Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

REGIONAL KOMPLEKS “Banjir di Jakarta”

Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Geografi

(ABKA510)

Dosen Pengampu :

Dr. Nasruddin, S.Pd., M.Sc.

(ABKA510) Dosen Pengampu : Dr. Nasruddin, S.Pd., M.Sc. Oleh : SIFANI LULU NISFINAHARI (1710115220023) KELAS A

Oleh :

SIFANI LULU NISFINAHARI (1710115220023) KELAS A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN

2017

LATAR BELAKANG

Banjir merupakan suatu masalah yang rentan mengancam bagi kota-kota besar di Indonesia yang memiliki laju pertumbuhan penduduk yang jauh lebih pesat dibandingkan pertumbuhan penduduk masyarakat desa. Persoalan banjir seolah sudah menjadi tradisi tahunan yang wajib dirasakan apabila musim penghujan tiba seperti halnya banjir besar yang baru-baru ini terjadi di ibu kota Jakarta. Banjir tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan bagi masyarakat dalam beraktivitas, merusak badan-badan jalan dan prasarana lainnya akibat sering tergenang air, lebih jauh dapat menimbulkan kerugian materil bahkan korban jiwa apabila bencana banjir besar terjadi. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi permasalahan banjir perkotaan ini, hal ini berbanding lurus dengan dana yang telah terkuras untuk masalah banjir ini, namun tetap saja belum berhasil mengatasi ancaman banjir tersebut. Hal ini akan semakin sulit diatasi dengan melihat kondisi buruknya infrastruktur penanganan banjir yang telah dibangun oleh pemerintah seperti misalnya saluran drainase, sehingga pembangunan demi pembangunan yang dilakukan dengan alasan penanganan banjir hanya menjadi rutinitas tanpa solusi.

Banjarmasin, 6 Desember 2017

Sifani Lulu Nisfinahari

(1710115220023)

PEMBAHASAN

PEMBAHASAN Global warming atau pemanasan global menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di beberapa wilayah di
PEMBAHASAN Global warming atau pemanasan global menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di beberapa wilayah di

Global warming atau pemanasan global menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di beberapa wilayah di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum,

dampak dari pemanasan global menyebabkan iklim tidak teratur, seperti musim kemarau yang berkepanjangan dan musim hujan yang terus-menerus.

Kepala Bidang Teknologi Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Pusat Teknologi Lingkungan (PTL-BPPT) , Rudi Nugroho, mengungkapkan apabila musim hujan terjadi sangat panjang dan tanah resapan di kota-kota sudah terbatas, maka otomatis akan terjadi genangan yang mengakibatkan banjir.

Dimensi dan masalah banjir di Jakarta terus meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan banjir tersebut selain karena faktor alamiah juga akibat dari aktivitas penduduk. Kondisi demikian menyebabkan banjir dan pembangunan di Jakarta saling berinteraksi, artinya banjir dapat merusak hasil pembangunan, namun sebaliknya terkadang hasil pembangunan itu sendiri yang menyebabkan terjadinya banjir. Perbedaan antara banjir-banjir yang pernah terjadi adalah dimensi penyebab dan akibat banjir tersebut. Pada periode sebelum tahun tujuh puluhan, penyebab utama adalah faktor alam. Sesudah periode tersebut penyebab banjir menjadi semakin kompleks, bukan hanya faktor alam, tetapi faktor sosial ekonomi dan budaya serta akibat yang ditimbulkannya juga berbeda. Dimensi banjir menjadi lebih besar akibat adanya perkembangan kawasan yang tidak tidak didukung dengan teknologi pengendalian banjir yang memadai. Hal ini terlihat dari rendahnya kemampuan drainase mengeringkan kawasan terbangun dan rendahnya kapasitas seluruh 92 Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol. 3, No. 2, 2002, 91-97 prasarana pengendali banjir, seperti sungai, poulder, pintu pengatur, bendung, dan sebagainya. Selain itu secara geomorfologis Jakarta terletak pada dataran banjir dimana terdapat 13 sungai, yaitu : Sungai Cakung, Jatikramat, Buaran, Sunter, Cipinang, Ciliwung, Cideng, Krukut, Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan, Angke dan Mookervart. Rata-rata curah hujan tahunan yang cukup tinggi yaitu 2000 - 3000 mm dan daerah pengaruh pasang surut laut mencapai 40% (24.000 ha) dari luas keseluruhan 64.000 ha, maka masalah banjir bukan menjadi fenomena yang aneh.

Sungai-sungai umumnya mempunyai kapasitas pengaliran palung sungai di bagian hilirnya sangat terbatas dan hanya mampu menampung debit aliran normal. Debit sungai di lokasi tertentu tidak konstan, namun selalu berubah-ubah yang dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti curah hujan dan kondisi DAS. Pada kondisi dimana debit sungai melebihi kapasitas pengaliran palung sungainya, maka aliran sungai meluap dan menggenangi dataran rendah di sekitar dataran banjir.

Penurunan permukaan tanah (subsidence) akibat ekploitasi air tanah Jakarta yang berlebihan menyebabkan posisi Jakarta terhadap laut makin rendah. Kondisi ini diperburuk dengan kecenderungan meningkatnya muka air laut sampai hampir di

sebagian besar kota-kota dunia akibat pemanasan global (global warming). Penurunan daratan di Ancol dan meningkatnya risiko terjadinya banjir dan genangan ini dapat dijadikan salah satu indikator bahwa Jakarta sedang menuju tenggelam. Kejadian serupa juga dialami Kota Semarang, Jawa Tengah. Hal ini diperburuk dengan adanya perubahan fenomena iklim global yang mengarah pada terjadinya hujan lebat dengan durasi lama. Dampaknya terlihat dari meningkatnya luas areal yang mengalami banjir atau genangan. Lebih mengkhawatirkan lagi, menurut catatan, tinggi air dan lama genangan terus meningkat. Daerah yang sebelumnya tidak pernah kebanjiran, kini harus menghadapi banjir yang amat mencemaskan.

Peningkatan permukaan air laut dari tahun ke tahun menyebabkan lantai sebuah kantor pemerintah harus ditinggikan setiap tahun untuk meminimalkan terjadinya genangan. Sampai suatu saat, tahun 1995 lantai kantor itu tidak mungkin ditinggikan lagi karena jarak antara lantai dan plafon tidak dapat digunakan untuk orang berdiri sehingga kantor itu harus dipindah ke daerah yang lebih tinggi.

Proses terjadi nya banjir di Jakarta . Sebuah banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya. Ukuran danan atau juga badan air yang terus berubah sesuai dengan perubahan curah hujan bila deras maka akan memungkin nya terjadinya banjir. Bila di Jakarta Banjir ini berproses apabila curah hujan yang deras maupun tidak nya ini di akibatkan karena letak dataran tanah semangkin menurun. Ibukota Negara Indonesia yaitu adalah Jakarta kota ini setiap kali terjadi banjir sering sekali orang mengira kalau banjir itu terjadi karena kirimian dari kota Bogor. Banjir merupakan permasalahan yang kompleks, yang harus segera ditangani agar akibat yang ditimbulkannnya tidak banyak merusak dan merugikan masyarakat sekitarnya, mengingat Jakarta merupakan Ibukota negara yang merupakan citra negara dan barometer ekonomi.

KESIMPULAN

Global warming atau pemanasan global menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir

di beberapa wilayah di Indonesia.

Dimensi dan masalah banjir di Jakarta terus meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan banjir tersebut selain karena faktor alamiah juga akibat dari aktivitas penduduk. Dimensi banjir menjadi lebih besar akibat adanya perkembangan kawasan yang tidak tidak didukung dengan teknologi pengendalian banjir yang memadai. Hal ini terlihat dari rendahnya kemampuan drainase mengeringkan kawasan terbangun dan rendahnya kapasitas seluruh 92 Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Vol.

3, No. 2, 2002, 91-97 prasarana pengendali banjir, seperti sungai, poulder, pintu

pengatur, bendung, dan sebagainya.

Penurunan permukaan tanah (subsidence) akibat ekploitasi air tanah Jakarta yang berlebihan menyebabkan posisi Jakarta terhadap laut makin rendah. Kondisi ini diperburuk dengan kecenderungan meningkatnya muka air laut sampai hampir di sebagian besar kota-kota dunia akibat pemanasan global (global warming).

Reformasi pemilikan lahan pertanian amat berperan penting dalam meningkatkan produktivitas lahan bagian di hulu. Akumulasi pemilikan lahan kawasan hulu oleh masyarakat nonpetani akan mendorong sebagian besar lahan tidak dibudidayakan dan cenderung mengalihfungsikan lahan pertanian ke lahan nonbudidaya (pemukiman, bangunan) dengan pertimbangan pemeliharaan yang lebih mudah. Pada kondisi itu air kurang dihargai, karena di kawasan hulu umumnya tersedia sepanjang tahun. Sebaliknya, bila budi daya lahan untuk pertanian berhasil dilakukan, secara langsung akan meningkatkan apresiasi penggunaan air untuk budidaya. Meski kawasan hulu sudah dikelola dengan baik, tanpa didukung pembangunan yang memadai di kawasan Jakarta, maka upaya itu akan kurang memuaskan. Perusakan alur sungai alamiah untuk keperluan apa pun, harus diakhiri. Bahkan, bila perlu dipikirkan normalisasi sungai utama di hilir agar tenggelamnya Jakarta dapat dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

Irianto, G. (2012). Orang Jakarta Tenggelamkan Jakarta . 3.

Nugroho, S. P. (2010). Evaluasi dan Analisis Curah Hujan sebagai Faktor Penyebab Bencana Banjir di Jakarta. 7.