Anda di halaman 1dari 69

TEORI

ARSITEKTUR
TEORI ARSITEKTUR

TEORI ARSITEKTUR

TEORI ARSITEKTUR

TEORI ARSITEKTUR

TEORI ARSITEKTUR

PRO MEMORI

Buku ajar ini pertama kali diedarkan di lingkungan Universitas Atma


Jaya Yogyakarta berkat jasa baik dari Ir. FX. Eddy Arinto, MArch
yang telah dengan suka cita memberikan copy file seluruh naskah
hasil penataran yang diikutinya.
Pencetakan naskah dengan printer laser dilakukan pada hari Jumat,
tanggal 4 Februari 2000 oleh Ir. Y. Djarot Purbadi, MT, yang pada
semester genap 1999/2000 menjadi salah satu dosen pengajar mata
kuliah Teori Arsitektur.

Yogyakarta, 04 Februari 2000


PARWA 1 : TEORI DAN TEORI ARSITEKTUR ................................................................................................. 1
A. TEORI & ILMU PENGETAHUAN ...................................................................................................... 1
B. TEORI ARSITEKTUR....................................................................................................................... 4
C. KEDUDUKAN ARSITEKTUR DALAM HUBUNGANNYA DENGAN ILMU PENGETAHUAN ..................... 5
D. PENERAPAN TEORI DALAM ARSITEKTUR ...................................................................................... 7
E. PENDEKATAN PADA PEMAHAMAN TEORI ARSITEKTUR TIMUR DAN NUSANTARA ........................ 9
PARWA 2 : PARADIGMA DALAM BERTEORI ARSITEKTUR ......................................................................... 12
A. PARADIGMA MITOLOGI DAN KOSMOLOGI ................................................................................... 12
B. KONSEP VASTU-PURUSHA-MANDALA ........................................................................................ 13
C. KONSEP TRIBUWANA .................................................................................................................. 14
D. TEORI-TEORI/TEMA YANG BERKEMBANG ................................................................................... 14
E. PARADIGMA ESTETIKA................................................................................................................ 15
F. YUNANI ...................................................................................................................................... 15
G. PARADIGMA SOSIAL (HUMAN SCIENCE) ..................................................................................... 16
H. PARADIGMA RASIONALIS ............................................................................................................ 18
I. PARADIGMA KULTUR .................................................................................................................. 19
J. PARADIGMA-PARADIGMA POST-MODERNISM .............................................................................. 22
K. PARADIGMA ENVIRONMENTALISM .............................................................................................. 25
PARWA 3 : FUNGSI, RUANG, BENTUK DAN EKSPRESI DALAM ARSITEKTUR .......................................... 27
A. FUNGSI........................................................................................................................................ 27
B. RUANG........................................................................................................................................ 32
C. BENTUK ...................................................................................................................................... 35
D. KETERKAITAN FUNGSI, RUANG, BENTUK DAN EKSPRESI ............................................................ 37
PARWA 4 : TEORI-TEORI ARSITEKTUR DUNIA BARAT ............................................................................... 39
A. TEORI ARSITEKTUR VITRUVIUS ................................................................................................ 39
B. TEORI ARSITEKTUR KLASIK ...................................................................................................... 41
C. TEORI ARSITEKTUR RENAISSANCE ............................................................................................ 42
D. TEORI ARSITEKTUR AKIBAT REVOLUSI INDUSTRI ..................................................................... 46
TEORI ARSITEKTUR MODERN ( FUNCTIONALISM) ................................................................................ 48
PARWA 5 : TEORI-TEORI ARSITEKTUR DUNIA TIMUR ................................................................................ 52
A. NILAI-NILAI, SIKAP DAN PANDANGAN BUDAYA TIMUR .............................................................. 52
B. ARSITEKTUR NUSANTARA .......................................................................................................... 55
C. ARSITEKTUR INDIA ..................................................................................................................... 59
D. ARSITEKTUR JEPANG .................................................................................................................. 60

Buku Ajar Teori Arsitektur 67


A. TEORI & ILMU PENGETAHUAN

1. Definisi Teori dalam Ilmu Pengetahuan


‘Teori’ secara umum memiliki banyak arti. Beberapa pengertian dan fungsi teori antara lain adalah
merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah
disiplin keilmuan (misal, dalam ilmu Fisika: Teori Relativitas Einstein dan dalam Ilmu Ekonomi: Teori
Ekonomi Makro dan Mikro)
Seperangkat proposisi yang terintegrasi secara sintaksis (yaitu: mengikuti aturan tertentu yang dapat
dihubungkan secara logis satu dengan lainnya dengan data dasar yang dapat diamati) dan berfungsi
sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang di amati.
Suatu sistem tentang ide/gagasan atau pernyataan (berupa skema mental) yang diyakini dapat
menerangkan dan menjelaskan suatu fenomena/gejala atau sekelompok gejala, baik yang telah di uji
maupun tanpa diuji (idealnya menggunakan pengujian bermetoda ilmiah).
Untuk sebagian ahli menyatakan bahwa pada hakekatnya teori-teori bukanlah pernyataan-pernyataan
yang absolut benar melainkan kebenaran yang bermanfaat dalam kurun waktu tertentu. Teori-teori yang
berupa spekulasi-spekulasi yang sampai saat ini tidak ditolak kebenarannya dan memiliki manfaat bagi
kehidupan kita, kita anggap sebagai pengetahuan yang sahih, kalaupun nantinya terbukti tidak benar,
bagi kita tidak terlalu penting selama ia mempunyai kegunaan. Oleh karena itu ilmu pengetahuan
sebetulnya tidak dilandasi oleh teori melainkan paradigma (baca kembali: Apakah itu Ilmu ?, Chalmer,
1977)

2. Pembenaran Teori dalam Mendukung Ilmu Pengetahuan


Agar dapat diterima di kalangan ilmuwan secara luas, suatu teori harus ditunjang dengan pembenaran
yang jelas dan diuraikan secara rinci. Dengan kata lain teori merupakan pernyataan yang terbukti
kebenarannya. Pembenaran pernyataan tersebut dapat dihasilkan melalui proses yang berbeda, yaitu
induksi – deduksi dan falsifikasi.
Induksi-Deduksi
Pembenaran melalui Induksi-deduksi menyatakan teori dihasilkan dari suatu proses yang diawali dari
suatu permasalahan. Gejala yang mewakili permasalahan itu mula-mula diamati, hasilnya kemudian
dinyatakan sebagai sebuah kesimpulan umum (induksi). Dari situ dilakukan penalaran untuk
menghasilkan sebuah kesimpulan akhir. Penalaran tersebut dinamakan deduksi. Kesimpulan akhir itulah
yang kemudian disebut dengan teori. Dari berbagai teori yang dihasilkan melalui proses ini terbentuklah
ilmu pengetahuan. Semakin banyak teori yang dihasilkan, semakin maju ilmu pengetahuannya. Begitulah
pandangan yang dianut sebagian besar ilmuwan sampai sekarang (Pandangan ini disebut dengan naïve
inductivism).
Induksi-deduksi memiliki kelemahan, karena untuk melakukan pengamatan diperlukan teori. Teori
tersebut tentu saja tidak dihasilkan dari sebuah pengamatan sebab akan mengahasilkan sebuah
lingkaran persoalan yang tidak ada awal dan akhirnya.

Buku Ajar Teori Arsitektur 1


3. Falsifikasi
Belajar dari kelemahan induksi-deduksi. Pengamatan memerlukan ‘teori awal’ yang diperoleh melalui titik
tolak lain, yaitu prakiraan. Tentu saja sifatnya spekulatif. Meskipun demikian spekulasi ini tidak
sembarangan karena dilandaskan atas logika. Beberapa di antara teori tersebut di kemudian hari terbukti
melalui pengamatan, walaupun sebagian besar lainnya tidak. Namun, kita tidak perlu menunggu sampai
sebuah teori dibuktikan dengan pengamatan sebab ketika teori itu dikemukakan, cara pengamatannya
belum ditemukan. Dalam hal ini teori tersebut dapat dibuktikan kebenarannya dengan penalaran terbalik.
Pembuktian ini disebut Falsifikasi. Berdasarkan itu hanya teori-teori yang tidak dapat difalsifikasi yang
dapat dijadikan landasan teoritis untuk membentuk sebuah pengetahuan. Akan tetapi, teori tersebut pun
dapat dinyatakan keliru apabila ternyata di kemudian hari tidak cocok dengan pengamatan.
Dari proses di atas terkandung pengertian bahwa pengamatan tidak lagi menjadi faktor pendukung
sebuah teori melainkan sebaliknya, yaitu untuk mengenyahkan teori tadi. Dari sini terlihat bahwa teori itu
tidak mengandung kebenaran abadi melainkan sementara saja. Sebab itu ilmu pengetahuanpun tidak
terus menerus berkembang dan bergerak maju melainkan adakalanya mandek dan mundur, yaitu ketika
teori-teori yang melandasi akhirnya dapat difalsifikasikan atau dibuktikan tidak benar setelah dilakukan
pengamatan. Di lain pihak, pandangan ini justru mengindikasikan bahwa besarnya kemungkinan sebuah
pernyataan untuk menjadi teori tidak ditentukan oleh potensi kebenarannya melainkan kesalahannya.
Dengan perkataan lain, semakin berani teori tersebut berspekulasi, semakin besar kemungkinannya
untuk tidak dapat difalsifikasikan.
4. Paradigma
Teori di dalam ilmu pengetahuan masih mutlak keberadaannya. Padahal, keberadaan sebuah teori dalam
status apapun ditentukan oleh pemakainya, yaitu masyarakat ilmuwan (Community of interest). Mereka
menyepakati sejumlah teori sebagai landasan ilmu pengetahuan, juga menyepakati pengenyahannya.
Teori-teori yang disepakati itu tidak selalu saling berkaitan satu sama lain melainkan bisa juga tidak.
Karena itu yang melandasi ilmu pengetahuan sebetulnya bukan teori melainkan paradigma.
Di dalam sebuah paradigma terdapat (a) teori yang belum terbukti, (b) teori yang sudah terbukti tidak
dapat difalsifikasikan namun belum terbukti dengan pengamatan (c) teori yang sudah terbukti tidak dapat
difalsifikasikan dan terbukti dengan pengamatan.
Konsep paradigma ini dengan demikian memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan pun pada dasarnya
merupakan sebuah spekulasi. Ilmu pengetahuan tidak dapat mengungkapkan kebenaran sejati yang
abadi, sehingga dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dimungkinkan terwujudnya suatu siklus ilmu
pengetahuan; dimulai dari Pra pengetahuan; periode anomali; periode netral; periode anomali; perioede
normal; dst.

5. Teori dalam Praktek Keilmuan


Dalam Prakteknya di samping pandangan-pandangan di atas berkaitan dengan pengembangan ilmu
pengetahuan, berkembang 2 aliran. Aliran pertama mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu identik
dengan praktek para ilmuwan, sedangkan aliran ke dua mengatakan bahwa di dalam ilmu pengetahuan
berlaku prinsip ‘everything goes’.

6. Ilmu Pengetahuan sebagai Praktek Para Ilmuwan


Para ilmuwan adalah mereka yang melakukan kegiatannya dalam bentuk ‘metodologi program penelitian
ilmiah’. Di sini ilmuwan tidak bertitik tolak dari sebuah teori ketika melakukan kegiatannya melainkan
keyakinannya (Hardcore). Di dalam keyakinan itu terdapat sejumlah teori, hipotesis dan dugaan, namun
yang diterapkan oleh ilmuwan tersebut secara spekulatif dalam kegiatannya. Karena itu kegiatan seorang
ilmuwan sangat rawan terhadap falsifikasi. Tiap ilmuwan menyadari hal itu sehingga mereka melakukan
tindakan berjaga-jaga (negatif heuristic).
Pertama, mereka memasang ‘lingkaran pengaman’ agar kegiatan tidak terhambat. Lingkaran ini terdiri
dari sejumlah persyaratan atau kondisi dasar yang paling sulit dipenuhi siapapun yang ingin melakukan

Buku Ajar Teori Arsitektur 2


falsifikasi atas kegiatan ilmuwan tadi. Kedua, mereka menyempurnakan substansi keyakinannya dengan
teori dan hasil pengamatan mutakhir.
Selain itu, ilmuwan juga mengendalikan kegiatannya agar tidak mandek (Positif heuristic). Caranya,
mereka selalu berinteraksi dengan rekan sejawat, baik dengan korespondensi, melalui diskusi, seminar,
atau dengan perantaraan media cetak, khususnya jurnal kegiatan ilmiah. Tujuannya adalah untuk
mengetahui apakah ada kegiatan sejenis dari rekan sejawat yang lebih progressif dan berpotensi
menghasilkan temuan besar. Bila ada, ilmuwan tadi akan segera mengoreksi program penelitian
ilmiahnya atau menghentikannya sama sekali. Setelah itu dia akan memutuskan untuk memulai lagi
dengan program baru, atau justru memulai lagi dengan memilih jenis kegiatan ilmiah baru.

7. Ilmu Pengetahuan adalah ‘Everything Goes’


Di dalam aliran ini tidak ada lagi deskripsi-deskripsi yang biasanya ditemukan dalam ilmu pengetahuan,
seperti: hipotesis, teorema, teori, analisis, induksi, deduksi dan seterusnya. Segala macam dapat dipakai
untuk menghasilkan ilmu pengetahuan sebab pada dasarnya tidak ada bedanya antara pengetahuan dan
ilmu pengetahuan. Pandangan ini memang sangat ekstrim namun mendasar sehingga hanya menjadi
bahan perdebatan di kalangan filsuf ilmu pengetahuan.

8. Rumpun Ilmu Pengetahuan


Ilmu pengetahuan dalam sudut pandang rumpunnya bukan hanya satu melainkan dapat dibedakan
menjadi tiga. Ilmu pengetahuan sebagaimana diuraikan di atas dapat dimasukkan sebagai ilmu
pengetahuan obyektif. Selain itu masih ada ilmu pengetahuan lain yang disebut ‘understanding’. Pada
ilmu pengetahuan ini alat utamanya bukan penalaran melainkan penafsiran. Cara kerjanyapun berbeda,
bukan ‘heuristic’, melainkan ‘hermeneutic’.
Pada dasarnya Ilmu Pengetahuan dapat dibedakan menjadi tiga rumpun, yaitu:
Ilmu pengetahuan ‘obyektif’. Ilmu Pengetahuan dalam rumpun ini memiliki tiga sifat, yaitu: rasional,
empiris (dapat dibuktikan) dan memiliki metodologi yang jelas untuk pembuktiannya. Dalam Kelompok ini
Ilmu Pengetahuan memiliki tingkat kebenaran yang sangat obyektif sekali atau mutlak, yang masuk
dalam rumpun ini misalnya Ilmu Pengetahuan Alam. Matematika dsb.
Understanding (Penafsiran). Ilmu pengetahuan didasarkan pada pemahaman dengan media lewat
penafsiran, jadi alat utamanya bukan penalaran. Cara kerjanya tidak hereustic, tetapi hermeneutic.
Suriasumantri (1988) menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan yang didapatkan tanpa proses penalaran
(rasional dan empiris) tertentu dapat dikategorikan sebagai intuisi. Dalam rumpun ini tingkat kebenaran
Ilmu Pengetahuan menjadi subyektif.
Wacana (Diskursus). Titik tolak dari rumpun ini kembali ke definisi teori sebagai sebuah pernyataan yang
terbukti kebenarannya. Dari definisi tersebut yang diutamakan adalah aspek pernyataan. Pandangan ini
menyatakan bahwa tiap pernyataan pasti selalu didasarkan pada beberapa hal berikut ini, yaitu: obyek
tertentu, diucapkan pada situasi tertentu, dikemukan melalui media tertentu; pada masa tertentu. Pada
masa berikutnya, ketiga aspek tadi pasti berubah posisi dan lokasinya. Akan tetapi, posisi dan lokasi
lama sebetulnya tidak hilang begitu saja. Posisi dan lokasi lama tersebut masih ada, namun berada
dalam status lain demikian seterusnya. Diskursus menyiratkan secara menyeluruh pada pola formasi
teori yang tidak sistematis atau teratur tetapi memiliki pola. Untuk menerapkan teori pada pemahaman ini,
harus selalu dilihat situasi dan kondisinya yaitu kapan pertama kali teori tersebut diucapkan, apa
medianya, dan harus diikuti kapan teori tersebut muncul atau dipakai kembali pada kurun waktu dan
masanya. Dengan demikian penerapan suatu teori selalu melihat ‘adanya situasi yang sama’ dengan
saat teori yang dipakai dan akan diterapkan tersebut ‘pernah dipakai’. Pola-pola tersebut bersifat diskursif
dan meperlihatkan berbagai disiplin ilmu yang terkait pada pernyataan/teori yang bersangkutan pada
masanya masing-masing . Kaitan antar disiplin didalam konteks pernyataan dan waktu ini disebut
‘wacana’ (Sukada, 1999) yang membentuk sebuah ilmu pengetahuan tersendiri.

Buku Ajar Teori Arsitektur 3


9. Ilmu Pengetahuan Berdasarkan Penerapannya
Jon Lang (dalam Alan Johnson, 1994) mengajukan dua dasar berpijak bagi beberapa teori. Yang satu
berkaitan dengan dunia ‘sebagaimana adanya’ (disebut sebagai Positiv theory) sedangkan yang lain
berkaitan dengan dunia ‘sebagaimana mestinya’ (disebut sebagai Normative theory). Penjabaran
terhadap pandangan tersebut dapat dilihat sebagai berikut.

Teori Positif (deskriptif). Teori positif berisikan pernyataan yang tegas yang melukiskan, menerangkan
kenyataan dan mampu untuk memperluas prediksi terhadap kenyataan-kenyataan dimasa mendatang.
Tujuan teori positif adalah untuk memberikan kemungkinan masyarakat ilmuwan dalam memperoleh
banyak pernyataan diskriptif dari pernyataan tunggal (Alan Jhonson, 1994). Teori positif merupakan
pernyataan-pernyataan positif, yaitu pernyataan tegas tentang realita (sebagaimana adanya). Teori positif
tidak akan menyiratkan bahwa sebenarnya teori-teori harus sesuai dengan epistimologi (ilmu yang
mempelajari tentang asal-usul) para positivist (penganut teori positif) yang berpedoman bahwa tak ada
kebenaran sebelum ada tahap pembuktian sesuatu dan pembongkaran kepalsuannya.
Teori Normatif. Teori normatif berisikan preskripsi-preskripsi (petunjuk-petunjuk) untuk bertindak melalui
standart-standart (norma-norma), manifesto, prinsip-prinsip perancangan dan filosofi-filosofi (Alan
Johnson, 1994). Karena teori mormatif ini berkaitan dengan dunia’ ‘sebagaimana mestinya’ maka
biasanya cenderung merupakan pernyataan sebagai petunjuk merancang. Dalam hal ini Normatif
diartikan sebagai norma-norma, aturan-aturan, kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.

B. TEORI ARSITEKTUR

1. Pengertian Teori dalam Arsitektur


Jika arsitek lebih menaruh perhatian terhadap pemikiran-pemikiran yang berada di luar jangkauan bidang
tradisionalnya (master builder dan tukang) sebenarnya adalah merupakan fenomena baru, arsitek mulai
berteori. Diawali pada abad pencerahan arsitek yang dahulunya bungkam (karena porsi teori dan ilmu
pengetahuan didominasi filsuf) mulai berubah menjadi sosok yang memperhatikan posisinya dalam
masyarakat sebagai ‘arsitek’ yang terpelajar dan intelektual. Penjelasan-penjelasan dalam pemahaman
baru ini berupa konsep-konsep yang pada dasarnya sudah merupakan dasar bagi tradisi penyusunan
teori yang makin mempengaruhi perkembangan arsitektur dan sebagai awal kesadaran dalam usaha
meletakkan landasan dunia arsitektur kedalam kelompok ilmu pengetahuan. Tradisi ini ditandai oleh
empat alasan penting (Ven, 1991: XV) : (a) dengan ditandainya kemunduran peranan agama, (b)
adanya pengakuan masyarakat terhadap kedudukan arsitek secara independen, (c) adanya perubahan
sikap antara Clien dan arsitek, sehingga tercipta dialog kultural yang kuat (sikap clien tidak memaksakan
kehendak) dan (d) adanya revolusi industri.
Dalam pandangan umum, pada dasarnya tidak ada arsitek yang melontarkan sebuah teori setelah
menyelesaikan karyanya yang pertama. Bila kita perhatikan, bahkan tidak setiap arsitek berani menyusun
teori kecuali beberapa diantaranya. Teori arsitektur dikemukakan oleh para arsitek yang telah
menghasilkan banyak karya. Kebanyakan teori-teori tersebut baru diakui setelah para arsiteknya tiada,
yaitu ketika karya-karya mereka diakui keberhasilannya karena mampu bertahan terhadap waktu.
Pengakuan itupun tidak mutlak, juga tidak abadi. Di lain waktu, pada lain kesempatan, karya-karya
mereka dijadikan titik tolak untuk menolak teori arsitektur yang mereka ajukan.
Suatu teori dalam arsitektur digunakan untuk mencari apa yang sebenarnya harus dicapai dalam
arsitektur dan bagaimana cara yang baik untuk merancang. Teori dalam arsitektur cenderung tidak seteliti
dan secermat dalam ilmu pengetahuan yang lain (obyektif), satu ciri penting dari teori ilmiah yang tidak
terdapat dalam arsitektur ialah pembuktian yang terperinci. Desain arsitektur sebagian besar lebih
merupakan kegiatan merumuskan dari pada kegiatan menguraikan. Arsitektur tidak memilahkan bagian-
bagian, ia mencernakan dan memadukan bermacam ramuan unsur dalam cara-cara baru dan keadaan
baru, sehingga hasil seluruhnya tidak dapat diramalkan. Teori dalam arsitektur adalah hipotesa, harapan
dan dugaan-dugaan tentang apa yang terjadi bila semua unsur yang menjadikan bangunan dikumpulkan
dalam suatu cara, tempat dan waktu tertentu. Dalam teori arsitektur tidak terdapat rumusan atau cara

Buku Ajar Teori Arsitektur 4


untuk meramalkan bagaimana nasib rancangannya. Misalnya: Tidak terdapatnya cara untuk meramalkan
bahwa menara Eiffel mulanya dianggap sebagai suatu cela di kaki langit Paris dan kemudian menjadi
lambang kota yang langgeng dan asasi.
Pada paparan arsitektur yang lebih luas harus diperhatikan lebih lanjut berkaitan dengan kedudukan
teori-teori yang sering dipakai. Pemahaman ini menjelaskan bahwa ada tiga kategori teori dalam lingkup
disiplin arsitektur :
Teori Arsitektur, dalam hal ini dipahami sebagai pengandaian teori-teori yang tersusun sebagai unsur-
unsur yang membentuk arsitektur sebagai Ilmu pengetahuan.
Teori tentang Arsitektur, teori ini berusaha menyusun definisi dan diskripsi medan pengetahuan yang
tercakup dalam sebutan ‘arsitektur’. Sasarannya adalah menjelaskan kedudukan arsitektur dalam
taksonomi ilmu pengetahuan yang berlaku pada periode yang bersangkutan. Contoh yang paling terkenal
adalah teori arsitektur yang dikemukakan oleh vitruvius berikut semua modifikasi dan tiruannya. Teori-
teori yang berkaitan dengan arsitektur dikemukakan untuk memperlihatkan kelemahan, ketergantungan
atau kelebihan arsitektur bidang ilmu pengetahuan lainnya. Teori-teori dari jenis inilah yang paling banyak
dijumpai sehingga memperumit pemahaman mengenai apa yang dimaksud dengan teori arsitektur.
Sebagai contoh, teori bahasa arsitektur, fenomologi arsitektur, pendekatan sistem, dan seterusnya. Tiap
teori jenis ini dapat dilacak ke sumber ilmu pengetahuan masing-masing yang berada di luar arsitektur itu
sendiri.
Teori perencanaan dan perancangan Arsitektur, yaitu teori yang secara aplikatif membantu di dalam
proses dan pelaksanaan perancangan. Misalnya adalah : teori pengolahan bentuk dan ruang. Dalam
pada ini perlu dibedakan antara konsep dan metode. Konsep bisa dipahami sebagai teori yang tanpa
perlu dibuktikan (sebagai landasan perancangan) sedangkan metode merupakan cara untuk
membuktikan dan metode sendiri memerlukan teori sebagai alat ujinya (tidak ada metode tanpa teori.

2. Teori, Sejarah dan Kritik


Sebelum membahas lebih jauh kiranya perlu adanya penjelasan secara singkat mengenai perbedaan
antara teori, sejarah dan kritik dalam arsitektur.
Sejarah Arsitektur. Lebih bersifat diskriptif terhadap karya-karya masa silam.
Kritik Arsitektur. Merupakan kegiatan yang berupa penghakiman dan penafsiran terhadap suatu karya
dari sisi timbangan bakuan yang dikemukakan oleh arsitek atau kritikus yang menyampaikan kritik tadi.
Teori Arsitektur. Dalam hal ini teori arsitektur berhadapan dengan solusi alternatif yang didasarkan pada
observasi atas keadaan masa sekalang disiplin arsitektur, atau menawarkan paradigma pemikiran yang
bertitik tolak pada isue-isue. Sifat teori yang spekulatif, antisipatorik, dan katalistik telah mebedakan
teoritik dari kegiatan sejarah dan kritik. Masih dalam penadingan dengan sejarah dan kritik, teori
melakukan kegiatannya pada keseluruhan abstaksi yang berbeda dari kedua hal tersebut, yakni pada
pengevaluasian provesi arsitektur, intensi (niatan) arsitektur, dan kegayutan kultural dalam arti yang luas.
Teori berkepentingan dengan aspirasi maupun keberhasilan dari arsitektur.

C. KEDUDUKAN ARSITEKTUR DALAM HUBUNGANNYA DENGAN ILMU PENGETAHUAN

1. Arsitektur sebagai Ilmu Pengetahuan


Arsitektur pada dasarnya tersusun dari seperangkat teori dan pernyataan yang membentuk cakupan
tersendiri dan penalaran tersendiri. Dalam pemahaman ini nilai kebenaran dari teori di arsitektur dapat
dikatakan sangat tidak mutlaktidak seperti halnya Ilmu pengetahuan Alam atau Matematika. Meskipun
demikian dalam pandangan Ilmu pengetahuan Arsitektur dapat didekatkan pada Paradigma. Dimana teori
Arsitektur merupakan kumpulan yang kadang-kadang terkait atau didasarkan pada bidang keilmuwan
lain. Arsitektur sendiri tersusun dari kesepakatan-kesepakatan bagi para ilmuwannya terhadap teori-teori
dan pernyataan yang membentuknya.

Buku Ajar Teori Arsitektur 5


2. Arsitektur sebagai Praktek Keilmuwanan
Bila uraian pada penjelasan mengenai Pandangan Pembenaran Teori sebagai penyusun Ilmu
Pengetahuan dan Praktek Keilmuwan diproyeksikan ke Arsitektur, maka yang paling mendekati adalah
pandangan yang mengutamakan peran ilmuwan dan ‘metodologi program penelitian ilmiahnya’.
Pandangan tersebut mengedapankan peran arsitek dan pekerjaan utamanya, yaitu merancang.
Jadi kegiatan perancangan arsitektur identik dengan sebagai ilmuwan dengan proses ‘Metodologi
Program Penelitian’. Hal tersebut dapat dilihat dalam tahapan berikut :
Arsitek pada saat merancang tidak bertitik tolak pada teori tertentu tetapi pada keyakinan masing-masing-
masing-masing dan berspekulatif terlebih dahulu
Kegiatan merancang tidak ada standard bakunya, setiap arsitek memiliki cara masing-masing. Hard Core
arsitek berbeda-beda.
Ada proses falsifikasi di arsitektur biasanya disebut ‘Kritik’
Ada upaya penyempurnaan diri dengan mengacu pada teori, pernyataan yang lain.
Positif Heuristic dilakukan lewat pembadingan karya dengan melihat karya arsitek lain, buku-buku,
majalah atau studi terhadap proyek sejenis.
Penjabaran kerja arsitek ini dapat dijabarkan dalam penjelasan berikut. Para arsitek pada dasarnya tidak
bertitik tolak dari sebuah teori tertentu ketika merancang melainkan dari keyakinannya masing-masing.
Sekalipun sudah meninjau tapak dan situasi disekitarnya serta mempelajari peraturan bangunan dan
berbagai standar type bangunan yang bersangkutan, mereka berspekulasi dulu saat memulai
perancangannya dengan membuat maket-maket studi serta sketsa-sketsa gagasan. Setelah itu mereka
mencari dalih yang tepat untuk memilih salah satu dari berbagai pilihan tadi. Ketika memulai membuat
pra rancangan, gagasan-gagasan awal tadi boleh jadi tidak tepat lagi. Akan tetapi mereka tidak akan
membuangnya begitu saja melainkan menyempurnakannya dengan jalan melihat berbagai kasus serupa
pada berbagai majalah atau jurnal arsitektur. Ketika mencapai tahap pengembangan rancangan, pra-
rancangan tadi boleh jadi tidak tepat lagi. Disinipun gagasan awalnya tidak langsung dibuang melainkan
di amankan dengan jalan memakai berbagai pemecahan teknis yang mendukung. Dari situ mereka
mencari landasan teoritis pemecahan teknis tersebut untuk melengkapi gagasan awal tadi. Itulah
sebabnya tidak ada satu karyapun buatan arsitek yang sama bahkan ketika mereka saling meniru,
karena ‘metodologi program perancangan, mereka saling berbeda. Para arsitek baru bersedia membuang
seluruh programnya ketika dalam proses perancangan tersebut mereka melihat contoh karya sejenis
yang mereka nilai jauh lebih baik daripada yang tengah dikerjakan. Itupun hanya sebagian kecil di antara
para arsitek yang mau melakukannya, yaitu mereka yang benar-benar ingin menghasilkan sebuah maha
karya arsitektur (unik atau orisinil).

3. Arsitektur Sebagai ‘Wacana’


Arsitektur sebagai Ilmu Pengetahuan yang pada dasarnya memperlihatkan keterkaitan berbagai macam
pernyatan-pernyataan / teori-teori, bahkan dari berbagai disiplin ilmu, yang terpaut dalam suatu formasi
pola-pola yang bersifat dikurtif. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa setiap teori arsitektur tidak
pernah berdiri sendiri. Sifat ini dapat dilihat dalam pemahaman bahwa suatu teori arsitektur :
Posisi dan lokasi (ketika teori tersebut diturunkan) selalu terkait dengan posisi dan lokasi sebelumnya.
Bila dilacak maka pertalian teori-teori ini akan membentuk sebuah formasi yang memperlihatkan pola-
pola yang khas.
Pemahaman terhadap pengertian di atas dapat juga diperlihatkan pada kegiatan perancangan seorang
Arsitek. Kegiatan perancangan arsitektur dapat disejajarkan dalam kaitannya dengan proses “Metodologi
Kegiatan Ilmiah”. Pada awalnya sebelum kegiatan perancangan dimulai, arsitek selalu mencari karya-
karya yang sama (sesuai dengan proyeknya) pada situasi yang sama. Proses ini seperti mencari teori
pendukung untuk memperkuat dan melandasi sesuatu permalahan yang akan dipecahkan. Selanjutnya
baru dilakukan proses programing, yang analog dengan Metodologi Kegiatan Ilmiah. Dengan demikian

Buku Ajar Teori Arsitektur 6


proses didalam kegiatan arsitektur tersebut memiliki ciri yang sama dengan proses-proses yang ada
pada Rumpun Ilmu Pengetahuan yang cenderung Diskursif.
Pemahaman tersebut juga menunjukkan bahwa sebenarnya teori arsitektur dapat dikatakan tidak absolut
dan berdiri sendiri. Cara pandang ini menunjukkan juga bahwa sebenarnya tidak ada yang dinamakan
teori arsitektur yang ada adalah ‘Teori Wacana Arsitektur’ (Sukada, 1999), dimana teori lebih merupakan
sekumpulan pernyataan dari berbagai disiplin ilmu yang terkait pada masanya masing-masing-masing-
masing. Kaitan antar disiplin ilmu di dalam konteks pernyataan dan waktu ini yang dipandang sebagai
‘wacana’, yang membentuk suatu ilmu pengetahuan.
Cara pandang ini, teori wacana arsitektur, pada dasarnya bukan jenis teori baru melainkan ‘sudut
pandang baru’ yang selama ini sebenarnya mewakili teori arsitektur, karena semua metodologi dan
metode terkait masih tetap berlaku namun dengan wawasan yang berbeda. Dengan demikian ada cara
pandang baru yang dapat mendorong munculnya teori baru yang berbeda dan pada akhirnya
mempengaruhi karya-karya arsitektur yang berbeda dengan masa sebelumnya (Sukada, 1999).

4. Arsitektur sebagai Ilmu Pengetahuan yang Normatif


Ilmu pengetahuan normatif pada dasarnya mengarah pada penerapan-penerapan secara langsung.
Teori-teori yang ada dalam arsitektur dapat juga dipahami dari sisi Ilmu Pengatuhan Normatif ini karena
sebagian besar teori yang ada diarahkan pada penarapan proses penciptaan bangunan dalam kegiatan
perencanaan dan perancangan. Penjelasan terhadap pendapat ini John Lang (dalam Johnson, 1994)
menyebutkan bahwa teori dalam pendidikan arsitektur lebih difokuskan kepada pengertian bahwa
perancang adalah pencipta dan pada ‘perolehan rumusan-rumusan dalam melakukan tindakan
merancang’. Selanjutnya ditegaskan bahwa teori adalah suatu perangkat aturan-aturan yang memandu
arsitek dalam membuat keputusan tentang persoalan-persoalan yang muncul saat menterjemahkan suatu
informasi ke dalam disain bangunan.
John Lang mencoba menjelaskan keterkaitan orientasi teori Positif dan Normatif dikaitkan pokok-pokok
teori dalam matrik berikut :
Orientation of Theory
Subject Matter of Theory Positive Normative
Prosedural Professed
(Praxis & Proses, deal with creativity, analysis,
Synthesis, evaluation & research)
Practiced
Substantif Professed
(concerned with phenomena, enviromental, qualities,
& funcion, esthetics, behavior & determination of
Practiced
emphasis)
Matrik Teori (dari Lang 1987, dalam Johnson, 1994)

D. PENERAPAN TEORI DALAM ARSITEKTUR


Menurut Attoe (1979) teori tentang apakah sebenarnya arsitektur itu meliputi identifikasi variabel-variabel
penting seperti: ruang, struktur atau proses-proses kemasyarakatan yang dengan pengertian demikian
bangunan-bangunan seharusnya dilihat atau dinilai. Dalam menganjurkan cara-cara khusus untuk
memandang arsitektur, para ahli teori seringkali mendasarkan diri pada analogi-analogi. Umpamanya:
Kita diberi penjelasan tentang arsitektur seharusnya dianggap sebagai sesuatu yang organik, atau bahwa
ia merupakan bahasa, atau mirip mesin. Analogi seperti ini memberikan jalan untuk mengatur tugas-tugas
desain dalam tatanan hirarki, sehingga arsitek dapat mengetahui hal-hal mana yang pertama-tama harus
dipikirkan dan hal-hal mana dapat dibiarkan pada tahap berikutnya dari proses perancangan.
Berikut ini beberapa analogi yang berulang-ulang digunakan oleh para ahli teori untuk menjelaskan
arsitektur (Attoe, 1979):

Buku Ajar Teori Arsitektur 7


Analogi Matematis. Beberapa ahli teori berpendapat bahwa ilmu hitung dan geometri merupakan dasar
penting bagi pengambilan keputusan dalam arsitektur .
Analogi Biologis. Bentuk lain dari analogi ini yanglebih khusus disebut biomorfik, bentuk ini memusatkan
perhatian pada proses-proses pertumbuhan dan kemampuan-kenanpuan pergerakan yang berkaitan
dengan organisme. Contoh dari arsitektur ini adalah arsitektur organisnya F. L. Wright yang memiliki
empat karakteristik: (a) tumbuh dari dalam ke luar, selaras dengan keberadaannya dan tidak dapat
diterapkan begitu saja (b) konstruksi terjadi dalam sifat bahan (misal kaca sebagai kaca, batau sebagai
batu, kayu sebagai kayu), (c) unsur bangunan selalu terpadu dan (d) bangunan sebagai bangunan rakyat
(dibangun oleh masyarakat diatas tanah dengan peralatan mereka sendiri-setia pada waktu, tempat,
lingkungan dan tujuan).
Analogi Romantik. Ciri pokok arsitektur romantik ialah bersifat mengemban. Arsitektur romantik mampu
mendatangkan atau melancarkan tanggapan emosional dalam diri si pengamat.
Analogi Lingustik. Dimaksudkan bahwa bangunan mampu menyampaikan informasi kepada pengamat
dengan salah satu dari ketiga cara (a) model tata bahasa: arsitektur dianggap sebagai kata-kata yang
ditata menurut aturan (tata bahasa dan sintaksis). Memungkinkan masyarakat cepat memahami dan
menafsirkan apa yang disampaikan bangunan (b) model ekpresionis: bangunan dijadikan wahana arsitek
untuk mungungkap sikap sang arsitek (c) model semiotik (semiologi ialah ilmu tentang tanda). Suatu
penafsiran semiotik tentang arsitektur menyatakan bahwa suatu bangunan merupakan suatu tanda
penyampaian informasi mengenai apakah ia sebenarnya dan apa yang dilakukannya.
Analogi Mekanik. Penegasan Le Corbusier bahwa sebuah rumah adalah sebuah mesin untuk dihuni
memberikan contoh penggunaan analogi-analogi mekanik dalam arsitektur. Keterangannya dan
kegunaan kegunaan lain dari analogi menganggap bahwa bangunan bangunan, seperti mesin mesin,
seyogyanya hanya menyatakan apa sesungguhnya mereka dan apa yang mereka lakukan. Seyogyanya
mereka tidak menyembunyikan fakta fakta ini dengan hiasan yang tidak relefan dalam bentuk gaya gaya.
Sebuah bangunan modern harus setia pada dirinya sendiri, tentunya tembus pandang dan bersih dari
kedustaan atau hal hal sepele, untuk menyesuaikan dengan dunia mekanisasi dan pengangkutan cepat
kita sekarang. Keindahan menerima harapan fungsi, demikianlah obyek obyek yang langsung, yang
hanya menyatakan apakah mereka itu dan apa yang mereka lakukan, dengan sendirinya akan menjadi
indah. Lokomotif, mobil, kapal dan pesawat dapat disebut sebagai bukti.
Analogi Pemecahan Masalah. Arsitektur adalah seni yang menuntut lebih banyak penalaran dari pada
ilham, dan lebih banyak pengetahuan faktual dari pada semangat. Walaupun ada kalanya disebut
sebagai pendekatan rasionalis, logis, sistematik, atau parametrik terhadap perancangan arsitektur,
metoda pemecahan masalah beranggapan bahwa kebutuhan kebutunan lingkungan merupakan
masalah yang dapat diselesaikan melalui analisis yang seksama dan prosedur prosedur khusus
dirumuskan untuk itu. Merancang tidak dianggap sebagai proses intuitif yang bercirikan ilham saja, tetapi
sebagai proses langkah demi langkah yang bergantung pada informasi yang padat. Suatu persyaratan
dari metoda perancangan yang sering demikian adalah bahwa masalahnya harus dinyatakan secara baik
dan khusus. Suatu ciri lain dari metoda pemecahan masalah dalam perancangan adalah prosedur yang
seksama dan terpadu. Agar dianggap rasional, prosedurnya harus memuat sedikit sedikitnya tiga
tahapan : analisis, sintesis dan evaluasi.
Analogi Adhocis. Bila pandangan seorang tradisionalis mengenai arsitektur akan menyatakan bahwa
tugas perancang adalah memilih unsur unsur yang layak dan membentuknya untuk memperkirakan suatu
cita cita, pendekatan adhocsis adalah untuk menanggapi kebutuhan kebutuhan langsung dengan
menggunakan bahan bahan yang mudah diperoleh dan tanpa membuat rujukan pada suatu cita cita.
Tidak ada pedoman baku dari luar untuk mengunkur rancangan tersebut; mana saja yang dapat dipakai.
Dalam beberapa hal semua rancangan arsitektur adalah adhocsis, karena kebanyakan palet si arsitek
terbatas pada komponen komponen yang ada. Hanya dari sedemikian banyak jendela jendela standar
orang dapat memilih, dan panel panel aluminium dapat diperoleh dalam bentuk bentuk, ketebalan, ukuran
dan warna tertentu. Tapi rancangan adhocxis sejati akan lebih membatasi diri, dengan menggunakan apa
yang paling mudah atau yang dapat diperoleh dengan murah.

Buku Ajar Teori Arsitektur 8


Analogi Bahasa Pola. Bila kita sadari bahwa manusia secara biologis adalah serupa, dan bahwa dalam
suatu kebudayaan tertentu terdapat kesepakatan kesepakatan untuk perilaku dan untuk bangunan,
logislah untuk menyimpulkan bahwa perancangan arsitektur mungkin semata-mata merupakan tugas
mengidentifikasi pola-pola baku kebutuhan kebutuhan dan jenis jenis baku dari tempat tempat untuk
memuaskan kebutuhan-kebutuhan itu. Pendekatan tipologis atau pola menganggap bahwa hubungan-
hubungan lingkungan perilaku dapat dipandang dalam pengertian satuan-satuan yang digabungkan oleh
perancang untuk membuat sebuah atau suatu rona kotak. Suatu contoh dari pola demikian, yang
diidentifikasi oleh Chistopher Alexander dkk ialah pondok bagi usia-usia tua.
Analogi Dramaturgi. Kegiatan-kegiatan manusia sering dinyatakan sebagai teater (“seluruh dunia adalah
panggung”), dan karena itu lingkungan buatan dapat dianggap sebagai pentas panggung. Manusia
memainkan peranan, dan demikian pula bangunan-bangunan merupakan rona panggung dan
perlengkapan yang menunjang pagelaran panggung. Orang hanya perlu mencantumkan dalam daftar
beberapa istilah dramaturgi yang digunakan oleh para arsitek dan kritikus untuk melihat bagaimana
meresapnya analogi ini: rona perilaku, daerah dibelakang layar (panggung), peranan peranan, petunjuk
peranan, diatas pentas, latar belakang, dan garis-garis pandangan. Analogi Dramaturgi digunakan
dengan dua cara – dari titik pandang para aktor, dan dari titik pandang dramawan. Dalam hal pertama,
arsitek memperhatikan alat-alat perlengkapan dan rona-rona yang diperlkan untuk memainkan suatu
peranan tertentu. Pelaksana perusahaan, umpamanya, harus dikitari dengan macam-macam pakaian
yang meningkatkan penampilan pelaku pria atau wanitanya. Pelaksana juga memerlukan mekanisme
untuk turun dari pentas, “menjadi dirinya sendiri”, karena terus menurus berada diatas pentas
melelahkan. Perabot harus disusun demikian rupa hingga terdapat pilihan antara jauh dan tak terjangkau
(dibelakang meja), atau tampaknya sama kursi berdampingan dan lutut lutut kelihatan). Sebuah pintu
tertutup atau kamar suci khusus merupakan mekanisme untuk keluar dari pentas. Penggunaan analogi
dramaturgi lain ialah dari titik pandang dramawan. Dalam hal ini pandangan sang arsitek terutama tidak
banyak pada kebutuhan tokoh tokoh untuk muncul secara khusus atau dapat dihilangkan dari peranan
seperti pada pengerahan gerak. Para arsitek dapat menyebabkan orang bergerak kesuatu arah atau arah
yang lain dengan memberikan petunjuk-petunjuk visual. Suatu daerah yang diterangi dalam konteks
kegelapan akan menarik orang. Demikian pula, kata orang suatu lorong beratap pada ujung plaza akan
menarik pergerakan. Atau melalui lokasi tempat masuk yang tepat kesuatu auditorium, sang arsitek dapat
menyebabkan para penonton mengisi ruang dengan cara tertentu. Bangku-bangku tamu yang diletakan
berbatasan dengan dan sedikit lebih tinggi dari pada tempat bermain akan menarik orang. Pemanfaatan
analogi dramaturgi ini membuat sang arsitek bertindak hampir seperti dalang. Sang arsitek mengatur aksi
seraya menunjangnya.

E. PENDEKATAN PADA PEMAHAMAN TEORI ARSITEKTUR TIMUR DAN NUSANTARA

1. Titik Tolak Cara Pandang


Pada pandangan-pandangan pembahasan mengenai teori dan ilmu pengetahuan arsitektur di atas cara
pandang yang dipakai adalah melalui kacamata tradisi ‘Barat’ (Eropa dan Amerika). Pertanyaannya
adalah apakah ada sesuatu tradisi teori arsitektur (sebagai pemahaman di atas) yang ada di Dunia
‘Timur’ dan Nusantara, dan apakah ada cara pandang tersendiri secara dunia Timur. Karena pada
dasarnya sangat sukar seandainya kita memakai ‘kacamata’ Barat untuk memandang/memahami
arsitektur Timur. Ada kemungkinan terjadi pemahamanya menjadi terlalu ‘dangkal’ bagi pengertian
arsitektur secara luas.
Sangat disadari bahwa Nusantara memiliki kekayaan khasanah ‘arsitektur’ dengan keragaman karya fisik
dan latar belakang budaya pendukungnya. Hanya saja sampai saat ini belum ada yang dapat digali
secara lengkap dan dimanfaatkan untuk dapat diterapkan sebagai dasar pengembangan arsitektur di
Indonesia atau sebagai landasan konsepsi perancangan arsitektur.
Sejauh ini apa sebenarnya yang membedakan pemahaman arsitektur secara Barat dan Timur. Untuk
memahami arsitektur Timur/ Nusantara dapat dimulai melalui contoh-contoh di bawah ini yang untuk
menjelaskannya di sini dikutipkan secara langsung berbagai sumber:

Buku Ajar Teori Arsitektur 9


Ruang di dalam arsitektur Jepang dipahami dalam pernyataan berikut:
“Secara umum Ruang di Jepang terkandung lima indera. Pendekatan-pendekatan berdasarkan
pengalaman terhadap ruang diekpresikan dengan jelas di dalam prinsip dasar kesucian dari upacara
‘minum teh’. Kesederhanaan rumah teh adalah contoh yang paling sempurna mengenai ruang di dalam
arsitektur Jepang.” (Ching Yu Chang, 1986);
Bagi arsitektur India, Mangunwijaya menulis:
“Dalam sisi yang lain pada budaya India suatu wilayah dipandang sebagai ‘Mandala’ yaitu bentuk yang
berdaya Gaib…. Pada setiap bagian daerah bangunan memiliki nilai gaibnya berdasarkan susunan daya
‘Mandala’ tadi.” (Mangunwijaya, 1988).

Bahkan di Jawa rumah (Arsitektur) selalu dikaitkan dengan hal-hal yang spiritual dan perhitungan-
perhitungan tertentu (Petungan). Misalnya 'Mancapat' yaitu suatu dasar penyusunan wilayah dan desa-
desa di Jawa ternyata juga ada kaitannya dengan aturan-aturan untuk hal-hal lain:
...yang erat hubungannya dengan itu (Mancapat) adalah ilmu tarikh Jawa yang dalam pekan pasaran 5
harinya memperlihatkan gagasan Mancapat…… Hari-hari itu masing-masing diberikan nilai angka
tertentu yang dinamakan ‘neptu’, sementara ‘tuan-tuan mata angin utama’ masing-masing mempunyai
nilainya terhadap yang baik dan yang buruk. (Ossenbruggen, 1975: 39).
Berkaitan dengan kegiatan tertentu makna penyusunan tata ruang dalam rumah di Jawa secara menarik
dijelaskan sebagai berikut:
Pada perayaan wayang kulit ‘seketeng’ dapat dibuka sehingga terbukalah ‘dalem’. Akan tetapi pada
tempat ‘seketeng’ itu lah dipasang layar putih wayang kulit. Para tamu agung dan anggota intim keluarga
duduk disisi ‘dalem’ menghadap ke layar putih, sehingga mereka melihat wayang dalam wujud bayangan-
bayangan. Pihak dalang, para pemain gamelan dan rakyat ada dipihak ‘pendopo’ atau luar. Maka tempat
bagian ‘dalem’ (diluar kamar Kamajaya-Ratih dan tempat penyimpanan harta pusaka) disebut juga
‘pringgitan’ artinya tempat melihat ‘ringgit’ atau wayang dalam wujud yang sebenarnya, yaitu bayangan,
dan tidak seperti yang dilihat oleh rakyat. (Mangunwijaya, 1988).
Tidak pernah kiranya dalam budaya dan adat istiadat Nusantara tata cara pembangunan rumah berjalan
begitu saja, pasti akan ada seperangkat peraturan dan upacara ritual yang selalu dikaitkan dengan hal-
hal lain dalam kehidupan yang lebih luas (misalnya : spiritualitas, hubungan sosial, keberuntungan dsb.).
Dan pada bangunan itu sendiri kadang-kadang ada bagian bangunan/rumah yang tidak dipahami makna
dan kegunaan, bahkan oleh si pemilik rumah itu sendiri, ternyata baru terasa maknanya ketika suatu
upacara adat/ritual dilangsungkan di rumah tersebut.
Berdasarkan contoh-contoh di atas, dengan demikian pemahaman terhadap arsitektur (rumah dan tata
cara pembangunanya) harus dipahami dalam kaitanya dengan pemahaman lain yang terkait sangat
kompleks. Rumah bukan sesuatu yang berdiri sendiri dalam keseluruhan kehidupan manusianya. Hal ini
ditunjang juga dengan kuatnya pemakaian tanda simbol sehingga suatu benda/bagian rumah memiliki
makna terhadap keterkaitan-keterkaitan tersebut. Pemahaman terhadap segala hubungan yang luas ini
membantu kita untuk memahami dan menyarikan nilai-nilai, aturan-aturan, konsep arsitektur dan cara
membangun bagi suatu cara pandang yang disebut arsitektur.

2. Perbedaan Cara Pandang


Banyak ahli membedakaaan cara pandang antara arsitektur Barat dan Timur dalam pemahaman berkut :
Arsitektur Barat sangat ‘material’ dan Timur sangat ‘spiritual’.
Arsitektur ‘Barat’ mementingkan obyek dan tata cara membangun, Timur lebih memandang proses dan
nilai-nilai yang dikaitkan dengan hubungan yang lebih luas (sosial dan spiritual).
Arsitektur Barat ‘mengatasi’ alam, Timur menekankan ‘keharmonisan’ antara : manusia – masyarakatnya,
manusia – alam (lingkungannya) dan manusia – yang Maha Pencipta (Rusmanto, 1999).

Buku Ajar Teori Arsitektur 10


Tradisi membangun dan arsitektur di dunia Timur dan Nusantara selalu dikaitkan dengan keharmonisan,
ini tidak bisa lepas dari pandangan hidup yang dilestarikan dalam adat istiadat dan pelaksanaan upacara
membangun (dan upacara lainnya).
To Thi Anh dalam membedakan budaya Barat dan Timur (India, Cina, Korea, Jepang dan negara-negara
yang dipengaruhi oleh kebudayaan India dan Cina) diartikan sebagai: bahwa Timur dan Barat berbeda
dalam hal pengetahuan, sikap manusia terhadap alam, cita-cita hidup dan status seseorang.
Penjelasan ini diharapkan dapat membantu bagaimana budaya (teori) arsitektur Timur dapat dipahamai,
yang selanjutnya dapat disarikan ke dalam pemahaman teori dan konsep arsitektur yang lebih luas.
Dengan demikian dapat menjadi suatu landasan yang tepat dalam mengembangkan arsitektur khususnya
di Indonesia.
Daftar Pustaka
Ching. F.D.K., 1993, Arsitektur, Bentuk, Ruang dan Susunannya. Terjemahan. Jakarta:
Airlangga.
Diani, Marco dan Catherine Ingraham, 1988, Restructuring Architectural Theory. Illinois:
Northwestern University Press.
Hellman, L. 1988. Architecture For Beginner. New York: Writers & Readers.
Ishar, H.K. 1992. Pedoman Umum Merancang Bangunan. Jakarta: Gramedia.
Johnson, Paul-Alan, 1994, The Theory Of Architecture. New York: Van Nostrand Reinhold.
Mangunwijaya, 1988. Wastu Citra. Jakarta: Gramedia.
Nesbitt, Kate, 1996, Theorizing A New Agenda for Architecture, Analogi Atnthologi of
Arschitectureal Theory 1965 – 1995. New York: Princeton Architectural Press.
Ossenbruggen, F.D.E van. 1975. Asal Usul Konsep Jawa tentang Mancapat dalam hubungannya dengan
sistim-sistim Klasifikasi Primitif. Terjemahan. Jakarta: Bhratara.
Rusmanto, Totok, 1999, ‘Teori Arsitektur di Dunia Timur’, Materi Ceramah Penataran Dosen dalam
Rangka Perluasan Wawasan dan Penguasaan Bidang Arsitektur, tidak dipublikasikan.
Smithies, K.W., 1982. Prinsip-prinsip Perancangan dalam Arsitektur. Bandung: Intermatra.
Snyder dan Catanase, 1985. Pengantar Arsitektur. Terjemahan. Jakarta: Erlangga.
Sukada, Budi, 1999, Teori dan Teori Arsitektur, Materi Ceramah Penataran Dosen dalam Rangka
Perluasan Wawasan dan Penguasaan Bidang Arsitektur, tidak dipublikasikan.
Suriasumantri. S.J. 1988. Filsapat Ilmu, sebuah pengantar populer. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan..
Ven, Cornelis van de, 1991, Ruang dalam Arsitektur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Buku Ajar Teori Arsitektur 11


Perkembangan perancangan arsitektur sejak era pra-klasik dan sesudahnya memperlihatkan adanya
pergeseran dalam esensi paradigmanya yang dapat digunakan sebagai sumber bertema dan berteori
dalam arsitektur.
Pada era peradaban kuno (ancient world) konsep arsitekturnya mendasarkan inspirasinya dari alam
semesta yang berkaitan dengan nilai – nilai kosmos dan mitos.
Pada era kebesaran arsitektur klasik Eropa (Yunani – Roma – Renaissance) paradigma arsitekturnya
sangat dititikberatkan pada estetika bangunan. Proporsi, simetri, geometri dan ornamentasi merupakan
sasaran esensial dalam konsepnya, sedangkan aspek struktur dan fungsi berperan minor.
Dengan munculnya gerakan Arsitektur Modern yang melawan kemapanan arsitektur klasik Eropa yang
doktriner, konsep arsitekturnya bergeser lagi dalam paradigmanya.
Perancangan modern mendasarkan pemikiran perancangannya pada paradigma Rasionalisme dimana
pertimbangan–pertimbangan perancangannya berdasarkan pada logika dan rasio, menggunakan
teknologi baru dan aspek – aspek struktur serta fungsi menjadi dominan. Sementara estetika mendapat
interpretasi baru dengan mengutamakan ekspresi sistem bangunan, struktur dan fungsi. Penyelesaian
façade dengan garis-garis linier dan bentuk kotak. Assosiasi dengan konteks terabaikan dan eksesnya
melahirkan konsep bentuk yang universal.
Pada pertengahan tahun 1960-an paradigma arsitektur modern ini mulai dipertanyakan dan ditantang
dengan munculnya buku Complexity and Contradiction in Archtecture dari Robert Venturi (19xx). Gerakan
pembaharuan ini menamakan dirinya sebagai Post Modernisme (istilah dari Charles Jenks dalam
bukunya The Language of Post-Modernism, 1979). Gerakan post-modernisme ini menentang azas-azas
yang bersifat tunggal atau “universalism” dan “uniformity”.
Kalau gerakan Modern menolak sejarah arsitektur Eropa, kaum Post-Modern justru mau merangkul
sejarah. Pelbagai teori bermunculan, paradigma-paradigma teoritik menjadi penentu Post-modernisme,
termasuk teori teori dari luar disiplin arsitektur. Dengan demikian suatu era baru dalam perjalanan sejarah
arsitektur modern telah lahir .
Beberapa contoh paradigma yang tersebut diatas merupakan beberapa di antara paradigma – paradigma
yang dianggap gayut dalam perjalan teori arsitektur. Sedangkan masih banyak lagi paradigma-
paradigma di dalam belahan bumi yang tidak disebut, baik di Timur maupun di Barat yang berperan
sebagai acuan atau inspirasi dalam berkonsep dan berteori.

A. PARADIGMA MITOLOGI DAN KOSMOLOGI


Anton Bakker dalam bukunya ‘Kosmologi & Ekologi – Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga’
(1995) mengatakan :
“Kosmologi menyelidiki dunia sebagai suatu keseluruhan menurut dasarnya. Kosmologi bertitik pangkal
pada pengalaman mengenai gejala-gejala dan data-data. Akan tetapi gejala-gejala dan data-data itu tidak

Buku Ajar Teori Arsitektur 12


ditangkap dalam kekhususannya, tetapi langsung dipahami menurut intinya dan menurut tempatnya
dalam keseluruhan dunia”.
Sedangkan YB. Mangunwijaya dalam bukunya Wastu Citra (1988) :
“Segi mitos dan keagamaan menyangkut ke-ADA-an manusia atau semesta dari dasar-dasarnya yang
paling akar, paling menentukan, paling sejati”.
“Pada tahap primer orang mulai berpikir dan bercita rasa dalam alam penghayatan kosmis dan mitis, atau
agama. Tidak Estetis”.
Estetis disini artinya penilaian sifat yang dianggap indah dari segi kenikmatan.
Berdasarkan paradigma-paradigma mitis dan kosmologis keindahan bentuk-bentuk arsitektural bangunan
yang terbentuk pertama-tama terjadi bukan karena keindahan semata, tetapi karena adanya tuntutan
keagamaan atau penyembahan kepada kosmos (Alam Semesta Raya / Yang Agung). Asas-asas
rohanilah yang menghendaki bentuk tersebut, demi keselamatan atau ada-diri daerah, khususnya
keluarga-keluarga yang bersangkutan.
Seperti pada orang yang melakukan pertunjukan wayang kulit (di Jawa Tengah) atau tarian kecak (di
Bali). Dari motivasi dan suasana aslinya, pertunjukan wayang atau tarian kecak melulu dilakukan sebagai
penuaian kewajiban kepercayaan/keagamaan, demi keselamatan diri dan keluarganya atau masyarakat.
Dengan sebutan lain: mitologis. Dan pada saat ini pertunjukan wayang kulit dan tarian kecak banyak
dilakukan hanya untuk konsumsi komersial untuk pariwisata, bukan dalam arti mitologis.
Dalam alam pikiran mitologis, manusia masih menghayati diri tenggelam di dan bersama seluruh alam
dan alam gaib. Belum ada pemilahan antara sang Subyek dan Obyek, menurut YB. Mangunwijaya dalam
bukunya Wastu Citra (1988). Raja merasa dirinya titisan dari Dewa Wishnu. Kesuburan wanita, sawah
ladang, sesaji Dewi Sri, merupakan perkara satu, tumbuhan rotan dianggap perpanjangan usus-usus
manusia. Bentuk-bentuk meru di pulau Bali tidak terlepas dari penggambaran bentuk Gunung Mahameru
(Konsep Bhuwana Alit & Bhuwana Agung). Rumah-rumah tradisional Jawa yang dibangun dengan
menggunakan keseimbangan atau keharmonisan antara manusia dengan Yang Maha Kuasa, manusia
dengan alam semesta (moncopat, kolomudheng, ponco sudho, papat keblat kalima pancer) (Roesmanto,
1999). Piramida dan Spinx di Mesir, dibuat karena adanya penyembahan dan penghargaan kepada Raja-
raja Mesir (Firaun) pada masa itu, yang dianggap sebagai ‘Tuhan’ yang patut disembah.
Penghayatan adanya suatu ‘pusat dunia’ atau poros, axis mundi,, atau pusat, sentrum, caput mundi.
merupakan penghayatan manusia berjiwa religius yang sangat dalam. Manusia tidak dapat hidup dalam
angkasa kosong atau ruang homogen, seolah-olah segala titik dan arah itu sama saja. Ia membutuhkan
orientasi, pengkiblatan diri. (Mangunwijaya, 1988). Sebagai contoh adalah orientasi kepada matahari
(orientasi timur ke barat), begitu kuatnya perasaan orintasi kepada matahari yang terbit dari timur ke
barat, banyak bangsa yang percaya bahwa matahari adalah sumber segala sumber kehidupan. Bila ada
timur dan barat, tentunya adapula utara dan selatan, keempat poros inilah menimbulkan suatu titik
imajinasi tugu poros, pusat yang terjadi karena persilangan utara–selatan dan timur–barat.

B. KONSEP VASTU-PURUSHA-MANDALA
Dalam buku Wastu Citra dikatakan bahwa suatu wilayah tidak hanya dipahami geografisnya saja, tetapi
seperti contohnya di India, sebagai suatu Mandala, yang berarti bentuk (form). Tetapi merupakan bentuk
yang berdaya gaib. Dengan hubungan tertentu mandala juga berarti citra gaib atau daerah kerja energi
dan pengaruh kekuatan-kekuatan gaib. Dalam mandala ada tempat yang paling berdaya, yaitu bagian
pusar/poros. Dan setiap bagian daerah bangunan memiliki nilai gaibnya menurut susunan daya mandala
tadi. Oleh karena itu seluruh tata wilayah dan tata pembangunan menurut orang-orang India kuno harus
diarahkan menurut tata Vastu-Purusha-Mandala (vastu = norma dasar semesta yang berbentuk dan
berwujud; purusha = insan atau personifikasi gejala semesta dasar yang awal, asli, utama, sejati).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bagi orang-orang India dahulu, tata wilayah dan tata bangunan
atau arsitekturnya tidak diarahkan pertama kali demi penikmatan rasa estetika bangunan, tetapi terutama
demi pelangsungan hidup secara kosmis, artinya selaku bagian integral dari seluruh kosmos alam

Buku Ajar Teori Arsitektur 13


semesta raya yang keramat dan gaib. Keraton-keraton di Jawa misalnya menempati pusat dari sumbu-
sumbu magis, keraton menjadi patron pusat-pusat pemerintahan yang lebih kecil, tetapi tidak boleh
disamai karena ke-binathara-an atau ke-dewa-annya (ratu). Ratu adalah Dewa, menandai penerapan
konsep Dewa Raja.

C. KONSEP TRIBUWANA
Masih dari YB. Manguwijaya dalam bukunya Wastu Citra (1988), pada masa-masa dahulu,
masyarakatnya telah membagi dunia dalam tiga lapis, dunia atas (surga, kahyangan), dunia bawah
(dunia maut) dan dunia tengah (dunia yang didiami oleh manusia). Tata bangunan atau wilayah di Dunia
Kecil kita ini pertama-tama harus merupakan cermin pewayangan Dunia Besar Semesta Raya. Mikro-
kosmos selaku Karo-kosmos yang mengejawantah. Oleh karenanya dalam wujud bangunan selalu
mempunyai beberapa citra dasar, misalnya bentuk Gunung. Gunung selalu dihayati sebagai tanah tinggi,
tempat yang paling dekat dengan Dunia Atas. Candi-candi Hindu dan Buddha, dibentuk juga karena
adanya penyembahan kepada alam semesta raya (Sang Hyang Widhi/Tuhan).
Dari konsep-konsep diatas tampaklah bahwa bagaimana setiap karya bangunan merupakan upaya
penghadiran Semesta atau Kahyangan Raya. Oleh karena itu proses karya pembangunan juga
merupakan penghadiran penciptaan Semesta Raya, pewayangan kembali awal mula dunia ketika
dijadikan oleh Dewata atau Tuhan.

D. TEORI-TEORI/TEMA YANG BERKEMBANG


Dari buku ‘Kosmologi & Ekologi – Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga’, (Bakker, 1995)
dirinci adanya beberapa tema yang berkembang dalam paradigma mitologi dan kosmologi ini. Berikut
adalah rinciannya yang dibagi berdasar pemilahan regional.

1. Kosmologi Indonesia
Terdapat kesatuan besar diantara para penghuni kosmos, seluruh kosmos dirasuk (dijiwai) oleh suatu ‘zat
kejiwaan’ atau daya hidup, atau kesaktian, zat atau daya hidup itu non personal dan pada dasarnya tidak
berbeda untuk manusia, hewan, tumbuhan, membuat mereka keramat. Keharmonisan ini diwujudkan
dalam bentuk keseimbangan antara manusia dengan masyarakatnya, alamnya dan Yang Maha Kuasa.
(Roesmanto, 1999).

2. Kosmologi India
Hindu berdasarkan kitabnya Upanishad (ab. 7 – 3 SM) dan dalam Vedanta (700 – 1400), dunia
mempunyai adanya dalam Brahmana.
Buddhisme yang dibawa oleh Gautama Siddharta (563 – 483) menganggap dunia dan manusia bersatu
dalam ‘kekosongan’.
Jaina (pendiri Vardhamana 540 – 468) percaya bahwa kenyataan terdiri dari dua macam yang berbeda
secara radikal. Substansi-substansi yang bukan berjiwa (ajivas) terdiri dari atom-atom, semua sama saja
dan tidak bersifat apapun.

3. Kosmologi Barat
Spinoza (1632 – 1677) percaya bahwa dunia dan manusia kelihatan sebagai substansi-substansi yang
yang berdikari, tetapi sebenarnya hanya satu substansi saja, yaitu Tuhan (sering dikatakan sebagai
pantheisme).
Hegel (1770 – 1831) mengatakan bahwa pada dasarnya manusia dan dunia (alam) adalah fase dan
bagian dalam proses penjelmaan Roh Mutlak (Geist). Dalam lingkup manusia tidak ada lagi yang alamai,
semuanya telah diangkat oleh kerohanian manusia menjadi budaya (Roh Objektif).
Sementara Karl Marx (1818 – 1883) menganggap bahwa dunia dan manusia lahir dari satu realitas
terakhir, materi.

Buku Ajar Teori Arsitektur 14


E. PARADIGMA ESTETIKA
Estetika pada awalnya merupakan salah satu cabang ilmu filsafat, tetapi dalam perkembangan kemudian
membuat estetika tidak lagi hanya bercorak filsafat tetapi sudah berkembang lebih luas. Pendapat yang
sangat berpengaruh namun saling bertentangan perihal pengungkapan keindahan adalah pandangan
dari sudut teori obyektif dan teori subyektif.
Teori obyektif berpendapat bahwa keindahan adalah sifat (kualitas) yang memang telah melekat pada
benda (yang disebut) yang merupakan obyek. Ciri yang memberi keindahan itu adalah perimbangan
antara bagian-bagian pada benda tersebut, sehingga asas-asas tertentu mengenai bentuk dapat
terpenuhi.
Teori Subyektif mengemukakan bahwa keindahan itu hanyalah tanggapan perasaan dalam diri seseorang
yang mengamati benda itu. Jadi kesimpulannya tergantung pada penyerapan/ persepsi pengamat yang
menyatakan benda yang dimaksud itu indah atau tidak.
Bangsa Yunani, misalnya, sangat peka terhadap keindahan obyektif seperti terlihat pada karya-karya
zaman Yunani Kuno. Teori agung tentang keindahan (The Great Theory of Beauty) menerapkan
matematika arsitektur Yunani, yang dikenal dengan istilah Perbandingan Keemasan (Golden Section).
Perwujudan estetika dalam kaitan keindahan sebagai nilai intrinsik (sifat baik suatu benda, dinyatakan
dengan prinsip, kaidah-kaidah keselarasan, keseimbngan dan lainnya. Unutuk mewujudkan ini digunakan
unsur–unsur garis, bentuk, totalitas, warna, tekstur, struktur masa dan ruang.
Bentuk sangat berarti dalam penampilan estetika dimana perwujudannya dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya adalah simbol atau lambang sebagai elemen dekorasi. Sejak lama manusia
memerlukan identitas baik bagi dirinya maupun bagi benda-benda yang ada di sekelilingnya. Di dalam
dunia arsitektur pengenalan simbol merupakan suatu proses yang terjadi pada individu maupun
masyarakat. Melalui pancaindera (dalam hal ini indera penglihat lebih banyak berperan) manusia
mendapat rangsangan yang kemudian menjadi pra-persepsi dan terjadi pengenalan terhadap obyek
(fisik) selanjutnya terwujud persepsi, dan persepsi ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman termasuk
pengalaman pendidikan yang menentukan tingkat intelektual manusia.
Pada hampir dua ribu tahun yang lalu arsitek Roma (Itali) Vitruvius mengemukakan tiga faktor utama
dalam arsitektur: venustas, utilitas dan firmitas. Pada permulaan abad ketujuh belas, penulis Inggris Sir
Henry Wotton menterjemahkannya menjadi “commodities, firmness dan delight” yang kemudian menjadi
sebuah ungkapan yang telah lama digunakan sehingga hampir menjadi suatu klise. Ketiga faktor ini
selalu ada dan selalu berhubungan satu dengan lainnya secara timbal balik dalam suatu struktur yang
baik. Secara naluriah bahwa apapun yang ditentukan terhadap salah satu darinya maka lainnya akan
terpengaruh.
Paradigma Estetika mendorong tiga prinsip dari Vitruvius dan Henry Wotton pada sisi ‘venustas’-nya dan
‘delight’-nya. Di era Yunani dan Romawi, venustas dijabarkan dalam teori-teori estetika. Yang paling
berkembang di masa ini adalah Teori Proporsi. Di masa Renaisans, ditambahi dengan penemuan Teori
Perspektif. Bila di Barat ada perkembangan perspektif ini di Timur berkembang suatu genre geometri
yang dikenal sebagai ‘Arabesque Geometri’. Namun kemudian estetika menjelma menjadi ornamentasi
(yang bahkan berlebihan) seperti di era Barok (Baroque) dan Rokoko (Rococco). Di masa yang lebih
kontemporer, bosan dengan ornamentasi, delight, menginspirasi untuk melawannya. Kemudian teori-teori
estetika mendapatkan tambahan dari teori-teori geometri dan matematika yang melahirkan bentuk-bentuk
murni dari tuntutan struktural namun yang sangat indah dan kaya dengan permainan geometri.
Sebagai pengaya, berikut diuraikan beberapa langgam yang berkembang sebagai akibat dari
penggunaan paradigma Estetika dan teori-teori yang berkembang pada masa-masa Klasik.

F. YUNANI
Pada masa Yunani Kuno karya – karya arsitektur yang dikenal dengan langgam Klasik, terdiri dari balok-
balok dan kolom-kolom batu. Ekspresinya tampak pada deretan tiang seperti pada Basilika St. Petrus di
Roma, kuil Parthenon dan bangunan lainnya di Acropolis dekat Athena.

Buku Ajar Teori Arsitektur 15


Sebagai tiang penyangga terdapat tiga jenis kolom yang cukup berperan dalam perwujudan bangunan
arsitektur Yunani dengan istilah Dorik, Ionik dan Korintian. Kolom Dorik mempunyai tampilan yang
terkesan jantan, kokoh dan kaku, sedangkan Ionik dan Korintian lebih terkesan feminin, luwes,
ornamental dengan dimensi yang lebih langsing. Tetapi secara keseluruhan, paradigma Estetika dalam
arsitekturalnya lebih esensial, yang sarat oleh kaidah-kaidah dan norma-norma “The Great of Beauty”
dan “Golden Section”.

1. Romawi
Munculnya Kekaisaran Romawi di Italia mempunyai dampak terhadap nilai-nilai budaya dan karya-
karya arsitektur di daerah dan wilayah kekuasaannya. Gaya atau langgam Arsitektur Romantis,
mempunyai ciri yang berbeda dengan langgam arsitektur Yunani Kuno, ditandai dengan bentuk – bentuk
lengkung busur lingkaran pada struktur bagian atas bangunan, dan secara keseluruhan terkesan tidak
sehalus arsitektur langgam Yunani Kuno.
Sejalan dengan meluasnya daerah kekuasaan Romawi pada masa kejayaan Kaisar Constantin ke daerah
Timur. Konstantinopel di Turki merupakan pusat wilayah kekuasaannya di daerah Timur, dan di wilayah
tersebut berkembang budaya Romawi dengan berbagai aspeknya termasuk arsitektur sebagai unsur
budaya yang berasimilasi dengan budaya yang memunculkan corak Bizantium. Paradigma Estetika
dalam arsitektur Romantis masih sangat mendominasi.

2. Gothic
Tahap perkembangan arsitektur berikutnya setelah era Romawi dalam arsitektur Kristen tertanam dalam
katedral Gothic. Ciri yang sangat menonjol dari arsitektur Gothic tercermin pada struktur lengkung
bersudut pada puncak sebagai upaya untuk mendapatkan proporsi antara ketinggian dengan bentang
yang dikehendaki.
Dalam arsitektur Gothic meskipun struktur sudah merupakan pertimbangan dalam perancangan
khususnya pada struktur atas bangunan, tetapi dalam penyelesaian arsitekturnya, paradigma Estetika
justru sangat dominan, dimana struktur lengkung runcing dikamuflir dengan ornamen-ornamen vertikal
menjulang tinggi.
Ide yang diekspresikan dalam bangunan ini merupakan jiwa, roh absolut, bilik dalam Tuhan. Untuk
pertama kalinya dalam teori estetika, ruang dalam yang sekarang terlingkung dalam suatu batas
arsitektural, dipahami diidentifikasikan sebagai isi yang diperlukan (Ven, 1974).

3. Renaisans
Langgam Renaissance dalam arsitektur muncul pada era Renaisans (pembaruan ) yang diawali setelah
revolusi humanis, dengan landasan berpikir bahwa manusia mempunyai kedudukan sejajar. Sejalan
dengan pola pikir pada masa Renaissance sebagaimana dikemukakan di atas, konsep arsitekturnya
mengacu kepada prinsip – prinsip garis horizontal, dengan menanggalkan vertikalisme yang merupakan
konsep arsitektur Gothic.
Kendati dalam era Renaissance ada pergeseran pola pikir dalam konsep arsitekturnya namun paradigma
Estetika tetap mendominasi perwujudannya. Façade bangunan penuh dengan ornamen-ornamen non-
fungsional bila ditinjau dari fungsi bangunannya, dan ornamen tersebut semata-mata dimaksudkan
sebagai pendukung paradigma Estetika. Langgam Baroc dalam arsitektur merupakan penonjolan
kedudukan paradigma Estetika dari konsep – konsep dalam langgam sebelumnya. Tampilan bangunan
menjadi sangat dekoratif yang penuh dengan ornamen – ornamen non fungsional, sedangkan gaya
Racoco merupakan perwujudan arsitektur bangunan ornamentalis yang berlebihan.

G. PARADIGMA SOSIAL (HUMAN SCIENCE)


Manusia seperti diketahui termasuk mahluk sosial. Manusia tidak dapat selamat dengan hidup
menyendiri. Dari lahir hingga mulai belajar, lingkungan yang dihadapinya adalah lingkungan keluarga
terutama ibu dan ayahnya yang disebut keluarga batih, kemudian membentuk masyarakat. Demikianpun

Buku Ajar Teori Arsitektur 16


semakin besar dan tentu saja semakin kompleks. Beberapa cerminan interaksi sosial yang terwujudkan
dalam arsitektur.
Semangat kerjasama di dalam hal ideologi. Kita boleh berbangga hati dan kagum jika melihat megahnya
candi Borobudur, candi Prambanan, sebagai karya arsitektur dan lain-lain peninggalan nenek moyang
kita jaman dahulu hingga saat ini masih tetap bersiri dengan megahnya. Seperti diketahui agama Budha
berasal dari India yang datang ke Indonesia dibawa oleh pedagang sambil berdagang mereka
mengembangkan agama budha dan interaksi dengan masyarakat setempat terjadilah akulturasi agama
kedalam masyarakat tanpa mengubah adat istiadat yang telah ada. Dengan adanya agama Buddha
mereka membutuhklan prasarana peribadatan dan didirikanlah candi-candi.
Candi-candi inilah yang merupakan karya arsitektur sebagai perwujudan dari adanya interaksi sosial
dalam bentuk kerjasama dan akulturasi budaya masyarakat pendatang dan masyarakat yang ada, yang
dalam perwujudannya berdampingan dengan bangunan tempat tinggal penduduk dengan ciri arsitektur
tradisional setempat.
Persaingan. Pada dasarnya manusia selalu berkeinginan dihargai dan hidup dengan lebih baik. Naluri ini
merupakan pendorong utama dari dalam diri manusia yang mengakibatkan terjadinya apa yang disebut
urbanisasi yaitu perpindahan penduduk dari desa kekota.
Dengan adanya urbanisasi ini terjalinlah interaksi sosial dalam bentuk persaingan dan terjadi peningkatan
kebutuhan sarana dan prasarana permukiman dikota khususnya bagi masyarakat pendatang yang
umumnya orang-orang miskin dengan tingkat pendidikan relatif sangat rendah.
Untuk memenuhi kebutuhan inilah mereka membangun melalui proses persaingan tanpa mengikuti
peraturan yang ada dengan bahan seadanya dan dengan penyelesaian tanpa teknologi yang dapat
dipertanggung jawabkan.
Sebagai akibatnya timbul permukiman yang kumuh didalam lingkungan kota yang dilain pihak tertata
permukiman yang rapi, baik dan teratur yang merupakan tantangan bagi penentu kebijaksanaan
pembangunan kota dalam penanggulangannya.
Dalam beberapa hal misalnya seorang yang mengalami cacat, bahkan perlu didampingi sepanjang
hidupnya. Selama proses membesarkan anak-anaknya atau mendampingi seseorang itulah manusia
membutuhkan berbagai bentuk pedoman atau aturan-aturan yang disepakati.
Manusia adalah mahluk bersikap atau memilih. Alam menyediakan kemungkinan-kemungkinan dan
manusia menjatuhkan pilihan-pilihan yang dipandangnya dapat menguntungkan.
Kluckholn menyatakan bahwa komunitas manusia memiliki sistem-sistem bahasa, ilmu/pengetahuan,
peratan/teknologi, mata pencaharian, masyarakat/komunitas, kesenian dan sistem religius/kepercayaan.
Sistem-sistem itu melukiskan segala upaya manusia untuk tetap selamat ditengah alam dan diantara
kelompok-kelompok yang ada. Contohnya, yaitu sistem mata pencaharian merupakan pertemuan antara
manusia dengan alam yang diolahnya melalui seperangkat sistem peralatan berdasarkan ilmu
pengetahuan yang dimilikinya.
Manusia dikatakan juga sebagai mahluk yang menciptakan simbol. Secara akademis tanda dan simbol
itu memang dibedakan, namun dalam kehidupan sehari-hari dua hal tersebut memiliki peran dan fungsi
yang sama, yakni membawa mereka sama-sama bermaksud menyampaikan pesan.
Representasi merupakan ungkapan bahasa yang sangat penting didalam arsitektur, dia mengubah dari
suatu gagasan kedalam suatu wujud yang nyata dengan pertimbangan syarat-syarat subyektif dan
obyektif tertentu. Penyampaian gagasan melalui tanda-tanda atau simbol-simbol selalu berlangsung
dalam konteks sosial. Bahasa arsitektur akan berfungsi dengn baik hanya apabila disertai dengan
kesepakatan substantif maupun representatif. Kesepatan sosial merupakan kunci bagi berlangsungnya
suatu bentuk komunikasi. Untuk dapat mencapai paras komunikatif, arsitektur membutuhkan penerimaan
sosial. Sebagai contoh yang dapat disampaikan ialah penggunaan bahan batu kali atau batu alam lainnya
untuk bentuk/konstruksi pondasi atau dinding yang masif, dapat memberikan ciri atau tanda yang kokoh.

Buku Ajar Teori Arsitektur 17


1. Arsitektur Adalah Cerminan Kebudayaan
Arsitektur sebagai suatu karya kesenian hanya bisa tercapai dengan dukungan mayarakat yang luas,
berbeda dengan karya seni lukis atau seni patung yang bisa terlahir hanya dengan usaha satu orang
seniman saja.
Untuk melahirkan karya arsitektur diperlukan selain arsitek, juga ahli-ahli teknik lain, industri bahan,
sekelompok pelaksana, teknologi dan lain-lainnya. Oleh karenanya patutlah dikatakan bahwa arsitektur
adalah pengejawantahan dari kebudayaan manusia. Atau dengan kata lain arsitektur selalu dipengaruhi
kebudayaan dan masyarakatnya.
Hindro T. Sumardjan menggambarkan proses pembentukan budaya dalam manifestasi arsitektur,
sebagai berikut :
Kebudayaan Barat Kebudayaan Timur

Lingkungan Buatan Keserasian Dengan


Alam

Individu Manusia
Menyesuaikan Diri

Kesenangan Hidup Masyarakat


Manusia ( Komunal )

(Hindro T. Sumardjan, dalam tulisan yang berjudul “Pendidikan Arsitektur dan Pembangunan Nasional
Sebagai Sebuah Pendekatan Budaya”).

H. PARADIGMA RASIONALIS
Pengertian istilah ini, menurut Kamus Advanced English-Indonesia adalah sebagai berikut rationale yang
berarti (1) alasan utama (2) dasar alasan. Sementara Rationalism diartikan sebagai prinsip atau
kebiasaan untuk menerima penalaran sebagai kekuasaan tertinggi dalam hal mengemukakan pendapat.
Rationalist adalah orang yang menerima penalaran sebagai kekuasaan tertinggi.
Dalam dunia arsitektur, Rasionalisme diartikan suatu paradigma dalam arsitektur yang didasarkan pada
hal-halyang bersifat nalar. Atau dapat dikatakan sebagai suatu cara untuk mencetuskan ide-ide arsitektur
yang didasarkan pada pertimbanganyang masuk akal.
Paradigma rasionalis tumbuh pada sekitar pertengahan abad XIX di Eropa. Hal ini merupakan jawaban
atas kondisi yang terjadi pada saat itu. Adapun penyebabnya adalah (a) munculnya revolusi industri yang
ditanadai dengan munculnya teknologi konstruksi. (b) meningkatnya kebutuhan rumah tinggal di kota
karena pesatnya arus urbanisasi dan (c) semakin meningkatnya bentuk-bentuk eklektis dalam karya
arsitektur saat itu, yang tidak sesuai dengan perkembangan teknologi.

1. Tokoh-tokoh arsitek penganut Rasionalisme


Prinsip-prinsip rasionalisme dianut antara lain oleh tokoh-tokoh seperti: Walter Gropius, Mies van Der
Rohe, dan LeCorbusier. Contoh-contoh bangunan yang menjadi simbol dari paradigma rasionalis adalah
Kampus Bauhaus karya Walter Gropius, Apartemen LeUnite de Habitation di Marseilles dan rumah
tinggal Villa Savoye, keduanya karya LeCorbusier. Di Amerika diwakili oleh Crown Hall di Chicago dan
Seagram di New York karya Mies van der Rohe (lihat gambar pada lampiran)
Paradigma rasionalisme pada karya arsitektur mempunyai ciri-ciri sebagai berikut (a). fungsi sebagai
penentu bentuk dan ekspresi, (b) struktur bangunan menjadi bagian dari estetika baru, (c) ornamen-
ornamen yang tidak perlu dihilangkan dan (d) prinsip perancangan menjadi universal yang
mengakibatkan lahirnya gaya internasional (International Style) dengan akibat aspek konteks
terabaikan.

Buku Ajar Teori Arsitektur 18


2. Semboyan-semboyan pada paradigma rasionalis
Paradigma rasionalis memunculkan semboyan-semboyan dari tokoh-tokoh arsiteknya yang merupakan
dasar falsafah bagi karya-karya mereka. Semboyan tesebut antara lain:
Form Follows Function. Semboyan ini dicetuskan oleh Louis Sullivan yang mendefenisikan arsitektur
analog dengan bentuk alam atau sebagai ekspressi sustu gaya hidup batin dan logika struktur manusia.
Bentuk merupakan turunan dari fungsi yang berati fungsilah yang menciptakan dan mengorganisir
bentuk. Bagi Sullivan fungsi bukanlah suatu program bangunan yang mati, melainkan kehendak hidup
yang mendiami substansi, seperti yang mendiami si seniman pencipta (Ven, 1967).
Less is More. Merupakan semboyan yang dicetuskan oleh Ludwig Mies van der Rohe yang intinya adalah
dalam bentuk yang paling sederhana. Arsitektur berakar pada pertimbangan-pertimbangan estetika yang
esensial, namun arsitektur dapat menembus segala tingkatan derajat nilai sampai mencapai lingkungan
tertinggi eksistensi sppiritual, kedalaman khasanah seni murni (Ven, 1967).
Un Machine d’habiter. Machine for living, merupakan formula Le Corbisier yang artinya rumah adalah
mesin untuk bermukim. Aspek positif dari perumusan Le Corbusier itu ialah kesadaran bahwa dalam
dunia bangunan pun efisiensi, rendemen, ekonomi, harus dicapai semaksimum mungkin seperti dalam
perekayasaan setiap mesin (Mangunwijaya, 1988).

3. Paradigma Rasionalis pada berbagai zaman


Paradigma rasionalis tidak hanya terdapat pada zaman Arsitektur moderen, tetapi menurut Mangunwijaya
telah dapat kita lihat pada zaman Yunani maupun pada arsitektur tradisional di berbagai tempat didunia.
Hal ini dapat dilihat pada contoh-contoh gambar terlampir :
Arsitektur Yunani. Orang Yunani selalu rasional. Mereka selalu berpikir tentang hakekat sesuatu. Dalam
Arsitektur pun mereka mencari hakekat bangunan itu dan mencoba mengungkapkannya dalam bentuk.
Mereka berpendapat bahwa segala bangunan berhakikatdua prinsip yaitu (a) ada unsur yang ditopang
dan (b) ada unsur lain yang memikul atau menopang. Bila antara yang dipikul dan memikul ada
keseimbangan artinya serba stabil, maka hakekat sudah tertemulah dan justru itulah yang harus di
ekspressikan (Mangunwijaya, 1988).
Arsitektur Tradisional Jepang. Jika kita amati arsitektur tradisonal Jepang sangat dekat dengan
paradigma rasional. Tanda-tanda ini dapat kita lihat pada ciri-ciri arsitektur Jepang seperti dinding-dinding
geometrik, bentuk serba polos atau tidak ada hiasan dan sistim struktur yang sesuai dengan logika.
Perumusan seperti yang diungkapkan oleh Mies van der Rohe “ Less is More “, telah lebih dulu berabad-
abad dikerjakan oleh orang Jepang (Mangunwijaya, 1988).

I. PARADIGMA KULTUR
Kegiatan dalam mewujudkan karya-karya interaksi ruang, makna, komunikasi dan waktu yang berfokus
pada penataan lingkungan. Penyebab penting dalam penataan tersebut adalah bahwa makna lingkungan
didalamnya membantu komunikasi sosial antara orang-orang dengan lingkungan kepada masyarakat
melalui kultur masing-masing. Jadi lingkungan melalui ruang dan makna mencerminkan pengaturan
komunikasi, sebab komunikasi merupakan faktor penting dalam lingkungan buatan dan organisasi
kemasyarakatan lingkungan bersifat temporal dan dapat dianggap pengaturan waktu. Waktu bisa masa
lampau, sekarang dan yang akan datang.

1. Essensi
Pengejawantahan gagasan pengaturan interaksi ruang, makna, waktu dan lingkungan ; pertama-tama
mengacu kepada alam dengan muatan spiritualis / religiusitas yang kental, berlandaskan kesadaran yang
cair sehingga cenderung berubah dari waktu ke waktu. Perbedaan antara kultur di Barat dan kultur di
Timur secara garis besar adalah Barat ingin menguasai alam, sedang Timur ingin menyelaraskan dengan
alam. Kultur Barat didominasi oleh pemikiran-pemikiran Yahudi dan Kristen sedangkan kultur Timur lebih
banyak didominasi oleh pemikiran-pemikiran Hindu, Budha di belahan bumi India dan Asia Tenggara,
bercampur dengan Tao, Lao-Tse, Konghucu di belahan bumi Cina, Korea dan Indocina, di Jepang

Buku Ajar Teori Arsitektur 19


bercampur dengan Shinto. Islam sebagai agama terkemudian mempengaruhi sebagian besar pemikiran-
pemikiran di Mediteranian, Arab, Persia dan sebagian besar Asia Tenggara.
Masa pre-Modern peradaban Barat dengan melihat peradaban masa kejayaan Roma masa lalu lebih
berkembang dan mulai mendominasi peradaban dunia dan menimbulkan pandangan-pandangan
Romantisisme, dengan semangat Renaissance. Loncatan kemajuan yang diawali pada masa Revolusi
Industri dengan semangat Renaissance membentuk pandangan yang memiliki perhatian terhadap logika
konstruksi, struktur tersembunyi dalam langgam ornamen. Pada masa itu dimulai penemuan-penemuan
baru dalam konstruksi seperti pre-fabrikasi dengan penggunaan material-material baru. Motif sejarah
lokal menguat, kebebasan individual berkembang menimbulkan pendekatan baru pada disain dan
individu, material-material bangunan disintesakan dalam penerapan ornamen dan konstruksi. Kemajuan
akibat Revolusi Industri menimbulkan ledakan penduduk dan mendorong penggunaan konstruksi yang
tepat serta adaptif dengan mempelajari problem-problem masa lalu. Arsitektur tanpa bentuk tumbuh
dalam dunia yang keras, brutal sehingga menimbulkan kebebasan visual.
Pada bagian dunia Timur hanya Jepang yang mampu mengadaptasi pemikiran-pemikiran Barat pada
masa pre-Modern. Unsur-unsur Barat itu diimport, dipelajari, ditiru, diserap dan kemudian diberi jiwa /
kehidupan baru, diperbaiki dan dibentuk kembali bentuk akhir yang muncul sebagai elemen yang
berkepribadian Jepang. Disini orang tidak bisa lagi membedakan apakah unsur-unsur tersebut berasal
dari asing ataukah asli Jepang.
Hal tersebut diatas berpengaruh juga pada perkembangan arsitektur Jepang. Prinsip-prinsip arsitektur
Barat telah dipinjam dan diserap sedemikian rupa sehingga masyarakat Jepang pada umumnya telah
menganggap dan menerimanya sebagai bagian dari warisan arsitektur nasional mereka.
Masa Modern faham-faham Sosialisme, Komunisme, Kapitalisme dan Fasisme saling bersaing dalam
memperebutkan hegemoni-hegemoni ideologi dan praktek-praktek ekonomi. Pandangan-pandangan
tersebut timbul dengan menaruh perhatian pada suasana persaingan ideologi dan persaingan sumber
baku dan pasar bagi industri-industri mereka. Peradaban Barat menguasai Timur dalam suasana
universal, pemanfaatan teknologi industri berkembang seiring dengan kebutuhan-kebutuhan ekonomi.
Harmonisasi antara elemen-elemen modern dengan perubahan sosial ekonomi berkembang. Kalkulasi
waktu menjadi penting dalam kaitan metodologi membangun yang memperpadukan kepentingan teknik
konstruksi dan teknik ekonomi. Karya arsitektur tidak hanya cerminan bentuk saja, tapi sudah merupakan
cerminan utilitas, komunitas dan komunikasi bangunan. Karya arsitektur sudah merupakan jaringan
kehidupan didalamnya. Fantastisme Futuristik yang penuh imajinasi tentang pemanfaatan teknologi
mengemuka dalam usulan-usulan arsitektur. Di Barat, fantastisme futuristik tetap tinggal fantasi sedang di
Jepang memperoleh banyak pengagum sampai memasuki periode Post-Modern.
Arsiteknologi, futurisme dan metabolisme adalah keterpaduan yang tuntas antara perkembangan
teknologi modern dengan warisan kultural dan arsitektural dengan label arsiteknologi. Fantasi futurisme
lahir karena kemajuan teknologi dan ekonomi telah menciptakan suatu iklim yang merangsang
penggunaan building System yang pre-industrialized, pre-fabricated dan pre-packaged dengan
pertimbangan utama pada segi-segi ekonomi dan efisien serta berkembang menjadi norma estetio yang
disepakati bersama. Metabolisme didasarkan pada analogi organis dalam proses biologis untuk
pelestarian kehidupan melalui “continuous cycle” dalam pembentukan dan pemusnahan protiplasma.
Dalam berarsitektur istilah metabolism adalah penciptaan lingkungan dinamis yang dapat hidup tumbuh
dengan membuang bagian-bagian yang sudah rusak dan melahirkan elemen-elemen baru yang lebih
dibutuhkan. Arsitektur dianggap sebagai jasad hidup yang capable dalam bereaksi dengan berbagai
tingkat perubahan yang terjadi. Salah satu tujuan metabolism mengembangkan suatu building system
yang dapat mengatasi berbagai masalah-masalah didalam kehidupan masyarakat yang cenderung selalu
berubah cepat dan pada saat yang sama cenderung melestarikan tata kehidupan yang sudah mantap /
stabil. Gejala-gejala tersebut di atas jauh lebih kuat terjadi di Jepang daripada di negara-negara barat
lainnya sebab Jepang negara kepulauan, berpegunungan, kepadatan penduduk tinggi. Keadaan tersebut
telah merangsang penggalian elemen-elemen kunci yang terutama menyangkut “change ability” ,
“elasticity” dan “flexibility” yang tanggap terhadap dinamika perubahan.

Buku Ajar Teori Arsitektur 20


2. Konsep Rancangan dan Estetika
Paradigma-paradigma kultur dalam konsep, rancangan dan estetika yang melatar belakangi masa-masa
pre-modern sampai post-modern dapat diuraikan dalam tabel sebagai berikut :

Konsep Rancangan Estetika


Pre-Modern Masih kental dalam tradisi Campuran gaya historis. Logika konstruksi / struktur
kepercayaan dan religi. tersembunyi dibalik langgam
Perubahan berarti pada mode
ornamen.
Penemuan-penemuan baru dan dan cara kebiasaan masyarakat.
kebebabsan individual tapi masih Menggabungkan material-
Penerapan pengetahuan dan
mengadaptasi terhadap problem- material baru.
teknologi.
problem masa lalu.
Sintesa logam dan kaca, kayu
Ekspresi pada bentuk-bentuk
Kembali kepada inspirasi dan penerapan ornamen serta
alamiah, anti-tesis terhadap
alamiah. konstruksi dalam inspirasi
tampilan gemetris yang teratur.
alamiah yang menakjubkan.
Dimulai problem ledakan
Pre-fabrikasi dimulai.
penduduk. Penataan dan keindahan
lingkungan.
Modern Universal Meninggalkan asal daerah dan Estetika arsitektur dan fungsi.
sejarah.
Kesederhanaan, kerapian, Cerminan bentuk teknik
ketelitian. Pemanfaatan teknologi. konstruksi, teknik ekonomi,
utilitas dan komunikasi.
Perubahan sosial dan ekonomi. Memeberi kenyamanan psikis
disamping fisik. Arsitektur sebagai bahasa.
Kesadaran akan penyuaian alam
dan lingkungan. Hubungan bangunan dan Keserba ragaman untuk
kegunaan, ketepatan material menghilangkan kesan monoton
Fragmentalisme arsitektur.
dan sistem konstruksi. yang dingin.
Tanggap akan dinamika
Elitisme profesi arsitektur.
perubahan.
Futuristik dan metabolistik.
Arsitektur adalah analogi
biologis.
Post-Modern Peka terhadap perubahan Pendekatan terhadap perubahan Perpaduan antara kesatuan
sejarah dan budaya. sejarah dan budaya. fungsi dan bentuk dalam
komponen dan komposisi/ unity.
Orientasi pada keberagaman Ruang-ruang dan bentuk sebagai
pandangan dan tata nilai. bahasa dan sarana komunikasi. Estetika mesin.
melebih-lebihkan teknologi Citra akan kesempurnaan Estetika struktur konstruksi dan
teknologi. bahan.

3. Contoh Kasus
Di Timur kultur Bali dengan perpaduan akal pikiran setempat dan kaidah-kaidah agama Hindu sangat
dominan dalam arsitekturnya. Kaidah-kaidah tersebut secara substansi masih relevan untuk
dikembangkan sampai sekarang.
Kultur Jepang setiap kali memang terkena pengaruh-pengaruh asing dari luar akan tetapi setiap kali itu
pulalah masyarakatnya merangkum dan mengadaptasi pengaruh-pengaruh tersebut sehingga terserap
menjadi kebudayaan mereka sendiri.
Sikap khas tersebut berpengaruh dalam arsitektur kontemporer Jepang. Prinsip-prinsip arsitektur Barat
yang dipelopori di Eropa dan Amerika pada awal sampai pertengahan abad duapuluh telah dipinjam dan
diserap sedemikian rupa oleh masyarakat Jepang sehingga memungkinkan adanya perkembangan dari
berbagai macam dan langgam arsitektur dan juga teknologi modern yang sangat impresif dan
revolusioner. Gagasan metabolis arsitek lahir dari empat arsitek dan seorang jurnalis di bidang arsitektur
yaitu Kisho Kurokawa, Fumihiko Maki, Masato Otaka, Kiyonori Kikutake dan Noburo Kawazoe.

Buku Ajar Teori Arsitektur 21


Gagasan Futuris telah diejawantahkan dengan sedikit perubahan oleh Kiyonori Kikutake pada Expo 70 di
Osaka dari Futuris Entertainment-tower karya Peter Cock untuk Montreal World Expo 1963.

J. PARADIGMA-PARADIGMA POST-MODERNISM
(Bagian ini banyak mengutip secara langsung dari Josef prijotomo yang menterjemahkan buku Theorizing
A New Agenda For Architecture karangan Kate Nesbitt, 1996).

1. Fenomenologis
Fenomenologis sebagai aliran filsafat ini sering dikatakan sebagai dasar dan landasan bagi post-
modernisme dalam bersikap terhadap tapak, tempat (place), lansekap, dan pembuatan arsitektur. Ahli-
ahli teoritisi di-era postmodernisme menggunakan fenomenologi “investigasi yang seksama atas
kesadaran beserta segenap obyeknya”, merupakan obyek kajian paara teoritisi tentang ketersambungan
antara arsitektur dengan tubuh manusia.
Beberapa teoritisi yang melakukan kajian terhadap fenomenologi arsitektur diantaranya :
Husserl, dengan dasar pekerjaan fenomenologinya adalah “investigasi yang seksama atas kesadaran
beserta obyeknya”
Martin Heidegger, dengan kajian fenomenologi-nya yang sangat penting untuk diketahui adalah
“bangunan (building) itu berbeda dengan hunian (dwelling). Hunian menurut Heidegger mengandung
makna “tinggal bersama benda” [dengan mengakui benda sebagai sebuah eksistensi, dan disini
dimasukkan golongan benda itu –catatan Josef Prijotomo]. Heidegger juga meyakini bahwasanya bahasa
membentuk pikiran-pikiran manusia, sedangkan pikiran dan puitika menjadi tuntutan bagi hadirnya
hunian.
Christian Norberg-Schultz, dengan melakukan penafsiran terhadap fenomenologi Heidegger. Mengatakan
potensi yang dimiliki oleh arsitektur adalah dalam mendukung keberadaan dan kehadiran dari hunian
(dwelling). Norberg-Schultz memang diakui sebagai pendekar utama dari fenomenologi arsitektur, yang
memiliki kepedulian yang tinggi tentang “konkretasi yang eksistensial” melalui pembuatan tempat (place).
Juhanni Pallasmo, banyak menyoroti aprehensi psikis dari arsitektur. Karena itulah dia berbicara tentang
“membuka cakrawala pandangan terhadap realitas kedua dari persepsi, mimpi, kenangan yang
terlupakan dan imajinasi”.

2. Linguistik
Restrukturisasi yang berlangsung dalam paradigma linguistik telah memberikan efeknya bagi kepedulian
post modern terhadap kritik kebudayaan. Semiotika, Strukturalisme, serta Poststrukturalisme tertentu
(termasuk Dekonstruksi) telah mengubah bangun dari (demikian) banyak disiplin pengetahuan, termasuk
susastra, filsafat, antropologi dan sosiologi.
Paradigma-paradigma baru yang membanjir ditahun 1960-an ternyata sejalan pula dengan
menggejolaknya perhatian dunia arsitektur dalam menghadirkan kembali makna dan simbolisme.
Para arsitek melakukan kajian bagaimanakah makna “dibawa” oleh bahasa dan mengaplikasikan kajian
itu, para arsitek melakukan kajian itu kedalam arsitektur, dengan melalui jalur “analogi linguistik”. Dalam
kajian itu, para arsitek mempertanyakan misalnya, sejauh manakah arsitektur itu bercorak kesepakatan
(convention) itu mampu memahami bagaimanakah kesepakatan itu menghasilkan makna.
Dalam menentang fungsionalisme modern sebagai sebuah “determinant of form”, dari sisi tinjauan
linguistik dikatakan bahwa obyek-obyek arsitektur itu tidak memiliki makna yang inheren. Makna itu
dikembangkan dalam arsitektur melalui kesepakatan budaya (cultural convention).

Buku Ajar Teori Arsitektur 22


3. Semiotika
Teori linguistik diperlukan oleh postmodern dalam penciptaan dan respsi (reception) makna. Dengan
menempatkan sebagai sebuah sistem yang tertutup, semiotika dan strukturalisme telah banyak
berurusan dengan bagaimanakah bahasa itu berkomunikasi?.
Sebagai sebuah sistem tanda (sign) yang memiliki dimensi tata susunan (structure) (syntactic) dan
dimensi makna (meaning) (semantic), semiotika atau semiologi melakukan pengkajian bahasa dengan
ancangan/pendekatan (approach) yang ilmiah. Disini, pertalian-pertalian struktural mengikat tanda
dengan komponen-komponennya (signifier/signified) bersama-sama.
Pertalian sintaktik adalah pertalian diantara tanda-tanda. Pertalian semantik yang berurusan dengan
makna, yakni pertalian antara tanda-tanda dengan obyek yang disuratkannya (di-denotasi-nya).
Beberapa asas penting telah dilontarkan oleh Peirce maupun Ferdinand de Saussure.
Sumbangan penting dari semiotika/logi diantaranya adalah pertama, bahasa dikaji secara sinkronik;
kedua, tanda (sign) dalam pengertian linguistik adalah sebuah pertalian struktural dari penanda (signifier)
dengan tertanda (signified). Tentu saja, tidak boleh dilupakan adalah gagasan yang mengatakan “bahasa
adalah sebuah sistem istilah/sebutan yang interdependen dimana nilai dari setiah istilah/sebutan yang
lain” [istilah/sebutan = term – catatan Josef Prijotomo].
Semenjak 1960-an, penerapan teori semiotik ini mampu memasuki disiplin arsitektur. Disini dapat
dimunculkan, misalnya saja, pandangan dari umberto eco yakni :
arsitektur dapat dipelajari sebagai sebuah sistem semiotik mengenai per-tanda-an (signification).
tanda arsitektural (morpheme) mengkomunikasikan fungsi yang memungkinkan (possible functional)
melalui sebuah “sistem sepakatan (konvensi) dan sistem aturan (code).
tanda (arsitektural) mendenotasikan fungsi primer dan mengkonotasikan fungsi sekunder, bila yang
dilakukan disini adalah penerapan literal dari fungsi-fungsi programatik.
Ringkasnya semiotik merupakan jalan yang dapat ditempuh oleh arsitektur dalam pengkajian arsitektur
sebagai sebuah medan kegiatan memproduksi pengetahuan [arsitektur].

4. Strukturalisme
Strukturalisme merupakan metoda kajian yang meyakini bahwa “hakekat yang benar dari sesuatu benda
tidak berada didalam benda itu sendiri, tetapi didalam pertalian-pertalian diantara benda-benda itu, yang
kita bangun (construct) untuk kemudian kita cerap (perceive).
Strukturalisme juga mengatakan bahwa dunia kita ini adalah jagad ke-bahasa-an, yakni sebuah struktur
pertalian penuh makna diantara berbagai tanda arbitrer. Dengan demikian, strukturalis menekankan
bahwa didalam sistem linguistik itu yang ada hanyalah perbedaan-perbedaan, tanpa istilah/sebutan yang
positif.
Struturalisme memusatkan perhatian pada aturan (code), sepakatan dan berbagai proses yang
bertanggung jawab terhadap inteligibilitasnya (inteligibility). Dengan kata lain, memusatkan perhatian
pada “bagaimanakah sebuah makna sosial diproduksi”. Sebagai sebuah metoda, strukturalisme tidak
berurusan dengan kandungan-kandungan tematik per-tanda-an, tetapi dengan “kondisi-kondisi per-tanda-
an”.
Strukturalisme itu bercorak lintas disiplin (cross-diciplinary) walaupun akarnya adalah linguistik dan
antropologi. Daya tarik struturalisme bagi arsitektur dapat ditunjukkan dari kutipan “strukturalis
menempatkan linguistik sebagai sebuah model dan berusaha untuk mengembangkan “tata-bahasa”
himpunan yang sistematik atas unsur-unsur beserta segenap kemungkinan kombinasinya yang akan
menentukan wujud dan makna dari karya susastra.”

5. Postrukturalisme
Perbedaan antara strukturalisme dan postrukturalisme dapat ditunjukkan lewat pernyataan Hal Foster.
Kalau strruktualisme berurusan dari stabilitas dari komponen-komponen tanda, maka poststrukturalisme

Buku Ajar Teori Arsitektur 23


bekerja dengan kelumatan kontemporer tanda-tanda dan terbebaskannya permainan penanda-penanda
(contemporary dissolution of the sign and the released play of signifiers). Memang, Rolan Barthes
menunjukkan bahwa penanda itu memiliki potensi untuk melakukan permainan bebas (free play) dan
penundaan tanpa akhir (endless defferal) atas makna-makna. Potensi ini dapat dilihat dari mata rantai
metafora yang tak berhingga banyaknya.
Poststrukturalisme memang boleh saja ditempatkan sebagai kritik terhadap tanda-tanda. Liahat saja
pertanyaan yang dilontarkannya “apakah tanda itu memang benar hanya terdiri dari dua bagian (penanda
dan tertanda), ataukah dia juga bergantung pada kehadiran dari penanda lain yang tidak digandeng oleh
tanda tadi (mengingat penanda lain itulah yang menentukan adanya perbedaan-perbedaan tanda)” [lihat
saja contoh kasus bendera merah putih yang adalah bendera Monaco dan bendera Indonesia. Adalah
perbedaan dari Monaco dan Indonesia yang menjadikan merah putihnya Monaco bukanlah merah
putihnya Indonesia. – catatan Prijotomo].
Terry Eagleton lantas mengatakan bahwa strukturalisme membagi tanda dari sisi pengacu (referent – the
object refered to), sedangkan poststrukturalisme melangkahg lebih lanjut, yakni membagi penanda dan
tertanda yang masing-masing adalah sebuah entitas mandiri. Akibatnya, makna makna tidak dengan
serta merta hadir dalam sebuah tanda [makna_itu_dihadir_kan- catatan Josef Prijotomo.

6. Dekonstruksi
Dekonstruksi merupakan salah satu manifestasi poststrukturalisme yang paling benar (significant).
Sebagai sebuah praktek filsafat dan linguistik, dekonstruksi melakukan pengamatan kritis terhadap dasar
dasar pemikiran logo-centrisme maupun disiplin-disiplin pengetahuan/keilmuan seumumnya.
Derrida mengatakan : “dekonstruksi menganalisa dan mempertanyakan segenap pasangan-pasangan
konseptual (conceptual pairs) [betul/salah, elite/proletar-jp] yang selama ini diterima sebagai kenyataan
yang alamiah dan tak perlu penjelasan karena sudah jelas, sepertinya pasangan konseptual itu tak
pernah dilembagakan pada suatu waktu yang tertentu…karena sudah dipandang cukup jelas, tidak
disadari bahwa pasangan konseptual ini menghalangi/mengharamkan kegiatan memikirkan kegiatannya.
Dekonstruksi cukup sopan santun dalam bekerja. Dia memualai kerjanya diarah pinggiran (margin)
sebuah teks/karya untuk selanjutnya melakukan eksposisi (memamerkan) dan menyikapkan tabir
pembungkus (dismantle) sehingga terkuak dan terlihatlah segenap oposisi dan kerawanan dari anggapan
anggapan yang dipakai untuk menstrukturkan teks/karya itu.
Setelah terkuak dan tersingkap, dekonstruksi lalu masuk gelanggang mengambil alih posisi sebagai
sebuah sistem. Bagaimana dia mengambil posisinya? Dengan menggelarkan apa yang oleh sejarah (dari
disiplin pengetahuan yang ditangani) telah disembunyikan atau disingkirkan agar disiplin tadi memperoleh
identitasnya.
Maksud dari dekonstruksi dalam bertindak seperti itu adalah untuk menggeser dan mengambil alih posisi
kategori-kategori filosofikal yang biner (berpasang-pasangan), misalnya pasangan absen/hadir
(absence/presence).
Pasangan-pasangan biner yang hirarkis itu tidak dilihat sebagai persoalan dalam posisi yang terisolasi
atau teriteral (pinggiran), tetapi dalam posisi yang sistemik dan represif. Disitu Derrida lalu mengatakan
bahwa tujuan dari arsitektur adalah mengontrol komunikasi dan transportasi sebagai sektor
kemasyarakatan, termasuk ekonomi. Memang dekonstruksi adalah bagian dari kritik postmodern yang
tujuan akhirnya adalah mengakhiri dominasi dari rencana-rencana arsitektur modern.
Lebih lengkap tentang pemahaman dan perspektif baru arsitekturnya Jacques Derrida :
tidak ada yang mutlak dalam arsitektur (cara, gaya, konsep)
tidak ada tokoh atau figur dalam arsitektur
perkembangan arsitektur harus mengarah pada keragaman pandangan dan tata nilai
disamping penglihatan, indera lain harus dimanfaatkan secara seimbang

Buku Ajar Teori Arsitektur 24


arsitektur tidak identik dengan produk bangunan bisa berupa : ide, gambar, model dan fisik bangunan
dalam jangkauan dan aksentuasi yang berbeda.
Gagasan dekonstruksi Jacques Derrida (sastra dan filsafat) dikembangkan dalam arsitektur oleh Peter
Eisenman dan Bernard Tschumi sebagai teori dan praktek arsitektur yang berciri penyangkalan terhadap
epistemologi arsitektur klasik dan modern dan prinsip perancangannya non klasik, dekomposisi,
desentring, dislokasi dan diskontuinitas].
Postmodernisme juga ditandai oleh pendalaman dan pemekaran paradigma-paradigma teoritik ataupun
oleh kerangka-kerangka kerja ideologikal yang kesemuanya itu membentuk kerangka (struktur/structure)
dari debat-debat tematik dari dan tentang postmodernisme. Paradigma-paradigma ini diimpor di luar
arsitektur. Paradigma-paradigma utama yang mampu membentuk teori-teori arsitektur pada masa post-
modernisme, diantaranya adalah paradigma fenomenologi dan paradigma linguistik.

K. PARADIGMA ENVIRONMENTALISM
Sudah sejak lama para teoritisi yang berpengaruh pada arsitektur menghadirkan pandangan dan
konsep-konsep tentang pentingnya menghadirkan kondisi lingkungan yang sehat dan nyaman sebagai
tujuan didalam perencanaan arsitektur. Teori yang memiliki kepedulian terhadap alam ini berfluktuasi
dari yang simpatik, harmonik, berintegrasi sehingga menempatkan alam sebagai potensi untuk
dieksploitasi.
Landasan teori ini muncul sebagai sikap terhadap tapak, tempat (place) lansekap dan pembuatan
arsitektur utamanya dalam hal tektonika. Kelompok ini menekankan pada pelestarian lingkungan hidup
dari kehancuran dan pencemaran. Pelestarian alam (bukit, pantai, hutan, sungai, laut, udara dsb) dan
kebersihan lingkungan binaan menjadi motto dalam karya-karya mereka. Hasil kemajuan teknologi yang
merusak dan pencemaran lingkungan binaan ditolak oleh mereka. Dengan paradigma lingkungan ini para
perancang mendasarkan konsepnya dengan pelestarian lingkungan dan penggunaan potensi alam
sebesar-besarnya untuk perencanaan lingkungan binaan.
Vitruvius secara eksplisit telah mengungkapkan hal ini dalam Bukunya The Ten Book On Architecture
yang kemudian ditegaskan kembali oleh Le Corbusier (1953) bahwa:
“The symphony of climate has not been understood …….The sun differs a long the curvature of the
meridian , its intensity varies on the crust of the earth according to its incidence……..in this play many
conditions are created which await adequate solutions. It is at this point that an authentic regionalism has
its rightful place”
Dalam “De Architectural” Vitruvius juga menyatakan bahwa bentukan arsitektur bangunan itu hendaknya
berbeda antara Mesir dan Spanyol, di Pontus dan Roma. Setiap negara dan wilayah mempunyai sifat
yang berbeda (Olgyay. 1976 :8)
Frank Lloyd Wright pada awal abad ke-20 menyampaikan suatu falsafah bahwa ‘setiap pemecahan
masalah arsitektur selalu berhubungan dengan alam atau lingkungan seperti iklim, topografi dan bahan
bangunan. Falsafah ini diterapkan pada karyanya Kauffman House ‘Falling Water’ di Amerika Serikat
yang menunjukkan keseimbangan yang dihasilkan antara bidang-bidang masif horizontal dengan karang
dan air terjun.
Alvar Aalto (1924) berfalsafah bahwa arsitektur adalah perencanaan yang memperhatikan pada alam dan
tidak tergantung pada bahan-bahan buatan pabrik. Karya Alvar Aalto yang menonjol sehubungan dengan
falsafah ini adalah Gereja di Muramme.
Di Amerika Latin Oscar Niemeyer (1937) menyatakan bahwa perencanaan arsitektur dipengaruhi oleh
penyesuaian terhadap alam dan lingkungan, penguasaan secara fungsional kematangan dan ketepatan
dalam pengolahan serta pemilihan bentuk bahan dan struktur. Salah satu karyanya yang berhasil didalam
mengolah sintesa arsitektur yang sadar lingkungan adalah Gedung Kementrian Pendidikan dan
Kesehatan Rio de Janeiro Brasilia yang menampilkan dominasi bentuk yang menggunakan peneduh
cahaya (sunscreen).

Buku Ajar Teori Arsitektur 25


Dalam perkembangan berikutnya pada era arsitektur modern muncul teori-teori yang lebih spesifik
mengenai pengaruh-pengaruh iklim, topografi dan bahan bangunan. Diantaranya adalah Bernard
Rudofsky (1964) yang menyatakan:
“ There is much to learn to architecture before it become an expert art the untutored builders in space
and time …….demonstrated and admirable talent for fitting their building into the natural surroundings
instead at trying to conquer the nature as we do they welcome the vagiries of climate and challenger of
topography”
Pada era selanjutnya yaitu era Pasca Modern teori tentang behaviorism berkembang menjadi sangat
kompleks karena arsitektur sebagai lingkungan binaan mengekspresikan berbagai fungsi. Teori ini
diantaranya dikembangkan oleh Christian Norberg Shultz dalam Intentions in Architecture (1987) bahwa
arsitektur atau lingkungan binaan memiliki berbagai fungsi diantaranya adalah sebagai pengendali faktor
alam (physical control), tempat kegiatan manusia (functional frame), lingkungan sosial (functional millieu)
dan lingkungan simbol (symbol millieu).
Geoffrey Broadbent dalam Design In Architecture (1968) menyatakan:
Arsitektur memancarkan/mengekspresikan berbagai fungsi yaitu filter lingkungan (environmental filter),
wadah kegiatan (container of activities), investasi (capital investment), fungsi simbolis (symbolic
function), pengubah perilaku (behavior modifier) dan fungsi estetika (aesthetic function).
Salah satu contoh karya arsitektur yang berfungsi sebagai environment filter adalah Roof House di
Selangor Kuala lumpur (1984) dan Menara Mesiniaga karya Kenneth Yeang, dimana kulit bangunan
didisain sebagai filter lingkungan. Demikian juga dengan Paul Rudolf di Jakarta dengan Wisma
Dharmala-nya berusaha mengakomodasi lingkungan kota dan iklim tropis Jakarta untuk bangunan tinggi.
Tinjauan terhadap Arsitektur tradisional, dalam perkembangan peradabannya manusia sudah lama
menemukan cara untuk menanggulangi pengaruh alam terhadap bangunan serta cara memanfaatkan
potensi alam untuk menciptakan kondisi ruang hunian yang mereka inginkan. Tanpa energi mekanik
disain arsitektur tradisional adalah sangat genius, sederhana dan efisien.
Hal ini disinggung oleh Le Corbusier (1913) :
“ Despite meager resource, primitive people have designed dwellings that succesfully meet the severest
climate problems, this simple shelters often outperforms of present day architecture”

Daftar Pustaka
Arg, Isaac, Pendekatan Kepada Perancangan Arsitektur, Inter Matra.
Bakker, Anton, 1999, Kosmologi & Ekologi, Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga, Kanisius,
Yogyakarta, 1995.
Budiharjo, Eko, 1997, Arsitektur Sebagai warisan Budaya, Djambatan, Jakarta.
D.K, Ching, F, 1993, Arsitektur, Bentuk, Ruang dan Susunannya, Terjemahan. Airlangga, Jakarta.
Hanoto, Paulus, Adjie, 1996, Arsitektur : Bentuk, Ruang dan Susunannya, Erlangga. Surabaya.
Nesbitt, Kate, 1996, Theorizing a New Agenda For Architecture, Princeton Architectural Press, New York..
Mangunwijaya, YB, 1988, Wastu Citra, Gramedia, Jakarta.
Olgyay, V, 1957, Design With Climate, Princeton University Press, Princeton, N, J.
Roesmanto, Totok, 1999, Teori Arsitektur di Dunia Timur, Bahan Penataran Dosen PTS angkatan III di
Bogor, tidak dipublikasikan.
Van, Cornelis, de Ven, 1991. Ruang Dalam Arsitektur. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Buku Ajar Teori Arsitektur 26


Menurut para modernis, fungsi dapat dikategorikan sebagai penentu bentuk atau panduan menuju
bentuk. Fungsi menunjukkan ke arah mana bentuk harus ditentukan. (Yuswadi Saliya, 1999). Hal ini
mengacu pada slogan yang diungkapkan oleh Louis Sullivan yaitu form follows function.
Sebenarnya jika kita bicara mengenai arsitektur, maka kita tidak hanya bicara tentang fungsi dan bentuk
saja. Masih ada unsur-unsur lain yang juga terkait erat dengan arsitektur, yang merupakan konsekuensi
logis dari adanya fungsi. Karena fungsi merupakan gambaran dari kegiatan, dimana kegiatan tersebut
membutuhkan tempat/ruang untuk keberlangsungannya. Sehingga jika kita membahas fungsi, tentunya
akan berlanjut dengan pembahasan tentang ruang. Sedangkan bentuk yang menurut Sullivan merupakan
akibat dari pewadahan fungsi, dapat memberikan ekspresi tertentu. Jadi pembahasan fungsi tidak dapat
dipisahkan dari pembahasan tentang ruang, bentuk dan ekspresi bentuk yang dihasilkan.
Kaitannya dengan arsitektur adalah bahwa arsitektur merupakan perwujudan fisik sebagai wadah
kegiatan manusia. Bagaimanapun juga unsur-unsur Fungsi, Ruang, Bentuk dan Ekspresi akan
menentukan bagaimana arsitektur dapat meninggikan nilai suatu karya, memperoleh tanggapan serta
mengungkapkan suatu makna. Oleh karenanya penyajian ini adalah sebagai sarana untuk memecahkan
suatu masalah sebagai tanggapan atas kondisi-kondisi lingkupnya secara arsitektural, yang saling
berkaitan.

A. FUNGSI

1. Pengertian fungsi
Pengertian umum bagi para ahli bahasa (linguist) fungsi adalah:
the approach to language study that is concerned with the functions performed by language, primarily in
terms of cognition ( relating information ), expression ( indicating mood ), and conation. ( Encyclopedia
Britanica, 15th edition, 357 )
(Pendekatan pada studi bahasa yang berkenaan dengan fungsi yang ditunjukkan oleh bahasa, terutama
dalam hal kejadian ( Informasi yang berhubungan ), ekspresi ( mengindikasikan suasana hati ), dan
pengaruh keahlian.
Pengertian umum bagi para sosiologis (linguist) fungsi adalah:
theory of relationship of parts of society to the whole and of one part to another. The approach gained
prominance in the works of 19th-century sociologi, particularly those who viewed societies as organism.(
Encyclopedia Britanica, 15th edition, 357 ).
(Teori tentang hubungan bagian-bagian dalam masyarakat pada keseluruhan dan satu dengan yang lain.
Pendekatannya terkemuka dalam pekerjaan sosiolog pada abad, khususnya mereka yang melihat
masyarakat sebagai organisme).

Buku Ajar Teori Arsitektur 27


Sementara itu pengertian arsitekturalnya adalah:
Architectural principle according to which the form of a building is to be derived from the function it is
intended to fulfill; the schematic and technological aspect of architectural modernism (Rationalism),
whosee wider theoretical stance comprises also philosophical, political, social, economic, stylistic and
symbolical questions. ( Encyclopedia of 20th century architecture, 112).
(Suatu prinsip arsitektural dimana bentuk suatu bangunan harus diperoleh dari fungsi yang harus
dipenuhinya; aspek skematis dan teknis dari modernisasi arsitektural (rasionalisme), yang pendirian
teoritisnya yang lebih luas juga membentuk pertanyaan simbolik, filsafat, politik, sosial dan ekonomi).
“Function” is here understood in both a traditional sense and a new sense. The traditional understanding
of ’function’, which is also the foundation of my use of the word, is ‘utility’, “Fitness for purpose”, it is the
“task” a building is meant to fulfill, the effect it has on those who use or view it. It is thus the “commodity”
of Vitruvius’s “commodity, firmness, and delight, “ while “firmness” and “delight” are respectively technics
and form. These three are the inseperable dimensions of a work of architecture, and we may speak of
“function” by itself only for the purposes of analysis and only with the understanding that in reality it
cannot exist without form and construction materials and technique. (The Concept of Function in Twentiet-
Century Architectural Criticism, 1).
(Fungsi (traditional understanding) ;’utility’, fitness for purpose (ketepatan guna), ‘task’ (tugas/guna) yang
harus dipenuhi oleh suatu bangun, efek/pengaruhnya terhadap pengguna ataupun pengamat. Commodity
bagi teori Vitruvius tentang “Commodity, Firmness and Delight”, “Firmness = technics”, “Delight = form”.
Ketiganya adalah dimensi yang tidak terpisahkan dari sebuah karya/pekerjaan arsitektur, dan “Fungsi”
sendiri dapat dibicarakahanya dalam tujuan-tujuan analisis dan dengan pengertian bahwa dalam
kenyataannya fungsi tidak bisa “ada” (exist) tanpa bentuk dan material konstruksi dan teknik.

2. Multifungsionalitas Arsitektur
Dalam kegiatan perancangan kita tidak pernah lepas dari istilah “fungsi”. Sayangnya istilah “fungsi”
seringkali sangat dibatasi pada pengertian fungsi sebagai wadah aktivitas manusia baik didalam maupun
di luar bangunan. Pengertian yang sempit ini mengakibatkan pengkaburan makna “arsitektur” dan
“bangunan”. Dari kamus Webster dapat dilihat bahwa fungsi dapat memiliki pengertian aktivitas, peran,
peruntukan, tugas dan tanggung jawab.
Menyadari hal ini, maka sangat dimungkinkan kita akan berhadapan dengan sebuah obyek yang
melaksanakan satu atau beberapa atau bahkan seluruh fungsi. Keadaan dimana arsitektur memiliki
kemampuan untuk menjalankan serta melaksanakan berbagai fungsi dikatakan sebagai
Multifungsionalitas Arsitektur. (Josef Prijotomo, 1998).
Seiring dengan perkembangan pemikiran multifungsi ini, beberapa orang, baik yang berkecimpung dalam
bidang arsitektur maupun orang yang berada diluar arsitektur mencoba untuk melontarkan beberapa
fungsi yang dapat dilaksanakan oleh arsitektur. Tokoh-tokoh tersebut adalah :

3. Geoffrey Broadbent
Broadbent menelorkan enam fungsi yang dapat dilaksanakan oleh Arsitektur untuk menjawab pertanyaan
: apa yang dituntut oleh bangunan ? Keenam fungsi tersebut adalah
Environmental filter (=modifier of the physical climate). Bangunan bisa mengontrol iklim. Bangunan
berperan sebagai saringan atau filter antara lingkungan luar dengan kegiatan yang akan kita lakukan.
Bangunan dapat membantu kita untuk membuat kondisi-kondisi agar kegiatan-kegiatan dapat
dilaksanakan dengan menyenangkan dan dalam kenyamanan. Kita bisa menentukan ruang-ruang mana
yang harus dekat satu sama lain dan yang mana yang bisa dijauhkan.
Container of activities. Bangunan sebagai wadah kegiatan-kegiatan yang menempatkannya pada tempat
yang khusus dan tertentu.

Buku Ajar Teori Arsitektur 28


Capital invesment (=changer of land-value). Dalam pengertian ini bangunan dapat memberikan nilai lebih
pada tapak. Keduanya dapat menjadi sumber investasi yang baik.
Symbolic function (=cultural implication). Dalam pengertian ini bangunan dapat memberikan nilai-nilai
symbolik terutama pada kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan ataupun yang berimplifikasi budaya.
Behavior modifier. Pada fungsi behavior modifier, bangunan dapat mengubah perilaku dan kebiasaan,
sesuai dengan suasana ruang.
Aesthetic function (=pursuit of delight). Pada pengertian ini bangunan-bangunan akan menyenangkan bila
bangunan tampak bagus/cantik, sesuai dengan imajinasi yang fashionable saat ini, sesuai dengan asas-
asas tertentu dari order visual dan lain-lain.
Jadi Broadbent memahami fungsi sebagai apa saja yang dipancarkan dan diinformasikan oleh arsitektur
melalui panca indera kita.

4. Christian Norberg-Schultz
Christian Norberg-Schultz memunculkan empat fungsi yang dapat dilaksanakan oleh arsitektur untuk
menjawab : apa tugas bangunan. Keempat fungsi tersebut adalah :
Physical control. Peranan dari physical control pada fungsi dan peran bangunan meliputi pengontrolan
iklim (udara, kelembaban, temperatur, angin, curah hujan, dll), cahaya, suara, bau, hal-hal lain seperti
debu, asap, serangga, hewan dan manusia serta radioaktif. Kebanyakan dari faktor-faktor tersebut diatas
bersifat geographis dan dapat dipahami bahwa semua aspek physical control berkaitan dengan
hubungan antara bangunan dan lingkungannya. Lingkungan mempengaruhi bangunan dengan energi-
energi yang harus dikontrol. Jadi physical control terdiri dari hubungan-hubungan antara bangunan
dengan lingkungannya, artinya physical control tergantung pada kegiatan manusia yang harus dilayani
dan ditampung oleh bangunan. Fungsi-fungsi bangunan dapat mengubah kebutuhan-kebutuhan akan
pemanasan, iluminasi, akustik ataupun pengkondisian udara. Karena itu arsitek memerlukan abstraksi
tentang apa-apa yang berhubungan langsung dengan aspek fisik pada bangunan. Misalnya kita bisa
menyelidiki kemampuan bahan bangunan sebagai insulator terhadap dingin, suara, kelembaban dan
sebagainya. Kita juga dapat memanfaatkan bantuan alat-alat secara mekanis untuk menciptakan ‘iklim
artifisial’. Kita juga dapat mempelajari physical control sebagai sebuah ‘pertukaran energi’. Untuk itu kita
dapat menggunakan konsep ‘filter’ (saringan), ‘connector’ (penghubung), ‘barier’ (pemisah), ‘switch’
(pengubah). Dinding tebal dapat berfungsi sebagai filter terhadap panas dan dingin, dan sebagai
pelindung terhadap cahaya. Pintu dan jendela mempunyai karakter seperti ‘switch’ (pengubah) karena
mereka dapat memutus dan menghubungkan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan
elemen-elemen untuk menghubungkan dan memisahkan. Physical control tidak hanya berpengaruh pada
organisasi dalam ruang dan solusi teknik, tetapi juga orientasi terhadap sinar matahari dan angin. Pada
daerah-daerah dengan iklim yang berat, dinding luar harus sependek mungkin atau menggunakan alat-
alat pelindung seperti penonjolan atap dan sebagainya. Dalam hal ini physical control juga menentukan
apa yang disebut ‘karakter regional’.
Functional frame. Pada functional frame akan banyak dibahas aspek-aspek fisik tingkah laku manusia.
Pada dasarnya manusia selalu melakukan kegiatan, sehingga membutuhkan wadah arsitektural untuk
menampung kegiatan tersebut. Perlu diingat bahwa dua bangunan dapat berperan dengan baik untuk
fungsi yang sama tanpa harus menciptakan suasana yang sama. Suasana dapat berubah sejalan dengan
sejarah, sementara fungsinya tetap. Fungsi akan berubah bila terjadi perubahan yang mendasar pada
gaya hidup kita. Fakta menyatakan bahwa setiap kegiatan membutuhkan ruang (space) tertentu. Ruang
dapat memiliki ukuran yang tepat (misalnya lapangan tennis), tetapi dapat pula bervariasi (lebih-kurang).
Fungsi tidak hanya menentukan ukuran ruang-ruang, tetapi biasanya juga menentukan bentuk. Sejumlah
restoran untuk jumlah pengunjung tertentu bisa berbentuk lingkaran, bujur sangkar, persegi panjang atau
tidak beraturan. Yang penting bentuk tersebut harus dapat menampung kegiatan/fungsi makan dan
pelayanan secara nyaman. Functional frame harus dapat beradaptasi terhadap kekomplekan kegiatan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa functional frame harus merepresentasikan sebuah struktur
kegiatan dengan memanifestasikan spatial,topologi, dankarakter dinamis dari fungsi-fungsi.

Buku Ajar Teori Arsitektur 29


Social Millieu. “Social Millieu” bisa menjadi ekspresi statis, peranan, kelompok, perkumpulan, institusi dan
sekelompok bangunan yang dapat mempresentasikan system social sebagai satu kesatuan, suatu
contoh Istana Raja dibuat lebih besar dari bangunan-bangunan lain dengantujuan untukmenunjukkan
status sosial. Secara umum dapat dikatakan peran serta aturan-aturan dalam hubungan manusia
membentuk sebagian dari peran bangunan. Bangunan dan lingkungannya memberi dan menampung
kehidupan manusia dan lingkungan yang tepat untuk kegiatan-kegiatan umum atau khusus. Lingkungan
memiliki karakter karena adanya kemungkinan-kemungkinan bagi kehidupan sosial, dimana kegiatan dan
persepsi harus memenuhi kebutuhan lingkungan tersebut. Lingkungan mempunyai arti relatif terhadap
kegiatan-kegiatan tertentu, lingkungan yang sama belum tentu tepat bagi segala macam interaksi. Idea
dari perbedaan lingkungan menurut struktur sosial secara tidak sadar menentukan sebagian besar
organisme urban pada masa lalu, dan juga bangunan-bangunan individual. Kita memiliki alasan-alasan
untuk percaya bahwa masalah-masalah yang sama akan timbul lagi kepermukaan. Sejauh ini orang
merasa puas dengan usaha-usaha membuat arsitektur fungsional yang lebih ekspresif tanpa
menekankan kebutuhan akan ekspresi yang layak dan relevan untuk memecahkan masalah ini, arsitek
perlu menggabungkan informasi psikologi dan sosiologi dalam mendefinisikan peran bangunan.
Cultural symbolization. Arsitektur adalah obyek budaya dan juga merupakan hasil karya manusia yang
melayani aktivitas-aktivitas manusia secara umum. Kita telah sepakat bahwa seni mengekspresikan nilai,
sementara sains menerangkan fakta-fakta, dan seni adalah salah satu alat untuk menyatakan nilai-nilai
budaya untuk kemudian dimasyarakatkan. Seni juga melambangkan obyek-obyek budaya. Bahwa
arsitektur dapat melambangkan obyek-obyek budaya adalah fakta empiris, karena sejarah arsitektur
menunjukkan bahwa aspek ini telah membentuk sebuah bagian penting dari peranan bangunan. Karena
struktur sosial didasari nilai-nilai umum dan sistim lambang (simbol), hal ini membuktikan bahwa simbol
budaya berhubungan erat dengan formasi ‘sosial mileu’. Dalam simbol-mileu, sosial mileu menjembatani
obyek-obyek budaya seperti nilai-nilai umum, konstruksi empiris (ilmiah), ide-ide filosofis, kode etik,
kepercayaan, dan kondisi ekonomi. Obyek-obyek dimanifestasikan melalui peranan sosial, kelompok dan
institusi, serta melalui obyek-obyek fisik yang melayani kehidupan sosial. Diskusi tentang simbol-mileu
menjadi jelas jika kita menghindari pencampuran obyek budaya dan sosial secara berbaur. Adalah
penting untuk memisahkan antara interaksi dan nilai, bahkan jika mereka muncul sebagai aspek-aspek
dalam tingkat urusan yang sama. Kita dapat menyimpulkan bahwa setiap mileu sosial tidak langsung
melambangkan obyek-obyek budaya, sementara perlambangan budaya dapat juga terjadi secara
langsung dengan membiarkan bentuk-bentuk arsitektur tertentu menunjukkan obyek budaya tertentu.
Kedua kemungkinan tersebut bisa saja digabungkan. Dapat dipertanyakan apakah ‘penting’ bahwa
arsitektur harus melambangkan obyek budaya secara langsung? Melalui simbolisasi budaya, arsitektur
dapat menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari memiliki makna yang melebihi situasi saat itu, bahwa
arsitektur membentuk sebagian dari kesinambungan sejarah dan budaya. Dalam perealisasian makna-
makna arsitektur melengkapi satu titik landas untuk perkembangan budaya
Jadi Christian Norberg Schultz memahami ‘fungsi’ sebagai tugas dan pekerjaan yang harus dijalankan
oleh suatu lingkungan binaan.

5. Larry R. Ligo
Ligo memunculkan lima fungsi yang dapat dijalankan oleh arsitektur untuk menjawab fungsi sebagai
konsep.Kelima fungsi bangunan menurut Ligo (dari Concepts of Function of the Twentieth Century
Architecture) adalah :
Structural articulation (Artikulasi Struktural). Menunjuk baik pada pengupasan, dalam desain, dari material
struktur dan metode sebuah bangunan (misalnya: “fungsi” material dan metode), maupun pada artikulasi
eksterior bangunan dengan variasi kegiatan yang terkandung didalamnya.
Physical function (Fungsi Fisik). Meliputi kontrol dari faktor lingkungan (environmental factors) dan
akomodasi bangunan terhadap aspek-aspek fisik dari tujuan yang diinginkan, aspek-aspek seperti pola-
pola jalan dan fleksibilitas dari pengaturan ruang.
Psychological function (Fungsi Psikologi). Mengacu pada “feelings” (perasaan/rasa) dimana bangunan-
bangunan itu berbaur dengan pengamat-pengamatnya, penghuni/pemakai dan pengkritiknya, termasuk

Buku Ajar Teori Arsitektur 30


penyakit-penyakit psikologis seperti vertigo, claustrophobia, kebingungan arah (direction), kenyamanan
fisik atau kurangnya rasa dan emosi yang spesifik/khas.
Social function (Fungsi Sosial). Mengacu pada konkritisasi dari institusi sosial dan karakteristik yang
bernilai dari budaya atau masa tertentu.
Cultural/existential function (Fungsi Budaya/Keberadaan). Mengacu kepada konkritisasi dari nilai-nilai
universal atau struktur subconcious dari spatial dan orientasi psikologis yang berhubungan lebih kepada
esensi kemanusiaan daripada kepada hidup manusia dalam satu waktu dan tempat tertentu.
Jadi Larry L. Ligo memahami fungsi sebagai “tugas/pekerjaan ataupun efek-efek” yang dapat ditimbulkan
oleh arsitektur.

6. Jan Mukarowsky,
Jan Mukarowsky adalah orang yang berada diluar dunia Arsitektur. Beliau memahami fungsi sebagai
segenap potensi arsitektur untuk memberikan makna terhadap lingkungan binaan. Dengan titik tinjau ini,
Mukarowsky melihat adanya lima fungsi bangunan. Kelima fungsi tersebut adalah :
Referential function (Fungsi Referensi). Fungsi referensi ini mengacu pada sentuhan-sentuhan
tradisional, dimana variasi kebiasaan hidup berbeda antara bangunan yang satu dengan yang lain
dengan komposisi-komposisi bagiannya.
Aesthetic function (Fungsi Estetika). Fungsi estetika merupakan sesuatu yang potensial untuk bisa
ditonjolkan dari suatu tipe bangunan dan tidak ada pula batasan yang tegas antara struktur dan fungsi
estetika yang dominan. Ruang lingkup fungsi estetika ini meliputi keharmonisan antara warna, textur,
media, wujud geometri dan kesesuaian pengaturan komposisi pada lingkungannya.
Allusory function (Fungsi Perumpamaan). Didalam suatu teori arsitektural, fungsi perumpamaan ini
didasarkan pada manifestasi referensi sejarah, misalnya dengan menonjolkan sebagian atau beberapa
bagian bangunan bersejarah kedalam bentuk bangunan yang akan dibuat pada masa sekarang, seperti
pada kasus restoran di suatu kota Eropa yang beberapa bagian komponen bangunannya meniru gaya
pondok bangsa Polinesia.
Territorial function (Fungsi Teritorial). Instruksi-instruksi yang digunakan untuk membedakan fungsi ruang
yang ada pada suatu bangunan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menggunakan alat-alat
tertentu, tanda-tanda penulisan dan alat-alat grafis. Misalnya membuat tulisan “EXIT” untuk menunjukkan
pintu ke luar bangunan, “DON’T GO DOWN THE UP STAIRCASE” untuk menunjukkan bahwa kita tidak
boleh menggunakan tangga untuk turun tetapi tangga tersebut digunakan untuk naik, dan sebagainya.
Expressive function (Fungsi Ekspresif). Fungsi ekspresif adalah suatu bentuk penekanan terhadap
bermacam-macam aspek identitas, yang juga merupakan pengejawantahan dari aspek-aspek identitas itu
sendiri, melalui isyarat-isyarat atau penanda yang diberikan pada bangunannya. Isyarat atau penanda itu
diterjemahkan pula kedalam seni arsitektur sebagai pembedaan fungsi serta untuk siapa ruangan yang
ada pada bangunan tersebut ditujukan. Isyarat-isyarat seperti ini akan melibatkan detail-detail geometri
atau bentuk-bentuk spatial, penggunaan material yang khas, warna, tekstur, norma-norma pemakaian
dan ketepata.
Jan Mukarowsky mengatakan bahwa fungsi bangunan ditentukan oleh:
Tujuan langsung dalam konteks penggunaannya.
Tujuan historis, dimana fungsionalitas tidak hanya ditentukan oleh suatu anggapan praktis secara
langsung tetapi juga oleh peraturan-peraturan yang tidak berubah (seperangkat norma-norma) untuk
struktur semacam ini dan perkembangan sebelumnya. (Mukarowsky 1972 : 242).
Dari uraian tentang berbagai fungsi yang dapat diperankan oleh arsitektur, Josef Prijotomo (1998)
mencoba untuk memahami keragaman fungsi arsitektur dengan melihat beberapa hal sebagai berikut :
Arsitektur tidak hanya memiliki dan memerankan satu macam fungsi, melainkan mampu melaksanakan
sejumlah fungsi.

Buku Ajar Teori Arsitektur 31


Masing-masing fungsi yang dapat dilaksanakan oleh arsitektur itu terbentuk dari sudut tinjau dan
pemahaman tertentu atas arti dan pengertian dari fungsi yang dipakai oleh penulisnya.
Kesamaan maksud sebagaimana terjadi pada macam fungsi yang sama atau serupa (misal : container of
activities, functional frames, dan physical function) hendaknya tidak dimengerti sebagai kesamaan fungsi
didalam sebutan-sebutan yang berbeda, sebab sudut tinjau dan pengertian atas fungsi yang dipakai
saling berbeda.
Perbedaan-perbedaan dalam sudut tinjau sebenarnya dapat dimengerti dengan lebih mudah lagi bila kita
dapat membedakan macam-macam keadaan yang timbul pada saat manusia mengadakan kontak
dengan arsitektur.
Meski tak pernah dinyatakan secara tegas oleh masing-masing penulis, nampaknya semakin banyak
fungsi yang dapat dilaksanakan oleh arsitektur dapat dipakai untuk memberikan penilaian terhadap tinggi-
rendah, dan kaya-miskinnya kualitas sesuatu obyek bangunan sebagai sebuah karya arsitektur yang
memiliki mutu tertentu. Yang pasti semakin banyak fungsi yang dapat dilaksanakan oleh satu obyek
bangunan, maka kayalah kualitas kualitas arsitektural dari obyek tadi.
Perhatian untuk mendayagunakan fungsi demi fungsi diatas dapat saja diberlakukan terhadap bagian-
bagian arsitektur, dapat pula terhadap sekelompok arsitektur dalam sebuah lingkungan.
Meskipun secara teoritik masing-masing fungsi itu tak boleh dicampuradukkan sehingga dalam
mengamati bangunan dan mencandra fungsi bangunan kita tidak bisa menggunakan dua fungsi dari
Broadbent dan tiga fungsi lain dari Jan Mukarowsky, namun bagi kepentingan latihan untuk mengenal
dan memahami fungsi-fungsi arsitektur, langkah penggabungan beberapa fungsi dari sudut tinjau
berbeda bisa saja dilakukan. Hanya saja didalam langkah ini haruslah dengan jernih sekali dikenali
keadaan sudut tinjaunya. Contoh-contoh dapat dilihat pada gambar (3.1), (3.2), (3.3).

B. RUANG

1. Pengertian Ruang
Menurut Lao Tzu;
Ruang adalah “Kekosongan” yang ada disekitar kita maupun disekitar obyek atau benda, ruang yang
terkandung di dalam adalah lebih hakiki ketimbang materialnya,yakni masa. Kekosongan yang
terbingkaikan oleh elemen pembatas pintu dan jendela, boleh dianggap sebagai ruang transisi yang
membatasi bentuk arsitektur yang fundamental. Ada tiga tahapan hirarki ruang : pertama, ruang sebagai
hasil dari perangkaian secara tektonik (gambar: 3.4); kedua, ruang yang dilingkupi bentuk stereotomik
(gambar: 3.5 ) dan ketiga, ruang peralihan yang membentuk suatu hubungan antara dunia di dalam
dengan dunia diluar (gambar: 3.6).
Menurut Plato
Ruang adalah sesuatu yang dapat terlihat dan teraba, menjadi teraba karena memiliki karakter yang jelas
berbeda dengan semua unsur lainnya . Plato mengatakan : kini, segala sesuatunya harus berwadaq,
kasat mata, dan teraba: namun tak ada sesuatupun yang dapat kasat mata tanpa adanya api, tak ada
sesuatupun yang dapat teraba bila tak bermassa, dan tak ada sesuatupun yang dapat bermassa tanpa
adanya unsur tanah.Maka Tuhanpun menciptakan dunia dari api dan tanah ........ meletakkan air
dan udara diantara api dan tanah dan membuatnya sebanding antara yang satu dengan lainnya,
sehingga udara terhadap air sebanding dengan air terhadap tanah; demikianlah Ia membuat dunia ini
sebagai kesatuan yang kasat mata dan teraba. (Cornelis van de ven, 1995).
Menurut Aristoteles
Ruang adalah sebagai tempat (topos), tempat (topos) sebagai suatu dimana, atau suatu place of
belonging, yang menjadi lokasi yang tepat dimana setiap elemen fisik cenderung berada. Aristoteles
mengatakan ; ‘wadaq-wadaq semata bergerak ke atas dan ke bawah menuju tempatnya yang tetap’
dan’setiap hal berada di suatu tempat yakni dalam sebuah tempat’. ‘Suatu tempat, atau ruang, tidak
dapat memiliki suatu wadaq’. (Cornelis van de ven, 1995).

Buku Ajar Teori Arsitektur 32


Karakteristik dari ruang dirangkum menjadi lima butir :
Tempat melingkupi objek yang ada padanya.
Tempat bukan bagian dari yang dilingkunginya
Tempat dari suatu objek tidak lebih besar dan tidak lebih kecil dari objek tersebut
Tempat dapat ditinggalkan oleh objek serta dapat dipisahkan pula dari objek itu
Tempat selalu mengikuti objek, meskipun objek terus berpindah sampai berhenti pada posisinya.
(gambar: 3.7, 3.8 )
Menurut Josef Prijotomo
Ruang adalah bagian dari bangunan yang berupa rongga, sela yang terletak di antara dua objek dan
alam terbuka yang mengelilingi dan melingkupi kita. Bukan objek rinupa dan ragawi tidak terlihat hanya
dapat dirasakan oleh pendengaran, penciuman dan perabaan (gambar: 3.9, 3.10 )
Menurut Rudolf Arnheim
Ruang adalah sesuatu yang dapat dibayangkan sebagai satu kesatuan terbatas atau tidak terbatas,
seperti keadaan yang kosong yang sudah disiapkan mempunyai kapasitas untuk diisi barang.
Menurut Imanuel Kant
Ruang bukanlah suatu yang objektif atau nyata merupakan sesuatu yang subjektif sebagai hasil pikiran
dan perasaan manusia. Ruang merupakan suatu ide a priori, bukan suatu objek empirik, yang dihasilkan
dari pengalaman-pengalaman eksterior. Dalam bukunya Prolegomena, Kant menulis, bahwa konsep-
konsep a priori tidak berasal dari pengalaman, namun sepenuhnya berasal dari opini dalam pemahaman
murni. Selain dari a priori intuisi, kant juga mengenakan kualitas ketidakterbatasan terhadap ruang dan
waktu (gambar: 3.11, 3.12 )

2. Unsur Pembentuk Ruang


Ruang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara psikologis emosional (persepsi),
maupun dimensional. Manusia berada dalam ruang, bergerak serta menghayati, berfikir dan juga
menciptakan ruang untuk menyatakan bentuk dunianya.
Di dalam buku “Struktur Esensi Arsitektur” karya Forrest Wilson hal 15, Edward T. Hall menuliskan
hubungan antara manusia dengan ruang. Ia mengatakan : “Salah satu perasaan kita yang penting
mengenai ruang adalah perasaan teritorial. Perasaan ini memenuhi kebutuhan dasar akan identitas diri,
kenyamanan dan rasa aman pada pribadi manusia”.
Secara umum, ruang dibentuk oleh tiga elemen pembentuk ruang yaitu :
Bidang alas/lantai (the base plane). Oleh karena lantai merupakan pendukung kegiatan kita dalam suatu
bangunan, sudah tentu secara struktural harus kuat dan awet. Lantai juga merupakan unsur yang penting
di dalam sebuah ruang. Bentuk, warna, pola dan teksturnya akan menentukan sejauh mana bidang
tersebut akan menentukan batas-batas ruang danberfungsi sebagai dasar dimana secara visual unsur-
unsur lain di dalam ruang dapat dilihat. Tekstur dan kepadatan material di bawah kaki juga akan
mempengaruhi cara kita berjalan di atas permukaannya.
Bidang dinding/pembatas (the vertical space devider). Sebagai unsur perancangan bidang dindingdapat
menyatu dengan bidang lantai atau dibuat sebagai bidang yang terpisah. Bidang tersebut bisa sebagai
latar belakang yang netral untuk unsur-unsur lain di dalam ruang atau sebagai unsur visual yang aktif
didalamnya. Bidang dinding ini dapat juga transparan seperti halnya sebuah sumber cahaya atau suatu
pemandangan.
Bidang langit-langit/atap (the overhead plane). Bidang atap adalah unsur pelindung utama dari suatu
bangunan dan berfungsi untuk melindungi bagian dalam dari pengaruh iklim. Bentuknya ditentukan oleh
geometris dan jenis material yang digunakan pada strukturnya serta cara meletakkannya dan cara

Buku Ajar Teori Arsitektur 33


melintasi ruang di atas penyangganya. Secara visual bidang atap merupakan ’topi’ dari suatu bangunan
dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap bentuk bangunan dan pembayangan.

3. Hubungan Antara Penentu Keterangkuman dan Kualitas Ruang


Selain ketiga unsur pembentuk ruang tersebut di atas, terdapat beberapa faktor lain yang turut
mempengaruhi terbentuknya suatu ruang. Faktor-faktor tersebut adalah dimensi, wujud, konfigurasi,
permukaan, sisi bidang dan bukaan-bukaan. Suatu ruang tidak saja mempunyai bentuk secara fisik tetapi
juga mempunyai kualitas, secara fisik ruang dibentuk oleh bidang alas, bidang dinding dan bidang langit-
langit sedangkan kualitas ruang ditentukan oleh faktor-faktor tersebut diatas, yang disut sebagai faktor-
faktor penentu keterangkuman ruang.
Hubungan antara faktor-faktor penentu keterangkuman ruang dengan kualitas ruang yang dihasilkannya
disimpulkan di dalam matriks di bawah ini (gambar: 3.13):
Penentu keterangkuman Kualitas ruang
- Dimensi - Proporsi
- Skala

- Wujud - Bentuk
- Konfigurasi - Definisi

- Permukaan - Warna
- Sisi-sisi - Tekstur
- Pola

- Bukaan - Tingkat ketertutupan


- Cahaya
- Pandangan
Sebagai contoh, hubungan antara penentu keterangkuman ruang DIMENSI dengan kualitas ruang yang
dapat dihasilkannya melalui SKALA dan PROPORSI adalah bila kita ingin mendapatkan efek ruang yang
wajar, megah dan mencekam (lihat ilustrasi di bawah ini)
Dalam contoh ini, dimensi adalah ukuran panjang, lebar dan tinggi ruang. Skala wajar dihasilkan dengan
dimensi panjang, lebar dan tinggi ruang yang sebanding/sesuai dengan tinggi manusia normal,
contohnya pada bangunan rumah tinggal. Skala megah dapat dicapai dengan ukuran panjang, lebar dan
tinggi ruang yang jauh lebih besar dari ukuran manusia normal, contohnya pada bangunan-bangunan
monumental seperti istana, theatre dan lain sebagainya.
Wujud adalah ciri-ciri pokok yang menunjukkan bentuk. Dengan membuat konfigurasi tertentu dari
permukaan-permukaan dan sisi-sisi, maka akan dihasilkan suatu wujud tertentu pula. Semakin banyak
konfigurasi dari wujud suatu bangunan, akan semakin banyak ragam bentuk yang dihasilkan. Bentuk-
bentuk yang terjadi dari konfigurasi tersebut akan dapat memberikan pengaruh baik secara fisik maupun
secara psikologis kepada pengamat dan pengguna ruang. Misalnya konfigurasi bentuk ruang segi banyak
(segi enam, segi delapan, dsb), secara fisik akan memperngaruhi penataan perabot didalamnya dan
memberikan kesan kaku dan tegas terhadap ruang tersebut. Sedangkan bentuk ruang yang melengkung
(lingkaran, ellips, dsb) akan memperjelas adanya kontinuitas permukaan-permukaan bentuk,
kekompakan volume ruang dan kelembutan kontur.
Faktor keterangkuman ruang PERMUKAAN dan SISI-SISI akan menentukan kualitas ruang melalui
WARNA, TEKSTUR dan POLA. Dengan memberikan warna dan tekstur pada permukaan-permukaan

Buku Ajar Teori Arsitektur 34


bidang pembentuk ruang (lantai, dinding dan langit-langit) akan memberikan kesan tertentu pada ruang
yang bersangkutan. Kesan yang ditimbulkannya lebih bersifat psikologis daripada bersifat fisik. Sebagai
contoh, bila suatu ruang diberi warna-warna lembut dan cerah, maka ruang menjadi terasa lebih luas dan
pada gilirannya akan menyebabkan pengguna ruang menjadi lebih tenang dan nyaman. Sebaliknya jika
diberi warna-warna gelap dan warna-warna panas (merah, kuning, jingga) akan memberikan kesan
sempit atau bersemangat. Demikian pula dengan tekstur, baik halus maupun kasar akan memberikan
kesan berbeda pada suatu ruang atau bangunan, misalnya pada bangunan yang menggunakan beton
ekspos, maka kesan yang timbul adalah bangunan yang berat dan kokoh. Pola yang dibuat pada
penyusunan material penutup lantai (keramik, marmer, granit, dll) akan meningkatkan kualitas suatu
ruang, dari ruang yang ‘biasa-biasa’ saja menjadi ruang yang memiliki nilai estetika yang baik. Pola juga
dapat memperkuat atau menyamarkan kesan yang sudah ada. Misalnya, pada dinding yang tinggi dan
tidak terlalu lebar diberi pola garis-garis vertikal maka dinding tersebut akan terasa menjadi lebih tinggi,
tetapi jika diberi pola garis-garis horizontal, maka akan menyamarkan ketinggiannya (gambar: 3.14).
Contoh lainnya bisa kita ambil pada hubungan antara faktor keterangkuman ruang BUKAAN dengan
kualitas ruang yang dihasilkan dalam hal kenyamanan ruang. Ukuran, rupa dan letak dari bukaan atau
void di dalam bentuk penutupan ruang yang merangkum akan mempengaruhi nilai/kualitas dari suatu
ruang dalam hal: bentuk ruang yang terjadi, pencahayaan ruang dan penerangan pada permukaan-
permukaan dan bentuk-bentuknya, serta pada fokus dan orientasi ruang tersebut akibat dari adanya
bukaan. Contoh dapat dilihat pada gambar (3.15, 3.16, 3.17, 3.18).

C. BENTUK

1. Pengertian
Menurut Vitruvius, tidak ada istilah bentuk. Bentuk, bagi Vitruvius, bila mau dikaitkan dengan
fungsi/utilitas tentunya merupakan gabungan antara firmitas (technic) dengan venustas ( beauty/delight)
(Saliya, 1999).
Obyek-obyek dalam persepsi kita memiliki wujud/ujud (shape) (Abecrombie, 1984:37)
Wujud/Ujud merupakan hasil konfigurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi-sisi bentuk (
Ching,1979:50).

2. Ciri-Ciri Visual Bentuk


Ciri-ciri pokok yang menunjukkan bentuk, dimana ciri-ciri tersebut pada kenyataannya dipengaruhi oleh
keadaan bagaimana cara kita memandangnya. Juga merupakan sarana pokok yang memungkinkan kita
mengenal dan melihat serta meninjau latar belakang, persepsi kita terhadap satu dan yang lain, sangat
tergantung dari derajat ketajaman visual dalam arsitektur.
Bentuk dapat dikenali karena ia memiliki ciri-ciri visual, yaitu (Ching, 1979):
Wujud: adalah hasil konfigurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi-sisi bentuk
Dimensi: dimensi suatu bentuk adalah panjang, lebar dan tinggi. Dimensi-dimensi ini menentukan
proporsinya. Adapun skalanya ditentukan oleh perbandingan ukuran relatifnya terhadap bentuk-bentuk
lain di sekelilingnya.

Warna adalah corak, intensitas dan nada pada permukaan suatu bentuk. Warna adalah atribut yang
paling mencolok yang membedakan suatu bentuk terhadap lingkungannya. Warna juga mempengaruhi
bobot visual suatu bentuk.
Tekstur : adalah karakter permukaan suatu bentuk. Tekstur mempengaruhi perasaan kita pada waktu
menyentuh, juga pada saat kualitas pemantulan cahaya menimpa permukaan bentuk tersebut.
Posisi : adalah letak relatif suatu bentuk terhadap suatu lingkungan atau medan visual.

Buku Ajar Teori Arsitektur 35


Orientasi : adalah posisi relatif suatu bentuk terhadap bidang dasar, arah mata angin atau terhadap
pandangan seseorang yang melihatnya.
Inersia Visual : adalah derajad konsentrasi dan stabilitas suatu bentuk. Inersia suatu bentuk tergantung
pada geometri dan orientasi relatifnya terhadap bidang dasar dan garis pandangan kita.
Dengan penghayatan terhadap wujud kita bisa mendapatkan kepuasan. Wujud dapat menawan perhatian
kita, mengundang keingintahuan, memberikan sensasi yang menyenangkan ataupun tidak
menyenangkan dalam berbagai cara. Ada wujud-wujud yang memuat pesan-pesan khusus,
mempengaruhi kita dengan cara yang mudah dimengerti, sementara yang lain dengan cara yang sulit
dijelaskan. Dengan atau tanpa penjelasan, kekuatan wujud tidak dapat dipertentangkan (Abrecrombie,
1984).
Sebagai contoh dengan dimensi/ukurannya, Piramid adalah suatu wujud yang mempunyai suatu
kekuatan. Tentunya, effektifitasnya diperkaya oleh pengulangan melalui sejarah dan oleh kekayaan akan
asosiasi-asosiasinya yang terakumulasi (terkumpul). Bagi masyarakat Mesir, yang mengenalnya sebagai
transformasi ideal dan agung dari gundukan makam biasa, yang mempercayainya sebagai jaminan
keabadian pharaoh dan yang melihat lapisan atapnya yang berkilat memantulkan cahaya langsung
pertama dari matahari terbit, sebagai imaji kedewaan/ketuhanan -bagi mereka- jelas, piramid memiliki
arti yang tidak akan pernah kita peroleh kembali bagi kita saat ini. Sekalipun demikian, piramid masih
mempunyai pengaruh terhadap kita, walaupun masyarakat yang mengenal asal usulnya dan mempunyai
keyakinan terhadap pendirinya (masyarakat Mesir terhadap Pharaoh) sudah tidak ada (musnah),
wujudnya tetap ada dan tetap mempunyai kekuatan (dalam tingkat yang berbeda). Piramid mempunyai
kekuatan yang hakiki (gambar: 3.19).

Obelisk adalah salah satu bentuk yang memiliki daya tarik. Obelisk hampir selalu menarik perhatian.
Tidak dapat dipungkiri bahwa obelisk melambangkan ‘lingga’, tetapi bukan berarti asosiasi ini dilihat
sebagai satu-satunya sumber daya tariknya. Sumber tersebut mungkin sedikit lebih berkaitan dengan sex
daripada dengan sebuah isyarat melawan gravitasi, usaha melawan inertia. (gambar: 3.20).
Dome merupakan salah satu bentuk arsitektur yang mendasar. Dome berbeda dengan piramid dan
obelisk, memiliki tingkat bentuk yang berbeda dimana piramid dan obelisk dapat dikategorikan sebagai
obyek seni (sculpture). Dome dapat disebut sebagai sebuah ‘bentuk’ bangunan (building form), dalam arti
sebuah bentuk yang tidak hanya memiliki permukaan luar tetapi juga ruang dalam dan organisasi
(internal space). Dengan pengertian lain, secara umum, bentuk (form) lebih tinggi (superior) dari pada
wujud (shape), bahwa arsitektur berada pada potensinya yang paling tinggi ketika eksterior dan interior
dapat dipahami sebagai satu kesatuan. (gambar: 3.21)
Bentuk dapat diperkuat atau dilemahkan oleh bentuk lain. Untuk program-program fungsional pada
bangunan biasanya membutuhkan gabungan beberapa elemen. Hal ini tidak berarti menjadi keterbatasan
estetika. Arsitek dapat menghasilkan efek yang impresif dengan menggabungkan bentuk-bentuk.
Misalnya dengan menggunakan pengulangan bentuk-bentuk yang sama, atau mengejutkan dengan
mensejajarkan dua bentuk yang sama sekali berbeda, yang kemudian dapat menimbulkan penghargaan
bahwa perbedaan-perbedaan dapat digabungkan menjadi satu komposisi tunggal. Bentuk dapat
bergabung untuk menghasilkan komposisi yang koheren dengan cara persamaan, pengulangan ataupun
proporsi. Bentuk-bentuk yang sama tidak perlu benar-benar sama dan sebangun, untuk dapat dikenali
hubungan diantara mereka; kemiripan dalam satu keluarga sudah cukup, justru karena keberagaman
dapat menyenangkan, bahkan lebih disukai daripada kesamaan yang sempurna.

3. Ekspresi Bentuk
Ekspresi adalah apa yang kita lihat menurut pengaruh atau pengalaman sebelumnya.(Smithies,1984).
Oleh karena tiap orang memiliki keunikan latar belakang dan pengalaman yang berbeda-beda, maka
tanggapan terhadap ekspresi yang dimunculkan oleh suatu objek juga akan berbeda-beda.
Keunikan,latar belakang dan pengalaman yang berbeda diakibatkan oleh tingkat pendidikanyang
berbeda, agama yang berbeda atau juga akibat/ pengaruh mediamassa yang dikonsumsi oleh pengamat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian dari tanggapan itu bersifat subyektif. Meskipun demikianterdapat

Buku Ajar Teori Arsitektur 36


aspek ekspresi yang dapat dilihat secara obyektif. Dan setiap kerangka teori arsitektural senantiasa
mengandung ekspresi sebagai sebuah prinsip.
Ekspresi dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek, yakni:
Fungsi. Fungsi dapat melahirkan bentuk yang ekspresif misalnya kita membuat sebuah lumbung padi
dengan menitikberatkan pada pemenuhan fungsi, maka akan muncul bentuklumbung padi yang dapat
menghindari terjadinya pembusukan padi, menghindari gangguan tikus dan sebagainya (gambar: 3.22).
Struktur. Penonjolan struktur sebagai elemen estetis pada sebuah bangunan dapat melahirkan bentuk
yang ekspresif pula (gambar: 3.23).
Budaya. Misalnya pada bangunan tradisional. Ekspresi yang dimunculkan merupakan hasil tampilan
budaya. (gambar: 3.24).

4. Teori Gestalt tentang Ekspresi


Para psikolog Gestalt menduga bahwa terdapat sebuah pengalaman langsung dari kualitas ekspresi
dalam persepsi terhadap garis-garis, bidang-bidang, volume ataupun massa. Mereka merumuskan
bahwa pengalaman-pengalaman ini bukan hasil dari asosiasi intelektual melainkan hasil dari sebuah
gaung antara proses neurologis (syaraf) dan pola-pola lingkungan. Jadi bangunan dikatakan hidup,
tenang, atau berat bukan karena asosiasi antara pola-pola yang ada sekarang dengan rujukan tetapi
karena proses biologis dalam otak kita - konsep Isomorphism Gestalt (Lang, 1987)
Menurut interpretasi psikologi dari Teori Gestalt tentang proses persepsi visual, menyatakan bahwa
‘garis’ (line)dan ‘bentuk’(form) dari bangunan mengkomunikasikan makna-makna secara langsung
melalui garis itu sendiri dan bidang (Lang,1987). Contoh-contoh dari penerapan teori ini ada pada Chrisler
Building, ekspresi: menjulang tinggi.(soaring), (gambar: 3.25), Sydney Opera house,ekspresi: gelembung
(billowing ), (gambar: 3.26), dalam Gambar 3.27 menunjukkan ekspresi: statis. Ketiganya merupakan
kualitas ekspresif dari konfigurasi-konfigurasi spesifik. Interpretasi alternatif dari teori Gestalt adalah
bahwa ekspresi-ekspresi ini adalah hasil dari asosiasi-asosiasi yang dipelajari (Lang, 1987)

D. KETERKAITAN FUNGSI, RUANG, BENTUK DAN EKSPRESI


Fungsi dapat dikategorikan sebagai penentu atau panduan menuju bentuk. Fungsi menunjukkan kearah
mana bentuk harus ditemukan. Fungsi dan bentuk memang diperlukan untuk menjelaskan arsitektur, tapi
belum memadai (necessary but not sufficient) (Saliya, 1999).
Fungsi tidak mutlak menentukan bentuk. Konsep form follows function banyak dibantah oleh para
modernis. Sebagai contoh satu fungsi dapat menghasilkan bermacam-macam bentuk. Bentuk adalah
bagian integral dari kadar spiritual bagi pernyataan bangunan. Bentuk harus digunakan sebagai media
bagi komunikasi (ruang). Yaitu, akan mungkin melalui bentuk yang sesuai untuk memancarkan informasi
tertentu (Schirmbeck, 1988).
Bentuk dalam arsitektur meliputi permukaan luar dan ruang dalam. Pada saat yang sama, bentuk
maupun ruang mengakomodasi fungsi-fungsi (baik fungsi fisik maupun non fisik). Fungsi-fungsi tersebut
dapat dikomunikasikan kepada pengamat melalui bentuk. Kaitan-kaitan tersebut dapat menghasilkan
ekspresi bentuk. Dalam kenyatannya, keterkaitan fungsi, ruang dan bentuk dapat menghadirkan berbagai
macam ekspresi. Penangkapan ekspresi bentuk bisa sama ataupun berbeda pada setiap pengamat,
tergantung dari pengalaman dan latar belakang pengamat. (gambar: 3.28 - 3.34).

Daftar Pustaka
Abercrombie,Stanley, 1984, Architecture as Art An Esthetic Analysis, New York: Van Nostrand Reinhold
Arg, Isaac,1986, Pendekatan kepada Perancangan Arsitektur, Bandung:Intermatra
Ching, Francis DK.,1979, Arsitektur : Bentuk, Ruang dan Susunannya, Jakarta: Erlangga

Buku Ajar Teori Arsitektur 37


Ligo, Larry L., 1984,The Concept of Function in Twentieth-Century Architecture Criticism, Ann Arbor
Michigan: UMI Research Press
Mangunwijaya, YB, 1988, Wastu Citra, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Mayal,W.H., 1979, Principle In Design, London: Van Nostrand Reinhold
Orr,Frank, 1987, Skala dalam Arsitektur, Bandung : Abdi Widya
Prijotomo, Josef,1998, Multifungsionalitas Arsitektur, Makalah Penataran Dosen PTS
Prijotomo, Yosef, tanpa tahun, Istilah ,Filsafat, Dengan Pengertian dan Arsitekturnya, Tidak
dipublikasikan.
Schrimbeek,Egon,1988, Gagasan, Bentuk dan Arsitektur, Bandung : Intermatra
Smithies, Benneth, 1982, Prinsip-Prinsip Perancangan dalam Arsitektur, Bandung: Intermatra
White, Edward T., 1985, Buku Gambar Konsep, Bandung: Intermatra

Buku Ajar Teori Arsitektur 38


Dasar berfikir Barat senantiasa sesuai dengan runtutan logika. Adanya gejala selalu dianggap sebagai
kumpulan dari berbagai unsur. Kesatuan ini tidak akan berdiri sendiri, karena akan segera
melanjutkankan hubungan dengan unsur-unsur lain sehingga membentuk suatu konteks. Pemahaman
tentang gejala diatas dapat menjadi “obyektif” bila diamati dalam pola pikir logika. Para pakar arsitektur
Barat melihat arsitektur adalah suatu gejala.
Tulisan in dibagi dalam lima sub-bab berdasarkan tahapan perkembangan pemikiran tokoh-tokoh
arsitek atau periodisasi kurun waktu karya karya arsitektur yang menandai perkembangan tersebut
dibangun (ataupun dipikirkan oleh arsiteknya yang mungkin saja tidak diwujudkan dan dibangun).

A. TEORI ARSITEKTUR VITRUVIUS


Memperbincangkan teori arsitektur didunia Barat, sulit kiranya meninggalkan nama besar yang legendaris
Marcus Pollio Vitruvius. Dia adalah arsitek dan insinyur Romawi yang hidup pada abad I dan berperan
besar karena menulis buku arsitektur tertua yang sempat ditemukan oleh pakar Barat. Didalam buku A
History of Architecture Theory (Hanno-Walter Kruft, 1994: 21), diuraikan bahwa sebenarnya sebelum
Vitruvius, teori arsitektur Barat telah pernah terungkap yaitu pada zaman Yunani dan Romawi namun
karena karakterisitik data yang bersifat fana maka Dunia Barat menetapkan era Vitruvius-lah yang
dianggap sebagai cikal bakalnya teori arsitektur Barat.
Karya tulis Vitruvius terbagi dalam sepuluh buku sehingga diberi tajuk ‘ Sepuluh Buku Arsitektur (The Ten
Books on Architecture). Buku I menguraikan tentang pendidikan bagi arsitek. Didalamnya dimuat hal-
hal yang berhubungan dengan dasar-dasar estetika serta berbagai prinsip tentang teknik bangunan,
mekanika, arsitektur domestik bahkan sampai perencanaan perkotaan. Buku II memaparkan evolusi
arsitektur utamanya yang berkaitan dengan masalah material. Buku III, tentang bangunan peribadatan.
Buku IV menguraikan berbagai tipe bangunan peribadatan khususnya yang berhubungan dengan tata
atur (orders) dan teori proporsi. Buku V memuat tentang bangunan bangunan fasilitas umum seperti
teater. Buku VI mengulas tentang kebaradaan rumah pribadi. Buku VII berisikan penggunaan material
bangunan, sedangkan pada buku VIII, berisi tentang sistem perolehan atau pasok air. Adapun buku IX
mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan astronomi dan buku X menjelaskan tentang
konstruksi, mekanika dan permesinan.
Kesepuluh buku di atas mempunyai berbagai ragam pengantar yang pada intinya terdiri dari sosok
Vitruvius, fungsi dari suatu perlakuan secara runtut atas suatu hal atau yang lazim disebut treatis dan
berbagai problematika arsitektur secara umum. Dalam hal ini Vitruvius tampak berhasil menampilkan
konsepsi yang pada zamannya tergolong kontemporer. Tentang berbagai kesepakatan (treatis) dalam
dunia arsitektur yang pada masa itu banyak diimplementasikan untuk melayani Dinasti Agustus. Di dalam
buku ini juga didiskusikan tentang metoda dan berbagai aspek linguistik melalui berbagai ungkapan
material yang variatif. Dalam buku ke III misalnya, Vitruvius menetapkan unsur simetri sebagai prinsip
pertama di dalam penataan bangunan. Prinsip berikutnya adalah proporsi -- perbandingan bagian yang
terdapat dalam satu benda atau bentuk – yang terutama diaplikasikan pada tiang-tiang yang oleh
Vitruvius dikelompokkan menjadi berbagai jenis sesuai dengan temuannya di kuil Romawi. Di sini bagian-
bagian bangunan yang berhubungan dengan tiang dan balok di atasnya mendapat perhatian penuh.
Dalam buku yang ke IV, Vitruvius mengemukakan asal usul ketiga order dan proporsi Capital Corintian.
Dari sini, dia lebih jauh menjabarkan ornamen order tersebut serta melanjutkan dengan penjelasannya

Buku Ajar Teori Arsitektur 39


mengenai proporsi kuil Doric. Pembagian ruangan, penghadapan kuil yang harus kebagian langit barat
(bila ada upacara pengorbanan pelaksanaan acaranya akan menghadap ke timur) juga diaturnya.
Ketentuan tersebut berhubungan dengan pintu yang juga tunduk pada kaidah proporsi dan tata letak
vertikal maupun horizontal. Di dalam buku Vitruvius yang ke X, pada bagian pengantarnya, diuraikan
hubungan antara prakiraan dan biaya riil bangunan.Dia juga memperhitungkan adanya jasa arsitek yang
diasumsikan akan memberikan tambahan biaya pembangunan sekitar 25 %. Di dalam pengantar ini juga
diuraikan berbagai tekanan penting seperti matematika, geomatrika, disamping juga sistem kosmologi
yang dikaitkan dengan sistem pengaturan waktu.
Memperbincangkan teori arsitektur Barat versi Vitruvius, harus disebutkan pendahulu yang pernah
menuliskan dan mengiterpretasikan kembali teori tersebut yaitu Alberti dengan bukunya “Re de
Aedificatore” yang terbit pada abad pertengahan. Demikian pula dengan Andrea Palladio yang setia
mempraktekkan prinsip-prinsip geomatrika Vitruvius yang sempat diaplikasi pada karya monumentalnya
“Villa Capra” (oleh karena obyek tersebut dapat dinikmati dari keempat sisinya sehingga lebih dikenalnya
dengan sebutan Villa Rotunda, lihat gambar 41.1). Bahkan karena demikian menumentnya prinsip-prinsip
Vitruvius, sampai-sampai Paul-Alan Johnson, terlepas sengaja atau kebetulan pada tahun 1994 menulis
buku “The Theory of Architecture” yang juga memuat sepuluh bab. Walaupun buku ini bukan
merupakan penulisan kembali tentang teori teori Vitruvius namun penomena tersebut merupakan salah
satu bukti kesakralan Vitruvius.
Sorotan tajam tentang teori Vitruvius oleh para arsitek generasi akhir tampaknya lebih tertuju pada
pengertian arsitektur yang terurai menjadi tiga komponen pokok, yang dalam pengertiannya sering
disebut sebagai komponen struktur atau konstruksi atau kekuatan Firmitas, komponen fungsi atau guna
Utilitas dan komponen keindahan dan estetika Venustas.
Utilitas

Firmitas Venustas
Dalam buku Architecture and Phylosophys, Winand Klassen, (1992:4) mengungkapkan bahwa ketiga
komponen diatas firmitas terwujud dalam istilah daya tahan atau keawetan (durability). Di dalam bahasa
arsitektur istilah tersebut lebih dekat untuk ditafsirkan sebagai aspek struktur atau konstruksi. Komponen
kedua utilitas dimaksudkan sebagai perangkat yang dapat menyamankan kehidupan penghuni atau
pemakai (convenience). Oleh para arsitek generasi akhir lazim ditafsirkan sebagai fungsi atau manfaat.
Adapun komponen ketiga venustas, adalah dimaksudkan sebagai aspek keindahan (beauty). Hal ini oleh
bahasa arsitektur pantas disebut dengan istilah estetika. Dari ketiga komponen arsitektur (Firmitas,
Utilitas dan Venustas) Winand Klassen memberikan beberapa catatan diantaranya adalah adanya
indikasi pertambahan kompleksitas. Adapun gagasan suatu bangunan itu tersusun secara benar
(constructed firmly) sehingga konstruksi tersebut akan tetap kokoh, memang semua pihak akan
sependapat. Namun dalam pengamatan secara sekilas, diinformasikan bahwa material-material
bangunan yang ada bukan hanya sekedar dituntut kekokohan atau kekuatannya belaka, tetapi perlu
kualitas lainnya juga terungkap.
Di dalam hal keindahan, Vitruvius tidak menggunakan istilah pulchritudo, hal tersebut menurut analisis
Winand Klassen dikarenakan keindahan yang dimaksud adalah sangat agrsif (fertile), dinamis dan mudah
berkembang (growing) sehingga dalam konteks pembahasan tersebut, arsitektur memang membutuhkan
berbagai ragam dan cakupan keindahan.
Winand Klassen Vitruvius juga menyampaikan bahwa arsitektur itu seharusnya mampu mewadahi kondisi
manusia yang serba khas (specifically). Didasarkan hal ini, berangkat dari prinsip Vitruvius, masalah
sosok (figure) dari Leonardo da Vinci, sampai pada prinsip Modul yang digali oleh Le Corbusier, ternyata
masalah tubuh manusia masih berkesan sebagai sumber kekuatan dalam bentuk arsitektur. Sedangkan
pada sisi lain Winand Klassen menggagas dan sepakat dengan saran Charles Jenks bahwa dalam

Buku Ajar Teori Arsitektur 40


mengkaitkan istilah Firmitas, Utilitas dan Venustas, tampaknya dalam konteks kegunaan dan
kelazimannya akan lebih akrab digunakan istilah teknik, fungsi dan bentuk tentunya dengan
mempertimbangkan berbagai kompleksitas yang ada.

B. TEORI ARSITEKTUR KLASIK


Arsitektur Klasik merupakan ungkapan dan gambaran perjalanan sejarah arsitektur di Eropa yang
secara khusus menunjuk pada karya-karya arsitektur yang bernilai tinggi dan “first class”. Disebutkan
demikian karena karya-karya ini memperlihatkan aturan / pedoman yang ketat dan pertimbangan yang
hati-hati sebagai landasan berpikir dan mencipta karya tersebut. Rentang waktu zaman ini adalah dari
abad pertama sampai dengan abad ke-14 dengan hembusan angin Romantisism (sebelum masyarakat
Eropa memasuki jaman Renaissance sampai dengan pesan dan gerakan Rationalisme yang kuat).
Predikat kata ‘Klasik’ diberikan pada suatu karya arsitektur yang secara inheren (terkandung dalam
benda tersebut yang secara asosiatif seolah-olah selalu melekat dengannya) mengandung nilai-nilai
keabadian disamping ketinggian mutu dan nilainya. Teori arsitektur Klasik dengan demikian
merupakan suatu perwujudan karya arsitektur yang dilandasi dan dijiwai oleh gagasan dan
idealisme Teori Viruvius khususnya pada suatu kurun waktu sesudah Vitruvius sendiri meningal
dunia .
Bangunan Parthenon di Athena dan Pantheon di Roma merupakan contoh yang sangat baik dari
perwujudan teori arsitektur Klasik yang dengan sikap kehati-hatian dan seksama mempertimbangkan
prinsip-prinsip order, geometri dan ukuran-ukurannya, disertai dengan kehalusan seni “craftmanship”.
Perlu diketahui bahwa bangunan ini mengalami masa pembangunan yang lama, dari saat awal
konstruksi, revisi, perbaikan dan penyesuai berkali-kali hingga sampai pada bentuk akhirnya bisa
mencapai lebih dari 200 tahun.
Tradisi berarsitektur yang diawali oleh Vitruvius ternyata berlanjut terus dalam jaman Arsitektur
Klasik ini. Hal ini dapat kita jumpai dalam buku Ensiklopedi Romawi yang disusun oleh Marcus T.
Varro, dimana Isodore dari Seville menguraikan dan mengembangkan teori Vitruvius dalam tiga unsur
/ elemen bangunan yaitu DISPOSITIO, CONSTRUCTIO dan VENUSTAS. Dispositio adalah kegiatan-
kegiatan yang berhubungan dengan survai lapangan ataupun pekerjaan pada tapak yang ada, lantai
dan pondasi. Venustas adalah berhubungan dengan elemen-elemen yang ditambahkan pada
bangunan demi memenuhi hasrat akan rasa keindahan melalui seni ornamen ataupun dekorasi.
Uraian seperti ini menunjukkan sudah adanya pergeseran pandangan dari Teori Vitruvius.
Lebih jauh Isidore menyatakan apa itu order sebagai berikut:
“Kolom , dinamakan begitu karena tinggi dan bulat, menopang seluruh berat beban bangunan yang
ada. Ratio atau Proporsi yang lama menyatakan bahwa lebarnya adalah sepertiga dari tingginya.
Dikenal 4 jenis kolom yaitu : DORIC , IONIC , TUSCAN , DAN CORINTHIAN, yang berbeda beda satu
dengan yang lain dalam ketinggian dan diameter-nya. Jenis ke-5, dinamakan ATTIC yang
berpenampang persegi-4 ataupun lebih besar dan dibuat dari bata bata yang disusun.” (Isidore
dalam Varro, 19xx)
Pendapat Isidore ini dapat merupakan sejumlah aturan dan norma bagi karya-karya arsitektur
sesudahnya (contoh-contohnya dapat dilihat pada gambar. 4.4.1, 4.2.2 , 4.2.3, 4.2.4).
Nilai-nilai arsitektur Klasik dapat juga kita temukan pada bangunan-bangunan gereja yang sedang
mengawali pertumbuhan dan perkembangan sebagai agama yang baru dan menyebar hampir ke
seluruh benua Eropa saat itu. Salah satu bangunan tersebut adalah Hagia Sophia yang digambarkan
dalam suatu konteks urban pada saat itu sebagai berikut:
“Demikianlah bangunan Gereja ini berusaha memberikan sajian bentuk yang menakjubkan ...... sebab
gedung ini menggapai keatas langit sampai awan dan begitu menonjol diantara bangunan bangunan
yang lain , dari atas Gereja ini dapat melihat kebawah keseluruh pelosok kota Konstantinopel. Hagia
Sophia adalah bentuk yang demikian menyatu dengan kota Konstantinopel, tetapi dilain pihak
sedemikian bersinar dan indah, serta megah , khususnya dalam wawasan perspektivis “Bird’s Eye
View” . Dan semuanya ini menjadi lengkap dan sempurna dengan dipergunakannya bangunan ini

Buku Ajar Teori Arsitektur 41


untuk kegiatan upacara keagamaan” (Isidore dalam Varro, 19xx, secara visual, hal dapat dilihat pada
Gambar 4.2.5)
Teori Arsitektur Klasik ini kemudian berlanjut hingga jaman Gothic. Dan untuk meresapkan dan mengerti
Arsitektur Gothic ini diperlukan gambaran suasana masyarakatnya pada saat itu dimana timbul spirit
kejiwaan yang berusaha mencari hakekat sifat-sifat Tuhan yang Ilahi. Spirit kejiwaan ini dituangkan
dalam suatu tema “cahaya Ke-Ilahian dalam ruang arsitektur” (Ven, 1991). Kualitas ruang Arsitektur
Klasik Gothik ini dinyatakan sebagai keindahan visual yang atmosferik, seperti diaphanitas
(kesemrawangan), densitas (kepekatan), obscuritas (kegelapan) atau umbria (bayangan). Gambaran
ruang Arsitektur Gothic ini juga dinyatakan sebagai konsep kecerlangan atau kebeningan yang
antara lain dapat dilihat pada bentuk bentuk jendela khususnya bentuk jendela mawar stained-glass
(rosetta) ataupun karya seni kaca timah lainnya.
Hal inilah yang diapresiasikan sebagai prinsip transparancy dalam usaha mengerti dan menangkap
“cahaya yang datang dari luar”. Di lain pihak ada karya karya gereja Gothic yang meminimalisir
banyaknya cahaya yang datang, atau bahkan ada semacam peningkatan sensasi persepsional
sampai ke tingkat imaterial. Beberapa contoh bangunan Arsitektur Gothic ini adalah gereja Katedral
Amiens, Katedral Rouen, Katedral St. Dennis Abby, Katedral Reims, Katedral Ulm, dan lain-lain (lihat
Gambar 4.2.6).
Unsur atau bagian lain dalam kelompok Arsitektur Klasik Barat yang tak kalah pentingnya adalah
Arsitektur Byzantin, Arsitektur Baroque dan Rococo, serta Arsitektur Arabesque (dimunculkannya
imbuhan kata Barat, karena dalam jaman yang sama di dunia Timur juga diketemukan karya karya
Arsitektur sejenis, yang setingkat dan mengagumkan tetapi mengandung pemikiran dan nilai nilai
yang berbeda, seperti candi Borobudur, candi Prambanan, Candi Angkor).
Ungkapan nilai-nilai arsitektur yang disebutkan terakhir ini dinyatakan dan ditulis sebagai suatu teori
Arsitektur, seperti tertulis sebagai berikut:
“Kita dapat menyatakan bahwa bangunan bangunan ini sebagai obyek arsitektur adalah bersifat
massive-tertutup, karena terisolasikan dari ruang disekitarnya, bahwa secara eksterior orang-orang
dapat berkeliling melihatnya. Dan karena itu, yang terpenting dan teristimewa dalam mewujudkan
identitas bentuk adalah pengolahan tampak dan tampilannya, pengolahan sudut-sudutnya,
pengolahan pertemuannya dengan tanah dan ketinggiannya yang menembus langit. Demikian juga
terlihat dengan jelas konsep konsep Artikulasi dan Kontinuitas.
Ada 4 jenis pengolahan sudut, yaitu: artikulasi dengan elemen “Relief”, dengan sudut negative,
dengan sudut yang tajam seperti garis, dan dengan sudut yang dilengkungkan, dimana semuanya ini
dapat diketemukan secara konsisten pada bagian bawahnya maupun pada bagian
atasnya/mahkotanya. Munculnya rasa tertarik dan kagum pada diri orang yang mengalaminya akan
objek arsitektur ini dan lingkungan sekitarnya, sedangkan bagi seorang Arsitek akan
menyadarkannya bagaimana pentingnya gaya-gaya gravitasi yang sedemikian besar dapat
disalurkan ke tanah. Dan hal ini dilakukan agar dapat menaungi dan melingkupi orang orang di
dalamnya dan tidak hanya itu saja, tetapi juga menimbulkan rasa kekaguman dan rasa keteguhan,
bagaikan “ditancapkan dari atas langit” (Isidore dalam Varro, 19xx)
(Secara visual, nilai-nilai yang dilukiskan diatas dapat dilihat pada Gambar 42.7 )

C. TEORI ARSITEKTUR RENAISSANCE

1. Pengertian
Definisi Renaissance menurut Merriam - Webster dictionary adalah:
“The revival of classical influencesin art and literature and the begining of modern science in Europe in 14
th - 17 th centuries, also movement or period of vigorous artistic and intelectual activity”.

Buku Ajar Teori Arsitektur 42


Masa Renaissance (masa pencerahan) muncul setelah melalui masa abad pertengahan atau masa
Medieval (Middle age), yang biasa disebut dengan masa kegelapan. Disebut demikian karena pada saat
itu kurang atau tidak adanya pemikiran-pemikiran baru, khususnya dalam dunia arsitektur yang
menjadikan karya-karya arsitektur berhenti atau hanya mengolah elemen-elemen detail yang sifatnya
dekoratif (seperti Arsitektur Rococo).
Faktor yang sangat mempengaruhi lahirnya masa Renaissance (pencerahan) adalah adanya konsep-
konsep dan pemikiran baru dalam cara pandang manusia dalam kehidupannya yaitu dengan cara
penghargaan terhadap akal manusia (personal), dengan tidak lagi hanya menggantungkan pada
kepemimpinan gereja.
Konsep Dasar Pemikiran Renaissance
Masa Renaissance merupakan kelahiran kembali arsitektur Klasik, yang didasari oleh arsitektur klasik
Yunani dengan pengaruh arsitektur Klasik Romowi. Sejarah singkatnya orang Yunani telah secara
mendalam membahas cara hidup enak di dunia. Untuk mendapatkan hidup enak, perlu ada aturan.
Aturan dibuat untuk mengatur manusia dan alam

Manusia dan Alam -------> yang membuat aturan “KITA” yang menghasilkan paham “HUMANISME”.
‘HUMANISME’ ---------> Paham yang mengatakan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam.
(Humanisme yang berisi paham ‘LIBERLISME’).
‘LIBERALISME’ --------> Paham yang mengatakan bahwa manusia harus bebas.
Bebas mengatur dirinya dan alam, sehingga manusia harus membuat aturan, dan aturan dibuat
dengan akal. Ini merupakan inti dari paham ‘RASIONALISME’.
‘RASIONALISME’ ------> Paham yang mengatakan bahwa kebenaran dicari dan diukur dengan akal.
Dengan demikian pada akhirnya akan memunculkan paham ‘EMPIRISME’.
Secara intinya ‘HUMANISME’ merupakan paham yang bertujuan mengangkat derajat dan kemuliaan
manusia. Paham ini mendasari apresiasi trerhadap seniman dan kary-karyanya. Dunia Klasik yang
berminat terhadap ‘HUMANITAS’ dan cinta akan keindahan, menggunakan figur manusia sebagai objek,
karena manusia merupakan karya seni yang terindah.
Paham ‘RASIONALISME’ mendasari keingintahuan (curiosity) dan penyelidikan tentang hakekat alam,
memunculkan ilmu-ilmu baru (Matematik, Perspektif dan Anatomi). Aplikasi dari ilmu-ilmu tersebut
menjadi dasar teori yang diterapkan pada karya-karya masa Renaissance.

2. Kelahiran Renaissance
Pengaruh Renaissance berkembang sejak awal abad ke-14 di Florence, Italia yang kemudian meluas ke
Perancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Portugal dan juga ke negara jajahan Eropa di Amerika, Asia dan
Afrika.
Renaissance berawal dari karya kesusastraan, berpedoman pada karya Petrach, Boccacio dan Dante.
Kemudian diikuti oleh seni pahat dan seni lukis (dengan beberapa senimannya yaitu Nicola Pisano,
Gimabue dan Giotto). Kemudian yang terakhir adalah perkembangan seni arsitekturnya. Filipo
Brunelleschi (1377-1466) adalah arsitek Renaissance pertama, berawal dari pengrajin emas, pemahat
dan juga mendalami Matematika. Serta membuat gambar kerja dari bangunan Romawi kuno di Roma.
“Ospedale Degli Innocenti” 1419 (The Founding Hospital) karya pertamanya bergaya ‘Tuscan dan
Romanesque”. Desain selanjutnya menunjukkan pendekatan ke gaya New Classical, seperti
kecenderungan “kesimetrisan”, “proporsional” dan penerapan “Arcade dengan kolom-kolom pelengkung
setengah lingkaran (elemen busur)” merupakan ciri gaya arsitektur bangunan masa Renaissance.
Sedangkan Alberti dengan Pallazio Rucellai-nya (1446) yang memiliki fasade dengan order bentuk-
bentuk pilar dan garis-garis horisontal pada bidang datar yang luas pola ini menjadi populer di masa
mendatang, merupakan dua tokohnya yang utama.

Buku Ajar Teori Arsitektur 43


3. Teori-Teori Arsitektur Renaissance
Perkembangan teori arsitektur yang dipakai para arsitek pada masa Renaissance percaya bahwa
bangunan mereka harus menjadi satu bagian dari suatu tata aturan yang lebih tinggi. Mereka kembali
pada sistem proporsi matematis Yunani sehingga timbul pengertian arsitektur adalah matematika yang
diterjemahkan dalam satuan-satuan ruang. Pengembangan teori-teori Renaissance banyak mengacu
pada falsafah yang dibuat oleh Plato, Pythagoras dan Aristoteles.
Teori Plato melihat bahwa keindahan alami muncul melalui adanya garis, lingkaran, dan permukaan
yang menghasilkan bentuk dan volume geometris yang absolut.
Teori Pythagoras merupakan dasar penegmbangan rasio perbandingan yang membentuk dasar bagi
proporsi-proporsi arsitektural dengan mencoba perhitungan Matematis untuk membentuk suatu yang
Estetis.
Teori Aristoteles mengemukakan teori ruang sebagai tempat dan terbatasnya Kosmos yang kemudian
berkembang sampai dengan timbulnya konsep “Ruang Cartesian”. Teori ini menyatakan bahwa panjang,
lebar dan ketebalan membentuk wujud keteraturan geometris seperti grid dua atau tiga dimensi (konsep
geometri ruang).
Gabungan dari beberapa teori terdahulu dengan teori Vitruvius menghasilkan teori Proporsi pada
Renaissance yang mengutamakan KEHARMONISAN.

4. Proporsi
Adalah perbandingan antara tiap-tiap dimensi sehingga menghasilkan keseimbangan kimensi. Teori ini
diterapkan berdasar pada penerapan tubuh manusia melalui sistem-sistem geometris dan matematis
yang menghasilkan bentuk-bentuk yang unik dan sistem-sistem universal. (Lihat Gambar 4.3.1).
Teori Proporsi yang diterapkan Andrea Palladio (1508-1580) menegaskan adanya tujuh buah ruang
yang paling indah proporsinya, yaitu berupa “Tujuh Bentuk Denah Ruang-Ruang yang Ideal” (Lihat
gambar 4.3.5). Selain itu Palladio mengusulkan beberapa cara untuk menentukan ketinggian yang benar,
untuk ruang-ruang yang memiliki langit-langit datar, tinggi ruang seharusnya 1/3 lebih besar dari pada
lebarnya. Palladio menggunakan Pythagoras untuk menentukan tingginya ruang dengan menggunakan
matematika, geometri dan harmoni.
MATEMATIS :C-B/B-A = C / C misalnya 1, 2, 3 atau 6, 9, 12
GEOMETRIS :C-B/B-A = C / B eg. 1, 2, 4 atau 4, 6, 9
HARMONIK :C-B/B-A = C / A eg. 2, 3, 6 atau 6, 8, 12
(Lihat gambar 4.3.4)
Hukum Pythagoras menyatakan bahwa “segala sesuatu diatur menurut angka-angka”. Plato
mengembangkan estetika Pythagoras tentang angka-angka menjadi proporsi estetika dengan
menciptakan segiempat-segiempat bujursangkar dan kubus-kubus peningkatan angka sederhana unrtuk
menciptakan penambahan-penambahan yang dua maupun 3 X lipat. Deret angka 1, 2, 4, 8, dan 1, 3, 9,
27 ini mengungkapkan struktur alam yang harmonis.
Teori Renaissance mengembangkan rasio-rasio tersebut tidak hanya pada dimensi sebuah ruang atau
fasade, tetapi juga di dalam proporsi-proporsi kaitan ruang-ruang dari suatu urutan ruang-ruang atau
suatu denah keseluruhan.

5. Balance
Teori ini mengemukakan tentang keseimbangan dalam bentuk, dimensi, dan rasio. Keseimbangan ini
dibuat melalui suatu yang ‘Simetris’ atau ‘Asimetris”. Simetris adalah kasus spesial dari prinsip ‘koheren’
tiap-tiap elemen. Dari simetri ini dihasilkan sumbu-sumbu atau axis (lihat gambar 4.3.3), yang dapat
memberikan kesan formal dan religius. Simetri dalam Arsitektur Renaissance, menjadi :

Buku Ajar Teori Arsitektur 44


Simetri dengan prinsip-prinsip Estetika. Memperlihatkan keselarasan (harmoni), seperti yang dipakai oleh
Palladio atau memperlihatkan kekuatan simbol-simbol bangunan religius seperti karya-karya
Michelangelo.
Simetri dengan Prinsip-prinsip Konstruktif. Menggunakan rasionalitas dengan aturan-aturan statik untuk
membentuk bentang sederhana, rangka, busur, dome dan lain-lain.

6. Geometri
Geometri pada teori Renaissance terhadap bentuk, dimensi, dan rasio menerapkan pendekatan terhadap
proporsi melalui struktur tubuh manusia yang diterapkan pada elemen-elemen arsitektur. Analogi antara
proporsi tubuh dengan bangunan menjadikan arsitektur mempunyai pembendaharaan istilah ‘fasade’,
‘kulit bangunan’, ‘skeleton’, serta yang hubungan antara ukuran, bentuk dan gerak berupa ‘skala
manusia’ (lihat gambar 4.3.2).

7. Perspektif
Teori perspektif pada masa Renaissance diawali oleh Brunelleschi yang menerapkan perspektif dalam
pengembangan arsitektur terhadap “Ruang dan Bentuk”. Hal ini tampak pada karyanya Piazza Del
Campidoglio di Roma. Pengembangan prinsip perspektif ini jelas dipengaruhi oleh pemahaman baru
terhadap kaidah optik.

8. Teknologi
Teknologi sangat mendukung dalam pengembangan konsep-konsep dan teori arsitektur Renaissance.
Pertama adalah ilmu pertukangan yang mendapat kemudahan karena penemuan teknik penyajian
stereotomy karya Delorme (1510-1570). Teknik ini dapat menggambarkan pembuatan ‘Busur’ (vaulting)
dengan batu potongan. Hal ini kemudian dikembangkan pula oleh Gottfried Semper (1803-1879) dengan
teori tentang Tektonik. Semper mengatakan bahwa bahasa arsitektur adalah bahasa tangan yang
perwujudannya adalah tektonik sedangkan ruang perlu diungkap melalui stereotomik. Bahasa tangan ini
meliputi cara menyambung unsur konstruksi. Kedua adalah ilmu bangunan yang mengeluarkan tipe-tipe
rumah, diikuti dengan perkembangan peraturan dan baku bangunan.

9. Ciri-ciri Umum dan Contoh-Contoh Langgam Arsitektur Renaissance


Pada umumnya arsitektur bangunan masa Renaissance memiliki fungsi keagamaan seperti gereja dan
kapel (peninggalan dan melanjutkan bangunan masa Medieval), bangunan-bangunan istana, pusat
pemerintahan dan rumah-rumah kediaman pendeta atau saudagar (yang merupakan anggota
masyarakat yang terhormat). Teori-teori yang menonjol pada bangunan tersebut adalah :
Penerapan konsep simetri yang kuat, pada tampak dan ruang dalam bangunan.
Mayoritas pemakaian bahan bangunan/material dari marmer pada interior dan warna bangunan yang
cenderung monochrome atau satu warna.
Bangunan kaya akan elemen dekoratif, baik pada interior maupun eksterior bangunan. Elemen dekoratif
tersebut umumnya berupa ukiran/sculpture, relief serta lukisan-lukisan. Tema elemen dekoratif tersebut
umumnya melambangkan karakter-karakter atau pengintepretasian alam dan sosok manusia, flora, fauna
serta pemandangan alam.
Pada ruang dalam, bagian dinding dan langit-langit umumnya dilapisi ukiran (stucco) yang objeknya
seputar flora, sosok dan perilaku dari fauna dan manusia, topeng-topeng, perahu maupun perisai.
Penggunaan patung yang dipadukan dengan detail arsitektural, baik pada interior maupun eksterior.
Pada fasade bangunan terdapat deretan kolom-kolom dengan kepala dihiasi elemen dekoratif bermotif
flora, susunan order dapat berupa Doric, Ionic, maupun Corinthian.
Penerapan garis-garis horisontal dan elemen-elemen busur pada bidang datar.

Buku Ajar Teori Arsitektur 45


Atap, baik atap perisai maupun datar dilengkapi hiasan, baik berupa Lantern, Louvre, Lucarne,
Ammortizement, Tympanum maupun Balustrade.
Contoh-contoh arsitek dan bangunan di awal Renaissance:
Brunelleschi, -------> Menciptakan perletakan dome untuk memperkuat kesan horisontal, membuat
dinding rangkap untuk memberi kesan berat pada bangunan, memakai konstruksi
Gothik dengan merenggangkan kulit luar Dome dengan 24 kerangka dan mengarahkan profil
bangunan dengan menggunakan konstruksi dome.
Bangunan : S. Spirito dan Chatedral of Florence.
Alberti, -----------> Menyatukan dua konsep matematik dan lukisan sebagai elemen dekoratif.
Bangunan berciri megah dan memiliki konsep simetris.
Bangunan : S. Andrea, Mantua.
Perencanaan Kota dan Istana di Pienza, Urbino dan Florence, Konsepnya mengimbangi blok-blok
massa berdinding masif dengan unsur-unsur horisontal, dan deretan kolom dengan irama tertentu yang
diberi sentuhan akhir pada kaki dan kepala kolom tersebut. Atap konstruksi kayu dibuat datar dengan
dibatasi cornice.
Bangunan : Gaudagni Palace, Florence dan Grimanti Palace,
Venice.
Contoh-contoh arsitek dan bangunannya yang dianggap ‘high’ Renaissance
Bramante ciri utama menimbulkan kesan baru pada bentuk bangunan yang cenderung menjadi
dinamis (misal : bentuk lengkung) dan monumental. Bangunan : St. Peter, Rome 1506
Michelangelo bangunan berpijak pada konsep antik roman, dengan memperhatikan elemen dekoratif
berupa lukisan pada plafon dan sculpture dengan motif-motif klasik. Bangunan: Modern Capital di Roma.

D. TEORI ARSITEKTUR AKIBAT REVOLUSI INDUSTRI


Telah banyak disebutkan pada bagian lain, bahwa orang orang Barat memandang berbagai hal termasuk
arsitektur, sebagai ilmu yang dikaji dan dipelajari sehingga mendapatkan berbagai teori. Dengan
berubahnya secara sangat cepat dan mendasar budaya masyarakat Barat yang diakibatkan oleh revolusi
industri maka terjadi pula perubahan besar dalam pandangan dan teori arsitektur.
Pada arsitektur masa pasca Renaissance terjadi percampuran antara gaya gaya klasik yang sudah ada
seperti Yunani, Romawi, Abad Pertengahan, Romanesque, dan Gothik. Hal ini menandai adanya
perubahan mendasar dalam arsitektur. Percampuran terjadi selain karena perubahan kebudayaan, pola
pikir juga karena telah lebih banyak pilihan bentuk. Masa itu disebut juga zaman Neo - Klasik.
Perkembangan selanjutnya seni klasik dan karya kerajinan tangan semakin ditinggalkan oleh bentuk-
bentuk produksi mesin yang cepat praktis dan tidak kalah keindahannya. Salah satunya yang
memanfaatkannya adalah Augustus Welby Northmore Pugin (1812 - 1852). Hal ini terungkap dari
tulisannya sebagai berikut:
“ Dalam beberapa hal, saya siap untuk menerima bahwa penemuan baru telah membawa kesempurnaan,
tetapi harus diingat hal itu dibuat oleh mesin. Saya tidak ragu-ragu mengatakan jika karya seperti itu
meningkat maka karya-karya seni dan kerajinan murni akan turun dalam proporsi lebih besar “ (Michel
Ragon, dalam Yulianto Sumalyo, 1997).
Lebih jauh dia memuji Jaman Pertengahan dengan mengatakan bahwa arsitektur klasik Gothik, identik
dengan Katolikisme dan bahwa pada zaman Mediaeval itu gereja-gereja yang menghiasi kota-kota
Katolik digantikan oleh pabrik, penjara atau berubah menjadi fungsi lainnya. Keindahan arsitektur adalah
adaptasi dari bentuk kepada fungsi, hal ini menimbul inspirasi yang menggerakkan para arsitek ke
seniman.

Buku Ajar Teori Arsitektur 46


John Ruskin (1819 - 1900), berlawanan dengan Pugin, tidak setuju pada konsep keindahan klasik. Ia
mendukung pendapat bahwa Gothik tidak hanya sebagai arsitektur gereja, tetapi secara sempurna
merupakan suatu arsitektur modern. Dia tidak setuju terhadap Eklektisme yang sedang mendominasi
dunia arsitektur pada masa itu karena Eklektisme cenderung memilih unsur (elemen) terbaik dan
menggabungkannya sehingga menjadi “bentuk yang sangat heterogen”.
Pertentangan pendapat antara Pugin dan Ruskin terungkap pula pada ketidaksenangan Ruskin pada
masyarakat Borjuis dan masyarakat yang ‘masinal’. Hal ini terungkap dari tulisannya
“… semua pekerjaan hasil cetakan mesin adalah buruk dan lagipun tidak jujur .......”.
Dapat dibayangkan mesin sangat mengerikan dan anti kebudayaan. Padahal pada zaman itu, mesin
dapat melahirkan suatu keindahan baru misalnya Crystal Palace atau Istana Kristal di London Inggris.
Namun Ruskin membenci bangunan luar biasa ini dan menyebutnya sebagai “ suatu ruang kaca untuk
ketimun “ dan bahwa stasiun kereta api bukanlah suatu karya arsitektural tetapi hasil pekerjaan bersifat
industrial. (Ragon, dalam Yulianto Sumalyo, 1997).
Meskipun terdapat perbedaan persepsi dalam arsitektur klasik, tetapi dalam hal fungsionalisme tidak
terdapat perbedaan pendapat, bahwa idealisme dari suatu arsitektur adalah perpaduan antara bentuk
dan fungsi.
“Setiap bangunan harus menemukan bentuk sesuai dengan fungsinya, sebuah rumah hendaknya
berbeda dengan kantor atau gereja, dan tanpa menggunakan pandangan ini maka hubungan antara
bagian dalam bangunan dengan bagian luarnya akan diabaikan. Tidak seharusnya mengorbankan kamar
menjadi gelap tanpa jendela, untuk mendapatkan susunan jendela tampak simetris dari luar atau
menambah bagian bagian tak berguna” (Ragon, dalam Yulianto Sumalyo, 1997)
Dalam idiologi fungsionalisme bahwa arsitektur adalah seni, dimana prinsip-prinsip seni menyatu
didalamnya. Bahwa dalam prinsip fungsionalisme nilai konstruksi mempunyai nilai yang sama dengan
fungsi. Dianalogikan dengan perahu dimana hampir seluruh bagian dan bentuknya mengacu kepada
fungsinya. Walaupun menurut Ruskin bahwa sabagai kapal bukan produk seni tetapi produk konstruksi
dan dirancang juga untuk tahan terhadap kabut, angin, dan badai, dan hasilnya merupakan suatu bentuk
yang indah. Keanggunan arsitektur tidak selalu dibentuk oleh patung-patung maupun dekorasi tetapi oleh
seni dan proporsi dalam penataan unit-unit dan bagian-bagiannya.
Senada dengan hal itu Eugen Emmanuel Viollet-Le-Duc (1814 - 1879) mengungkapkan;
“Bahwa arsitektur hendaknya dapat mengekspresikan ‘kekuatan’ seperti halnya mesin uap, listrik dan
dapat memanfaatkan material baru misalnya baja. Dan apabila suatu bentuk tidak dapat menjelaskan
alasan mengapa demikian, maka dia tidak akan memancarkan keindahan”. (Ragon, dalam Yulianto
Sumalyo, 1997).
Pendapat ini betul-betul kontroversial, bertentangan dengan kaidah kaidah keindahan pada masa itu.
Sehingga membawa Viollet-Le-Duc kembali kepada kesimpulan dan definisi fungsionalisme yang telah
dikemukakan Pugin, Ruskin dan William Morris, seperti diungkap;
“Bila bentuk secara murni memberikan indikasi dan membuat mengerti untuk apa produk ini dibuat, maka
bentuk itu baik. Contoh dalam kehidupan misalnya, bagi yang mengerti fungsinya maka seseorang dapat
mengerti bahwa segala ciptaan alam memancarkan keindahan ...... Apabila kiat memperhatikan dan
memahami suatu bentuk mekanisme atau sistem seperti misalnya sayap burung berfungsi sama dengan
sirip ikan, jelas masing-masing untuk terbang dan berenang, maka kita akan mengagumi dan melihat
pancaran keindahannya.... setelah itu kita akan mengatakan bahwa burung mempunyai sayap untuk
terbang dan ia terbang karena bersayap. Burung terbang dengan sayapnya adalah suatu hasil
mekanisme sebuah “mesin” yang sempurna sehingga membuatnya dapat terbang”.
Ungkapan tersebut diatas menjelaskan kepada kita bagaimana teori keindahan mendasari konsep
fungsionalisme.

Buku Ajar Teori Arsitektur 47


TEORI ARSITEKTUR MODERN ( FUNCTIONALISM)

1. Kelahiran Arsitektur Modern


Pada abad XIX meskipun elemen dan bentuk klasik masih mendominasi banyak bangunan, tetapi konsep
dasarnya tidak diterapkan lagi. Masa berakhirnya arsitektur Klasik terjadi sejak Revolusi Industri di Inggris
yang menimbulkan revolusi sosial ekonomi, tidak hanya melanda Eropa tetapi seluruh dunia. Sebagai
akibatnya terjadi perubahan besar dalam budaya, pola pikir, pola hidup masyarakat termasuk seni dan
arsitektur.
Dalam arsitektur perubahan mendasar terjadi antara lain dalam ornamen atau hiasan yang ditempatkan
dalam perspektif lebih bebas dibanding dengan struktur dan ruang. Hiasan-hiasan untuk keindahan
dalam arsitektur klasik masih tetap menjadi aspek penting dalam masa akhir arsitektur klasik ini akan
tetapi percampuran berbagai gaya, konsep dan hiasan terlihat sangat menonjol. Akhir arsitektur klasik
disusul dengan timbulnya gaya Eklektisme. Sebutan dari aliran ini sesuai dengan artinya, yaitu
mengambil unsur-unsur terbaik, digabung dan disusun kedalam suatu bentuk tersendiri. Setelah masa itu
dunia arsitektur berkembang lebih cepat dimulai dari modernisme awal, fungsionalisme,
internasionalisme, kubisme hingga post-Modern.
Sekitar thn 1890-1910 timbul gerakan yang menentang peniruan dan pengulangan bentuk kaidah dan
teori lama. Sejalan dengan peristiwa tersebut, teori-teori fungsionalisme dalam arsitektur terus
dimasyarakatkan dan meninggalkan hiasan-hiasan dan ornamen bentuk lama. Di lain pihak yang
ditonjolkan adalah kemajuan teknologi konstruksi dan struktur bangunan.
Dalam Arsitektur modern, kemudian terjadi semacam gerakan serempak yang diikuti oleh para arsitek di
negara-negara industri. Ciri umum dari gaya arsitektur yang melanda pada akhir abad ke-19 atau awal
abad-20 adalah asimetris, kubis atau semua sisi dalam komposisi dan kesatuan bentuk dan elemen
bangunan menyatu dalam komposisi bangunan. Selain itu dalam bangunan-bangunan International Style
hanya terdapat sedikit atau tampa ornamen. Ciri-ciri tersebut jelas terlihat adanya “perlawanan“ terhadap
Arsitektur Klasik dimana ornamen, elemen-elemen bangunan yang terlihat sebagai unsur tersendiri satu
dengan yang lainnya terlepas, tidak dalam kesatuan.
Salah satu tokoh yang sangat berpengaruh, seperti telah dibahas di muka, adalah Eugene Emmanuel
Viollet-Le-Duc. Dikenal tidak hanya sebagai seorang arsitek tetapi juga ahli sejarah seni dan teoritikus
arsitektur. Arsitektur yang baik pada masanya adalah mendasarkan kepada pertimbanan hati-hati
terhadap material yang ada dan metode membangun pantas dan cocok dalam kaitannya dengan iklim
dan aspirasi sosial dari suatu kelompok suku tertentu.
Hasil rancangan pertamanya masa itu adalah apartemen yang dibangun pada tahun 1846-1849 di Paris
yang dijadikan monumen di Prancis. Bentuknya yang sangat sederhana dan konvensional dengan
deretan jendela yang dihiasi oleh moulding (pelipit-pelipit) pada tiap garis menunjukkan perbedaan tiap
lantai. Seperti dijelaskan di atas bahwa sebagai unsur penghias namun juga berfungsi untuk memberikan
perbedaan lantai bawah dengan diatasnya. (lihat Gambar 4.5.1 pada lampiran).

2. Arsitektur Modern
Arsitektur Modern ditandai dengan banyaknya pakar-pakar Arsitek dengan berbagai pemikiran dan
konsep arsitekturnya diantaranya adalah sebagai berikut:
Louis Sullivan, dengan konsep “ Form Follows Function “.
Frank Lloid Wright , dengan bangunan Falling Water, Bear Run, Pennsylvania 1936 dan The Solomon
and Guggenheim Museum, New York 1959.
Le Corbuser, dengan bangunan Chapel De Ronchamp, bangunan villa Savoye, Villa di Poissy 1930 dan
Gedung Parlemen di Punjab India 1956.
Ludwig Mies van der Rohe , dengan Seagram Building, New York 1958, bangunan Crown Hall, Illinois
Institute Of Technology, Chicago, Illinois, 1952.

Buku Ajar Teori Arsitektur 48


Pengaruh arsitektur Modern tidak hanya berkembang di negara negara barat saja tetapi juaga menjalar
ke seluruh dunia termasuk Asia seperti Jepang.
Masuknya pengaruh Barat termasuk karya arsitekturnya, arsitek Jepang berhasil mengawinkan dengan
arsitektur tradisionalnya sehingga tetap menampilkan kekhasannya sebagai arsitektur Jepang. Salah satu
tokoh arsitek yang terkenal adalah Kenzo Tange dengan karya terkenalnya Nasional Gymnasium 1964
Olympic Games, Jin’nan-cho, Shibuya Ward dan karya lainnya.
Dalam masa modernisasi awal teori teori keindahan dalam arsitektur oleh Pugin, Ruskin, Morris dan lain-
lain berkembang lebih radikal menentang Klasikisme dan menekankan pada fungsionalisme. Julien
Guadet (1834-1908) seorang arsitek Prancis, penulis buku yang berjudul Elements Et Theorie De
Larchitecture (Elemen dan Teori Arsitektur) yang diterbitkan di Paris turut menyumbang pada teori
arsitektur. Pandangannya terhadap arsitektur adalah :
“Konstruksi dalam arsitektur selain seni juga merupakan ilmu pengetahuan. Bentuk seni tercipta dalam
proses suatu kreasi, kombinasi atau susunan dan rancangan , sedangkan ilmu pengetahuan adalah hasil
dari penguasaan yang dikembangkan melalui pembuktian dan penelitian..... Didalam seni, Ilmu
Pengetahuan tidak tercipta, seni akan bersifat berlebihan dan mandul apabila ia menuntut melebihi
peranan dan fungsinya...... Apabila arsitek tidak berperan sebagai ilmuan dalam konstruksi maka ia akan
mandul juga, menjadi arsitek yang tidak lengkap karena ia hanya seorang seniman....... Anda hanya akan
jadi seorang arsitek bila anda seorang seniman dan sekaligus seorang ilmuan. Tidak ada seni dan ilmu
arsitektur secara terpisah, satu dengan lainnya tidak dapat berjalan sendiri sendiri.” (Julien Guadet dalam
Sumalyo, 1997).
Pernyataan Guadet tersebut menentang teori-teori yang dibuat oleh Ruskin yang menyatakan bahwa
untuk menjadi seorang arsitek terlebih dahulu harus menjadi seniman dan harus mempunyai jiwa seni
dan akan menjadi seorang konstruktor bila tampa didasari oleh seni.
Dalam arsitektur Modern para arsitek hendaknya berpola pikir yang lebih bebas dan tidak hanya selalu
berpegang pada kaidah-kaidah yang sudah ada terutama pandangan arsitektur yang semata-mata
sebagai seni. Hendaknya arsitektur dilihat sebagai ilmu pengetahuan yang dapat berkembang dari
penelitian dan kajian sehingga mendapatkan teori-teori baru kemudian diterapkan dalam bentuk baru.

3. Arsitektur Post Modern


Post-Modernism adalah istilah untuk menyebut suatu masa atau zaman yang dipakai berbagai displin
untuk menguraikan bentuk budaya dari suatu titik pandang dan yang berlawanan atau mengganti istilah
modernisme. Karena salah satu bentuk ungkapan bentuk fisik kebudayaan adalah seni, termasuk
arsitektur, karena itu Post Modern lebih banyak digunakan di kebudayaan.
Sebelumnya, dalam arsitektur, titik pandang ini tidak bisa digunakan namun sejak tahun 1970-an istilah
ini mulai digunakan untuk menyebut gaya Eklektik yang memilih unsur- unsur lama dari berbagai periode,
terutama unsur klasik, yang dikombinasikan dengan bentuk-bentuk yang kelihatan aneh. Kemungkinan
besar Post Modern berkembang oleh karena kejenuhan terhadap konsep fungsionalisme yang terlalu
mengacu kepada fungsi. Pemakaian elemen-elemen geometris sederhana terlihat sebagai suatu bentuk
yang tidak fungsional tetapi lebih ditonjolkan sebagai unsur penambah keselarasan dalam komposisi
ataupun sebagai dekor.
Pada awal tahun 80-an, gaya Post Modern juga lebih banyak dipakai untuk menggambarkan suatu
bentuk dasar dalam berbagai anggapan tentang hubungan antara arsitektur dan masyarakat. Yang
dituntut adalah bahwa suatu bentuk dan penampilan bangunan seharusnya merupakan hasil dari
beberapa pendekatan logis dari program, sifat bahan bangunan dan prosedur konstruksi -- hal mana
sudah banyak diabaikan. Post Modern menjadi reaksi dari ilmu pengetahuan yang menjadi konsentrasi
manusia pada budaya rasionalisme yang berkembang di Barat baik di Eropa maupun Amerika dalam
abad terakhir ini. Bentuk lain dari ungkapan konsep Post Modern adalah sebagai oposisi dari “gerakan
modern”. Secara tidak langsung, Post Modern lebih kurang seperti tujuan utama dari Avant Garde –
suatu gerakan pelopor pembaharuan dan kembali berintegrasi dengan idealisme zaman pra-modern.
Post Modern merombak konsep modernisme yang berusaha memutus hubungan dengan masa seni dan
arsitektur klasik.

Buku Ajar Teori Arsitektur 49


Kadang-kadang Post Modern digambarkan seperti menganjurkan untuk memperbaiki kembali arti
arsitektur dengan kembali mengetengahkan elemen-elemen arsitektur konvensional dan menjadi lebih
pluralistik dengan memperluas perbendaharaan gaya dan bentuk. Dapat dikatakan bahwa Historicim
yang mengambil unsur-unsur lama baik yang klasik maupun modern adalah awal dari pemikiran dan
konsep dari Post Modern. Berdasarkan refrensi historis dan kemampuan untuk mengadaptasi terjadi
proses pemulihan atau perbaikan dan kesinambungan, Post Modern berusaha membangun lingkungan
dan kembali memperkuat cita rasa tempat–tempat khas tertentu. Walau Charles Jencks menyatakan
aliran baru ini sekedar menampilkan bentuk-bentuk baru yang menimbulkan kesan aneh dan sering kali
melebih-lebihkan sensasi dengan menampilkan berbagai macam atribut pada bangunan.
Ditandai dengan diledakkannya kompleks rumah susun Pruitt Igoe oleh Departement Of Housing and
Urban Development Amerika Serikat (dimana bangunan tersebut pernah mendapat penghargaan Design
Award dari American Institute of Architects) dinyatakan bahwa Arsitektur Modern telah mati dan lahirlah
arsitektur Post Modern. Tokoh-tokoh Post Modern antara lain adalah:
Michel Graves, dengan karyanya Portland Building.
Charles Moore, dengan karyanya Piazza de Italia.
Paul Rudolph, dengan karyanya School Of Art di Yale, 1963.
Paolo Soleri, dengan kota idealnya Arcosanti, Cordes Junction, Arizona.
Louis Kahn, dengan Salk Institute, La Jolla, California , 1965 dll.
Gerakan serupa muncul di Jepang yang dipelopori oleh arsitek Kisho Kurokawa yang menyebut
gerakannya dengan “Metabolism Architecture”. Salah satu karyanya yang monumental dan menjadi tanda
gerakan ini adalah bangunan tinggi Nagakin Capsule.

Daftar Pustaka
Ching, Francis DK. 1987, Architecture: Form, Space and Order, Van Nostrand Reinhold.
Funk dan Wagnalls, 1990 “New Encyclopedia”, vol – 22.
Klassen, Winand (1992), Architecture and Philosophy. Philippines: Clavano Printers Cebu City.
Kruf, Hanno-Walter, 1994, A History of Architectural Theory. Princeton Architectural Press.
Mangunwijaya, YB, 1987, Wastu Citra. Jakarta: Gramedia.
Meiss, Pierre von, 1985, Elements of Architecture, Van Nostrand Reinhold.
Soger, Smith T. 1987, An Illustrated of History Architectural Style, Omega Books.
Soger, Smith T., 1989, An Ilustrated of History Architecture Style. Omega Books.
Sumalyo, Yulianto, 1997, Arsitektur Modern Akhir Abad XIX dan Abad XX. , Yogyakarta: Gajahmada
University Press.
Tjahyono, Gunawan, 1999, “Teori Arsitektur di Dunia Barat”. Makalah Penataran Dosen Arsitektur, tidak
dipublikasikan.
Tjahyono, Gunawan. 1999, “Teori Arsitektur di Dunia Barat”. Makalah penataran, tidak dipublikasikan.
Ven, Cornelis Van De. Ruang dalam Arsitektur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991.
Watkin, David. 1996, A History of Western Architecture, Laurence King.

DAFTAR GAMBAR :
FIG. 41. 1 : Villa Capra (Rotunda), Vicenza , karya monumental Andrea Palladio
FIG. 42. 1. : The Orders : Tuscan, Doric, Ionic, Corinthian, Composite

Buku Ajar Teori Arsitektur 50


FIG. 42. 2. : Ionic Order dan Vitruvius’ Rules
FIG. 42. 3 : Temple Front in the Tuscan Order
FIG. 42. 4 : Roman Pantheon
FIG. 42. 5 : Hagia Sophia , dan Parthenon
FIG. 42. 6 : Cathedral Amiens
FIG. 42. 7 : Barocoque of Saint Nicholas, Prague
FIG. 43. 1 : Geometry and Proportions of The Human Body
FIG. 43. 2 : Geometrizing The Human Body
FIG. 43. 3 : The Axis Occupied by a Statue
FIG. 43. 4 : Proporsi Ketinggian Ruang, Palladio
FIG. 43. 5 : Tujuh Bentuk Denah Ruang-Ruang Yang Ideal
FIG. 43. 6 : Proporsi Fasade Renaissance,
FIG. 43. 7 : Paris Arc De Triomphe, Place D I’Etoile
FIG. 43. 8 : S. Maria Novell, Florence. Alberti
FIG. 43. 9 : S. Agostino, Roma
FIG. 43. 10 : Piazza Maggiore : Sabbionetta, Italia
FIG. 43. 11 : Pazzi Chapel, Italia
FIG. 43. 12 : S. Andera, Mantua, Italia
FIG. 44. 1 : Crystal Palace
FIG. 45. 1 : Bangunan Rancangan Pertama Violet Le Duc, sebuah Blok 4 lantai di Paris

Buku Ajar Teori Arsitektur 51


A. NILAI-NILAI, SIKAP DAN PANDANGAN BUDAYA TIMUR
Arsitektur yang terjadi di dunia Timur, sangat dipengaruhi oleh nilai nilai, sikap hidup dan pandangan
masyarakat Timur itu sendiri. Pembahasan Teori Arsitektur secara substansial tidak dibagi dalam urutan
waktu melainkan lebih pada beberapa aspek yang mempengaruhi arsitektur secara mendasar. Bagian
awal Bab ini, membahas mengenai beberapa aspek mendasar yang mempengaruhi terbentuknya
arsitektur di dunia Timur. Dunia Timur yang dimaksud dalam pembahasan ini sesuai dengan apa yang
diartikan To Thi Anh dalam bukunya Budaya Timur dan Barat, Konflik atau Harmoni yaitu kawasan yang
dipengaruhi dalam kebudayaan India dan Cina, seperti India, Cina, Korea, Jepang dan negara negara
Asia Tenggara termasuk didalamnya Nusantara. Bagian kedua, mencoba merumuskan pandangan
budaya timur yang berkaitan dengan Ruang, Bentuk dan Estetika, yang diakhiri dengan melakukan
penelaahan Ruang, Bentuk dan Estetika pada beberapa contoh contoh yang dianggap mampu mewakili
Dunia Timur tersebut.

1. Pengetahuan
Para Pemikir Timur lebih menyukai intuisi daripada akal budi. Bagi Pemikir Timur, pusat kepribadian
seseorang bukanlah kempuan intelektualnya melainkan lebih pada ‘hatinya’, yang mempersatukan akal
budi dan intuisi, intelegensi dan perasaan. Mereka menghayati hidup dalam keseluruhan adanya bukan
semata mata dengan otak.
Pemikiran berdasarkan intuisi lebih akrab, hangat, personal dan biasanya lebih dekat dengan kenyataan.
Orang Timur dengan intuisinya merasa betah dengan dunia tempat ia mengalami secara langsung
sumber hidupnya. Orang Timur yang kebanyakan hidup dalam kebudayaan agraris, terbiasa dengan
bahasa yang diam, tentang langit, musim, tanah, awan dan bulan. Mereka mengalami betapa alam
menunjukkan diri dalam diam tetapi mengesankan. Dalam kesederhanaan hidup, mereka lebih terlatih
dengan perasaan daripada pikiran.

2. Ilmu dan Kebijaksanaan


Di Timur, tujuan utama belajar adalah untuk mencapai kebijaksanaan. Pengetahuan intelektual saja, yang
tidak mampu membuat seseorang menghadapi hidup dengan lebih baik dianggap sebagai pemborosan
waktu saja. Menurut orang Timur, hidup merupakan suatu perjalanan yang sulit yang memerlukan refleksi
dan latihan latihan sepanjang hidup.
Dalam bidang pengetahuan, intuisi, pemikiran yang konkrit, simbolik, dan bersikap bijaksana merupakan
keistimewaan orang Timur dalam mendekati kenyataan. Ini merupakan kekhususan masyarakat agraris ,
berbeda dengan masyarakat yang rasional, memakai abstraksi dan banyak spesialisasi pengetahuan.

Buku Ajar Teori Arsitektur 52


3. Sikap terhadap Alam
Sikap terhadap alam bagi orang timur dapat direnungkan melalui perbandingan kedua puisi dibawah ini
(Anh, 1985 : 70):
Penyair Jepang Basho (1644-1694)

Ketika saya mengamati dengan hati hati


Saya melihat bunga nazuna sedang mekar
Dekat pagar

Yang kedua dari Tennyson :

Bunga di sela tembok tua


Aku cabut kau dari sana;
Kugenggam kau disini, sebagian dan semuanya,
dalam tanganku,
Bunga yang kecil, andaikan aku dapat mengerti
Apa sebetulnya kau, sebagian dan semuanya
Aku akan tahu apa itu Tuhan dan manusia

Dapat kita perhatikan bahwa Basho, dalam mengamati setangkai bunga kecil mekar dekat pagar tua
sepanjang jalan desa yang sunyi, ia mengamati bunga itu dalam kesederhanaannya tersirat
keindahannya yang memancing kekagumannya tanpa mencabut -memiliki bunga itu. Sedangkan pada
puisi Tennyson, ia mencabut bunganya dari tempatnya. Ia memisahkan bunga dari tanah yang
memberinya hidup. Basho puisi diatas memperlihatkan kecintaan orang Timur yang mendalam pada
alam.
Kesatuan dengan alam. Segala sesuatu yang ada dalam seluruh alam semesta-yang berjiwa ataupun
yang tidak- justru sesungguhnya berasal dari yang Satu. Manusia Timur sadar akan ke’ada’an dirinya
yang sama dengan alam semesta.
Harmoni. Harmoni dengan alam merupakan inspirasi utama Taoisme. Manifestasi ajaran Tao adalah
alam semesta, dimana setiap benda mempunyai’jalan’nya, aturannya, ritmenya. Selaras dengan Tao
berarti menjadi harmoni dengan diri sendiri dan segala sesuatu.
Ungkapan arsitektur yang harmonis terhadap alam dapat diperhatikan bahwa alam selalu menjadi bahan
pertimbangan yang tidak pernah terlepas dari alam seperti kuil kuil yang menempel di kaki bukit, rumah
rumah yang memperhatikan pepohonan, menyatu dengan lingkungannnya. Beberapa menara pagoda
dengan atapnya yang melengkung sangat harmonis dengan alam sekitar.
Kesatuan dengan alam, harmoni dengan alam, merupakan rahasia keseimbangan dan ketentraman yang
dicerminkan dalam cara hidup orang Timur. Alam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup
manusia.
Budaya Timur mengutamakan terciptanya keharmonisan, yang diwujudkan dalam (Roesmanto, 1999: 1) :
1. Keseimbangan antara manusia dengan masyarakatnya
2. Keseimbangan antara manusia dengan alam
3 Keseimbangan antara manusia dengan Sang Pencipta

Buku Ajar Teori Arsitektur 53


4. Idealisasi Hidup
Terbebas dari materi. Hidup yang ideal bagi orang Timur adalah hidup yang sederhana dan tenang,
dengan kebutuhan sesedikit mungkin. Hidup yang dekat dengan alam, sumber segalanya. Bagi orang
Timur, nilai kehidupan yang tinggi berasal dari dalam : menerima keadaan sekarang, mengumpulkan
pengalaman, mengintegrasikan diri, menjadi suatu yang bernilai. Manusia memerlukan ketenangan batin
dari waktu ke waktu demi kesempurnaannya. Orang Timur mengusahakan nilai nilai spiritual yang
membuat ia mampu memuliakan dirinya dan terbebas dari belenggu materi.
Status Personal. Manusia Timur mengenal adanya ikatan yang kuat antara anggota keluarga, antara
kenalan, dan tetangga. Pengaruh kelompok, masyarakat, sangat kuat pada keberadaan seseorang /
individu.
Hak manusia yang paling berharga yaitu kebebasannya justru dibatasi oleh kepentingan masyarakat.
Hidup yang diinginkan, merintis jalan sendiri ataupun menjadi pionir dalam bidang tertentu, menanggung
segala resiko sebagai seorang pribadi yang unik, belum dikenal. Bandingkanlah dengan orang Barat yang
memang lebih menekankan pada kebebasan individu dalam menentukan jalan hidupnya dan dapat
terbukti dengan banyaknya orang orang yang berjiwa pionir. Dalam hidupnya, Manusia Timur lebih
memilih partisipasi daripada individualisasi.

5. Pandangan Dunia Timur pada Teori Ruang


Pemikir yang sangat berpengaruh dalam meletakkan dasar pemikiran mengenai ruang adalah Lao Tzu. Ia
yang hidup pada tahun 550 SM- dua ribu lima ratus tahun yang lalu- menyatukan bahwa ruang yang
terkandung didalam adalah lebih hakiki daripada materialnya. Dalam bukunya yang terkenal Tao Teh
Ching, Lao Tzu menyatukan Being ( yang ada ) dan Non Being (yang tiada). Lao Tzu menekankan pada
batas antara ruang internal dan ruang eksternal, yakni dinding pemisah. Interpretasi batas sebgai
kesinambungan ruang, menggeser tekanan ruang didalam terhadap bagian bagian bangunan yang
menterjemahkan ruang internal menjadi ruang eksternal. Pada ruang terdapat kedua sisi dinding , dan
karena dinding tersebut harus bisa ditembus pada suatu tempat tertentu, akan terjadi pemisahan
sekaligus penyambungan. Dinding menjadi ekspresi sejati dan jujur dari fungsi internalnya. Dinding
mempunyai orientasi ganda, satu interior dan satu eksterior. Lao Tzu secara halus mampu
mengindikasikan ruang. Pertama, Ruang merupakan perangkaian secara tektonik, Kedua, Ruang
dilingkupi dalam bentuk stereotomik dan ketiga, adanya Ruang Peralihan yang membentuk suatu
hubungan antara dunia didalam dan dunia diluar.

6. Pandangan Dunia Timur pada Teori Bentuk


Berarsitektur bukan hanya berbicara tentang bentuk phisik-jasmaniah saja melainkan juga merupakan
penampakan batin dari dalam keluar. Sebagaimana adanya manusia, untuk tubuh dan roh merupakan
suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pemikiran Timur mengenai hal ini dapat diperhatikan dalam Serat
Dewa Ruci ( Mangunwijaya,1988: 3):
Yang disebut hidup (sejati) tak lain
adalah leburnya tubuh jasmani dengan batinnya
ibarat bejana dan isinya..............

Biar bejana tetapi bila tanpa isi,


sia sia disebut bejana,
tidak semestinya dan tidak berguna.

Demikian juga isi tanpa bejana


sungguh hal yang mustahil.....

Buku Ajar Teori Arsitektur 54


Demi hidup yang baik
tentulah dibutuhkan bejana

dan isi,
sebaiknyalah kedua-duanya.

Bagi sebuah karya arsitektur, bentuk tidak hanya asal berdiri dan hanya dapat dipakai, melainkan lebih
dari itu. Bentuk harus dapat mencerminkan dimensi budaya pembuatnya atau merupakan ekspresi dari
nurani.

7. Pandangan Dunia Timur pada Estetika


Pada tahap primer, orang berpikir dan bercita-rasa dalam alam penghayatan kosmis dan mistis atau
agama. Tidak Estetis. Perwujudan pemikiran orang Timur akan Proporsi, Ritme, pemakaian material dan
lainnya lebih dikarenakan oleh pengaruh kosmis, mistis dan agama. Azas-azas rohaniah , yang
menghendaki bentuk itu demi keselamatan dan ‘Ada-Diri’ yang bersangkutan, keluarga dan
lingkungannya. Sebagai contoh, dalam pertunjukan wayang atau tarian Bedoyo Ketawang yang
di’sakral’kan, melulu dilakukan sebagai kepercayaan, demi keselamatan kehidupan manusia, keluarga
dan masyarakat. pada saat sekarang, kegiatan wayang atau tari Kecak sebagian dilakukan untuk
kegiatan komersial. Untuk menjadi komersial, maka pertunjukkan itu harus estetis.
Pembagian proporsi yang harmonis pada candi dikerjakan bukan karena pemikiran geometris semata
melainkan lebih dipengaruhi oleh kosmologi, dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah.
Cita rasa kesederhanaan dan kepolosan pada estetika Jepang yang akan diuraikan lebih lanjut pada
bagian selanjutnya, lebih berdasarkan pada pemahaman dan penghayatan orang orang Jepang yang
berjiwa Shinto dan Budha Zen. Pada hakekatnya, estetika di Timur dihayati lebih merupakan transformasi
diri dari hidup yang fana menuju nirwana.

8. Pemahaman tentang Kosmologi


Pengertian kosmologi adalah ilmu pengetahuan tentang alam ataupun dunia. “Dunia” yang dimaksud
baru menunjukkan obyek material saja, yaitu apa yang dialami dan dihayati oleh manusia sebagai
lingkungan, terutama dalam hubungan langsung dengan dirinya sendiri. (Bakker, 1995: 27)

B. ARSITEKTUR NUSANTARA
Dalam Kosmologi Indonesia dinyatakan bahwa semua penghuni kosmos memiliki tempatnya sendiri atau
(harus) berusaha mencapainya. Kedudukan itu sesuai dengan pemilikan jumlah kesaktian atau zat
kejiwaan. Dengan demikian seluruh kosmos merupakan satu Tata Besar dimana segalanya memiliki
‘tempatnya’, berhubungan teratur, dan saling melengkapi. Keraton atau Istana penguasa merupakan
pusat seluruh hidup; dan kalau tinggal di Keraton (misal menjadi pengabdi), itu sudah memberikan
partisipasi pada kesaktian raja. Orang harus ‘tahu tempat’; dan status seseorang dihormati.
Itu berarti juga bahwa tempat-tempat yang insidental dan kebetulan sama sekali tidak penting, dan tidak
mempunyai relevansi orang bisa sangat bebas terhadap penempatan geografis. Namun dalam
kenyataannya justru penempatan yang geografis itu sangat dipentingkan, yaitu letaknya yang relatif, dan
caranya (duduk di kursi, atau harus berdiri, atau duduk di lantai). Bagi tamu-tamu masing-masing di
pertemuan sangat diperhatikan penempatannya, sebab tempat konkret menentukan status seseorang,
dan kemudian juga tempatnya dalam tata kosmis.

Buku Ajar Teori Arsitektur 55


1. Arsitektur Candi
Budaya Timur mengutamakan terciptanya KEHARMONISAN, yang diwujudkan dalam bentuk (a)
keseimbangan antara manusia dengan masyarakat, (b) keseimbangan antara manusia dan alam
(lingkungan)-nya dan (c) keseimbangan antara manusia dan Yang Maha Pencipta.
Keharmonisan dalam wujud keseimbangan antara manusia dan alam lingkungannya sangat erat
berkaitan dengan tradisi ber-arsitektur, dalam hal ini Membangun / to built. Sedangkan keharmonisan
antara Manusia dan Yang Maha Pencipta direfleksikan ke dalam tata ruang yang terkait dengan elemen-
elemen alam yang seringkali dijadikan ‘patokan’ arah atau nilai kiblat yang bernilai Magis (Roesmanto,
1999).
Dalam buku Wastu Citra (Mangunwijaya, 1988) dinyatakan bahwa “Vasthu-Purusha-Mandala”, kitab
kuno ilmu bangunan masyarakat India yang religius menerangkan bahwa Mandala hanya punya arti bila
pusar bayi (pusat/inti) terhubung dengan ibunya - dengan dunia atas - dengan dunia para dewata, atau
dengan Tuhan. Arsitektur, tata wilayah dan tata bangunan, tidak diarahkan pertama kali atau semata-
mata demi penikmatan rasa estetika bangunan, namun terutama demi ‘Pelangsungan Hidup Secara
Kosmis’ yakni selalu bagian integral dari seluruh kosmos atau Semesta Raya yang keramat dan gaib.
Keharmonisan tersebut menjadi inti dari falsafah hidup. Dan dengan demikian tradisi membangun dan
berarsitektur tidak bisa lepas dari pandangan hidup.
Orang-orang Hindu di India - induk kebudayaan Jawa, Bali, dan Sriwijaya dan banyak bangsa lain -
memang melihat tempat yang paling pusat adalah Pusar atau tali ari-ari. Dan sebagaimana janin tumbuh
dari tali ari-ari, Tuhan menciptakan dunia mulai dari pusar ari-ari, dan dari pusar itu dunia berkembang ke
segala arah. Dalam tradisi Hindu, kuil adalah tempat kediaman dan tubuh dari dewa. Vasthu Purusha
Mandala menempatkan bangunan candi utama pada zona (mandala) pusat dari pembagian 3 ke arah
sisi yang berbeda. Dari petak 9 tersebut dapat berkembang lagi menjadi petak 81, tetapi ada juga yang
menjadi petak 64. Meskipun demikian zona tengah merupakan kedudukan dewa utama.
Candi Borobudur sebagaimana candi-candi di Jawa Tengah menerapkan Vasthu Purusha Mandala. Dari
penataan strupa dan jumlah terasnya, telah mengalami eksplorasi dengan penggabungan tata letak
Vajradhatu, dan Garbhadatu (mirip Sthandila Mandala). Hal serupa juga terjadi pada candi-candi Hindu di
Jateng, yang membiarkan zona pusat bukan untuk candi utama (titik pusat halaman dibiarkan kosong).
(Lihat Vasthu Purusha Mandala, Garbhadatu pada lampiran)

2. Arsitektur Tradisional Bali


Kehadiran arsitektur tradisional Bali sebagai bagian dari arsitektur Nusantara tak dapat dipisahkan
dengan agama Hindu yang melandasinya. Dalam filsafat Hindu terdapat suatu ajaran bahwa manusia
hendaknya mengharmonisasikan dirinya dengan alam. Berbeda dengan filsafat Barat yang berusaha
menundukkan/menguasai alam. Dengan demikian menurut pandangan tradisi adati Bali, bangunan
adalah wadah dari manusia dan merupakan penghubung antara manusia = mikrokosmos = bhuwana alit
dan alam semesta = makrokosmos = bhuwana agung, sebagai keseimbangan kosmologi dalam usaha
untuk menjaga keseimbangan unsur-unsur pembentuk manusia dan alam semesta; terdiri dari lima unsur
yang disebut Panca Maha Bhuta, yaitu: pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (sinar), wahyu (udara) dan
akasa (ether). Dunia dan segala isinya berasal dari ke-5 unsur tersebut, dan dari sinilah munculnya
anggapan bahwa bhuwana agung dan bhuwana alit bersumber satu, yakni Panca Maha Bhuta.
Filsafat agama Hindu lainnya disebut tutur sukma/tatwajna kamoksan yang senantiasa mengajarkan
tentang adanya hubungan harmonis antara bhuwana agung dan bhuwana alit. Di dalam tatwa-tatwa ini
disebut pasukwetu, contohnya; Pancadewata di bhuwana agung, yaitu dewa Iswara di Timur, dewa
Brahma di Selatan, Mahadewa di Barat, Wisnu di Utara, Çiwa di Tengah. Pancadewata di Bhuwana alit,
yaitu: dewa Iswara di jantung, dewa Brahma di hati, Mahadewa di ungsilan, Wisnu di empedu, Çiwa di
paunduhan hati.
Selanjutnya dalam bangunan adati Bali adalah simbol bhuwana agung dengan Tri loka-nya yaitu: bhur
loka (alam buta), bwah loka (alam manusia) dan swah loka (alam dewata). Bhuana alit dengan Tri angga-

Buku Ajar Teori Arsitektur 56


nya, yaitu: nista anggana (kaki); madya anggana (badan) dan utama angga (kepala). Di dalam tata ruang
dan tata bentuk bangunan tradisional Bali juga mengikuti konsep bhuwana agung dengan tri loka-nya.
Sebagaimana benda-benda alam lainnya, arsitektur tradisional Bali yang berusaha mendekati alam,
bentuk-bentuk perwujudannya juga mendekati bentuk-bentuk alam lingkungannya. Hiasan-hiasan seperti
kekarangan dan pepatraan bentuk-bentunya distilirkan dari biantang-binatang dan tumbuh-tumbuhan
alam lainnya.
Sebenarnya bentuk ditimbulkan oleh fungsi; bukan fungsi ditimbulkan oleh bentuk; demikian pula halnya
dalam membangun rumah tradisional Bali. Bentuk-bentuk bangunan rumah tinggal dilahirkan dari
pertemuan konsepsi dan fungsi yang dijalaninya seperti bale meten, bale gede, jineng dan sebagainya
sesuai dengan fungsinya masing-masing. Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya bentuk-bentuk
rumah tradisional Bali antara lain: profesi, kasta, cita-cita nilai guna dan fungsi bangunan.
Tata ruang dari denah pekarangan menurut arsitektur tradisional Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu:
parahyangan (tempat suci/pamerajan/sanggah). Tempat suci ini diletakkan pada daerah Timur laut (kaja-
kangin) dari pola denah pekarangan.
pawongan sebagai tempat kegiatan kehidupan rumah tangga, bangunan-bangunan didirikan mewakili
alam bwah loka.
palemahan sebagai tempat kegiatan umum dan pelayanan yang mewakili bhur loka.
Demikian pula bangunan itu sendiri secara falsafi adalah simbol bhuana agung dengan tri loka-nya, yaitu:
pondasi dan lantai sebagai kaki bangunan adalah bhur loka.
konstruksi pemikul (tiang dan dinding) sebagai badan bangunan adalah bwah loka.
konstruksi atap sebagai kepala bangunan adalah swah loka.
Manusia yang mempergunakan bangunan itu adalah unsur bhuwana alit dan pengguna itu sendiri adalah
unsur bhuwana agung, maka hubungan harmonisnya nampak pada waktu membuat ukuran-ukuran
bangunan itu dengan sikut/gegulak. Ukuran tersebut memakai ukuran orang yang mempergunakan
bangunan itu dan tidak memakai ukuran orang lain.

3. Arsitektur Kampung Naga sebagai Sebuah Keharmonisan


Falsafah hidup leluhur Kampung Naga yang masih dipegang teguh hingga kini adalah :
Parentah gancang lakonan;
penyaur geura temonan;
pamundut gancang caosan.

Teks ini intinya menunjukkan ketaatan kepada perintah. Tidak dijelaskan apakah yang dimaksud dengan
perintah adalah aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat atau sekaligus dimaksudkan juga
tradisi itu sendiri.
Nyalindung na sihung maung,
Ditekerna metenteng,
Ulah aya guam,
Bisa dituliskeun, teu bisa kanyahokeun,
Sok mun eling moal luput salamet.

Teks ini intinya walaupun mendapat hinaan, tidak boleh melawan, usahakan untuk menghindar, sambil
tetap bersikap selalu ingat agar selamat, kehidupan damai dengan menjauhi perselisihan.

Buku Ajar Teori Arsitektur 57


Teu saba, teu soba, teu banda, teu boga, teu weduk, teu pinter.

Teks ini intinya memberi pesan agar menjauhkan diri dari kehidupan material, tidak merasa lebih dari
yang lain, tidak pernah tamak atas segala keinginan yang tidak ada batasnya.
Keharmonisan tersebut juga diterapkan pada kegiatan mendirikan rumah. Mendirikan ruamh identik
dengan awal kehidupan, sesuai dengan arah terbitnya matahari. Perbaikan bagian rumah yang rusak
tidak perlu dengan upacara. Sedangkan pembangunan bangunan keramat tidak memperbolehkan
pelakunya mencucurkan keringat, karena diidentikkan tidak rela melakukannya.
Masyarakat Sanaga (keturunan warga asli Kampung Naga yang tinggal diluar) boleh menggunakan
bahan bangunan apapun, kecuali untuk dapur, pintu, juga perletakan dapur dan goah (lumbung padi di
dalam rumah) harus sesuai aturan. Hal tersebut menunjukkan pentingnya kedudukan paon dan goah
pada rumah tinggal. Paon hanya boleh dimasuki kaum wanita, dan memiliki pencapaian langsung dari
luar. Goah sebagai tempat penyimpanan padi merupakan tempat bersemayamnya Dewi Padi.
Letak rumah tinggal anggota keluarga yang lebih muda tidak boleh ngalangkangan terhadap yang lebih
tua, karena dipercaya akan berdampak anggota keluarganya sakit-sakitan. Secara logika rumah tinggal
yang sedikit menerima siner matahari pagi, akan lebih tidak sehat. Kampung Naga sendiri terletak di
bagian lembah, dekat aliran sungai Ciwulan, dan dikitari bukit.
Belum ditemukan aturan tentang tata ruang, yang memilah Kampung Naga menjadi zona kotor, zona
bersih dan zona sakral menurut urutan Timur-Barat dimulai dari sungai Ciwulan. Pada zona kotor terletak
lisung, kandang, empang, sawah, ladang, kebun, MCK. Sedangkan zona bersih meliputi bangunan-
bangunan rumah tinggal, masjid dan bale pataman. Makam karuhun di zona sakral di lereng bukit, bumi
ageung, tempat menyimpan pusaka di zona transisi antara zona bersih dan sakral.
Bentuk bangunan rumah tinggal menyerupai julang ngapak Sunda, dengan perbedaan arah
memanjangnya palupuh untuk lantai, daun pintu dan penentuan dimensi serta bahan bangunan yang
dipergunakan.
Menurut Kusnaka Adimihardja, pola pemukiman warga Kasepuhan, orang Naga dan Baduy tidak
mengenal pekarangan sebagai akibat menerapkan sistem perladangan. Buruan (halaman) dikenal
sebagai ruang terbuka yang lebih berfungsi sosial daripada fungsi ekonomis. Buruan adalah palataran di
depan rumah, tempat menyongsong tamu, alun-alun (Adi Mihardja, 1992 : 131-137). Rumah tinggal
Kampung Naga tidak mempunyai buruan yang luas, karena juga menjadi ruang komunal dan jalan
lingkungan yang berbatu. Kalau Bumi Ageung semula diperkirakan sebagai tempat ibadah leluhur, maka
buruan yang ada di depan masjid dan Bale Patamon sekarang, kemungkinan aslinya lebih luas. Konsep
orientasi Timur-Barat yang jga diterapkan pada Bumi Ageung, mengalami ‘perbaikan’ mengarah ke kiblat
pada penataan masjid dan Bale Patemon.
Belum ditemukan juga alasan pemberian lapisan ilalang di bagian bawah penutup atap ijuk.
Kenyataannya, ilalang itupun tidak dihasilkan setempat. Hal yang sama, pada bentuk atapnya, yang terjal
di bagian yang mengatapi goah, tetapi lebih landai di bagian depannya yang mengatapi paon dan
sebagian tengah imahnya. Pertimbangan fungsionalkah agar padi yang disimpan di goah tidak rusak oleh
tempias air hujan serta volume ruang yang longgar. Sementara di bagian Paon, ruang terbuka
berpenutup atap rendah tidak merupakan masalah. Pengaturan tata ruang di kampung Naga berbeda
dengan di Baduy dalam yang praktis tanpa dinding-dinding penyekat. Agaknya kesederhanaan tata ruang
rumah tinggal Baduy Dalam sudah tercermin pada falsafah hidup yang mewarisi leluhurnya Sang Hyang
Sikasa Kanda Karesia : sare tamba hanteu tunduh, madang tamba teu lapar, make tamba teu taranjang.
Tidur sekedar pelepas kantuk, makan sekedar pelepas lapar, berpakaian sekedar tidak telanjang.

4. Keharmonisan Jagad Cilik & Jagad Gedhe: Manunggaling Kawula Gusti


Falsafah Manunggaling Kawula Gusti sangat dipengaruhi oleh ajaran tasawuf yang mungkin telah
bercampur dengan paham Kejawen sebelumnya. Secara fisik falsafah tersebut digunakan oleh penguasa
Jawa untuk meletakkan kedudukan Kraton (ka-ratu-an)nya terhadap wilayah bawahannya.

Buku Ajar Teori Arsitektur 58


5. Kraton sebagai Kosmomagis
Kraton menempati pusat dari sumbu-sumbu magis (atau sebaliknya?) Kraton ditetapkan dulu baru sumbu
magisnya diatur. Perjalanan hidup Purwa-Madya-Wasana, diwujudkan dalam pen-zona-an ruang luar
Kraton secara keseluruhan. Maka tidak pernah ada alun-alun terletak di sisi Timur dan Barat dari Kraton.
Kraton menjadi patron pusat-pusat pemerintahan yang lebih kecil, tetapi tidak boleh disamai karena ke-
binathara = Dewa - an - nya (ratu). Ratu adalah dewa, menandai penerapan konsep dewa raja.

6. Mancapat
Papat keblat kalima pancer menunjukkan eratnya hubungan posisi-posisi di arah mata angin dan posisi di
tengahnya. Konfigurasi ini dapat semakin mengecil (atau membesar?) membentuk konfigurasi yang lebih
kompleks tetapi selaras, pada dusun atau desa. Menurut van Ossenbruggen pola serupa mancapat
banyak terdapat di Indonesia dalam banyak versi.
Menurut Rachmat Soebagja, pola Mancapat diterapkan secara maluas dalam pewayangan, warna,
kebatinan, pemerintahan, hukum adat, sastra, hari pasaran. Bahkan konsep Nusantara-nya Singosari
oleh Kertanegara menggunakan Mancapat dengan Catur Prakara Bangli-Malayu-Madhura-Tanjungpura
yang disimboliskan dalam perwujudan keempat putrinya. (Soebagja, 1981 : 100-101).
Agak mengherankan konsep Mancapat seakan-akan tidak diterapkan pada tata bangunan rumah
tradisional Jawa. Senthong tengah sebagai ruang terpenting, baik di pesisiran maupun di daerah
pedalaman, menempati bagian tengah agak kebelakang dari bangunan keseluruhan (dalem, omah
mburi). Mungkin senthong tengah adalah pancer dari senthong kiwa, senthong tengen, rong dan
jagasatru, dan halaman belakang. Rong dibiarkan kosong serupa pada keberadaan perempatan jalan di
pusat desa dan pusat halaman candi. Bagi masyarakat nelayan halaman belakang senthong tengah bisa
berupa laut sebagai lahan kehidupannya.

7. Petungan
Melalui petungan tentang ukuran bangunan dan pekarangan, pengguna bangunan (pemilik) rumah
tinggal ‘dijanjikan’ mendapatkan kehidupan yang baik sebagaimana harapannya, dan sebaliknya
menerima sangsi akibat penetuan petungan yang keliru.

C. ARSITEKTUR INDIA

1. Kosmologi India
Seperti orang Yunani, kosmologi manusia India memandang segala yang ia lihat dan alami sebagai suatu
kosmos yang agung. Mikro-kosmos segala yang dibentuk selaku citra makro-kosmos.
Pada buku Kosmologi dan Ekologi (Bakker, 1995) dijabarkan bahwa India mempunyai pengertian tentang
Kosmologi berdasarkan :
Jaina (pendiri Vardhamana (?) 540-468). Ruang adalah tak terbatas, abadi, dan tak terobservasikan;
menjadi syarat bagi kemungkinan ekstensi, tetapi tidak sama dengan ekstensi. Ruang terbagi dua, yaitu
ruang yang memuat dunia; dan ruang yang kosong “di seberang dunia”.
Vaiseshika (pendiri Kanada abad 5 SM). Ruang diinferensikan dari penggunaan arah dan tempat. Ruang
itu substansi tunggal, tak terobservasikan, tak terbatas, tak terbagikan; ruang itu abadi dan meresapi
segalanya.

2. Ruang-Bentuk-Estetika dalam Arsitektur India


Arsitektur India mendasari filosofi dan bentuk-bentuk arsitektur percandian di Nusantara. Demikian juga
arsitektur India tidak dibangun untuk memuaskan manusia, tetapi untuk membebaskan diri dari maya
atau demi transformasi diri ke arah ke-ada-an yang sejati. Bahwa kekosongan Nirvana bukan hanya
kosong negatif belaka tetapi diberi arti benar-benar positif; kekosongan yang penuh berisi. Nirvana adalah
suatu keadaan sejati yang paradoksal, justru adalah ketiadaan.

Buku Ajar Teori Arsitektur 59


Pengertian wastu (bangunan) dari kacamata Romo Mangun adalah bahwa Wastu India pada hakekatnya
merupakan pelambangan dan visualisasi dari yang mereka yakini yaitu bahwa Mikro-kosmos segala yang
dibentuk selaku citra Makro-kosmos, yaitu pembebasan dari belenggu maya menuju ke penyatuan atman
(diri relatif) dengan brahman (ke-esaan mutlak). Dalam filsafat India, selalu mengacu pada 3 lapisan
pokok :
Lapisan pertama, yang luas, menggambarkan alam purba di bawah sadar, alam yang masih serba baur,
bagaikan kama yang tanpa bentuk, tanpa warna, tanpa definisi. Bagian ini melambangkan tahap
keadaan manusia ketika masih kama, keinginan belaka, kehausan. Lapisan ini disebut Kamadatu (tahap
hasrat, ingin, nafsu belaka).
Lapisan kedua, di atasnya, ialah keadaan manusia di dunia fana ini. Sadar, tetapi masih sadar semu,
terbelenggu dalam semesta yang serba banyak, serba ramai serta membingungkan, karena serba
menipu, yakni alam maya yang penuh dengan segala bentuk dan rupa. Lapisan ini disebut Rupadatu
(tahap penuh rupa).
Lapisan ketiga, yang sudah menuju kesadaran sejati, yang sudah tidak lagi menghiraukan bentuk, rupa,
jenis, dsb, tetapi yang mengalami betapa segala ada-yang-banyak ini melebur ke dalam satu zat yang
tanpa definisi, tanpa rupa. Lapisan ini disebut A-rupadatu (tahap tanpa rupa, tahap hening), tahap
kemutlakan tak terkatakan.
Rumah sebagai salah satu bentuk arsitektur juga terdiri dari ketiga datu tersebut :
pertama : dasar dan lantai
kedua : tiang dan dinding-dinding
ketiga : a t a p
Bentuk-bentuk yang banyak dipakai pada arsitektur India ini adalah: stupa, lingkaran dan mandala.
Bentuk-bentuk ini dipakai sebagai pengejawantahan filsafat India dalam lingkup estetikanya. Bentuk
stupa bermakna sebagai poros yaitu poros perputaran.
Jaman yang berjalan, atau lebih tepat nasib samsara (terbelenggu keinginan dan maya) dilambangkan
sebagai roda, sebagai lingkaran atau cakra. Kepercayaan Budha mengikhtiarkan pembebasan dari nasib
serba inkarnasi terus menerus tanpa ujung pangkal. Bentuk lingkaran oleh kebudayaan India dijadikan
lambang “kefanaan” jaman yang tanpa awal tanpa akhir atau lebih tepat: berasal Esa Mutlak, tetapi
terbentuk oleh Maya menjadi sesuatu yang konkret, namun tipuan.
Simbol dari prinsip yang lebih sejati adalah bentuk bujur sangkar, bentuk yang mengingatkannya kepada
bentuk kiblat-angin yang lebih abstrak, karena lebih tidak tampak juga; dan yang mengendap dalam
bentuk mandala.
Selain dari ketiga bentuk dominan tadi, masih ada satu bentuk yang bisa disebut sebagai dwi tunggal
semesta, yaitu penghayatan dwitunggal prinsip lelaki dan prinsip perempuan yang merambahi seluruh
alam raya, termasuk alam manusia. Prinsip lelaki dan perempuan itu adalah lingga dan yoni.

D. ARSITEKTUR JEPANG
Didalam masyarakat Jepang, meski telah terjadi kemajuan teknologi tinggi, urbanisasi secara besar
besaran, hubungan perdagangan international dan penyerapan sifat ke barat-baratan, elemen
kebudayaan asli yang khas masih tetap hidup di dalam semua lapisan masyarakat.
Dalam bidang arsitektur, konsep dan pemakaian ruang yang khas masih terpelihara makna
kebudayaannya meskipun banyak elemen fisik dari tradisi itu nyatanya sudah tidak utuh lagi. Makna
kebudayaan mudah diterjemahkan kedalam bentuk yang baru. Bila dilihat sekilas, pengaruh nyata dari
arsitektur barat di Jepang sukar ditelusuri. Keturut sertaannya tidak diungkapkan dalam bentuk fisik.
Namun hasil karya mereka (Barat) telah mempengaruhi perkembangan konsep arsitektur Jepang.
Sebuah idea akan sama hasilnya apakah diungkapkan dalam bentuk fisik atau dalam bentuk lainnya.

Buku Ajar Teori Arsitektur 60


1. Ruang
Konsep disain ruang Jepang dapat dengan mudah dikenali perbedaannya dengan konsep ruang Barat.
Orang Jepang merekam persepsi-persepsi dan memperhatikan ruang yang dipengaruhi oleh sejarah dan
tradisi Jepang yang kompleks serta berkenaan dengan kebutuhan ruang yang dituntut oleh dinamika
orang Jepang secara individu.
Sejak dulu pembangunan di Jepang dilakukan secara tradisionil tanpa memperhatikan falsafah
pengertian ruang. “Ruang” dalam arsitektur mulai muncul dalam literatur-literatur Jepang sekitar tahun
1960. Faktor-faktor yang mendukung adalah :
a. Kemajuan pertukangan
b. Pengaruh Barat yang kuat setelah perang dunia ke II dalam masyarakat Jepang.
c. Penemuan bahan bangunan baru
Penggunaan ruang Jepang (Japanesse Space) dalam hal yang mendasar sangat dipengaruhi oleh
berbagai kepercayaan. Hal yang erat hubungannya dengan kepercayaan adalah dasar falsafah
kebudayaan orang Jepang itu sendiri (Lao-Tze dan Connfucius). Konsep ruang mencakup pemikiran dan
perasaan yang di ekspresikan di dalam kebudayan khas Jepang, dimana untuk menyampaikan arti yang
sempurna harus disertai isi jiwa, raga, pikiran dan fisik. Dengan demikian “ruang” bagi orang Jepang
merupakan susunan dari pilihan terhadap kepekaan yang mendasarkan sejarah, unsur asli maupun tidak.
Secara umum karakteristik ruang Jepang terkandung panca indera. Contoh yang paling sempurna
mengenai “ruang” di dalam arsitektur Jepang adalah Rumah Teh. Kesederhanaan Rumah Teh, dimana
pendekatan-pendekatan yang didasarkan pengalaman terhadap ruang diekspresikan dengan jelas di
dalam prinsip dasar kesucian dari upacara minum teh. Dalam upacara ini, peserta dituntut untuk
membuka diri hingga pada sifat-sifat yang mendasar. Untuk mencapai keadaan jiwa yang tinggi ini,
semua indra harus berjalan dengan serasi.

2. Bentuk
Citra Arsitektur Jepang dalam bentuk bangunan mencerminkan kesederhanaan, kepolosan, kelurusan
dan ketenangan bathin. Bentuk yang bernafaskan/berjiwa Shinto, yaitu kepercayaan dasar orang Jepang,
mengajarkan tentang harmoni, keseimbangan dan keheningan yang indah. Hal-hal tersebut tampil dalam
bangunan-bangunan Jepang seperti:
membangun dengan bahan-bahan yang ringan: kayu, bambu dan jerami, kertas dan sutera.
menggunakan bahan-bahan transparant, hemat bahan, yang mengartikan seolah-olah rohani yang
tidakmembutuhkan materi.
dinding hampir tidak mempunyai materi, hanya tampak seperti selaput saja saking tipisnya.
tiang-tiang kecil semampai, sederhana, mengartikan kediaman tanpa ingin diusik, tersebunyi dalam
dinding transparant.
Arsitektur Jepang sangat dipengaruhi China, tapi kemudian berkembang menemukan kepribadiaannya
sendiri.

3. Estetika
Untuk mengerti dan mendalami konsep ruang Jepang, orang perlu mengetahui lebih dulu pengertian
mereka tentang “estetika” atau keindahan. Dalam budaya Jepang, estetika lebih bersifat subyektif, karena
adanya atau masuknya perasaan peninjau dalam memandang dan menanggapi sesuatu obyek.
Estetika atau keindahan berasal dari ketidak pastian (mujo), pengertian penganut Budha, adalah bahwa
semua benda dan mahluk berada dalam keadaan senantiasa bergerak berubah. Perubahan merupakan
gejala alam dan orang Jepang memang sangat serasi dan menyukai alam. Salah satu ungkapanyang
paling populer untuk estetika adalah “Shibui”. Shibui mempunyai arti estetika yang menekankan kepada
sifar tenang, sederhana dan integritas total dari keahlian, bahan dan disain.

Buku Ajar Teori Arsitektur 61


Ketenangan dalam falsafah Jepang dapat dicapai melelui ketidak sempurnaan, yakni pernyataan yang
tidak selesai, pola yang tidak sempurna dimana selalu tertinggal ruang untuk rekaan seseorang.
Penjelasan ini memberikan gambaran mengapa orang Jepang suka akan ketidak sempurnaan dan
ketidak teraturan.
Daftar Pustaka
Anh, To Thi, 1987, Budaya Timur dan Barat, Konflik atau Harmoni,
Bakker, Anton, 1995, Kosmologi dan Ekologi, Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumah Tangga Manusia,
Yogyakarta: Kanisius
Mangunwijaya, YB, 1988, Wastu Citra, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Roesmanto, Toto, 1999, Teori Arsitektur di Dunia Timur”. Makalah Penataran Dosen PTS, tidak
dipublikasikan.
Ven, Cornelis van de, 1987, Ruang dalam Arsitektur, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Buku Ajar Teori Arsitektur 62


BIODATA PENYUSUN

Abito Bamban Yuuwono, lahir di Karanganyar 06 Januari 1975. Tamat S1 dari Universitas Tunas
Pembangunan Surakarta tahun 1998. Saat ini mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Tunas
Pembangunan Surakarta, Alamat Kantor : Jl. Walanda Maramis no 31, Cengklik Bibis Luhur Surakarta
57135, Telepon (0271) 853824 – 41924. Alamat Rumah: Wonosari Rt01/III Gondangrejo Karanganyar
57773.
Ac. In’am Arzaqi, lahir di Lamongan, 10 Januari 1966. Menyelesaikan pendidikan Program Sarjana di
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya tahun 1991,. Jurusan Teknik Arsitektur. Menjadi pengajar
untuk mata kuliah Metode Perancangan Arsitektur, Asas Perancangan dan Perencanaan Arsitektur, Teori
Arsitektur di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan ( UNISDA ).
Alamat Kantor : Jl. Airlangga no. 3 Sukodadi – Lamongan 62253. Telepon 0322-390497. Alamat Rumah
: Jl. Lamongrejo no. 34 Karangasem Lamongan 62211. Telepon 0322-321079.
Alamat kantor : jalan Ketintang madya VII, telpon (031) 828.7896. Alamat rumah : jalan Ketintang madya
II/36 Surabaya, telpon/fax. (031) 828.7378
Antonius Sukohedi, lahir di Jogyakarta 25 Pebruari 1948. Tamat S1 di Unika Soegijapranata Semarang
tahun 1987 . Mengikuti program MBA di Institut Manajemen & Bisnis Indonesia Jogyakarta tahun 1993.
Mengajar di Sekolah Tinggi Teknik Jayapura mulai tahun 1996 sampai sekarang. Alamat Kantor Sekolah
Tinggi Teknik Jayapura, Jl. Raya Sentani Padangbulan – Abepura Jayapura, Telp. (0967) 582440, Fax
(0967) 582550. Jayapura.
Christina Gantini, lahir di Bandung, 31 Agustus 1964. Tamat S1 dari Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya tahun 1988 dan mendapat gelar Magister Teknik dari Institut Teknologi Bandung
tahun 1997 dalam Sejarah Teori dan Kritik Arsitektur. Menjadi staf pengajar kelompok mata kuliah Teori
Arsitektur, Prinsip Perancangan Arsitektur, dan Tipologi Bangunan di Program Studi Arsitektur Fakultas
Teknik Universitas Winaya Mukti - Sumedang. Alamat Kantor : Jalan Winaya Mukti No.2, Jatinangor –
Sumedang, Telepon 022 - 798379 ext. 126 Fax. 022 - 798378. Alamat Rumah : Jl. Bukit Dago Utara 6
Bandung 40135. Telepon: 022 – 2505657 – 2533884.
Eddy Sumantri, lahir di Jakarta 1 September 1948. Tamat S1 dari Universitas Indonesia, Jakarta tahun
1984. Saat ini sebagai tenaga pengajar di Universitas Jakarta, Jakarta untuk mata kuliah Metode
Perancangan Arsitektur dan Teknik Komunikasi Arsitektur. Alamat Kantor ; Jl. Pulo Mas Barat, Jakarta.
Alamat Rumah: Jl. Tebet Timur Dalam VI G No,4 Jakarta Selatan i. Telepon (021) 8292186 .
Elly Cornelies, lahir di Magetan 12 Mei 1966. Tamat S1 dari Institut Teknologi Nasional Malang tahun
1994. Saat ini sebagai tenaga pengajar tetap di STTI, Jakarta. Alamat Kantor ; Jl. Matraman Raya,
Jakarta. Alamat Rumah : Jl. Pipercup blok H2/10 Bhumi Dirgantara Permai, Cakung Payangan, Jati-sari –
Jati-asih, Bekasi. Telepon (021) 8454468 – 8447446
Erlina Laksmiani Wahjutami, lahir di Malang 05 Januari 1967. Tamat S1 dari Institut Teknologi Sepuluh
Nopember Surabaya (ITS) tahun 1990. Saat ini sebagai tenaga pengajar tetap di Universitas Merdeka
Malang dan sedang menyelesaikan studi S2 di ITS. Alamat Kantor : Jl. Terusan Raya Dieng 62-64
Malang, Telepon (0341) 328395. Alamat Rumah : Jl. Bendungan Sigura-gura III/8, Malang, Telepon
(0341) 552517.
Esty Poedjioetami, lahir di Surabaya 03 Juni 1963. Tamat S1 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya (ITS) tahun 1988. Saat ini mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Widya Kartika Surabaya.
Alamat Kantor : Jl. Sutorejo Prima Utara II No. 1 Surabaya, Telepon (031) 5922403. Alamat Rumah :
Semolowaru Elok F-17 Surabaya, Telepon (031) 5920526.
FXE. Arinto. lahir di Jember 8 Agustus 1956. Tamat S1 dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun
1982 dan mendapat gelar Master of Architecture dari The Berlage Institute Amsterdam tahun 1997 dalam
Desain Arsitektur dan Kota. Menjadi staf pengajar kelompok mata kuliah desain di Program Studi
Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya YogYakarta dan mata kuliah Etika Profesi pada
Program Magister Teknik pada Program Magister Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Alamat

Buku Ajar Teori Arsitektur 63


Kantor : Jalan Babarsari 44, Yogyakarta 55281 Telepon 0274-565411 Fax. 0274-565258. Alamat Rumah
: Jalan A. Yani 77 A, Magelang 56114. Telepon/Fax 0293-64587 E-mail :
cipta@magelang.wasantara.net.id
Gunawan, dilahirkan di Surabaya, 07 Agustus 1959. Lulus Sarjana (S1), Jurusan Arsitektur Universitas
Petra Surabaya, tahun 1985. Melanjutkan pada Pasca Sarjana, Jurusan Arsitektur, Program studi
Perancangan Dan Kritik Arsitektur, pada Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Lulus tahun
1998. Sejak tahun 1987 sampai saat ini sebagai staf pengajar pada jurusan Arsitektur Universitas
Muhammadiyah Surabaya. Sebagai Arsitek Praktisi, satu diantara karya percancangannya di kawasan
Surabaya adalah Gedung Dewan Harian Angkatan ’45. Alamat Kantor : Jl. Sutorejo no. 59 Surabaya,
Telepon 031 – 3892754, Fax. 031 – 3813096, Alamat Rumah : Jl. Keputih Sukolilo no. 54 Surabaya
Telepon 031 – 5920696.
H. Ikin Solichin, lahir di Majalengka 1 Januari 1937. Tamat ATPU Prop. Dt.I Jawa Barat Jurusan
Arsitektur tahun 1972 dan tamat Sarjana Teknik Arsitektur STTC tahun 1994 . Suatu keunikan telah
dijalani yaitu pertama: Tidak pernah mengikuti pendidikan umum, tamat SR (SD jaman dulu) masuk ST,
STM (Sekolah Kejuruan). Kedua: Lulus Pendidikan Sarjana Teknik Arsitektur setelah satu tahun
menjalani Pensiun dengan jabatan terakhir Kepala Cabang Dinas PU Cipta Karya Kabupaten Cirebon
.Alamat Kantor : STTC Jalan Perjuangan By Pass Cirebon – 45132 Telp./Fax. (0231) 482146, Alamat
Rumah : Jalan Sekarkemuning No. 51 By Pass Cirebon - 45135.
Hadrawi Machmud, lahir di Majene (Sulawesi Selatan) 09 Januari 1960. Tamat S1 dari Universitas
Hasanudin Ujung Pandang tahun 1985 dan S2 dari universitas yang sama tahun 1998. Saat ini mengajar
di jurusan Arsitektur Universitas 45 Ujung Pandang. Alamat kantor jl. Urip Sumoharjo km. 4, Ujung
Pandang – telp. (0411) 452901. Alamat rumah jl. Toddopuli 22 Blok 35 no. 28, Ujung Pandang – telp.
(0411) 442522.
Heryadin, lahir di Jakarta 10 Pebruari 1968. Lulus Sarjana (S1) Jurusan Arsitektur Institut Teknologi
Nasional – Bandung tahun 1992 dan tamat Pasca Sarjana (S2) Program Studi Arsitektur Institut
Teknologi Bandung tahun 1999. Semenjak tahun 1994 hingga kini bekerja sebagai tenaga pengajar
jurusan Arsitektur di Institut Teknologi Nasional Bandung dan bekerja di dunia praktis pada salah satu
Konsultan Teknik di Bandung. Alamat kontak Jl. PH. H Mustafa No. 23 Bandung, telp. (022) 772215
(ITENAS). Rumah : Komp. Perumahan Gending Mas Blok G-22 Ujung Berung - Bandung, Telp. (022)
7832224.
I Made Artha, dilahirkan di Denpasar Bali, 20 Nopember 1957. Lulus Sarjana ( S1) Teknik Arsitektur
Universitas Udayana tahun 1986, Bekerja sebagai dosen Kopertis Wilayah VIII dpk pada Fakultas
Teknik Arsitektur Unversitas Dwijendra . Alamat kantor : Jl . Kamboja Denpasar Telp ( 0361 )224383,
Alamat Rumah : Jl Gutiswa No 2A Br. Ambengan – Peguyangan Kangin Denpasar Barat Telp : (0361)
463074.
Ilya Fadjar Maharika, lahir di Temanggung 2 April 1968. Tamat S1 dari Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta tahun 1993 dan S2 dari Institute of Advanced Architectural Studies, University of York, Inggris
tahun 1998. Saat ini mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia dan menjadi Kepala
Laboratorium Sejarah dan Teori Arsitektur. Alamat kontak, kantor: Jl. Kaliurang 14,4 Yogyakarta, tel.
(0274) 895042, 895707 faks. 895330. Rumah: Jl. Kaliurang km. 5,6 Gg. Pandega Bakti No. 13
Yogyakarta 55281, tel (0274) 562030, e-mail: maharika@indosat.net.id.
Iwan Priyoga, lahir di Semarang 29 April 1969. Tamat S1 dari Universitas Diponegoro tahun 1995. Saat
ini sebagai staf pengajar tetap di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas
Pandanaran Semarang. Alamat Kantor : Jl. Kelud Raya No. 2 Semarang Telp./Fax. (024) 413061. Alamat
Rumah : Jl. Boton II Gg. Waluyo No. 9 Telp. (0293) 68280 Magelang.
Lily Mauliani, lahir di Jakarta 26 September 1958. Tamat dari Institut Teknologi Bandung tahun 1988
dan saat ini sedang mengikuti program Pasca Sarjana di Universitas Indonesia program studi
Antropologi. Sejak tahun 1991 sampai sekarang mengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta untuk
mata kuliah Pengantar Arsitektur, Teori Arsitektur I dan II. Alamat kantor Jl. Cempaka Putih Tengah 27,
Jakarta Pusat, Telpon (021) 4244016, Fax. (021) 4256023.

Buku Ajar Teori Arsitektur 64


Muzaky Salcha, Lahir di Tegal 21 Oktober 1951, Tamat S1 dari Universitas Gadjah Mada tahun 1980.
Saat ini sebagai staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Alamat kantor Jl. Cempaka Putih
Tengah 27 Jakarta Pusat, Telp. (021) 4244016, Fax. (021) 4256023. Alamat rumah Jl. Cendana IV A / 16
Griya Cendana Pekayon Jaya Bekasi, Telp. (021) 8200706.
Najih Fuadi, lahir di Lamongan, 14 Juni 1965. Tamat S1 tahun 1990 dari Universitas Brawijaya Malang.
Sebagai staf pengajar pada mata kuliah Asas Perancangan Arsitektur dan Konstruksi Bangunan di
Sekolah Tinggi Teknik Malang. Alamat kantor : Jl. Simpang Candi Panggung No. 133 Malang, telp. (0341)
473816 alamat rumah Jl. Terusan Sudimoro Kav. 16 Malang telp. (0341) 477533.
Nurlailah, Lahir di Jakarta 16 Desember 19…. , Tamat S-1 dari Universitas Trisakti Jakarta tahun 1998.
Saat ini mengajar mata kuliah Menggambar Rekayasa I dan II pada Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan Universitas Satyagama Jakarta sejak tahun 1998 sampai sekarang. Alamat kantor Jl.
Kamal Raya 2-A, Cengkareng Barat, Jakarta Barat 11730 dengan nomor telepon (021) 5452377-5452378
fax (021) 5452378.
Primi Artiningrum, lahir di Yogyakarta, 5 Maret 1963. Tamat S1 dari Universitas Indonesia tahun 1986,
dan S2 dari Faculty of the Built Environment, University of New South Wales, Australia, tahun 1999. Saat
ini bekerja sebagai staff pengajar tetap di Universitas Mercu Buana, Jakarta, Fakultas Teknik Sipil dan
Perancangan, Jurusan Arsitektur. Alamat kantor: Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta Barat
11650. Telp. (021) 5840816 ext. 306, Fax. (021) 5840813. Alamat rumah: Jl. Jatibarang V/33 kompleks
Pertamina Jati, Jakarta Timur 13220. Telp: (021) 4894782. Email: tinn2@yahoo.com
Samosir, Rudy, HP, lahir di Padang Sidempuan 24 Nopember 1961, Tamat dari Universitas Merdeka
Surabaya tahun 1987. Saat ini sebagai pengajar tetap pada mata kuliah Metode Perancangan di Univ.
Merdeka Surabaya. Saat ini lebih banyak meminati pekerjaan sebagai designer interior. Sejak 1997
sebagai anggota profesional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa timur, no. anggota 3510.
St. Trikariastoto, lahir di Sampit (Kalimantan Tengah) pada tanggal 28 September 1965. Tamat S1 dari
Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 1991. Saat ini sebagai staf pengajar pada Jurusan Teknik
Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Persada Indonesia Y.A.I Jakarta. Alamat
Kantor di Gedung Y.A.I (Lt. IV) Jl. Salemba Raya No. 7 Jakarta Pusat, Telp (021) 3914075, 3914076.
Alamat rumah : Bumi Serpong Damai Sektir XIV-6 Blok PA / 16 Serpong Tangerang, telp. : (021)
7565947.
Sudarmin, lahir di Pekanbaru 21 Oktober 1954. Tamat S1 dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
tahun 1986. Saat ini mengajar di jurusan Arsitektur Universitas Lancang kuning Pekanbaru – Riau.
Alamat kontak, Kantor Jl, Yos Sudarso km8 Rumbai Pekanbaru. Rumah Jl.Teratai No 65 / 89 Pekanbaru
28127, Telp ( 0761 ) 32342.
Sudibyo Prodjosaputro, lahir di Bogor 10 Maret 1930. Tamat S1 dari Institut Teknologi bandung (ITB)
tahun 1960 dan S2 dari A-A School of Architecture London untuk Tropical Studies tahun 1992. Tahun
1966 mendapat Master of Science dalam Arsitektur dan Perancangan Kota dari Illinois of Technology.
Menjadi staf pengajar ITB dari tahun 1969 s/d 1995. Mulai tahun 1998 mengajar di Universitas Langlang
Buana Bandung pada Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Alamat Kantor : Jl.
Karapitan Bandung. Alamat Rumah Jl. Bukit Dago Utara II/20C Telp. (022) 2502494/Fax. (022) 2505358
Bandung.
Sukatno, lahir di Asahan, 1 Januari 1961. Tamat S1 tahun 1992, Program Studi Teknik Arsitektur
Lansekap Fakultas Teknik Univ. Pembangunan Panca Budi Medan. Staf pengajar Pengantar Arsitektur
dan Perencanaan & Perancangan di FT. UNPAB Medan. Alamat Kantor : Jl. Jend. Gatot Subroto Km. 4,5
Medan, Telp. 061 – 8455571 – 8455480
Tito Gunawan Wigono, dilahirkan di Purwokerto, 2 Mei 1950. Lulus Sarjana (S1) Jurusan Arsitektur
Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 1977. Kemudian melanjutkan studi
pada Program Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung Bidang Arsitektur dan lulus (S2) tahun 1986.
Bekerja sebagai Dosen Tetap Jurusan Arsitektur Unpar sejak tahun 1978 hingga kini. Pernah bertugas
sebagai Koordinator Tugas Akhir Arsitektur tahun 1988 – 1994 dan menjabat Pembantu Dekan III
Fakultas Teknik Unpar tahun 1995 – 1999, kini bertugas sebagai Ketua Konsorsium Studio Arsitektur dan

Buku Ajar Teori Arsitektur 65


mendukung Program Pasca Sarjana Unpar / Magister Teknik Arsitektur sebagai Dosen mk. Psikologi
Arsitektur bersama sama dengan Prof. John Nimpoeno serta Dosen Pembimbing & Penguji Thesis.
Disamping itu juga bekerja sebagai Free-lance Arsitek dan Anggota IAI profesional, no, anggota : 0696,
juga ikut serta sebagai anggota Pengurus IAI cabang Jawa Barat tahun 1982 – 1998. Alamat Kantor :
Jalan Ciumbuleuit 94 Bandung 40141, tilp. (022) 233691, fax. (022)233692. Alamat Rumah : Jalan Unpar
II no.9 Bandung 40164, tilp. (022) 213555 , E-mail : tgw@home.unpar.ac.id
Wiwik Widyo, lahir di Surabaya 19 Oktober 1967. Tamat S1 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya (ITS) tahun 1989. Saat ini sebagai tenaga pengajar tetap di Institut Teknologi Adhi Tama
Surabaya. Alamat kantor : Jl. Arief Rachman Hakim 100 Surabaya. Alamat Rumah : Perum. Pondok
Tanjung Permai Jl. Klampis Semolo Timur A-3 Surabaya. Telp. (031) 5999109.
Yoh. Wahyu Dwi Yudono, lahir di Banyuwangi; 20 Oktober 1965. Tamat S1 tahun 1991 dari Universitas
Atmajaya Yogyakarta. Menjadi staf pengajar untuk kelompok mata kuliah Pengantar Arsitektur,
Perkembangan Arsitektur dan Studio Perancangan Arsitektur pada Fak. Teknik Univ. Wijayakusuma
Purwokerto. Alamat kantor: Jl. Beji Karangsalam – Purwokerto, telp. (0281) 33629 – alamat rumah: Jl.
Pucung Rumbak No. 6 – Purbalingga, telp. (0281) 91820.
Zuber Angkasa, lahir di Bailangu (Sumatera Selatan) 05 Oktober 1963. Tamat S1 dari Universitas
Sebelas Maret Surakarta tahun 1991 dan S2 dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta tahun 1998. Saat
ini mengajar di Jurusan Arsitektur Universitas Muhammadiyah Palembang. Alamat Kantor: Fakultas
Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang. Jl. A. Yani 13 Ulu – Telp. (0711) 510820, Fax. (0711)
513078. Palembang. Alamat Rumah: Komplek Taman Sari Kenten I Blok F no. 15, Telp. 0816 385763
Palembang.

Buku Ajar Teori Arsitektur 66


PARWA 1 : TEORI DAN TEORI ARSITEKTUR ................................................................................................. 1
A. TEORI & ILMU PENGETAHUAN ...................................................................................................... 1
B. TEORI ARSITEKTUR....................................................................................................................... 4
C. KEDUDUKAN ARSITEKTUR DALAM HUBUNGANNYA DENGAN ILMU PENGETAHUAN ..................... 5
D. PENERAPAN TEORI DALAM ARSITEKTUR ...................................................................................... 7
E. PENDEKATAN PADA PEMAHAMAN TEORI ARSITEKTUR TIMUR DAN NUSANTARA ........................ 9
PARWA 2 : PARADIGMA DALAM BERTEORI ARSITEKTUR ......................................................................... 12
A. PARADIGMA MITOLOGI DAN KOSMOLOGI ................................................................................... 12
B. KONSEP VASTU-PURUSHA-MANDALA ........................................................................................ 13
C. KONSEP TRIBUWANA .................................................................................................................. 14
D. TEORI-TEORI/TEMA YANG BERKEMBANG ................................................................................... 14
E. PARADIGMA ESTETIKA................................................................................................................ 15
F. YUNANI ...................................................................................................................................... 15
G. PARADIGMA SOSIAL (HUMAN SCIENCE) ..................................................................................... 16
H. PARADIGMA RASIONALIS ............................................................................................................ 18
I. PARADIGMA KULTUR .................................................................................................................. 19
J. PARADIGMA-PARADIGMA POST-MODERNISM .............................................................................. 22
K. PARADIGMA ENVIRONMENTALISM .............................................................................................. 25
PARWA 3 : FUNGSI, RUANG, BENTUK DAN EKSPRESI DALAM ARSITEKTUR .......................................... 27
A. FUNGSI........................................................................................................................................ 27
B. RUANG........................................................................................................................................ 32
C. BENTUK ...................................................................................................................................... 35
D. KETERKAITAN FUNGSI, RUANG, BENTUK DAN EKSPRESI ............................................................ 37
PARWA 4 : TEORI-TEORI ARSITEKTUR DUNIA BARAT ............................................................................... 39
A. TEORI ARSITEKTUR VITRUVIUS ................................................................................................ 39
B. TEORI ARSITEKTUR KLASIK ...................................................................................................... 41
C. TEORI ARSITEKTUR RENAISSANCE ............................................................................................ 42
D. TEORI ARSITEKTUR AKIBAT REVOLUSI INDUSTRI ..................................................................... 46
TEORI ARSITEKTUR MODERN ( FUNCTIONALISM) ................................................................................ 48
PARWA 5 : TEORI-TEORI ARSITEKTUR DUNIA TIMUR ................................................................................ 52
A. NILAI-NILAI, SIKAP DAN PANDANGAN BUDAYA TIMUR .............................................................. 52
B. ARSITEKTUR NUSANTARA .......................................................................................................... 55
C. ARSITEKTUR INDIA ..................................................................................................................... 59
D. ARSITEKTUR JEPANG .................................................................................................................. 60

Buku Ajar Teori Arsitektur 67