Anda di halaman 1dari 40

Gizi Buruk Pada Anak

BODY, FIT & HEALTHY

Gizi buruk masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara miskin dan negara berkembang,
seperti Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tim Lagizi akan membahasnya.
Pengertian Gizi Buruk
Gizi buruk merupakan salah satu klasifikasi status gizi dimana mengalami kurang gizi yang diketahui
berdasarkan pengukuran antropometri seperti pertambahan berat badan, tinggi badan/panjang
badan, lingkar kepala, lingkar lengan dan lain-lain.
Menurut WHO, sebanyak 54% penyebab kematian bayi dan balita disebabkan karena keadaan gizi
buruk pada anak. Anak yang mengalami gizi buruk memiliki risiko meninggal 13 kali lebih besar
dibandingkan anak yang normal.
Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi balita gizi buruk dan kurang
di Indonesia mencapai 19,6%. Angka ini meningkat dibandingkan data Riskesdas 2010 sebesar
17,9%.
Macam-Macam Gizi Buruk
Ketika anak-anak kurang mendapat asupan gizi dari makanan yang dikonsumsi, gizi buruk pun
rentan mereka alami. Sayangnya, gizi buruk yang dialami anak bisa diperparah akibat kurangnya
pengetahuan orang tua tentang gizi buruk dan cara menanganinya.
Berikut macam-macam gizi buruk pada anak:
 Kwashiorkor
Kwashiorkor atau busung lapar merupakan salah satu jenis dari gizi buruk yang diakibatkan karena
kurangnya konsumsi protein. Seorang anak yang mengalami kondisi ini memiliki ciri yang khas yaitu
terdapat edema (bengkak) pada seluruh tubuh sehingga tampak gemuk. Apabila bengkak itu ditekan
akan meninggalkan bekas seperti lubang.
Tidak hanya itu, masih banyak ciri khususnya seperti anak memiliki wajah yang bulat dan sembab
(moon face), timbulnya ruam berwarna merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi
coklat kehitaman dan terkelupas, tidak memiliki nafsu makan, rambut menipis dan berwarna merah
seperti rambut jagung serta mudah dicabut tanpa menimbulkan rasa sakit.
Untuk mendeteksi anak yang mengalami busung lapar, bisa dilakukan dengan menimbang berat
badan anak secara teratur. Jika perbandingan berat badan dan umurnya di bawah 60 persen maka
anak tersebut bisa dikatakan terindikasi busung lapar.

 Marasmus
Marasmus merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi buruk yang sering dialami oleh balita
karena kurangnya konsumsi energi. Penyebabnya pun beragam, seperti kurang makan, mengalami
infeksi di tubuhnya, bawaan lahir, prematuritas, serta faktor lingkungan.
Kondisi ini biasanya dialami oleh anak usia 0-2 tahun. Ciri-ciri umum anak yang mengalami
marasmus yaitu memiliki berat badan kurang dari 60 persen berat badan sesuai dengan usianya,
suhu tubuh yang rendah, dan kulit tubuh yang longgar hingga hanya terlihat seperti tulang yang
terbungkus kulit saja. Selain itu, wajah anak akan terlihat lebih tua dan mengalami diare kronik atau
susah buang air kecil.

 Marasmus – Kwashiorkor
Marasmik-kwashiorkor merupakan gabungan antara marasmus dan Kwashiorkor. Kondisi ini cukup
serius dikarenakan kondisi marasmus maupun kwashiorkor menyerang tubuh anak. Bisa
digambarkan anak yang mengalami kondisi ini memiliki berat badan kurang dari 60 persen berat
badan yang sesuai dengan usianya, kemudian disertai dengan pembengkakan yang tidak mencolok.
Dampak kondisi ini bagi anak adalah penurunan tingkat kecerdasan, rabun senja, dan anak lebih
rentan terkena penyakit infeksi. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan makanan yang
bergizi berupa sayur mayur, buah-buahan, makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi,
kentang, dan jagung serta makanan yang mengandung protein seperti telur, ikan , dan daging.
 Stunting/Pendek

Stunting merupakan keadaan tubuh yang pendek atau sangat pendek.. Stunting terjadi akibat
kekurangan gizi dan penyakit berulang dalam waktu lama pada masa janin hingga 2 tahun pertama
kehidupan seorang anak. Anak denganstunting memiliki IQ 5-10 poin lebih rendah dibanding
dengan anak yang normal.
Penyebab Gizi Buruk
Walau saat ini era telah modern, pola kehidupan masyarakat di negara miskin dan berkembang
umumnya masih memicu terjanjian gangguan gizi buruk pada bayi dan balita terutama berkaitan
dengan faktor ekonomi dan pengetahuan mendasar akan kesehatan.
Berbeda dengan pola masyarakat di negara maju, sistem pemerintahan yang sudah tertata dengan
baik, khususnya dibidang kesehatan telah menjamin masyarakat mendapatkan pelayanan
kesehatan dengan mudah sehingga gangguan gizi buruk dapat cepat teratasi.
Berikut penyebab gizi buruk:
 Keterbatasan Penghasilan Keluarga (Faktor Ekonomi)
Penghasilan keluarga akan sangat menentukan makanan yang disajikan setiap harinya, baik
kualitas maupun kuantitas makanan. Namun, bukan berarti makanan yang memenuhi kebutuhan
gizi hanya dapat disajikan di lingkungan keluarga dengan penghasilan cukup saja, karena pada
kenyataannya tidak demikian.
 Pengetahuan Kesehatan tentang Gizi Makanan
Banyak keluarga dengan penghasilan cukup akan tetapi makanan yang dihidangkan kurang bergizi.
Hal ini dikarenaka kurangnya pengetahuan mengenai gizi makanan sehingga cenderung manyajikan
makanan cepat saji yang kurang sehat.
 Jarak Kelahiran yang tidak Terencana
Penelitian menunjukkan bahwa bayi dan anak yang mengalami gizi buruk dipicu karena seorang ibu
yang sedang hamil lagi saat anaknya yang lain masih kecil, sehingga kesempatan untuk
memperhatikan asupan gizi saat hamil dan menyusui menjadi terabaikan. Oleh karena itu, sangatlah
penting mengatur jarak kehamilan agar memiliki waktu yang cukup untuk memperhatikan asupan
gizi calon bayi dan anak yang lain.
 Tradisi Pantangan yang Merugikan
Di daerah pedesaan masih terdapat berbagai pantangan makanan, terutama bagi ibu hamil.
Terdapat beberapa makanan yang dianggap tidak boleh dikonsumsi, padahal makanan tersebut
memiliki zat gizi tinggi.
 Kesukaan yang Berlebihan akan Makanan Tertentu
Menyukai makanan tertentu secara berlebihan akan mengakibatkan kurang bervariasinya makanan
sehingga tubuh tidak memperoleh semua zat gizi yang diperlukan.
Cara Mencegah Gizi Buruk
Memantau berat badan sangat penting untuk mengetahui kondisi gizi pada bayi dan balita guna
mencegah gizi buruk (http://lagizi.com/1000-hari-pertama-kehidupan-untuk-generasi-yang-lebih-
baik/). Berikut beberapa tips mencegah gizi buruk:
 Berikan asupan ASI eksklusif hingga balita berusia 6 bulan. Setelah itu mulailah kenalkan makanan
tambahan untuk pendamping ASI.
 Balita harus diberikan asupan yang bervariasi dan seimbang antara kandungan karbohidrat, protein,
lemak, vitamin, dan mineralnya. Protein penting untuk pertumbuhan dan perkembangan balita.
 Sering menimbang dan mengukur tinggi badan balita. Salah satunya dengan mengikuti program
posyandu. Harus dicermati pertumbuhan balita, apabila ada keganjalan, segeralah berkonsultasi
dengan ahli gizi.
Upaya Mengatasi Masalah Gizi Buruk

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah gizi buruk, diantaranya:
1. Memaksimalkan peran posyantu, yaitu dengan meningkatkan cakupan deteksi dini gizi buruk melalui
penimbangan bulanan balita di posyandu.
2. Meningkatkan cakupan dan kualitas tata laksana kasus gizi buruk di puskesmas / Rumah Sakit dan
rumah tangga.
3. Menyediakan Pemberian Makanan Tambahan pemulihan (PMT-P) kepada balita kurang gizi dari
keluarga miskin.
4. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam memberikan asuhan gizi kepada anak
(ASI/MP-ASI).
5. Memberikan suplemen gizi (kapsul vitamin A) kepada semua balita
MPASI Diberikan Setelah Bayi Berusia 6
Bulan
Bayi sebaiknya hanya mengonsumsi ASI pada enam bulan pertama hidupnya.
Setelah enam bulan, dia dapat mengonsumsi makanan pendamping ASI atau
disebut MPASI. Namun pemberian MPASI harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati.
Banyak orang memberikan makanan padat pada bayi bahkan saat bayi masih berusia kurang dari
empat bulan. Padahal sebaiknya makanan padat mulai diberikan saat usia bayi telah mencapai
enam bulan. Pada usia setengah tahun ke atas, makanan berperan sebagai pendamping ASI atau
disebut MPASI.

Apa Saja Tanda-tanda bahwa Bayi Sudah Siap Makan?


Sebaiknya hindari memberikan makanan padat atau minuman selain ASI sebelum bayi berusia
enam bulan. Pada usia ini, bayi lebih berisiko mengalami alergi, terutama pada makanan seperti
kacang, telur, ikan, susu sapi, keju, maupun makanan yang mengandung gluten seperti roti.
Kapan bayi siap diperkenalkan kepada makanan? Pertumbuhan tiap bayi memang unik sehingga
tidak dapat dibandingkan antara satu sama lain, namun terdapat ciri-ciri umum yang
menunjukkan bahwa bayi telah siap mengonsumsi MPASI. Bayi Anda mungkin memiliki satu
atau dua tanda-tanda berikut ini ketika berusia enam bulan:

 Dia mulai bisa meraih makanan dan memasukkan ke mulut karena telah ada koordinasi antara mata,
mulut, serta tangannya.

 Dia dapat duduk sendiri tanpa bantuan dengan kepalanya telah tersangga oleh tubuh dengan baik.

 Bayi Anda tertarik pada makanan yang sedang Anda konsumsi.

 Dia dapat menelan makanan. Jika tidak, dia akan mengeluarkan makanan itu kembali ke luar dari mulut.

Namun ada kalanya orang tua terburu-buru dalam memberikan makanan pada bayi yang dikira
menunjukkan tanda-tanda siap makan. Padahal suatu tanda dari bayi belum tentu dapat menjadi
petunjuk bahwa dia lapar dan siap makan, misalnya hanya karena bayi sudah bisa memasukkan
jarinya ke mulut atau ingin minum ASI lebih banyak dibandingkan biasanya.

Membiasakan Bayi dengan MPASI


Meski sama-sama mengonsumsi makanan padat seperti orang dewasa, namun pemberian
makanan pada bayi harus dilakukan secara berbeda. Berikut ini dapat menjadi panduan dalam
memberikan MPASI kepada bayi.

 Ajak si Kecil makan bersama-sama bersama keluarga di meja makan. Balita cenderung untuk meniru
yang dilakukan orang tua dan orang-orang di sekitarnya, sehingga nantinya dia akan mencoba mulai
makan dengan tertib. Tempatkan bayi pada kursi makan khusus bayi dan kencangkan sabuk pengamannya
jika ada.

 Untuk memperkenalkan bayi pada makanan padat, awali dengan memberikan sebanyak beberapa sendok
teh makanan, sehari sekali. Cobalah untuk memberikan jenis makanan berbeda tiap hari.

 Pengenalan makanan pada bayi pasti memerlukan waktu dan kesabaran. Hindari memaksakan bayi untuk
mengonsumsi makanannya. Ingat bahwa jika dia memang belum tertarik pada saat ini, bukan berarti dia
tidak akan tertarik untuk makan. Cobalah untuk menawarkan MPASI kembali keesokan harinya.

 Untuk mengantisipasi agar bayi tidak tersedak saat mengunyah dan menelan makanan, hindari
meninggalkannya seorang diri.

 Jika dia ingin, biarkan bayi mengambil dan memasukkan makanan sendiri ke dalam mulutnya.

 Buat suasana makan menjadi menarik dan menyenangkan, misalnya dengan diiringi alunan musik atau
menggunakan perlengkapan makan berwarna cerah.
 Hindari menambahkan MSG atau penambah cita rasa, gula, maupun garam ke dalam makanannya. Semua
bahan tambahan yang diberikan terlalu dini dapat berisiko kepada perkembangan dan membuat mereka
menginginkan kadar yang lebih tinggi ketika berusia lebih dewasa.
 Cobalah untuk merasakan dulu makanan yang akan disuapkan kepada si Kecil, terutama makanan panas,
namun sebaiknya hindari meniupnya. Cukup didekatkan pada bibir dan dikipas jika memang terlalu
panas.

 Bayi tidak harus selalu makan tiga kali sehari. Lebih baik untuk makan dalam porsi kecil, tapi lebih sering
dibandingkan jika dalam porsi banyak, tapi hanya sesekali.

 Bersiaplah dengan kondisi saat makan karena bayi Anda akan antusias untuk mengaduk-aduk dan
mengacaukannya. Selalu ingat bahwa situasi ini juga penting bagi perkembangannya. Anda bisa
menyiapkan alas plastik untuk melapisi meja dan lantai di sekitar tempatnya makan.

 Pakaikan celemek pada lehernya untuk mengantisipasi makanan yang tumpah dari sendok atau mulut.

 Sebaiknya gunakan perlengkapan makan yang tidak terbuat dari kaca sehingga tidak berisiko pecah dan
melukai bayi.

 Pada usia ini hindari menyuapinya saat dia sedang duduk di kursi goyang untuk mengurangi risiko
tersedak.

Kebiasaan dan pola makan anak bermula dari masa pertamanya mengonsumsi makanan. Berikan
beragam jenis makanan sehat dan alami sehingga anak mendapat sebanyak mungkin manfaat
sayur dan buah serta terbiasa menyantapnya.

Yang Perlu Diperhatikan Ketika Memberikan Makanan untuk Bayi


Dalam memilih makanan, sebaiknya perhatikan beberapa hal yang sebaiknya tidak diberikan
pada bayi di bawah usia setahun:

 Terlalu banyak jus dapat menyebabkan bayi mengalami diare. Jus juga memiliki kandungan serat dan
nutrisi yang lebih rendah dibanding buah yang dipotong atau dihaluskan. Jika terlalu lama berada dalam
mulut, jus juga dapat menyebabkan lubang pada gigi.

 Hindari memberikan susu sapi dan madu pada bayi di bawah 1 tahun. Susu sapi tidak sesuai dengan
kebutuhan nutrisi bayi dan justru dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi. Sementara madu dapat
menimbulkan botulisme.
 Hindari memberikan biji-bijian dan makanan kecil yang berisiko menyebabkan tersedak
seperti popcorn, kacang, permen.
 Hindari memberikan makanan cepat saji dan makanan kemasan pada bayi, termasuk bubur bayi yang
banyak dijual di supermarket dalam bentuk bubuk. Jauh lebih baik untuk mengolah masakan sendiri
dengan bahan segar tanpa tambahan pengawet dan bahan lain. Olahan makanan ini dapat disimpan dalam
wadah-wadah sesuai porsi di lemari pendingin untuk kemudian dipanaskan saat akan dikonsumsi.
Seiring dengan konsumsi makanan, bayi menjadi lebih sedikit mengonsumsi ASI. Sekitar usia
enam bulan, bayi umumnya mengonsumsi 800 mililiter susu. Namun pada usia satu tahun,
konsumsi susunya turun menjadi sekitar 600 mililiter. Kebutuhan nutrisi selebihnya didapatkan
dari makanan. Namun jangan berhenti memberikan ASI karena dia masih membutuhkannya
hingga setidaknya usia dua tahun.

Beda Usia, Maka Beda Cara Makan dan Jenis Makanannya


Cara pemberian dan jenis MPASI pada tiap kelompok usia berbeda. Berikut ini beberapa hal
yang dapat menjadi patokan.

MPASI pada bayi 6 bulan


Apa yang sebaiknya diberikan sebagai makanan pendamping ASI? Sayur dan buah yang
dihaluskan, seperti kentang, apel, pisang, avokad, atau melon. Anda juga dapat memberikan
bubur atau nasi yang dihaluskan. Semua diberikan di samping pemberian ASI. Jika bayi sudah
terbiasa dengan buah dan sayur, Anda dapat memberikan jenis makanan lain yang dihaluskan,
misalnya daging ayam, ikan, roti, atau telur.
Anda dapat mencoba memperkenalkan cangkir khusus balita kepada anak untuk minum air. Pada
cangkir tersebut biasanya terdapat corong kecil pada salah satu sisinya agar bayi dapat belajar
menyesap. Sebaiknya botol tidak digunakan agar bayi tidak lupa kepada bentuk puting (menolak
menyusu pada payudara ibunya dan lebih memilih minum dari botol) ketika menyusu.

MPASI pada usia bayi mulai 8-9 bulan


Umumnya pada masa ini, lama-kelamaan bayi akan mulai makan tiga kali sehari. Selain
makanan yang dihaluskan, saat ini Anda bisa memperkenalkan makanan yang dipotong-potong
halus atau memanjang satu-persatu dengan panjang menyerupai jari (finger foods). Sayuran yang
biasa dijadikan finger foodsyaitu wortel, buncis, dan kentang. Pastikan bayi Anda mengonsumsi
berbagai jenis kelompok makanan mulai dari sayur dan buah, nasi, hingga makanan berprotein
tinggi seperti ikan, telur, dan kacang. Di samping itu, tetap berikan ASI kapan saja bayi mau.
MPASI pada usia bayi mulai 12 bulan
Berikut ini adalah menu bisa diberikan saat bayi mencapai usia 1 tahun.

 3-4 porsi nasi, kentang, atau roti.

 3-4 porsi sayur dan buah potong.

 2 porsi ikan, telur, atau daging.


Hal penting dalam pemberian MPASI adalah menghindari memaksakan bayi menghabiskan
makanannya. Selama perkembangannya baik, Anda tidak perlu khawatir dia kekurangan
makanan. Pada usia ini, bayi akan makan jika dia lapar, bukan karena faktor kesenangan.
Biarkan anak menentukan sendiri kapan dia ingin makan. Selain itu, periksakan kepada dokter
jika bayi Anda mengalami gejala alergi setelah mengonsumsi makanan tertentu.
TABURIA Yang Menyehatkan dan Mencerdaskan …
Published On Kamis, Februari 24, 2011 By Eman. Under: Info Nasional.

Jika Anda belum mengenal Taburia, berikut ini sekelumit


informasi tentangnya.

Ia adalah Multivitamin dan Multimineral. Mengandung 12 jenis vitamin dan empat mineral yang dibutuhkan pada masa
perkembangan anak balita. Jadi, Taburia adalah “multivitamineral” untuk memenuhi kebutuhan gizi dan tumbuh-kembang anak
balita, terutama usia 6-24 bulan (Baduta). Ia berupa serbuk dalam kemasan sachet berisi 1 gram.

MENGAPA PERLU TABURIA?

1) Mengatasi masalah anemia gizi besi pada balita selain syrup besi; 2) Makanan anak balita se-hari2 cenderung kurang zat besi
dan vitamin serta mineral lainnya: 3) Membantu balita mendapatkan zat gizi mikro penting.

MANFAAT TABURIA?
1) Membantu tumbuh-kembang secara optimal; 2) Meningkatkan daya tahan tubuh; 3) Meningkatkan nafsu makan; 4) Mencegah
anemia gizi besi; dan 5) Mencegah kekurangan gizi.

KEUNGGULAN TABURIA?

1) Tidak mengubah kebiasaan makan anak; 2) Tidak mengubah Rasa, Aroma maupun bentuk makanan anak; 3) Praktis; dan 4)
Kebutuhan vitamin dan mineral anak terpenuhi.

PETUNJUK PENGGUNAAN

1) Tambahkan 1 sachet Taburia 1 X sehari pada makanan padat yang dimakan anak balita; 2) Diberikan pada makan pagi; Tidak
boleh dicampur dengan makanan yang berair atau minuman, karena akan menggumpal; 4) Tidak boleh dicampurkan pada
makanan yang panas karena akan merusakkan beberapa zat gizi di dalamnya.

AMAN, HALAL, THOYYIB

Aman, tidak menimbulkan kecanduan; 2) Zat besi dalam Taburia sudah diolah dengan balutan lemak tak jenuh dari bahan
kedelai, dan tidak menyebabkan perubahan rasa; 3) Halal, tidak mengandung alkohol maupun unsur babi.

CARA MENYIMPAN

1) Selalu simpan dalam kotak Taburia;

2) Simpan di tempat yang kering dan tidak lembab;

3) Hindarkan/Jauhkan dari ganguan serangga, tikus, kecoa, dll.;

4) Jauhkan dari jangkauan anak-anak.


Sumber : Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI 2010; Brosur

Bagikan ini:

Menkes RI, dr. Nafsiah M,boi, Sp.A, MPH, saat memaparkan Arah Kebijakan Pembangunan Gizi di
Indonesia, pada kegiatan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi ke X tahun 2012 di Jakarta mengatakan
bahwa masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu

1. Masalah gizi yang secara public health sudah terkendali; yaitu Kekurangan Vitamin A pada anak Balita,
Gangguan Akibat Kurang Iodium dan Anemia Gizi pada anak 2-5 tahun
 Penanggulangan masalah Kurang Vitamin A (KVA) pada anak Balita sudah dilaksanakan secara intensif
sejak tahun 1970-an, melalui distribusi kapsul vitamin A setiap 6 bulan, dan peningkatan promosi
konsumsi makanan sumber vitamin A
 Penanggulangan Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) dilakukan sejak tahun 1994 dengan
mewajibkan semua garam yang beredar harus mengandung iodium sekurangnya 30 ppm
 Prevalensi anemia pada anak mengalami penurunan, yakni 51,5% (1995) menjadi 25,0% (2006) dan
17,6% (2011).

2. Masalah yang belum dapat diselesaikan (un-finished);

Masalah gizi yang belum selesai adalah masalah gizi kurang dan pendek (stunting). Pada tahun 2010
prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara
prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs
sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan
dapat dicapai.

3. Masalah gizi yang sudah meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat (emerging). adalah gizi
lebih.

Prevalensi gizi lebih, baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa meningkat hampir satu persen
setiap tahun. Prevalensi gizi lebih pada anak-anak dan dewasa, masing-masing 14,4% (2007) dan 21,7%
(2010), hal ini menggambarkan bahwa pola makan masyarakat Indonesia belum menerapkan pola gizi
seimbang

Upaya Kementerian Kesehatan RI dalam mengatasi masalah Gizi dan perbaikan status gizi khususnya
Baduta ( anak bawah 2 tahun) yang mengalami anemia Gizi, masalah Gizi kurang dan pendek (
stunting) dengan membuat suatu inovasi di bidang gizi berupa pemberian makanan berfortifikasi dalam
bentuk bubuk yang disebut TABURIA

Taburia atau sprinkle adalah bubuk multi vitamin dan mineral suatu inovasi baru yang dikembangkan
oleh Kementerian Kesehatan RI untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral setiap anak balita usia 6-
59 bulan dengan prioritas balita usia 6-24 bulan ( Baduta)

Taburia mengandung 12 macam vitamin dan 4 mineral yang sangat dibutuhkan untuk menanggulangi
masalah kurang zat gizi mikro, khususnya penanggulangan Anemia Gizi Besi (AGB) pada baduta. Taburia
dikembangkan untuk meningkatkan asupan gizi dengan memperbaiki kulitas
makanan baduta khususnya dari keluarga miskin dan mendorong pengembangan bubuk tabur gizi bagi
masyarakat umum. Baduta dari keluarga miskin memperoleh taburia secara gratis dan masyarakat
umum golongan mampu dapat memperoleh multi vitamin sejenis Taburia dengan membeli di
toko/apotik.

Pengembangan formulasi Taburia mulai dilakukan Kementerian Kesehatan sejak tahun 2006 dengan
melakukan uji penelitian dan hasil sangat menggembirakan, bahwa TABURIA dapat didistribusikan untuk
penanggulangan masalah gizi mikro. Sebagian besar balita ((95%) mau mengkonsumsi TABURIA tanpa
masalah dengan tingkat kepatuhan untuk mengkonsumsi TABURIA cukup baik (88%) dan tanpa
menimbulkan efek samping. TABURIA menjadi Kebijakan Nasional dalam Penanggulangan Masalah Gizi
Mikro. Tahun 2010 mulai dicobakan di 3 Propinsi di 6 kabupaten dan seterusnya sampai tahun 2014 DIY
mulai disosialisasikan dan didistribusikan ke sasaran prioritas Baduta Gizi kurang.
Kandungan/komposisi Taburia dan Fungsi dalam tubuh

1 saset taburia berisi 1gram multi vitamin dan multi mineral (Gizi mikro) dengan komposisi sbb:

JENIS VITAMIN DAN MINERAL SATUAN KANDUNGAN FUNGSI DALAM TUBUH


MINIMAL

Vitamin A (Vitamin A Acetate) mcg* 417 Memelihara kesehatan mata, kekebalan


tubuh dan meningkatkan pertumbuhan
anak

Vitamin B1 (Thiamine mg 0.5 Meningkatkan nafsu makan, pertumbuhan


Mononitrate) dan funfsi pencernaan dan saraf

Vitamin B2 (Riboflavin) mg 0.5 Memelihara kesehatan kulit,fungsi


penglihatan,mencegah pecah2 pd sudut
bibir dan pertumbuhan

Vitamin B3 (Niacinamide) mg 5 Meningkatkan nafsu makan, kesehatan


kulit,dan daya ingat

Vitamin B6 (Pyridoxine HCL) mg 0.5 Membantu pembentukan sel darah


merah,pertumbuhan dan mencegah
gangguan fungsi otak

Vitamin B12 (Cyanocobalamin) mcg 1 Meningkatkan nafsu makan,fungsi


saraf,pembentukan sel darah merah dan
mencegah gangguan mental

Asam Folat (Folic Acid) mcg 150 Membantu pembentukan sel darah merah
serta mencegah penyakit(infeksi) dan
kelelahan

Vitamin C (Ascorbic Acid) mg 30 Mencegah sariawan dan pendarahan


gusi,meningkatkan daya tahan
tubuh,mencegah kelesuan dan kurang
darah

Asam Pantotenat (D-Calcium- Mg 3 Mencegah kelelahan dan mengatasi sulit


Pantothenate) tidur pada anak

Vitamin D3 (Cholecalciferol) mcg 5 Membantu pertumbuhan tulang dan gigi


serta mencegah gangguan gigi rapuh

Vitamin E (DL-Alpha-Tocopheryl Mg 6 Membantu pembentukan sel darah merah


Acetate) USP, FCC serta mencegah gangguan bicara dan
penglihatan

Vitamin K1 (Phytomenadione) mcg 20 Membantu pembekuan darah,


pembentukan danperbaikan tulang

Iodium (Potassium Iodate) mcg 50 Membantu pertumbuhan dan


perkembangan mental,mencegah kretin(
cebol dan terbelakang mental)

Fe (Ferrous Fummarate) mg 10 Meningkatkan nafsu makan, mencegah


anemia

Zn (Zinc Gluconate, USP) mg 5 Meningkatkan pertumbuhan, fungsi saraf


dan otak serta nafsu makan

Se (Selenium) mcg 20 Meningkatkan daya tahan tubuh dan


kesehatan.

Maltodextrin Sampai menjadi 1.000 mg

Gizi mikro adalah zat gizi yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit tetapi penting untuk menjalankan
fungsi tubuh yang normal.

Petunjuk pemberian Taburia

 Taburia diberikan pada semua anak Balita usia 6- 59 bulan, prioritas anak usia 6-24 bulan
 Selama satu bulan anak mendapat 15 saset taburia (1 saset Taburia taburkan pada makanan siap
santap diberikan 2 hari sekali) dengan pemberian selama 4 bulan
 1 saset taburia sebaiknya dihabiskan sekaligus pada saat sarapan pagi
 taburia sebaiknya tidak boleh dicampur dengan makanan berair ( sayuran berkuah) dan minuman (
air, susu, teh) karena akan mengubah warna makanan, dikhawatirkann anak tidak mau menghabiskan
makanan,
 Taburia tidak boleh di campur dengan makanan panas karena akan menimbulkan rasa dan bau
kurang enak.
 Cuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum dan sesudah menyiapkan makanan
Taburia menjadi kebijakan kementerian kesehatan RI dalam mengatasi masalah kekurangan gizi mikro
pada anak balita usia 6- 59 bulan dan prioritas anak Baduta usia 6 – 24 bulan dari keluarga miskin..
Semoga dengan adanya taburia ini angka stunting dan anemia gIzi pada Baduta di Indonesia dapat
teratasi/ terkendali sehingga menjadi manusia sehat, cerdas dengan derajat kesehatan
masyarakat meningkat, menjadi negara kuat dan bermartabat. Amin. Jaya ... Indonesiaku. semoga
bermanfaat.

Sumber : www.dinkes.jogjaprov.go.id

SATUAN
JENIS VITAMIN DAN KANDUNGAN FUNGSI DALAM TUBUH
MINERAL MINIMAL

Memelihara kesehatan mata,


Vitamin A (Vitamin A mcg* 417 kekebalan tubuh dan meningkatkan
Acetate) pertumbuhan anak
Meningkatkan nafsu makan,
Vitamin B1 (Thiamine mg 0.5 pertumbuhan dan funfsi pencernaan
Mononitrate) dan saraf
Memelihara kesehatan kulit,fungsi
Vitamin B2 (Riboflavin) mg 0.5 penglihatan,mencegah pecah2 pd
sudut bibir dan pertumbuhan
Meningkatkan nafsu makan,
Vitamin B3 (Niacinamide) mg 5 kesehatan kulit,dan daya ingat
Membantu pembentukan sel darah
Vitamin B6 (Pyridoxine mg 0.5 merah,pertumbuhan dan mencegah
HCL) gangguan fungsi otak
Meningkatkan nafsu makan,fungsi
Vitamin B12 mcg 1 saraf,pembentukan sel darah merah
(Cyanocobalamin) dan mencegah gangguan mental
Membantu pembentukan sel darah
Asam Folat (Folic Acid) mcg 150 merah serta mencegah
penyakit(infeksi) dan kelelahan
Mencegah sariawan dan pendarahan
Vitamin C (Ascorbic Acid) mg 30 gusi,meningkatkan daya tahan
tubuh,mencegah kelesuan dan kurang
darah
Mencegah kelelahan dan mengatasi
Asam Pantotenat (D- Mg 3 sulit tidur pada anak
Calcium-Pantothenate)
Membantu pertumbuhan tulang dan
Vitamin D3 (Cholecalciferol) mcg 5 gigi serta mencegah gangguan gigi
rapuh
Membantu pembentukan sel darah
Vitamin E (DL-Alpha- Mg 6 merah serta mencegah gangguan
Tocopheryl Acetate) USP, bicara dan penglihatan
FCC
Membantu pembekuan darah,
Vitamin K1 mcg 20 pembentukan danperbaikan tulang
(Phytomenadione)
Membantu pertumbuhan dan
Iodium (Potassium Iodate) mcg 50 perkembangan mental,mencegah
kretin( cebol dan terbelakang mental)
Meningkatkan nafsu makan,
Fe (Ferrous Fummarate) mg 10 mencegah anemia
Meningkatkan pertumbuhan, fungsi
Zn (Zinc Gluconate, USP) mg 5 saraf dan otak serta nafsu makan

Meningkatkan daya tahan tubuh dan


Se (Selenium) mcg 20 kesehatan.

Maltodextrin Sampai menjadi 1.000


mg
Penyimpanan ASI Perah Yang Benar
Kini semakin banyak ibu menyusui yang masih harus beraktivitas di luar rumah. Itu
sebabnya penting untuk mengetahui bagaimana penyimpanan ASI perah yang benar.
Ada berbagai pilihan tempat untuk menyimpan ASI perah , seperti botol kaca, botol plastik
dengan label bebas bahan berbahaya, ataupun kemasan plastik khusus untuk ASI. Sebaiknya
hindari menyimpan ASI perah dalam kemasan botol atau plastik yang biasa digunakan untuk
keperluan umum.

Jaga Kebersihan Kemasan


Penting untuk terlebih dahulu melakukan sterilisasi botol atau kemasan penampung ASI perah
yang akan didinginkan atau dibekukan. Lakukan sterilisasi dengan merebus botol dalam air
panas mendidih sekitar 5-10 menit. Selain itu, dapat digunakan alat sterilisasi elektrik. Namun,
cek mengenai ketahanan kemasan pada label. Hati-hati saat melakukan sterilisasi botol yang
terbuat dari kaca, karena kemungkinan pecah.
Yang tak kalah penting untuk mencegah perkembangan bakteri dari ASI perah yaitu menjaga
kebersihan tangan saat memerah ataupun menyimpan ASI dalam kemasan. Gunakan sabun saat
mencuci tangan sebelum memerah baik menggunakan tangan atau pompa ASI, kemudian cuci
bersih botol kemasan ASI sebelum dilakukan sterilisasi.
Untuk ASI perah yang akan dibekukan, sebaiknya dimasukkan segera ke bagian lemari
pembeku. Namun, jangan isi penuh botol atau plastik kemasan, ASI perah cenderung
mengembang dalam keadaan membeku.

Khusus untuk kemasan plastik penampung ASI perah yang lebih berisiko bocor atau rusak,
sebaiknya tempatkan lagi dalam kontainer atau kotak kemasan lain sebelum memasukkannya ke
dalam lemari pendingin. Jangan lupa untuk memberikan label berisi tanggal ASI diperah pada
botol atau plastik kemasan. Dahulukan ASI dalam kemasan yang lebih lama.

Waktu Penyimpanan
Penyimpanan ASI perah sebaiknya disesuaikan dengan penggunaannya. ASI yang akan
digunakan beberapa hari kemudian, lebih baik dimasukkan ke dalam bagian lemari pendingin
yang tidak akan membuat beku.

ASI perah dapat disimpan mulai dari beberapa jam hingga beberapa bulan, tergantung dari suhu
penempatannya.

Berikut prinsip penyimpanan ASI yang harus diketahui :

 ASI perah tahan hingga 6 jam jika ditaruh pada suhu ruangan sekitar 25 derajat celcius.

 ASI perah tahan hingga 24 jam, saat disimpan dalam boks pendingin yang ditambahkan dengan tambahan
kantung es (ice pack).
 ASI perah tahan sampai 5 hari, ketika ditaruh pada kulkas bagian lemari pendingin dengan suhu minimal
4 derajat celcius.

 ASI perah tahan hingga 6 bulan pada freezer dengan suhu 18 derajat celcius dibawah titik beku 0 derajat
celsius.

Hanya saja perlu diingat, proses pembekuan ASI perah kemungkinan menghilangkan beberapa
zat yang penting untuk menghalau infeksi pada bayi. Semakin lama penyimpanan ASI perah,
baik didinginkan maupun dibekukan, akan menghilangkan kandungan vitamin C pada ASI.
Meski demikian, ASI perah yang sudah dibekukan itu, nilai gizinya masih jauh lebih baik
dibandingkan susu formula.
Tips Mencairkan ASI Perah
ASI perah beku yang dicairkan kemungkinan akan mengalami perubahan pada warna, bau, dan
konsistensinya dibandingkan ASI segar. Sebagian bayi ada yang menolak ASI perah beku, jika
demikian ada baiknya memperpendek masa simpan ASI.

 Untuk mencairkan ASI perah yang dibekukan, dapat menggunakan penghangat ASI elektrik yang bisa
digunakan di rumah atau di mobil. Jika tidak tersedia, maka Anda dapat menempatkan botol penyimpan
ASI perah ke dalam panci atau mangkuk berisi air hangat. Diamkan beberapa saat. Ingat, jangan menaruh
panci atau baskom tersebut di atas kompor yang menyala.

 ASI perah yang dibekukan, sebaiknya tidak langsung dikeluarkan dalam suhu ruang. Beberapa penelitian
mengungkap perubahan suhu yang cepat dapat memengaruhi kandungan antibodi yang terdapat dalam
ASI yang bermanfaat bagi bayi.

 ASI perah beku dari freezer dapat diletakkan terlebih dahulu di ruang pendingin pada kulkas, kemudian
hangatkan sebagaimana cara di atas. Yang juga penting diketahui adalah jangan membekukan ulang ASI
perah yang sudah dicairkan.
 Jika ASI perah dibutuhkan segera, maka Anda dapat menempatkannya di bawah air mengalir dengan
suhu biasa. Lalu lanjutkan mengairi dengan air hangat. Jika belum cukup hangat, tempatkan botol di
dalam mangkuk berisi air hangat. Untuk memeriksa apakah suhu ASI sudah sesuai untuk bayi, teteskan
ke pergelangan tangan. Jika suhu sudah sesuai, bisa langsung diberikan pada bayi.

 Meski tampaknya mudah, hindari menghangatkan atau mencairkan ASI perah menggunakan microwave.
Alat ini kemungkinan dapat menciptakan bintik-bintik pada botol ASI perah yang kemungkinan
berbahaya bagi bayi. Sekali lagi, perubahan susu yang terlalu cepat pada ASI perah bisa menghilangkan
kandungan antibodi yang dibutuhkan oleh bayi Anda.

ASI merupakan asupan nutrisi yang terbaik bagi bayi. Penyimpanan ASI perah dan manajamen
ASI membantu ibu menyusui yang beraktivitas di luar rumah untuk mencukupi kebutuhan bayi.
Kemungkinan ibu bekerja perlu mengetahui manajemen ASI perah lebih lanjut. Jika perlu,
konsultasikan dengan dokter atau spesialis anak untuk informasi lebih lanjut.
Cara yang Benar untuk Mencairkan
ASI Beku
Oleh Arinda VeratamalaData medis direview oleh Hello Sehat Medical Review Team.

 35Klik untuk


Klik
Klik untuk
membagikanTumblr(Membuka
untuk berbagi
berbagi pada
di Facebook(Membuka
Twitter(Membuka
viaLinkedln(Membuka
di Google+(Membuka
Line new(Membukadi
di di jendela
jendela
di jendela
jendela
didijendela
yang
jendelayang
yang
yang
yang
yang baru)35
baru)
baru)
baru)
baru)
baru)

Jika Anda bekerja atau jika produksi ASI Anda sangat banyak, metode memompa ASI dan
menyimpannya dalam pendingin mungkin sangat berguna bagi Anda. ASI dipompa dengan alat
khusus, ditempatkan dalam botol, diberi tanggal, kemudian disimpan dalam freezer atau
pendingin. Anda bisa menggunakan ASI yang telah disimpan tersebut di kemudian hari.

Bagaimana cara mencairkan ASI yang telah


membeku?
Berikut ini merupakan panduan bagaimana cara mencairkan ASI beku yang telah disimpan
dalam pendingin.

1. Pilih ASI yang lebih awal disimpan

Jika Anda sudah banyak menyimpan ASI dalam pendingin, sebaiknya pilih ASI yang sudah
lama berada di dalam pendingin untuk dipakai terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan prinsip
FIFO (first in first out), di mana Anda harus mengeluarkan atau memakai ASI yang dimasukkan
lebih dulu.

BACA JUGA: 5 Cara Tetap Memberikan ASI Eksklusif Meski Ibu Bekerja

Untuk itu, sebaiknya sebelum menyimpan ASI, Anda harus memberi tanggal pembuatannya
terlebih dahulu. Tulis tanggal saat ASI disimpan dengan spidol yang tidak mudah hilang.
Dengan memberi tanggal pada ASI, Anda tahu sudah berapa lama ASI disimpan dan yang
mana yang harus Anda pakai terlebih dahulu. ASI yang disimpan dalam freezer dengan suhu -
15°C dapat bertahan sampai dengan 2 minggu.

2. Jangan sembarangan dalam mencairkan ASI beku

Mencairkan ASI beku ada caranya tersendiri. Hal ini diterapkan guna mempertahankan nutrisi
dan antibodi yang terkandung dalam ASI beku. Cara yang benar dalam mencairkan ASI beku,
yaitu:

 ASI beku yang disimpan dalam freezer sebaiknya dipindahkan ke bagian bawah kulkas atau
refrigerator yang mempunyai suhu lebih tinggi. Anda mungkin membutuhkan waktu selama
beberapa jam atau dalam semalam (24 jam) untuk mencairkan ASI yang beku dalam
refrigerator. Atau, Anda juga bisa mencairkan ASI beku dengan mengalirkan air dingin pada
wadah ASI beku, yang kemudian diikuti dengan mengalirkan air hangat.
 Jika Anda membutuhkan ASI dalam waktu cepat, cairkan ASI beku dengan bantuan air hangat.
Tempatkan wadah yang berisi ASI beku dalam wadah lebih besar yang berisi air hangat. Ingat,
air hangat (kurang dari 37°C) bukan air panas. Jangan mencairkan susu dalam air yang sangat
panas atau dalam microwave. Juga, jangan sesekali merebus ASI yang beku. Suhu yang
sangat panas dapat menghilangkan nutrisi dan merusak antibodi yang terkandung dalam susu,
sehingga menjadi percuma jika diberikan untuk bayi Anda. Memanaskan susu dengan air
sangat panas atau dalam microwave juga dapat menciptakan hot spot atau bagian panas dalam
ASI, sehingga mulut bayi bisa terbakar.

BACA JUGA: Panduan Menyimpan ASI Agar Tetap Awet


3. Kocok ASI yang sudah mencair dengan perlahan

Setelah ASI cair, mungkin Anda akan melihat dua lapisan susu, yaitu lapisan lemak yang ada di
atas dan lapisan cairan yang ada di bawahnya. Ini adalah hal yang normal terjadi. Untuk
menggabungkan kedua lapisan tersebut, Anda perlu mengaduk susu atau mengocok botol susu
bayi sebelum memberikannya pada bayi Anda. Kocok dengan lembut, jangan mengocoknya
terlalu kuat.

4. Jangan membekukan lagi ASI yang sudah dicairkan

ASI beku yang sudah dicairkan dapat bertahan sampai 24 jam di dalam kulkas dan hanya
bertahan sampai 4 jam dalam suhu ruang. Jika ASI beku sudah cair tapi tidak jadi terpakai,
sebaiknya jangan membekukan ASI kembali. ASI beku yang sudah cair dan lebih dari 24 jam
tidak terpakai, sebaiknya segera dibuang.

ASI yang sudah diberikan pada bayi dan tidak habis hanya dapat bertahan sampai 1-2 jam. Jika
bayi tidak segera menghabiskannya, maka sebaiknya ASI juga dibuang (jangan dibekukan lagi).

Apakah ASI bisa rusak jika tidak dihangatkan


dengan benar?
Banyak teori yang telah mengatakan bahwa jangan menghangatkan ASI beku
dalam microwave, dipanaskan dengan kompor atau direbus, atau dicelupkan dalam air panas.
ASI beku yang dihangatkan terlalu panas dapat menyebabkan ASI rusak, nutrisi dan antibodi
yang terkandung dalam ASI bisa hilang.

Bahkan, suhu maksimal untuk memanaskan ASI adalah hanya sebesar 40°C, yang bagi kita
tidak terlalu hangat. Jika ASI dipanaskan dengan suhu di atas 40°C, maka nutrisi dan antibodi
yang ada di dalamnya bisa mulai menurun.
Kebutuhan Gizi Bayi dan Balita
Oleh HandayaniDiposting pada 7 Oktober 2016

Terdapat beberapa kebutuhan gizi bayi dan balita yang harus dipenuhi agar
pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan optimal. Ketahui apa saja
kebutuhan gizi bayi/balita dan sumber makanan yang dapat memenuhi gizi yang
dibutuhkan.

Diketahui, kurang gizi menjadi penyebab 3,1 juta kematian anak dalam setiap tahunnya.
Untuk memperbaiki kelangsungan hidup anak, serta mendukung pertumbuhan dan
perkembangan yang sehat pada setiap anak, maka pemberian makanan yang tepat
pada bayi merupakan salah satu kuncinya.

Periode yang penting pada kehidupan anak yaitu saat dua tahun kehidupan
pertamanya. Pasalnya, asupan nutrisi yang optimal pada periode ini mampu menekan
angka kematian anak, serta mampu mengurangi angka kesakitan dan mendukung agar
pertumbuhan serta perkembangan anak berjalan dengan optimal.
Kebutuhan Gizi Bayi Usia 0-6 Bulan
Penting memberikan ASI eksklusif pada bayi hingga usia bayi 6 bulan karena ASI
memiliki banyak manfaat untuk bayi dan ibu. Pada 6 bulan awal kehidupan bayi, tidak
ada makanan apapun yang diberikan selain ASI. Pasalnya, perut bayi masih belum siap
untuk mencerna makanan. ASI sudah memenuhi gizi bayi yang dibutuhkan pada usia
ini.

ASI yang keluar untuk pertama kalinya disebut dengan kolostrum. Kolostrum ini
memiliki banyak manfaat untuk kekebalan tubuh bayi. Setelah bayi dilahirkan penting
untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Jangan biarkan bayi anda tidak
mendapatkan kesempatan mengkonsumsi ASI pertama ini. ASI pertama ini
mengandung zat gizi dan kekebalan tubuh yang diperlukan oleh bayi.

Kebutuhan Gizi Bayi dan Balita


Saat bayi berusia 6 bulan, maka kebutuhan nutrisi dan energi bayi semakin meningkat.
Oleh karena itu diperlukan makanan pendamping untuk memenuhi kebutuhan bayi.

Dari makanan pendamping ASI, penting bagi orang tua untuk memenuhi kebutuhan gizi
bayi atau balitanya. Orang tua harus memperhatikan makanan atau pandai-pandai
memilih makanan untuk buah hati tercinta. Lantas apa saja kebutuhan gizi bayi dan
balita yang harus dipenuhi? Untuk mengetahuinya anda bisa simak langsung
pembahasan di bawah ini.

Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satu kebutuhan gizi bayi yang harus dipenuhi.
Karbohidrat menjadi sumber energi utama yang dibutuhkan. Anda dapat memberikan
sumber karbohidrat dari beberapa bahan makanan. Bahan makanan yang menjadi
sumber karbohidrat di antaranya yaitu beras merah, beras, tepung roti, kentang, tepung
maizena, pasta, havermut dan lain sebagainya. Dalam memilih sumber karbohidrat
pastikan anda memilih bahan makanan yang dapat dikonsumsi oleh bayi atau balita
anda.

Protein
Protein merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Dimana protein ini
bermanfaat untuk memelihara jaringan dan sel dalam organ tubuh. Selain itu, protein
juga memiliki peran dalam perkembangan otak. Sumber protein dapat anda temukan
dari bahan makanan seperti misalkan, tahu, tempe, telur, kacang-kacangan, susu dan
olahannya seperti misalkan krim, keju dan yoghurt.
Lemak
Lemak merupakan kompenan utama yang berperan dalam membentuk membran sel
otak bayi. Selain itu, lemak merupakan bahan utama sebagai sumber energi, serta
dibutuhkan oleh zat-zat tertentu seperti misalkan vitamin A agar dapat diserap oleh
tubuh dengan mudah. Sumber lemak bisa anda dapatkan dari bahan makanan seperti
misalkan santan, margarin, mentega dan minyak sayur seperti minyak wijen, minyak
jagung dan minyak bunga matahari.

Vitamin dan Mineral


Vitamin dan mineral dibutuhkan oleh tubuh guna memperlancar metabolisme dalam
tubuh. Selain itu, untuk proses pengantaran perintah antara sel saraf. Sumber vitamin
dan mineral bisa anda dapatkan dari bahan makanan yang mudah sekali ditemui
seperti buah dan sayuran. Buah dan sayuran yang menjadi sumber vitamin dan mineral
di antaranya yaitu labu kuning, brokoli, jagung, buncis muda, kacang kapri, jamur
merang, wortel, tomat, jeruk, alpukat, pepaya, semangka, pir, melon, apel, pisang dan
lain sebagainya.

Air
Kebutuhan air bayi dan balita penting untuk dipenuhi. Air dapat menghilangkan rasa
dahaga bayi dan balita, serta berperan dalam melancarkan kerja sistem pencernaan.
Untuk memenuhi kebutuhan air untuk buah hati tercinta, anda bisa mendapatkannya
dari ASI, air mineral, makanan berkuah, sari buah dan lain sebagainya.

Kalori
Bayi, khususnya bayi yang sudah bergerak aktif atau balita yang sudah bisa
merangkak, serta memiliki keinginan untuk meraih benda-benda tertentu kebutuhan
kalorinya harus terpenuhi. Energi bisa didapatkan dari makanan yang mengandung
kalori, seperti misalkan karbohidrat komplek, protein dan lemak sehat. Untuk bayi, kalori
yang dibutuhkan biasanya sekitar 1300-1500 kkal dalam perharinya.

Zat Besi
Zat besi diperlukan tubuh untuk membantu meningkatkan oksigen dalam darah,
sehingga dengan begitu kesehatan dan perkembangan bayi dapat terjaga.

Itulah kebutuhan gizi bayi dan balita. Dengan demikian untuk mengoptimalkan
pertumbuhan dan perkembangan buah hati tercinta, anda harus memenuhi semua
kebutuhan gizi yang diperlukan. Anda dapat memenuhi kebutuhan gizi buah hati
tercinta dari makanan sumber gizi seperti yang sudah disebutkan di atas. Perhatikan
dalam setiap memilih makanan sebagai sumber gizi untuk bayi dan balita sesuai yang
dibutuhkan. Semoga bermanfaat.
Sumber : Kebutuhan Gizi Bayi dan Balita
-P
KEBUTUHAN GIZI PADA IBU HAMIL DAN MENYUSUI

Makanan bergizi harus dipersiapkan sebelum seorang ibu berencana hamil. Sehingga pada
saat hamil, badan sudah terkondisikan dengan sangat baik untuk pertumbuhan janin.
Minggu-minggu pertama kehamilan adalah masa di mana organ tubuh yang penting
terbentuk. Kekurangan gizi pada saat ini dapat menimbulkan kelainan pada bayi atau
bahkan kelahiran prematur. Karena itu, gizi seimbang penting untuk pertumbuhan janin.
Pertumbuhan sel yang cepat terjadi sejak dua minggu setelah konsepsi dan mulai terbentuk
plasenta. Minggu kedua hingga ke delapan terjadi pembentukan organ-organ seperti
jantung, paru-paru, ginjal, hati dan tulang. Volume darah pun meningkat drastis, hingga
sampai akhir kehamilan volume darah menjadi 4/3 kali volume darah normal. Ini
menyebabkan terjadinya pengenceran darah, sehingga kadar hemoglobin (Hb), albumin,
dan zat lain menurun.
Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi
dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut
diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ
kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu, pengaliran makanan dari
pembuluh darah ibu ke pembuluh darah janin melalui plasenta. Sehingga kekurangan zat
gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna.

Beberapa nutrisi penting yang diperlukan ibu hamil diantaranya adalah Sumber kalori
(Karbohidrat & Lemak), protein, asam folat, Vit B12, zat besi, zat seng, kalsium, vitamin C,
vitamin A, Vitamin D, vitamin B6, vitamin E. Sedangkan nutrisi yang dibutuhkan bagi jani
dalam kandungan diantaranya DHA, gangliosida (GA), asam folat, zat besi, EFA, FE dan
kolin.
Sumber Kalori
Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi sehat bila tingkat kesehatan dan gizinya berada
pada kondisi baik. Hasil SKRT 1995 menunjukkan bahwa 41 % ibu hamil di indonesia
menderita Kurang Energi Kronis (KEK) dan 51 % menderita anemia, dan ini menyebabkan
kecenderungan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Bagi ibu hamil, pada
dasarnya semua zat gizi memerlukan tambahan. Kebutuhan energi untuk kehamilan normal
perlu tambahan kira-kira 80.000 kalori selama 280 hari, hal ini berarti perlu tambahan ekstra
sebanyak kurang lebih 300 kalori setiap hari selama kehamilan.
Kebutuhan energi pada trimester I meningkat secara minimal, kemudian sepanjang
trimester II dan III kebutuhan energi terus meningkat sampai akhir kehamilan. Energi
tambahan untuk trimester II diperlukan untuk pemekaran jaringan ibu seperti, penambahan
volume darah, pertumbuhan uterus dan payudara, serta penumpukan lemak. Selama
trimester III tambahan energi digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta
Sumber energi utama bagi ibu hamil adalah Kabohidrat dan lemak. Sumber karbohidrat
antara lain nasi, roti, sereal dan gandum. Agar kebutuhan karbohidrat terpenuhi disarankan
makan 3 porsi karbohidrat setiap hari. Lemak juga menghasilkan energi, dan menghemat
protein untuk dimanfaatkan dalam fungsi-fungsi pertumbuhan. Lemak digunakan untuk
pembentukan materi membran sel dan pembentukan hormon, pembentukan jaringan
lemak, disamping itu lemak membantu tubuh untuk menyerap nutrisi. Namun demikian
dalam kondisi hamil asupan lemak juga harus dibatasi karena kandungan kalorinya yang
tinggi.
Protein
Sama halnya dengan energi, selama kehamilan kebutuhan protein juga meningkat, bahkan
sampai 68 % dari sebelum kehamilan. Hal ini dikarenakan protein diperlukan untuk
pertumbuhan jaringan pada janin. Jumlah protein yang harus tersedia sampai akhir
kehamilan diperkirakan sebanyak 925 g, yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, serta
janin. Dianjurkan penambahan protein sebanyak 12 g/hari selama kehamilan. Dengan
demikian dalam satu hari asupan protein dapat mencapai 75 – 100 g (sekitar 12 % dari
jumlah total kalori).
Asam Folat
Asam folat termasuk vitamin B komplek, yakni vitamin B9. Kebutuhan asam folat pada ibu hamil dan usia
subur sebanyak 400 mikrogram perhari atau setara dengan 2 gelas susu. Folat didapatkan dari sayuran
berwarna hijau (seperti bayam, asparagus), jeruk, buncis, kacang-kacangan dan roti gandum. Selain itu
folat juga dapat didapatkan dari suplementasi asam folat.

Dalam tubuh, asam folat berfungsi sebagai ko-enzym dalam sintesa asam amino dan asam nukleat. Folat
juga diperlukan pada pembentukan dan pematangan sel darah merah dan sel darah putih di sumsum
tulang. Selain itu folat juga berperan sebagai pembawa karbon tunggal pada pembentukan heme pada
molekul hemoglobin. Kekurangan asam folat menyebakan gangguan metabolisme DNA. Akibatnya terjadi
perubahan dalam morfologi inti sel, terutama pada sel-sel yang cepat membelah seperti erytrosit,
leukosit, sel epitel lambung dan usus, epitel vagina dan servik uterus. Pada ibu hamil, folat memegang
peranan penting dalam perkembangan embrio, diantaranya adalah pembentukan neural tube pada bulan
pertama kehamilan. Neural tube inilah sebagai awal pembentukan otak dan sumsum tulang belakang.

Di Jakarta, tiga dari lima atau 60 % wanita usia subur memiliki kadar folat kurang dari kadar folat ideal.
Kekurangan folat dapat terjadi karena intake makanan berkurang, gangguan absorbsi pada pencernaan,
alkoholis, pengaruh obat, atau kebutuhan internal yang meningkat karena pertumbuhan sel yang cepat
misalnya pada kehamilan, ibu menyusui, anemia hemolitik dan leukimia. Kekurangan asam folat pada ibu
hamil menyebabkan meningkatnya resiko anemia, keguguran, neural tube defect. Pada janin kekurangan
asam folat akan meningkatkan resiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau lahir dengan cacat
bawaan, kecacatan pada otak dan sumsum tulang belakang, down’s syndrome, bibir sumbing, kelainan
pembuluh darah, dan lepasnya plasenta sebelum waktunya.

Zat Besi

Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi selama
kehamilan. Ibu hamil pada umumnya mengalami deplesi besi sehingga hanya sedikit
memberi zat besi kepada janin yang dibutuhkan untuk metabolism besi normal. Zat besi
dibutuhkan untuk pembetukan hemoglobin, sedangkan selama kehamilan volume darah
akan meningkat akibat perubahan pada tubuh ibu dan pasokan darah bayi. Kekurangan zat
besi dapat menimbulkan gangguan dan hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh
maupun sel otak, kematian janin dalam kandungan, abortus, cacat bawaan, lahir dengan
berat badan rendah dan anemia pada bayi.
Kalsium
Janin mengumpulkan kalsium dari ibunya sekitar 25 sampai 30 mg sehari. Paling banyak
ketika trimester ketiga kehamilan. Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium untuk
menguatkan tulang dan gigi. Selain itu kalsium juga digunakan untuk membantu pembuluh
darah berkontraksi dan berdilatasi. Kalsium juga diperlukan untuk mengantarkan sinyal
syaraf, kontraksi otot dan sekresi hormon. Jika kebutuhan kalsium tidak tercukupi dari
makanan, kalsium yang dibutuhkan janin akan diambil dari ibu. Kebutuhan kalsium ibu
hamil adalah sekitar 1000 mg perhari. Sumber kalsium dari makanan diantaranya product
susu seperti susu, yoghurt. Ikan teri juga merupakan sumber kalsium yang baik.
Vitamin C
Vitamin C yang dibutuhkan janin tergantung dari asupan makanan ibunya. Vitamin C
merupakan antioksidan yang melindungi jaringan dari kerusakan dan dibutuhkan untuk
membentuk kolagen dan menghantarkan sinyal kimia di otak. Wanita hamil setiap harinya
disarankan mengkonsumsi 85 mg vitamin C per hari. Anda dapat dengan mudah
mendapatkan vitamin C dari makanan seperti tomat, jeruk, strawberry, jambu biji dan
brokoli. Makanan yang kaya vitamin C juga membantu penyerapan zat besi dalam tubuh.
Vitamin A
Vitamin A memegang peranan penting dalam fungsi tubuh, termasuk fungsi penglihatan,
imunitas, serta perkembangan dan pertumbuhan embrio. Kekurangan vitamin A dapat
mengakibatkan kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah.

Kebutuhan Gizi pada Ibu Menyusui


Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk
tumbuh kembang bayi. Kebutuhan nutrisi selama laktasi didasarkan pada kandungan nutrisi air susu dan
jumlah nutrisi penghasil susu. Ibu menyusui disarankan memperoleh tambahan zat makanan 800 Kkal,
kebutuhan kalori ini lebih tinggi bila dibanding saat kehamilan. Kandungan kalori ASI rata-rata yang
dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kal/100 ml, dan kira-kira 85 kal diperlukan oleh ibu untuk tiap
100 ml yang dihasilkan. Rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510
kal/hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan susu normal.

Kebutuhan nutrient ibu menyusui meliputi;

Protein

Ibu memerlukan tambahan 20 gram diatas kebutuhan normal ketika menyusui. Jumlah ini hanya 16 %
dari tambahan 500 kal yang dianjurkan.

Cairan

Nutrisi lain yang diperlukan selama laktasi adalah asupan cairan. Dianjurkan ibu menyusui minum 2 – 3
liter perhari, dalam bentuk air putih, susu dan jus buah.

Vitamin dan Mineral

Kebutuhan vitamin dan mineral selama menyusui lebih tinggi dari pada selama hamil
Kompenen nutrient dalam ASI antara lain; protein, laktosa dan lemak. Kadar protein ASI
sebesar 0,9%, sebesar 60 % diantaranya berupa whey yang lebih mudah dicerna dari pada
kasein (protein utama susu sapi). Lemak di dalam ASI merupakan campuran dari fosfolipid,
kolesterol, vitamin A dan karotinoid. Dalam ASI juga terdapat Asam Amino (sistin dan
taurin) yang tidak terdapat dalam susu sapi. Sistin digunakan untuk pertumbuhan somatik
dan taurin untuk pertumbuhan otak.
Selain itu ASI juga mengandung zat immunitas, seperti sel T dan immunoglobulin, yang
merupakan pertahan tubuh spesifik. Juga mengandung sel fagosit, komplemen C2 dan C4,
lisosom, laktoperoksidase, laktoferin, transferin, yang merupakan pertahan tubuh non
spesifik. Dengan mengikat besi, laktoferin telah berperan menghambat pertumbuhan
bacteri staphylococcus dan E. Coli yang memerlukan zat besi untuk pertumbuhannya.
Laktoferin juga menghambat pertumbuhan jamur candida.
Selain itu, Lactobacillus bifidus di dalam ASI berfungsi mengubah laktosa menjadi asam
laktat dan asam asetat. Kedua asam ini menjadikan saluaran pencernaan menjadi asam
sehingga menghambat pertumbuhan microorganisme, seperti E. Coli, shigella dan jamur.
erawatanBayi.com https://perawatanbayi.com/kebutuhan-gizi-bayi-dan-balita#ixzz51avdPyQC