Anda di halaman 1dari 13

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Soft Skills


Permintaan dunia kerja terhadap kriteria calon pekerja dirasa semakin
tinggi saja. Dunia kerja tidak hanya memprioritaskan pada kemampuan
akademik (hard skills) yang tinggi saja, tetapi juga memperhatikan kecakapan
dalam hal nilai-nilai yang melekat pada seseorang atau sering dikenal dengan
aspek soft skills. Kemampuan ini dapat disebut juga dengan kemampuan non
teknis yang tentunya memiliki peran tidak kalah pentingnya dengan
kemampuan akademik.
Definisi Soft skills menurut para ahli :
 Menurut Elfindri
Menurut Elfindri dkk (2011: 67), Soft skills merupakan
keterampilan dan kecakapan hidup, baikuntuk sendiri, berkelompok, atau
bermasyarakat, serta dengan Sang Pencipta. Dengan mempunyai soft skills
membuat keberadaan seseorang akan semakin terasa di tengah masyarakat.
Keterampilan akan berkomunikasi, keterampilan emosional, keterampilan
berbahasa, keterampilan berkelompok, memiliki etika dan moral, santun
dan keterampilan spiritual.
Lebih lanjut lagi Elfindri dkk (2011: 175) berpendapat soft skills
sebagai berikut: Semua sifat yang menyebabkan berfungsinya hard skills
yang dimiliki. Soft skills dapat menentukan arah pemanfaatan hardskills.
Jika seseorang memilikinya dengan baik, maka ilmu danketerampilan
yang dikuasainya dapat mendatangkan kesejahteraan dan kenyamanan
bagi pemiliknya dan lingkungannya. Sebaliknya, jika seseorang tidak
memiliki softskills yang baik, maka hard skills dapat membahayakan
dirisendiri dan orang lain.
 Iyo Mulyono
Sedangkan menurut Iyo Mulyono (2011: 99), “soft skil
merupakan komplemen dari hard skills. Jenis keterampilan inimerupakan
bagian dari kecerdasan intelektual seseorang, dan seringdijadikan syarat
unutk memperoleh jabatan atau pekerjaan tertentu”.
 Aribowo
Aribowo sebagaimana dikutip oleh Illah Sailah (2008: 17),
menyebutkan soft skills sebagai berikut: Soft skills adalah keterampilan
seseorang dalam berhubungandengan orang lain (termasuk dengan dirinya
sendiri). Atribut soft skills, dengan demikian meliputi nilai yang dianut,
motivasi,perilaku, kebiasaan, karakter dan sikap. Atribut soft skills ini
dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda, dipengaruhi
oleh kebiasaan berfikir, berkata, bertindak dan bersikap. Namun, atribut ini
dapat berubah jika yang bersangkutan mau merubahnya dengan cara
berlatih membiasakan diri dengan hal-hal yang baru.
Dari berbagai definisi tersebut dapat dirumuskan bahwa pada dasarnya
soft skills merupakan kemampuan yang sudah melekat pada diri seseorang,
tetapi dapat dikembangkan dengan maksimal dan dibutuhkan dalam dunia
pekerjaan sebagai pelengkap dari kemampuan hard skills.

2.2 Manfaat Soft Skill

Manfaat Soft Skill dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:


a. Berpartisipasi dalam tim
b. Mengajar orang lain
c. Memberikan layanan
d. Memimpin sebuah tim
e. Bernegosiasi
f. Menyatukan sebuah tim di tengah-tengah perbedaan budaya
g. Motivasi
h. Pengambilan keputusan menggunakan keterampilan
i. Menggunakan kemampuan memecahkan masalah
j. Amati bentuk etiket
k. Berhubungan dengan orang lain
l. Menjaga berarti percakapan (basa-basi)
m. Menjaga percakapan bermakna (diskusi / perdebatan)
n. Menetralkan argumen dengan waktu, petunjuk dan sopan, bahasa singkat
o. Berpura-pura minat dan berbicara dengan cerdas tentang topik apapun
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Soft Skil
Dalam membangun karakter suatu bangsa diperlukan perilaku yang
baik dalam rangka melaksanakan kegiatan berorganisasi, baik dalam
organisasi pemerintahan maupun organisasi swasta dalam bermasyarakat.
Maka karakter manusia merupakan suatu hal yang sangat penting untuk
diperhatikan dalam rangka mewujudkan cita-cita dan perjuangan berbangsa
dan bernegara guna terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur
berlandaskan pancasila dan UUD 1945.
Karakter adalah sesuatu yang sangat penting dalam pengembangan
kualitas manusia maka karakter mempunyai makna sebuah nilai yang
mendasar untuk mempengaruhi segenap pikiran, tindakan dan perbuatan
setiap insan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Dalam hal ini adapun nilai-nilai dalam pembangunan karakter
yang dimaksud adalah :
a. Kejuangan
b. Semangat
c. Kebersamaan atau Gotong Royong
d. Kepedulian atau Solider
e. Sopan Santun
f. Persatuan dan Kesatuan
g. Kekeluargaan
h. Tanggung jawab
Nilai-nilai seperti tersebut apabila dilihat lebih cermat dalam kondisi
saat ini nampaknya cenderung semakin luntur hal ini dilihat semakin jelas
contoh diantaranya makin maraknya tawuran antar pelajar, konflik antar
masyarakat, maraknya korupsi di lingkungan pemerintah dan lain sebagainya.
Kondisi yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan sebagai wujud untuk
meningkatkan rasa kepedulian, kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara haus tetap di jaga dan dilestarikan. Untuk itu faktor-faktor yang
perlu diperhatikan dalam rangka menjaga nilai-nilai dalam karakter tersebut
adalah :
a. Ideologi
b. Politik
c. Ekonomi
d. Sosial Budaya
e. Agama
f. Normatif
g. Pendidikan
h. Lingkungan

Pembentukan Character didapatkan dan di implementasikan melalui :


a. Lingkungan Keluarga ( Home )
b. Lingkungan Kerja Kantor ( Bussines )
c. Lingkungan Sekolah ( School )
d. Lingkungan Kerabat atau Pergaulan ( Community )

Dan Karakter seseorang dapat di bangun jika kita membiasakan untuk


bersifat:
a. Honesty
b. Citizenship
c. Courage
d. Fairness
e. Respect
f. Perseverance
g. Caring
h. Self- Discipline

2.3 Karakteristik Soft skill yang harus dikembangkan


Pengembangana diri perlu diawali dengan mengetahui latar belakang
apa yang kita miliki. Pengembangan diri ini mampu meningkatkan
keterampilan dalam berkreasi dan meningkatkan kinerja yang berkualitas.
Dari uraian tersebut diatas kita sudah mengetahui tentang soft skill. Oleh
karena itu untuk dapat professional kita harus menunjukan kualitas kinerja
kita. Untuk bisa mencapai hal itu kita perlu memperhatikan karakteristik yang
perlu di kembangkan untuk mencapai soft skill menurut Pratamaningtyas, S.
dan indah, R. (2016), diantaranya :
a. Inisiatif
Dekat hubungannya dengan kepeloporan. Para pelopor adalah
pribadi-priadi yang memiliki kekuatan inisiatif kerja yang menembus
ruang-ruang waktu. Inisiator seringkali mengawali kerjanya dari kritik
terhadap realitas.
b. Kemauan
Kemauan adalah kata kunci dari segala sukses. Punya bakat dan
ilmu tidak akan membuat kita sukses. Keinginan harus disertai dengan
tindakan untuk menwujudkannya. Bukan hanya sekedar ingin tetapi harus
mau dan berusaha memperjuangkannya.
c. Komitmen
Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk
perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh
kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah.
d. Motivasi
Motivasi adalah sebuah alasan atau dorongan seseorang untuk
bertindak, alasan atau dorongan itu bisa datang dari luar maupun dari
dalam. Sebenarnya pada dasarnya semua motivasi itu datang dari dalam
diri, faktor luar hanyalah pemicu munculnya motivasi tersebut.
e. Kreativitas
Kreativitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan
gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep
yang sudah ada. Dari sudut pandang keilmuan, hasil dari pemikiran kreatif
(kadang disebut pemikiran divergen) biasanya dianggap memiliki keaslian
dan kepantasan, tindakan membuat sesuatu yang baru.
f. Komunikasi
Keterampilan komunikasi sebagai bagian dari soft skills yang
dimaksudkan meliputi keterampilan komunikasi lisan dan komunikasi
tulisan. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan,
ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling
mempengaruhi diantara keduanya.
g. Berfikir kritis
Berfikir kritis adalah suatu aktivitas kognitif yang berkaitan dengan
pengunaan nalar. Belajar untuk berfikir kritis berarti menggunakan proses-
proses mental, seperti memperhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan
menilai/memutuskan.
h. Mandiri
Mandiri adalah melakukan perencanaan hidup dengan baik,
bertanggung jawab, dengan sadar akan resiko setiap melakukan sesuatu
dan tanpa campur tangan orang lain. Mengetahui dan memahami mana
yang benar dan yang salah, jadi bisa menentukan sikap dengan
berlandaskan pemikiran dan pengetahuan sendiri, tanpa dipengaruhi orang
lain. Mandiri itu pada intinya tidak mudah minta belas kasihan pada orang
lain.
i. Integritas diri
Integritas diri adalah suatu pemahaman tentang terwujudnya
perkembangan yang seimbang dan sinergis atas berbagai dimensi diri.
Terwujudnya perkembangan diri pribadi secara utuh, tanpa satu pun aspek
atau dimensi yang terabaikan. Adanya perhatian yang seimbang, tepat an
proporsional terhadap semua dimensi diri adalah kepatuhan untuk
menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang
untuk tunduk kepada keputusan, perintah dan peraturan yang berlaku.
Dengan kata lain, disiplin adalah sikap menaati peraturan dan ketentuan
yang telah ditetapkan tanpa pamrih.
j. Manajemen konflik
Sangat diperlukan kemampuan dalam menangani masalah yang
sering muncul dalam setiap aspek kehidupan.
k. Kemampuan kerjasama dengan tim
Kemampuan bekerja sama adalah keterampilan yang harus dimiliki
seseorang saat ia berada di tengah-tengah lingkungan dan manusia yang
lain. Ternyata kemampuan ini sangat besar andilnya dalam lingkunagan
kerja. Banyak diantara pekerja yang cenderung berpikir bisa bekerja
sendiri tanpa melibatkan orang lain padahal pemahaman ini sangat salah.
Di lingkungan kerja kemampuan ini sangat di perlukan.
l. Pengambilan keputusan
Dalam kondisi yang mendesak kemampuan ini sangat diperlukan.
Untuk kondisi tertentu kemampuan ini harus dibuat walaupun terkadang
mengesampingkan prosedur atau aturan yang baku yang telah disepakati
bersama. Contohnya dalam bidang kedokteran menyelamatkan ibu atau
bayinya.
m. Negosiasi
Negosiasi adalah suatu dialog dimaksudkan untuk menyelesaikan
perselisihan, untuk menghasilkan kesepakatan atas tindakan, untuk tawar-
menawar untuk keuntungan individual atau kolektif, atau hasil kerajinan
untuk memuaskan berbagai kepentingan. Ini adalah metode utama
alternative penyelesaian sengketa.
n. Keterampilan etika
Keterampilan etika adalah keterampilan untuk belajar
membedakan mana yang salah dan mana yang benar, lalu memilih dan
melakukan tindakan yang benar

2.4 Implementasi Softskill dalam Praktik Kebidanan


Pendidikan kebidanan dalam fungsinya untuk menghasilkan tenaga
bidan professional meningkatkan daya saing bangsa melalui peningkatan
sofskill mempunyai peran yang sangat strategis karena dipersiapkan untuk
merubah perilaku masyarakat. Dalam melaksanakan kewajiban seorang bidan
harus dibekali dengan hard skill dan soft skill untuk mengembangkan
kemampuan yang terintegrasi dan mempunyai kompetensi yang dibutuhkan
oleh masyarakat. Sofskill ini mutlak dibutuhkan di dunia kerja, baik ketika
bekerja di Rumah Sakit maupun Komunitas. Soft skill yang diterapkan dalam
pelayanan kebidanan diantaranya sebagai berikut:
a. Mampu berkomunikasi terapeutik,
Komunikasi terapeutik adalah proses penyampaian pesan, makna
dan pemahaman tenaga kesehatan untuk memfasilitasi proses
penyembuhan pasien. Komunikasi merupakan sarana membina yang baik
antara pasien dengan tenaga kesehatan, dapat melihat perubahan perilaku
pasien sebagai kunci keberhasilan tindakan kesehatan, sebagai tolak ukur
kepuasan pasien dan keluhan tindakan dan rehabilitasi (Muwarni dan
Istichomah, 2009).
Perilaku dasar yang dibutuhkan seorang tenaga kesehatan dalam
melakukan komunikasi dengan klien adalah dengan menerapka SOLER.
S : Face your client Squarely (mengahadap ke klien) dan Smile/ Nod at
Client (Senyum/ mengangguk ke klien).
O : Open and non-judgemental face expression (ekspresi muka
menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai)
L : Lean towards client (tubuh condong ke klien)
E : Eye contack in a culturally-acceptable manner (kontak mata/ tatap
mata sesuai cara yang diterima oleh budaya setempat)
R : Relaxed and friendly manner (santai dan sikap bersahabat).
b. Mampu berfikir kritis, kreatif dan rasional,
Proses berfikir kritis merupakan kerangka dasar bidan dalam
memberikan asuhan kebidanan, dalam bingkai manajemen kebidanan.
Sehingga, apabila bidan memberikan asuhan kebidanan kepada klien
dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen kebidanan dengan
sistematis dan terpola, maka bidan tersebut telah menerapkan proses
berfikir kritis, kreatif dan rasional. Pengembangan kemampuan berpikir
kritis merupakan integrasi beberapa bagian pengembangan seperti
pengkajian/ observasi, mengidentifikasi masalah, mengidentifikasi
masalah potensial dan kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan
evaluasi. Semakin baikpengembangan kemampuan-kemampuan ini, maka
akan semakin dapat mengatasi masalah-masalah yang komplek dan
dengan hasil yang memuaskan (Khotimah, 2017).
c. Memiliki moral dan bekerja sesuai standar profesi,
Menurut Juliarti dan Ristica (2014) fungsi etik dan moral sesuai
standar profesi kebidanan adalah:
1) Menjaga otonomi dari setiap individu khusunya bidan dan klien
2) Menjaga tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan kebaikan dan
mencegah tindakan yang merugikan/ membahayakan orang lain.
3) Menjaga privacy setiap individu
4) Mengatur manusia untuk berbuat adil dan bijaksana sesuai dengan
porsinya
5) Mengetahui apakah suatu tindakan itu dapat diterima dan apa
alasannya
6) Mengarahkan pola pikir seseorang dalam bertindak atau dalam
menganalisis suatu masalah
7) Menghasilkan tindakan yang benar
d. Fokus pada quality dan safety
Kesalahan sadar maupun tidak sadar karena kekeliruan terjadi di
hampir semua aspek/ tahapan diagnosis dan pengobatan. Dalam
kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan
mencerminkan fenomena gunung es, karena yang terdeteksi umumnya
adalah adverse event yang ditemukan secara kebetulan saja. Sebagian
besar yang lain cenderung tidak dilaporkan, tidak dicatat, atau justru luput
dari perhatian kita semua. Ini berarti bukan hanya mutu pelayanan yang
harus ditingkatkan tetapi yang lebih penting adalah menjaga keselamatan
pasien secara konsisten dan terus menerus. Dalam melakukan pelayanan
kebidanan, bidan harus mampu menerapkan asuhan kebidanan sesuai
kewenangannya sehingga akan mengurangi angka kesakitan dan
kematian.
2.5 Tokoh Inspiratif

a. Mahatma Gandhi
Politikus asal India ini menjadi tokoh kemanusiaan yang
menginsipirasi banyak orang. Meski politik menjadi bidang yang
digelutinya, Mahatma Gandhi tak menggunakan kekerasan untuk
menyuarakan apirasi rakyat. Gandhi sempat merasakan diskriminasi saat
ia berada di Afrika Selatan. Saat itulah ia memilih untuk menjadi aktivitis
dimana ia berambisi untuk mengubah hukum-hukum yang diskriminatif
hingga membentuk gerakan non kekerasaan.Mahatma Gandhi turut
berperan dalam kemerdekaan India dari jajahan Inggris. Berkat usahanya
yang kerap menyuarakan aspirasi dalam demonstrasi dalam demonstrasi
yang damai, India merdeka pada 1947. Ia kemudian dikenal sebagai Father
of Nation atau Bapak Bangsa.Satu hal yang amat menginspirasi dari tokoh
kemanusiaan ini adalah ia meyakini bahwa semua pemeluk agama berhak
untuk hidup damai bersama dalam suatu negara. Mahatma Gandhi sendiri
memang menyukai pemikiran-pemikiran berbagai agama meski ia
beragama Hindu.
b. Marthin Luther King
Martin Luther King adalah aktivis Afrika-Amerika pejuang Hak
Asasi Manusia (HAM). Ia juga merupakan pemimpin terpenting dalam
sejarah Amerika Serikat (AS) serta sejarah non-kekerasan di zaman
modern. Tak hanya itu, ia dianggap sebagai pencipta perdamaian dan
martir oleh banyak orang di dunia.Sebagai seorang pendeta, King
merupakan aktivis yang berjuang melawan diskriminasi rasial. Layaknya
Mahatma Gandhi, King juga melakukan aksinya tanpa unsur
kekerasan.Sebagaimana diketahui, orang-orang hitam di AS dianggap tak
sejajar dengan orang-orang berkulit putih. Hal inilah yang menjadikan
King menyuarakan aspirasinya. Ia kemudian melakukan gerakan sipil
besar-besaran hingga menghasilkan kebijakan publik pada tahun
1963.Nama King kian populer berkat pidatonya bertajuk “I have a dream”.
Berbagai aksi kemanusiaan yang dilakoninya turut membuat King meraih
penghargaan Nobel perdamaian.
c. Nelson Mandela
Nelson Rolihlahla Mandela merupakan aktivis asal Afrika Selatan.
Di negaranya, warga kulit hitam juga menjadi sasaran diskriminasi.
Namun berkat pendidikan hukum yang ditempuhnya, Mandela percaya
bahwa orang Afrika kulit hitam harus terbebas sepenuhnya dan
menentukan nasib mandiri secara politis.Dalam hidupnya, Mandela sempat
menghabiskan waktu untuk bekerja di African National Congress yang
bertugas mengadvokasi pendekatan tanpa kekerasan untuk mengubah
hukum apartheid di negaranya.Serangkaian aksi yang dilakukannya
mengantarkan Mandela ke jeruji besi karena dianggap mengancam
keamanan negara. Meski begitu, ia akhirnya mampu menduduki kursi
presiden pada tahun 1994-1999 dan menjadi pemimpin negara pertama
berkulit hitam di Afrika Selatan. Selama menjabat, ia juga berupaya untuk
menghapuskan pengaruh apartheid.
d. Ichsan yasin Limpo
Tokoh-tokoh pejuang kemanusiaan sebelumnya berasal dari
mancanegara dan telah dikenang oleh banyak orang. Lain halnya dengan
Ichsan Yasin Limpo, yang berasal dari Indonesia. Pria yang kerap disapa
IYC itu, dikenal sebagai orang yang peduli terhadap sesama. Selain
berkecimpung di dunia pemerintahan, IYC juga mengabdi kepada
masyarakat dengan memberikan pembekalan bagi para pengungsi
beberapa daerah. Pembekalan itu ditujukan bagi mereka agar mampu
mendapatkan pekerjaan di negara-negara berkembang.Satu hal yang amat
menginspirasi dari IYC adalah ia bahkan menyisihkan sebagian hartanya
bagi mereka yang membutuhkan. Ia juga menyatakan bahwa dana yang
digunakan dalam pembekalan merupakan zakat harta yang dikumpulkan
dari keluarga besarnya.Berkat kepeduliannya dalam program kemanusiaan,
pria yang pernah menjadi Bupati Gowa ini mendapatkan penghargaan dari
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai tokoh yang peduli pengungsi
di Indonesia
e. Mother Theresa
Bunda Teresa atau dikenal sebagai Santa Teresa lahir di Uskub,
pada Agustus 1910. Ia merupakan seorang biarawati katolik Roma
berkewarganegaraan India. Hidupnya amat menginspirasi banyak orang.
Selama lebih dari 47 tahun wanita ini mengabdikan diri melayani orang-
orang miskin, sakit, yatim piatu dan orang sekarat. Dalam hidupnya, ia
juga menjalankan ekspansi Missionaries of Charity yang didirikannya ke
berbagai negara. Meski terlahir sebagai perempuan, Bunda Teresa gigih
melakukan ekspansi. Ia tercatat menjalankan 610 misi di 123 negara.
Hingga saat ini Missionaries of Charity memiliki ratusan cabang di
berbagai negara dengan merangkul para pengungsi, anak yatim piatu,
orang-orang yang sakit, serta para korban AIDS.
DAFTAR PUSTAKA

Elfindri dkk. (2011). Soft Skills Untuk Pendidik. Baduose Media.


Illah Sailah. (2008). Pengembangan Soft Skills Di Perguruan Tinggi.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Iyo Mulyono. (2011). Dari Karya Tulis Ilmiah Sampai Dengan Soft Skills.
Bandung: Yrama Widya.
Juliarti W, Ristica O. 2014. Prinsip Etika dan Moral Dalam Pelayanan
Kebidanan. Yogyakarta: Deepublish.
Khotimah, K. 2017. Critical Thinking Dalam Kesehatan Reproduksi dan KB.
http://midwifekhusnulkhotimah.blogspot.co.id/2017/02/v-
behaviorurldefaultvmlo.html. Diakses tanggal 22-01-2018
Murwani A, Istichomah. 2009. Komunikasi Terapeutik Panduan Bagi Perawat.
Yogyakarta: Fitramaya
Pratamaningtyas S, Rahmaningtyas I. 2015. Modul Praktikum Pengembangan
Kepribadian. Kediri: Poltekkes Kemenkes Malang
Pratamaningtyas, S. dan indah, R. (2016) Modul Pengembangan Kepribadian.
http://pamungkasgilxtri.blogspot.co.id/2016/11/soft-skill-and-character-
building.html