Anda di halaman 1dari 8

PENERAPAN MANAJEMEN MUTU PADA PROSES PEMBANGUNAN

STRUKTUR BETON GEDUNG RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA


(RUSUNAWA)
DI SURAKARTA

Herman Susila

Abstrak

Salah satu sasaran dalam pengelolaan proyek adalah terpenuhinya persyaratan


mutu yang telah di rencanakan. Untuk memenuhi persyaratan tersebut maka proses
pelaksanaan proyek menjadi sangat penting. Agar tercapai sasaran mutu yang telah
ditetapkan maka diperlukan serangkaian tindakan sepanjang siklus proyek mulai dari
perencanaan, pengawasan, pemeriksaan dan pengendalian mutu.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui
bagaimana penerapan manajemen mutu pada pelaksanaan pembangunan rumah susun
sederhana sewa (RUSUNAWA) di Surakarta. Penelitian dibatasi hanya pada proses
pelaksanaan struktur beton. Analisis dilakukan dengan meninjau dan mengkaji Surat
Perjanjian Kerja, metode pelaksanaan dan survey dilapangan untuk mengetahui proses
pelaksanaan pembangunan struktur beton pada gedung Rusunawa di Surakarta.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sasaran mutu yang ditetapkan pada
struktur beton pembangunan RUSUNAWA di Surakarta adalah mutu beton K -350, fc =
29.05 Mpa. Material yang dipakai dalam memproduksi komponen struktur beton pracetak
ini mengikuti standar acuan yang terdapat dalam : ASTM, NI – 8, sistim join balok kolom
sesuai dengan SNI – 03 – 1726 – 2002. Pengujian komponen struktur dilakukan di
Laboratorium Struktur dan Konstruksi Bangunan Pusat Litbang Permukiman, Cileunyi
Bandung. Untuk pengendalian mutu struktur beton pracetak didalam proses fabrikasi dan
proses pelaksanaan telah dibuat prosedur proses fabrikasi dan juga prosedur pelaksanaan
sehingga akan memperkecil kesalahan-kesalahan yang akan mengakibatkan kerugian.

Kata kunci : manajemen mutu, beton procetak.

1. PENDAHULUAN banyaknya asosiasi-asosiasi jasa konstruksi


1.1. Latar Belakang yang ada sekarang ini. Dengan berkembangnya
Dunia jasa konstruksi di Indonesia industri jasa konstruksi yang semakin banyak
pada pasca krisis moneter tahun 1998 sedikit maka akan mengakibatkan persaingan diantara
demi sedukit mulai bangkit dan terus penyedia jasa juga semakin ketat. Salah satu
berkembang. Hal ini ditandai dengan cara untuk memenangkan persaingan tersebut
ialah dengan memperhatikan kualitas produk yang digunakan adalah komponen kolom,
yang dihasilkan. Untuk tujuan tersebut maka komponen balok dan komponen pelat.
diperlukan suatu manajemen mutu yang baik.
Manajemen mutu di sini meliputi perencanaan 2. TINJAUAN PUSTAKA
mutu, penjaminan mutu dan pengendalian
2.1. Pengertian Mutu
mutu.
Definisi mutu menurut ISO 8402
1.2. Rumusan Masalah (1886) adalah sifat dan karakteristik produk
atau jasa yang membuatnya memenuhi
Rumusan masalah dalam penelitian ini kebutuhan pelanggan atau pemakai (Iman
adalah bagaimana penerapan manajemen mutu Suharto, 1998). Secara subyektif mutu adalah
saat proses pelaksanaan pembangunan struktur fitnes for use, yaitu sesuatu yang cocok dengan
beton pada gedung Rumah Susun Sederhana selera. Secara obyektif Joseph M. Juran
Sewa (Rusunawa) di Surakarta. mendefinisikan mutu adalah standar khusus
dimana kemampuannya, kinerjanya,
1.3. Data Umum Proyek keandalannya, kemudahan pemeliharaan dan
Nama Proyek : Pembangunan Rumah karakteristiknya dapat diukur (Juran, 1988).
Susun Sederhana Pengertian mutu dalam konteks industri jasa
(RUSUNAWA) di konstruksi pada prinsipnya adalah tercapainya
Surakarta kesesuaian antara hasil kerja yang akan
Pemilik Proyek : Satuan Kerja Pelaksanaan diserahkan oleh kontraktor dan keinginan
Pengembangan pemilik proyek (Wiryodiningrat, et.al, 1997 ;
Permukiman, alamat Jl. 53).
Penjernihan I/19A Untuk mencapai tujuan seperti apa
Pejompongan Jakarta yang ada pada definisi mutu tersebut maka
Pusat perlu adanya pengelolaan mutu. Dengan
Pelaksana : PT. Limajabat Jaya, adanya pengelolaan mutu proyek ini
alamat Jl. Tebet Timur diharapkan tidak ada pekerjaan yang harus
Dalam III E No. 1 Tebet diulang karena ada kerusakan atau pekerjaan
Jakarta Selatan yang cacat, sehingga tidak menimbulkan
Nilai Kontrak : Rp. 7.274.500.000,- kerugian.
Sifat Kontrak : Lumpsum
Waktu Pelaksanaan : 180 (seratus delapan 2.2. Sistem Mutu
puluh) hari Sistem mutu menurut ISO 8402
meliputi struktur organisasi, pertanggung
1.4. Batasan Masalah jawaban, prosedur, proses, dan berbagai
Penelitian penerapan manajemen mutu sumber daya untuk mengimplementasikan
pada proses pembangunan struktur beton manajemen mutu. Tujuan dari sistem mutu
gedung rumah susun sederhana sewa adalah memberikan pendekatan yang sistemik
(rusunawa) di Surakarta ini hanya pada dalam usaha pencegahan kegagalan dari suatu
pelaksanaan beton pracetak. Jenis komponen
produk. Sistem mutu dari waktu ke waktu terus 2.4. Total Quality Management
mengalami perkembangan. Sistem mutu pada
(TQM) Pada Industri Jasa
awalnya dikenal dengan istilah inspeksi
(inspection), kemudian berkembang menjadi Konsep dasar Total Quality
pengendalian mutu (Quality Control), Management (TQM) antara lain :
selanjutnya menjadi penjaminan mutu (Quality 1. Memfokuskan pada produk dan
Assurance), manajemen mutu (Quality pelanggan.
Management) dan manajemen mutu terpadu 2. Kepemimpinan dalam organisasi jasa
(Total Quality Management). yang mendukung pelaksanaan filosofi
TQM.
2.3. Manajemen Mutu Proyek 3. Budaya organisasi
4. Komunikasi yang efektif antar seluruh
Manajemen mutu proyek (Project personil dalam organisasi maupun antara
Quality Management) melibatkan proses yang para personil organisasi dengan
mensyaratkan dan menjamin bahwa proyek pelanggan.
tersebut akan memenuhi kebutuhan yang 5. Pengetahuan dan keahlian karyawan
disyaratkan termasuk di dalamnya semua dalam melaksanakan filosofi TQM.
aktivitas yang melibatkan fungsi manajemen 6. Tanggungjwab para karyawan
secara keseluruhan, antara lain kebijakan mutu, 7. Manajemen berdasarkan pada data dan
obyektifitas dan tanggung jawab dan fakta
implementasinya terhadap perencanaan 8. Sudut pnadangan jangka panjang.
mutu/kualitas, penjaminan mutu, control
mutu/kualitas, dan peningkatan mutu/kualitas Teknik-teknik dalam TQM :
(PMBOK dalam Dofir, 2002). Jadi manajemen 1. Pengendalian proses secara statistik
mutu proyek terdiri dari : 2. Penyelesaian masalah secara struktur
1. Perencanaan Kualitas (Quality Planning) 3. Perbaikan secara terus menerus dan
yaitu untuk mengidentifikasi standar berkesinambungan
kualitas mana yang relevan untuk proyek 4. Manajemn mutu
tersebut dan menentukan apakah sudah 5. Perencanaan mutu.
memenuhi syarat.
2. Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Langkah-langkah untuk melaksanakan
yaitu untuk mengevaluasi kinerja proyek Total Quality Management (TQM) :
secara keseluruhan berdasarkan keyakinan
bahwa produk/proyek akan memenuhi 1. Mengadakan penilaian dan perencanaan
standar yang relevan. mengenai kemungkinan penerapan
3. Kontrol Mutu/kualitas (Quality Control) filosofi TQM.
yaitu untuk memonitor hasil-hasil proyek. 2. Penerpan dan pengorganisasian filosofi
Ketiga proses tersebut saling interaksi antara TQM dalam orgnaisiasi jasa
satu proses dengan proses yang lain. 3. Perubahan budaya (dari yang berorientasi
standar menjadi berorientasi mutu)
4. Sistem pemberian upah dan pernghargaan.
5. Pengembangan kepemimpinan  Baja tulangan : U – 50 ( fy = 500
6. Membangun tim Mpa )
7. Melaksanakan sistem penyewaan maupun  Modulus elastisitas : 200000
promosi untuk meningkatkan performansi Mpa
organisasi  Modulus geser : 80000 Mpa
8. Kesiapan manajemen  Nisbah poisson : 0.3
9. Teknik analisis Pendidikan dan latihan.  Koefisien pemuaian : 12 x 10-6 / oC
c. Material sambungan
3. METODE PENELITIAN Jenis bahan : Conbextra STD Fosroc : K –
Metode yang digunakan untuk 500 ( fc’ = 41.5 Mpa )
mengetahui proses penerapan manajemen mutu d. Material cetakan
pada saat pembangunan struktur beton pada  Kayu dan kayu lapis
gedung Rumah Susun Sederhana (Rusunawa) di  Baja
Surakarta ialah dengan meninjau dan mengkaji
Surat Perjanjian Kerja, metode pelaksanaan dan Material yang dipakai dalam
survey dilapangan untuk mengetahui proses memproduksi komponen struktur pracetak sistem
pelaksanaan pembangunan struktur beton pada Psa-System ini mengikuti standar acuan yang
gedung Rusunawa di Surakarta. terdapat dalam :
 ASTM : American Standard and
4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Testing Material
 NI - 8 : Peraturan Seman Portland
Dalam analisis manajemen mutu pada
Indonesia
penelitian ini meliputi perencanaan mutu,
 “Laporan Pengujian” dari Laboratorium
penjaminan mutu dan pengendalian mutu beton
Struktur dan Konstruksi Bangunan Pusat
pracetak untuk 3 komponen struktur, yaitu
Litbang Permukiman, Cileunyi
komponen kolom, komponen balok dan
Bandung
komponen pelat
 Spesifikasi produsen Combextra atau
yang setara.
4.1. Perencanaan Mutu
 Sistem join balok kolom yang telah
Spesifikasi bahan struktur pracetak Psa-
sesuai SNI – 03 – 1726 – 2002 tentang
System ini telah disesuaikan dengan peraturan
“Tatat Cara Perencanaan Ketahanan
SK-SNI-T-15-1991-03 antara lain:
Gempa untuk Banguanan Gedung”
a. Material beton
4.2. Penjaminan Mutu
Material beton menggunakan beton siap jadi
mutu K-350, fc = 29.05 MPa Komponen pracetak pada
b. Baja tulangan pembangunan RUSUNAWA di Surakarat ini di
 Baja tulangan deform : U – 39 ( fy rakit di pabrik dan di lapangan (lokasi proyek)
= 400 Mpa ) dengan pengawasan yang baik dan mengikuti
 Baja tulangan polos : U – 24 standar kerja yang telah diatur. Untuk mencapai
( fy = 240 Mpa ) mutu yang telah ditetapkan, pada proses fabrikasi
komponen pracetak ini maka proses fabrikasi
harus melalui prosedur proses fabrikasi yang telah
di buat, Seperti dalam gambar 4.1.
START

CASTING AREA

PELAJARI GAMBAR KERJA KOORDINASI


PELAKSANA ANTARA HO & SITE

PENYAMPAIAN INFORMASIN INFORMASI YANG JELAS &


PADA TIM FABRIKASI MUDAH DIMENGERTI

FABRIKASI BESI TIM SETTING


MOULDING

CUTTING & BENDING


BESI DI WORKSHOP SETTING MOULD
KOLOM

PEMBESIAN KOMPONEN DI WORKSHOP PEMASANGAN SETTING MOULD


SEBELUM DIMASUKKAN KE MOULDING + DUDUKAN MOULD / BALOK
BESI FOR ERECTION + PIPA GROUTING SETTING MOULD

SETTING MOULD
PELAT
PEMINDAHAN BESI KOMPONEN
KE MOULDING + SETTING
DALAM MOULDING

CHECK LIST PEMBESIAN + BESI


FOR ERECTION + PIPA
GROUTING + MOULDING
PELAKSANA

N N
PERBAIKAN PEMBESIAN PERBAIKAN SETTING
KOMPONEN MOULDING
Y

PENGECORAN KHUSUS UNTUK KOLOM


KOMPONEN BALOK / PIPA UNTUK GROUTING
KOLOM / PELAT DICABUT SEBELUM BETON

HANDLING KOMPONEN DARI


MOULDING KE STOCKING AREA

UNTUK PENUMPUKAN
STOCKING AREA KOMPONEN LIHAT TATA CARA
PENUMPUKAN DALAM SOP
(BALOK/KOLOM/PELAT)

SIAP UNTUK
PELAKSANAAN
ERECTION

SELESAI

Gambar 4.1 Flow chart fabrikasi


4.2.1. Tim Fabrikasi menumpuk ditempat yang sesuai. Tim
terdiri dari empat orang pekerja.
Didalam pembuatan beton
pracetak dibentuk 4 tim fabrikasi, yaitu
tim persiapan casting, tim persiapan 4.2.2. Tahap Konstruksi
bekisting, tim percetakan dan tim Untuk mengantisipasi kesalahan-
pembongkaran. kesalahan yang mungkin timbul pada
Tim persiapan casting, bertugas waktu pelaksanaan maka harus mengikuti
memotong dan merangkai besi sesuai tahap-tahap pelaksanaan pemasangan
shop drawing komponen pracetak yang telah dibuat
 Satu orang pengawas (pelaksana) agar mutu dari konstruksi tetap terjaga.
 Satu orang mandor Tahap-tahap pelaksanaa pemasangan
 Satu orang kepala tukang komponen pracetak tersebut adalah
 Dua orang tukang besi sebagai berikut :
 Dua orang laden

Tim persiapan bekisting


(moulding), bertugas membuat bekisting
sesuai ukuran komponen dan mengukur
secara presisi sesuai shop drawing
 Satu orang pengawas (pelaksana)
 Satu orang mandor
 Satu orang kepala tukang
 Dua orang tukang besi
 Dua orang setengah tukang kayu

Tim pencetakan, bertugas yang


menempatkan tulangan ke bekisting,
mengecor dan membersihkan cetakan
 Satu orang pengawas (pelaksana)
 Satu orang mandor
 Satu orang tukang
 Dua orang setengah tukang besi &
kayu
 Lima orang laden

Tim pembongkaran, bertugas


mengangkat komponen dari cetakan dan
START

CHECK LIST KOMPONEN +


CRANE PELAKSANA PENGATURAN
ERECTION POSISI TIE BEAM

PELAKSANAAN ERECTION TIE

SETTING POSISI STEK DARI POER KE

PELAKSANAAN PENGECORAN
POER

PELAKSANAAN ERECTION KOLOM LANTAI

PENGATURAN VERTIKALITY & PEMASANGAN BRACES


KLOM

PELAKSANAAN GROUTING
KOLOM KE PILECAP

ERECTION KOMPONEN PEMERIKSAAN TERHADAP


BALOK DENGAN HORIZONTAL & PEMASANGAN
MENUMPU 4 CM DIUJUNG STUD (SHORING0 PADA TENGAH
BALOK

PENGIKATAN SLING
PADA JOINT KOLOM
BALOK
PERBAIKI
PENGIKATAN
SLING
N CHECK LIST IKATAN
SLING PELAKSANA

LAKUKAN PENGECORAN
DENGAN CEMENT
GROUTING + SCREENING 1 :

PASANG SCAFOLDING
ERECTION PELAT UNTUK PENYANGGA

PEMBESIAN SAMBUNGAN PELAT


– PELAT DAN PELAT - BALOK
PERBAIKI
SAMBUNGAN

N
CHECK LIST SAMBUNGAN
PELAKSANA

LAKUKAN TOPING PADA PELAT

LEVELING LANTAI UNTUK ERECTION


MENYAMAKAN KETINGGIAN + KOMPONEN LANTAI SELESAI
FINISHING SELANJUTNYA

Gambar 4.2 Flow Chart Pelaksanaan Erection


4.4. Pengendalian Mutu dan juga prosedur pelaksanaan
sehingga akan memperkecil
Untuk mengetahui mutu kom-
kesalahan-kesalahan yang akan
ponen struktur pracetak pada
mengakibatkan kerugian.
pembangunan RUSUNAWA di Surakarta
ini sesuai dengan rencana mutu yang
sudah ditetapkan, maka dilakukan 6. DAFTAR PUSTAKA
pengujian terhadap komponen tersebut. Juran, J.M (1995), “Merancang Mutu”,
Pengujian dilakukan di Laboratorium Pustaka Binaman Pressindo,
Struktur dan Konstruksi Bangunan Pusat Jakarta
Litbang Permukiman, Cileunyi Bandung. Soeharto, I. (2001). “Manajemen Proyek
(Dari Konseptual Sampai
5. KESIMPULAN Operasional) Jilid 2”. Erlangga,
Jakarta
1. Sasaran mutu yang ditetapkan pada Wiryodiningrat, Prijono., et.al (1997),
struktur beton Pembangunan “ISO 9000 Untuk Kontraktor”,
RUSUNAWA di Surakarta adalah Gramedia, Jakarta
mutu beton K -350, fc = 29.05 Mpa
2. Material yang dipakai dalam
memproduksi komponen struktur Biodata Penulis :
pracetak ini mengikuti standar acuan Herman Susila, Alumni S1 Teknik Sipil
yang terdapat dalam : Universitas Tunas Pembangunan
 ASTM : American Standard and Surakarta (1998), Pascasarjana (S2)
Magister Teknik Sipil program studi
Testing Material
Manajemen Konstruksi Universitas
 NI - 8 : Peraturan Seman Diponegoro (2012), Dosen program studi
Portland Indonesia Teknik sipil Fakultas Teknik UTP
 Spesifikasi produsen Combextra Surakarta.
atau yang setara.
 Sistem join balok kolom yang
telah sesuai SNI – 03 – 1726 –
2002 tentang “Tatat Cara
Perencanaan Ketahanan Gempa
untuk Banguanan Gedung”
3. Pengujian komponen struktur
dilakukan di Laboratorium Struktur
dan Konstruksi Bangunan Pusat
Litbang Permukiman, Cileunyi
Bandung
4. Untuk pengendalian mutu struktur
beton pracetak didalam proses
fabrikasi dan proses pelaksanaan
telah dibuat prosedur proses fabrikasi