Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Penyusun mengucapkan puji dan syukur kepada Allah Swt karena dengan
rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan laporan praktikum yang berjudul
“Representasi Peta” tepat pada waktunya. Laporan ini dibuat untuk memenuhi
mata kuliah Praktikum Kartografi.
Penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada kepada Bapak Dr. H.
Sidharta Adyatama, M.Si. dan Bapak Aswin Saputra, S.Pd., M.Sc selaku
penanggung jawab mata kuliah Praktikum Kartografi yang telah mengarahkan
dalam praktikum sehingga dapat terselesaikannya laporan ini.
Penyusun menyadari laopran ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu penyusun mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun
agar penyusun dapat memperbaiki kekurangan yang ada karena pada dasarnya
manusia itu tidak luput dari kesalahan.

Banjarmasin, 19 November 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB 1 ................................................................................................................................. ii
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 2
1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan ......................................................................... 2
BAB II................................................................................................................................. 3
LANDASAN TEORI .......................................................................................................... 3
BAB III ............................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 5
3.1 Definisi Kartografi .............................................................................................. 5
3.2 Devinisi Peta Topografi ...................................................................................... 5
3.3 Pengertian Peta Rupa Bumi Indonesia ................................................................ 8
3.4 Alat dan Bahan .................................................................................................. 14
3.5 Cara Kerja Penggambara Peta Rupa Bumi ....................................................... 14
BAB IV ............................................................................................................................. 15
PENUTUP ........................................................................................................................ 15
4.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 15
4.2 Saran ................................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 16

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peta Topografi adalah peta yang menggambarkan suatu bentuk penyebaran dan
ukuran dari permukaan bumi yang sesuai keadaan yang sebenarnya dalam suatu
wilayah. Unsur yang terdapat dalam peta topografi antara lain : relief, garis
hachures, kontur, drainage.
Peta merupakan alat utama dalam kajian geografi dan pembelajaran
geografi di sekolah. Peta merupakan gambaran muka bumi yang
disederhanakan dan diperkecil melalui skala serta pemakaian simbol-simbol,
sehingga mudah diamati. Melalui peta kita dapat mempelajari pola-pola
sebaran, struktur keruangan, hubungan keruangan, kewilayahan, kehidupan
dan bahkan peradapan manusia serta interaksi antara satu gejala dengan yang
lain pada muka bumi (geosfera). Salah satu jenis peta yang dapat memberikan
informasi secara komprehensif tentang gejala-gejala muka bumi adalah Peta
Rupabumi. Namun, keberadaan Peta Rupabumi di sekolah-sekolah hingga
saat ini masih menjadi barang yang langka, bahkan belum banyak dikenal
oleh para peserta didik dan guru di sekolah. Dalam pembelajaran geografi,
peta merupakan instrumen utama. Oleh karena itulah dalam tulisan ini
dimaksudkan untuk menilik tentang apa fungsi peta (khususnya Peta RBI)
dan bagaimana aplikasinya dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dan
bagaimana desain dan aplikasi pembelajaran geografi yang aktif, kreatif, dan
inovatif dengan memanfaatkan Peta Rupabumi sebagai instrumen
pembelajaran geografi.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa definisi kartografi ?
b. Apa definisi peta topografi ?
c. Apa pengertian peta rupa bumi?

1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam praktikum kartografi “Representasi Relief” adalah :
1. Melatih keterampilan dalam menggambar peta rupa bumi yaitu membuat
garis kontur.
2. Melatih kreatifitas mahasiswa dalam memilih gradasi warna dan
memberikan efek tiga dimensi dengan metode hill shading dan layer
shading
3. Memahami definisi kartogrfi
4. Memahami definisi peta topografi
5. Mengetahui pengertian peta rupa bumi

1.4 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Waktu : Minggu, 19 November 2017
Tempat : Di luar lingkungan kampus (di kos)

2
BAB II
LANDASAN TEORI

Menurut beberapa sumber kartografi memiliki pengertian yang berbeda-


beda. Prihandito (1989) mengemukakan bahwa “Kartografi adalah ilmu dan
teknik pembuatan peta”. Kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi
tentang pembuatan peta-peta, sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-
dokumen ilmiah dan hasil karya seni (International Carthography Association,
1973). Oleh ICA telah ditetapkan bahwa kartografi mempunyai lingkup
operasional dimulai dari pengumpulan data, klasifikasi, analisa data, sampai
kepada reproduksi peta, evaluasi dan penafsiran daripada peta.(Sudihardjo, 1977,
hal 1). Dengan demikian tujuan kartografi adalah membuat peta dengan
mengumpulkan data, memproses data dan kemudian menggambarkan data
tersebut kedalam bentuk peta.
Kartografi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perpetaan
termasuk studi pembuatan peta, pembacaan peta, penggunaan peta dan lain-lain
yang berhubungan dengan peta. Dalam artian yang sempit, istilah kartografi
berarti ilmu membuat peta. Sedangkan kartografer berarti orang yang membuat
peta, untuk orangyang pekerjaannya menggambar peta disebut dengan juru
gambar (draft man).
Secara sederhana relief dapat diartikan sebagai suatu konfigurasi nyata
dari permukaan bumi, yaitu perbedaan-perbedaan dalam ketinggian dan
kemiringan permukaan bumi. Relief dipresentasikan dengan cara membuat garis
yang menghubungkan titik di permukaan bumi yang mempunyai ketinggian yang
sama (garis tersebut disebut dengan garis kontur), dan cara demikian disebut
dengan contouring. Pembuatan garis kontur pada prinsipnya dilakukan secara
logika yaitu dengan cara interpolasi terhadap titik-titik hasil pengukuran
dilapangan (karena tidak mungkin semua titik di lapangan kita lakukan secara
langsung ketinggiannya).
Interpolasi itu sendiri dibagi menjadi dua yaitu interpolasi linier (cara
interpolasi garis kontur mempergunakan perhitungan pada garis) dan interpolasi
secara grafis (membagi garis menggunakan garis lain dengan ukuran lebih mudah

3
lalu digaris dengan mempergunakan prinsip garis sejajar untuk mendapatkan
ukuran yang sebanding). Beberapa kegunaan dari garis kontur adalah untuk
mengetahui bentuk lereng, besarnya kemiringan lereng dan menunjukkan bentuk
relief. Garis kontur yang rapat menunjukkan bentuk lereng yang terjal dan garis
kontur yang renggang menunjukkan bentuk lereng yang datar, atau dengan kata
lain bahwa semakin rapat bentuk suatu garis kontur maka bentuk lereng di daerah
tersebut menunjukkan bentuk lereng yang terjal atau curam dan sebaliknya. Agar
kesan tiga dimensi muncul dalam merepresentasikan relief suatu kenampakan
(dengan garis kontur hanya timbul kesan dua dimensi), maka dipakailah cara hill
shading, layer shading, dan blok diagram. Prinsip pembuatan hill shading adalah
memberi bayangan pada suatu gambaran relief pada garis kontur, sedangkan layer
shading menggunakan prinsip skala warna untuk mencerminkan ketinggian.

4
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Definisi Kartografi


Berdasarkan bahasa, kartografi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu
carto yang memiliki arti permukaan dan grafi yang berarti gambar atau
bentuk (Sariyono dan Nursa’ban, 2010). Oleh karena itu, kartografi
merupakan ilmu yang mempelajari gambar atau bentuk permukaan bumi.
Tujuan dari kartografi adalah mengumpulkan dan menganalisa data dari
lapangan yang berupa unsur -unsur permukaan bumi dan menyajikan unsur
tersebut secara grafis dengan skala tertentu, sehingga unusr dapat terlihat
jelas, mudah dimengerti dan dipahami (Sariyono dan Nursa’ban, 2010).
Selain pengertian bahasa, beberapa ahli juga mengungkapkan pengertian
kartografi. Pertama, Prihandito (1989) mengartikan kartografi sebagai ilmu
yang mempelajari peta, dimulai dari pengumpulan data di lapangan,
pengolahan data, simbolisasi, penggambaran, analisis peta, serta interpretasi
peta.

3.2 Devinisi Peta Topografi


A. Pengertian Peta Topografi
Peta Topografi adalah peta yang menggambarkan suatu bentuk penyebaran
dan ukuran dari permukaan bumi yang sesuai keadaan yang sebenarnya dalam dari
permukaan laut menjadi garis-garis kontur, dengan suatu garis kontur mewakili suatu
wilayah ketinggian. Peta topografi menyediakan data yang diperlukan tentang suatu
sudut kemiringan, elevasi, daerah aliran sungai (drainage), vegetasi secara
umum. Dalam peta topografi ini menggambarkan informasi sebanyak
mungkin ciri-ciri permukaan suatu kawasan dalam batas-batas skala. Peta
topografi dapat diartikan sebagai peta yang menggambarkan kenampakan asli suatu
alam dan kenampakan buatan manusia (culture). Garis ketinggian pada peta dalam
bidang dua dimensi dan di lapangan dengan tiga dimensi. Garis pada peta yang
berbelok-belok dan tertutup serta merupakan rangkaian dari titik-titik

5
ketinggian, kegunaannya dari garis ketinggian adalah untuk mengetahui
beda tinggi suatu tempat dari permukaan laut.

B. Unsur-unsur Peta Topografi


a. Relief
Relief ialah tinggi rendah suatu daerah serta landainya sisi perbukitan, jadi
menunjukan beda tinggi suatu permukaan bumi.
b. Garis Hachures
Garis Hachures ialah garis-garis lurus yang ditarik dari titik tertinggi ke
arah titik yang lebih rendah disekitarnya, dan ditarik searah dengan lereng. Jadi
semakin curam suatu lereng maka semakin rapat, sedangkan apabila reliefnya
landai garis akan renggang.
c. Garis Kontur
Kontur adalah cara menghubungkan suatu titik yang mempunyai ketinggian
yang sama, biasanya dalam peta sangat penting dikarenakan untuk
mengetahui sifat kualitatif dan kuantitatifnya. Semakin rapat jarak
antar garis kontur, menunjukan semakin curam daerah tersebut.
Begitu sebaliknya, bika jarak antar garis kontur jarang, maka tempat
tersebut itu landai. Apabila garis kontur bergerigi, maka daerah
tersebut terdapat lembah atau depresi.
Garis Kontur memiliki sifat sebagai berikut :
 Garis ketinggian yang lebih rendah selu mengelilingi garis ketinggian yang
lebih tinggi.
 Garis ketinggian tidak akan saling berpotongan dan tidak akan memiliki
cabang
 Pada daerah yang landai garis ketinggian akan berjauhan, sedangkan pada
daerah yang curam garis nya akan saling merapat.
Kondisi daerah yang khusus(tebing,kawah,jurang), garis
ketinggiannya digambarkan secara khusus pula :
 Garis ketinggian menjorok keluar, merupakan punggung bukit dan selalu
membentuk huruf U.

6
 Garis ketinggian yang menjorok ke dalam, merupakan lembah dan selalu
membentuk huruf V.
Catatan tentang kontur :
 Kontur kontinyu, kontur kontinyu adalah garis kontur yang dimana
sejauh apapun sebuah kontur berada tetap akan bertemu pada titik awalnya,
terkecuali jika kontur masuk ke daerah kemiringan yang curam
atau nyaris tegak lurus (vertikal) karena tidak ada ruang untuk menyajikan
kontur secara terpisah pada pandagan horizontal, maka lereng terjal tersebut
digambarkan dengan simbol. Dengan begitu kontur akan masuk dan keluar
dari simbol tersebut.

 Kontur pada bagian bawah lereng merapat, maka bentuk lereng tersebut pada
umumnya menjadi cembung (konveks), dan memberikan pandangan yang
pendek. Jika sebaliknya, yaitu merenggang, maka disebut dengan cekung
(konkav), dan memberikan pandangan yang panjang.
 Kontur-kontur yang rapat dan tidak teratur (dalam arti tidak patah),
kecuali pada peta yang ber-skala kecil pada umumnya penyajian kontur
cenderung halus akibat adanya proses generalisasi yang dimaksud untuk
menghilangkan detil-detil yang kecil(minor).
Sifat-sifat garis kontur adalah :
 Sifat garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.
 Garis kontur yang lebih rendah mengeliligi garis kontur yang lebih
tinggi ataupun sebaliknya.

7
 Garis kontur tidak berpotongan ataupun tidak bercabang. Garis
kontur yang rapat menandakan permukaan bumi yang curam/terjal, sebaliknya
renggang menandakan permukaan bumi yang landai.
 Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf (U) menandakan punggungan
gunung.
 Rangkaian garis kontur yang berbentuk (V) terbalik menandakan suatu daerah
tersebut lebah/jurang.

Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang
berdekatan. Jadi jarak antara dua bidang datar yang berdekatan. Pada suatu peta
topografi interval kontur dibuat selalu sama, berbanding terbalik dengan skala
peta. Semakin besar skala peta, jadi semakin banyak informasi yang
disajikan, interval kontur semakin kecil. Indeks kontur adalah garis
kontur yang digambarkan secara ditonjolkan pada setiap kelitpatan
interval kontur tertentu.
d. Drainage
Drainage adalah bentuk yang berhubungan dengan penyaluran air, baik di
permukaan maupun di bawah permukaan bumi itu sendiri. Sebagai contohnya
sungai, laut, danau.

3.3 Pengertian Peta Rupa Bumi Indonesia


Peta Rupa bumi atau dalam Bahasa asing sibebut topographic map
adalah peta yang memperlihatkan unsur-unsur alam (asli) dan unsur-unsur
buatan manusia di atas permukaan bumi. Unsur-unsur tersebut diusahakan
untuk diperlihatkan ada posisi yang sebenarnya. Peta Rupabumi disebut juga
sebagai peta umum, karena dalam Peta Rupabumi menyajikan semua unsur
yang ada pada permukaan bumi, dengan mempertimbangkan skala yang
sangat terbatas. Di samping itu, Peta Rupabumi juga dapat digunakan
sebagai dasar (base map) dalam pembuatan peta tematik, seperti peta
penggunaan lahan, peta jaringan jalan, peta sebaran penduduk, peta jaringan
sungai, dan sebagainya.
Peta Rupabumi menyajikan unsur-unsur dasar muka bumi, seperti:
unsur hipsografi (tinggi-rendahnya medan atau relief, terutama ketinggian),

8
unsur hidrografi (laut, danau, sungai/pola pengaliran), unsur vegetasi
(penutup lahan), unsur toponimi (nama-nama unsur tempat atau nama
geografi), unsur buatan/budaya manusia (permukiman, sistem perhubungan,
unsur unit-unit administrasi, dan sistem rujukan koordinat nasional baku
(sistem lintang bujur). Jadi Peta Rupabumi memiliki karakteristik :
1. Memuat gambaran tentang penyebaran, luas dan karakteristik dari unsur-
unsur fisiografi, topografi, morfologi, geologi, demografi dan
sebagainya.
2. Dapat sebagai wadah inventarisasi sumberdaya alam.
3. Ada kerangka titik kontrol horizontal (koordinat lintang/bujur) dan
kerangka titik kontrol vertikal (koordinat tinggi terhadap muka air laut
rata-rata). Peta Rupabumi dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok
berdasarkan atas skalanya, yakni : skala 1 : 1.000.000; skala 1 : 500.000;
skala 1 : 250.000; skala 1 : 100.000; skala 1 : 50.000; skala 1 : 25.000;
dan skala 1 : 10.000 (Bakosurtanal, 2004). Variasi skala peta tersebut
membawa konsekuensi pada variasi cakupan area yang terpetakan.
Semakin kecil skala peta, maka lingkup area yang terpetakan semakin
luas, demikian sebaliknya semakin besar skala peta, lingkup area yang
terpetakan sema-kin kecil. Disamping itu, skala peta juga dapat
memberikan informasi tentang tingkat kedetilan isi peta, semakin besar
skala tingkat kedetilan semakin tinggi, demikian sebaliknya.
A. Penggunaan Peta Rupabumi
Peta Rupabumi merupakan cerminan berbagai tipe informasi
muka bumi, sehingga dapat digunakan sebagai sumber data dan
informasi spasial yang cukup baik. Namun demikian untuk dapat
menggunakan peta dengan baik diperlukan tuntunan dalam
pemakaiannya.
Ada tiga tahapan dalam menggunakan Peta Rupa bumi, yaitu
1. Membaca Peta Rupabumi
Membaca peta dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk
mempelajari atau mengetahui medan (kenampakan muka bumi)
dengan melalui peta atau simbol-simbol yang ada dalam peta.

9
Membaca peta merupakan tahapan pertama dalam penggunaan
peta, yakni mencoba mengidentifikasi simbol, membaca apa arti
simbol. Untuk dapat melakukan pekerjaan ini, seseorang harus
mengetahui tentang bahasa peta.
Bahasa peta adalah informasi tepi peta yang meliputi: judul,
nomor lembar peta, skala, orientasi, sumber pembuat peta,
proyeksi peta, legenda, administrasi indeks. Dengan demikian
begitu melihat simbol di dalam peta, pengguna akan menjadi
jelas mengenai makna ataupun bentuk unsur lingkungan apa
yang tergambar dalam peta. Kesalahan yang sering terjadi adalah
pengguna langsung berusaha menterjemahkan arti simbol-simbol
tanpa mempelajari keterangan legenda dan informasi tepi yang
lain terlebih dahulu. Faktor-faktor yang dapat dibaca dalam Peta
Rupabumi antara lain: jarak, arah, lokasi, luas, tinggi, lereng dan
bentuk (Baca buku Petunjuk Teknis Penggunaan Peta Rupabumi
Indonesia RBI, yang diterbitkan oleh Bakosurtanal, 2004).

B. Analisis Peta Rupabumi


Analisis peta merupakan tahap selanjutnya setelah dilakukan
pembacaan peta. Setelah kita tahu apa yang telah digambar dalam
peta, selanjutnya dilakukan suatu pengukuran, penilaian, klasifikasi,
mencari pola dari suatu fenomena geografis yang ada. Dalam tahap
analisis peta dapat pula menggunakan peralatan untuk membantu
dalam pengukuran, penilaian dari fenomena geografis tersebut.
Unsur-unsur geografis yang tergambar dalam Peta Rupabumi
dapat dikelompokkan menjadi:
1. Unsur posisional, yakni unsur-unsur yang tidak mempunyai
dimensi atau perluasan, seperti titik ketinggian, pusat pelayanan.
Nilai dari unsur-unsur ini dapat dilihat dari angka yang ada atau
dihitung dengan menjumlahkan titiknya.
2. Unsur linear, yakni unsur yang mempunyai perluasan pada satu
sisi atau unsur dimensi satu, misalnya: jalan, jalan kereta api,

10
garis pantai, sungai, dan sebagainya. Untuk data lenear ini nilai
tergantung panjang pendek unsur yang digambarkan.
3. Unsur luasan, merupakan unsur yang memiliki bentuk perluasan
atau berdimensi dua nilai ditentukan berdasar luasnya. Bahkan
unsur yang berdimensi tiga dapat ditentukan volumenya misalnya
volume bendungan, jumlah curah hujan, volume cadangan bahan
galian. Dari tahapan analsis peta akan didapatkan suatu nilai,
bentuk pola, struktur keruangan yang digambar.
Dalam analisis peta perlu memperhatikan tiga hal, yaitu:
1. Analisis harus dikerjakan secara bertahap.
2. Mulailah dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat
khusus/detil.
3. Lakukan analisis dari bentuk-bentuk yang paling diketahui
(mudah) hingga bentuk-bentuk yang sulit atau belum
diketahui. Cara analisis Peta Rupabumi dapat dilakukan
secara kuantitatif maupun kualitatif. Unsur dasar pengenalan
meliputi pola, struktur, proses, bentuk, ukuran, hubungan
sekitar dan lokasi, ketergantungan antar elemen pembentuk
ruang, dan sebagainya. Untuk unsur dasar penafsiran terdiri
dari bentuk-bentuk morfologi, pola pengaliran, tumbuhan
penutup dan hasil budi daya manusia. Dengan kata lain,
analisis Peta Rupabumi adalah tindakan penyederhanaan
fenomena-fenomena yang kompleks dari muka bumi yang
tergambar, unsur dasar pengenalan dan penafsiran serta
karakteristik geomorfologinya. Lalu dilakukan
pengelompokan untuk menyederhanakan atas dasar
kesamaan-kesamaan perwatakan dari. struktur geologi, proses
geomorfologi dan kesan topografi. Analisis peta merupakan
langkah awal dari evaluasi yang didasarkan pada identifikasi
dan interpretasi fenomena muka bumi yang tergambar, unsur-
unsur pengenalan dan penafsiran serta karakteristik
geomorfologinya. Perolehan data dari peta dapat dijadikan

11
data dasar untuk analisis lanjutan yang evaluasinya dapat
dilakukan secara manual maupun Sistem Informasi Geografi
(SIG).

C. Interpretasi Peta Rupabumi


Interpretasi peta merupakan perbuatan mengkaji peta dengan
maksud untuk mengidentifikasi objek sesuai tujuan dan latar
belakang pengetahuan si interpreter. Dengan kata lain, interpretasi
adalah mengungkap sesuatu dibalik fakta. Jadi interpretasi itu ilmiah.
Sehingga dapat dijelaskan bahwa interpretasi peta adalah :
1. Berupaya melalui proses penalaran atau mendeteksi,
mengidentifikasi dan menilai arti penting objek yang tergambar
pada peta.
2. Berupaya mengenali objek yang tergambar pada peta dan
menterjemahkan kedalam disiplin ilmu tertentu seperti geologi,
geografi, pertanian, kehutanan, ekologi, hidrologi dan lain-lain.
Langkah-Langkah Interpretasi Peta Rupabumi. Terdapat tiga
rangkaian kegiatan utama dalam interpretasi, yaitu:
1. Deteksi : bersifat global, yaitu pengamatan atas adanya suatu
objek misal sungai, bukit, lembah, dan tipe-tipe penggunaan
lahan.
2. Identifikasi: bersifat agak terperinci, yaitu upaya mencirikan
objek yang telah dideteksi dengan menggunakan keterangan yang
cukup, misal gosong sungai, tipe sungai, bukit terisolasi, dan pola
sebaran permukiman.
3. Analisis & penafsiran: pengenalan akhir atau terperinci yaitu
tahap pengumpulan keterangan lebih lanjut.
Sebagai contoh interpretasi pada Peta Rupabumi:
 Deteksi : adanya penampakan jaringan sungai
 Identifikasi: jaringan sungai tampak bercabang-cabang yang
misalkan bercirikan tipe sungai dentritik.

12
 Analisis & interpretasi: bentuk morfologi wilayah berbukit bukit,
tidak terdapat sitem jaringan irigasi teknis, merupakan hamparan
lahan kering, ketersediaan air terbatas, jenis pertanian tadah hujan,
tingkat kerawanan terhadap erosi dan longsor lahan cukup tinggi,
dan sebagainya.
Oleh karena itu, sistematika interpretasi perlu memperhatikan tiga
hal, yaitu:
1. Analisis harus dikerjakan secara bertahap.
2. Mulailah dari hal yang bersifat umum ke hal-hal yang bersifat
khusus/rinci.
3. Lakukan analisis dari bentuk-bentuk yang paling diketahui
(mudah) hingga bentuk-bentuk yang sulit atau belum diketahui.
Selanjutnya tiga tingkat pengetahuan yang harus diketahui
dalam melakukan interpretasi adalah:
1. Pengetahuan ilmiah dalam bidangnya sampai pada tingkat
tertentu.
2. Pengetahuan mengenai kondisi lingkungan fisik daerah kajian
meliputi iklim, fisiografi, geologi, hidrologi, tanah, tumbuhan
penutup, penggunaan lahan.
3. Pengetahuan teknis tentang peta.
Atas dasar latar belakang pengetahuan tersebut, maka:
1. Berpikir kreatif penting di dalam interpretasi peta, yaitu
menghubungkan hal-hal atau ide yang sebelumnya tampak
tidak berhubungan.
2. Selembar peta tidak boleh dinilai terlalu tinggi, karena peta
tidak mempunyai arti di dalamnya tanpa kita melakukan
identifikasi yang penuh dari objek atau gejala geologi yang
memerlukan lebih banyak dari peta itu sendiri.
3. Makna mempelajari peta untuk berbagai survai adalah
penerapan studi geologi, geografi, tanah, kehutanan, hidrologi,
kerekayasaan, vulkanologi, geologi tata lingkungan, potensi

13
sumberdaya mineral, bencana alam dan lain-lain dengan
menggunakan peta.
4. Tidak ada kunci yang sederhana untuk memecahkan
permasalahan interpretasi peta. Pada dasarnya penafsiran peta
merupakan proses deduktif dan dalam menarik kesimpulan
digunakan prinsip convergence of evidence.

3.4 Alat dan Bahan


1. Peta rupa bumi(topografi)
2. Kertas kalkir
3. Rapidograph atau drawing pen.
4. Penggaris, pensil, dan alat tulis lainnya.
5. Pensil warna
6. Penjepit kertas
7. Lampu belajar

3.5 Cara Kerja Penggambara Peta Rupa Bumi


1. Pertama-tama siapkan alat dan bahan utama yaitu peta rupa bumi, kalkir,
pensil, dan lampu belajar sebagai penerangan
2. Buatlah garis tepi peta dan muka peta
3. Buatlah garis kontur sesuai peta rupa bumi
4. Setelah gambar terbentuk berilah warna sesuai ketinggiannya
5. Buatlah efek 3 dimensi atau bayangan agar peta terlihat timbul

3.6 Hasil Praktikum (terlampir)

14
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kartografi adalah seni membuat peta dan segala macam yang
berhubungan dengan peta baik dari cara pembuatan, pengenalan dan
penggunaan. Peta Topografi adalah peta yang menggambarkan suatu bentuk
penyebaran dan ukuran dari permukaan bumi yang sesuai keadaan yang sebenarnya
dalam dari permukaan laut menjadi garis-garis kontur, dengan suatu garis kontur mewakili
suatu wilayah ketinggian. Unsur-unsur peta topografi yaitu Relief, Garis
Hachures, Garis Kontur. Peta Rupa bumi atau dalam Bahasa asing disebut
topographic map adalah peta yang memperlihatkan unsur-unsur alam (asli)
dan unsur-unsur buatan manusia di atas permukaan bumi.

4.2 Saran
Menurut saya, ketika kita hendak merepresentasikan relief sebaiknya
perhatikan dengan teliti arah garis kontur. Kemudian gradasi warna
disesuaikan dengan ketinggian dan sangat memerlukan peneranagan yang
cukup.

15
DAFTAR PUSTAKA

Sale, F. (2014, Februari 23). SCRIBD. Retrieved from SCRIBD:


https://www.scribd.com/doc/216784940/Laporan-Peta-topografi

Kraak, M.J dan Ferjan Ormeling. 2007. Kartografi Visualisasi Data Geospasial
(terj.Sukendra Martha, dkk.) Edisi 2. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.

Bos E.S. 1973. Cartographic Principles in Thematic Mapping. The Netherlands.


ITC Lecture Note, Enschede.

Bakosurtanal, 2004. Petunjuk Teknis Penggunaan Peta Rupabumi Indonesia


(RBI). Jakarta: Bakosurtanal.

16