Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY.

R
UMUR 13 HARI DENGAN HIPERBILIRUBENEMIA
Di RUANG MELATI

Disusun oleh :

Lindarti Marsiyah (P173221175034)


Monica C (P173221175035)
Christna (P173221175036)
Inten Pratiwi (P173221175037)
Laila Salsabila (P173221175038)
Shelly Claudia M P (P173221175039)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

PROGRAM STUDI KEBIDANAN KEDIRI

2016/2017
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Indikator derajat kesehatan masyarakat
komponen kesehatan,diantaranya adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kematian Bayi (AKB). Indonesia masih menuai presentasi di ASEAN (Association of
South East Asia Nations) Angka kematian bayi di negara-negara ASEAN seperti
Singapura 3/1000 per kelahiran hidup, Malaysia 5,5/1000 per kelahiran hidup, Thailand
17/1000 per kelahiran hidup, Vietnam 18/1000 per kelahiran hidup, dan Philipina
26/1000 per kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi di Indonesia cukup tinggi
yakni 26,9/2000per kelahiran hidup. Tingkat kesehatan ibu dan anak merupakan salah
satu indikator di suatu Negara. Angka kematian Maternal dan Neonatal masih tinggi,
salah satu faktor penting dalam upaya penurunan angka tersebut dengan memberikan
pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berkualitas kepada masyarakat yang
belum terlaksana. Menurut Pola penyakit penyebab kematian bayi menunjukkan bahwa
proporsi penyebab kematian neonatal kelompok umur 0-7 hari tertinggi adalah premature
dan Berat Badan Lahir Rendah / BBLR (35%), kemudian asfiksia lahir (33,6%). Penyakit
penyebab kematian neonatal kelompok umur 8-28 hari tertinggi adalah infeksi sebesar
57,1% (termasuk tetanus 9,5%, sepsis, pneumonia, diare), kemudian feeding problem
(14,3%).
Berdasarkan data dari The Fifty Sixth Session of Regional Committee, WHO (World
Health Organization), pada tahun 2003, kematian bayi terjadi pada usia neonatus dengan
penyebab infeksi 33%, asfiksia/ trauma 28%, BBLR 24%, kelainan bawaan 10%, dan
lain-lain 5%. Salah satu penyebab mortalitas pada bayi baru lahir adalah ensefalopati
biliaris (lebih dikenal sebagai kernikterus). Ensefalopati biliaris merupakan komplikasi
ikterus neonatorum yang paling berat. Selain memiliki angka mortalitas yang tinggi, juga
dapat menyebabkan gejala sisa berupa cerebral palsy, tuli nada tinggi, paralysis dan
displasia dental yang sangat mempengaruhi kualitas hidup. Ikterus adalah suatu keadaan
kulit dan membran mulkosa yang warnanya menjadi kuning akibat peningkatan jumlah
pigmen empedu di dalam darah dan jaringan tubuh. Hiperbiliirubin adalah suatu keadaan
dimana kadar bilirubiin mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi menimbulkan
kern-ikterus. Sebagian besar hiperbilirubin ini proses terjadinya mempunyai dasar yang
patologik. Angka kejadian bayi hiperbilirubin berbeda di satu tempat ke tempat lainnya.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan dalam faktor penyebab seperti umur kehamilan, berat
badan lahir, jenis persalinan dan penatalaksanaan.
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah pada sebagian
neonates, ikterus akan di temukan pada minggu pertama dalam kehidupannya. Di
kemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60 % bayi cukup bulan dan 80 %
pada bayi kurang bulan. Ikterus ini pada sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang
dapat menimbulkan gangguan menetap atau menyebabkan kematian, karenanya setiap
bayi dengan ikterus harus mendapat perhatian terutama bilaikterus di temukan dalam 24
jam pertama kehidupan bayi. Proses hemolisis darah, infeksi berat, ikterus yang
berlangsung lebih dari satu minggu serta bilirubin direk lebih dari1 mg/dl juga keadaan
yang menunjukan kemungkinan adanya ikterus patologik. Dalam keadaan tersebut
penatalaksanaan harus di lakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat di
hindarkan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimanakah Pengertian dari Hiperbilirubin?
1.2.2 Apakah etiologi dari Hiperbilirubin
1.2.3 Apakah patofisiologi dari Hiperbilirubin tersebut?
1.2.4 Bagaimanakah klasifikasi Hiperbilrubin pada bayi baru lahir?
1.2.5 Bagaimanakah Penatalaksanaan Medis dari hiperbilirubinemia?

1.3 Tujuan
1.3.1 Dapat Mengetahui dan memahami Pengertian dari Hiperbilirubin
1.3.2 Dapat Mengetahui dan memahami etiologi dari Hiperbilirubin
1.3.3 Dapat Mengetahui dan memahami patofisiologi dari Hiperbilirubin
1.3.4 Dapat Mengetahui dan memahami klasifikasi Hiperbilrubin pada bayi baru lahir
1.3.5 Dapat Mengetahui dan memahami penatalaksanaan medis dari hiperbilirubinemia
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar


2.1.1 Pengertian Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia ialah terjadinya peningkatan kadar bilirubin dalam darah,
baik oleh faktor fisiologik maupun non-fisiologik, yang secara klinis ditandai dengan
ikterus. Bentuk ikterus ini umumnya terjadi pada bayi baru lahir dengan kadar
bilirubin tak terkonjugasi pada minggu pertama >2 mg/dL. Pada bayi cukup bulan
yang diberi susu formula, kadar bilirubin akan mencapai puncaknya sekitar 6-8 mg/dl
pada hari ke-3 kehidupan dan kemudian akan menurun cepat selama 2-3 hari diikuti
dengan penurunan lambat sebesar 1 mg/dL selama 1 sampai 2 minggu. Pada bayi
cukup bulan yang mendapat ASI, kadar bilirubin puncak akan mencapai kadar yang
lebih tinggi (7-14 mg/dL) dan penurunan terjadi lebih lambat, bisa terjadi selama 2-4
minggu, bahkan dapat mencapai 6 minggu. (Mathindas et al, 2013)
Menurut Nelson (2007), ikterus pada bayi baru lahir dikenali sebagai ikterus
neonatarum. Ikterus neonatarum sering bersifat fisiologis dan diidentifikasi sebagai
salah satu masalah yang paling umum pada bayi baru lahir di seluruh dunia. Biasanya
itu bukan kondisi yang mengancam jiwa, tetapi harus diberikan perhatian khusus
untuk menghindari komplikasi selanjutnya. Ikterus adalah perubahan warna kulit atau
sklera mata dari putih menjadi kuning akibat peningkatan penumpukan bilirubin
(hiperbilirubinemia) dalam sirkulasi darah dan ini terjadi pada minggu pertama
kehidupan bayi.
Hiperbilirubinemia yang merupakan suatu keadaan meningkatnya kadar
bilirubin di dalam jaringan ekstravaskular, sehingga konjungtiva, kulit, dan mukosa
akan berwarna kuning. Keadaan tersebut juga bisa berpotensi besar terjadi kern
ikterus, yaitu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak. Bayi
yang mengalami hiperbilirubinemia memiliki ciri sebagai berikut: adanya ikterus
terjadi pada 24 jam pertama, peningkatan konsentrasi bilirubin serum 10 mg% atau
lebih setiap 24 jam, konsentrasi bilirubin serum 10 mg/dL pada neonatus yang cukup
bulan dan 12,5 mg/dL pada neonatus yang kurang bulan, ikterus disertai dengan
proses hemolisis kemudian ikterus yang disertai dengan keadaan berat badan lahir
kurang dari 2000 gram, masa gestasi kurang dari 36 minggu, asfiksia, hipoksia,
sindrom gangguan pernafasan, dan lain-lain. (Riyanto et al, 2015)
Jenis ikterus ini dahulu dikenal sebagai ikterus patologik, yang tidak mudah
dibedakan dengan ikterus fisiologik. Setiap peningkatan kadar bilirubin serum
memerlukan fototerapi; peningkatan kadar bilirubin total serum > 0,5 mg/dL/jam,
adanya tanda-tanda penyakit yang mendasar pada setiap bayi (muntah, letargis, malas
menetek, penurunan berat badan yang cepat, apnea, takipnea, atau suhu yang tidak
stabil), ikterus yang bertahan setelah delapan hari pada bayi cukup bulan atau setelah
14 hari pada bayi kurang bulan (Marthindas et al, 2013)
Ikterus yang kemungkinan menjadi hiperbilirubinemia antara lain ikterus yang
disertai berat lahir <2000 gram, masa gestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom
gangguan nafas, infeksi, hipoglikemia atau hiperosmolaritas darah. (AIPHHS, 2015)
2.1.2 Etiologi
Hiperbilirubinemia yang berhubungan dengan pemberian ASI dapat berupa
breastfeeding jaundice (BFJ) dan breastmilk jaundice (BMJ) yang disebabkan oleh
kekurangan pregnan 3 (alfa), 20 (beta), diol (steroid). Bayi yang mendapat ASI
eksklusif dapat mengalami hiperbilirubinemia yang dikenal dengan BFJ. Penyebab
BFJ adalah kekurangan asupan ASI. Biasanya timbul pada hari ke-2 atau ke-3 pada
waktu ASI belum banyak. Breastfeeding jaundice tidak memerlukan pengobatan dan
tidak perlu diberikan air putih atau air gula. Bayi sehat cukup bulan mempunyai
cadangan cairan dan energi yang dapat mempertahankan metabolismenya selama 72
jam. Pemberian ASI yang cukup dapat mengatasi BFJ. Breastmilk jaundice
mempunyai karakteristik kadar bilirubin indirek yang masih meningkat setelah 4-7
hari pertama. Kondisi ini berlangsung lebih lama daripada hiperbilirubinemia
fisiologis dan dapat berlangsung 3-12 minggu tanpa ditemukan penyebab
hiperbilirubinemia lainnya. Penyebab BMJ berhubungan dengan pemberian ASI dari
seorang ibu tertentu dan biasanya akan timbul pada setiap bayi yang disusukannya.
Semua bergantung pada kemampuan bayi tersebut dalam mengkonjugasi bilirubin
indirek (bayi prematur akan lebih berat ikterusnya). Penyebab BMJ belum jelas,
beberapa faktor diduga telah berperan sebagai penyebab terjadinya BMJ. (IDAI,
2013)
Bayi yang tidak mendapat ASI cukup saat menyusui dapat bermasalah karena
tidak cukupnya asupan ASI yang masuk ke usus untuk memroses pembuangan
bilirubin dari dalam tubuh. (Wong et al, 2007)
Menurut Hasan et al (2005) dan (AIPHHS, 2015), penyebab dari
hiperbilirubinemia terdapat beberapa faktor antara lain:
a. Produksi bilirubin yang berlebihan.
b. Hemolisis, misalnya pada inkompibilitas yang terjadi bila terdapat
ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan rhesus dan ABO
c. Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar. Ikatan bilirubin dengan
protein terganggu seperti gangguan metabolik yang terdapat pada bayi
hipoksia atau asidosis
d. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya
hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya
sulfadiazine
e. Gangguan dalam ekskresi yang terjadi intra atau ekstra hepatic
f. Perdarahan tertutup pada trauma kelahiran
g. Defisiensi G6PD ( Glukosa 6 Phostat Dehidrogenase)
h. Breast milk jaundice yang disebabkan oleh kekurangannya pregnan 3 (alfa), 20
(beta), diol (sterid).
i. Kurangnya enzim glukoronil transferase, sehingga kadar bilirubin indirek
meningkat misalnya pada BBLR.
j. Kelainan kongenital
k. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau
toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi,
toksoplasmasis, sifilis
l. Peningkatan sirkulasi enterohepatik, misalnya pada ileus obstruktif.
m. Ikterus yang disertai oleh berat lahir < 2000 gram, masa gestasi 36 minggu,
asfiksia, hipoksia, sindrom gawat nafas, infeksi, trauma lahir, atau
hipoglikemia (kadar gula darah rendah).
2.1.3 Patofisiologi Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia neonatal atau ikterus fisiologi merupakan suatu kadar
bilirubin serum total yang lebih dari 5 mg/dl, disebabkan oleh predisposisi neonatal
untuk memproduksi bilirubin dan keterbatasan kemampuan untuk
mengekskresikannya. Dari definisinya tidak ada ketidaknirmalan lain atau proses
patologis yang mengakibatkan ikterus. Warna kuning pada kulit dan membran
mukosa adalah karena deposisi pigmen bilirubin tak-terkonjugasi. Sumber utama
bilirubin adalah pemecahan hemoglobin yang yang sudah tua atau sel darah merah
yang mengalami hemolisis. Pada neonatus, sel darah merah mengalami pergantian
yang lebih tinggi dan waktu hidup yang lebih pendek, yang meningkatkan hepar
neonatal merupakan faktor yang membatasi ekskresi bilirubin ( Sowden, 2009).
Bilirubin tak-terkonjugasi atau indirek bersifat larut lemak dan mengikat
albumin plasma. Bilirubin kemudian diterima oleh hati, tempat konjugasinya.
Bilirubin terkonjugasi atau direk diekskresikan dalam bentuk empedu ke dalam usus.
Di dalam usus, bakteri mengubah bilirubin terkonjugasi menjadi urobilinogen.
Mayoritas urobilinogen yang sangat mampu larut diekskresikan kembali oleh hepar
dan dieleminasikan ke dalam feses, ginjal mengekskresikan 5% urobilinogen.
Peningkatan kerusakan sel darah merah dan ketidakmatangan hepar tidak hanya
menambah peningkatan kadar bilirubin, tetapi bakteri usus lain dapat mendekonjugasi
billirubin, yang memungkinkannya direabsorpsi ke dalam sirkulasi dan selanjutnya
meningkatkan kadar bilirubin ( Sowden, 2009).
2.1.4 Klasifikasi
Ikterus neonatorum dibagi menjadi ikterus fisiologis dan patologis ( Ngastiyah,2005).
1. Ikterus Fisiologis
Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang
tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang
membahayakan atau mempunyai potensi menjadi “kernicterus” dan tidak
menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologik adalah ikterus yang
mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang
disebut hiperbilirubin.
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah ikterus
yang memiliki karakteristik sebagai berikut menurut (Hanifah, 1987), dan
(Callhon, 1996), (Tarigan, 2003) dalam (Schartz, 2004):
a. Timbul pada hari kedua - ketiga.
b. Kadar bilirubin indirek setelah 2x24 jam tidak melewati 15 mg% pada
neonatus cukup bulan dan 10 mg% pada kurang bulan.
c. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari.
d. Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg%.
e. Ikterus hilang pada 10 hari pertama.
f. Tidak mempunyai dasar patologis; tidak terbukti mempunyai hubungan
dengan keadaan patologis tertentu.
g. Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan
karakteristik sebagai berikut Menurut (Surasmi, 2003) bila:
1) Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran.
2) Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau > setiap 24 jam.
3) Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus < bulan
dan 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan.
4) Ikterus disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi
enzim G6PD dan sepsis).
5) Ikterus disertai berat lahir < 2000 gr, masa gestasi < 36 minggu,
asfiksia, hipoksia, sindrom gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia,
hiperkapnia, hiperosmolalitas darah.
2. Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia.
Menurut (Tarigan, 2003) adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin
dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan
kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan
dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan hiperbilirubinemia bila kadar
bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg% pada bayi kurang
bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
3. Kern Ikterus.
Kern ikterus adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek
pada otak terutama pada korpus striatum, talamus, nucleus subtalamus,
hipokampus, nukleus merah, dan nukleus pada dasar ventrikulus IV. Kern ikterus
ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus cukup bulan
dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg%) dan disertai penyakit hemolitik
berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kern ikterus secara
klinis berbentuk kelainan syaraf simpatis yang terjadi secara kronik.
2.1.5 Metabolisme dan Patofisologi Bilirubin
Sel darah merah pada neonatus berumur sekitar 70-90 hari, lebih pendek dari
pada sel darah merah orang dewasa, yaitu 120 hari. Secara normal pemecahan sel
darah merah akan menghasilkan heme dan globin. Heme akan dioksidasi oleh enzim
heme oksigenase menjadi bentuk biliverdin (pigmen hijau). Biliverdin bersifat larut
dalam air. Biliverdin akan mengalami proses degradasi menjadi bentuk bilirubin. Satu
gram hemoglobin dapat memproduksi 34 mg bilirubin. Produk akhir dari metabolisme
ini adalah bilirubin indirek yang tidak larut dalam air dan akan diikat oleh albumin
dalam sirkulasi darah yang akan mengangkutnya ke hati . Bilirubin indirek diambil
dan dimetabolisme di hati menjadi bilirubin direk. Bilirubin direk akan diekskresikan
ke dalam sistem bilier oleh transporter spesifik. Setelah diekskresikan oleh hati akan
disimpan di kantong empedu berupa empedu. Proses minum akan merangsang
pengeluaran empedu ke dalam duodenum. Bilirubin direk tidak diserap oleh epitel
usus tetapi akan dipecah menjadi sterkobilin dan urobilinogen yang akan dikeluarkan
melalui tinja dan urin. Sebagian kecil bilirubin direk akan didekonjugasi oleh β-
glukoronidase yang ada pada epitel usus menjadi bilirubin indirek. Bilirubin indirek
akan diabsorpsi kembali oleh darah dan diangkut kembali ke hati terikat oleh albumin
ke hati, yang dikenal dengan sirkulasi enterohepatik. (IDAI, 2013)
2.1.6 Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis lebih kearah suportif. Pencegahan hiperbilirubinemia neonatal
harus selalu diusahakan dengan memberikan ASI secepat mungkin setelah lahir.
Kadar bilirubinemia harus dipantau, dan bayi akan mendapat fototerapi sampai kadar
darah diperoleh. Semua penyebab lain hiperbilirubinemia harus disingkirkan pada saat
itu. Penyebab lain meliputi inkompatibilutas Rh, penyakit hemolitik, dan atresia bilier.
Bayi yang berisiko tinggi mengalami hiperbilirubinemia, seperti bayi prematur dan
yang mengalami hipoksia dan asidos, dapat diberikan fototerapi sebelum kadar
bilirubin bermakna ( Sowden, 2009)
A. Pengkajian
Pengumpulan Data
1. Riwayat orang tua : Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh,
ABO,Polisitemia, Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI.
2. Pemeriksaan Fisik: Kuning, Pallor Konvulsi, Letargi, Hipotonik, menangis
melengking,refleks menyusui yang lemah, Iritabilitas.
3. Pengkajian Psikososial: Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua,
apakah orangtua merasa bersalah, masalah Bonding, perpisahan dengan anak.
4. Pengetahuan Keluarga meliputi:
Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut, apakahmengenal
keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan,kemampuan
mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy SmithGreenberg. 1988).
5. Riwayat aktivitas/istirahat : letargi, malas (Marilynn E. Doengoes,2001: 692 )
6. Sirkulasi : mungkin pucat, menandakan anemia. (Marilynn E. Doengoes,2001:
692 )
7. Eliminasi : bising usus hipoaktif, pasase mekonium mungkin lambat, fases
mungkin lunak/coklat kehijauan selama pengeluaran billirubin, urine gelap pekat,
: hitam kecoklatan (syndrome baby bronze). (Marilynn E. Doengoes,2001: 692 )
8. Makanan/cairan : riwayat pelambatan/makanan oral buruk, lebih mungkin disusui
daripada menyusu botol. Palpasi abdomen dapat menunjukkan pembesaran limfa,
hepar (Marilynn E. Doengoes,2001: 692 ).
9. Neurosensori : sefalomatoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang
parietal yang berhubungan dengan trauma kelahiran /kelahiran ekstrasi vakum
(Marilynn E. Doengoes,2001: 692 ). , edema umum hepathosplenomegali, atau
hidrops vitalis mungkin ada dengan inkompatibilitas Rh berat, kehilangan refleks
moro mungkin terlihat, opistotonus dengan kekakuan lengkunfg punggung,
fontanel menonjol, menangis lirih, aktivitas kejang (tahap kritis) (Marilynn E.
Doengoes,2001: 692 ).
10. Pernapasan : riwayat asfiksia, krekels bercak merah muda ( edema pleural,
hemoragi pulmonal). (Marilynn E. Doengoes,2001: 692 )
11. Keamanan : riwayat positif infeksi,/sepsis neonatus, dapat engalami ekimosis
berlebihan, petekie, perdarahan intrakranial., dapat tampak ikterik pada awalnya
pada wajah dan berlanjut pada distal tubuh : kulit hitamkecoklatan (syndrome
baby bonze) sebagai efek samping fototerapi. (Marilynn E. Doengoes,2001: 692 )
12. Seksualitas : mungkin preterm, bayi kecil untuk usia gestasi (SGA), bayi dengan
retardasi pertumbuhan INTA Uterus (IUGR), atau bayi besar untuk usia gestasi
(LGA), seperti bayi dengan ibu
13. diabetes,. Trauma kelahiran dapat terjadi berkenaan dengan strees dingin,
asfiksia, asidosis, hipoglikemia, hipoproteinemia. (Marilynn E. Doengoes,2001:
693 )
14. Pemeriksaan Diagnostik : Golongan darah bayi dan ibu, mengidentifikasi
inkompatibilitas ABO, Bilirubin total: kadar direk bermakna jika melebihi 1,0 –
1,5 mg/dL kadar indirek tidak boleh melebihi peningkatan 5 mg/dL dalam 24
jam, atau tidak boleh lebih 20 mg/dL pada bayi cukup bulan atau 15 mg/dL pada
bayi pratern, Darah lengkap: Hb mungkin rendah (< 1 mg/dL) karena hemolisis.,
Meter ikterik transkutan: mengidentifikasi bayi yang memerlukan penentuan
bilirubin serum.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko/defisit volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnyaintake cairan,
serta peningkatan Insensible Water Loss (IWL) dandefikasi sekunder fototherapi.
2. Risiko/gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin, efek
fototerapi.
3. Risiko hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi.
4. Gangguan parenting (perubahan peran orang tua) berhubungan dengan perpisahan
dan penghalangan untuk gabung.5.
5. Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi.
6. Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi.
7. Risiko tinggi komplikasi (trombosis, aritmia, gangguan elektrolit,infeksi)
berhubungan dengan tranfusi tukar.

C. Intervensi Keperawatan
1. DX 1 : Risiko/defisit volume cairan b/d tidak adekuatnya intake cairanserta
peningkatan IWL dan defikasi sekunder fototherapi
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jamdiharapkan tidak
terjadi deficit volume cairan dengan kriteria :
a) Jumlah intake dan output seimbang.
b) Turgor kulit baik, tanda vital dalam batas normal.
c) Penurunan BB tidak lebih dari 10 % BB

Intervensi:
a) Kaji reflek hisap bayi
Rasional: mengetahui kemampuan hisap bayi.
b) Beri minum per oral/menyusui bila reflek hisap adekuat
Rasional: menjamin keadekuatan intake.
c) Catat jumlah intake dan output , frekuensi dan konsistensi faeces
Rasional: mengetahui kecukupan intake.
d) Pantau turgor kulit, tanda- tanda vital ( suhu, HR ) setiap 4 jam
Rasional: turgor menurun, suhu meningkat HR meningkat adalahtanda-tanda
dehidrasi.
e) Timbang BB setiap hari
Rasional: mengetahui kecukupan cairan dan nutrisi.

2. DX 2: Risiko/hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi Tujuan: Setelah


diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi hipertermi
dengan kriteria suhu aksilla stabil antara 36,5-37 0
Intervensi:
a) Observasi suhu tubuh ( aksilla ) setiap 4 - 6 jam
Rasional: suhu terpantau secara rutin.
b) Matikan lampu sementara bila terjadi kenaikan suhu, dan berikankompres
dingin serta ekstra minum.
Rasional: mengurangi pajanan sinar sementara.
c) Kolaborasi dengan dokter bila suhu tetap tinggi.
d) Memberi terapi lebih dini atau mencari penyebab lain dari hipertermi.

3. DX 3: Risiko/Gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin,


efek fototerapi.
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak
terjadi gangguan integritas kulit dengan kriteria:
a. Tidak terjadi decubitus
b. Kulit bersih dan lembab
Intervensi:
1) Kaji warna kulit tiap 8 jam
Rasional: mengetahui adanya perubahan warna kulit.
2) Ubah posisi setiap 2 jam
Rasional: mencegah penekanan kulit pada daerah tertentu dalamwaktu lama.
3) Masase daerah yang menonjol
Rasional: melancarkan peredaran darah sehingga mencegah luka tekandi
daerah tersebut.
4) Jaga kebersihan kulit bayi dan berikan baby oil atau lotion pelembabRasional:
mencegah lecet.
5) Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar bilirubin, bila kadar bilirubinturun
menjadi 7,5 mg% fototerafi dihentikan
Rasional: untuk mencegah pemajanan sinar yang terlalu lama

4. DX 4: Gangguan parenting (perubahan peran orangtua) berhubungan dengan


perpisahan dan penghalangan untuk gabung.
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkanorang
tua dan bayi menunjukan tingkah laku “Attachment” , orang tua dapat
mengekspresikan ketidak mengertian proses Bounding.
Intervensi :
a. Bawa bayi ke ibu untuk disusui
Rasional: mempererat kontak sosial ibu dan bayi.
b. Buka tutup mata saat disusui
Rasional: untuk stimulasi sosial dengan ibu.
c. Anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya
Rasional: mempererat kontak dan stimulasi sosial.
d. Libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan
Rasional: meningkatkan peran orangtua untuk merawat bayi.
e. Dorong orang tua mengekspresikan perasaannya
Rasional: mengurangi beban psikis orangtua

5. DX 5: Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada


bayi.
Tujuan: Setelah diberikan penjelasan selama 2x15 menit diharapkan orangtua
menyatakan mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif dalam
perawatan.

Intervensi :
a. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit pasien
Rasional: mengetahui tingkat pemahaman keluarga tentang penyakit.
b. Beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi
dan perawatannya.
Rasional: Meningkatkan pemahaman tentang keadaan penyakit
c. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah
Rasional: meningkatkan tanggung jawab dan peran orang tua dalam merawat
bayi

6. DX 6: Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi.


Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkantidak
terjadi injury akibat fototerapi (misal; konjungtivitis, kerusakan jaringan kornea)
Intervensi:
a. Tempatkan neonatus pada jarak 40-45 cm dari sumber cahayaRasional:
mencegah iritasi yang berlebihan.
b. Biarkan neonatus dalam keadaan telanjang, kecuali pada mata dandaerah
genetal serta bokong ditutup dengan kain yang dapatmemantulkan cahaya
usahakan agar penutup mata tidak menutupihidung dan bibir.
Rasional: mencegah paparan sinar pada daerah yang sensitif.
c. Matikan lampu, buka penutup mata untuk mengkaji adanyakonjungtivitis tiap
8 jam.
Rasional: pemantauan dini terhadap kerusakan daerah mata.
d. Buka penutup mata setiap akan disusukan.
Rasional: memberi kesempatan pada bayi untuk kontak mata denganibu.
d. Ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan
Rasional: memberi rasa aman pada bayi.

7. DX 7: Risiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan tranfusitukar


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1x24 jamdiharapkan
tranfusi tukar dapat dilakukan tanpa komplikasi
Intervensi:
a. Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang digunakan
Rasional: menjamin keadekuatan akses vaskuler.
b. Basahi umbilikal dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan.
Rasional: mencegah trauma pada vena umbilical.
c. Puasakan neonatus 4 jam sebelum tindakan
Rasional: mencegah aspirasi
d. Pertahankan suhu tubuh sebelum, selama dan setelah prosedur
Rasional: mencegah hipotermi.
e. Catat jenis darah ibu dan Rhesus memastikan darah yang akan ditranfusikan
adalah darah segar.
Rasional: mencegah tertukarnya darah dan reaksi tranfusi yang berlebihan.6.
f. Pantau tanda-tanda vital, adanya perdarahan, gangguan cairan danelektrolit,
kejang selama dan sesudah tranfusi.
Rasional: Meningkatkan kewaspadaan terhadap komplikasi dan dapat
melakukan tindakan lebih dini.
g. Jamin ketersediaan alat-alat resusitatif
Rasional: dapat melakukan tindakan segera bila terjadi kegawatan
DAFTAR PUSTAKA

1. Australia Indonesia Partnership for Health System Strengthening. Modul Asuhan


Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah. 2015. Jakarta.
2. Doenges, marilynn E. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta : EGC
3. Hasan, R & Husein A. (2005). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Penerbit fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
4. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2013. Indikasi Terapi Sinar Pada Bayi Menyusui
Yang Kuning. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/indikasi-terapi-sinar-pada-
bayi-menyusui-yang-kuning. Diakses tanggal 27-02-2018
5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2013. Menyusui Bayi dengan Risiko
Hipoglikemia. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/menyusui-bayi-dengan-
risiko-hipoglikemia. Diakses tanggal 27-02-2018
6. Mathindas, S., Wilar, R., Wahani, A. 2013. Hiperbilirubinemia Pada Neonatus.
Manado: Jurnal Biomedik, Volume 5, Nomor 1, Suplemen, hlm. S4-10
7. Ngastiyah. (2005). Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC
8. Riyanto, A., Adriana, P,. Hidayah, S,. 2015. Hiperbilirubinemia. Kudus: Cendekia
Utama. https://www.academia.edu/28136550/MAKALAH_HIPERBILIRUBINEMIA.
Diakses tanggal 16-09-2017
9. Schartz William. (2004). Clinical Handbook of Pediatrics (1 st ed) Susi, N. (2005)
(Alih Bahasa), Jakarta: EGC
10. Sowden, L.A & Betz, C.L. 2009. Buku saku keperawatan pediatri. Jakarta : EGC
11. Wong RJ, Stevenson DK, Ahlfors CE, Vreman HJ. Neonatal Jaundice: Bilirubin
physiology and clinical chemistry. NeoReviews 2007;8:58-67
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN KEDIRI
Jl. KH. Wakhid Hasyim No. 64 B Telp. (0354) 773095 – 772833
Website : http://www.poltekkes-malang.ac.id Fax. (0354) 778340
Email : direktorat@poltekkes-malang.ac.id Kediri 64114

FORMAT ASUHAN KEBIDANAN PADA PERINATALOGI

I. Pengkajian
DATA SUBYEKTIF
Biodata
Nama : Bayi Ny. R
Umur : 13 hari
Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Nama ayah : Tn. M
No reg : -
Ruangan : Melati
Tanggal MRS : 25 Februari 2018
Diagnosis Medis :
Cara masuk :

Datang Sendiri Rujukan dari :

Diagnose :

1. Keluhan utama :
Ibu mengatakan Bayi Ny. R terlihat kuning sejak 2 hari lalu, tidur terus dan tidak mau
menetek.

2. Riwayat penyakit sekarang :


Tidak ada

3. Jenis persalinan : Spontan


4. APGAR Score :5-6
5. Berat Badan : 2600 gram
6. Panjang Badan : 49 cm
7. Usia Kehamilan : 38 minggu
8. Ketuban
Pecah dini jam : ......................... jelas ............... warna :jernih, keruh,
meconeal
Tidak pecah dini
Lain lain
9. Riwayat ketuban dan kelahiran :
Antenatal : dokter / bidan / puskesmas / RS / dll
Berapa kali : 3 kali
Dokter Bidan Puskesmas
Rumah Sakit Lain-lain
10. NATAL :
11. Post Natal :
12. Riwayat kesehatan keluarga : Contreng di kolom yang sesuai
YA TIDAK YA TIDAK Sebutkan

DM √ HIPERTENSI √ Lain- -
lain
TBC √ HEPATITIS √ Lain- -
lain

A. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan fisik

a. Keadaan umum : Lemah

Suhu : 36 °C
Nadi : 110 x/menit
Pernafasan : 50 x/menit
Berat badan : 2600 gram
Panjang badan : 49 cm
Lingkar kepala : 32 cm
Lingkar lengan : 9,5 cm
Lingkar dada : 30 cm

b. Kesadaran
( ) Gerak aktif ( ) Menangis Kuat ( √ ) Lethargi ( ) Merintih
( ) Koma ( ) lain-lain

c. Kepala
I. Rambut
Tipis Ya/tidak kering Ya/tidak
Kotor Ya/tidak Jarang Ya/tidak

II. Mata
Konjungtiva Anemis Ya/tidak Merah Ya/tidak
Sklera Ikterus Ya/tidak Lain-lain Ya/tidak

III. Wajah
Ikterus Ya/tidak Geimace Ya/tidak
Pucat Ya/tidak Cyanosis Ya/tidak
Lain-lain

IV. Telinga
Simetris Ya/tidak Radang Ya/tidak
Sekret Ada/tidak Perdarahan Ya/tidak
Tulang rawan +/- lain-lain............

V. Hidung
Pernafasan cuping hidung Ya/tidak
Lain-lain.........................

VI. Mulut
Bibir kering Ya/tidak Trismus Ya/tidak
Lidah kotor Ya/tidak Lain-lain............................
VII. Leher
Pembesaran Ada/tidak Kaku kuduk Ada/tidak

d. Thorak
Gerak Nafas : relaksi otot dada normal/tidak
Bentuk : √ Normal chest Barel chest
Irama nafas : √ reguler Irreguler
Stridor
Payudara : Ronchi Ada/tidak Whezing Ada/tidak

Jantung : √ Reguler Irreguler


Murmur Irama galop
e. Abdomen
Inspeksi : Bentuk : buncit/ tegang/ normal
Acites : ada/tidak
Tali pusar : ....................................
Palpasi : Massa : Ada/tidak
Fecalit : Ada/tidak
Distensi : Ada/tidak
Pembesaran Hepar : Ada/tidak
Perkusi : Thyampany Hypertimpany
Dulnes Lain-lain.................
Auskultasi : Peristaltik usus................ x/menit
f. Genetali
Labia : Oedem : Ya/tidak
Perdarahan : Ya/tidak
Labia Mayor menutupi labia minor : ya/tidak
Scrotum : Oedem : Ya/tidak
Sudah turun : Ya/Tidak
g. Anus
Berlubang : Ya/tidak
Pendarahan : YA/tidak
Lain-lain :.............
h. Extermitas
Atas : Polidactili Ya/tidak
Syndaktili Ya/tidak
Gerak aktif Ya/tidak
Fratur Ya/tidak
Bawah : Polidactili Ya/tidak
Syndaktili Ya/tidak
CTEV Ya/tidak
Genovalgus Ya/tidak
i. Neurologi
YA TIDAK YA TIDAK

KAKU √ KEJANG √
KUDUK
MUNTAH √ PANAS √

j. Reflek Bayi
Rooting Ya/tidak
Sucking Ya/tidak
Moro Ya/tidak
Babynski Ya/tidak
Grappe Ya/tidak
Swallowing Ya/tidak

2. Pemeriksaan Penunjang
Laborat : tanggal 25 Februari 2018, jam 10.00 WIB Bilirubin 13 mg/dl
Foto :-
Lain-lain : -

B. ANALISA / INTEPRETASI DATA


Bayi cukup bulan sesuai masa kehamilan dengan hiperbilirubenemia
C. PENATALAKSANAAN
Tanggal : 25 Februari 2018 Jam : 11.00 WIB

1. Menginformasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga, bahwa kondisi


bayinya dalam kondisi lemah dan harus dirawat untuk mendapatkan perawatan
lebih lanjut. Ibu setuju dengan tindakan yang harus dilakukan pada anaknya.
2. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak. Dokter menganjurkan untuk
dilakukan fototerapi.
3. Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital bayi. Observasi dilakukan
selama tindakan.
4. Mengambil sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium untuk pemantauan
ketat kadar bilirubin pada bayi. Pengambilan sampel darah telah dilakukan.
5. Terapi sinar biru(blue light)
6. Ibu tetap memberikan ASI
7. Menjelaskan kepada keluarga bahwa kondisi bayinya saat ini sudah membaik dan
menjelaskan perawatan bayi setelah pulang dari rumah sakit. Keadaan umum bayi
sudah baik dan ibu memerhatikan penjelasan petugas dengan seksama.
8. Perawatan di rumah berupa bayi dijemur sekitar 1 jam di pagi hari saat sinar
matahari belum terlalu tinggi intensitasnya sekitar jam 7-8 WIB. Mata dan alat
reproduksi harus ditutup dengan kain yang memantulkan sinar.
9. Pemberian ASI harus sering dilakukan untuk mencegah dehidrasi dan
mempermudah pembuangan bilirubin ke feses. Setidaknya ASI harus diberikan
tiap 3 jam. Jika bayi sulit menghisap, dilakukan pemompaan ASI. Ibu mengerti
dan bersedia menerapkan di rumah.

Kediri,............................
Pembimbing Praktik Mahasiswa

.................................................... ......................................................
NIP. NIM.
NIP. NI
Dosen Pembimbing

....................................................
NIP.
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bagian ini penulis akan membahas tentang Asuhan Kebidanan Pada Perinatologi
yang telah diberikan pada By.Ny “R” dengan hiperbilirubenemia di Ruang Melati sesuai
dengan manajemen kebidanan menurut varney yang telah dirumuskan dalam SOAP.
Pengkajian data adalah mengumpulkan semua data, baik data subyektif maupun data
obyektif. Pada data subyektif By.Ny “R” diketahui umur 13 hari dengan keluhan bayi Ny.R
terlihat kuning sejak 2 hari lalu, tidur terus dan tidak mau menetek. Pada data obyektif
diketahui suhu 36oC, Nadi 11x/menit, pernafasan 5x/ menit, BB 2600gram, PB 49cm, lingkar
dada 30cm, lingkar kepala 32cm, lingkar lengan 9,5 cm.

Hiperbilirubinemia ialah terjadinya peningkatan kadar bilirubin dalam darah, baik


oleh faktor fisiologik maupun non-fisiologik, yang secara klinis ditandai dengan ikterus.
Bentuk ikterus ini umumnya terjadi pada bayi baru lahir dengan kadar bilirubin tak
terkonjugasi pada minggu pertama >2 mg/dL . (Mathindas et al, 2013). Pada kasus ini
didapatkan By.Ny “R” dengan keluhan terlihat kuning sejak 2 hari lalu, tidur terus dan tidak
mau menetek. Namun dalam hal ini tidak didapatkan kesenjangan antara teori dan praktek
karena setelah di periksa bayi tanggal 25 Februari 2018, jam 10.00 WIB kadar Bilirubin 13
mg/dl sehingga perencanaan tindakan semua rencana yang sudah disusun dapat dilakukan
pada bayi Ny “R’, rencana tindakan pada Kasus bayi Ny “R” mengacu pada keluhan yang
terdapat pada bayi dan sesuai dengan teori. Jadi dalam perencanaan tindakan tidak terjadi
kesenjangan.

Langkah terakhir melakukan evaluasi atas asuhan yang telah diberikan sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi di dalam diagnose dan masalah.
Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada bayi Ny “R” dengan hiperbilirubin , penulis
mengevaluasi masalah yang ada sehingga dapat dilihat perkembangannya. Hasil yang
diperoleh dari evaluasi ini adalah keadaan bayi baik, tidak ada komplikasi dari tindakan
tersebut. Kesimpulan dari pembahasan studi kasus pada bayi dengan hiperbilirubin adalah
tidak ditemukan perbedaan antara teori dengan penerapan menejemen kebidanan varney
dalam SOAP.
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Setelah melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi dengan hiperbilrubin ini
menerapkan 7 langkah yang meliputi pengkajian identifikasi diagnosa dan masalah,
diagnosa dan masalah potensial, identifikasi kebutuhan segera, rencana tindakan dan
evaluasi. Kemudian penulis menuangkannya dalam bentuk SOAP, maka penulis
menyimpulkan bahwa pada landasan teori ditemukan dan tindakan yang dilakukan
pada bayi Ny ”R” tidak ada hambatan dan tidak ditemukan komplikasi.

5.2. Saran
a. Bagi Tempat Praktik
Dalam setiap pemberian asuhan kebidanan diharapkan tidak terdapat
kensenjangan antara teori dan praktik sehingga memudahkan dalam melakukan
intervensi dan menambah pengetahuan bagi mahasiswa.
b. Bagi Masyarakat/Klien
Hendaknya ketika merasa terdapat gangguan pada kehamilanya segera
memeriksakan diri ke petugas kesehatan guna dilakukan tindak lanjut berupa
terapi atau pengobatan.