Anda di halaman 1dari 26

1.

Sebutkan obat-obatan yang digunakan di kedokteran gigi beserta indikasi dan


kotraindikasinya?

Jawaban :
a. Analgetik/ Analgetik Antipiretik
Merupakan golongan obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri seperti nyeri kepala,
gigi, dan sendi. Obat golongan analgetik umumnya juga mempunyai efek antipiretik,
yakni mampu menurunkan suhu tubuh, sehingga biasa disebut obat golongan
analgetik-antipiretik.1

 Asam Asetilsalisilat
Indikasinya untuk meringankan rasa sakit gigi. Tablet 80 mg, 160 mg, 500
mg. Dosis 3 kali sehari. Kontraindikasi tidak untuk penderita penyakit tukak
lambung, ulkus peptikum, asma, alergi, demam berdarah, terapi antikoagulan,
serta yang hipersensitif terhadap derivat asam salisilat.

 Asam Mefenamat
Indikasinya untuk meringankan rasa sakit gigi dan menurunkan panas.
Tablet/kaplet 250 mg, 500 mg. Dosis 3-4 kali sehari. Dapat menyebabkan
diare, mual, kolik usus, serta gangguan pada tukak lambung dan usus.
Kontraindikasi yaitu tidak dianjurkan untuk wanita hamil, penderita gangguan
fungsi ginjal, anak di bawah 14 tahun, dan penderita dengan luka pada saluran
cerna.

 Asetaminofen
Indikasinya untuk meringankan rasa sakit gigi dan menurunkan panas. Sirup
120 mg/5 ml, tablet 250 mg, tablet 500 mg. Dosis 3-4 kali sehari. Dapat
menyebabkan mual, muntah, gangguan fungsi hati atau ginjal, kontraindikasi
untuk penderita penyakit hati dan ginjal serta yang hipersensitif terhadap
Asetaminofen.

 Ibuprofen
Indikasinya untuk menurunkan panas dan meringankan sakit gigi. Sirup
100mg/5ml, 200mg/5ml, tablet 100 mg, 200 mg. Dosis 3-4 kali sehari 200
mg. Harus diminum setelah makan. Dapat menyebabkan gangguan saluran
pencernaan, diare, nyeri lambung, ruam kulit, penyempitan bronkus,
trombositopenia, penurunan ketajaman penglihatan, dan kesulitan
membedakan warna. Kontraindikasi tidak untuk anak di bawah 1 tahun,
penderita ulkus peptikum, serta yang hipersensitif terhadap ibuprofen.
 Parasetamol
Indikasinya untuk meringankan rasa sakit gigi dan menurunkan panas. Sirup
120 mg/5 ml, tablet 250 mg, tablet 500 mg. Dosis 3-4 kali sehari.
Kontraindikasi tidak untuk yang hipersensitif terhadap parasetamol, gangguan
fungsi ginjal dan hati. Dapat menyebabkan mual, muntah, diare, dan
kerusakan hati.

 Solcoseryl Dental Adhesive


Ekstrak sanguin depot, spec 5%, polidokanol 1% untuk mengatasi rasa sakit
dan peradangan pada mukosa mulut, gusi, dan bibir, sariawan, rhagade, herpes
labialis, gingivitis, paradontitis, stomatitis, serta sakit akibat tekanan gigi
tiruan. Juga untuk melapisi gigi setelah pembersihan kalkulus, kuretase, dan
pencabutan gigi. Pasta dalam kemasan 5 mg. Dosis 3-5 kali sehari dioleskan
pada lesi.

 Tramadol
Indikasinya untuk mengurangi rasa sakit gigi berat. Kapsul 50 mg. Dosis
maksimal 400 mg/hari. Kontraindikasi untuk yang hipersensitif, intoksikasi
akut dengan alkohol, hipotika, analgetik, serta obat yang mempengaruhi
sistem saraf pusat. Dapat menimbulkan ketergantungan, gangguan
konsentrasi, resiko kejang pada penderita trauma kepala, mual, muntah,
obstipasi, sedasi, pusing pruritus, dyspepsia, mulut kering, lelah, berkeringat,
dan sakit kepala. Tidak untuk penderita gangguan fungsi hati, hipersekresi
bronkus, wanita hamil, dan wanita menyusui.2

b. Antibiotik
Merupakan segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek
menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya
dalam proses infeksi oleh bakteri.1
 Ampisilin
Ampisilina anhidrat/trihidrat Amoksilina trihidrat untuk infeksi pada gigi dan
rongga mulut akibat bakteri gram positif dan negatif yang peka terhadap
sediaan ini. Sirup 125 mg/5 ml, kapsul/kaplet 250 mg, 500 mg. Dosis 3-4 kali
sehari. Dapat menyebabkan mual, muntah, diare, reaksi hipersensitif.
Kontraindikasi tidak untuk yang hipersensitif terhadap penisilina, perlu
waspada pada pemberian untuk wanita hamil, penderita gangguan fungsi hati,
ginjal, dan darah. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan super
infeksi terutama pada saluran pencernaan.
 Amoksilin
Amoksilina trihidrat untuk infeksi pada gigi dan rongga mulut akibat bakteri
gram positif dan negatif yang peka terhadap sediaan ini. Sirup 125 mg/5 ml,
kapsul/kaplet 250 mg, 500 mg. Dosis 3-4 kali sehari. Dapat menyebabkan rasa
mual, muntah, diare, reaksi alergi, serta super infeksi pada pemberian jangka
panjang. Kontraindikasi tidak untuk yang hipersensitif terhadap penisilina,
perlu waspada pada pemberian untuk wanita hamil, penderita gangguan fungsi
hati, ginjal, dan darah.

 Klindamisin
Klindamisin HCl untuk infeksi pada gigi dan rongga mulut yang disebabkan
bakteri anaerob, serta strain streptokokus, pneumokokus, dan stafilokokus.
Kapsul 150 mg, 300 mg. Dosis 3 kali sehari. Dapat menyebabkan abdominal
pain, jaundice, dan lekopenia. Kontraindikasi tidak untuk penderita yang
hipersensitif terhadap sediaan ini, penderita diare, gangguan fungsi hati,
ginjal, serta tidak untuk infeksi ringan.

 Linkomisin
Linkomisina HCl untuk infeksi pada gigi dan rongga mulut yang disebabkan
oleh bakteri yang peka terhadap Linkomisina seperti Streptococcus,
Staphylococcus, dan Pneumococcus. Sirop 250/5 ml, kapsul 500 mg. Dosis 3-
4 kali sehari 500 mg. Dapat menyebabkan diare, mual, muntah, nyeri
lambung, gatal-gatal, serta gangguan fungsi hati, ginjal dan jumlah hitungan
darah pada pemakaian jangka panjang. Kontraindikasi tidak dianjurkan untuk
infeksi ringan, pasien dengan riwayat penyakit gastrointestinal, asma, ibu
hamil atau menyusui, serta penderita yang peka terhadap Linkomisin dan
Klindamisin.

 Metronidazole
Infeksi akibat bakteri anaerob. Kapsul/kaplet 250 mg, 500 mg. Dosis 3 kali
sehari. Dapat menyebabkan gangguan pencernaan makanan, gangguan cita
rasa, sakit kepala, kemih berwarna gelap, neuropati periperi, pruritis, pening,
mual, dan muntah. Kontraindikasi tidak untuk wanita hamil trimester pertama,
penderita diskrasia darah, penyakit susunan saraf pusat, dan yang hipersensitif
terhadap sediaan ini. 2

c. Antifungi (Obat Anti Jamur)


 Candistin
Nistatina 100.000 UI untuk pengobatan kandidiasis pada rongga mulut. Obat
tetes dalam botol 12 ml. Dosis bayi 4 kali sehari 1 ml, anak dan dewasa 4 kali
sehari 1-6 ml diteteskan ke dalam mulut ditahan beberapa saat, kemudian
ditelan. Pengobatan terus dilanjutkan sampai 48 jam setelah gejala hilang.
Dapat menyebabkan diare, mual muntah, gangguan gastroinstestinal, ruam,
urtikaria, steven Johnson syndrome, kontraindikasi untuk yang hipersensitif.
Sebelum obat diberikan, pastikan diagnosa dengan pemeriksaan KOH Smear.

 Daktarin Oral Gel


Mikonazol 20 mg untuk pengobatan kandidiasis rongga mulut. Gel dalam tube
20 mg. Dosis 4 kali sehari 1,25 ml (1/4 sendok takar). Biarkan gel beberapa
saat dalam mulut, lepas gigi palsu terlebih dahulu lalu gel dapat disikatkan
pada bagian yang berjamur. Lanjutkan pengobatan 2 minggu setelah gejala
hilang.

 Diflucan
Flukonazol 50 mg untuk kandidiasis mukosa. Kapsul 100 mg, dosis lazim 150
mg per hari. Dapat menyebabkan toksisitas hepar, mual, diare, nyeri perut,
sakit kepala, perubahan dalam renal dan hematologi. Kontraindikasi tidak
untuk wanita hamil atau menyusui, pasien yang sensitif terhadap Flukonazol
dan senyawa azolum sejenis. Selama pemakaian obat ini tidak mengendarai
kendaraan atau menjalankan mesin.2

d. Anti Halitosis
 Deorum
Ekstrak Mushroom 30 mg untuk menghilangkan nafas tak sedap dan bau
badan. Kapsul dalam dos berisi 10x10. Dosis tidak disebutkan.

 Listermint Arctic Fresh


Na-fluorida 0,221 mg/ml, 200 ml, 400 ml, dalam botol spray 15 ml. Dosis
tidak disebutkan.

 Smelo
Ekstrak jamur untuk menghilangkan napas tak sedap dan bau badan. Tablet
hisap 8 mg. Dosis 2x2 sehari.2

e. Anti Inflamasi
 Alloclair
Aqua, Maltodextrin, propylene glycol, polyvinylpyrrolidone, ekstrak aloe
vera, kalium sorbate, natrium benzoate, hydroxyethylcellulose, PEG 40,
hydrogenated castor oil, disodium edetate, benzalkonium Cl, saccarin Na,
natrium hyaluronate, glycyrrhetic acid. Mengatasi stomatitis aftosa, lesi
traumatik akibat kawat gigi atau gigi palsu. Gel dalam tube 8 ml. Dosis 1-2
tetes diatas ulkus/lesi 3-4 kali sehari. Sampai 1 jam setelah penggunaan
dilarang makan dan minum.

 Deksametason
Mengurangi inflamasi. Tablet 0,5 mg. Dosis 3 kali sehari. Dapat
menyebabkan mata kabur pada penderita katarak, edema, gangguan siklus
haid, gangguan elektrolit cairan tubuh, hipoglisemia, sakit kepala, mual, dan
muntah. Pada pemakaian jangka panjang dapat menyebabkan insufisiensi
adrenal akut. Tidak untuk penderita tukak peptik, osteoporosis, psikosis,
penderita herpes simpleks, tuberculosis, diabetes, jantung, ginjal, darah tinggi,
dan mata hipertensi.

 Kalium Diklofenak
Mengurangi inflamasi. Tablet 25 mg, 50 mg. Dosis 3 kali sehari. Dapat
menyebabkan nyeri, mual, muntah, diare, urtikaria, eritema, sakit kepala,
pusing, tukak peptik, diatesis hemoragi, gangguan hematopoietik, peradangan
usus, dan ruam kulit. Tidak untuk anak-anak, pasien yang diberi Asam
asetilsalisilat, pasien dengan serangan asma, ulkus peptikum, wanita hamil,
dan yang hipersensitif terhadap Diklofenak.

 Triamcinolone Acetonide
Triamsinolon asetonida 0,1% untuk stomatitis dengan tukak kecil, lichen
planus, serta tukak akibat pemakaian obat tertentu.
Kenalog*/Ketricin*/Sinocort* salep dalam tube 5 g. Dioles tipis pada mukosa
setelah makan dan sebelum tidur. Tidak untuk tukak yang disebabkan virus
atau TBC, tidak untuk yang hipersensitif terhadap Triamsinolon asetonida.

 Prednison
Mengurangi inflamasi. Tablet 5 mg. Dosis 3 kali sehari. Dapat menyebabkan
gangguan elektrolit cairan tubuh, hipoglisemia, hipertensi, sakit kepala, mual,
muntah, depresi, bingung, mata kabur, serta tidak bisa tidur. Tidak untuk
penderita penyakit jiwa, TBC, Herpes Simpleks, tukak lambung, jantung,
ginjal, tekanan darah tinggi. Pemakaian terus-menerus dapat mengganggu
pertumbuhan, hindari penghentian obat tiba-tiba.2
f. Antiseptik
 Listerine
Timol 0,06%, eukaliptol 0,09%, mentol 0,04%, metilsalisilat 0,05%, alkohol
22,86% untuk antiseptik luka. Larutan dalam botol 30 ml, 115 ml, 200 ml, 400
ml. Dosis tidak disebutkan.

 Minosep
Clorheksidine 0,2% untuk gingivitis, periodontitis, stomatitis bertukak,
sariawan, angina vincent, rasa sakit setelah perawatan periodonsia,
perikoronitis, faringitis. Obat kumur dalam botol 60 ml. Dosis 15 ml obat
kumur dikumur tiap pagi dan malam hari.

 Povidon Iodida 1%
Mencegah dan mengobati infeksi tenggorokan, amandel, sariawan, profilaksis
sebelum dan sesudah operasi dalam mulut. Betadine gargle* : obat kumur
dalam botol 190 ml, 100 ml, Forinfec*: larutan dalam botol 120 ml, Isodin
Gargle*/Kemodin*/Molexdine*/Sterox*: obat kumur dalam botol 190 ml. 3-4
kali sehari dikumur selama 3 detik, Neo Iodine Gargle*/Forinfec*/Septadine*:
obat kumur dalam botol 200 ml, Septadine: obat kumur dalam botol 100 ml,
Scansepta* obat kumur dalam botol 250 ml, Orodin*: obat semprot 15 ml.2

g. Antivirus
 Asiklovir
Kaplet 200 mg. Dosis 5 kali sehari 200 mg selang 4 jam tanpa pemberian di
malam hari untuk penderita Herpes Simpleks, 5 kali sehari 800 mg selang 4
jam tanpa pemberian di malam hari untuk penderita Herpes Zoster. Dapat
menyebabkan ruam kulit, reaksi neurologis, mual, muntah, diare, sakit perut,
peningkatan bilirubin, ureum, kreatinin, serta enzim-enzim yang berhubungan
dengan hati. Tidak untuk penderita gangguan fungsi ginjal, kelainan kreatinin,
usia lanjut, wanita hamil atau menyusui.

 Viru-Merz
Tromantadine Hydrocloride 10 mg untuk infeksi herpes simpleks pada kulit
atau mukosa. Salep dalam tube 10 mg.2
h. Vitamin dan Mineral
 Natrium Fluoride
1 mg/tablet untuk menguatkan email dan mencegah gigi berlubang. Tablet 1
mg. Dosis 0,25 mg/hari untuk <2 tahun, 0,5 mg/hari untuk 2-3 tahun, 1
mg/hari untuk >12 tahun. Vinafluor*, Fluoricare*. Jangan digunakan bila
kadar fluoride dalam air lebih dari 7 ppm.

 Radivit
Beta carotene 5 mg, vitamin E 30 mg, vitamin C 500 mg, selenium 50 mcg,
Zn 10 mg untuk defisiensi Vitamin A, E, C, Selenium, dan Zn. Dosis 1 kapsul
sehari.

 Vitamin B
Terdiri dari B1, B2, B6, B12 untuk pengobatan defisiensi Vitamin B. Berita
bersamaan saat makan untuk mengurangi perasaan tidak enak pada saluran
pencernaan.

 Vitamin C
Asam askorbat untuk gejala sariawan, perdarahan dan peradangan pada gusi.
Tablet 50 mg, 100 mg, 200 mg, 250 mg. Dapat menyebabkan diare. Tidak
untuk penderita batu ginjal.

 Vitamin E
Thocopherol acetate untuk pengobatan defisiensi vitamin E. Dosis 1-2 kapsul
lunak sehari.2

2. Jelaskan definisi lesi, etiologi, jenis, gambaran klinis, dan perawatannya?


Jawaban:

Definisi Lesi
Lesi adalah suatu kelainan patologis pada jaringan yang menimbulkan gejala/simtom, di
mana fungsi dari jaringan terganggu akibat penyakit dan trauma.

Etiologi lesi:
a. Trauma lokal
b. Infeksi
c. Penyakit sistemik
d. Penggunaan obat-obatan
e. Terapi radiasi
Jenis dan gambaran klinis lesi:

KLASIFIKASI LESI BERDASARKAN LUAS PERMUKAANNYA:

Perluasan di bawah permukaan

a. Ulser (ulkus): hilangnya epidermis dan lapisan kulit yang lebih dalam (hilangnya
epitel yang meluas di bawah lapisan sel basal). Contohnya Recurrent Apthous
Stomatitis, Bechet’s Syndrome.

b. Erosi: hilangnya epitel di atas lapisan sel basal. Dapat sembuh tanpa jaringan parut.
Contohnya kulit setelah mengalami suatu lepuhan atau vesikel yang pecah, Lichen
Planus Erosif.

c. Fissure: retak linier pada kulit yang meluas melalui epidermis dan memaparkan
dermis. Dapat terjadi pada kulit kering dan inflamasi kronis. Suatu celah dalam
epidermis. Contohnya Fissure Tongue, Angular Cheilitis.
Perluasan di atas permukaan

a. Papula: lesi yang membenjol padat dengan diameter kurang dari 1 cm. Biasanya
terasa gatal, rasa terbakar, dan nyeri. Contohnya Lichen Planus (pada mukosa),
Fordyce’s Spot.

b. Plaque: massa yang menonjol dengan atap yang rata, permukaan bisa halus, kasar,
atau pecah-pecah. Ukurannya lebih besar daripada papula (diameternya lebih dari 1
cm). Contohnya Leukoplakia.

c. Vesikel: suatu benjolan kulit berisi cairan dan berbatas jelas dengan diameter kurang
dari 1 cm. Contohnya cacar air, lesi herpetik.
d. Bulla: suatu benjolan kulit berisi cairan yang lebih besar dari vesikel (diameternya
lebih besar dari 1 cm). Dapat terbentuk karena adanya trauma mekanis atau gesekan.
Contohnya Pemphigus Vulgaris.

e. Pustula: suatu vesikel yang berisi cairan pus (eksudat purulen). Contohnya Acne
Vulgaris.

f. Nodul: suatu massa padat dan menonjol yang berbentuk tebal dengan diameter
kurang dari 1 cm yang mengalami perluasan ke bawah. Merupakan tumor jinak dari
jaringan ikat yang terjadi karena iritasi kronis (iritasi ringan yang terus-menerus).
Dapat hilang sendiri atau tidak, setelah iritasi kronis dihilangkan (misal eksisi).
Contohnya iritasi Fibroma.
g. Tumor: merupakan massa padat, besar, meninggi, mengalami perluasan ke bawah
dengan ukuran lebih dari 1 sampai 2 cm. Tumor tersebut bisa ganas atau jinak.
Contohnya kanker payudara versus limfoma.

Datar (rata)

a. Makula: suatu daerah berbatas jelas dari epidermis atau mukosa yang berbeda warna
dari sekelilingnya. Biasanya lesi tersebut berukuran 1 cm atau lebih kecil. Contohnya
Makula Melanotik.

b. Patch: suatu daerah berbatas jelas yang lebih lebar dari makula dan dibedakan dari
epidermis sekitarnya dengan warna atau corak atau keduanya. Contohnya bercak
mukosa dari sifilis sekunder dan bercak snuff dipper.
c. Petechiae: lesi yang masuk pada subkutan. Lesi ini bila ditekan tidak berubah pucat,
jadi tetap berwarna kemerahan. Contohnya Scurvy

d. Echimosis: petechiae yang luas. Contohnya Trombositopenia purpura.3

KLASIFIKASI LESI BERDASARKAN PERUBAHAN WARNA:

a. Lesi Merah
Suatu keadaan yang abnormal pada mukosa, di mana tampakan klinis berwarna lebih
merah dari jaringan sekitarnya dengan permukaan licin seperti adrofi atau granuler.
Pada lesi ini juga terlihat inflamasi, tapi tanda-tandanya lebih mudah terlihat pada sel
epitel premalignant.
 Macam-macam lesi merah:
o Purpura (petechiae)
o Varikositas (Varix)
o Trombus
o Telangiektasia Hemorhagik Herediter
o Sindrom Sturge-Weber

b. Lesi Putih
Suatu keadaan yang abnormal pada mukosa, di mana tampakan klinis berwarna lebih
putih, lebih tinggi, lebih kasar atau mempunyai tekstur yang berbeda dari jaringan
sekitarnya. Keadaan tersebut menggambarkan peningkatan lapisan keratin, koloni
jamur, atau lapisan epithelium yang mati.
 Macam-macam lesi putih:
o Granula Fordyce
o Linea Alba Bukalis
o Leukoedema
o Morsicatio Buccarum (Mukosa Tergigit)
o White Sponge Nevus

 Lesi putih yang berkaitan dengan tembakau:


o Keratosis rokok
o Stomatitis Nikotina
o Bercak Snuff Dipper
o Karsinoma Verukosa
c. Lesi Merah/Putih
 Macam-macam lesi merah/putih:
o Eritroleukoplakia dan Bercak Eritroplakia
o Karsinoma Sel Skuamosa
o Lichen Planus
o Kandidiasis Pseudomembran Akut (Thrush)
o Kandidiasis Keratotik Kronis (Hiperplastik)4

KLASIFIKASI LESI BERDASARKAN PRAGANAS/GANAS:

a. Lesi Praganas
o Eritroplakia
o Leukoplakia
o Oral Submukous Fibrosis
o Liken Planus
o Lupus Erythematous5

b. Lesi Ganas
 Neoplasia Ganas yang Berasal dari Epitel
o Squamous cell carcinoma
o Adenocarcinoma
o Malignant Ameloblastoma

 Neoplasia Ganas yang Berasal dari Jaringan Ikat Mesenkim


o Fibrosarcoma
o Neurosarcoma
o Liposarcoma
o Osteogenic sarcoma
o Chondro sarcoma6

Perawatan dan pencegahan lesi jaringan lunak rongga mulut:

o PERAWATAN
Untuk kasus ringan, jenisnya bisa berupa obat salep yang berfungsi sebagai topikal
coating agent yang melindungi lesi dari gesekan dalam rongga mulut, selain itu juga
melindungi agar tidak berkontak langsung dengan makanan yang asam atau pedas.
Pada kasus yang sedang hingga berat, dapat diberikan salep yang mengandung topikal
steroid.
o PENCEGAHAN
Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menghindari stress yang berlebihan,
memperbaiki pola makan, dan menjaga kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut.7

https://www.scribd.com/doc/87971249/Macam-macam-Lesi-Rongga-Mulut (macam2 lesi


rongga mulut)

http://drganjoz.blogspot.co.id/2011/02/blok-10-lbm-1.html (My blog blok 10)

http://ayu-dani91.blogspot.co.id/2011/06/lesi-lesi-jaringan-lunak-rongga-mulut.html (ayu
dani, lesi2 jaringan lunak)

https://www.academia.edu/5343176/Penyakit_Mulut (penyakit_mulut, WORD)

http://amaliapradana.blogspot.co.id/2010/09/lesi-praganas-rongga-mulut.html (welcome
to my blog lesi praganas RM)

3. Jelaskan manifestasi penyakit sistemik dalam rongga mulut (gambaran klinis setiap
penyakit dalam rongga mulut dan pengobatannya) ?
Jawaban:

MANIFESTASI DEFISIENSI NUTRISI PADA RONGGA MULUT


Kurangnya konsumsi makanan bergizi dapat menyebabkan terjadinya defisiensi
zat gizi. Defisiensi zat gizi ini akan menimbulkan gejala pada tubuh bila berlangsung
lama dan bersifat kronis. Gejala pada tubuh antara lain dapat terjadi di dalam rongga
mulut. Biasanya yang bermanifestasi pada rongga mulut adalah defisiensi mineral,
protein, dan vitamin.

o Defisiensi Mineral
Defisiensi mineral yang bermanifestasi dalam rongga mulut adalah defisiensi
kalsium, fosfor, magnesium, besi, dan fluor.
a. Defisiensi Kalsium
Manifestasi defisiensi kalsium dalam rongga mulut adalah terjadinya absorpsi tulang
rahang yang merata dan destruksi ligamentum periodontal dan berkurangnya
kekuatan gigi.
b. Defisiensi Fosfor
Manifestasi defisiensi fosfor dalam rongga mulut adalah terjadinya gangguan
pertumbuhan rahang dan erupsi gigi, juga adanya pertumbuhan kondil yang lambat
disertai maloklusi.

c. Defisiensi Magnesium
Defisiensi magnesium dalam jangka waktu yang lama dapat terjadi hipoplasia
enamel.

d. Defisiensi Besi
Manifestasi defisiensi besi dalam rongga mulut adalah terjadinya glossitis yang
merupakan penyakit pada lidah, di mana lidah tampak merah dan sakit.

e. Defisiensi Fluor
Manifestasi defisiensi fluor dalam rongga mulut yang paling utama adalah kerentanan
gigi terhadap terjadinya karies gigi.

o Defisiensi Protein
Protein banyak terdapat pada daging, telur, susu, ikan, dan jagung. Manifestasi defisiensi
protein dalam rongga mulut adalah lidah tampak berwarna merah karena hilangnya
papilla, terjadinya Angular Cheilitis dan fissura bibir atau bibir pecah-pecah. Selain itu,
rongga mulut terasa kering dan tampak kotor. Resistensi terhadap infeksi mengalami
penurunan sehingga mudah terjadi infeksi pada jaringan periodontal.

o Defisiensi Vitamin
a. Defisiensi Vitamin A
Menyebabkan terjadinya gingivitis, hiperplasia gingival, serta penyakit periodontal
dan hipoplasia enamel.

b. Defisiensi Vitamin D
Menyebabkan terjadinya hipoplasia enamel pada gigi insisivus dan molar permanen
yang umumnya terdapat pada penderita rhiketsia.

c. Defisiensi Vitamin E
Menyebabkan terjadinya perdarahan gingiva, keluarnya pus dari poket, dan penyakit
periodontal, serta leukoplakia.
d. Defisiensi Vitamin K
Menyebabkan terjadinya pendarahan spontan pada gingiva atau setelah menggosok
gigi.

e. Defisiensi Vitamin C
Menyebabkan rentannya gingiva terhadap iritasi lokal, sehingga terjadi hiperplasia
gingiva dan mudah berdarah. Selain itu juga dapat terjadi ulserasi yang biasa disebut
Scurvy.

f. Defisiensi Vitamin B Kompleks


 Tiamin (B1)
Menyebabkan terjadinya pembesaran papilla fungiformis pada perifer lidah,
adanya retakan pada bibir dan sensitifitas pada gigi, serta mukosa mulut
meningkat.

 Riboflavin (B2)
Menyebabkan terjadinya angular cheilitis dan atrofi papilla fungiformis.

 Asam Nikotinat (B5)


Menyebabkan terjadinya atrofi papilla di mana lidah tampak merah, terjadinya
gingivitis kronis dan periodontitis.

 Peridoksin (B6)
Menyebabkan terjadinya angular cheilitis, glossis, serta rasa tidak enak pada
mulut.

 Asam Pentotenat
Menyebabkan terjadinya angular cheilitis, ulserasi, dan nekrosis pada gingiva.
Mukosa mulut dan bibir terlihat berwarna merah mengkilat.

 Asam Folat
Menyebabkan terjadinya pembengkakan pada lidah, gingivitis, angular
cheilitis, dan ulkus pada lidah.

 Sianokobalamin (B12)
Menyebabkan gingiva nampak pucat dan mudah terjadi ulserasi. Lidah
tampak merah licin dan mengkilat, serta lebih sensitif (glositis hurteri).8
MANIFESTASI GANGGUAN ENDOKRIN

Gangguan endokrin merupakan bagian dari diabetes mellitus dan kelainan tiroid.
Merupakan penyebab penyakit atau kelainan oral. Endokrin merupakan kelenjar yang
menghasilkan hormon yang mempengaruhi proses metabolism, pertumbuhan, dan
produksi. Yang termasuk kelenjar endokrin adalah kelenjar pituitary, tiroid, adrenal,
pankreas, dan gonad.

a. Gangguan Kelenjar Pituitary


Merupakan kelenjar yang menghasilkan hormon pertumbuhan. Gangguan pada
kelenjar ini dapat disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah ataupun adanya tumor
pada kelenjar.
 Hiperpituitarisme
Peningkatan hormon pertumbuhan sehingga mengakibatkan pertumbuhan
yang berlebihan, seperti gigantisme, akromegali, adanya pembesaran pada
maksila dan mandibula, serta ukuran gigi lebih besar dari normal.

 Hipopituitarisme
Kurangnya sekresi kelenjar pituitary sehingga menghambat pertumbuhan pada
semua jaringan seperti perkembangan kranium wajah yang lambat dan erupsi
gigi yang lambat.

b. Gangguan Kelenjar Paratiroid


Kelenjar ini menghasilkan hormon yang mengontrol metabolism kalsium dan fosfor.
 Hiperparatiroidisme
Terjadinya hiperkalsemia yang menyebabkan demineralisasi tulang sehingga
menimbulkan osteoporosis dan ameloblastoma.

 Hipoparatiroidisme
Terjadinya hipokalsemia yang mengakibatkan hipoplasia enamel dan
gangguan kalsifikasi dentin.

c. Gangguan Kelenjar Adrenal


Disebut juga kelenjar anak ginjal yang berfungsi memelihara tekanan darah, kontraksi
otot jantung, serta metabolisme tubuh.
 Hiperadrenalisme
Terjadinya seksresi adrenal yang berlebih atau hiperadrenalisme akan
menyebabkan disfungsi hipotalamus. Manifestasinya berupa cushing
syndrome dan pada rongga mulut berupa pertumbuhan gigi yang lambat serta
enlargement gingiva.
 Hipoadrenalisme
Merupakan keadaan yang disebabkan oleh kekurangan sekresi hormon
adrenal. Manifestasinya berupa Addison Disease dan pada rongga mulut
berupa pigmentasi mukosa mulut, berwarna hitam, biru, dengan bentuk bintik-
bintik yang tidak teratur.

d. Gangguan Kelenjar Gonad


Kelenjar gonad berfungsi menghasilkan hormon seks. Hormon laki-laki
dihasilkan di testis yang disebut testosteron, sedangkan hormon wanita dihasilkan
oleh ovarium yang disebut estrogen dan progesteron.
Pada masa tertentu terjadi perubahan fisiologis kualitas hormon seks. Masa
tersebut adalah masa pubertas, menstruasi, dan kehamilan. Pada dasarnya terjadi
peningkatan hormon pada keadaan tersebut yang akan menimbulkan reaksi
berlebihan pada gingiva. Sehingga dapat terjad gingivitis pubertas dan pregnancy.

e. Gangguan Kelenjar Pankreas


Pankreas mempunyai fungsi yang berhubungan dengan hormon insulin. Dengan
terganggunya konduksi insulin ini akan mengakibatkan glukosa darah yang masuk ke
jaringan akan berkurang, sehingga akan tersimpan terus di dalam darah dan
meningkatkan gula darah serta masuk ke dalam ginjal. Akibatnya ginjal tidak mampu
mengabsorbsi sehingga terjadi glukosuria. Keadaan inilah yang disebut Diabetes
Melitus. Gejala klinis diabetes yaitu polyuri, polydipsi, polyfagi, mudah lelah,
mengantuk, dan bau keton. Pada rongga mulut dapat terjadi gingiva edematous,
penumpukan kalkulus, gigi sensitif atau mobile, mulut kering, lidah terasa terbakar,
dan mulut berbau aseton.9

MANIFESTASI PENYAKIT DARAH


a. Anemia
Anemia defisiensi zat besi adalah penyakit darah yang paling umum terjadi.
Manifestasi pada rongga mulut berupa atropik glossitis, mukosa pucat, dan angular
cheilitis. Atropik glossitis, hilangnya papilla lidah, menyebabkan lidah lunak dan
kemerahan yang menyerupai migratori glossitis. Migratori glossitis, dikenal juga
dengan sebutan geographic tongue, merupakan suatu kondisi lidah yang tidak
diketahui penyebabnya yang mempengaruhi 1-2% populasi. Hal tersebut
mengakibatkan lesi kemerahan, non-indurasi, atropik, dan dibatasi dengan sedikit
peninggian pada lidah, pinggir yang nyata dengan warna yang bermacam-macam dari
abu-abu sampai putih.
b. Leukimia
Komplikasi oral leukemia sering berupa hipertrofi gingival, petechie, ekimosis, ulkus
mukosa, dan hemoragik. Keluhan yang jarang terjadi berupa neuropati nervus
mentalis, yang dikenal dengan “numb chin syndrome”. Ulserasi palatum dan nekrosis
dapat menjadi pertanda adanya mucormycosis cavum nasalis dan sinus paranasalis.
Enam belas persen dan 7% anak dengan leukemia akut dilaporkan mengalami
gingivitis dan mucositis.

c. Multiple Myeloma (MM)


Bila Multiple Myeloma melibatkan rongga mulut, biasanya berupa manifestasi
sekunder pada rahang, terutama mandibula, yang dapat mengakibatkan
pembengkakan rahang, nyeri, bebal, gigi goyah, fraktur patologik. Punched out
lesions pada tengkorak dan rahang merupakan gambaran radiografik yang khas.
Insidensi keterlibatan rahang pada Multiple Myeloma sekitar 15%. Karena Multiple
Myeloma mengakibatkan immunosupresi, maka timbul beberapa infeksi seperti oral
hairy leukoplakia dan candidiasis. Timbunan amyloid pada lidah menyebabkan
macroglossia.10

MANIFESTASI INFEKSI SPESIFIK


a. Tuberkulosis
Tuberkulosis rongga mulut (oral tuberculosis) dapat primer, tetapi umumnya
merupakan manifestasi sekunder tuberkulosis paru. Pada umunya lesi tuberkulosis
terletak di lidah, kadang-kadang juga di gusi, dasar mulut, palatum, bibir, dan mukosa
bukal. Di lidah dapat menyebabkan makroglosia dan member kesan glossitis. Pada
TB rongga mulut dijumpai pembesaran kelenjar limfe daerah preaurikular, trismus,
trakheitis, dan laryngitis. Tipe lesi tuberkulosis rongga mulut adalah granuloma,
fissure, glossitis, dan ulkus.

b. Sifilis
Lesi primer dari penyakit kelamin umumnya terjadi di daerah genetalia, dapat
juga dijumpai pada bibir atau mukosa mulut sebagai akibat kontak orogenital. Lesi
primer dan sifilis bawaan ditandai oleh timbulnya nodul yang pecah setelah beberapa
hari dan meninggalkan luka dengan tepi keras yang tidak sakit. Biasanya terjadi
pembengkakan serta kekenyalan kelenjar limfe servikal. Lesi primer ini sangat
infektif dan oleh karena itu harus diperiksa dengan hati-hati. Sifilis primer biasanya
mereda setelah 8-9 minggu tanpa meninggalkan jaringan parut.
Sifilis sekunder secara klinis akan muncul kira-kira 6 minggu setelah infeksi
primer dan ditandai oleh sebuah ruam macular atau popular, demam, lesu, sakit
kepala, limfadenopati umum, serta sakit pada tenggorokan. Pada kira-kira sepertiga
penderita, mukosa akan terlibat dan lesi digambarkan sebagai “lesi jejak siput”. Sifilis
sekunder ini akan hilang dalam 2-6 minggu.
Sifilis dapat terjadi laten dan menimbulkan lesi tersier beberapa tahun setelah
infeksi pertama. Dua lesi yang dikenali sebagai tanda sifilis tersier adalah gumma di
langit-langit, serta leukoplakia pada permukaan dorsal lidah.11

http://dokumen.tips/documents/manifestasi-mukosa-oral-akibat-penyakit-sistemik.html
(manifestasi mukosa oral akibat penyakit sistemik)

https://www.academia.edu/12902310/MANIFESTASI_PENYAKIT_SISTEMIK_PADA_RONG
GA_MULUT (MANIFESTASI PENYAKIT SISTEMIK PADA RONGGA MULUT,
word)

http://fitrident.blogspot.co.id/2015/01/manifestasi-oral-penyakit-sistemik.html (dentistry
of iik)

https://alihalih.wordpress.com/2011/08/08/nutrisi-dan-kaitannya-dengan-kesehatan-
rongga-mulut/ (nutrisi dan kaitannya…)

4. Jelaskan apa itu hormon dan bagaimana peran hormon terhadap penyakit dalam
rongga mulut ?
Jawaban:
Hormon merupakan senyawa organik pada tubuh manusia yang dihasilkan oleh
kelenjar endokrin. Hormon yang dihasilkan dari sekresi kelenjar endokrin ini akan
langsung masuk ke dalam pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah,
sehingga akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh manusia, termasuk proses
pertumbuhan dan perkembangan. Setiap manusia, baik wanita maupun pria, pasti
memiliki hormon di dalam tubuhnya, dan akan selalu ada selama proses kehidupannya.
Mulai dari bayi sampai beranjak tua, hormon akan selalu berpengaruh pada proses
pertumbuhan dan perkembangan jaringan tubuh manusia. Salah satu contohnya adalah
proses pertumbuhan dan perkembangan di jaringan lunak rongga mulut manusia.
Ada beberapa hormon yang dapat mempengaruhi beberapa perubahan yang
terjadi pada rongga mulut, seperti hormon progesteron dan estrogen.
a. Progesteron
Progesteron adalah hormon steroid yang terutama dihasilkan oleh indung telur,
setelah ovulasi. Jika pembuahan dan kehamilan terjadi, plasenta akan mulai
memproduksi progesteron. Hormon progesteron dalam kandungan berfungsi untuk
merangsang pertumbuhan pembuluh darah di endometrium (lapisan rahim). Tindakan
ini bertujuan untuk membuat fit dinding rahim untuk embrio yang dibuahi untuk
dapat melekat. Progesteron juga merangsang kelenjar tertentu dalam endometrium
untuk mensekresikan cairan yang dimaksudkan untuk memberi makan sperma dan
embrio.
Dalam hubungannya dengan jaringan di rongga mulut, progesteron yang
jumlahnya kurang dari normal dapat mengakibatkan stomatitis aftosa rekuren (SAR).
Croley dan Miers (Croley, 2011) meneliti bahwa pengaruh hormon esterogen yang
ternyata merangsang maturasi lengkap sel epitel mukosa mulut dan progesteron yang
menghambatnya (Jones, 2003). Selain itu tampak jelas adanya perubahan pada
lapisan mukosa mulut, dan peningkatan jumlah bakteri dalam jaringan yang
dipengaruhi oleh hormon estrogen, sedangkan progesteron berperan dalam jaringan
periodonsium. Progesteron juga mengubah tingkat dan pola produksi dalam gingiva
yang menyebabkan gangguan perbaikan dan pemeliharaan. Estrogen dan progesteron
dalam jaringan ikat mempengaruhi proliferasi fibroblast dan pematangan kolagen.
Protein nonkolagen jaringan ikat seperti glikosaminoglikan yang tinggi.

b. Estrogen
Hormon seksual mempunyai peran penting pada fisiologis periodontal dan juga
pada perkembangan dan keparahan penyakit periodontal. Estrogen diduga
mempunyai peran pada berbagai penyakit periodontal. Efek biologis estrogen
diperantarai oleh reseptor estrogen. Reseptor estrogen adalah faktor transkripsi yang
memediatori efek pleiotropik hormon steroid terhadap pertumbuhan, perkembangan,
dan pemeliharaan bermacam-macam jaringan. Estrogen mempengaruhi proliferasi,
diferensiasi, dan keratinisasi epitel gingiva melalui pengaturan produksi beberapa
protein yang terlibat dalam proliferasi sel dan pengaturan siklus sel.
Salah satu kondisi tubuh yang penting untuk dipertimbangkan yaitu penggunaan
hormon seksual estrogen yang diduga menjadi faktor resiko penyakit periodontal.
Estrogen berperan dalam mengubah sistem mikrosirkulasi gingiva. Reseptor estrogen
yang ada di gingiva manusia bertanggung jawab terhadap peningkatan hormon
estrogen di jaringan gingiva. Fungsi hormon estrogen yaitu meningkatkan proliferasi
seluler, diferensiasi, dan menurunkan keratinisasi.
Menurut Goodman, banyaknya reseptor hormon dipengaruhi oleh konsentrasi
hormon di ruang interseluler. Kadar estrogen pada wanita menopause akan
merangsang pembentukan reseptor estrogen yang lebih banyak, namun belum
dipastikan keterkaitan antara kadar estrogen dengan keberadaan reseptor estrogen.
Menurut pendapat penelitian, pada kerusakan jaringan periodontal, reseptor estrogen
α dibutuhkan sebagai faktor pertumbuhan untuk mempercepat penyembuhan luka,
sedangkan reseptor estrogen β dibutuhkan untuk menahan agar reaksi peradangan
yang menyebabkan kerusakan jaringan tidak berlebihan.12

https://hernichemistry.wordpress.com/2013/04/03/makalah-hormon/ (makalah
hormone)

http://www.pengertianahli.com/2013/11/pengertian-hormon-dan-fungsi-hormon.html
(pengertian hormone dan fungsi hormone pengertian ahli)

http://www.kelasipa.com/2015/03/pengertian-hormon-pada-manusia-dan-fungsinya-
secara-umum.html (pengertian hormon pada manusia dan fungsinya secara umum)

http://kabarnesia.com/1876/hormon-dan-fungsinya/ (apa itu hormone dan fungsinya pada


manusia)

http://edisicetak.joglosemar.co/berita/cermati-peran-estrogen-dan-androgen-pada-rongga-
mulut-61522.html (cermati peran estrogen dan androgen)

http://dokumen.tips/documents/pengaruh-hormon-estrogen-dan-progesteron-terhadap-
sistem-imun-rongga-mulut.html (pengaruh hormon estrogen dan progesterone terhadap
system imun)

https://www.academia.edu/11227404/PENGARUH_HORMON_DAN_VITAMIN_TER
HADAP_PERTUMBUHAN_DAN_PERKEMBANGAN_JARINGAN_LUNAK_RONG
GA_MULUT (pengaruh hormon dan vitamin WORD)

5. Jelaskan hubungan antara periodontitis dengan diabetes mellitus ?


Jawaban:
Terdapat bukti yang kuat bahwa diabetes mellitus merupakan faktor risiko
gingivitis dan periodontitis, dan tingkat kontrol glikemik menjadi faktor penting dalam
hubungan ini. Menurut penelitian epidemiologi, diabetes pada orang dewasa sering
menunjukkan peningkatan yang luas dari keparahan periodontitis.
Bridge dkk, menyatakan bahwa diabetes mempengaruhi semua parameter
periodontal, termasuk skor pendarahan, kedalaman saku, kehilangan perlekatan, dan
kehilangan gigi. Taylor dan Borgnakke telah menguji periodontitis sebagai komplikasi
dari diabetes mellitus. Taylor mengidentifikasi 48 penelitian pada tahun 1960 dan 2000,
di mana dari penelitian-penelitian yang membahas mengenai hubungan penyakit
periodontal pada penderita diabetes ternyata sebanyak 44 penelitian mendukung diabetes
sebagai faktor resiko periodontitis.
Polymorphonuclear leukosit merupakan sel pertahanan utama dari periodonsium.
Fungsi sel yang terlibat dalam respon pertahanan ini adalah neutrofil, monosit, dan
makrofag. Penderita diabetes yang tidak terkontrol menderita kelainan fungsi sel
pertahanan utama tersebut, yaitu tidak seimbangnya fungsi kemotaksis dan fagositosis
yang menyebabkan penderita diabetes lebih rentan terhadap infeksi.
Terganggunya fungsi fagositosis neutrofil dapat meningkatkan jumlah bakteri di
poket periodontal, sehingga meningkatkan kerusakan periodontal. Selain itu, adanya
respon yang berlebihan dari immunoinflammatory lain pada penderita diabetes. Sebagai
contoh meningkatkan produksi tumor nekrosis alpha (TNF-α) oleh makrofag dan monosit
pada waktu terjadinya inflamasi dalam merespon pathogen penyakit periodontal,
akibatnya dapat meningkatkan kerusakan jaringan pejamu. Peningkatan jumlah TNF-α ini
ditemukan dalam darah yang menunjukkan adanya respon yang berlebihan dari sistem
pertahanan tubuh secara sistemik dan lokal.
Selain itu, periodontitis juga dapat memperburuk kontrol glikemik pada penderita
diabetes mellitus. Menurut penelitian Grosso dan Genco, penyakit periodontal dapat
meningkatkan tingkat keparahan diabetes mellitus. Pada penelitian tersebut dinyatakan
bahwa terdapat hubungan dua arah antara diabetes mellitus dengan penyakit periodontal,
di mana penyakit periodontal dan diabetes mellitus berinteraksi untuk meningkatkan
kerusakan jaringan. Infeksi kronis dalam respon inflamasi pada penderita diabetes
mellitus meningkatkan kerusakan jaringan periodonsium pada penderita diabetes,
sedangkan infeksi periodontal dapat menyebabkan keadaan resistensi insulin kronis
sehingga mengubah kontrol metabolisme glukosa. Dengan demikian, terjadi siklus
degeneratif di mana diabetes menyebabkan penurunan imunitas yang kemudian
mempengaruhi kontrol metabolisme glukosa dan memberikan dampak negatif terhadap
diabetes.13
https://blisha.wordpress.com/2010/10/28/hubungan-antara-penyakit-periodontal-dengan-
diabetes-melitus/ (hubungan antara penyakit periodontal dengan diabetes mellitus)

6. Jelaskan mengenai penyebab kanker rongga mulut ?


Jawaban:
Tumor pada rongga mulut terjadi karena pertumbuhan yang liar dalam mulut yang
tidak dapat dikendalikan, sehingga tumor rongga mulut dapat digolongkan menjadi dua
bagian, yaitu tumor ganas yang disebut maligna dan tumor jinak yang disebut belignan.
Asal dari pertumbuhan tumor jinak maupun ganas biasanya berasal dari berbagai
jaringan di dalam dan sekitar mulut, termasuk tulang, otot, dan saraf. Tumor ganas
tumbuhnya relatif lebih cepat dari pada tumor jinak karena lebih aktif dan agresif. Tumor
yang berada di permukaan tubuh akan membesar dengan cepat dan seringkali disertai
dengan luka atau pembusukan yang tidak kunjung sembuh. Luka yang diakibatkan oleh
suplai nutrisi ke sel-sel tumor yang tidak mampu mengimbangi lagi sel-sel tumor yang
jumlahnya sangat cepat dan berlipat ganda. Akibatnya, sel-sel yang berada di ujung tidak
mendapat nutrisi dan mati.
Masyarakat modern terancam tumor rongga mulut akibat pergeseran pola hidup
yang salah dengan mengkonsumsi alkohol, kebiasaan merokok, nutrisi yang tidak baik,
sehingga kesehatan gigi dan rongga mulut terganggu. Gejala yang paling sering
ditemukan adalah nyeri, namun dapat juga terjadi pembengkakan dan pergerakan yang
terbatas.
Adapun faktor penyebab yang pasti tidak diketahui, namun ada faktor karsinogen
yang dapat memicu untuk meningkatnya resiko tinggi terjadinya karsinoma.

a. Tembakau
Di Asia Tenggara, frekuensi tumor ganas rongga mulut lebih tinggi bila
dibandingkan dengan negara lainnya di seluruh dunia. Namun, di Negara Eropa dan
Amerika jumlah penderita tumor rongga mulut dan faring sekitar tujuh puluh lima
persen yang disebabkan oleh merokok dan minum minuman keras. Keadaan yang
demikian diduga ada hubungannya dengan kebiasaan mengunyah tembakau yang
dilakukan sebagian masyarakat di kawasan Asia.
Peranan tembakau merupakan faktor etiologi pada perkembangan tumor ganas di
rongga mulut. Hal ini terutama berhubungan dengan kebiasaan mengunyah biji
pinang dengan tembakau, kebiasaan ini dahulu dilakukan oleh orangtua dan biasanya
ditemukan di daerah rural, seperti pengaruh rokok, cerutu, dan merokok dengan pipa
sebagai kebiasaan yang sering ditemukan pada masyarakat. Hal ini dapat
menimbulkan tumor, seperti papiloma, fibroma, atropik mukosa, dan tumor ganas
lainnya.
Munculnya tumor disebabkan adanya kandungan radikal bebas yang terbentuk
dari campuran bahan tembakau, pinang, dan kapur. Kebiasaan memakan sirih dengan
pinang juga membuat kondisi gigi dan rongga mulut kotor, sehingga menjadi
berkembangbiaknya jamur atau candida albicans.
Mukosa rongga mulut merupakan bagian yang paling mudah mengalami
perubahan, karena lokasinya yang sering berhubungan dengan pengunyahan,
sehingga sering pula mengalami iritasi mekanis. Di samping itu, banyak perubahan
yang sering terjadi akibat adanya kelainan sistemik. Kelainan yang terjadi pada
umumnya memberikan gambaran yang mirip antara yang satu dengan yang lainnya,
sehingga dapat menimbulkan kesukaran dalam menentukan diagnosis yang tepat.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu ditentukan diagnosa banding, karena di
antara kelainan yang terjadi ada yang berpotensial menjadi maligna dan ada juga
hanya bersifat belignan. Pemahaman mengenai pentingnya pendekatan patologik
akan meningkatkan kemampuan para dokter gigi pada era globalisasi. Ada beberapa
macam lesi pra-ganas rongga mulut, antara lain erithroplakia, carcinoma in situ, dan
lain-lain. Tetapi, lesi yang paling sering ditemukan pada rongga mulut adalah
leukoplakia.
Etiologi yang pasti dari leukoplakia sampai sekarang belum diketahui dengan
pasti, tetapi predisposisi menurut beberapa ahli klinikus terdiri dari faktor yang
multiple, yaitu faktor lokal, faktor sistemik, dan malnutrisi vitamin.

b. Alkohol
Penyebab tumor rongga mulut juga berhubungan dengan kebiasaan minum
minuman keras yang kuat. Peminum yang dikatakan peminum alkohol yang kuat
adalah peminum yang meminum lebih dari 1,5 liter alkohol perhari, mempunyai
resiko terserang tumor ganas di rongga mulut sepuluh kali lebih besar dari pada
pemakai alkohol minimal. Dapat ditimbulkan peningkatan konsumsi alkohol
berhubungan dengan meningkatnya resiko terserang tumor ganas di rongga mulut.

c. Sirosis Hati
Hubungan antara sirosis hati dan kanker di rongga mulut juga dikemukakan oleh
Vincent dkk (1964), bahwa kerusakan hati karena alkohol juga membantu merangsang
atau mempercepat terjadinya perubahan keganasan pada mukosa mulut.

d. Diet
Selain tembakau dan alkohol, masalah diet dan nutrisi merupakan faktor
predisposisi terjadinya karsinoma. Defisiensi vitamin A dapat mempengaruhi insiden
tumor ganas sebagai faktor etiologi terjadinya tumor ganas di rongga mulut, namun
hal ini hanya sebagian kecil setelah dilakukan penelitian secara sistematik. Pada dua
penelitian di Amerika tidak ditemukan perbedaan antara penderita tumor ganas dan
kelompok kontrol nutrisi.

e. Masalah Kesehatan Gigi


Kebersihan mulut yang buruk, restorasi yang tidak tepat, tepi gigi-gigi yang
tajam, dan gigi tiruan yang longgar sering kali merupakan faktor etiologi dari tumor
ganas rongga mulut. Karena frekuensi terjadinya faktor iritasi ini sangat tinggi,
sungguh sulit untuk membuktikan hubungan sebab-akibat antara faktor iritasi dan
terjadinya kanker mulut.
Iritasi yang berulang karena tepi yang tajam dari gigi yang patah, tambalan atau
gigi palsu dapat merupakan resiko tambahan untuk terjadinya tumor ganas di rongga
mulut.14
http://blogmyworldduniaku.blogspot.co.id/2012/09/laptut-tumor-ganas-rongga-
mulut_1970.html (my world-nyo laptut tumor ganas RM)
http://s-prtw-gigi.blogspot.co.id/2008/08/tumor-rongga-mulut.html (dentist_gaul Tumor
RM)