Anda di halaman 1dari 18

KONSEP ANTROPOLOGI SOSIAL

Disusun Oleh :

Kelompok 1:

EVY YANTHI ELPRIDA SINAGA

KRISTINA GIAWA

YARTIN TELAUMBANUA

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

STIKES SANTA ELISABETH MEDAN

T.A 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya
sehingga makalah berjudul “KONSEP ANTROPOLOGI SOSIAL” dapat diselesaikan dengan
lancar. Kelompok mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini.
Kelompok menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan
senang hatikelompok menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan
makalah ini.
Demikianlah makalah ini dibuat. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
kita semua.

Medan, 20 November 2017

Kelompok 1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Pembahasan Kasus

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi
2.2 Cabang Antropologi Sosial Budaya
2.3 Tujuan dan Kegunaan Antropologi
2.4 Sejarah
2.5 Hubungan dengan ilmu sosial lainnya
2.6 Konsep Antropologi dan Konsep Kebudayaan

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam berbagai Negara selalu mempunyai ciri khas tersendiri dari Negara lain. Salah satu
contoh dari ciri khas tersebut adalah budaya bangsa. Budaya bangsa adalah budaya yang dimiliki
oleh suatu bangsa. Tak jarang suatu Negara mempunyai banyak kebudayaan. Hal ini dikerenakan
dalam satu Negara ada beberapa suku atau kelompok dimana masing-masing kelompok
mempunyai budaya sendiri-sendiri.Seiring dengan berkembangnya waktu, manusia ingin
mengetahui berbagai peradaban yang ada di segala Negara. Meraka ingin membandingkan
dengan kebudayaanya. Dengan mempelajari kebudayaan Negara lain, sebuah Negara dapat
mengembangkan negaranya sendiri, yakni dengan mencontoh kebudayaan yang bersifat positive
yang telah ada di negara maju. (Fedyani, Achmad 2005)
Banyak orang yang meremehkan antropologi, dikarenakan mereka bulum menyadari betapa
pentingnya ilmu antropologi bagi kehidupan manusia. Meraka menganggap bahwa antropologi
tidak memiliki kegunaan dan manfaat bagi mereka dan banyak ilmu yang lebih bermanfaat
seperti kedokteran, bahasa, matematika, dan teknologi. Anggapapan tersebut sangat salah, karena
sekarang ini banyak peperangan antar Negara, seperti contoh Israel dengan Palestina, dan
banyak Negara tetangga lainnya yang karap kali berselisih dikarenakan hal sepele, seperti contoh
Indonesia dengan Malaysia, Korea Utara dengan Korea Selatan dan lain-lain.( Fedyani,
Achmad.2005)
Dengan mempelajari antropologi diharapkan dapat menghasilkan manusia yang kritis dan
menghargai keanekaragaman dinamika kehidupan social budaya dalam konteks local, nasional,
dan global. Selain itu agar siswa ataupun mahasiswa mampu menganalisis realitas
keanekaragaman dan dinamika kehidupan social budaya. Sehingga dengan mempelajari
antropologi dapat mengurangi permusuhan antar kelompok, baik itu kelompok suku, ras, agama,
ataupun antar Ngara. Dengan begitu, dunia akan menjadi tenang, damai tanpa permusuhan dan
konflik seperti apa yang diinginkan oleh PBB. (Fedyani, Achmad 2005)
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian antropologi?
2. Apa cabang-cabang antropologi social budaya?
3. Bagaimana tujuan dan kegunaan antropologi?
4. Bagaimana sejarah perkembangan antropologi?
5. Bagaimana keterkaitan atau hubungan antara antropologi dengan ilmu-ilmu social?
6. Bagaimana konsep antropologi dan konsep kebudayaan?

1.3 Tujuan Pembahasan Masalah


1. Untuk mengetahui pengertian antropologi.
2. Untuk mejelaskan cabang-cabang antropologi.
3. Untuk mengetahui tujuan dan kegunaan antropologi.
4. Untuk mendeskripsikan sejarah perkembangan antropologi.
5. Untuk menjelaskan keterkaitan atau hubungan antara antropologi dengan ilmu-ilmu
social.
6. Untuk memaparkan konsep antropologi dan konsep kebudayaan.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian

Antropologi menurut kamus besar bahasa Indonesia artinya ilmu tentang manusia khususnya
asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaan pada masa lampau.
Istilah Antropologi berasal dari bahasa Yunani, anthropos dan logos. Anthropos berarti
manusia dan logos berarti pikiran atau ilmu. Secara sederhana, pengertian Antropologi adalah
ilmu yang mempelajari manusia. Menurut William A Haviland, ahli Antropologi asal Amerika
Serikat, Pengertian Antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari keanekaragaman
manusia dan kebudayaannya. ( Harsojo, 1967)
Antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari umat manusia sebagai makhluk
masyarakat. Perhatian ilmu pengetahuan ini ditujukan kepada sifat-sifat khusus badani, dan cara-
cara produksi, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda
dengan pergaulan hidup lainnya. Jika dilihat dari segi antropologi, manusia dapat ditinjau dari
dua segi; yaitu manusia sebagai makhluk biologi dan manusia sebagai makhluk sosio-budaya.
Dalam tinjauan itu Antropologi tidak melihat manusia biologi dan manusia sosio budaya secara
terpisah-pisah melainkan satu kesatuan fenomena bio-sosial.( Koentjaningrat, 1989)
Dari beberapa pengertian yang diungkapkan oleh para ahli diatas saya menyimpulkan bahwa
antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia, baik dari segi peradabannya ataupun
kebudayaannya dari zaman ke zaman. ( Harsojo, 1967)
Para ahli antropologi mempelajari tentang budaya manusia. Mereka tertarik dengan
kebudayaan prasejarah (kebudayaan yang diciptakan sebelum lahirnya zaman sejarah) juga
kebudayaan pada zaman modern saat ini. Mereka mengkaji kebudayaan pada semua tingkat
perkembangan teknologi, dari zaman berburu dan zaman pengumpulan makanan (food
gathering) sampai zaman bercocok tanam dan zaman industri. Para ahli antropologi dapat
dibedakan kedalam beberapa spesialisasi. Pertama, ahli antropologi sosial (antropologi budaya)
mempelajari tentang kelompok-kelompok manusia yang ada saat ini menggunakan cara hidup
(misalnya budaya) tertentu. Mereka dapat mengkaji budaya manusia tetentu dengan cara
mempelajari bagaimana bagian-bagian budaya itu bisa cocok dalam membentuk keseluruhan
manusia yang bermakna, atau mereka dapat memilih dan memberi sejumlah kebudayaan
berdasarkan pola-pola perilaku untuk mendapatkan “perspektif antar budaya” tentang kondisi
manusia. (Sapriya, 2009)

2.2 Cabang Antropologi Sosial Budaya


Menurut Harsojo, 1967

1. Arkeologi
adalah cabang antropologi kebudayaan yang mempelajari benda-benda peninggalan lama
dengan maksut untuk menggambarkan serta menerangkan perilaku manusia karena dalam
peninggalan –peninggalan lama itulah terpantul ekspresi kebudayaan.
2. Antropologi linguistik
Ernest cassirer mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mahir dalam
menggunakan simbol–simbol sehingga manusia disebut homo symbolicum.karena itulah
manusia dapat berbicara , berbahasa dan melakukan gerakan-gerakan lainnya yang juga
banyak dilakukan makhluk-makhluk lain yang serupa dengan manusia.
3. Etnologi
Pendekatan etnologi adalah etnografi , lebih memusatkan perhatiannya pada kebudayaan-
kebudayaan zaman sekarang , telaahannya pun terpusat pada perilaku manusianya
sebagaimana yang dapat disaksikan langsung , dialami , serta didiskusikan dengan
pendukung kebudayaannya. Dengan demikian etnologi ini mirip dengan arkeologi ,
bedanya dalam etnologi tentang kekinian yang dialimi dalam kehidupan sekarang,
sedangkan arkeologi tentang kelampauan yang klasik. Antropologi pada hakikatnya
mendokumentasikan kondisi manusia pada masa lampau dan masa kini.

2.3 Tujuan dan Kegunaan Antropologi

Menurut Fedyani, Achmad. 2005.

Tujuan :
1. Tujuan Akademis : antropologi ingin mencapai pengertian tentang makhluk manusia,
pada umumnya dengan mempelajari anekawarna bentuk fisik, masyarakat, serta budaya.
2. Tujuan Praktis : antropologi ingin mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat,
suku bangsa guna membangun masyarakat itu sendiri.

Kegunaan:

Sebagai ilmu tentang umat manusia , antropolgi melalui pendekatan dan metode ilniah
berusaha menyusun sejumlah generalisasi yang bermakna tentang manusia dan perilakunya.
Kedua bidang besar dari antropologi adalah antropologi fisik dan budaya. Antropologi fisik
memusatkan perhatiannya pada manusia sebagai organisme biologis yang tekananya pada upaya
melacak evolusi perkembangan manusia dan mempelajari variasi-variasi biologis manusia.
Sedangkan antropogi budaya mempelajari manusia berdasrkan kebudayaanya, dimana
kebudayaan dapat merupakan peraturan-peraturan atau norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat.

2.4 Sejarah
Menurut Harsojo, 1967

1. Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)


Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi
dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya
mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku
yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian
mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu
yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik,
kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang
berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnogragfi
atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada
permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar
Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha
untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.
2. Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan
berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan
berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka
menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal,
dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya. Pada fase ini,
Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan
primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah
penyebaran kebudayaan manusia.
3. Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain
seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni
tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-
pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan
lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari
kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai
mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari
kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.
4. Fase keempat ( setelah tahun 1930’an)
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku
bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan
bangsa Eropa.Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II.
Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa
sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu
menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah
Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut
berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam
terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi
ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah
pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.

2.5 Hubungan dengan ilmu sosial lainnya

Menurut Morris Brian .2008.

1. Hubungan sosiologi dengan ilmu sosiolog

Ilmu tersebut bercirikan positivistik yag objek kajiannya adalah masyarakat dan perilaku
sosial manusia dengan meneliti kelompok –kelompoknya. Kelompok tersebut mencakup
keluarga , etnis , suku, bangsa, komunitas pemeriintahan , berbagai organisasi sosial
lainnya, agama, politik, budaya,bisnis, dan organisasi lainnya. Sosiologi pun mempelajari
perilaku dan interaksi kelompok, menelusuri asal usul pertumbuhannya , serta
menganalisis pemgaruh kegiatan kelompok terhadap para anggotanya. Dengan demikian
objek kajian sosiologi adalah masyarakat manusia terut ama dari suduut hubungan
antarmanusia dan proses-prises yang timbul dari hubungan manusia dalam
masyarakat. Demikian juga antropologi yang berarti ilmu tentang manusia. Dalam
antropologi budaya mempelajari gambaran perilaku manusia dan konteks sosial
budayanya. Jika saja sosiologi orientasinya memustkan perhatian secara khusus kepada
orang yang hidup di dalam masyarakat modern sehingga teori-teori mereka tentang
perilaku manusia cenderunng terikat pada kebudayaan tertentu

2. Hubungan antropologi dengan psikologi

Hal itu tampak karena dalam psikologi pada hakikatnya mempelajari perilaku manusia
dan proses-proses mentalnya. Dengan demikian , psikologi membahas faktor-faktor
penyebab perilaku manusia secara internal . sedangkan dalam antropolgi , khususnya
antropologi budaya lebih bersifat faktor eksternal. Dengan demikian keduanya
memerlukan interaksi yang intens untuk memhami pola-pola budaya masyarakat tertentu
secara bijak.

3. Hubungan antropologi dengan ilmu sejarah

Lebih menyerupai hubungan antara imu arkeologi dengan antropologi . antropologi


memberi bahan prehistory sebagai pangkal bagi tiap penulis sejarah dari tiap bangsa di
dunia. Selain itu , banyak persoalan dalam histografi dari sejarah suatu bangsa dapat
dipecahkan dengan metode-metode antropologi. Demikian juga sebaliknya , bagi para
ahli antropologi jelas memerlukan sejarah , terutama sekali sejarah dari suku-suku
bangsa dalam daerah yang didataginya. Sebab sejara h itu diperlukan, terutama untuk
memecahkan masalah-masalah yang terjadi karena masyarakat yang diselidikinya
mengalami pengaruh dari suatu kebudayaan dari luar.

4. Hubungan anntropologi dengan ilmu geografi

Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa geografi atau ilmu bumi itu mencoba mencapai
pengertian tentang keruangan (alam dunia) ini dengan memberi gambaran tentang bumi
serta karakteristik dari segala macam bentuk hidup di bumi yang menduduki muka bumi .
diantara berbagai macam bentuk hidup di bumi yang berupa flora dan fauna itu, terdapat
sifatnya yang beraneka ragam di muka bumi ini . disinilah antropologi berusaha
menyelami keanekaragaman manusia jika di liihat dari ras, etnis, maupaun budayanya.
Begitu pun sebaliknya , seorang sarjana antropologi sangat memerlukan ilmu geografi ,
karena tidak sedikit masalah –masalah manusia , baik fisik maupun kebudayannya tidak
lepas dari pengaruh lingkungan alamnya.

5. Hubungan antropologi dengan ilmu ekonomi

Kekuatan, proses, dan hukum-hukum ekonomi yang berlaku dalam aktivitas kehidupan
ekonominya sangat dipenngaruhi sistem kemasyarakatan , cara berfikir, pandangan, dan
sikap hidup dari warga masyarakat pedesaan tersebut. demikian seoarng ahli ekonomi
yang akan membangun ekonomi di negara-negara seperti itu , tentu akan memerlukan
bahan komparatif mengenai , misalnya sikap terhadap kerja , sikap terhadap kekayaan ,
sistem gotong royong dan sebagainya yang menyangkut bahan komparatif tentang
berbagai unsur dari sistem kemasyarakatan di negara-negara tersebut . untuk
pengumpulan keterangan komparatif tersebut , ilmu antropologi memiliki manfaat yang
tinggi bagi seorang ekonom.

6. Hubungan antropologi dengan ilmu polotik

Hal itu dapat di lihat bahwa ilmu politik telah memperluas kajiannya pada hubungan
antara kekuatan-kekuatan serta proses politik dalam segala macam negara dengan
berbagai macam sistem pemerintahan , sampai masalah yang menyangkut latar belakang
sosial budaya dari kekuatan politik tersebut.

2.6 Konsep Antropologi dan Konsep Kebudayaan


Sebagaimana ilmu-ilmu sosial lainnya , penggunaan konsep dalam antropologi adalah
penting karena pengembangan konsep yang terdefinisikan dengan baik merupakan tujuan dari
setiap disiplin ilmu. Benar menurut Keesing yang mengemukakan tidak ada dua ahli antropolgi
yang mempuyai pendapat sama persis atau menggunakan simbol-simbol atau konsep-konsep
yang sama. Terdapat tujuh kelompok pengertian kebudayaan yaitu: (Supardan, Dadang.2010)

1. Kelompok kebudayaan sebagai keseluruhan kompleks kehidupan manusia


2. Kelompok kebudayaan sebagai warisan sosial atau tradisi
3. Kelompok kebudayaan sebagai cara dan aturan termasuk cita-cita , nilai-nilai dan
kelakuan
4. Kelompok kebudayaan sebagai keterkaitan dalam proses-proses psikologis
5. Kelompok kebudayaan sebagai struktur atau pola-pola organisasi kebudayaan
6. Kelompok kebudayaan sebagai hasil perbuatan atau kecerdasan manusia
7. Kelompok kebudayaan sebagai sistem simbol

Adapun yang merupakan contoh konsep-konsep antropologi , menurut Morris Brian .2008.
diantaranya:

1. Kebudayaan
Istilah culture(kebudayaan) berasal dari bahasa latin , yakni cultura dari kata dasar colere
yang berarti berkembang tumbuh. Namun, secara umum pengertian kebudayaan mngacu
kepada kumpulan pengetahuan yanng secara sosial diwariskan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Makna itu kontras dengan pengertian kebudayaan yang sehari-hari
yang hanya merujuk kepada bagian-bagian tertentu warisan sosial , yakni tradisi sopan
santun dan kesenian.
2. Evolusi
Secara sederhana konsep evolusi mengacu ada sebuah transformasi yang berlangsung
secara bertahap . walaupun istilah tersebut merupakan istilah umum yang dapat dipakai
dalam berbagai bidang studi. Istilah evolusi yang merupakan gagasan bahwa bentuk-
bentuk kehidupan berkembang dari suatu bentuk lain melalui mata rantai transformasi
dan modifikasi yang tidsk pernah putus, pada umumnya diterima sebagai awal landasan
berfikir meeka .
3. Daerah budaya (culture area) Suatu daerah budaya (culture area) adalah suatu daerah
geografis yang memiliki sejumlah ciri-ciri budaya dan kompleksitas lain yang
dmilikinya. Menurut definisi di atas, suatu daerah kebudayaan pada mulanya berkaitan
dengan pertumbuhan kebudayaan yang menyebabkan timbulnya unsur-unsur baru yang
mendesak unsur-unsur lama kearah pinggir , sekeliling daerah pusat pertumbuhan
tersebut .
4. Enkulturasi
Konsep enkulturasi mengacu pada suatu proses pembelajaran kebudayaan . dengan
demikian pada hakikatnya setiap orang sejak kecil sampai tua , melakukan proses
enkulturasi, mengingat manusia sebagai makhluk yang dianugerahi kemampuan uuntuk
berfikir dan bernalar sangat memungkinkan untuk setiap waktu meningkatkan
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotornya.
5. Difusi
Difusi adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan secara meluas sehingga
melewati batas tempat dimana kebudayaan ini timbul . dalam proses difusi ini erat
kaitannya dengan konsep inovasi(pembaharuan).
Seperti telah dikemukakan terdahulu, kehidupan manusia di masyarakat atau manusia
dalam konteks sosialnya, meliputi berbagai aspek. Salah satu aspek yang bermakna dalam
kehidupan manusia yang juga mencirikan kemajuannya adalah kebudayaan. Kebudayaan, akar
katanya dari buddayah, bentuk jamak dari Buddhi yang berarti budi dan akal. Kata buddhayah
atau buddhi itu berasal dari bahasa sansekerta. Dengan demikian, kebudayaan itu dapat diartikan
sebagai hal-hal yang berhubungan dengan budi atau akal. (Supardan, Dadang.2010)
Mengenai kebudayaan ini,dapat disimak dari beberapa konsep dari beberapa pakar antara
lain C.A Ellwood mengungkapkan :
Kebudayaan adalah norma kolektif semua pola prilaku ditransparansikan secara sosial
melalui simbol-simbol, dari sini tiap unsur semua kemampuan kelompok umat manusia yang
karakteristik, yang tidak hanya meliputi bahasa, peralatan, industri, seni, ilmu, hukum,
pemerintahan, moral, dan keyakinan-keyakinan saja, melainkan meliputi juga peralatan material
atau artefak yang merupakan penjelmaam kemampuan budaya yang menghasilkan pemikiran
yang berefek praktis dalam bentuk bangunan, senjata, mesin, media komunikasi, perlengkapan
seni, dsb. Tidak ada kelompok umat manusia yang memiliki maupun yang tidak memiliki
bahasa, tradisi, kebiasaan, dan kelembagaan. Kebudayaan itu bersifat universal yang merupakan
ciri yang berkarakteristik masyarakat manusia.
Konsep yang dikemukakan oleh Ellwood diatas sangat jelas dan gamblang bahwa
kebudayaan itu hanya menjadi milik otentik manusia. Dari konsep tadi, tercermin pula konsep-
konsep dasar antropologi yang melekat pada kehidupan manusia. Namun demikian, konsep-
konsep dasar itu akan diketengahkan kembali secara lebih lengkap. Konsep-konsep dasar itu
meliputi :
1. Kebudayaan
2. Tradisi
3. Pengetahuan
4. Ilmu
5. Teknologi
6. Norma
7. Lembaga
8. Seni
9. Bahasa
10. Lambang.
Ahli antropologi yang pertama-tama merumuskan definisi tentang kebudayaan secara
sistematis dan ilmiah adalah E.B Taylor, yang menulis dalam bukunya terkenal Primitiv Culture
yakni bahwa kebudayaan itu adalah keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung
ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat-istiadat dan kemampuan yang lain
serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Definisi lain tentang kebudayaan dikemukakan oleh R Linton dalam bukunya: “The Cultural
Background of Personality”, bahwa kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku yang
dipelajari dan hasil dari tingkah laku, yang unsure-unsup pembentukannya didukung dan
diteruskan oleh anggota dari masyarakat tertentu.
Seorang ilmuwan bernama Evans Pritchard mengemukakan bahwa ontropologi adalah studi
tentang masyarakat yang dianggap sebagai sebuah system natural atau organismenharus
merupakan studi empiris, dan dengan menggunakan metode induktif dimungkinkan untuk
menjelaskannya melalui prinsip-prinsip atau hukum-hukum general dengan cara yang sama
sebagaimana fenomena fisik dijelaskan oleh fisikawan.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari umat manusia sebagai makhluk
masyarakat. Perhatian ilmu pengetahuan ini ditujukan kepada sifat-sifat khusus badani, dan cara-
cara produksi, tradisi-tradisi dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda
dengan pergaulan hidup lainnya. Jika dilihat dari segi antropologi, manusia dapat ditinjau dari
dua segi; yaitu manusia sebagai makhluk biologi dan manusia sebagai makhluk sosio-budaya.
Dalam tinjauan itu Antropologi tidak melihat manusia biologi dan manusia sosio budayasecara
terpisah-pisah melainkan satu kesatuan fenomena bio-sosial.
Tujuan dari antropologi dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Tujuan Akademis : antropologi ingin mencapai pengertian tentang makhluk manusia,
pada umumnya dengan mempelajari anekawarna bentuk fisik, masyarakat, serta budaya.
2. Tujuan Praktis : antropologi ingin mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat,
suku bangsa guna membangun masyarakat itu sendiri.

Dan kegunaan antropologi yaitu menurut Fedyani, Achmad. 2005 : Sebagai ilmu tentang
umat manusia , antropolgi melalui pendekatan dan metode ilniah berusaha menyusun sejumlah
generalisasi yang bermakna tentang manusia dan perilakunya. Kedua bidang besar dari
antropologi adalah antropologi fisik dan budaya. Antropologi fisik memusatkan perhatiannya
pada manusia sebagai organisme biologis yang tekananya pada upaya melacak evolusi
perkembangan manusia dan mempelajari variasi-variasi biologis manusia. Sedangkan antropogi
budaya mempelajari manusia berdasrkan kebudayaanya, dimana kebudayaan dapat merupakan
peraturan-peraturan atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Sejarah perkembangan antropologi dibagi kedalam empat fase, yakni fase pertama sebelum
1800, fase kedua pada pertengahan abad ke 15, fase ke 3 pada permulaan abad ke 20, dan fase
keempat sesudah 1930 dimana pada masa ini antropologi mengalami perkambangan yang paling
luas.

Cabang-cabang antropologi ada empat yakni, antropologi fisik atau anropologi biologi,
arkeologi, antropologi linguistik, dan antropologi budaya. Terdapat beberapa konsep dasar
antropologi seperti kebudayaan, evolusi, daerah budaya (culture area), enkulturasi, dan difusi.
Sedangkan contoh dari konsep kebudayaan yakni kebudayaan, tradisi, pengetahuan, ilmu
teknologi, nnorma, lembaga, seni, bahasa, dan lambang.
Antara antropologi dengan ilmu-ilmu social terdapat hubungan yang saling terkait dan
berkaitan erat satu sma lain. Ada hubungan antara sntropologi social dengan sosiologi,
antropologi dengan psikologi, antropologi dengan geografi, antropologi dengan ilmu sejarah, dan
antropologi dengan ekonomi.

3.2 Saran

Dengan mengetahui kondisi tiap kelompok masyarakat dalam hal tradisi, kebiasaan dan
kemampuan IPTEK, kita akan mampu memahami dan menghargai keadaan masyarakat yang
bagaimanapun dan dimana pun. Tidak justru sebaliknya kita semua mencemooh mereka.
Melalui IPS, kita wajib membawa peserta didik ke arah yang saling mengerti dan saling
menghargai sesama kelompok masyarakat dalam keadaan yang bagaimana pun serta di mana
pun.
DAFTAR PUSTAKA

Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Nasional.1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia,


Jakarta: Balai Pustaka.

Fedyani, Achmad. 2005. Antropologi Kontemporer. Jakarta: Prenada Media.

Harsojo. Pengantar Antroologi. 1967.Bandung: Angkasa Offset.

https://aprileopgsd.wordpress.com/2013/03/16/makalah-konsep-dasar-antropologi/
https://baehaqiarif.files.wordpress.com/2009/12/antropologi.pdf
https://id.wikipedia.org/wiki/Marco_Polo
http://www.pengertianahli.com/2013/11/pengertian-antropologi-dan-cabang.html,
http://www.kompasiana.com/www.ilhamakbar.com/definisi-tujuan-dan-ruang-lingkup-
antropologip://rakhmat-ariyanto.blogspot.co.id/2012/05/konsep-dasar-antropologi-
kebudayaan.htm
http://www.biografiku.com/2011/11/biografi-ibnu-battuta-penjelajah-muslim.html

Koentjaningrat. 1989. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:Aksara Baru.

Morris Brian .2008. Antropologi Agama. Yogyakarta: AK Group.

Sapriya. Pendidikan IPS. 2009.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Supardan, Dadang.2010. Pengantar Ilmu Sosial sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Bumi
Aksara.

Zulfi Mubarok. 2010. Sosiologi Agama. Malang: UIN Maliki Press