Anda di halaman 1dari 24

1.

GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI DUNIA


1.1. Pemicu Timbulnya Good Corporate Governance di Dunia
Pada awal dekade 2000an dunia dikejutkan oleh tumbangnya perusahaan –
perusahaan raksasa terkemuka di berbagai negara industri maju termasuk Amerika
Serikat, Inggris, Itali, Australia, Singapura, dan Hongkong. Regulator pemerintah tiap
negara dan pakar manajemen memberikan kesimpulan bahwa penyebab utama
tumbangnya perusahaan perusahaan besar tersebut adalah karena lemahnya penerapan
prinsip – prinsip good corporate governance mereka.
Kelemahan corporate governance tersebut antara lain ditandai oleh berbagai
macam hal, diantaranya yaitu :
1. Renggangnya hubungan antara para pemegang saham dengan manajemen
perusahaan.
2. Lemahnya peranan dewan pengurus dalam mengarahkan dan mengendalikan
kebijaksanaan dan pengelolaan harta, utang, dan operasi bisnis perusahaan.
3. Semakin bebasnya manajemen perusahaan mengelola dan mengambil keputusan –
keputusan penting yang bersangkutan dengan kelangsungan hidup perusahaan.
4. Tidak transparan, akurat, dan tepat waktunya penyampaian laporan perkembangan
bisnis dan laporan keuangan oleh manajemen perusahaan kepada para pemegang
saham dan kreditur.
5. Dalam banyak kasus auditor yang mengaudit laporan keuangan perusahaan tidak
bekerja di bawah pengawasan langsung dari komite audit
Kelemahan - kelemahan corporate governance itulah yang memberikan peluang
dewan pengurus dan manajemen perusahaan yang memiliki moral dan etika bisnis yang
buruk mengelola perusahaan demi kepentingan pribadi atau golongan mereka bukan
demi kepentingan perusahaan. Dalam melakukan penyalah gunaan jabatan tersebut
tidak sedikit manajemen perusahaan berkolusi dengan institusi profesi papan atas
seperti penasehat hukum, perusahaan konsultan, dan perusahaan akuntan publik.
Skandal bisnis perusahaan – perusahaan raksasa dunia tersebut telah melukai
kehidupan ekonomi banyak negara. Dampak negatif skandal tersebut antara lain adalah
menurunnya kepercayaan investor untuk menanamkan dananya dalam perdagangan
surat berharga. Selain itu bank dan lembaga keuangan non – bank lebih selektif dalam

1
menyalurkan kredit mereka. Sejak terjadinya skandal bisnis tersebut diatas para
investor surat berharga dan bank - bank kreditur sadar bahwa hak dan kepentingan
mereka di perusahaan dimana mereka menanamkan dananya tidak sepenuhnya
terlindungi.
1.2. Reaksi Dunia Internasional
Kejatuhan perusahaan raksasa multinasional pada awal tahun 2000an
menyadarkan masyarakat bisnis dan pemerintah bahwa corporate governance di negara
mereka perlu di reformasi. Dua negara yang paling serius menangani imbas skandal
perusahaan – perusahaan publik di dunia itu adalah Inggris dan Amerika Serikat. Hal
itu disebabkan karena pasar modal di kedua negara itu merupakan motor perkembangan
ekonomi mereka.
Reaksi pemerintahan kerajaan Inggris terhadap skandal yang terjadi di perusahaan
– perusahaan serta kejatuhan perusahaan publik adalah :
1) Pemerintah Inggris mengeluarkan pendapat tentang reformasi persyaratan
perusahaan publik. Pendapat tersebut dituangkan dalam sebuah makalah yang
berjudul Modernizing Company Law. Selain itu regulator keuangan Inggris The
Financial Service Authority (FSA) menerbitkan pedoman tentang penyusunan
laporan keuangan perusahaan public, dimana mereka diharuskan untuk
mengungkapkan secara transparan semua transaksi bisnis yang dilakukan.
2) Pemerintah Inggris membentuk komite – komite corporate governance. Komite
tersebut menyusun laporan – laporan yang memuat pendapat dan saran bagaimana
cara memperbaharui peraturan tentang corporate governance dan nantinya
perusahaan – perusahaan harus mematuhi saran – saran yang diajukan komite
tersebut.

Reaksi Amerika Serikat terhadap skandal yang terjadi di perusahaan – perusahaan


serta kerjatuhan perusahaan publik adalah :

1) Pemerintah Amerika Serikat mengundangkan undang – undang tentang reformasi


corporate governance yang disebut Sarbanes Oxley Act yang memuat tentang
ketentuan ketentuan baru yang tegas tentang perlindungan hak dan kepentingan
pemegang saham dan karyawan perusahaan publik. Selain itu Sarbanes Oxley Act

2
menentukan bahwa anggota dewan pengurus wajib menguasai dasar – dasar ilmu
manajemen keuangan.
2) Sarbanes Oxley Act mewajibkan perusahaan melakukan pengungkapan laporan
keuangan secara transparan serta diwajibkan untuk menggunakan auditor
independen dan menerapkan standar auditing yang ditetapkan US Public
Accounting Oversight Board (PCAOB).

Reaksi Australia terhadap skandal yang terjadi di perusahaan – perusahaan serta


kerjatuhan perusahaan publik adalah :

1) Pemerintah Australia menerbitkan pedoman good corporate governance bagi


perusahaan – perusahaan publik serta memperbaharui undang – undang tentang
perusahaan Australia.
2) Pemerintah Australia menyusun program untuk meninjau kembali regulasi audit
dan pengungkapan informasi perusahaan yang disebut Corporate Law Economic
Reform Program (CLERP). Program tersebut juga mengaktifkan partisipasi
pemegang saham dalam meningkatkan akuntabilitas dan transparansi perusahaan –
perusahaan public.
Corporate governance sudah bukan merupakan pilihan lagi bagi pelaku bisnis,
tetapi sudah merupakan suatu keharusan dan kebutuhan vital serta sudah merupakan
tuntutan masyarakat. Setiap tindakan memerlukan pertanggungjawaban yang baik.
Penerapan GCG didukung oleh Organisation for Economic Cooperation and
Development dengan penerbitan prinsip prinsip GCG yang bertujuan untuk membantu
negara-negara baik negara anggota OECD maupun bukan anggota OECD untuk
menerapkan GCG di negaranya terutama untuk dapat menyediakan pedoman dan
saran-saran bagi bursa saham, investor, perusahaan, dan pihak-pihak lain yang
memiliki peranan dalam proses pengembangan GCG.

3
Mengingat pentingnya penerapan GCG, negara – negara di dunia berusaha unuk
menerapkan GCG di dalam perusahaan dan pemerintahannya. Hingga saat ini GCG
berkembang pesat dan memiliki beragam cara dalam pelaksanaannya. Berikut adalah
beberapa contoh penerapan GCG di berbagai negara di dunia.

a) GCG di Amerika Serikat


Tipikal perusahaan di Amerika Serikat kebanyakan bisnis dikelola atas arahan direksi.
Dalam praktiknya, sebagian besar direksi, yaitu direksi yang berasal dari luar perusahaan,
tidak dapat secara langsung mengelola bisnis perusahaan. Sebagai akibatnya, maka
manajerlah yang mengelola bisnis perusahaan dan peran direksi terbatas hanya untuk
memberikan pengawasan dalam urusan perusahaan. Sistem pengelolaan perusahaan di
Amerika Serikat menggunakan outsider atau arm’s length yang berarti investor ataupun
pemegang saham menyerahkan pengelolaan perusahaan sepenuhnya kepada pengurus
perusahaan dan mereka sangat jarang mencampuri dan ikut serta dalam pelaksanaan
bisnis.
Pergerakan reformasi corporate governance dimulai dengan adanya SEC. SEC
melakukan evaluasi tentang bagaimana perusahaan yang dimiliki public dikelola. SEC
mewajibkan perusahaan untuk melakukan investigasi internal dan secara sukarela
menyerahkan laporan tersebut kepada SEC. Di samping itu, peranan SEC dalam
corporate governance yaitu memberikan saran dan nasihat kepada CEO untuk
memonitor kinerja perusahaan, SEC juga menyarankan untuk membentuk suatu komite
audit dalam perusahaan public.
Selain SEC, The American Law Institute (ALI) juga mengintroduksikan aturan yang
berisi rekomendasi tentang prinsip-prinsip corporate governance.
Reformasi corporate governance pertama kali berawal dari sebuah pidato Arthur
Levitt pada tahun 1998. Levitt memaparkan berbagai permasalahan yang ada dalam suatu
perusahaan pada saat itu, yang mengakibatkan kinerja dan akuntabilitas perusahaan
terhadapt pemegang saham atau stakeholders menjadi buruk.
Reformasi kedua corporate governance kedua terjadi pada tahun 2002 yaitu
disahkannya undang-undang yang mengatur keberadaan komite audit dalam perusahaan
di Amerika Serikat.

4
b) GCG di Inggris
Mulai Mei 1991, upaya perbaikan corporate governance di Inggris dilakukan dengan
membentuk Cadbury Committee yang bertugas untuk membuat rekomendasi untuk
memperbaiki mekanisme corporate governance bukan hanya untuk bank saja melainkan
juga untuk semua perusahaan-perusahaan di Inggris. Rekomendasi ini tertuang dalam
Cadbury Report.
Selain Cadbury Committee, Hampell Committee juga merupakan komite yang
berperan dalam penegakan corporate governance di Inggris, yang diharapkan memfokuskan
rekomendasi pada tiga bidang yaitu pembentukan prinsip keterbukaan pada pembayaran
bagi eksekutif, klarifikasi lebih lanjut dalam peranan eksekutif direksi dan non eksekutif
direksi, dan metode untuk meningkatkan kepentingan institusional investor di Inggris.
Dalam perkembangan berikutnya, Hampel Committee mengharuskan agar komite-komite
yang akan dibentuk pada masa mendatang dalam mereview corporate governance haruslah
memperhatikan prinsip-prinsip corporate governance yang dibuat oleh American Law
Institute (ALI).

c) GCG di Jerman
Saat ini praktik governance di Jerman masih dianggap menjadi hambatan yang
signifikan bagi masuknya investor institusional internasional. Hal ini dikarenakan masih
kurangnya disclosure dalam praktik governance di negara tersebut. Di sisi lain, perusahaan-
perusahaan besar di Jerman semakin memerlukan kucuran dana investasi dari para investor
global. Oleh karena itu pada 29 Mei 2000, German Chancellor membentuk sebuah
Government Commission on Corporate Governance Management-Corporate Supervision-
Modernization of the stock Corporation Law (First Commision).
First commision ini membuat suatu final report yang berisi tentang rekomendasi
perubahan legislasi, selain itu komisi ini juga menyarankan agar dibentuk suatu komisi baru
untuk menyusun code of corporate governance bagi perusahaan terbuka. Kemudian pada
september 2001 dibentuklah second commision yang kemudian komisi ini mengeluarkan
German Corporate Governance code. Rekomendasi German Corporate Governance code
yang sudah secara luas dipraktikkan adalah pemberdayaan komisaris yang bekerja secara
profesional dan bertanggung jawab kepada para pemegang saham.

5
Corporate Governance Code di Jerman juga mengatur bahwa dalam setiap rapat
tahunan, Vorstand wajib memberikan laporan mengenai ketaatan dan keterbukaannya
kepada the Handelseregister atau commercial register. Jika perusahaan gagal menaati
peraturan tertentu dalam German Corporate Governance Code, maka perusahaan tersebut
harus secara khusus menjelaskan beberapa ketentuan yang gagal mereka penuhi.

d) GCG di Perancis
Manajemen pada perusahaan di Perancis berkuasa secara ekstrim. President directeur-
general (PDG) bebas melakukan pengendalian atas perusahaan. Satu orang menentukan
strategi perusahaan, menjalankannya dan mengendalikannya, tanpa adanya counter power
dari dewan direksi. Dalam pembentukan board system, terdapat aturan hukum yang
kompleks yang mempengaruhi struktur dan komposisi board. Perusahaan perancis bisa
memilih diantara 2 metode board governance yaitu bisa mengambil suatu unitary
boardroom structure (seperti model anglo saxon-one tier board system) atau two tier board
system seperti pada perusahaan di Jerman. Dalam praktiknya, kebanyakan perusahaan di
Perancis memilih one-tier board sytem dalam sistem pengelolaannya.
Perancis melakukan reformasi corporate governance melalui Code of Best Practices,
yang dikeluarkan pada 1995 (Vienot I) dan 1999 (Vienot II), yang diketuai oleh Marc
Vienot. Di bawah undang-undang Perancis, perusahaan dapat memilih one-tier board
system dengan mengkombinasikan chair & Chief Executive Officier, atau two-tier
structure – yang memiliki managemen dan supervisory board terpisah – dan juga
memisahkan antara chairman dan CEO.

1) GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI ASIA


Krisis ekonomi yang melanda Asia Timur pada akhir tahun 1997 telah memicu terjadinya
diskusi tentang pentingnya sistem tata kelola dalam suatu negara. Secara umum ada tiga
persoalan utama di Asia yang menyebabkan pelaksanaan good corporate governance masih
begitu lemah. Tiga persoalan ini antara lain:
1) Banyak perusahaan yang masih terbelakang atau belum didisain untuk memainkan
peran penting di pasar.

6
2) Pasarnya sendiri tidak bekerja secara optimal dan lingkungan bisnisnya tidak
kompetitif.
3) Sistem hukum yang lemah dan lembaga-lembaga yang menangani dan
menjalankan aturan main itu sendiri maupun keseluruhan penegakan peraturan
administratif masih lemah termasuk didalamnya penegakan peraturan di bursa
saham atau standarisasi laporan akutansi.
Hal ini berarti bahwa GCG tidak saja berakibat positif bagi pemegang saham, namun juga
bagi masyarakat yang lebih luas yang berupa pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itulah
berbagai lembaga – lembaga ekonomi dan keuangan dunia seperti World Bank dan
International Monetary Fund sangat berkepentingan terhadap penegakan corporate governance
(CG) di negara-negara penerima dana, karena mereka menganggap bahwa corporate
governance (CG) merupakan bagian penting sistem pasar yang efisien.
Bank Dunia sejak dini menyebutkan bahwa krisis finansial Asia disebabkan kegagalan
sistematis (systematic failures) dalam pelaksanaan corporate governance yang ditandai oleh
lemahnya sistem hukum, inkonsistensi dalam setandar akutansi dan auditing, penyelenggaraan
praktek perbankan yang buruk, supervisi dewan komisaris yang tidak efektif, dan pelindungan
yang kurang terhadap pemegang saham minoritas. Asian Development bank (ADB)
menyatakan secara tegas bahwa krisis yang terjadi di Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina,
dan Korea Selatan disebabkan kegagalan dalam melaksanakan good corporate governance. Hal
ini diindikasikan dari konsentrasi kepemilikan perusahaan yang tinggi (mencapai 57-65
persen), supervisi Dewan Komisaris yang tidak efektif, prosedur pengawasan perusahaan yang
tidak transparan dan tidak efisien, peranan sumber pembiayaan eksternal yang sangat dominan
yaitu utang dari bank, dan pengawasan yang minim dari pemberi dana eksternal tersebut.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa pelaksanaan good
corporate governance di Indonesia tergolong yang terburuk di Asia. Riset McKensey and Co.
mengenai pelaksanaan corporate governance di tujuh negara Asia yaitu Jepang, Korea Selatan,
Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Indonesia, juga menempatkan Indonesia pada posisi terbawah
dengan skor 1,1 di mana dalam penelitian ini makna skor adalah yang terburuk dan 6 adalah
yang terbaik. Berdasarkan penelitian tersebut terdapat tujuh kesimpulan yang diperoleh yaitu:
1) Pelaksanaan good corporate governance di Indonesia masih sekedar menuruti
aturan baru sehingga serba ala kadarnya dan tidak sungguh-sungguh.

7
2) Aturan-aturan pelaksanaan good corporate governance itu sendiri belum tegas dan
menyeluruh.
3) Pemenuhan hak-hak pemegang saham khususnya pemegang saham minoritas
masih rendah.
4) Dewan komisaris belum efektif menjalankan fungsinya.
5) Pengawasan kinerja direksi lemah.
6) Laporan tahunan belum memberikan informasi yang memadai bagi para
stakeholders untuk mengetahui lebih jauh tentang kegiatan perusahaan, laporan
keuangan, dan informasi lain untuk mengambil suatu keputusan.
7) Perhatian terhadap stakeholders yaitu investor, otoritas bursa, karyawan, dan
masyarakat sudah cukup baik dilihat dari bentuknya corporate secretary dan
pelaksanaan community development program.

Contoh Good Corporate Governance (GCG) di Asia


1) GCG di Jepang
Konsep inti corporate governance yang diterapkan oleh jepang adalah company
community. Pandangan ini menganggap bahwa para pegawai tidak dipekerjakan oleh
perusahaan tetapi mereka termasuk dalam “ comapny community”. Company
community itu sendiri terdiri dari manajemen, dewan direksi, dan para pegawai inti yang
membagi identitas mereka sebagai “ company community”. Dewan direksi yang dipilih
oleh pemegang saham menentukan semua arah dan kebijakan korporasi dan menunjuk
eksekutif perusahaan yang mengimplementasikan kebijakan-kebijakan tersebut. Pada
praktiknya yang berlaku umum saat ini, corporate board di jepang mewakili kepentingan
perusahaan dan karyawannya secara kolektif, bukan hanya kepentingan pemegang
saham semata.
Dua hal yang muncul dari praktik governance tersebut adalah :
a. Hampir semua direktur merupakan senior manajer atau mantan karyawan
perusahaan. Hampir 80% korporasi di jepang tidak mempunyai anggota dewan
direksi dari luar. Jikapun ada, tidak lebih dari 2 orang.
b. Pemegang saham merupakan pemilik pasif. Komposisi pemegang saham biasanya
didominasi business partner dan investor institusi dengan membentuk block of

8
friendly serta stable shareholders (60-80%), sedangkan individual hanya sebagai
pemegang saham minoritas.
Upaya pembaharuan corporate governance di jepang dilakukan oleh Corporate
Governance Forum Of Japan dengan mengeluarkan corporate governance code pada
Mei 1998. Forum ini terdiri dari para eksekutif, akademis, pengacara, dan perwakilan
shareholders. Shareholder sebagai penyedia modal penyertaan, diberi posisi yang
istimewa. Forum ini membuat beberapa rekomendasi yang memberi perubahan penting
bagi corporate governance di jepang. Rekomendasi – rekomendasi tersebut antara lain :
a. Mengharuskan lebih banyak outside directors dalam keanggotaan dewan.
b. Mengharuskan dibentuknya Komite Audit, Komite Remunerasi, dan Komite
Nominasi yang independen.
Dalam pelaksanaannya, Corporate Governance Forum Of Japan sendiri yang
memonitor kemajuan dan mendesak Tokyo Stock Exchange untuk menyertakan the
code dalam daftar aturan pencatatan (listing rules). Kemudian pada 22 Mei 2002, jepang
mengeluarkan revisi Japan’s Commercial Code. Revisi ini berlaku ppada 1 Februari
2003, yang didalamnya termasuk sejumlah perubahan yang berakibat pada
pengoperasian dewan direksi di jepang. Sistem yang baru ini mengharuskan untuk
membentuk 3 komite dalam dewan direksi : nomination committee, komite audit dan
komite pemberian kompensasi.

2) GCG di China
Di China, perusahaan terbuka menggunakan system two-tiered board. Walaupunn
China menggunakan two-tiered board, namun dalam penerapannya ada perbedaannya
dengan yang ditetapkan di Amerika Serikat dan Inggris. Two-triered board di China
terdiri dari dewan direksi dan dewan pengawas, yang merupakan transplantasi dari
system di Jerman. Fungsi dewan pengawas di China berbeda dengan dewan pengawas
di Jerman. Dewan pengawas di China tidak memiliki kewenangan dalam membuat
keputusan perusahaan dan juga tidak memiliki kewenangan untuk mengangkat atau
membubarkan anggota-anggota dewn direksi. Dalam praktiknya peran monitoring
dewan komisaris lebih dekoratif daripada fungsinya.

9
Pada Agustus 2001, China securities regulatory commission (CSRC) diberikan
kewenangan oleh Negara, untuk mengundangkan Guielines for introducing independent
directors to the board of directors of listed companies (Guidelines). Agar direksi
independen dapat berperan secara aktif, Guilines ini mewajibkan agar direksi
independen harus dapat mengungkapkan pendapat yang independen dalam setiap
peristiwa yang penting dalam perusahaan terbuka dan juga memiliki kewenangan
khusus lainnya seperti yang terdapat dalam hukum perusahaan dan hukum dan regulasi
yang relevan lainnya.
Pada Januari 2002, CSRC dan state Ecconomic and trade commission secara
bersama-sama mengeluarkan Code of Corporate Governanceof listed Companies in
China (the Code). Code ini terdiri atas seperangkat aturan ang komprehensif yang
mencngkup prinsip-orinsip dasar corporate governance bagi peruahaan terbuka. Secara
khusus, dapat dikatakan Code di China ini menegaskan bahwa semua perusahaan
terbuka di China dalam menjalankan usahanya harus menggunakan semangat yang ada
pada Code untuk mengembangkan corporate governance.
Code dibuat berdasarkan OECD principles, meliputi 5 prinsip GCG yaitu, hak-
hak pemegang saham, transparansi, akuntabilitas, keadilan, dan pertangguangjawaban.
Selain itu, China Securities Regulatory Commission (CSRC) segera serius berkomitmen
untuk memajukan dan menerapkan corporate governance di China dan mensejajarkan
dengan perkembangan internasional seperti inisiatif-inisiatif yang dikeluarkan oleh
OECD.
Model corporate governance yng ditetapkan di China merupakan hal yang relatif
baru di Negara tersebut. Model tersebut pada dasarnya memberikan 5 karakteristik dasar
bentuk korporasi ang ada pada saat ini hadir di China yaitu :
a. Adanya pemisahan dan personalitas hukumm yang berbeda
b. Pertanggungjawaban bagi pemilik dan manajer

3) Good Corporate Governance Di Malaysia


Pedoman Good Corporate Governance (The Malaysian Code on Corporate
Governance) ini diterbitkan oleh Bursa Efek Malaysia dan kewajiban untuk
melaksanakan Pedoman ini diatur dalam peraturan tentang pencatatan efek di bursa

10
efek tersebut. Pedoman ini diterbitkan pada tahun 2007 dan merupakan revisi atas
pedoman yang diterbitkan sebelumnya.
a. Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bagi perusahaan bersifat comply
and explain. Dengan demikian tidak ada sanksi apabila perusahaan tidak
menerapkan seluruh aspek dalam Pedoman tersebut. Bagi perusahaan yang
tercatat di bursa efek Malaysia, prinsip prinsip Good Corporate Governance dan
praktik-praktik terbaik yang telah diterapkan perusahaan wajib diungkapkan
dalam laporan tahunan. Perusahaan juga wajib mengidentifikasi prinsip dan
praktik terbaik yang tidak dilaksanakan disertai alasan atas ketidakpatuhan
tersebut. Apabila perusahaan mengadopsi praktek tata kelola negara lain, hal ini
juga harus diungkapkan.
b. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and explains
sehingga tidak terdapat sanksi dalam hal perusahaan tidak menerapkan seluruh
aspek dalam Pedoman Good Corporate Governance. Namun terdapat kewajiban
untuk mengungkapkan pelaksanaan dari Pedoman tersebut dalam laporan tahunan.
Dengan demikian bagi perusahaan yang tercatat atau akan mencatatkan sahamnya
di bursa tidak mengungkapkan dalam laporan tahunannya terkait dengan
penerapan tata kelola, Bursa Malaysia dapat mengambil tindakan terhadap
perusahaan atau direksi sebagaimana tercantum dalam Persyaratan Listing di
Bursa Malaysia.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Pedoman Good Corporate Governance terdiri dari tiga bagian yaitu :
a) Bagian 1 :
Memuat prinsip-prinsip Good Corporate Governance yang luas yang berlaku
di Malaysia. Tujuan dari prinsip-prinsip ini adalah untuk memungkinkan
fleksibilitas perusahaan dalam menerapkan prinsip-prinsip sesuai dengan
keadaan masing-masing perusahaan.
b) Bagian 2 :

11
Menetapkan praktik-praktik terbaik dalam tata kelola perusahaan.
Mengidentifikasi seperangkat pedoman atau praktek yang dimaksudkan untuk
membantu perusahaan dalam merancang pendekatan mereka terhadap tata
kelola perusahaan yang baik bagi perusahaannya.
c) Bagian 3 :
Dorongan atau himbauan bagi pihak-pihak selain tersebut di atas yang bersifat
sukarela. Hal ini tidak ditujukan kepada perusahaan yang terdaftar tetapi untuk
investor dan auditor untuk meningkatkan peran mereka dalam tata kelola
perusahaan. Adapun ruang lingkup dari Pedoman Good Corporate
Governance tersebut adalah :
 The Board Structure, Duties and Effectiveness
 The Audit Committee and its Challenges
 Assessing the Risk and Control Environment
 Effective Oversight of Financial Reporting
 Internal and External Audit: “Eyes And Ears” of Audit Committee
 Conflict of Interest and Related Party Transactions
 Nominating Committee
 Remuneration Committee
 Shareholder Relations

4) Good Corporate Governance Di Singapura


a. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance bersifat comply and
explain. Selanjutnya berdasarkan ketentuan pencatatan efek di Bursa efek
Singapore mengharuskan perusahaan tercatat untuk mengungkapkan praktik tata
kelola mereka dalam laporan tahunan dengan referensi khusus kepada prinsip-
prinsip yang terdapat dalam Pedoman. Perusahaan juga wajib mengungkapkan dan
menjelaskan setiap perbedaan pelaksanaannya dari Pedoman tersebut. Perusahaan
juga didorong untuk melakukan konfirmasi positif tentang pemenuhan prinsip-
prinsip tata kelola dan mengungkapkan setiap ketidak patuhan terhadap prinsip-
prinsip tersebut dalam laporan tahunan perusahaan.

12
b. Sanksi atas ketidakpatuhan
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya bersifat
voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak
menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan
untuk tidak menerapkannya.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Ruang lingkung Tata Kelola perusahaan
a) Board Matters
b) Remuneration Matters
c) Accountability and Audit
d) Communication with Shareholders
e) Disclosure of Corporate Governance Arrangements

5) Good Corporate Governance Di Thailand


a. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Metode penerapan Pedoman Good Corporate Governance di Thailand
bersifat Comply or Explain . Oleh karena itu, Stock Exchange of Thailand (SET)
mengharapkan perusahaan untuk mengikuti Pedoman Good Corporate
Governance tersebut. Selain itu, perusahaan dapat mengadaptasi prinsip-prinsip
Good Corporate Governance sesuai kebutuhan fungsional tiap perusahaan. Bagi
perusahaan yang memilih untuk tidak mematuhi prinsip Good Corporate
Governance, diharuskan menjelaskan secara rinci alasan untuk tidak
menerapkannya.Perusahaan Tercatat telah diminta untuk mulai mengungkapkan
pelaksanaan prinsip-prinsip Good Corporate Governance pada tahun 2007 pada
Laporan Tahunan perusahaan. Selain itu, perusahaan yang terdaftar harus
mengungkapkan penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik
(Good Corporate Governance) melalui media komunikasi yang yang paling
nyaman bagi Perusahaan, pemegang saham, investor, stakeholder lainnya dan
pihak-pihak terkait. Salah satu saluran yang disarankan adalah situs web
perusahaan.
b. Sanksi atas ketidakpatuhan

13
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance oleh perusahaan hanya
bersifat voluntary. Oleh karena itu, tidak ada sanksi bagi perusahaan yang tidak
menerapkannya. Akan tetapi, perusahaan harus menjelaskan dengan rinci alasan
untuk tidak menerapkannya.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
Prinsip-prinsip dan praktek-praktek terbaik Good Corporate Governance
Perusahaan tercatat yang direkomendasikan oleh SET (Stock Exchange of
Thailand) mencakup 5 kategori yaitu:
a) Hak Pemegang Saham (Rights of Shareholders)
b) Perlakuan Adil kepada Pemegang Saham (Equitable Treatment of
Shareholders)
c) Peran Pemangku Kepentingan (Role of Stakeholders)
d) Keterbukaan dan Transparansi (Disclosure and Transparency)
e) Tanggung Jawab Dewan Direksi (Responsibilities of the Board)

6) Pedoman Good Corporate Governance Di Philipina


Sesuai dengan kebijakan Negara untuk secara aktif mempromosikan
reformasi tata kelola perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan
investor, mengembangkan pasar modal dan membantu mencapai pertumbuhan
yang tinggi dan berkelanjutan untuk sektor korporasi dan ekonomi, Securities
Commission, melalui Resolusi No.135, Seri 4 April 2002, menyetujui berlakunya
dan pelaksanaan Pedoman Good Corporate Governance ini. Pedoman ini berlaku
untuk perusahaan efek yang tercatat atau terdaftar, perusahaan penerima izin/lisensi
dan perusahaan publik. Pedoman Good Corporate Governance ini juga berlaku
untuk cabang atau anak perusahaan dari perusahaan asing yang beroperasi di
Filipina yang terdaftar.
a. Metode Penerapan Pedoman Good Corporate Governance
Penerapan Pedoman Good Corporate Governance di Philipina merupakan suatu
kewajiban. Penegakan hukum atas pelaksanaan Pedoman Good Corporate
Governance tersebut dilakukan oleh Securities and Exchange Commission dan
dapat dikenakan sanksi. Bursa Efek Philipina mewajibkan perusahaan tercatat

14
untuk melaporkan secara periodik mengenai kepatuhan terhadap manual tata
kelola termasuk hal-hal yang belum dapat dipenuhi wajib diungkapkan lengkap
dengan alasannya.
b. Sanksi atas ketidakpatuhan terhadap Pedoman Good Corporate Governance
Kegagalan untuk mengadopsi manual tata kelola perusahaan seperti yang
ditentukan untuk perusahaan, setelah pemberitahuan waktu dan alasan jatuh tempo
dikenakan denda sebesar P100, 000.00.
c. Ruang lingkup Pedoman Good Corporate Governance
a) The Board Governance
b) Supply Information
c) Accountability and Audit
d) Stockholders’ Rights and Protection of Minority Stockholders’ Interests
e) Evaluation Systems
f) Disclosure and Transparency
g) Commitment to Corporate Governance
h) Administrative Sanction

3. GOOD CORPORATE GOVERNANCE DI INDONESIA


Sulit dipungkiri, selama sepuluh tahun terakhir ini, istilah Good Corporate Governance
(CG) kian populer. Tak hanya populer, istilah tersebut juga ditempatkan di posisi terhormat.
Pertama, CG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk tumbuh dan
menguntungkan dalam jangka panjang, sekaligus memenangkan persaingan bisnis global.
Kedua, krisis ekonomi di kawasan Asia dan Amerika Latin yang diyakini muncul karena
kegagalan penerapan Corporate Governance. Pada tahun 1999, kita melihat negara-negara di
Asia Timur yang sama-sama terkena krisis mulai mengalami pemulihan, kecuali Indonesia.
Harus dipahami bahwa kompetisi global bukan kompetisi antarnegara, melainkan
antarkorporat di negara-negara tersebut. Jadi menang atau kalah, menang atau terpuruk, pulih
atau tetap terpuruknya perekonomian satu negara bergantung pada korporat masing-masing .
Pemahaman tersebut membuka wawasan bahwa korporat kita belum dikelola secara benar.
Dalam bahasa khusus, korporat kita belum menjalankan governansi . Survey dari Booz-Allen
di Asia Timur pada tahun 1998 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki indeks corporate

15
governance paling rendah dengan skor 2,88 jauh di bawah Singapura (8,93), Malaysia (7,72)
dan Thailand (4,89). Rendahnya kualitas CG korporasi-korporasi di Indonesia ditengarai
menjadi kejatuhan perusahaan-perusahaan tersebut.
3.1.Tahap-Tahap Penerapan Corporate Governance

Salah satu tujuan utama ditegakannya good corporate governance ialah untuk
menciptakan sistem yang dapat menjaga keseimbangan dalam pengendalian
perusahaan sedemikian rupa sehingga mampu mengurangi peluang terjadinya
kesalahan mengelola (missmanagement), menciptakan insentif bagi manajer untuk
memaksimumkan produktivitas penggunaan aset sehingga menciptakan nilai tambah
perusahaan yang optimal. Dalam pelaksanaan penerapan Corporate Governance di
perusahaan adalah penting bagi perusahaan untuk melakukan pentahapan yang cermat
berdasarkan analisis atas situasi dan kondisi perusahaan, dan tingkat kesiapannya,
sehingga penerapan CG dapat berjalan lancar dan mendapat dukungan dari seluruh
unsur di dalam perusahaan. Beberapa tahapan dalam menerapkan CG yaitu:

1) Tahap persiapan
Tahap ini terdiri atas tiga langkah utama yaitu:
Awareness Building
Awareness Building merupakan langkah sosialisasi awal untuk membangun
kesadaran mengenai arti pentingnya CG dan komitmen bersama dalam
penerapannya. Upaya ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan tenaga ahli
independen dari luar perushaan. Kegiatan dapat dilakukan melalui seminar,
lokakarya, dan diskusi kelompok.
GCG Assessment
GCG Assessment merupakan upaya untuk mengukur atau memetakan kondisi
perusahaan dalam penerapan CG saat ini. Langkah ini perlu guna memastikan titik
awal atau level penerapan CG dan untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang
tepat guna mempersiapkan infrastruktur dan struktur perusahaan yang kondusif
bagi penerapan CG secara efektif.
GCG Manual Building
GCG manual building, adalah langkah berikut setelah GCG assessment dilakukan.

16
Berdasarkan hasil pemetaan tingkat kesiapan perusahaan dan upaya identifikasi prioritas
penerapannya, penyusunan manual atau pedoman implementasi CG dapat disusun.
Penyusunan manual dapat dilakukan dengan bantuan tenaga ahli independen dari luar
perusahaan. Manual ini dapat dibedakan antara manual untuk organ-organ perusahaan
dan manual untuk keselu- ruhan anggota perusahaan, mencakup berbagai aspek seperti:
 Kebijakan CG perusahaan
 Pedoman CG bagi organ-organ perusahaan
 Pedoman perilaku
 Audit commitee charter
 Kebijakan disclosure dan transparansi
 Kebijakan dan kerangka manajemen resiko
 Roadmap implementasi
2) Tahap implementasi
Tahap ini terdiri atas tiga langkah utama yaitu:
Sosialisasi
Sosialisasi diperlukan untuk memperkenalkan kepada seluruh perusahaan berbagai
aspek yang terkait dengan implementasi CG khususnya mengenai pedoman
penerapan CG. Upaya sosialisasi perlu dilakukan dengan suatu tim khusus yang
dibentuk untuk itu, langsung berada dibawah pengawasan Direktur Utama.
Implementasi
Implementasi adalah kegiatan yang dilakukan sejalan dengan pedoman CG yang
ada, berdasarkan roadmap yang telah disusun. Implementasi harus bersifat top
down approach yang melibatkan Dewan Komisaris dan Direksi perusahaan.
Internalisasi
Internalisasi mencakup upaya-upaya untuk memperkenalkan CG di dalam seluruh
proses bisnis perusahaan melalui berbagai prosedur operasi, sistem kerja, dan
berbagai peraturan perusahaan. Dengan upaya ini dapat dipastikan bahwa
penerapan CG bukan sekadar dipermukaan atau sekadar suatu kepatuhan yang
bersifat superficial, tetapi benar-benar tercermin dalam seluruh aktivitas
perusahaan.
3) Tahap evaluasi

17
Tahap evaluasi adalah tahap yang perlu dilakukan secara teratur dari waktu
ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektifitas penerapan CG telah dilakukan
dengan meminta pihak independen melakukan audit implementasi dan scoring atas
praktek CG yang ada. Dalam hal membangun CG, dan terkait dengan
pengembangan sistem, yang diharapkan akan mempengaruhi perilaku setiap
individu dalam perusahaan yang pada gilirannya akan membentuk kultur
perusahaan yang bernuansa CG, maka diperlukan langkah-langkah berikut:
1. Menetapkan visi, misi, rencana strategis, tujuan perusahaan, serta system
operasional pencapaiannya secara jelas;
2. Mengembangkan suatu struktur yang menjaga keseimbangan peran dan fungsi
organ perusahaan (check and balance);
3. Membangun sistem informasi, baik untuk keperluan proses pengambilan
keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material dan relevan
mengenai perusahaan;
4. Membangun sistem audit yang handal, yang tak terbatas pada kepatuhan
terhadap peraturan dan prosedur operasi standar, tetapi juga mencakup
pengendalian risiko perusahaan;
5. Membangun sistem yang melindungi hak-hak pemegang saham secara adil dan
setara diantara pemegang saham;
6. Membangun sistem pengembangan SDM, termasuk pengukuran kinerjanya.

3.2.Penerapan CG di Indonesia
Krisis ekonomi yang menghantam Asia yang terjadi beberapa tahun lalu.
ternyata berdampak luas teutama dalam merontokkan rezim-rezim politik yang
berkuasa di Korea Selatan, Thailand, dan Indonesia. Ketiga Negara yang diawal tahun
1990-an dipandang sebagai “the Asian tiger”, harus mengakui bahwa pondasi
ekonomi mereka rapuh, yang pada akhirnya merambah pada krisis politik.
Setelah itu, sejak krisis tersebut melanda, kita sekarang dapat melihat
pertumbuhan kembali Negara-negara yang amat terpukul oleh krisis tersebut. Korea
Selatan yang pernah terjangkit kejahatan financial yang melibatkan para eksekutif

18
puncak perusahaan-perusahaan blue-chip, kini telah pulih. Perkembangan yang sama
juga terlihat dengan Thailand maupun Negara-negara ASEAN lainnya.
Era pascakrisis ditandai dengan goncangan ekonomi berkelanjutan. Mulai dari
restrukturisasi sektor perbankan, pelelangan asset para konglomerat, yang berakibat
pada penurunan iklim berusaha (Bakrie,2003).
Kajian yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) menunjukkan
beberapa faktor yang memberi kontribusi pada krisis di Indonesia. Pertama,

konsentrasi kepemilikan perusahaan yang tinggi; kedua, tidak efektifnya fungsi


pengawasan dewan komisaris, ketiga; inefisiensi dan rendahnya transparansi
mengenai prosedur pengendalian merger dan akuisisi perusahaan; keempat, terlalu
tingginya ketergantungan pada pendanaan eksternal; dan kelima, ketidak memadainya
pengawasan oleh para kreditor.
Tantangan terkini yang dihadapi masih belum dipahaminya secara luas prinsip-
prinsip dan praktek good corporate governance oleh kumunitas bisnis dan publik pada
umumnya (Daniri, 2005). Akhirnya komunitas internasional masih menempatkan
Indonesia pada urutan bawah rating implementasi CG sebagaimana dilakukan oleh
Standard & Poor, CLSA, Pricewaterhouse Coopers, Moody`s Morgan, and Calper`s.
Berdasarkan 10th report by Corporate Governance Watch (2016) dapat dilihat
pertumbuhan corporate governance terbaik di pegang oleh Singapura dengan score 67
diikuti oleh Hongkong dan Jepang, sedangkan Indonesia berada pada urutan terendah

19
dengan score 36 dimana lebih rendah dari tahun 2014. Faktor-faktor penyebab
rendahnya kinerja Indonesia adalah penegakan hukum dan budaya corporate
governance yang masih berada di titik paling rendah di antara Negara-negara lain yang
sedang tumbuh di Asia.
3.3.Implementasi Corporate Governance
Terdapat tiga arah agenda penerapan Corporate Governance di Indonesia (BP
BUMN, 1999) yakni, menetapkan kebijakan nasional, menyempurnaan kerangka
nasional dan membangun inisiatif sektor swasta. Terkait dengan kerangka regulasi,
Bapepam bersama dengan self-regulated organization (SRO) yang didukung oleh
Bank Dunia dan ADB telah menghasilkan beberap proyek Corporate Governance
seperti JSX Pilot project. Seiring dengan proyek-proyek ini, kementerian BUMN juga
telah mengembangkan kerangka untuk implementasi Corporate Governance.
Dua sektor penting yakni BUMN dan Pasar Modal telah menjadi perhatian
pemerintah. Aspek baru dalam implementasi CG di lingkungan BUMN adalah
kewajban untuk memiliki statement ofcorporate intent (SCI). SCI pada dasarnya
adalah komitmen perusahaan terhadap pemegang saham dalam bentuk suatu kontrak
yang menekankan pada strategi dan upaya manajemen dan didukung dengan dewan
komisaris dalam mengelola perusahaan. Terkait dengan SCI, direksi diwajibkan untuk
menanda tangani appointment agreements (AA) yang merupakan komitmen direksi
untuk memenuhi fungsi-fungsi dan kewajiban yang diembannya. Indikator kinerja
direksi terlihat dalam bentuk rewardand punishment system dengan meratifikasi
undang-undang BUMN.
Pasar modal juga perlu menerapkan prinsipprinsip CG untuk perusahaan publik.
Ini ditunjukkan melalui berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Jakarta
(BEJ), yang menyatakan bahwa seluruh perusahaan tercatat wajib melaksanakan CG.
Implementasi CG dimaksudkan untuk meningkatkan perlindungan kepentingan
investor, terutam para pemegang saham di perusahaan-perusahaan terbuka.
Di samping itu, implementasi CG akan mendorong tumbuhnya mekanisme
check and balance di lingkungan manajemen khususnya dalam member perhatian
kepada kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Hal ini
terkait dengan peran pemegang saham pengendali yang berwenang mengangkat

20
komisaris dan direksi, dan dapat mempengaruhi kebijakan perusahaan. Di samping
pelindungan investor, regulasi mewajibkan system yang menjamin transparansi dan
akuntabilitas dalam transaksi bisnis antar perusahaan dalam satu grup yang berpotensi
menimbulkan benturan kepentingan. Semangat untuk memperoleh persetujuan publik
dalam transaksi, merupakan bentuk penerapan prinsip akuntabilitas.
Diperkenalkannya komisaris independen, komite audit, dan sekretaris perusahaan juga
menjadi fokus regulasi BEJ. Independensi komisaris dimaksudkan untuk memastikan
bahwa komisaris independen tidak memiliki afiliasi dengan pemegang saham, dengan
direksi dan dengan komisaris; tidak menjabat direksi di perusahaan lain yang
terafiliasi; dan memahami berbagai regulasi pasar modal. Sedangkan terkait dengan
kewajiban untuk memiliki direktur independen, dalam sistem two tier yang kita anut,
justru akan lebih efektif bilamana bursa mewajibkan perusahaan untuk memiliki
komite nominasi dan remunerasi. Tujuan pedoman tersebut adalah untuk
meningkatkan kualitas disclosure perusahaan-perusahaan publik. Pedoman ini
merupakan hasil kolaborasi antara BEJ, IAI, AEI, dan Bapepam. Perkembangan
terbaru di Pasar modal adalah batas waktu penyerahan laporan tahunan yakni 90 hari
sejak tutup buku, lebih pendek dari regulasi sebelumnya yakni 120 hari. Regulasi ini
merupakan indikasi kekonsistenan penegakan CG oleh Bapepam.

3.4.Corporate Governance di Lingkungan Perbankan


Dalam undang-undang No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan, secara umum
telah diatur ketentuan yang terkait dengan Corporate Governance baik yang termasuk
governance structure, governance process, maupun governance outcome.
Governance structure terdiri atas (LAN dan BPKP,2000) : pertama, uji kelayakan dan
kepatutan,(fit and proper test), yang mengatur perlunya peningkatan kompetensi dan
integritas manajemen perbankan melalui uji kelayakan dan kepatutan terhadap
pemilik, pemegang saham pengendali,dewan komisaris, direksi, dan pejabat eksekutif
bank dalam aktivitas pengelolaan bank.
Kedua, independensi manajemen bank, di mana para anggota dewan komisaris
dan direksi tidak boleh memiliki hubungan kekerabatan atau memiliki hubungan

21
financial dengan dewan komisaris dan direksi atau menjadi pemegang saham
pengendali di perusahaan lain.
Ketiga, ketentuan bagi direktur kepatutan dan peningkatan fungsi audit bank
publik. Dalam standar penerapan fungsi internal audit bank publik, bank diwajibkan
untuk menunjuk direktur kepatuhan yang bertanggung jawab atas kepatuhan bank
terhadap regulasi yang ada.
Strategi dan rencana Bank Indonesia mewajibkan bank untuk memikili rencana
dan anggaran jangka panjang dan menengah dalam bentuk keputusan dewan direksi
bank Indonesia tahun 1995, yangdimaksudkan bagi bank untuk memiliki strategi
korporasi dan yang tertuang dengan jelas, termasuknilai-nilai yang harus
dikomunikasikan kepada seluruh tingkatan di dalam organisasi dan
resikoresikopengendalian.
Mengenai governance outcome, Bank Indonesia juga telah mengeluarkan
beberapa peraturan, antara lain transparansi mengenai kondisi keuangan bank dan
peningkatan peran auditor eksternal. Bankdiwajibkan untuk mengungkapkan non
performingloan (NPL), pemegang saham pengendali danafiliasinya, praktik
manajemen resiko dalam pelaporan keuangan.

3.5.Peran Otoritas Jasa Keuangan dalam Penerapan Corporate Governance


OECD bersama OJK meluncurkan The New G20/ OECD Principles Of
Corporate Governance (CG) di Jakarta sebagai bentuk partisipasi OJK untuk
mendukung penerapan prinsip GCG G20/OECD yang baru diluncurkan September
2015 lalu di pertemuan G20 di Ankara, Turki. Prinsip-prinsip GCG G20/OECD
terbaru tersebut merupakan pengembangan dari versi terdahulu yang memberikan
rekomendasi bagi para pembuat kebijakan nasional tentang hak-hak pemegang saham,
remunerasi eksekutif, pengungkapan informasi keuangan, perilaku investor institusi,
dan bagaimana mekanisme pasar saham harus berfungsi.
Para pemimpin negara-negara G20 telah memberikan dukungan resmi atas
prinsip GCG OECD ini sebagai standar global atas tata kelola perusahaan yang
diharapkan dapat membantu pembuat kebijakan untuk mengevaluasi dan

22
meningkatkan kerangka kerja tata kelola perusahaan untuk mempromosikan
pembiayaan melalui pasar modal, dan untuk meningkatkan investasi jangka panjang.
Tata kelola perusahaan memainkan peranan penting untuk mendorong para
pelaku di sektor jasa keuangan, khususnya pasar modal, untuk menjalankan kegiatan
usahanya berdasarkan prinsip-prinsip kewajaran, transparansi, akuntabilitas, tanggung
jawab dan kemandirian untuk memperoleh kepercayaan investor atau pemangku
kepentingan lainnya.
OJK sebelumnya sudah mengeluarkan Peraturan OJK (POJK) terkait
pelaksanaan GCG yaitu, yaitu Tata Kelola Perusahaan Terbuka yang terdiri dari lima
aspek:
1. Hubungan Perusahaan Terbuka dengan Pemegang Saham Dalam Menjamin
Hak-Hak Pemegang Saham
2. Fungsi dan Peran Dewan Komisaris
3. Fungsi dan Peran Direksi
4. Partisipasi Pemangku Kepentingan
5. Keterbukaan Informasi.
Diharapkan penerapan prinsip-prinsip baru ini dapat memudahkan para pelaku
pasar untuk menyesuaikan implementasi prinsip GCG dengan perubahan dan
pertumbuhan bisnis di era sekarang untuk mendorong pertumbuhan dan
keberlangsungan sektor jasa keuangan Indonesia, sehingga dapat mendorong
ketahanan sektor jasa keuangan dan pertumbuhan ekonomi dalam kondisi normal
ataupun krisis.
Perubahan prinsip-prinsip GCG G20/OECD dibagi menjadi 6 bab yang
penambahannnya dimasukkan ke dalam tiap-tiap bab tersebut:
1) Dasar kerangka tata kelola yang efektif
2) Hak dan perlakuan yang adil untuk pemegang saham dan fungsi kunci
kepemilikan
3) Investor institusi, pasar modal dan perantara lainnya
4) Peran pemangku kepentingan dalam tata kelola
5) Transparansi dan Keterbukaan informasi
6) Tanggung jawab Direksi dan Dewan Komisaris

23
DAFTAR PUSTAKA

Putri, I Gusti Ayu Made Asri Dwija, dan Ulupui, I Gusti Ketut Agung. 2017. Pengantar Corporate
Governance. Denpasar: CV. Sastra Utama.
Siswanto Sutojo, E. John Aldridge. 2008. Good Corporate Governance Tata Kelola
Perusahaan Yang Sehat. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka.
Prasetrantoko, A. 2008. Corporate Governance: Pendekatan Institusional. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama
KNKG Indonesia. 2006. Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia.
http://www.ecgi.org/codes/documents/indonesia_cg_2006_id.pdf [Diakses pada tanggal 20
Januari 2018]
Frayogi, Muhammad. 2017. Penerapan Konsep Good Corporate Governance (GCG) di Indonesia.
https://medium.com/@muhammadfrayogi/penerapan-konsep-good-corporate-governance-
gcg-dalam-budaya-indonesia-d8cef61009df (Diakses pada tanggal 20 Januari 2018)
Hasan, Qusyaini. 2010. Penerapan GCG, Mencari Model untuk Indonesia.
http://qusyhasan.blogspot.co.id/2010/02/penerapan-gcg-mencari-model-untuk.html
(diakses pada 27 Februari 2018)
Pramudia, Sarasati. 2017. Good Corporate Governance di Dunia, Asia dan Indonesia.
https://id.scribd.com/document/361622750/326895815-GCG-Di-Dunia-Asia-Dan-
Indonesia-1-1 (Diakses pada 28 Februari 2018)

24