Anda di halaman 1dari 10

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

“ASPEK KEPERILAKUAN PADA PENGAKUMULASIAN DAN


PENGENDALIAN BIAYA”

Nama Kelompok:

Ni Putu Maetri Megantari (1506305013) / 05


Lyana Oka Kusumayanthi (1506305019) / 07
Ida Ayu Laksmi Dewi (1506305037) / 09
Komang Sukma Saraswati (1306305041) / 10

REGULER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
“ASPEK KEPERILAKUAN PADA PENGAKUMULASIAN DAN
PENGENDALIAN BIAYA”

A. Sistem Biaya Tradisonal versus Biaya Standar


Tujuan dan Penggunaan Sistem Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya mengidentifikasikan, menguanafikasi, mengakumulasikan,
dan melaporkan berbagai elemen biaya yang berkaitan dengan, produksi barang atau
penyerahan jasa. Akuntansi biaya memiliki dua tujuan, melalui akumulasi biaya untuk
penilaian persediaan dan penentuan laba.
1. Sistem Biaya Tradisional (Historis)
Istilah tradisional (historis) mengacu pada sistem biaya yang membatasi input
pada biaya historis dan mengusahakan penyerapan penuh atas biaya tetap dan variabel
oleh unit produk atau jasa. Sistem biaya tradisional atau historis terutama fokus pada
identifikasi dan akumulasi biaya per unit produk atau jasa. Sistem tersebut digunakan
untuk menghitung nilai persediaan dan data biaya harga pokok penjualan atau jasa
yang diberikan untuk pelaporan keuangan eksternal namun, sistem biaya tradisional
tidaklah sesuai untuk penegendalaian manajemen yang efektif karena akumulasi biaya
historis semata-mata tanpa perbandingan dengan sasaran biaya yang telah ditentukan
sebelumnya tidak sesuai dengan konsep pengendalian kontemporer. Kinerja aktual
oleh pusat pertanggungjawaban harus secara periodic dibandingkan dengan tingkat
kinerja yang diinginkan. Penyimpangan harus dicatat dan diinformasikan kembali
kepada individu yang berpkepentingan sehingga mendorong tindakan korektif yang
segera. Untuk menghindari respons yang disfungsional disarankan agar manajer
segmen hanya bertanggung jawab atas biaya yang dapat dipengaruhi oleh tindakan
mereka. Oleh karena itu, semakin jelas bahwa informasi yang diberikan oleh sistem
biaya tradisional tidak sesuai dengan tujuan pengendalian modern. Sistem tersebut
juga memberikan sedikit informasi yang bermanfaat untuk perencanaan dan
pengambilan keputusan manajerial. Kelemahannya yang terbesar adalah sistem
tersebut berbaha karena mendorong respons yang tidak diinginkan dan deskrtuktif
ketika digunakan dalam mengevaluasi kinerja dari individu yang ditugaskan
melaksanakan berbagai aktivitas dalam batasan anggaran tersebut.

1
2. Sistem Biaya Standar
a. Ruang Lingkup
Dengan mengakui kelemahan dari sistem biaya tradisional, banyak
organisasi mengadopsi" sistem biaya standar". Sistem biaya standar
mencerminkan pencampuran yang potensial efektif dari akuntansi dengan konsep
pengendalian dari teori organisasi modern. Biaya Standar adalah sasaran biaya per
unit produk atau jasa yang ditentukan sebelumnya secara ilmiah yang
dikembangkan melalui studi teknik dan akuntansi. Biaya standar mencerminkan
estimasi terinci dan canggih mengenai besarnya biaya untuk melaksanakan suatu
tugas tertentu atau menghasilkan suatu produk tertentu. Aspek pengendalian yang
melekat dari perhitungan biaya Standar adalah kapitalisnya untuk
membandingkan, sebagai bagian dari arus data reguler kinerja aktual dengan
standar yang ditentukan sebelumnya dan untuk menyoroti varian atau
menguntungkan atau tidak menguntungkan antara kedua tingkat biaya tersebut.
Selainitu, Sistem biaya standar bahkan mampu menentukan penyebab dari
penyimpangan tersebut untuk menghasilkan manfaat pengendalian yang optimal
dan mempertahankan relevansi biaya standar harus diperbarui secara
berkelanjutan.
b. Sistem Biaya Standar dan Anggaran Fleksibel
Terdapat hubungan yang penting antara penggaran fleksibel dan sistem
biaya standar. Taksiran sistem biaya standar mengiventarisasi sepanjang periode
pada jumlah anggaran fleksibel. Anggaran fleksibel adalah anggaran biaya per
unit dikalikan dengan jumlah unit aktual. Oleh karena itu, sistem biaya standar
menjawab pertanyaan seperti apa laporan laba rugi dan neraca akan terlihat jika
biaya-biaya dan input per unit harus direncanakan dengan tepat pada tingkat
output aktul yang dicapai
c. Kompatibilitas dengan Konsep Teori Organisasi Modern
Dalam mengembangkan kerangka kerja untuk sistem biaya standar yang
sesuai dengan konsep teori organisasi modern, berikut langkah-langkah
pengendalian sebagaimana dijelaska oleh Edwin Caplain.
1) Penetapan tujuan organisasi
2) Penentuan pusat pertanggungjawaban yang sesuai dan penugasan fungsi
kepada setiap organisasi.

2
3) Pengisian staf dari pusat pertanggungjawaban dengan individu-individu
yang memiliki kemampuan, motipasi, dan pengetahuan yang mencukupi
untuk melalukan fungsinya.
4) Penciptaan jalur komunikasi antara pusat pertanggungjawaban dan unit
organisasi lainnya, serta dimana perlu, lingkungan eksternal.
5) Pengembangan prosedur yang memastikan bahwa informasi yang
mencukupi, relevan, dan tepat waktu sepanjang jalur komunikasi.
6) Desain dan implementasi mekanisme pengendalian yang mengukur dan
mengevaluasi kinerja dalam hal tujuan organisasin dan memberikan
umpan balik mengenai penyesuaian yang diperlukan dalam tujuan/atau
kinerja.

B. Perhitungan Biaya Langsung atau Variabel


1. Filosofi yang Mendasari
Perhitungan biaya langsung atau biaya variabel membedakan antara biaya
produksi (bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, dan bagian variabel dari
overhead) dengan biaya untuk siap menghasilkan (overhead tetap atau biaya periode)
hanya biaya yang ditimbulkan oleh produksi atau penyerahan jasa sekarang saja (biaya
variabel) yang diklasifikasikan sebagai biaya per unit produk atau jasa dan
dikapitalisasi sampai barang-barang tersebut terjual atau jasanya diserahkan.
Pendukung perhitungan biaya langsung mempertimbangkan pembagian overhead
berdasar struktur biayanya sebagai kebutuhan dasar untuk pengendalian biaya yang
efektif serta pengambilan keputusan yang berarti.
2. Dorongan Keperilakuan
Konsep, prinsip dan praktik akuntansi memengaruhi pengukuran kinerja
manajerial; konsekuensinya, dan keputusan manajemen. Hawkins menyatakan bahwa
konsep, prinsip, dan praktik akuntansi adalah bagus secara keperilakuan maupun
teknis jika konsep, prinsip atau praktik tersebut menghambat manajer dari
pengambilan berbagai tindakan operasi yang tidak menguntungkan guna
membenarkan adopsi atas suatu alternative akuntansi, dan menghambat adopsi atas
praktik akuntansi oleh perusahaan yang hanya menciptakan ilusi kerja.

3
C. Pengendalian Biaya
Membagi biaya ke dalam komponen variabel dan tetap memberikan dasar yang
lebih baik untuk pengendalian biaya. Hal tersebut memungkinkan penyusunan laporan
laba rugi menggunakan margin kontribusi yang menekankan pada pola perilaku biaya
dan memberikan perincian kepada manajemen mengenai biaya teknik, biaya yang
dikomitmenkan, dan biaya diskresioner. Biaya teknik yaitu meliputi biaya bahan baku
langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan lain-lain. Menurut Charles Horngren,
biaya-biaya tersebut juga dapat dikendalikan secara langsung pada tingkat organisasi
terendah melalui penggunaan anggaran flesibel dan standar; karena waktu untuk
pemberian umpan balik yang singkat dan secara fisik dapat diamati oleh manajer yang
bertanggungjawab atas aktivitas yang menimbulkannya. Biaya tetap yang
dikomitmenkan atau biaya kapasitas adalah “seluruh buaya organisasi dan pabrik yang
terus terjadi (tanpa memedulikan tingkat aktivitas) yang tidak dapat dikurangi tanpa
merugikan kompetensi organisasi untuk memenuhi tujuan jangka panjang serta biaya
diskresioner (juga disebut biaya terprogram) adalah biaya yang muncul dari keputusan
periodik (biasanya tahunan) mengenai jumlah maksimum yang akan dikeluarkan dan
biaya yang tidak memiliki hubungan optimum yang dapat ditunjukkan antara input
(yang diukur oleh biaya) dan output (yang diukur oleh pendapatan atau tujuan lainnya).

D. Pengambilan Keputusan
Di samping menekankan perbedaan antara biaya tetap dan biaya variabel serta
memberikan informasi biaya diferensial dalam situasi pengambilan keputusan tertentu,
perhitungan biaya langsung atau biaya variabel memberikan informasi penting lainnya
kepada manajer. Beberapa situasi pengambilan keputusan yang umum akan dijelaskan
berikut.
1. Keputusan bauran produk, ketika dihadapkan dengan keputusan mengenai
bauran produk, manajer penjualan yang mengetahui margin kontribusi dari
produk-produknya akan jauh lebih mampu untuk memutuskan produk yang akan
didorong dan produk yang harus dikurangi atau di tolerir hanya karena
penjualannya menguntungkan produk lain.
2. Penentuan harga produk baru, produk baru umumnya diterima di pasar hanya
setelah diuji coba secara ekstensif oleh perusahaan yang memiliki reputasi dalam
industri tersebut, untuk mendorong perusahaan-perusahaan guna menggunakan

4
produk tesebut secara percobaan, manajemen dapat menjualnya pada biaya
variabel.
3. Penetrasi pasar, manajer dapat menggunakan biaya variabel sebagai dasar
untuk penentuan harga ketika mereka bermaksud memasuki pasar baru
(misalnya pasar luar negeri) dengan produk yang sudah ada atau ketika mereka
terpaksa menghadapi persaingan yang semakin meningkat selama periode
dimana permintaan menurun.
4. Penghapusan produk, margin kontribusi akan membantu manajemen dalam
menentukan apakah akan menghentikan suatu produk atau hanya berhenti
menjualnya di pasar tertentu.
5. Pesanan khusus, perusahaan juga dapat dihadapkan pada dua jenis situasi
pesanan khusus. Situasi tersebuut dapat melibatkan akomodasi untuk pelanggan
istimewa atau persyaratan khusus untuk ukuran, metode pengiriman, atau
pengemasan.
6. Kampanye iklan dan promosi, untuk meningkatkan volume penjualan saat ini,
perusahaan dapat meluncurkan kampanye iklan dan promosi khusus.
7. Keputusan mengurangi biaya, jika harga jual suatu perusahaan oleh pesaing
mka manajemen akan mengetahui besarnya biaya variabel yang diperkenankan
pada volume operasi saat ini jika tujuan laba tertentu harus dicapai.

E. Aspek Keperilakuan dari Langkah Akuntansi Biaya yang Dipilih


Bagian ini akan diuji apakah langkah-langkah tersebut akan memicu respons
manusia yang disfungsional, jika ya bagaimana langkah–langkah tersebut dapat
dimodifikasi agar efektif dalam mendorong perilaku karyawan.
1. Penetapan Standar
Standar berfungsi untuk memotivasi pengendalian biaya dan sebagai alat
evalusi kinerja. Standar akan menghasilkan perilaku pekerja yang efisien jika standar
tersebut diterima sebagai tingkat aspirasi oleh individu untuk siapa standar
pengendalian dan evaluasi kinerja tersebut didesain. Ada 4 prasyarat utama bagi
system pengendalian yang unggul secra keperilakuan (Raymond miles & Roger
Vern):
a. Standar ditetapkan sedemikian rupa sehingga orang yang menerimanya
sebagai suatu yang realistis bukan arbitrer.

5
b. Orang-orang harus merasa bahwa mereka memiliki pengaruh dalam
menetapkan tujuan mereka sendiri.
c. Orang herus yakin bahwa mereka tidak akan dihukum secara tidak adil
untuk variasi normal yang terjadi secara kebetulan dalam kinerja.
d. Umpan balik atas kinerja haruslah bertujuan untuk koreksi atau pun evaluasi.
2. Partisipasi dalam penetapan standard
Individu akan menerima tujuan kinerja yang realistis dan dapat dicapai hanya
jika mereka dilibatkan dalam proses penetapan standar, karena jika mereka percaya
partisipasi mereka memiliki dampak terhadap standar, maka mereka akan merasa
mampu unatuk mempengaruhi lingkungan kerja mereka.Michael Foran&Don
DeCoster mengatakan “Jika seorang pekerja berpartisipasi dalam menetapkan standar
kinerjanya sendiri, maka ia akan membuat komitmen yang tegas terhadap standar
tersebut ,dan oleh karena itu akan bekerja keras untuk mencapainya”. Teori
disonansi,wawasan mengenai kenapa partisipasi lebih efektif dalam penetapan
standar kinerja. Teori desonansi terpusat pada 3 konsep kunci kemauan, disonansi,
komitmen. Dalam organisasi demokrasi dan otokrasi memiliki tingkat partisipasi
yang berbeda. Dalam konteks penerapan standar, teori ini mengimplikasikan bahwa
jika manajemen menginginkan komitmen yang pasti terhadap standar, maka individu
yang dikendalikan harus memiliki pilihan (kemauan). Ketika memilih sekelompok
standar kinerja tertentu, mereka akan mengalami keraguan (disonansi) mereka hanya
akan dapat dikurangi atau dihilangkan ketika mereka menerima umpan balik
mengenai hasil kinerja. Jika hasilnya baik maka keraguan (disonansi) akan hilang dan
komitmen akan meningkat.
3. Standar yang Ketat vs Standar yang Longgar
Untuk berfungsi sebagai alat motivasi, standar yang akan digunakan haruslah
tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar. Standar yang ketat akan susah untuk
dicapai dan menyebabkan frustasi bagi karyawan, kinerja akan turun dan mereka
akan berhenti untuk melakukan perbaikan. Standar yang longgar tidak memberikan
motivasi apa pun karena standar tersebut terlalu mudah dicapai. Keketatan standar
perlu diperbarui seiring perkembagan jaman. Tingkat keketatan yang diharapkan
harus dievaluasi dalam setiap situasi berdasarkan jenis proses produksi, produk atau
jasa yang akan diserahkan, dan kepribadian dari orang-orang yang terlibat
didalamnya.

6
4. Penyerapan Overhead
Bidang lain yang penuh dengan dorongan difungsional adalah penyerapan
overhead. BOP baik bersifat tetap maupun variable dibebankan ke produk dengan
tarif estimasi yang didasarkan pada kapasitas yang telah ditentukan. Ketika dasar
yang digunakan untuk penyerapan berbeda dari sebelumnya, maka varians dapat
dibebankan lebih besar atau lebih rendah.Kapitalisasi biaya tetap dalam persediaan
mempengaruhi interpretasi laporan keuangan dari bisnis yang bersifat musiman.Pada
peeusahan dengan fluktuasi musiman memproduksi lebih banyak pada akhir sengang
untuk mnimbun laba-rugi kuartalan kemungkinan akan menunjukan laba yang lebih
tinggi pada kuartal dengan penjualan renda. Hal tersebut dapat menjadikan ketidak
percayaan terhadap system akuntansi dan dapat di hilangkan motivasi untuk
memperbaiki kinerja.
5. Alokasi Biaya tidak Langsung
Salah satu keputusan paling kontroversial yang dihadapi oleh setiap organisasi
adalah apakah akan melakukan biaya tidak langsung pada produk dan atau pusat
pertanggung jawaban dan dasar alokasi apa yang digunakan? Dalam riset yang
didukung oleh National Association of Accountants (NAA), James Fremgen dan Shu S.
Liao menemukan bahwa perusahaan responden membedakan dengan tegas dua jenis
biaya tidak langsung, yaitu :
a. Biaya jasa korporat adalah biaya jasa yang dilakukan secara sentral untuk
manfaat korporat dan berbagai pusat pertanggungjawaban.
b. Biaya administratif korporat adalah biaya yang digunakan untuk
mengoperasikan kantor korporat.
6. Analisis Varians
Unsur utama dari pengendalian biaya adalah perbadingan secara periodik
antara biaya aktual dengan sasaran biaya yang telah ditentukan sebelumnya, baik
dalam bentuk anggaran maupun standar.
a. Keputusan Investigasi Varians
Keputusan manajemen semata-mata bergantung pada penilaiannya atas
signifikansi diskrepansi yang diamati. Varians ini memiliki signifikansi
pengendalian hanya jika varians tersebut berasal dari penyebab yang dapat
ditentukan atau, dengan kata lain, tidak bersifat acak dan rentan terhadap tindakan
perbaikan. Tetapi, kerumitan permasalahan yang sebenarnya terletak pada fakta

7
bahwa tanpa investigasi, manajemen tidak memiliki dasar untuk menentukan
apakah varians tersebut ditimbulkan dari penyalahgunaan yang dapat
diidentifikasikan dan dikendalikan, atau apakah varians tersebut bersifat acak atau
tidak dapat dikendalikan.
b. Aspek Keperilakuan
Komponen khusus dari kebijakan pengendalian yang dapat mempengaruhi
respon manusia adalah faktor-faktor seperti :
1) Batas pengendalian : Kisaran hasil kinerja yang dianggap dapat diterima oleh
manajer adalah batasan pengendalian. Batasan ini menentukan seberapa
mudah atau sulit bagi seseorang yang dikendalikan untuk berkinerja dalam
kisaran yang dapat diterima dan berapa banyak ruang yang mereka miliki
untuk gagal sekali waktu.
2) Hasil umpan balik: Umpan balik yang positif akan memberitahu mereka
bahwa mereka ada pada jalur yang tepat dan akan memotivasi mereka untuk
mengulangi usaha yang sama.
3) Keketatan pemaksaan: Pemaksaan yang ketat atas kebijakan pengendalian
akan menimbulkan tekanan dalam diri individu yang dikendalikan. Sementara
tekanan dapat menyegarkan individu-individu tertentu, tekanan tersebut dapat
mengintimidasi yang lain menurunkan kinerja mereka yang sudah buruk lebih
jauh lagi.
4) Struktur penghargaan: Orang atau kelompok akan memodifikasi perilaku
mereka yang tidak diinginkan dan mengulangi perilaku yang diinginkan
ketika mereka memandang bahwa perubahan atau pengulangan perilaku
tersebut disertai dengan penghargaan intrinsik maupun ekstrinsik.

8
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan. 2014. Akuntansi Keperilakuan. Jakarta : Salemba Empat.