Anda di halaman 1dari 11

Proses Pencelupan Kapas Dengan Zat Warna Asam

1. Maksud dan Tujuan


1.1 Maksud
Agar praktikan dapat mengetahui prinsip-prinsip dasar proses pencelupan kain sutra
dengan zat warna asam.
1.2 Tujuan
- Mengetahui dengan baik prinsip dasar proses pencelupan sutra dengan zat warna
asam.
- Memahami karakter sutra, zat warna asam, zat pembantu dan alat celup yang akan
dipakai.
- Membuat perencanaan proses pencelupan.
- Menghitung kebutuhan bahan, zat warna, dan zat pembantu sesuai dengan resep
pencelupan.
- Mampu melakukan proses pencelupan dengan hasil pencelupan yang rata dan
tahan luntur yang memadai sesuai target.
- Mampu mengevalusi dan menganalisa hasil proses pencelupan.
2. Teori Dasar
2.1 Serat Sutera

Sutera adalah serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut Lepidoptra.
Serat sutera yang berbentuk filamen dihasilkan oleh larva ulat sutera waktu membentuk
kepompong. Species utama yang dipelihara untuk menghasilkan sutera adalah “Bombyx
Mori”. Proses produksi sutera dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu pembibitan, yang
berhubungan dengan produksi kepompong dan penggolongan sutera yang berhubungan
dengan penguraian kepompong menjadi benang.

Disamping Bombyx Mori hanya sedikit varietas kupu-kupu yang dapat digunakan
untuk produksi sutera. Sutera tersebut biasanya disebut sutera liar, karena serangga yang
menghasilkannya hidup liar dan tidak dapat dipelihara. Sutera liar terdiri dari:

1. Sutera Tusah
Sutera liar yang terpenting adalah sutera yang dihasilkan oleh ulat sutera Tusah,
yang terdapat didaerah Cina. Ulatnya lebih besar daripada Bombyx Mori, dan memakan
daun pohon oak. Sutera Tusah lebih kasar dari Bombyx Mori dan berwarna kecoklat-
coklatan karena adanya tanin pada daun oak yang dimakannya. Termasuk keluarga
yang sama dengan ulat sutera Tusah adalah ulat sutera yang terdapat di India, yang
menghasilkan sutera “eri”. Ulat sutera ini memakan daun pohon jarak.

2. Sutera Anaphe
Sutera Anaphe terdapat di Afrika, terutama Afrika Barat. Ulat sutera ini hidup
mengelompok. Secara komersiil, penggulungan sutera dari kepompong Anaphe tidak
menguntungkan, karena strukturnya kompleks dan mengandung banyak kotoran.

Limbah sutera yang tidak dapat digulung menjadi benang dapat dibuat menjadi
sutera pintal. Limbah sutera dapat berupa:
1. Kepompong rusak atau yang tidak dapat digulung, misalnya: kepompong berlubang
karena kupu-kupunya keluar.
2. Kepompong yang menempel pada ranting.
3. Lapisan luar kepompong yang terbuang pada waktu mencari ujung filament.
4. Lapisan dalam kepompong yang masih tertinggal setelah penggulungan.
5. Limbah yang timbul waktu penggulungan kembali benang sutera.
6. Limbah yang timbul waktu perangkapan dan penggintiran.

Dalam keadaan kering kekuatan serat sutera 4–4,5 gram/denier dengan mulur
20–25 %, dan dalam keadaan basah kekuatannya 3,5-4,0 gram/denier dengan mulur
25-30%. Serat sutera dapat kembali kepanjang semula setelah mulur 4%, tetapi kalau
mulurnya lebih dari 4% pemulihannya lambat dan tidak kembali kepanjang semula.
Berat jenis sutera mentah 1,33 dan sutera yang telah dihilangkan serisinnya 1,25.
Untuk mengimbangi kehilangan berat serisin, sutera “diberati” dengan cara
merendamnya di dalam larutan garam-garam timah dalam asam. Pemberatan juga
mengembalikan pegangan dan sifat menggantung kain sutera. Tetapi dengan adanya
ion-ion logam akan mengurangi kekuatan serat dan mempercepat kerusakan serat
karena sinar matahari.

Sutera bersifat amfoter dan menyerap asam dan basa dari larutan encer. Sutera
tidak mudah diserang oleh larutan asam encer hangat tetapi larut dan rusak didalam
asam kuat. Sutera kurang tahan asam tetapi lebih tahan alkali meskipun dalam
konsentrasi rendah pada suhu tinggi akan terjadi kemunduran kekuatan. Sutera tahan
terhadap semua pelarut organic, tetapi larut didalam kuproamonium hidroksida dan
kupri etilena diamina. Sutera kurang tahan terhadap zat-zat oksidator dan sinar
matahari tetapi lebih tahan terhadap serangan secara biologi.

2.2 Zat Warna Asam

Zat warna asam termasuk zat warna yang larut dalam air karena mempunyai gugus
pelarut sulfonat atau karboksilat dalam struktur molekulnya. Gugus-gugus tersebut juga
berfungsi sebagai gugus fungsi untuk mengandakan ikatan ionik dengan tempat-tempat
positif dalam serat wol atau sutera.

Zat warna asam yang mempunyai satu gugus sulfonat dalam struktur molekulnya
disebut zat warna asam monobasik, yang mempunyai dua gugus sulfonat disebut zat
warna asam dibasik dan seterusnya.

Karena gugus pelarut zat warna asam dibasik lebih banyak gugus pelarutnya, maka
kelarutannya makin tinggi, akibatnya pencelupannya menjadi mudah rata, tetapi tahan
luntur hasil celupan terhadap pencuciannya akan berkurang. Selain itu dibanding zat
warna asam monobasik jumlah maksimum zat warna asam dibasik yang dapat terserap
oleh serat wol atau sutera menjadi lebih kecil, terutama bila suasana larutan celup
kurang begitu asam, karena dalam kondisi seperti itu tempat-tempat positif pada bahan
terbatas. Jadi untuk pencelupan warna tua dalam kondisi tersebut sebaiknya digunakan
zat warna asam monobasik.

Keunggulan lain dari zat warna asam adalah warna cerah, hal tersebut karna ukuran
partikelnya relatif kecil (lebih kecil dari ukuran partikel zat warna direk).

Struktur kimia zat warna asam bervariasi, antara lain jenis trifenil metan, xaten, nitro
aromatk, azo dan pirazolon. Kebanyakan zat warna asam termasuk jenis azo sehingga
hasil celupnya dapat dilunturkan sebagai reduktor.

Penggolongan zat warna asam yang lebih umum adalah berdasarkan cara pemakaiannya
yaitu :

 Zat Warna Asam Celupan Rata ( Levelling Acid Dyes)


Disebut zat warna asam celupan rata karena pencelupannya mudah rata akibat
dari ukuran molekul zat warnanya relatif sangat kecil sehingga substantifitasnya
terhadap serat relatif kecil, sangat mudah larut dan warnanya sangat cerah, tetapi
tahan luntur warnanya rendah.
Ikatan antara serat dan zat warna yang utama adalah ikatan ionik disamping
sedikit ikatan van der waals. Untuk pencelupan warna tua biasanya diperlukan
kondisi larutan celup yang sangat asam pada pH 3-4 tapi untuk warna sedang
dan muda dapat dilakukan pada pH 4-5.
Pemakaian NaCl pada larutan celup yang pH nya rendah akan berfungsi sebagai
perata, tetapi pada pH >4 akan berperan sebagai pendorong penyerapan zat
warna.

 Zat Warna Asam Milling


Ukuran molekul zat warna asam milling agak lebih besar dibanding dengan
zat warna asam celupan rata, sehingga afinitas zat warna asam milling lebih
besar dan agak sukar bermigrasi dalam serat, akibatnya gak sukar mendapatkan
kerataan hasil celup.
Tahan luntur warna hasil celupannya lebih baik dari zat warna hasil
celupannya lebih baik dari zat warna asam celupan rata karena walaupun ikatan
antara serat dan zat warna dengan serat masih didominasi ikatan ionik tetapi
sumbangan ikatan sekunder berupa gaya van der waals nya juga relatif mulai
cukup besar (sesuai dengan makin besarnya ukuran partikel zat warna).
Untuk mencelup warna tua umumnya diperlukan kondisi larutan celup pH 4-5,
tetapi untuk warna sedang dan muda sebaiknya dilakukan pada pH 5-6 agar hasil
celupannya rata.
Penambahan NaCl dalam larutan celup akan berfungsi sebagai pendorong
penyerapan.

 Zat Warna Asam Super Milling


Diantara seluruh jenis zat warna asam, ukuran molekul zat warna asam super
milling paling besar ( tetapi masih lebih kecil dari ukuran molekul zat warna
direk) sehingga afinitasnya terhadap serat relatif besar dan sukar bermigrasi,
akibatnya sukar mendapatkan kerataan hasil celupnya, tetapi tahan luntur
warnaya tinggi.
Tahan luntur yang tinggi diperoleh dari adananya ikatan antara serat dan zat
warna yang berupa ikatan ionik yang didukung oleh ikatan dari gaya van der
waals serta kemungkinan terjadinya ikatan hidrogen. Untuk pencelupan warna
tua dapat dilakukan pada pH 6-7. Agar resiko belang menjadi lebih kecil
biasanya tidak diperlukan penambahan NaCl ( atau jumlahnya dikurangi ),
karena NaCl dalam suasana larutan celup yang kurang asam akan berfungsi
sebagai pendorong penyerapan zat warna.
Dalam pencelupan dengan zat warna asam supermilling seringkali sukar untuk
menghindarkan terjadinya ketidak rataan. Untuk itu pada proses pencelupan
dapat ditambahkan perata anionik.

2.2.1 Mekanisme Pencelupan Zat Warna Asam

Zat warna asam dapat mencelup serat wol/sutera karena adanya tempat-tempat positif
pada bahan. Jumlah tempat positif pada bahan sangat tergantung pada dua faktor yaitu
jumlah gugus amida dan jumlah gugus amina dalam serat serta keasaman dari larutan
celup.

Mekanisme terbentuknya tempat-tempat bermuatan positif pada bahan adalah sebagai


berikut :

 Pada suasana netral (pH 7)


Bila serat wol atau sutera dimasukkan kedalam air pada suasana netral sebagian
akan terionisasi sebagai berikut :
HOOC wol NH2 OOC wol N+H3

 Pada suasana asam


Bila bila kedalam larutan celup ditambahkan asam maka terbentuk muatan
positif yang nyata pada serat, akibat adanya ion H+ yang terserap gugus antara
amina dari wol atau sutera
HCl H+ + Cl-
HOOC wol N+H3 + H+ + Cl- HOOC wol N+H3 ... Cl-

2.2.2 Faktor-Faktor Pencelupan Zat Warna Asam

Pengaruh Asam

Pada umumnya zat warna asam tidak akan mencelup atau hanya memberi noda pada
serat-serat wol pada suasana netral.
Tetapi bila ditambahkan suatu asam kedalam larutan celup maka penyerapan akan
bertambah baik.

Pengaruh Alkali

Beberapa zat warna asam dengan molekul sederhana atau yang akan larut baik dalam
air dengan membentuk larutan molekuler, maka penambahan garam dalam larutan celup
akan membantu celupan yang rata.

Garam-garam tersebut mempunyai pengaruh merintangi atau memperlambat


penyerapan zat warna karena tempat-tempat yang aktif dalam serat telah ditempati lebih
dahulu oleh anion garam yang molekulnya lebih sederhana dari pada anion zat warna.

Pengaruh Suhu

Kecepatan penyerapan zat warna sangat mempengaruhi oleh suhu. Dibawah suhu
40oC hampir tak ada zat warna yang terserap. Penaikan suhu diatas 40oC akan
mempercepat penyerapan zat warna akan maksimum.

Pada umumnya zat-zat warna asam milling tidak bisa mencelup pada suhu dibawah
60oC, tetapi diatas suhu tersebut terdapat suatu suhu kritis dimana zat warna akan
terserap dengan cepat sekali sehingga mudah memberikan celupan yang tidak rata.

2.2.3 Cara Pemakaian Zat Warna Asam

Zat warna asam mudah larut dalam air. Tetapi meskipun demikian adakemungkinan
beberapa zat warna yang tidak larut baik hingga akan memberi noda-noda pada bahan.
Maka untuk melarutkannya pertama kali dibuat pasta dengan bantuan zat pembasah non
ionik atau anionik, kemudian ditambahkan air mendidih.

Larutan zat warna disaring lebih dahulu sebelum dituangkan kealam bejan celup.
Dalam pencelupan zat warna asam terrdapat beberapa cara tergantung dari pada pli
larutan celup.

1. Cara Pertama

Larutan celup mengandung 10-20% garam glauber, 2%-4% asam sulfat 98% atau 2-
4% asam formiat 85%. Suhu dinaikan hingga 40oC dan bahan dimasukkan kedalamnya
sambil diaduk baik-bak supaya pH bahan asam.
Larutan zat warna kemudian ditambahkan dan suhu dinaikan hingga mendidih dalam
waktu 45 menit. Pendidihan diteruskan selama kira-kira 1 jam supaya penyerapan dapat
sempurna. Zat-zat warna asam terdispersi molekuler pada umumnya akan memberikan
hasil celupan yang baik bila suhu dinaikan hingga 50-60oC dan dipertahankan pada suhu
tersebut sehingga penyerapan smpurna. Larutan celup kemudian dididihkan dengan
cepat dan pencelupan yang rata karena zat warna akan bermigrasi.

Bila dikehendaki penambahan zat warna untuk tandingan warna, maka dapat
dilakukan waktu pendidihan dengan penambahan zat warna yang disebut salting colours
yaitu zat warna asam yang mudah sekali memberikan celupan rata tetapi mempunyai
ketahanan cuci yang rendah.

Beberapa zat warna salting colours, yaitu :

Naphtol Yellow 5 C.I. Acid Yellow 5

Naphtalene Fast Orange 2G C.I. Acid Orange 10

Lissamine Fast Red 4G C.I. Acid Red 30

Coomassie Violet 2R C.I. Acid Violet 9

Alizarine Light Blue 5GL C.I. Acid Blue 52

Xylene Fast Green B C.I. Acid Green 16

Apabila zat warna asam tersebut merupakan zat warna yang kurang memberikan
celupan rata, maka penambahannya terus dilakukan dengan mendinginkan larutan celup
hingga 60oC.

2. Cara Kedua

Larutan celup mengandung 10-15% garam glauber dan 3-5% asam asetat 35%. Suhu
dinaikan hingga 40oC dan bahan dimasukan kedalam larutan celup dan dikerjakan
selama 10-20 menit agar bahan mempunyai pH yang sama. Larutan zat warna
dituangkan dan larutan celup dididihkan dalam waktu 45 menit.
Pendidihan diteruskan selama 45 menit sambil ditambahkan dengan perlahan-lahan 1-
3% asam asetat 30%, 1% asam sulfat 98% atau asam formiat 85%.

3. Cara Ketiga

Larutan celup mengandung amonium sulfat sebanyak 2-4% dari berat bahan. Bahan
dicelupkan pada suhu 40oCselama beberapa menitkemudian suhu dinaikan sampai
mendidih dalam waktu 45 menit. Pendidihan diteruskan selama kira-kira 1 jam. Cara ini
dipergunakan untuk zat-zat warna asam celupan netral.

Fungsi garam-garam amonium adalah membantu penyerapan zat warna karena


senyawa tersebut memberikan pH yang lebih rendah waktu pencelupan berlangsung.
Hal ini mungkin disebabkan oleh terbentuknya amonia yang mudah menguap.

3. Percobaan

3.1 Alat dan Bahan

Alat : Bahan :
1. Gelas Piala 500 mL 1. Kain Sutra
2. Bunsen 2. Zat Warna Asam (Erionyl Yellow A-
3. Gelas Ukur 100 mL
R)
4. Pipet volume 10 mL
3. CH3COOH 35%
5. Pengaduk
4. Perata
6. Timbangan
5. NaCl

3.2 Resep Pencelupan :

Resep no 1 2 3 4
Jenis Zat Warna Asam Asam Asam Asam
Levelling Levelling Levelling Levelling
Metoda 1 1 1 1
Zat Warna 1% 1% 1% 1%
Asam
Perata - - - -
CH3COOH 2 2 2 2
35% (mL)

NaCl (g/L) 5 10 15 20
Vlot 1 : 20 1 : 20 1 : 20 1 : 20

3.3 Perhitungan Zat


Resep no 1 2 3 4
Berat bahan 2,81 gram 2,71 gram 2,84 gram 2,86 gram
Vlot 30 x 2,81 = 30 x 2,71 = 30 x 2,84 = 30 x 2,86 =
84,3 ml 81,3 ml 85,2 ml 85,8 ml
Zat warna (g) x 2,81 x = x 2,71 x = x 2,84 x = x 2,86 x =
2,81 2,71 2,84 2,86
CH3COOH x 84,3 = x 81,3 = x 85,2 = x 85,8 =
35% (mL) 0,1686 0,1626 0,1704 0,1716
NaCl (g/L) x 84,3 = x 81,3 = x 85,2 = x 85,8 =
0,4215 gram 0,813 gram 1,27 gram 1,71 gram

3.4 Fungsi Zat


2 Zat Warna : Untuk mewarnai bahan
 Asam asetat 35% : untuk mendapatkan suasana asam agar serat bermuatan positif.
 NaCl pada : untuk mendorong penyerapan zat warna, sedang pH rendah berfungsi
sebagai perata.
 Pembasah : untuk meratakan dan mempercepat proses pembasahan kain.
 Sabun netral : untuk [roses pencucian setelah proses pencelupan guna menghilangkan
zat warna asam yangmenempel dipermukaan serat.

4. Diagram Alir dan Skema Proses


 Diagram Alir
- Metoda 1
Pencelupan Pencucian
Persiapan Larutan Celup

3 Skema Proses
5. Diskusi
Dalam praktikum ini di gunakan zat warna asam levelling, zat warna asam levelling
disebut zat warna asam celupan rata, karena pencelupannnya mudah rata akibat molekul
zat warnanya yamg relatif sangat kecil, sehingga substantifitasnya terhadap serat relatif
kecil, sangat mudah larut dan warnanya sagat cerah, tetapi tahan luntur warnanya
rendah.Ikatan antara serat dan zat warnannya adalah ikaan ionik, disamping ikatan zvan
der walls. Untuk pencelupan warna tua, biasanya diperlukan kondisi larutan celup yang
sangat asam, yakni pH 3-4, tetapi untukl zat warna sedang dan muda dapat dilakukan
pada pH 4-5. Dalam pencelupannya pun digunakan dengan metoda standar, dengan
penambahan zat warna, asam asetat dan NaCl dilakukan diawal dan dengan
menggunakan variasi NaCl pada 4 bahan sampel kain sutera.
Reaksizatwarnaasamdenganserat protein denganbantuanasam (ikatan ionic)
+
H NH3 + -
W NH3 + W NH2 W O3S - ZW
- COOH
COO COOH
Kerataan

Parameter yang dievaluasi dari hasil pencelupan selain ketuaan warna dilalukan
evaluasi terhadap kerataan warna hasil celup. Dari resep 1 sampai resep 4 yang dilakukan
evaluasi memiliki nilai kerataan baik dengan nilai 80. Dilihat dari semua 4 bahan sampel kain
sutera yang digunakan, kerataannya baik dan mempunyai nilai yang hampir sama.
Kemungkinan karena zat warna yang digunakan adalah asam levelling yang mudah rata
akibat molekul zat warnanya yang relatif sangat kecil, sehingga substantifitasnya terhadap
serat relatif kecil. Dan selain itu faktor NaCl juga yang dalam suasana asam memperlambat
penyerapan sehingga menghasilkan hasil celup yang rata.

Ketuaan

Perbandingan resep 1 dan 2 hasil pencelupan pada resep 1 menghasilkan warna


kuning kain sutera lebih muda dibandingkan dengan resep 2. Resep 1 mempunyai nilai
ketuaan warna sebesar 75 dan resep 2 mempunyai nilai 80. Di dalam resep 1 penambahan
NaCl sebanyak 5 g/L sedangkan pada resep 2 penambahan NaCl sebanyak 10 g/L.

Perbandingan resep 2 dan 3 hasil celupan resep 2 lebih muda, namun pada resep 3
lebih tua. Dilakukan penilaian pada resep 2 dan 3 , pada resep 2 bernilai 80 sedangkan resep
3 bernilai 85. Di dalam resep 2 penambahan NaCl sebanyak 10 g/L sedangkan pada resep 3
penambahan NaCl sebanyak 15 g/L.

Perbandingan resep 3 dan 4 hasil pencelupan pada resep 3 menghasilkan warna


kuning kain sutera lebih muda dibandingkan dengan resep 4. Resep 3 mempunyai nilai
ketuaan warna sebesar 85 dan resep 4 mempunyai nilai 90. Di dalam resep 3 penambahan
NaCl sebanyak 15 g/L sedangkan pada resep 4 penambahan NaCl sebanyak 20 g/L.

Dilihat dari semua 4 bahan sampel kain sutera yang digunakan, ketuaan yang paling
baik adalah pada resep 4, yang menggunakan NaCl sebanyak 20 gram/liter. Kemungkinan
dikarenakan banyak NaCl yang digunakan semakin banyak yang memperlambat penyerapan
dengan mekanismenya memblokir muatan positif yang ada pada serat ( berikatan dengan
serat), apabila suhu dinaikkan ikatan akan putus kemudian zat warna berikatan dengan
serat.Adanya elektrolit akan mengurangi muatan negatif tersebut, sehingga butir zat warna
akan tertarik oleh serat karena gaya-gaya Van der Waals atau ikatan hidrogen telah bekerja
dengan baik. Disamping itu NaCl akan mengurangi ionisasi butir zat warna, sehingga
diharapkan larutan celup lebih banyak mengandung butir zat warna yang membentuk
molekul tunggal atau agregat, karena yang terserap selulosa adalah butir zat warna yang
berbentuk seperti tersebut diatas. Dengan adanya NaCl tersebut maka disamping
mempercepat penyerapan juga akan memperbesar jumlah zat warna yang terserap, sehingga
diperoleh warna yang lebih tua.

6. Kesimpulan
1. Zat warna asam levelling mempunyai substantivitas terhdap serat sangat baik karena
molekul dari zat warna tersebut kecil sehingga hasil celupan pada kain sutera lebih
rata.
2. NaCl sangat berpengaruh pada proses pencelupan zat warna asama. Karena semakin
banyak NaCl yang ditambahkan dalam larutan maka hasil pencelupannya akan
menghasilkan warna tua.
3. Resep yang mengahasilkan celupan warna tua terdapat pada resep 4 dan ketuaan
warna setiap resep sama rata.

DAFTAR PUSTAKA

Ir.Elly K.BK.Teks, dkk. Bahan Ajar Praktek Pencelupan 1. Sekolah Tinggi Teknologi
Tekstil Bandung: 2005.