Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM PENGUJIAN DAN EVALUASI TEKSTIL 1

IDENTIFIKASI KERUSAKAN SERAT SECARA KUANTITATIF

NAMA : DINDA ANGGI ARVIANTI

NPM : 16020123

GROUP : 1K4

DOSEN : MAYA K., S.SiT. M.T.

ASISTEN : 1. KURNIAWAN, S.T., MT.

2. WITRI A. S., S.ST.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2017
ANALISA KUANTITATIF SERAT
SECARA MIKROSKOPIK DAN PELARUTAN

1. Maksud dan Tujuan

Untuk mengetahui jenis serat dan komposisi serat dalam suatu contoh uji

2. Dasar Teori
2.1. Uji Mikroskopik

Identifikasi serat terutama didasarkan pada beberapa sifat khusus dari serat yaitu
morfologi, sifat kimia dan sifat fisika serat. Pemerikasaan morfologi serat memerlukan
suatu mikroskop. Pengamatan dengan mikroskop meliputi pengamatan pemampang
membujur dan melintang, dimensinya adanya lumen dan sebagainya.

Digunakannya mikroskop karena mikroskop merupakan alat yang digunakan untuk


memperbesar sesuatu sehingga suatu bentukan serat yang tidak dapat diamati dengan
mata biasa dapat diperbesar dan diamati jelas untuk ditentukan jenis serat tersebut. Dan
hasil tersebut dapat dibandingkan dengan gambar pada literatur dari faktor ketebalan
dinding serat, bagian tengah dari serat tersebut, tidak adanya lumen, dan bentuk
morfologi lain dari serat itu sendiri.

Pengamatan membujur dilakukan dengan cara menguraikan beberapa serat menjadi


serat tunggal yang nantinya akan diamati dibawah mikroskop sehingga didapatkan
perbesaran dari serat tersebut.

Pada pengamatan secara melintang, prinsipnya adalah serat dipotong secara melintang
setipis mungkin sehingga dapat diamati dibawah mikroskop. Pembuatan melintang dapat
menggunakan cara gabus, mikroton tangan atau mikroton mekanis. Dan yang paling
mudah dilakukan adalah dengan cara gabus.

Untuk melakukan analisa kuantitatif serat dengan cara mikroskopik diperlukan


pengukuran masing-masing diameter serat dan jumlah serat, sedangkan berat jenis (BJ)
serat dapat dilihat dari tabel. Pengukuran diameter serat dilakukan dengan menggunakan
mikroskop yang dilengkapi dengan mikrometer. Mikrometer ini diletakkan pada bidang
diafragma lensa okuler, sehingga akan berhimpit dengan bayangan serat yang dibentuk
lensa obyektif. Lensa okuler pada mikroskop difokuskan di bidang yang sama dengan
bayangan serat, sehingga bayangan serat maupun skala mikrometer bersama-sama dalam
satu focus dan diperbesar dalam perbesaran yang sama. Dengan dimikian dimensi
bayangan serat dapat diukur dalam mikrometer.
2.2. Uji Pelarutan
Uji pelarutan berhubungan dengan sifat kimia dari masing-masing serat. Uji
ini sangat penting terutama untuk serat-serat buatan yang mempunyai morfologi
hampir sama. Dengan melihat kelarutan serat-serat buatan pada berbagai pelarut
dapat disimpulkan jenis seratnya. Prinsip pengujiannya adalah melarutkan serat
pada beberapa pelarut, kemudian diamati sifat kelarutannya.

Adapun pelarut yang umum digunakan adalah :

 Asam klorida, asam ini akan melarutkan serat nylon.


 Asam sulfat 70 %, serat yang larut dalam pelarut ini adalah serat kapas,
rayon viskosa, rayon asetat, nylon dan sutera.
 Aseton, larutan ini hanya melarutkan rayon asetat.
 NaOCl, serat wol dan sutera akan larut dalam larutan ini.
 Metil salisilat, larutan ini akan melarutkan serat poliester.
 NaOH 45 %, pada suhu mendidih larutan ini akan melarutkan poliester,
wol dan sutera.
 Meta Cresol, larutan ini akan melarutkan serat rayon asetat dan poliamida.
 DMF, larutan ini akan melarutkan poliakrilat, poliamida dan rayon asetat.
 Asam nitrat, pada suhu kamar akan melarutkan rayon asetat, wol,
poliakrilat dan nylon.

3. Alat dan Bahan


- Slide glass - Mikroskop
- Cover glass - Air
- Gabus - Erlenmeyer tutup asah
- Jarum jait mesin - Shaker
- Silet - Zat pelarut
- Lak merah

4. Cara Kerja
4.1. Uji Mikroskopik 4.2. Uji Pelarutan
- Buatlah irisan penampang - Tiras contoh uji, timbang
melintang serat - Masukan dalam erlenmeyer
- Letakan irisan pada slide tutup asah
glass - Tambahkan zat pelarut
- Tambahkan medium air, - Shaker
tutup dengan cover glass - Buang larutan dan ambil
- Amati di bawah mikroskop serat
- Hitung jumlah serat dan - Oven
diameter serat - Masukan desikatorr
- Timbang
5. Data Pengamatan
Terlampir
Lampiran
ANALISA KUANTITATIF SERAT
DENGAN CARA UJI BILANGAN TEMBAGA

1. Maksud dan Tujuan


Untuk mengetahui tingkat kerusakan serat dengan menghitung bilangan
tembaga dengan cara Trotman dan cara Clieben & Geacke.

2. Dasar Teori
Kerusakan serat selulosa secara kuantitatif dilakukan antara lain dengan
penetapan bilangan tembaga. Bilangan tembaga adalah jumlah tembaga yang
direduksi dari kupri (Cu2+) menjadi kupro (Cu+) oleh 100 g selulosa apabila
dikerjakan dalam larutan Fehling atau larutan sejenis. Pengujia dapat dilakukan
dengan cara Trotman atau cara Clieben dan Geacke. Cara Trotman menggunakan
alkali kuat sehingga apabila pengerjaan kurang hati-hati, alkali kuat dapat mengubah
gugus pereduksi menjadi non pereduksi, sehingga hal ini dapat memberikan nilai
bilangan tembaga yang lebih kecil dari seharusnya.

Jenis Serat Bilangan Tembaga Fluiditas larutan 0,5 %

Kapas Murni <1 1–2

Rayon Viskosa 0,8 – 1,5 8 – 14

Rayon Kupro 0,5 – 1,5 2,5 – 6

Rayon Asetat 2,8 – 3,2 53 – 54

Kerusakkan oleh zat kimia

Asam 10% 0,3 10

Asam 30% 0,8 18

Asam 50% 1,4 27

Oksidasi 10% 0,5 10

Oksidasi 30% 2,0 20

Oksidasi 50% 4,2 27

Alkali 10% 0,2 10

Alkali 30% 0,5 20


Alkali 50% 1,8 27

3. Alat dan Bahan


- Erlenmeyer 250 ml - Larutan Ferric Alum dalam asam
- Piala gelas 100 ml sulfat pekat
- Pendingin refluks - Larutan H2SO4 2 N
- Penyaring Gocsh - KMnO4 0,1 N
- Pompa vacuum - Larutan Fehling A2 (100 g/L
- Larutan Fehling A1 (70 g/L CuSO4)
CuSO4) - Larutan Fehling B2 (50 g
- Larutan Fehling B1 (140 g NaOH NaHCO3 dan 350 g Na2CO3
dan 346 g K.Na.tartrat dalam 1 L dalam 1 L air)
air) - Larutan NaHCO3 20 g/L
- Larutan H2SO4 2 N

4. Cara kerja
4.1. Pengujian Bilangan Tembaga Cara Trotman
- Potong contoh uji dengan ukuran 1 x 1 m, timbang teliti sebanyak 1 gram.
- Masukkan dalam labu Erlenmeyer.
- Masukkan 25 ml larutan Fehling A1 dan 25 ml larutan Fehling B1 dan 50 ml
air, tambahkan batu didih.
- Didihkan menggunakan pendingin refluks selama 15 menit (diukur dari saat
mendidih).
- Saring dengan menggunakan penyaring Gosch, kemudian bilas menggunakan
air mendidih sampai bersih.
- Pindahkan contoh uji ke dalam piala gelas dan tambahkan tepat 10 ml larutan
Ferric Alum – asam sulfat.
- Pastikan warna merah pada contoh uji sudah hilang. Apabila masih berwarna
merah, tambahkan lagi ferric alum dengan volume tepat, sampai warna merah
hilang.
- Siapkan penampung filtrat dalam keadaan bersih.
- Saring contoh uji dengan penyaring Gosch dan tampung filtratnya.
- Cuci dengan 10 ml H2SO4 2 N.
- Bilas dengan aquades sampai bersih.
- Titrasi filtrat dengan KMnO4 0,1 N.
- Lakukan titrasi blanko untuk larutan ferric alum sesuai dengan volume yang
digunakan.
4.2. Pengujian Bilangan Tembaga Clieben dan Geacke
- Potong contoh uji dengan ukuran 1 x 1 m, timbang teliti sebanyak 1 gram.
- Masukkan dalam labu Erlenmeyer.
- Masukkan 5 ml larutan Fehling A2 dan 95 ml larutan Fehling B2 dan 50 ml
air, tambahkan batu didih, kemudian aduk jangan sampai berbusa.
- Didihkan contoh uji dengan menggunakan pendingin refluks selama 2 jam
dihitung dari mulai saat mendidih.
- Saring dengan menggunakan penyaring Gosch, kemudian bilas dengan
menggunakan NaHCO3 2% kemudian dengan air mendidih sampai bersih.
- Pindahkan contoh uji ke dalam piala gelas dan tambahkan tepat 25 ml larutan
Ferric Alum – asam sulfat.
- Pastikan warna merah pada contoh uji sudah hilang. Apabila masih berwarna
merah, tambahkan lagi ferric alum dengan volume tepat, sampai warna merah
hilang.
- Siapkan penampung filtrat dalam keadaan bersih.
- Saring contoh uji dengan penyaring Gosch dan tampung filtratnya.
- Cuci dengan 10 ml H2SO4 2 N.
- Bilas dengan aquades sampai bersih.
- Titrasi filtrat dengan KMnO4 0,1 N.
- Lakukan titrasi blanko untuk larutan ferric alum sesuai dengan volume yang
digunakan.

5. Data Pengamatan
Terlampir
ANALISA KUANTITATIF SERAT
DENGAN CARA UJI BARIUM ACTIVITY NUMBER (BAN)

1. Maksud dan Tujuan

Untuk identifikasi benang dan kain kapas yang telah dimerser baik yang telah
maupun yang tidak dicelup, secara kuantitatif.

2. Dasar Teori

Proses merserisasi pada kapas bertujuan untuk meningkatkan daya serap, kilau
dan kekuatan. Kapas yang dimerser bentuk penampang seratnya menjadi lebih bulat
seperti silinder, puntirannya hilang dan beberapa sifat kimia dan fisikanya berubah,
seperti daya kilap, absorpsi dan kekuatan. Analisa kapas merser dapat dilakukan
secara kualitatif dan kuantitatif. Analisa kualitatif biasa dilakukan dengan cara
pengamatan penampang dibawah mikroskop dan pewarnaan dalam seng khlorida
yodida atau larutan Iodium dalam Kalium Iodida. Identifikasi kualitatif lainnya dapat
dilakukan dengan menganalisis struktur serat menggunakan sinar X, namun cara ini
jarang dilakukan karena cukup sulit. Analisa secara kuantitatif biasa dilakukan dengan
cara mikroskopik untuk contoh uji yang terbatas atau yang paling umum yaitu dengan
penentuan angka aktivitas barium yang lazim dikenal sebagai BAN (Barium Activity
Number).

Prinsip pengujian BAN yaitu contoh uji diuji secara kualitatif dengan
mikroskopik dan pewarnaan. Apabila menunjukkan uji positif contoh uji dan benang
kapas yang tidak dimerser yang telah dimasak dengan baik, dimasukkan kedalam
larutan barium hidroksida pada tempat yang terpisah dalam waktu tertentu. Sejumlah
tertentu dari masing-masing larutan barium hidroksida tersebut dan larutan barium
hidoksida semula (blanko) dititrasi dengan asam klorida. Perbandingan antara jumlah
barium hidroksida yang diserap oleh contoh uji dengan jumlah barium hidroksida
yang diserap oleh kapas standar dikalikan dengan 100 akan menghasilkan angka
aktivitas barium.

Evaluasi
1. Benang
- Angka aktivitas barium 100 – 105 menunjukkan contoh uji tidak
dimerser
- Angka aktivitas barium 106 – 120 menunjukkan contoh uji dimerser
lemah
- Angka aktivitas barium 120 keatas menunjukkan contoh uji dimerser
2. Kain
- Angka aktivitas barium 100 – 105 menunjukkan contoh uji tidak
dimerser
- Angka aktivitas barium 106 – 115 menunjukkan contoh uji dimerser
lemah
- Angka aktivitas barium 116 keatas menunjukkan contoh uji dimerser

3. Alat dan Bahan

- Buret - Benang kapas yang belum


- Shaker di merser
- Erlenmeyer tutup asah - Aquades
- Pipet gondok 10 ml dan 20 - Barium hidroksida 0,25N
ml - Asam klorida 0,1N
- Contoh uji - Indikator fenoftalin

4. Cara Kerja

- Dari tiap-tiap contoh uji dan bahan pembanding yang telah dilakukan pengerjaan
pendahuluan ditimbang seberat 1g dan masukkan kedalam Erlenmeyer tutup asah 250
ml.

- Kedalam masing-masing Erlenmeyer dimasukkan 20 ml Barium Hidroksida 0,25 N


dan juga kedalam 2 buah Erlenmeyer kosong untuk pengujian blanko, dengan
menggunakan pipet gondok 30 ml.

- Setelah penambahan Barium Hidroksida segera Erlenmeyer tersebut ditutup dan


diletakkan diatas shaker selama paling sedikit 2 jam.

- Setelah 2 jam dari masing-masing larutan tersebut termasuk juga larutan blanko
diambil 10 ml dan dititrasi dengan asam khlorida 0,1 N dengan indicator fenolftalin.

- Dari hasil titrasi tersebut dapat dihitung perbandingan antara jumlah barium
hidroksida yang diserap oleh contoh uji dengan yang diserap oleh bahan pembanding.
Hasil perbandingan ini dikaitkan dengan 100 didapatkan angka aktivitas barium.

5. Data Pengamatan
Terlampir
ANALISA KUANTITATIF SERAT
DENGAN CARA UJI KEDEWASAAN SERAT

1. Maksud dan Tujuan

Untuk mengetahui banyaknya serat dewasa dalam suatu contoh uji

2. Dasar Teori

Serat kapas pada umumnya mempunyai struktur serat yang sama, tetapi
berbeda dalam persentase bagian-bagiannya. Perbedaan ini bergantung pada
kedewasaan serat. Kedewasaan serat dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding sel.
Semakin dewasa serat dinding selnya akan semakin tebal. Serat dianggap dewasa
bila tebal dinding selulosa sama dengan tebal lumennya, sedangkan serat yang
tebal dinding selulosanya lebih tipis dari tebal lumennya digolongkan pada serat
kapas muda.
Pada uji kedewasaan serat kapas, jika persentase dewasa > 70% maka serat
kapas merupakan serat baik, jika persentase serat dewasa antara 68 – 70%, serat
kapas merupakan serat cukup, sedangkan jika persentase kapas dewasa < 68%
serat kapas kurang baik.

3. Alat dan Bahan

- Mikroskop - Jarum
- Cover glass - Benang
- Slide glass - Lak merah
- Gabus - Larutan NaOH 18%

4. Cara Kerja
Penampang membujur:
- Uji penampang serat membujur, serat kapas diambil kemudian diratakan
sejajar diatas kaca objek dengan menggunakan jarum sehingga serat
menjadi terbuka, lalu ditutup dengan cover glass dan ditetesi dengan
larutan NaOH 18%.
- Amati penampang serat tersebut perbesaran sampai 400 kali.
- Hitung jumlah serat dewasa dan muda dengan jumlah minimal 100.

Penampang melintang

- Uji penampang serat melintang, serat kapas diambil kemudian diratakan


lalu diberi lak merah biarkan sampai kering.
- Siapkan jarum kemudian beri benang.
- Siapkan gabus dan masukkan jarum ke dalam gabus, tarik jarum sebagian
sampai terdapat lengkungan dan masukkan sekelompok serat yang sudah
diberi lak merah tarik perlahan-lahan.
- Irislah serat yang terdapat digabus setipis mungkin dengan menggunakan
cutter/silet simpan diatas kaca obyek dan tutup dengan kaca penutup tetesi
dengan NaOH 18%.
- Amati penampang serat secara melintang, perbesaran sampai 400 kali.
- Hitung jumlah serat yang dewasa dan muda dengan jumlah minimal 100.

5. Data Pengamatan
Terlampir
Lampiran

Penampang membujur
Penampang melintang