pada menteri
menurut UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan keuangan dan setelah berlakunya undang-undang yang
Negara adalah .... baru dipindahkan menjadi kewenangan menteri teknis
a. anggaran berimbang dan dinamis adalah kewenangan ....
b. anggaran rutin dan anggaran pembangunan a. selaku Bendahara Umum Negara
c. anggaran dengan klasifikasi organik dan objek b. mengambil tindakan yang berakibat penerimaan dan
d. anggaran terpadu, kerangka pengeluaran jangka atau
menengah, dan pengeluaran negara
anggaran kinerja c. untuk menguji, membebankan dan menerbitkan Surat
Perintah Menagih dan atau Surat Perintah membayar
7. Penyusunan anggaran yang prosesnya seolah-olah d. mengelola barang milik negara/daerah
dimulai dari hal-hal yang baru sama sekali merupakan
penerapan dari teori .... 14. Jangka waktu berputarnya anggaran yang dimulai dari
a. Planning, Programming, and Budgeting System (PPBS) saat penyusunan anggaran oleh pemerintah sampai
b. Zero Base Budgetting (ZBB) dengan saat perhitungan anggaran negara menjadi
c. Performance Base Budget (PBB) undang-undang disebut ....
d. Ketiga-tiganya diterapkan semua a. tahun anggaran
b. tahun fiskal
8. Fungsi perbendaharaan dirasakan semakin penting c. tahun takwim
dalam rangka efisiensi pengelolaan sumber daya keuangan d. siklus anggaran
pemerintah yang terbatas. Fungsi perbendaharaan
tersebut adalah .... 15. Ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan
a. perencanaan kas yang baik anggaran, dalam Undang-Undang No.17 Tahun 2003
b. pencegahan agar tidak terjadi kebocoran dan tentang Keuangan Negara mengatur tentang ....
penyimpangan a. penegasan peran DPR/DPRD dan pemerintah dalam
c. pencarian sumber pembiayaan yang paling murah dan proses penyusunan dan penetapan anggaran
pemanfaatan dana yang menganggur b. pengintegrasian sistem akuntabilitas kinerja dalam
d. semua jawaban di atas benar sistem
penganggaran
9. Untuk meningkatkan akuntabilitas dan menjamin c. penggunaan kerangka pengeluaran jangka menengah
terselenggaranya saling uji dalam proses pelaksanaan dalam penyusunan anggaran
anggaran perlu dilakukan pemisahan secara tegas antara d. ketiga jawaban di atas diatur dalam undang-undang
.... tersebut
a. pemegang kewenangan administratif dan pemegang
kewenangan kebendaharaan 16. Rencana Kerja Pemerintah (RKP) merupakan
b. kewenangan bendahara umum dan bendahara khusus penjabaran dari ....
pengeluaran a. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP)
c. tugas fungsional dan tugas struktural b. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
d. tugas-tugas operasional dan tugas pembantuan c. rencana kerja lanjutan dari pelaksanaan anggaran tahun
sebelumnya yang belum terselesaikan
10. Kegiatan yang bukan merupakan kewenangan d. arah dan kebijakan umum yang ditetapkan oleh DPR dan
administratif adalah.... MPR
a. melakukan perikatan atau tindakan yang mengakibatkan
penerimaan dan/atau pengeluaran 17. Kerangka pelayanan umum dan investasi pemerintah
b. melakukan pembayaran atas tagihan pihak ketiga yang bertujuan untuk menyediakan barang dan jasa publik
c. melakukan pengujian dan pembebanan tagihan yang yang diperlukan masyarakat termasuk dalam kelompok ....
diajukan pihak ketiga a. kebijakan moneter
d. memerintahkan pembayaran atau menagih penerimaan b. kebijakan APBN yang dituangkan dalam program-
yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran program
c. kebijakan keuangan negara subsektor BUMN/BUMD
11. Menteri keuangan selaku Bendahara Umum Negara d. kebijakan moneter dan fiskal
(BUN) adalah pengelola keuangan dalam arti seutuhnya.
Dalam hal ini fungsi Menteri keuangan adalah .... 18. Ciri baru dalam penyusunan RKP adalah ....
a. sebagai kasir a. penegasan cakupan isi proses top-down dan bottom-up

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1254
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

b. dalam rangka desentralisasi, kegiatan pemerintah pusat d. ketiga unsur di atas semuanya adalah ciri basis akrual
di daerah menjadi salah satu perhatian utama
c. proses penyatuan persepsi kementerian/lembaga 24. Keputusan mengenai pemindahtanganan barang milik
tentang prioritas pembangunan nasional dan konsekuensi negara selain
anggarannya tanah dan/atau bangunan yang bernilai lebih dari Rp10
d. ketiganya adalah ciri utama proses penyusunan RKP milyar sampai
dengan Rp100 milyar dilakukan oleh ....
19. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga a. menteri teknis/pimpinan lembaga yang bersangkutan
(RKA-KL) terdiri b. menteri teknis/pimpinan lembaga yang bersangkutan
dari hal-hal sebagai berikut .... setelah mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan
a. uraian mengenai visi, misi, tujuan, kebijakan, program, c. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara
hasil yang diharapkan, kegiatan, dan keluaran yang setelah mendapat persetujuan dari presiden
diharapkan. d. presiden setelah mendapat persetujuan dari DPR
b. biaya untuk masing-masing program dan kegiatan untuk
tahun anggaran yang direncanakan, dirinci menurut jenis 25. Penghapusan piutang secara mutlak dilakukan dengan
biaya, prakiraan maju untuk tahun anggaran berikutnya. cara ....
c. seluruh kegiatan satuan kerja di lingkungan a. menghapuskan piutang negara/daerah tanpa
kementerian/lembaga negara termasuk kegiatan dalam menghapuskan hak tagih negara
rangka desentralisasi dan tugas pembantuan. b. menghapuskan piutang negara/daerah dengan
d. ketiga jawaban di atas dicakup seluruhnya dalam RKA- menghapuskan hak tagih negara
KL. c. menghilangkan tagihan oleh negara karena suatu
keadaan tertentu atas permohonan dari yang berhutang
20. Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan d. menghilangkan dari pembukuan anggaran agar tidak
wewenang dari menteri/pimpinan lembaga selaku terjadi selisih pembukuan yang berkepanjangan
Pengguna Anggaran, adalah ....
a. menyusun dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) 26. Laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah
b. menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna yang disampaikan ke DPR harus memenuhi prinsip tepat
Barang waktu dan disusun dengan mengikuti ....
c. menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran Kas a. Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan oleh
Negara pemerintah
d. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan b. tolok ukur dan indikator kinerja dari masing-masing
pengujian dan perintah pembayaran kementerian/ lembaga
c. Standar Akuntansi Pemerintahan yang telah diterima
21. Mengajukan rancangan peraturan pemerintah tentang secara umum d. ketiga jawaban di atas dalam satu
Standar Akuntansi Pemerintahan dan Menetapkan Sistem kesatuan
Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Negara adalah
tanggung jawab/kewenangan .... 27. Laporan Keuangan pokok dari pemerintah setidak-
a. menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran tidaknya terdiri dari komponen ....
b. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara a. Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Kinerja
atau pengelola fiskal Keuangan masing-masing kementerian/lembaga
c. Badan Pemeriksa Keuangan sebagai lembaga yang bebas b. Neraca dan Laporan Arus Kas
dan mandiri c. Catatan atas Laporan Keuangan yang disusun sesuai
d. Badan Pemeriksa Keuangan dan Menteri Keuangan dengan Standar Akuntansi Pemerintahan
d. ketiga jawaban tersebut di atas dalam satu kesatuan
22. Pengurusan administrasi bidang ordonansering
(menguji, membebankan, dan menerbitkan SPM/SPN ) 28. Dalam menyampaikan laporan keuangan kepada
dilaksanakan oleh .... menteri keuangan, menteri/pimpinan lembaga selaku
a. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara pengguna anggaran/barang memberi pernyataan bahwa
(BUN) pengelolaan APBN telah diselenggarakan berdasarkan ....
b. menteri teknis/pimpinan lembaga selaku pengguna a. Standar Akuntansi Pemerintahan yang telah diterima
anggaran secara umum
c. Menteri Keuangan bersama dengan menteri/pimpinan b. laporan keuangan tahun lalu yang sudah diperiksa BPK
lembaga sesuai dengan kewenangannya c. prinsip-prinsip efisiensi dan efektivitas
d. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara dan d. alokasi anggaran yang telah dituangkan dalan
Dirjen Perbendaharaan Negara selaku Kuasa BUN. APBN/DIPA
23. Unsur yang merupakan ciri dari suatu sistem akuntansi 29. Bendahara Umum Negara (BUN) bertanggung jawab
pemerintah yang menggunakan basis akrual adalah .... kepada presiden atas pelaksanaan penerimaan dan
a. hak pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah pengeluaran yang dilakukannya dari segi ....
kekayaan bersih a. hak dan ketaatan pada peraturan
b. Kewajiban pemerintah pusat yang diakui sebagai b. formal dan material
pengurang kekayaan bersih c. keluaran (output) dan hasil/manfaat (outcome)
c. Penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau d. pelaksanaan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan
pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun 30. Suatu entitas pelaporan yang menyajikan laporan
anggaran berikutnya berbasis akrual, laporan keuangan pokoknya dilengkapi

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1255
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

dengan Laporan Kinerja Keuangan yang sekurang- d. belanja BLU dapat dibebankan kepada masyarakat
kurangnya menyajikan pos-pos sebagai berikut .... penerima layanan sesuai dengan tarif yang berlaku umum
a. pendapatan dari kegiatan operasional
b. beban berdasarkan klasifikasi fungsional dan klasifikasi 35. Dalam rangka pengelolaan kas, BLU menyelenggarakan
ekonomi hal-hal sebagai berikut, kecuali ....
c. surplus atau defisit a. merencanakan penerimaan dan pengeluaran kas
d. ketiga jawaban di atas dalam satu kesatuan b. memanfaatkan surplus kas jangka pendek untuk
memperoleh pendapatan tambahan
31. Badan layanan umum (BLU) adalah instansi di c. memanfaatkan surplus kas jangka panjang untuk
lingkungan pemerintah investasi pada bidang yang sesuai dengan kegiatan BLU
yang dibentuk untuk .... d. mendapatkan sumber dana untuk menutup defisit
a. menghimpun dana masyarakat sebanyak-banyaknya jangka pendek
untuk mengisi kas negara
b. memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa 36. Pelaksanaan reviu intern atas laporan keuangan
penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa pemerintah pusat dan pemerintah daerah didasarkan pada
mengutamakan mencari keuntungan ….
c. memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa a. PP Nomor 8 Tahun 2006
penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual dengan b. PP Nomor 6 Tahun 2006
imbalan biaya tertentu sesuai dengan tarif yang relatif c. PP Nomor 58 Tahun 2005
stabil d. PP Nomor 79 Tahun 2005
d. memberikan pelayanan kepada masyarakat pada sektor
perhubungan laut, udara dan darat termasuk angkutan 37. Reviu intern oleh APIP terhadap laporan keuangan
sungai pemerintah pusat/daerah bertujuan untuk ….
a. menyakinkan keandalan informasi yang disajikan
32. Sebagaimana layaknya instansi pemerintah lainnya, b. menentukan tingkat akurasi, keandalan, dan keabsahan
BLU juga laporan keuangan
diwajibkan membuat perencanaan dalam pelaksanaan c. memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan
operasinya, keuangan telah disajikan sesuai dengan SAP
berupa .... d. jawaban a, b, dan c semuanya benar
a. rencana strategis lima tahunan berdasarkan arahan dari 38. Informasi dikatakan andal apabila memiliki ciri-ciri
pemegang saham sebagai berikut, kecuali ….
b. rencana kerja tahunan berupa anggaran bisnis dan non a. netral
bisnis b. jujur
c. rencana keuangan dan rencana kinerja tahunan yang c. dapat dinilai dengan uang
dibiayai dari dana APBN dan APBD d. dapat diverifikasi
d. rencana strategis bisnis lima tahunan dan Rencana Bisnis
dan Anggaran tahunan yang mengacu pada Renstra dan 39. Yang menjadi landasan bagi Standar Akuntansi
RK-KL dari instansi induknya Pemerintahan (SAP)
adalah ….
33. Ciri khusus dari badan layanan umum (BLU) a. PP Nomor 24 Tahun 2005
dibandingkan dengan instansi pemerintah lainnya adalah b. PP Nomor 8 Tahun 2006
.... c. PP Nomor 20 Tahun 2004
a. BLU dapat menggunakan anggaran yang bersumber dari d. PP Nomor 79 Tahun 2005
APBN/APBD secara leluasa sesuai dengan rencana
bisnisnya 40. Pemeriksaan yang menjadi tugas BPK yang ditetapkan
b. BLU dapat menggunakan anggaran yang bersumber dari dalam UUD
pendapatan PNBP untuk membiayai biaya operasional BLU 1945 setelah amandemen keempat adalah ....
dalam batas tertentu yang ditetapkan oleh Menteri a. pemeriksaan atas laporan keuangan pemerintah
Keuangan b. pemeriksaan atas pertanggungjawaban keuangan oleh
c. BLU tidak perlu membuat laporan atas dana yang pemerintah
diterima dari masyarakat karena sudah diberi kemudahan c. pemeriksan atas pengelolaan dan tanggung jawab
dalam operasinya keuangan negara
d. tidak ada jawaban yang benar d. pemeriksaan atas pelaksanaan APBN/APBD
34. Pengelolaan belanja BLU diselenggarakan secara 41. Kewenangan pemeriksaan oleh BPK meliputi ....
fleksibel berdasarkan kesetaraan antara volume kegiatan a. pemeriksaan anggaran rutin, anggaran pembangunan,
pelayanan dengan jumlah pengeluaran. Yang dimaksud dan pinjaman luar negeri
dengan fleksibilitas adalah .... b. pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, dan
a. belanja dapat bertambah atau berkurang dari yang pemeriksaan dengan tujuan tertentu
dianggarkan sepanjang pendapatan terkait bertambah c. pemeriksaan APBN/APBD dan pemeriksaan
atau berkurang setidaknya proporsional BUMN/BUMD
b. belanja dapat digunakan melampaui anggaran yang d. ketiga jawaban di atas benar semua
tersedia tanpa mendapat persetujuan dari instansi induk 42. Dalam melaksanakan tugas pemeriksaan, BPK dapat
c. belanja BLU untuk kegiatan tertentu dapat dibiayai dari menggunakan pemeriksa dan/atau tenaga ahli dari luar
berbagai sumber BPK yang bekerja untuk dan atas nama BPK. Hal itu
dilakukan BPK apabila ....

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1256
PE1
Disusun oleh : Muhammad Firman (Akuntansi FE UI 2012)

a. setiap saat dikehendaki oleh pimpinan BPK b. surat keputusan pembebasan sementara dari jabatan
b. BPK tidak memiliki/tidak cukup memiliki pemeriksa dan c. surat pemberitahuan kepada yang bersangkutan
tenaga ahli yang diperlukan dalam suatu pemeriksaan d. surat keputusan pembebanan dari Badan Pemeriksa
c. BPK menganggap objek yang diperiksa tidak memiliki Keuangan
posisi yang strategis dan anggarannya kecil
d. ada permintaan dari aparat pengawasan internal 49. Kewajiban bendahara, pegawai negeri bukan
pemerintah bendahara, atau pejabat lain untuk membayar ganti rugi,
menjadi kedaluwarsa jika ....
43. Opini merupakan pernyataan profesional pemeriksa a. dalam waktu lima tahun sejak diketahuinya kerugian
mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan tersebut tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap
dalam laporan keuangan. Kriteria untuk dapat memberikan yang bersangkutan
opini didasarkan pada .... b. dalam waktu delapan tahun sejak terjadinya kerugian
a. kesesuaian dengan Standar Akuntansi Pemerintahan tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang
b. kecukupan pengungkapan dan kepatuhan terhadap bersangkutan
peraturan c. dalam waktu sepuluh tahun sejak terjadinya kerugian
perundang-undangan yang berlaku tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang
c. efektivitas sistem pengendalian intern bersangkutan
d. ketiga jawaban di atas dalam satu kesatuan d. jawaban a atau jawaban b, mana yang diketahui lebih
dulu
44. Selambat-lambatnya dua bulan setelah diterimanya 50. Yang bukan merupakan bagian dari Laporan Hasil
laporan keuangan pemerintah, BPK menyampaikan Pemeriksaan Keuangan BPK adalah :
laporan hasil pemeriksaan keuangan kepada .... a. Laporan hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan
a. DPR/DPD/DPRD sesuai dengan kewenangannya b. Laporan hasil pemeriksaan atas Sistem pengendalian
b. presiden dan gubernur sesuai dengan kewenangannya Intern
c. bupati dan walikota sesuai dengan kewenangannya c. Laporan Hasil Pemeriksaan Kinerja
d. ketiga jawaban dalam satu kesatuan d. Laporan Hasil Pemeriksaan atas Kepatuhan perundang-
undangan
45. Sanksi yang berlaku bagi menteri/pimpinan lembaga
serta pimpinan unit organisasi kementerian
negara/lembaga yang terbukti melakukan penyimpangan
kebijakan/kegiatan yang telah ditetapkan, adalah ….
a. sanksi pidana
b. sanksi administratif
c. pengenaan tuntutan ganti rugi
d. ketiga-tiganya adalah jenis sanksi yang bisa diterapkan
46. Dalam hal pejabat yang melakukan kerugian negara
adalah menteri/pimpinan lembaga, surat keputusan
pembebanan penggantian kerugian sementara diterbitkan
oleh ....
a. Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara
b. presiden atas usul Menteri Keuangan
c. Badan Pemeriksa Keuangan atas usul Presiden
d. Badan Pemeriksa Keuangan bersama-sama dengan
Menteri
Keuangan
47. Setiap kerugian negara yang disebabkan oleh tindakan
melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera
diselesaikan sesuai dengan ketentuan perundangan-
undangan yang berlaku. Kerugian negara dapat terjadi
karena ....
a. pelanggaran hukum atau kelalaian pejabat negara dalam
rangka pelaksanaan kewenangan administratif
b. pelanggaran hukum atau kelalaian pegawai negeri bukan
bendahara dalam rangka pelaksanaan kewenangan
administratif
c. pelanggaran hukum atau kelalaian oleh bendahara
dalam rangka pelaksanaan kewenangan kebendaharaan
d. Ketiga-tiganya dapat dikenakan tuntutan ganti rugi
48. Segera setelah kerugian negara tersebut diketahui,
kepada bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau
pejabat lain yang nyata-nyata melanggar hukum atau
melalaikan kewajibannya, segera dimintakan ....
a. surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SKTM)

M a t a k u l i a h l a i n y a n g b e l u m a d a d i P D F i n i a k a n s a y a u p d a t e d i www. a k u n t a n s i d a n b i s n i s . wo rd p re s s . c o m
Contac t me : muhammad.f irman177@gmail.com /@f irmanmhmd (Line) 1257
PE1