Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

Disusun Oleh:
Kelompok 2

Henri T (A21115035)
Unggul Oktaprimantara Ps. (A21115046)
Sulbiah (A21115045)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018
A. Latar Belakang
Masyarakat berkembang semakin kompleks. Sasaran, bidang garapan dan intervensi
pekerjaan social juga semakin luas. Globalisasi dan industrialisasi telah membuka
kesempatan bagi pekerja social untuk terlibat dalam bidang yang relative baru, yakni dunia
industry. Dunia industry kini sedang menggali manfaat- manfaat positif dari adanya pekerja
social industry, baik terhadap aspek financial ataupun relasi social dengan para pekerja dan
masyarakat.
Ide mengenai Tanggunjawab Sosial Perusahaan ( TSP ) atau yang dikenal dengan
Corporate Social Responbility (CSR) kini semakin diterima secara luas. Kelompok yang
mendukung wacana TSP berpendapat bahwa perusahaan tidak dapat dipisahkan dari para
individu yang terlibat didalamnya, yakni pemilik dan karyawannya. Namun mereka tidak
boleh hanya memikirkan keuntungan finansialnya saja, melainkan pula harus memiliki
kepekaan dan kepedulian terhadap publik atau masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalahnya adalah apa dan
bagaimana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalahnya, maka tujuan penulisannya adalah mengetahui
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan..
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility)


Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) adalah bentuk kepedulian perusahaan
terhadap lingkungan eksternal perusahaan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan dalam
rangka penjagaan lingkungan, norma masyarakat, partisipasi pembangunan, serta berbagai
bentuk tanggung jawab sosial lainnya. CSR berhubungan dengan "pembangunan
berkelanjutan", di mana terdapat argumentasi bahwa suatu perusahaan dalam melaksanakan
aktivitasnya harus berdasarkan keputusannya, tidak semata berdasarkan faktor keuangan,
misalnya keuntungan atau dividen melainkan juga harus berdasarkan konsekuensi sosial dan
lingkungan untuk saat ini maupun untuk jangka panjang.
CSR merupakan gagasan yang menjadikan perusahaan tidak lagi dihadapkan pada
tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan yang
direfleksikan dalam kondisi keuangannya saja. Kesadaran atas pentingnya CSR dilandasi
pemikiran bahwa perusahaan tidak hanya mempunyai kewajiban ekonomi dan legal kepada
pemegang saham (shareholder), tetapi juga kewajiban terhadap pihak-pihak lain yang
berkepentingan (stakeholder). CSR menunjukkan tanggung jawab perusahaan harus berpijak
pada triple bottom lines yaitu tanggung jawab perusahaan pada aspek sosial, lingkungan, dan
keuangan.
Bateman dan Snell (2008,p.205) mendefinisikan tanggung jawab sosial perusahaan
sebagai tanggung jawab yang dimiliki oleh perusahaan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakt dengan cara menigkatkan dampak positif dan mengurangi dampak negatif yang
terjadi pada masyarakat di masa depan karena hasil kontribusi asset yang ditanggung oleh
perusahaan kepada masyarakat sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya
masyarakat yang berkekurangan. Boone dan Kurtz (2007, p.43) mengungkapkan tanggung
jawab sosial perusahaan sebagai dukungan yang diberikan oleh manajemen perusahaan agar
perusahaan mampu mempertimbangkan laba, kepuasan pelanggan, dan kesejahteraan
masyarakat dengan cara mengevaluasi kinerja perusahaan yaitu dengan mempertimbangkan
income statement agar perusahaan dapat mengambil keputusan dengan benar untuk
melakukan pemenuhan kebutuhan utama masyarakat yang harus ditanggung oleh perusahaan
tersebut. Hartman dan DesJardins (2008, p.155) mengemukakan pendapat bahwa tanggung
jawab sosial perusahaan mencakup berbagai tanggung jawab dan kewajiban yang dimiliki
oleh perusahaan di mana perusahaan harus mengambil keputusan untuk memberikan
kontribusi kepada masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang lebih baik,
serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih.
Ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai adanya tanggung jawab sosial
perusahaan yang terdiri dari:
1. Teori Legitimasi
Teori legitimasi didasarkan pada pengertian kontrak sosial yang diimplikasikan antara
institusi sosial dan masyarakat. Teori tersebut dibutuhkan oleh institusi-institusi untuk
mencapai tujuan agar kongruen dengan masyarakat luas. Dasar pemikiran teori ini adalah
organisasi atau perusahaan akan terus berlanjut keberadaannya jika masyarakat
menyadari bahwa organisasi beroperasi untuk sistem nilai yang sepadan dengan sistem
nilai masyarakat itu sendiri. Teori legitimasi menganjurkan perusahaan untuk
meyakinkan bahwa aktivitas dan kinerjanya sesuai dengan batasan dan norma-norma di
mana perusahaan itu berada sehingga dapat diterima oleh masyarakat. Perusahaan
menggunakan laporan tahunan mereka untuk menggambarkan kesan tanggung jawab
lingkungan, sehingga mereka diterima oleh masyarakat. Dengan adanya penerimaan dari
masyarakat tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai perusahaan sehingga dapat
meningkatkan laba perusahaan. Hal tersebut dapat mendorong atau membantu investor
dalam melakukan pengambilan keputusan investasi.
2. Teori Agency
Teori Agency menjelaskan ada konflik kepentingan antara manajer (agen) dan principal
(pemilik). Pemilik ingin mengetahui semua informasi di perusahaan termasuk aktifitas
manajemen dan sesuatu yang terkait investasi/dananya dalam perusahaan. Hal ini
dilakukan untuk meminta pertanggungjawaban atas kinerja manajer. Untuk menghindari
hal tersebut diperlukan akuntan publik yang mengevaluasi kinerja manajer.
3. Teori Stakeholders
Stakeholder didefinisikan seperti sebuah kelompok atau individual yang dapat memberi
dampak atau terkena dampak oleh hasil tujuan perusahaan termasuk dalam stakeholder
yaitu stockholders, creditors, employees, customers, suppliers, public interest groups,
dan govermental bodies. Perkembangan konsep stakeholder dibagi menjadi tiga yaitu
model perencanaan perusahaan dan kebijakan bisnis dan corporate social responsibility.
Model perencanaan perusahaan dan kebijakan bisnis fokus pada perkembangan dan
penentuan nilai startegi perusahaan yang dibuat oleh kelompok yang mendukung serta
menghendaki perusahaan terus berlangsung. Model CSR dari analisis stakeholder
melanjutkan model perencanaan perusahaan yang meliputi pengaruh eksternal dalam
perusahaan yang diasumsikan sebagai posisi lawan. Kelompok lawan dicirikan seperti
peraturan atau kelompok khusus yang fokus pada isu-isu sosial. CSR model mengikuti
perubahan permintaan sosial dari kelompok non tradisional. Teori stakeholder
menyediakan aturan yang tidak sah dalam pembuatan keputusan stategi perusahaan yang
dipelajari dari aktivitas CSR. Teori stakeholder terdiri atas stakeholder power, stategic
posture, dan kinerja ekonomi berhubungan dengan corporate social disclosure. Hal ini
mengindikasikan bahwa tingkah laku investor sebagai salah satu pengguna laporan
keuangan dapat mempengaruhi corporate social disclosure. Sebaliknya, dimana investor
dalam melakukan investasi dapat menggunakan corporate social disclosure sebagai
pertimbangan selain menggunakan laba.

B. Konsep Triple Bottom Line


Konsep Triple Bottom Line ini telah diperkenalkan oleh John Elkington pada tahun
1988 yang sebelumnya perusahan hanya menekankan pada konsep single bottom line, yaitu
nilai perusahaan (corporate value) hanya ditekankan pada kondisi keuangannya (financial)
saja. Dengan adanya program CSR yang diimplementasikan oleh perusahaan, kini harus
ditekankan pada konsep triple bottom line yang terdiri atas aspek finansial, aspek sosial, dan
aspek lingkungan (profit, people, and planet). Konsep ini menjelaskan bahwa perusahaan
harus lebih mengutamakan kepentingan stakeholder (semua pihak yang terlibat dan terkena
dampak dari kegiatan yang dilakukan perusahaan) daripada kepentingan shareholder
(pemegang saham). Aspek profit dalam konsep ini berarti hal yang terpenting dalam
perusahaan adalah mencari keuntungan setinggi-tingginya karena perusahaan telah
mengimplementasikan dan melaksanakan program tanggung jawab sosial perusahaannya,
sehingga masyarakat semakin respect terhadap perusahaan karena kepedulian perusahaan
terhadap masyarakat. Aspek people dalam konsep ini menjelaskan bahwa perusahaan
menyadari bahwa masyarakat yang berada di sekitar perusahaan merupakan salah satu
stakeholder penting bagi perusahaan, perusahaan juga harus mempunyai komitmen bahwa
dengan adanya program CSR yang diimplementasikan oleh perusahaan akan meningkatkan
citra positif di mata masyarakat dengan cara perusahaan harus memberikan kontribusi berupa
penjualan produk-produk buatan perusahaan kepada masyarakat. Aspek planet pada konsep
ini menekankan bahwa perusahaan sangat berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Penjagaan kelestarian lingkungan ini dapat dilakukan dengan cara melakukan penghijauan.
Dengan perusahaan mengimplementasikan program CSRnya dengan melakukan penghijauan
yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, maka lingkungan akan memberikan
manfaat yang baik, seperti pencegahan lingkungan dari timbulnya pemanasan global (global
warming).

C. Model-model dari Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Hartman dan DesJardins (2008, p.156) mengungkapkan bahwa tanggung jawab sosial
perusahaan mempunyai 3 (tiga) macam model yang menjelaskannya. Model-model tanggung
jawab sosial perusahaan terdiri atas:
1. Model kewarganegaraan perusahaan dari CSR yang menjelaskan mengenai seorang
pemimpin perusahaan memiliki rasa tanggung jawab dan relasi di dalam komunitasnya
sebagai anggota dari perusahaan tersebut untuk mengimplementasikan tanggung jawab
sosial perusahaan tersebut.
2. Model kontrak sosial dari CSR yang menjelaskan bahwa perusahaan perusahaan
memiliki tanggung jawab untuk menghormati hak moral stakeholders.
3. Model kepentingan pribadi yang tercerahkan dari CSR yang menjelaskan bahwa
tanggung jawab sosial perusahaan ke dalam budaya perusahaan akan menghasilkan
keunggulan pasar kompetitif bagi perusahaan yang bersangkutan.

D. Manfaat dan Tujuan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Manfaat adanya CSR melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan baik pihak internal
maupun eksternal yang terdiri atas perusahaan, masyarakat, dan pemerintah. Bagi
perusahaan, manfaat adanya CSR adalah membangun citra positif perusahaan di mata
masyarakat dan pemerintah sehingga perusahaan dapat menunjukkan bentuk-bentuk
tanggung jawab sosial perusahaan yang diimplementasikan oleh perusahaan tersebut. Bagi
masyarakat, manfaat CSR adalah kepentingan masyarakat dapat terakomodasi oleh
perusahaan. Selain itu, manfaat lainnya bagi masyarakat adalah memperat hubungan
masyarakat dengan perusahaan dalam situasi win-win solution. Manfaat CSR bagi pemerintah
adalah memiliki partner dalam menjalankan misi sosial dan misi pemerintah dalam hal
tanggung jawab sosial yang di masa depannya pemerintah juga mempunyai peran ikut serta
dalam mengakomodasi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, terutama kebutuhan
mutlak dan kebutuhan primer.
Tujuan adanya CSR adalah agar perusahaan dapat membagi kegiatan yang dilakukan
sesuai dengan norma-norma moral dan etika. Dengan perusahaan membagi kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan norma-norma moral dan etika, perusahaan dapat menciptakan
produk yang mampu memenuhi kebutuhan para penggunanya. Selain agar perusahaan
mampu membagi kegiatan sesuai dengan norma moral dan etika, CSR juga mempunyai
tujuan agar perusahaan dapat menyediakan informasi dan melakukan promosi yang jujur dan
benar mengenai produk yang dihasilkan. Pada perusahaan manufaktur, CSR merupakan
elemen yang sangat penting karena dengan adanya CSR, perusahaan memberikan informasi
mengenai komposisi, manfaat, tanggal kadaluwarsa produk, kemungkinan efek samping, cara
penggunaan yang tepat, kuantitas, mutu, dan harga dalam kemasan produknya untuk
memungkinkan konsumen dapat mengambil keputusan yang rasional apakah akan
menggunakan atau tidak akan menggunakan produk tertentu. Semakin CSR dalam
perusahaan diimplementasikan, semakin terwujud citra positif perusahaan di mata masyarakat
karena perusahaan berhasil melakukan kontribusi terhadap masyarakat demi memenuhi
kebutuhan utama masyarakat, khususnya masyarakat yang berkekurangan dan yang
membutuhkan hasil produk buatan perusahaan tersebut. Tujuan lain CSR selain agar dapat
dipercaya oleh pelanggan adalah agar perusahaan lebih dapat memperhatikan hasil produk
buatan perusahaan tersebut, serta perusahaan harus memperhatikan keselamatan dan
keamanan konsumen ketika mereka menggunakan produk tersebut karena perusahaan
mempunyai rasa tanggung jawab sosial yang besar atas keselamatan dan keamanan
pelanggan atau masyarakat.

E. Strategi Pengelolaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Ada beberapa macam strategi yang digunakan oleh suatu perusahaan dalam
pengelolaan tanggung jawab sosial perusahaan yaitu terdiri atas:
1. Strategi reaktif, yaitu strategi di mana kegiatan bisnis yang melakukan strategi reaktif
dalam tanggung jawab sosial cenderung menolak dan menghindarkan diri dari tanggung
jawab sosialnya.
2. Strategi defensif, yaitu strategi yang dilakukan oleh perusahaan yang berkaitan dengaan
penggunaan jalur hukum untuk mengindarkan diri atau menolak tanggung jawab sosial.
3. Strategi akomodatif, yaitu tanggung jawab sosial yang dijalankan oleh perusahaan karena
adanya tuntutan dari masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
4. Strategi proaktif, yaitu strategi di mana perusahaan memandang bahwa tanggung jawab
sosial merupakan bagian dari tanggung jawab untuk memuaskan stakeholders, serta
membangun citra positif perusahaan bila stakholders terpuaskan.
F. Pandangan kelompok yang Pro dan kelompok yang Kontra mengenai Tanggung Jawab
Sosial Perusahaan terhadap Organisasi Bisnis
Dalam masyarakat Indonesia, ada kelompok yang pro dan ada juga kelompok yang
kontra mengenai adanya tanggung jawab sosial perusahaan yang sebenarnya akan berdampak
untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga perusahaan dapat membangun citra
positif di mata masyarakat dengan adanya tanggung jawab sosial perusahaan dalam
organisasi bisnis. Pandangan kelompok yang pro terhadap CSR pada organisasi bisnis adalah:
1. Kegiatan bisnis seringkali menimbulkan masalah di mana perusahaan harus bertanggung
jawab atas apa yang dilakukannya.
2. Perusahaan merupakan bagian dari lingkungan sosial masyarakat yang menyebabkan
perusahaan harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di masyarakat.
3. Perusahaan bisasnya memiliki sumber daya untuk menyelesaikan masalah di lingkungan
sosial masyarakat.
4. Perusahaan merupakan partner dari lingkungan sosial kemasyarakatan di mana pada
umumnya mengarah pada pemerintah dan masyarakat lain yang membutuhkannya.

Ada kelompok masyarakat di Indonesia yang kontra terhadap adanya CSR di lingkungan
organisasi bisnis karena kelompok yang kontra terhadap CSR berpandangan bahwa
perusahaan tidak mempunyai tanggung jawab atas apa yang terjadi di masyarakat. Pandangan
kelompok yang kontra terhadap CSR pada organisasi bisnis adalah:
1. Perusahaan tidak memiliki ahli bidang sosial dan kemasyarakatan yang menyebabkan
kesulitan perusahaan untuk ikut bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial
masyarakat.
2. Perusahaan yang ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam lingkungan sosial dan
masyarakat akan memiliki kekuatan untuk melakukan pengawasan terhadap masyarakat
dipangdang indikasi yang kurang baik secara sosial.
3. Dengan perusahaan berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam lingkungan sosial dan
masyarakat, akan menimbulkan pertentangan kepentingan di masyarakat.
4. Tujuan perusahaan bukan tujuan sosial, melainkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan
oleh pemilik perusahaan, terutama memperoleh laba di dalam perusahaan tersebut.
G. Peraturan Perundangan CSR
Pada bulan September 2004, ISO (International Organization for Standardization)
sebagai induk organisasi standarisasi internasional, berinisiatif mengundang berbagai
pihak untuk membentuk tim (working group) yang membidani lahirnya panduan dan
standarisasi untuk tanggung jawab sosial yang diberi nama ISO 26000: Guidance
Standard on Social Responsibility. ISO 26000 menyediakan standar pedoman yang
bersifat sukarela mengenai tanggung tanggung jawab sosial suatu institusi yang
mencakup semua sektor badan publik ataupun badan privat baik di negara berkembang
maupun negara maju. Dengan Iso 26000 ini akan memberikan tambahan nilai terhadap
aktivitas tanggung jawab sosial yang berkembang saat ini dengan cara: 1)mengembangkan
suatu konsensus terhadap pengertian tanggung jawab sosial dan isunya; 2) menyediakan
pedoman tentang penterjemahan prinsip-prinsip menjadi kegiatan-kegiatan yang efektif;
dan 3) memilah praktek-praktek terbaik yang sudah berkembang dan disebarluaskan
untuk kebaikan komunitas atau masyarakat internasional.
Apabila hendak menganut pemahaman yang digunakan oleh para ahli yang
menggodok ISO 26000 Guidance Standard on Social responsibility yang secara konsisten
mengembangkan tanggung jawab sosial maka masalah SR akan mencakup 7 isu pokok
yaitu:
 Pengembangan Masyarakat

 Konsumen

 Praktek Kegiatan Institusi yang Sehat

 Lingkungan

 Ketenagakerjaan

 Hak asasi manusia

 Organizational Governance (governance organisasi)

ISO 26000 menerjemahkan tanggung jawab sosial sebagai tanggung jawab suatu
organisasi atas dampak dari keputusan dan aktivitasnya terhadap masyarakat dan
lingkungan, melalui perilaku yang transparan dan etis, yang:
Konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat;
Memperhatikan kepentingan dari para stakeholder; Sesuai hukum yang berlaku dan
konsisten dengan norma-norma internasional; Terintegrasi di seluruh aktivitas
organisasi, dalam pengertian ini meliputi baik kegiatan, produk maupun jasa.
Berdasarkan konsep ISO 26000, penerapan sosial responsibility hendaknya
terintegrasi di seluruh aktivitas organisasi yang mencakup 7 isu pokok diatas. Dengan
demikian jika suatu perusahaan hanya memperhatikan isu tertentu saja, misalnya suatu
perusahaan sangat peduli terhadap isu lingkungan, namun perusahaan tersebut masih
mengiklankan penerimaan pegawai dengan menyebutkan secara khusus kebutuhan
pegawai sesuai dengan gender tertentu, maka sesuai dengan konsep ISO 26000
perusahaan tersebut sesungguhnya belum melaksanakan tanggung jawab sosialnya
secara utuh.
PENUTUP

Kesimpulan:
Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) adalah bentuk kepedulian perusahaan
terhadap lingkungan eksternal perusahaan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan dalam
rangka penjagaan lingkungan, norma masyarakat, partisipasi pembangunan, serta berbagai
bentuk tanggung jawab sosial lainnya.
Konsep tanggung jawab sosial dan moral perusahaan mau dikatakan bahwa suatu
perusahaan harus bertanggung jawab atas tindakan dan kegiatan bisnisnya yang mempunyai
pengaruh atas orang – orang tertentu, masyarakat serta lingkungan di mana perushaan itu
beropersi. Secara positif ini berarti perusahaan harus menjalankan kegiatan bisnisnya
sedemikian rupa sehingga pada akhirnya akan dapat ikut menciptakan suatu masyarakat yang
baik dan sejahtera.
DAFTAR PUSTAKA

 Hartman, P, Laura dan Desjardins, Joe, 2011. Etika Bisnis, Jakarta: Erlangga.
 http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2Doc/2011-2-00546-AK%20Bab2001.doc