Anda di halaman 1dari 25

PENGARUH LEVERAGE, PROFITABILITAS, DAN UKURAN

PERUSAHAAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN SUKARELA

Proposal Skripsi

Dosen Pengampu
Lilik Andriyani Setiawan S.E, M.Si

Disusun Oleh :
Cahyo Dwi Anggoro
NIM 14.0102.0068

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MUHAMADIYAH MAGELANG
TAHUN 2018
1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi dan
penilaian keadaan perusahaan. Laporan keuangan harus berisi informasi
keuangan maupun non keuangan yang dapat diandalkan, relevan, dan tepat
waktu. Informasi dalam laporan keuangan harus memberikan informasi
sesuai dengan keadaan perusahaan pada periode berjalan, sehingga dapat
digunakan untuk pengambilan keputusan dan evaluasi baik dari pihak
internal seperti manajemen maupun pihak eksternal seperti investor,
kreditur, pemerintah, maupun masyarakat luas. Pengungkapan informasi
yang dilakukan oleh perusahaan dapat berupa financial maupun non
financial. Informasi yang diungkapkan nantinya akan digunakan oleh user
sebagai guideline dalam pengambilan keputusan.
Darrough (1993) menyatakan pengungkapan laporan keuangan
dibagi berdasarkan pengelompokkan jenis informasi yaitu pengungkapan
informasi wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan informasi
sukarela (voluntary disclosure). Pengungkapan wajib adalah
pengungkapan yang diharuskan karena peraturan yang berlaku dalam
negara itu sendiri. Pengungkapan informasi sukarela (voluntary
disclosure) adalah pengungkapan yang diungkapkan secara sukarela dan
tidak bersifat wajib. Namun informasi yang terkandung dalam
pengungkapan sukarela ini tidak kalah penting dengan informasi yang ada
pada pengungkapan wajib.
Manajer memiliki informasi lengkap mengenai kinerja perusahaan
saat ini dan pada masa mendatang dibandingkan pihak eksternal, namun
manajer memiliki beberapa pertimbangan untuk melakukan pengungkapan
tersebut. Suripto (1999) menyatakan bahwa pertimbangan manajer untuk
mengungkapkan informasi secara sukarela bila manfaat yang diperoleh
dari pengungkapan informasi lebih besar dari biaya yang harus
dikeluarkan untuk pengungkapan tersebut. Selain itu, manajer juga masih
dihadapkan dengan trade off antara penyediaan laporan keuangan yang
dapat membantu pengguna dalam menentukan nilai perusahaan secara

1
tepat dengan pembatasan penyediaan informasi yang dapat
memaksimalkan keuntungan pasar produk perusahaan (Suryani, 2007).
Penelitian mengenai luas pengungkapan sukarela telah banyak
dilakukan. Hasil dari penelitian Adhi dan Mutmainah, (2012) yang
menguji pengaruh karakteristik perusahaan terhadap luas pengungkapan
sukarela dan implikasinya terhadap asimetri informasi. Hasil penelitian
tersebut ukuran perusahaan, umur listing, ukuran KAP, dan lingkup bisnis
berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan sukarela. Sementara
leverage berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan sukarela dan
ROE dan ROTA tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan sukarela.
Hasil dari penelitian Purwanto dan Wikartika, (2014) yang
berjudul analisis voluntary disclosure perusahaan telekomunikasi di BEI.
Hasil penelitian tersebut ukuran Perusahaan dan leverage berpengaruh
positif terhadap voluntary disclosure. Sementara profitabilitas tidak
berpengaruh terhadap voluntary disclosure.
Masih ditahun yang sama, Fitriana dan Prastiwi, (2014) menguji
faktor-faktor yang mempengaruhi luas pengungkapan sukarela dalam
annual report. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas, ukuran
KAP, proporsi dewan komisaris independen berpengaruh positif terhadap
luas pengungkapan sukarela. Sementara leverage berpengaruh negatif
terhadap luas pengungkapan sukarela dan ukuran perusahaan serta umur
perusahaan tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan sukarela.
Hasil dari penelitian Damayanti dan Priyadi, (2016) yang menguji
pengaruh karasteristik perusahaan pada luas pengungkapan sukarela dan
implikasinya terhadap asimetri informasi. Hasil penelitian tersebut
kepemilikan saham publik, umur listing, ukuran perusahaan, dan
profitabilitas berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan sukarela.
Sementara likuiditas dan ukuran kantor akuntan publik tidak berpengaruh
terhadap luas pengungkapan sukarela.
. Penelitian ini mengacu pada penelitian yang telah dilakukan oleh
Fitriana dan Prastiwi, (2014) yang berjudul faktor-faktor yang
mempengaruhi luas pengungkapan sukarela dalam annual report. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas, ukuran KAP, proporsi dewan

2
komisaris independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan
sukarela. Sementara leverage berpengaruh negatif terhadap luas
pengungkapan sukarela dan ukuran perusahaan serta umur perusahaan
tidak berpengaruh terhadap luas pengungkapan sukarela. Pada penelitian
kali ini hanya menggunakan tiga variabel independen yaitu leverage,
profitabilitas, dan ukuran perusahaan. Alasan memilih ketiga variabel
tersebut yaitu pertama, leverage tinggi mengandung biaya pengawasan
yang tinggi juga, sehingga perusahaan akan menyediakan informasi yang
lebih luas untuk memenuhi kebutuhan informasi kreditur jangka panjang
(Fitriana dan Prastiwi, 2014)
Kedua, perusahaan yang menghasilkan laba (profitable) juga akan
melakukan disclosure yang lebih luas. Hal tersebut disebabkan manajemen
perusahaan ingin meyakinkan bahwa perusahaan dalam posisi persaingan
yang kuat dan memperlihatkan bahwa kinerja perusahaan juga bagus
(Sudarmadji dan Sularto, 2007). Ketiga, perusahaan yang berukuran besar
akan mengungkapkan informasi yang lebih banyak dibanding perusahaan
kecil sebagai upaya mengurangi biaya keagenan (Jensen dan Meckling,
1976).
Sampel penelitian ini menggunakan perusahaan pertambangan
tambang. Pemilihan sampel perusahaan tambang karena perusahaan dirasa
memerlukan image yang lebih dibandingkan perusahaan pada sektor lain.
Hal ini disebabkan perusahaan pada sektor tambang rentan terhadap kritik
dan intervensi dari pemerintah.
B. Rumusan Masalah
1) Bagaimana pengaruh leverage, profitabilitas, dan ukuran perusahaan
terhadap pengungkapan sukarela?
C. Tujuan Penelitian
1) Untuk mengetahui pengaruh leverage, profitabilitas, dan ukuran
perusahaan terhadap pengungkapan sukarela.

3
2. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
A. Telaah Teori
1) Teori Agensi (Agency Theory
Teori agensi merupakan salah satu teori yang mendasari penelitian
mengenai luas pengungkapan sukarela. Jensen dan Meckling (1976)
mendefinisikan hubungan keagenan sebagai hubungan kontrak antara
seorang atau lebih (principal) dengan orang lain (agent). Dimana agen
memberikan beberapa pelayanan atas nama prinsipal, dalam hal ini
prinsipal menyediakan fasilitas dana untuk menjalankan perusahaan.
Sedangkan pihak manajemen sebagai agen mempunyai kewajiban untuk
mengelola apa yang diamanahkan pemegang saham kepadanya serta
bertanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan keuntungan para
prinsipal dengan memperoleh kompensasi sesuai kontrak. Prinsipal
mengajak agen untuk melayani kepentingan prinsipal dan mendelegasikan
wewenang kepada agen untuk mengambil keputusan.
Salah satu asumsi dasar manusia adalah self interest yang artinya
mementingkan diri sendiri dan tidak mau berkorban untuk orang lain.
Pemilik modal sebagai pihak yang memberikan wewenang kepada
manajemen untuk mengelola kekayaan, mempunyai kepentingan
meningkatkan kesejahteraan dirinya melalui pembagian dividen.
Sementara di sisi lain pihak manajemen sebagai pihak yang diberi
tanggung jawab untuk mengelola perusahaan juga mempunyai
kepentingan untuk meningkatkan kekayaan dirinya melalui kompensasi.
Kondisi ini menyebabkan para manajer untuk tidak memberikan informasi
yang berpengaruh negatif terhadap kepentingan tersebut.
Laporan keuangan merupakan suatu alat untuk mengurangi konflik
agensi walaupun ada bentuk mekanisme lain seperti pasar efesien untuk
pengendalian perusahaan, peraturan dan program kepemilikan saham oleh
manajerial. Ghozali dan Chariri (2007) menyatakan bahwa laporan
keuangan menyediakan informasi tentang bagaimana manajemen
perusahaan mempertanggungjawabkan pengelolaan kepada pemilik
(pemegang saham) atas sumber ekonomi yang dipercayakan kepadanya.
2) Pengungkapan

4
Hendriksen dan Breda, (2002) mengemukakan bahwa
pengungkapan diartikan sebagai penyampaian informasi. Sudarmadji dan
Sularto (2007) mengatakan secara sederhana, pengungkapan dapat
diartikan seebagai pengeluaran informasi.
Informasi yang diungkap harus jelas, lengkap, berguna, dan tidak
membingungkan pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan
serta dapat menggambarkan secara tepat kejadian-kejadian yang
berpengaruh terhadap hasil operasi unit usaha tersebut. Di Indonesia,
pedoman penyajian dan pengungkapan laporan keuangan oleh emiten atau
perusahaan publik ditetapkan oleh Ketua Bapepam dan LK dalam surat
edaran dengan Nomor: KEP-431/BL/2012.
Belkaoui, (2006) menyatakan bahwa tujuan dilakukannya
pengungkapan ada lima, yaitu
a) Untuk menjelaskan item-item yang belum diakui dan untuk
menyediakan ukuran yang bermanfaat bagi item-item tersebut,
b) Untuk menjelaskan item-item yang diakui dan untuk menyediakan
ukuran yang relevan bagi item-item tersebut, selain ukuran dalam
laporan keuangan,
c) Untuk menyediakan informasi bagi investor dan kreditor dalam
menentukan risiko dan item-item yang potensial untuk diakui dan yang
belum diakui,
d) Untuk menyediakan informasi penting yang dapat digunakan oleh
pengguna laporan keuangan untuk membandingkan antar perusahaan
dan antar tahun,
e) Untuk menyediakan informasi mengenai aliran kas masuk dan keluar di
masa mendatang.
Ghozali dan Chariri (2007) mengatakan bahwa terdapat tiga konsep
pengungkapan yang lazim digunakan yaitu
i. Cukup (adequate)
Pengungkapan cukup adalah pengungkapan minimal yang
harus dilakukan agar laporan keuangan tidak menyesatkan pengguna
laporan keuangan.
ii. Wajar (fair)

5
Pengungkapan wajar adalah pengungkapan yang lebih pada
faktor etis dengan menyediakan informasi dan memberikan
perlakuan yang layak dan adil terhadap pemakai laporan keuangan.
iii. Lengkap (Full)
Penngungkapan lengkap adalah pengungkapan semua
informasi yang diasi dimiliki perusahaan, atau sering disebut
pengungkapan yang berlebihan.
a) Pengungkapan Sukarela
Meek, et al., (1995) menyatakan bahwa pengungkapan
sukarela merupakan pengungkapan bebas, dimana manajemen dapat
memilih jenis informasi yang akan diungkapkan yang dipandang
relevan untuk pengambilan keputusan bagi pihak-pihak pemakainya.
Sementara Adhi dan Mutmainah, (2012) menyatakan bahwa
pengungkapan sukarela adalah pengungkapan yang dapat dengan
leluasa dilakukan perusahaan sesuai kepentingan perusahaan yang
dianggap relevan dan mendukung dalam pengambilan keputusan
ekonomi yang akan dilakukan oleh pengguna informasi tahunan
(annual report).
Para investor sangat membutuhkan informasi mengenai
kondisi perusahaan yang dapat dipercaya, relevan, dan transparan.
Adanya pengungkapan sukarela dapat memberikan informasi
pendukung lain mengenai perusahaan yang diharapkan akan
mempermudah investor dalam melakukan analisis invetasi kepada
perusahaan
Damayanti dan Priyadi, (2016) menyatakan bahwa
perusahaan membuat pengungkapan berdasarkan berbagai alasan, yaitu
i. Mendidik para pengguna laporan keuangan.
ii. Pembangunan image perusahaan.
iii. Penghindaran atas potensi peraturan dan pengendalian pemerintah
jika terdapat suatu risiko yang timbul dengan tidak adanya
pengungkapan.
iv. Biaya modal yang rendah jika pengungkapan dapat meningkatkan
daya saing perusahaan.

6
Elliot et al. (1994) menyatakan bahwa biaya pengungkapan
terdiri dari:
i. Biaya pengembangan dan penyajian informasi yang meliputi biaya
pengumpulan, biaya pemrosesan, biaya pemeriksaan informasi (jika
diperlukan) dan biaya penyebaran informasi.
ii. Biaya litigasi (litigation costs) yang timbul karena aspek hukum.
Biaya litigasi muncul ketika terdapat informasi negatif tentang
perusahaan atau pengungkapan informasi yang menyesatkan.
iii. Biaya competitive disadvantage yaitu kerugian yang timbul akibat
pengungkapan informasi yang melemahkan daya saing perusahaan
seperti informasi tentang inovasi teknologi dan manajeral serta
informasi tentang strategi, rencana, dan taktik untuk mencapai target
pasar baru.
3) Leverage
Sartono (2001) menyatakan bahwa leverage adalah penggunaan
sumber daya yang memiliki beban tetap dengan harapan bahwa akan
memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban
tetapnya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia dari
pemegang saham, serta dapat menciptakan nilai bagi pemegang saham.
Sementara Riyanto (1995) mengatakan bahwa leverage diartikan sebagai
kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi segala kewajiban
finansialnya baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi harus melakukan
pengungkapan informasi yang lebih luas untuk dapat memenuhi kebutuhan
kreditor akan informasi-informasi perusahaan tertentu. Oleh karena itu,
perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi memiliki kemungkinan
untuk membagi informasi yang bersifat rahasia dengan para kreditur.
4) Profitabilitas
Benardi et al., (2009) mengatakan bahwa profitabilitas adalah
kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan atas kegiatan usahah
perusahaan selama satu tahun. Rasio profitabilitas menjadi bentuk
penilaian terhadap kinerja manajemen dalam mengelola kekayaan
perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan. Hal ini berarti

7
bahwa rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba dengan menggunakan aset ataupun modal perusahaan
(Sjahrial dan Purba, 2011). Secara garis besar, laba yang dihasilkan
perusahaan berasal dari penjualan dan investasi yang dilakukan oleh
perusahaan. Semakin tinggi rasio profitabilitas, berartti semakin tinggi
kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
5) Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya perusahaan dan
struktur kepemilikan yang dimilikinya. Ukuran perusahaan berkaitan
dengan pengungkapan yang akan dilakukannya dalam rangka penawaran
umum (go public). Perusahaan besar yang telah go public akan
mengungkapkan informasi yang lebih banyak daripada perusahaan kecil
karena menyangkut beberapa hal, salah satunya teori keagenan. Teori
keagenan (agency theory) menjadi sorotan dalam pengungkapan informasi
perusahaan go public karena menyangkut berbagai macam pihak yang
berkepentingan. Perusahaan besar akan memiliki biaya keagenan yang
lebih besar daripada perusahaan kecil. Oleh karena itu, agar biaya
keagenan dapat diminimalisir, perusahaan besar akan cenderung
mengungkapkan informasi yang lebih luas (Hardiningsih, 2008)
Ukuran perusahaan juga mencerminkan jaringan operasional
perusahaan. Perusahaan besar memiliki berbagai macam produk yang
dihasilkan dan beroperasi di berbagai tempat, termasuk di luar negeri.
Selain itu, perusahaan besar juga memiliki karyawan berketrampilan tinggi
dalam rangka pengungkapan informasi. Oleh karenanya, ukuran
perusahaan dapat mempengaruhi dalam pengungkapan informasi.

B. Penelitian Terdahulu
Tabel 1.1
No Peneliti Judul Variabel Hasil Penelitian
1. Elfeky, The extent of Independen: a. Ukuran perusahaan
(2017) voluntary Ukuran perusahaan profitabilitas,
disclosure and its profitabilitas, leverage, tipe
determinants in leverage, ukuran auditor berpengaruh
emerging markets: dewan komisaris, positif terhadap luas
Evidence from independent pengungkapan
Egypt. directors, duality in sukarela.
position, b. Kepemilikan block-
kepemilikan block- holder berpengaruh

8
holder dan tipe negatif terhadap luas
auditor. pengungkapan
sukarela.
Dependen: Luas c. Ukuran dewan
Pengungkapan komisaris dan
Sukarela. duality in position
tidak berpengaruh
terhadap luas
pengungkapan
sukarela.
2. Damayanti Pengaruh Independen: porsi a. kepemilikan saham
dan Priyadi, Karasteristik kepemilikan saham publik, umur listing,
(2016) Perusahaan Pada publik, umur ukuran perusahaan,
Luas listing, ukuran dan profitabilitas
Pengungkapan perusahaan, berpengaruh positif
Sukarela Dan likuiditas, terhadap luas
Implikasinya profitabilitas, dan pengungkapan
Terhadap Asimetri ukuran Kantor sukarela.
Informasi Akuntan Publik b. Likuiditas dan
(KAP). Ukuran Kantor
Akuntan Publik
Dependen: Luas tidak berpengaruh
Pengungkapan terhadap luas
Sukarela dan pengungkapan
Asimetri Informasi sukarela.
3. Fitriana dan Faktor-Faktor yang Independen: ukuran a. Profitabilitas, ukuran
Prastiwi, Mempengaruhi perusahaan, KAP, proporsi dewan
(2014) Luas leverage, komisaris independen
Pengungkapan profitabilitas, umur berpengaruh positif
Sukarela dalam perusahaan, ukuran terhadap luas
Annual Report KAP, dan proporsi pengungkapan
dewan komisaris sukarela.
independen. b. Leverage berpengaruh
negatif terhadap luas
Dependen: Luas pengungkapan
Pengungkapan sukarela.
Sukarela. c. Ukuran perusahaan
dan umur perusahaan
tidak berpengaruh
terhadap luas
pengungkapan
sukarela.
4. Purwanto dan Analisis Voluntary Independen: a. Ukuran Perusahaan
Wikartika, Disclosure leverage, ukuran dan leverage
(2014) Perusahaan perusahaan, dan berpengaruh positif
Telekomunikasi DI profitabilitas terhadap Voluntary
BEI Disclosure.
Variabel Dependen: b. Profitabilitas tidak
Voluntary berpengaruh
Disclosure terhadap Voluntary
Disclosure.
5. Setyaningrum Pengaruh Independen: ukuran a. Ukuran perusahaan
dan Zulaikha, Karakteristik perusahaan, tingkat dan KAP
(2013) Perusahaan leverage, berpengaruh positif
Terhadap Luas profitabilitas, terhadap luas
Pengungkapan likuiditas, KAP dan pengungkapan
Sukarela Dan umur listing. sukarela.
Implikasinya b. Likuiditas dan umur
Terhadap Biaya Variabel Dependen: listing berpengaruh
Modal Ekuitas Luas Pengungkapan negatif terhadap luas

9
Sukarela dan Biaya pengungkapan
Modal Ekuitas sukarela.
c. Leverage dan
profitabilitas tidak
berpengaruh
terhadap luas
pengungkapan
sukarela
6. Adhi dan Pengaruh Independen: a. Ukuran
Mutmainah, Karakteristik Ukuran perusahaan, perusahaan,
(2012) Perusahaan leverage, umur umur listing,
Terhadap Luas listing, ROE, ukuran KAP,
Pengungkapan ROTA, ukuran dan lingkup
Sukarela dan KAP, dan lingkup bisnis
Implikasinya bisnis. berpengaruh
Terhadap Asimetri positif terhadap
Informasi Dependen: Luas luas
Pengungkapan pengungkapan
Sukarela dan sukarela.
Asimetri Informasi b. Leverage
berpengaruh
negatif terhadap
luas
pengungkapan
sukarela.
c. ROE dan ROTA
tidak
berpengaruh
terhadap luas
pengungkapan
sukarela.
7. Kolsi, (2012) The Determinants Independen: a. Leverage,
of Corporate Struktur Kualitas Audit,
Voluntary Kepemilikan, Sektor Industri,
Disclosure: Ukuran perusahaan, dan Profitabilitas
Evidence from the leverage, kualitas berpengaruh
Tunisian Capital audit, sektor positif terhadap
Market industri, dan pengungkapan
profitabilitas. sukarela.
b. Struktur
Dependen: Kepemilikan,
Pengungkapan Ukuran
Sukarela perusahaan tidak
berpengaruh
terhadap
pengungkapan
sukarela.

C. Perumusan Hipotesis
1) Pengaruh Leverage terhadap Luas Pengungkapan Sukarela
H1: Leverage berpengaruh positif terhadap Luas Pengungkapan
Sukarela
Leverage menunjukkan proporsi pendanaan perusahaan yang
dibiayai dengan hutang. Semakin tinggi leverage suatu perusahaan maka

10
semakin tinggi pula ketergantungan perusahaan tersebut kepada
krediturnya.
Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa terdapat suatu
potensi untuk mentransfer kekayaan dari debtholders kepada pemegang
saham dan manajer yang tingkat ketergantungannya kepada utang sangat
tinggi sehingga menimbulkan biaya keagenan (agency costs) yang tinggi.
Semakin tinggi leverage, maka semakin tinggi kemungkinan terjadinya
transfer kemakmuran dari kreditur kepada para pemegang saham dan
manajer (Meek, et al., 1995).
Untuk mengurangi biaya keagenan (biaya monitoring), manajer
akan memberikan pengungkapan yang lebih luas (komprehensif) guna
menyakinkan kreditur (Aljifri dan Hussainey, 2006). Hal ini dikarenakan
perusahaan yang tumbuh besar memiliki kewajiban yang lebih besar dalam
memenuhi kebeutuhan krediturnya terhadap informasi dengan melalui
pengungkapan yang lebih luas dalam laporan tahunannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Kolsi (2012), Purwanto dan
Wikartika, (2014) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh positif
terhadap luas pengungkapan sukarela. Jadi, semakin tinggi leverage yang
dimiliki oleh perusahaan maka semakin luas pengungkapan yang
dilakukan oleh perusahaan tersebut.
H1: Leverage berpengaruh positif terhadap Luas Pengungkapan
Sukarela
2) Pengaruh Profitabilitas terhadap Luas Pengungkapan Sukarela
H2 : Profitabilitas berpengaruh terhadap Luas Pengungkapan
Sukarela
Profitabilitas menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan sehingga mempengaruhi pengungkapan yang
dilakukan pada sebuah perusahaan. Rasio profitabilitas merupakan rasio
yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas
sumber daya yang digunakan.
Singvi dan Desai (1971) menyatakan bahwa rentabilitas ekonomi
dan profit margin akan mendorong para manajer untuk memberikan
informasi yang lebih rinci, sebab manajer ingin meyakinkan investor

11
terhadap profitabilitas terhadap. Hal ini terkait dengan bonus/kompensasi
yang diperoleh oleh manajer. Oleh karena itu, manajer dalam sebuah
perusahaan yang memiliki rasio profititabilitas yang tinggi maka akan
cenderung mengungkapkan informasi yang lebih banyak. Tujuannya
adalah agar manajer tersebut memperoleh peningkatan kompensasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Fitriana dan Prastiwi, (2014) dan
Damayanti dan Priyadi (2016) menunjukkan bahwa profitabilitas
berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan sukarela. Keduanya
berpendapat bahwa profitabilitas yang tinggi akan mendorong manajer
untuk memberikan informasi yang lebih terperinci, sebab mereka ingin
meyakinkan investor, agar para investor berinvestasi pada perusahaan.
H2: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap Luas Pengungkapan
Sukarela
3) Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Luas Pengungkapan
Sukarela
Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan bahwa perusahaan besar
memiliki biaya keagenan yang lebih besar daripada perusahaan kecil.
Untuk mengurangi biaya keagenan tersebut, perusahaan besar mungkin
akan melakukan pengungkapan yang lebih banyak. Meek, et al., (1995)
menyatakan bahwa perusahaan besar mempunyai kemampuan untuk
merekrut karyawan yang ahli, serta adanya tuntutan dari pemegang saham
dan analis, sehingga perusahaan besar memiliki insentif untuk melakukan
pengungkapan yang lebih luas dari perusahaan kecil. Perusahaan besar
merupakan entitas yang lebih banyak disorot oleh pasar maupun publik.
Jadi, melalui pengungkapan informasi yang lebih luas merupakan salah
satu cara yang dilakukan oleh perusahaan besar dalam memperoleh
akuntabilitas publik.
Dalam mengungkapan informasi yang lengkap, diperlukan sumber
daya yang besar. Perusahaan besar memiliki sumber daya yang lebih besar
dibandingkan perusahaan kecil. Oleh karena itu, perusahaan besar tidak
memerlukan biaya tambahan dalam memerlukan pengungkapan informasi
yang lebih lengkap. Namun berbeda dengan perusahaan kecil. Bagi
perusahaan kecil, mengungkapkan informasi yang lebih lengkap justru

12
menambah biaya yang lebih besar. Hal ini dikarenakan selain sumber daya
yang dimiliki tidak sama dengan perusahaan besar, perusahaan kecil juga
berada pada situasi persaingan ketat dengan perusahaan lain.
Mengungkapkan terlalu banyak informasi mengenai profil perusahaan
kepada pihak eksternal dapat membahayakan posisi perusahaan dalam
persaingan, sehingga perusahaan kecil tidak melakukan pengungkapan
selengkap perusahan besar (Marwata, 2001).
Ukuran perusahaan merupakan variabel yang sering digunakan
dalam penelitian mengenai luas pengungkapan sukarela. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Adhi dan Mutmainah (2012); Damayanti dan Priyadi
(2016); serta Elfeky (2017) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan
berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan sukarela. Artinya
semakin besar suatu perusahaan maka semakin luas pula pengungkapan
sukarela yang dilakukan oleh perusahaan.
H3: Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Luas Pengungkapan
Sukarela
D. Model Penelitian
Leverage H1
Luas
H2
Profitabilitas Pengungkapan
H3 Sukarela
Ukuran
Perusahaan
Gambar 1.1
3. METODOLOGI PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah keseluruhan yang terdiri atas obyek atau
subyek yang memiliki kualitas dan karakter tertentu yang diinginkan dan
ditetapkan oleh penulis untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan
(Sugiyono, 2013) Pemilihan sampel penelitian didasarkan pada metode
purposive sampling. Purposive sampling yaitu pemilihan sampel dari suatu
populasi tertentu dengan kriteria sampel tertentu sesuai dengan yang
dikehendaki oleh peneliti. Adapun sampel yang dipilih dalam penelitian ini
dengan kriteria sebagai berikut:

13
1. Perusahaan pertambangan menerbitkan laporan tahunan lengkap per 31
Desember selama periode pengamatan tahun 2015-2017,
2. Perusahaan yang memiliki laba positif,
3. Perusahaan yang memiliki nilai buku ekuitas positif, dan
4. Memiliki data yang lengkap terkait dengan variabel-variabel yang
digunakan dalam penelitian.
B. Data Penelitian
1) Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak
langsung melalui media perantara (pihak lain) dan data tersebut
diperoleh melalui lembaga atau keterangan serta melalui studi pustaka
yang ada hubungannya dengan masalah yang dihadapi dan dianalisis
(Sugiyono, 2013). Jenis data sekunder dalam penelitian ini adalah
laporan tahunan perusahaan real estate yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2015, 2016, dan 2017. Sumber data dalam penelitian
ini diperoleh dari website resmi Bursa Efek Indonesia, yakni
www.idx.ac.id.
2) Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dokumentasi, yaitu dengan cata mengumpulkan, mencatat, dan
mengkasi data sekunder yang berupa laporan tahunan dari perusahaan
real estate yang listing melalui Indonesian Capital Market Directory
(ICMD) dan website Bursa Efek Indonesia.
C. Variabel Penelitian dan Pengukuran Penelitian
1) Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah luas
pengungkapan sukarela. Luas pengungkapan sukarela dapat dilihat dari
tingkat kelengkapan dalam laporan keuangan perusahaan. Pembuatan
indeks pengungkapan membutuhkan suatu instrument yang disebut
scorecard yang design-nya bisa mewakilkan informasi yang diinginkan
secara detail pada setiap item yang ditentukan. Item-item yang

14
digunakan dalam tabel 1.2, sejumlah 19 item pengukuran yang
digunakan oleh Sandy Wijayanti, (2013).
Tabel 1.2
No Item-Item Pengungkapan Sukarela
1. Informasi mengenai pesanan-pesanan dari pembeli yang belum dipenuhi dan
kontrak-kontrak penjualan yang akan direalisasi di masa yang akan datang.
2. Informasi mengenai analisis pesaing, dapat secara kualitatif dan kuantitatif.
3. Statement perusahaan atau uraian mengenai pemberian kesempatan kerja yang
sama;tanpa memandang suku, agama dan ras.
4. Uraian mengenai kondisi kesehatan dan keselamatan dalam lingkungan kerja.

5. Uraian mengenai masalah-masalah yang dihadapi perusahaan dalam


recruitment dan kebijakkan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi
masalah tersebut.
6. Informasi mengenai level fisik output atau pemakaian kapasistas yang dicapai
oleh perusahaan pada masa sekarang.
7. Uraian mengenai dampak operasi perusahaan terhadap lingkungan hidup dan
kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk memelihara lingkungan.
8. Informasi mengenai manajemen senior, yang meliputi nama, pengalaman, dan
tanggung jawabnya.
9. Uraian mengenai kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk menjamin
kesinambungan manajemen.
10. Ringkasan statistik keuangan yang meliputi rasio-rasio rentabilitas, likuiditas,
dan solvabilitas untuk 6 tahun atau lebih.
11. Laporan yang memuat elemen-elemen rugi laba yang dibandingkan untuk 3
tahun atau lebih.
12. Laporan yang memuat elemen-elemen neraca yang diperbandingkan untuk 3
tahun atau lebih.
13. Informasi yang merinci jumlah yang dibelanjakan untuk karyawan, yang dapat
meliputi gaji dan upah, tunjangan, dan pemotongan
14. Informasi mengenai nilai tambah; dapat secara kualitatif atau kuantitatif
15. Informasi mengenai biaya yang dipisahkan ke dalam komponen biaya tetap
dan variabel
16. Uraian mengenai dampak inflasi terhadap aktiva perusahaan masa sekarang
dan atau di masa yang akan datang.
17. Informasi mengenai tingkat imbal hasil (return) yang diharapkan terhadap
sebuah proyek yang akan dilaksanakan perusahaan.
18. Informasi mengenai litigasi oleh pihak lain terhadap perusahaan di masa yang
akan datang.
19. Informasi mengenai pihak-pihak yang mencoba memperoleh pemilikan
substantial terhadap saham perusahaan.
Sumber: Sandy Wijayanti, (2013)

Dalam melakukan konteks perhitungan indeks, penelitian ini


menggunakan cara yang digunakan oleh Benardi et al.,( 2009). jika
jumlah item yang dijadikan pedoman luas pengungkapan berjumlah 100
sedangkan yang dipatuhi perusahaan dalam laporan keuangan
tahunannya sebanyak 50, maka indeksnya sebesar 50/100=0,5 (Sandy
Wijayanti, 2013). Jadi, rumusnya adalah

15
Dimana:
k= jumlah item pengungkapan yang dipenuhi
n = jumlah semua item yang mungkin dipenuhi.
Daftar item pengungkapan dalam laporan tahunan dikembangkan
berdasarkan item-item yang digunakan oleh Sandy Wijayanti (2013),
yang bersumber dari penelitian Adhi dan Mutmainah, (2012). Indeks
pengungkapan untk setiap sampel diperoleh dengan cara sebagai
berikut:
a) Sebuah item diberi skor satu jika diungkapkan
b) Luas pengungkapan sukarela setiap perusahaan diukur dengan
indeks yaitu rasio total skor yang diberikan kepada sebuah
perusahaan dengan skor yang diharapkan (maksimal) dapat diperoleh
2) Variabel Independen
a) Leverage
Leverage diartikan sebagai kemampuan suatu perusahaan
dalam memenuhi segala kewajiban finansialnya baik jangka
pendek maupun jangka panjang maupun jangka panjang (Riyanto,
1995). Variabel leverage dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan debt to equity. Adapu rumus sebagai berikut:

(Wild et al., 2005)


b) Profitabilitas
.Dalam penelitian ini, profitabilitas diukur dengan Return
On Asset (ROA). Return On Assets merupakan ukuran efektivitas
perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan
memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Adapun pengukurannya
menggunan rumus sebagai berikut:

(Brealey dan Myers, 2008)


c) Ukuran Perusahaan
Dalam penelitian ini, ukuran perusahaan diukur dengan total asset
yang dimiliki dengan logaritma natural total asset. Total asset

16
dijadikan indikator ukuran perusahaan karena sifatnya jangka
panjang dibandingkan dengan penjualan. Ukuran perusahaan
dirumuskan sebagai berikut:
Ukuran Perusahaan (size) = LnTotal Asset
(Jogiyanto Hartono, 2000)
D. Metode Analisis Data
1) Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif suatu
data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,
minimum, maksimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (Ghozali,
2013). Analisis dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif
yang menghasilkan nilai rata-rata, maksimum, minimum, dan standar
deviasi untuk mendeksripsikan variabel penelitian sehingga mudah
dimengerti.
2) Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik terhadap model regresi yang digunakan dalam
penelitian dilakukan menguji model regresi tersebut baik atau tidak.
Dalam penelitian ini, uji asumsi klasik yang digunakan adalah uji
normalitas, uji multikolineritas, uji heteroskedastisitas, dan uji
autokorelasi.
a) Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk melihat normal probability
plot atau melihat apakah data terdistribusi normal atau tidak
(Ghozali, 2013). Data yang dimiliki distribusi normal akan
membentuk satu garis lurus yang diagonal, dan plotting data
residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Ghozali, (2013)
menyatakan bahwa apabila distribusi data normal, maka garis yang
menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis
diagonalnya.
Dalam penelitian ini, pengujian normalitas data
menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Uji digunakan ini untuk
memberikan angka-angka yang lebih mendetail terkait normalitas

17
data-data yang digunakan. Data dapat dikatakan normal apabila
hasil uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar 0,05 (Ghozali, 2013).
b) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas
(independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
korelasi diantara variabel independen. Uji mulitkolinearitas dalam
penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance
inflation factor (VIF). Data dikatakan bebas multikolinearitas apabila
nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10 (Ghozali, 2013)
c) Uji Heteroskedastitas
Uji heteroskedastistas menguji apakah dalam regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamat ke pengamatan
yang lain. Jika variance dari residual satu pengfamatan ke
pengamatan lain tetap maka disebut homoskedastistitas dan jika
berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Ada
beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya
heteroskedasitisitas, salah satunya dengan uji Glejser (Ghozali,
2013).
Penelitian ini menggunakan uji glesjer dengan
meregresikan nilai ablosute residual terhadap variabel independen.
Jika nilai signifikan hitung lebih besar dari alpha = 5%, maka tidak
ada masalah heteroskedasitas. Namun, jika nilai signifikan hitung
kurang dari alpha 5%, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi
terjadi heteroskedastisitas.
d) Uji Autokorelasi.
Uji Autokorelasi dilakukan untuk mengujia apakah dalam
suatu model linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu periode
t dengan periode t-1. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan problem
autokorelas. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan
sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya.

18
Model regresi yang baik adalah yang bebasi dari
autokorelasi. Uji Durbin Watson (DW) merupakan salah satu cara
untuk mendeteksi adanya autokorelasi. Adapun dalam pengambilan
keputusan ada atau tidaknya autokorelasi:
Tabel 1.3
Hipotesis Nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < d< dl
Tidak ada autokorelasi positif No decision dl ≤ d ≤ du
Tidak ada autokorelasi negatif Tolak 0 < d< dl
Tidak ada autokorelasi negatif No decision 4 - du ≤ d ≤ du
Tidak ada autokorelasi, positif, Tidak ditolak du<4<4-du
atau negatif
Sumber: Ghozali (2013)
3) Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan
analisis berganda (Multiple Regression Analysis). Persamaan regresi
berdasarkan model yang digunakan untuk menguji hubungan antar
variabel penelitian dirumuskan sebagai berikut:

Y= a + b1 X1 + b2X2 + b3X3 + e
Dimana:
= Luas Pengungkapan Sukarela
a = Konstanta
βX1 = Leverage
βX2 = Profitabilitas
βX3 =Ukuran Perusahaan
e = Standar Error
b) Koefisien Determinasi (R2)
Pengujian koefisien determinasi akan mengukur terkait
dengan kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel
dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara noh hingga
satu. (Ghozali, 2013) menyatakan nilai koefisien korelasi yang
mendekati 1 berarti bahwa variabel independen telah memberikan
(hampir) semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi
variasi variabel dependen. Pengujian koefisien determinasi dalam
penelitian ini menggunakan uji Adjusted R Square.

19
c) Uji Statistik F
Uji statistik F menurut (Ghozali, 2013) bertujuan untuk
menunjukkan apakah variabel independen mampu menjelaskan
variabel dependen secara baik atau menguji kelayakan model
(goodness of fit). Pengujian F tabel dalam penelitian ini digunakan
tingkat signifikansi 5%, dan pengujian dilakukan dengan kriteria:
1) Jika F hitung > F tabel, atau p value < α = 0,05, maka Ho
ditolak dan Ha diterima, artinya model yang digunakan bagus
atau (fit).
2) Jika F hitung < F tabel, atau p value > α = 0,05, maka Ho
diterima dan Ha tidak diterima, artinya model yang digunakan
tidak bagus (Ghozali, 2013)
Gambar 1.2

α = 5%
Ho tidak ditolak Ho ditolak

Penerimaan Uji F
d) Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji-t)
Pengujian koefisien regresi parsial dilakukan guna
mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara
parsial terhadap variabel dependen. Hasil dikatakan signifikan
apabila < 0,05, yang berarti bahwa variabel independen secara
parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Pengujian
dilakukan dengan kriteria:
1) Jika t hitung < t tabel, atau p value > α = 0,05, maka Ho ditolak
dan Ha diterima, artinya secara statistik data yang ada dapat
membuktikan bahwa variabel independen berpengaruh
terhadap variabel dependen.
2) Jika t hitung > t tabel, atau p value < α = 0,05, maka Ho
diterima dapat membuktikan bahwa variabel independen
berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2013)

20
Gambar 1.3

α = 5%
Ho ditolak Ho Tidak ditolak
Ho diterima

t tabel 0

21
Daftar Pustaka
Adhi, N., dan Mutmainah, S. (2012). PENGARUH KARAKTERISTIK
PERUSAHAAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN SUKARELA
DAN IMPLIKASINYA TERHADAP ASIMETRI INFORMASI.
Diponegoro Journal of Accounting, 1–28.
Ahmed Rishi Belkaoui. (2006). Teori Akuntansi (Kelima). Jakarta: Salermba
Empat.
Aljifri, K., dan Hussainey. (2006). The Determinants of Forward-looking
Information in Annual Report of UAE Companies. Uni Emirates Arab.
Bambang Suripto. (1999). Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Luas
Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan. Simposium Akuntansi
Nasional II.
Brealey dan Myers. (2008). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan Perusahaan
(Edisi Kelima). Jakarta: Erlangga.
D Eldon, H., & Breda, M. F. Van. (2002). Teori Akuntansi (V Buku 2). Batam:
Interaksa.
Damayanti dan Priyadi,. (2016). PENGARUH KARAKTERISTIK
PERUSAHAAN PADA LUAS. Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi, 5(2), 1–
17.
Elfeky, M. I. (2017). The extent of voluntary disclosure and its determinants in
emerging markets : Evidence from Egypt. The Journal of Finance and Data
Science, 3(1–4), 45–59. https://doi.org/10.1016/j.jfds.2017.09.005
Fitriana, N. L., & Prastiwi, A. (2014). FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN SUKARELA DALAM
ANNUAL REPORT. DIPONEGORO JOURNAL OF ACCOUNTING, 3(3),
1–10.
Ghozali, I. (2013). Aplikasi Multivariate dengan Program SPSS. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hardiningsih, O. P. (2008). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi, 15(1), 67–
79.
Jensen, M. C., & Meckling, W. (1976). Theory of the Firm, Managerial Behavior,
Agency, and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, 3(4),

22
305–360.
Jogiyanto Hartono. (2000). Teori Potofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta:
BPFE.
Benardi et al., (2009). FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI LUAS
PENGUNGKAPAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP ASIMETRI
INFORMASI (Studi Pada Perusahaan-Perusahaan Sektor Manufaktur Yang
Go Public Di Bursa Efek Indonesia ), 1–26.
Kolsi, M. C. (2012). The Determinants of Corporate Voluntary Disclosure :
Evidence from the Tunisian Capital Market The Determinants of Corporate
Voluntary Disclosure : Evidence from the Tunisian Capital Market. The IUP
Journal of Accounting Research & Audit Practices, XI(4), 1–21.
Marwata. (2001). Hubungan antara Karakteristik Perusahaan dan Kualitas
Ungkapan Sukarela dalam Laporan Tahunan pada Perusahaan Publik di
Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi IV, 155–173.
Meek, G. K., Roberts, C. B., & Gray, S. J. (1995). FACTORS INFLUENCING
VOLUNTARY ANNUAL REPORT DISCLOSURES BY U.S., U.K. AND
CONTINENTAL EUROPEAN MULTINATIONAL CORPORATION.
Journal of International Business Studies, 555–572.
Purwanto, E., & Wikartika, I. (2014). ANALISIS VOLUNTARY DISCLOSURE
PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI DI BEI. Neo-Bis, 8(2), 101–115.
Riyanto, B. (1995). Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta: BPFE.
Sandy Wijayanti. (2013). Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, dan
Profitabilitas Terhadap Luas Pengungkapan Sukarela. Skripsi.
Setyaningrum, D. P. O., & Zulaikha. (2013). PENGARUH KARAKTERISTIK
PERUSAHAAN TERHADAP LUAS PENGUNGKAPAN SUKARELA
DAN IMPLIKASINYA TERHADAP BIAYA MODAL EKUITAS.
Diponegoro Journal of Accounting, 2(2), 1–14.
Singvi, S. S., & Desai, H. B. (1971). An Emperical Analysis of The Quality of
Corporate Financial Disclosure. The Accounting Review, 129–138.
Sjahrial, D., & Purba, D. (2011). Analisa Laporan Keuangan : Cara Mudah dan
Praktis Memahami Laporan Keuangan. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Sudarmadji, A. M., & Sularto, L. (2007). Pengaruh ukuran perusahaan,
profitabilitas, leverage, dan tipe kepemilikan perusahaan terhadap luas.

23
PESAT, 2, 21–22.
Sugiyono. (2013). Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Wild, J. J., K.R Sumbramanyam, & Robert F Halsey. (2005). Analisis Laporan
Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

24