Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM MANAJEMEN AGROEKOSISTEM

ASPEK BP

Disusun Oleh:
Merynda Wardatul N. 155040200111072
Naufaldi Pratama N. 155040200111150
Fitriana Lutfiningsih 155040200111162
Octavianus Malau 155040200111244
Dyah permatasari F. 155040201111077
Meilani Afsari 155040201111103
Dionisius Bastian 155040201111211
Patricia Martina K 155040207111069
Rio Caesar Adyaprata 155040207111175

Kelas: H

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Ghildyal (1984) agroekosistem ialah ekosistem yang diubah
sebagian oleh orang untuk menghasilkan pangan, serat dan hasil pertanian
lainnya. Karakteristik esensial dari suatu agroekosistem terdiri atas empat sifat
utama yaitu produktivitas (productivity), kestabilan (stability), keberlanjutan
(sustainability) dan kemerataan (equitability).
Pada agroekosistem terjadi hubungan timbal balik antara sekelompok
manusia dan komponen-komponen ekosistem, disertai usaha memodifikasi
lingkungan meliputi sistem budidaya, pengolahan tanah dan pengendalian hama
dan penyakit sehingga secara tidak langsung akan merubah keseimbangan
ekosistem pada suatu lahan.
Lahan terdiri dari 2 macam yaitu lahan basah dan lahan kering. Diperlukan
manajemen yang tepat untuk menangani 2 jenis lahan yang berbeda tersebut agar
agroekosistem pada kedua jeis lahan tetap seimbang. Dengan mengetahui
seberapa besarnya keseimbangan agroekosistem maka akan bisa menjadi dasar
dalam perlakuan selanjutnya, baik dalam pemeliharaan, perawatan dan
sebagainya.

1.2 Tujuan
 Untuk mengetahui agroekosistem pada lahan basah dan lahan kering serta
membandingkan manajemen agroekosistemnya.
 Untuk mengetahui tingkat keseimbangan agroekosistem pada lahan basah
dan kering.
 Untuk mengetahui hubungan tiga aspek dalam manajemen agroekosistem.
1.3 Manfaat
 Memahami hubungan timbal balik yang terjadi dalam agroekosistem di
daerah Jatimulyo dan dau khususnya tentang manajemen lahan dan sistem
budidaya tanaman.

 Menentukan rekomendasi manajemen agroekosistem yang tepat di daerah


yang telah disurvei.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Agroekosistem Lahan Sawah

Sawah adalah pertanian yang dilaksanakan di tanah yang basah atau


dengan pengairan. Bersawah merupakan cara bertani yang lebih baik daripada
cara yang lain, bahkan merupakan cara yang sempurna karena tanah dipersiapkan
lebih dahulu, yaitu dengan dibajak, diairi secara teratur, dan dipupuk (Rustiadi,
2007).

Sawah bukaan baru dapat berasal dari lahan kering yang digenangi atau
lahan basah yang dijadikan sawah. Hara N, P, K, Ca, dan Mg merupakan
pembatas pertumbuhan dan hasil padi pada lahan sawah bukaan baru. Hara N, P
dan K merupakan pembatas pertumbuhan dan hasil padi pada ultisol (Widowati
et al., 1997). Lahan untuk sawah bukaan baru umumnya mempunyai status
kesuburan tanah yang rendah dan sangat rendah.Tanah-tanah di daerah bahan
induknya volkan tetapi umumnya volkan tua dengan perkembangan lanjut, oleh
sebab itu miskin hara, dengan kejenuhan basa rendah bahkan sangat
rendah.Kandungan bahan organik, hara N, P, K dan KTK umumnya rendah
(Suharta dan Sukardi, 1994).

Padi (Oryza sativa L) tumbuh baik di daerah tropis maupun sub-


tropis.Untuk padi sawah, ketersediaan air yang mampu menggenangi lahan
tempat penanaman sangat penting.Oleh karena air menggenang terus- menerus
maka tanah sawah harus memiliki kemampuan menahan air yang tinggi, seperti
tanah yang lempung.

Rendahnya produktivitas tanaman padi disebabkan oleh penerapan rekayasa


tehnologi budidaya dikalangan petani belum maksimal. Hal ini dipengaruhi oleh
minimnya pengetahuan petani terhadap penggunaan tehnologi tersebut, yang
dititikberatkan terhadap program intensifikasi, seperti: penggunaan umur bibit, dan
jarak tanam serta penerapan tehnologi panca usaha tani secara efektif dan tepat
sasaran ( Sjarifuddinet al, 1999).
2.2 Agroekosistem Lahan Kering

Lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah digenangi air atau
tergenang air pada sebagian waktu selama setahun. Lahan kering secara
keseluruhan memiliki luas lebih kurang 70 %. Pada saat ini pemanfaatan lahan
kering untuk keperluan pertanian baik tanaman semusim maupun tanaman
tahunan/ perkebunan sudah sangat berkembang. Pertambahan jumlah penduduk
yang terjadi dengan sangat cepat menyebabkan kebutuhan akan bahan pangan dan
perumahan juga akan meningkat. Sejalan dengan itu pengembangan lahan
kering untuk pertanian tanaman pangan dan perkebunan untuk memenuhi
kebutuhan sudah merupakan keharusan. Usaha intensifikasi dengan pola usaha
tani belum bisa memenuhi kebutuhan. Upaya lainnya dengan pembukaan lahan
baru sudah tidak terelakkan lagi. (Hidayat dkk,2000)
Pemanfaatan lahan kering di daerah perbukitan dan pegunungan untuk
pertanian semusim untuk menghasilkan bahan pangan banyak dijumpai dan
dilakukan penduduk yang bermukim di pedesaan. Dengan pemanfaatan lahan
kering di pegunungan dan perbukitan secara terus menerus tanpa memperhatikan
kaidah konservasi akan menyebabkan terjadinya erosi dan penurunan kesuburan
yang berat. Di negara sedang berkembang termasuk Indonesia, kerusakan lahan
ini umumnya bertmuara pada merebaknya kemiskinan
dan kelaparan. Sedangkan secara ekologi akan mengganggu keseimbangan
ekosistem terjadi penurunan kekayaan hayati yang berat (Scherr, 2003).
pengelolaan agroekosistem lahan kering merupakan bagian dari
interaksi atau kerja sama masyarakat dengan agroekosistem sumberdaya
alam. Pengelolaan agroekosistem lahan kering merupakan usaha atau upaya
masyarakan pedesaan dalam mengubah atau memodifikasi ekosistem sumberdaya
alam agar bisa diperoleh manfaat yang maksimal dengan mengusahakan
kontinuitas produksinya. Komoditas yang diusahatan tentunya disesuaikan
dengan kondisi setempat dan manfaat ekonomi termasuk pemasaran. Dalam
pembangunan pertanian berkelanjutan pengelolaan agroekosistem lahan kering
dapat dipandang sebagai upaya memperbaiki dan memperbaharui sumberdaya
alam yang bisa dipulihkan (renewable resourses) di daerahnya. Dalam
pemanfaatan sumberdaya lahan kering untuk pertanian berkelanjutan
memerlukan pendekatan lingkungan dan mengikuti kaidah pelestarian lingkungan
(Hidayat,dkk).

2.7 Kriteria Indikator dalam Pengolahan yang Sehat dan Berlanjut

Pengelolaan pertanian berwawasan lingkungan dilakukan melalui


pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan menguntungkan,
sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan generasi
sekarang dan generasi mendatang.

 Kriteria/indikator agroekosistem tersebut dikatakan sehat :

1. Dari Segi Kimia Tanah

a) Bahan Organik Tanah

Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan


binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan
kembali.Sumber primer bahan organik tanah dapat berasal dari Seresah yang
merupakan bagian mati tanaman berupa daun, cabang, ranting, bunga dan buah
yang gugur dan tinggal di permukaan tanah baik yang masih utuh ataupun telah
sebagian mengalami pelapukan.Dalam pengelolaan bahan organik tanah,
sumbernya juga bisa berasal dari pemberian pupuk organik berupa pupuk
kandang, pupuk hijau dan kompos, serta pupuk hayati (inokulan). Bahan
organic tersebut berperan langsung terhadap perbaikan sifat-sifat tanah baik
dari segi kimia, fisika maupun biologinya, diantaranya :

o Memengaruhi warna tanah menjadi coklat-hitam


o Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah
o Meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase
tidak berlebihan, kelembapan dan tempratur tanah menjadi
stabil.
o Sumber energi dan hara bagi jasad biologis tanah terutama
heterotrofik.

b) pH Tanah (Kemasaman Tanah) dan Adanya Unsur Beracun


Tanah bersifat asam dapat disebabkan karena berkurangnya kation
Kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium.Unsur-unsur tersebut terbawa oleh
aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh
tanaman.pH tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat
racun bagi tanaman. Pada tanah asam banyak ditemukan unsur alumunium yang
selain bersifat racun juga mengikat phosphor, sehingga tidak dapat diserap oleh
tanaman.Pada tanah asam unsur-unsur mikro menjadi mudah larut sehingga
ditemukan unsur mikro seperti Fe, Zn, Mn dan Cu dalam jumlah yang terlalu
besar, akibatnya juga menjadi racun bagi tanaman.

Tetapi dengan pH yang agak masam belum tentu kebutuhan tanaman


terhadap pH tanah tidak cocok karena itu tergantung dari komoditas tanaman
budidaya yang dibudidayakan. Untuk pengelolaan pH tanah yang berbeda-beda
dalam suatu agroekosistem maka apabila suatu lahan digunakan untuk
pertanian maka pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan pH tanah
apakah tanaman yang diusahakan sesuai dan mampu bertahan dengan pH
tertentu

c) Ketersediaan Unsur Hara

Unsur hara yang digunakan tanaman untuk proses pertumbuhan dan


perkembangannya diperoleh dari beberapa sumber antara lain : Bahan organik,
mineral alami, unsur hara yang terjerap atau terikat, dan pemberian pupuk
kimia. Pada lahan pertanian diketahui sumber unsur hara berasal dari bahan
organik, karena pada lokasi tersebut banyak ditemukan seresah yang
merupakan sumber bahan organic selain itu aplikasi pupuk kandang juga
menambah ketersediaan unsur hara yang berfungsi ganda, diserap oleh
tanaman dan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

2. Dari Segi Fisika Tanah

a) Kondisi kepadatan tanah

Widiarto (2008) menyatakan bahwa, “Bahan organik dapat menurunkan


BI dan tanah yang memiliki nilai BI kurang dari satu merupakan tanah yang
memiliki bahan organik tanah sedang sampai tinggi. Selain itu, Nilai BI untuk
tekstur berpasir antara 1,5 – 1,8 g / m3, Nilai BI untuk tekstur berlempung
antara 1,3 – 1,6 g / m3 dan Nilai BI untuk tekstur berliat antara 1,1 – 1,4 g / m3
merupakan nilai BI yang dijumpai pada tanah yang masih alami atau tanah yang
tidak mengalami pemadatan”.

b) Kedalaman efektif tanah

Kedalaman efektif adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus


oleh akar tanaman.Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan mengamati
penyebaran akar tanaman.Banyakya perakaran, baik akar halus maupun akar
kasar, serta dalamnya akar-akar tersebut dapat menembus tanah, dan bila tidak
dijumpai akar tanaman maka kedalaman efektif ditentukan berdasarkan
kedalaman solum tanah (Hardjowigeno, 2007).

c) Erosi Tanah

Erosi adalah terangkutnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah ke


tempat lain. Meningkatnya erosi dapat diakibatkan oleh hilangnya vegetasi
penutup tanah dan kegiatan pertanian yang tidak mengindahkan kaidah
konservasi tanah.Erosi tersebut umumnya mengakibatkan hilangnya tanah
lapisan atas yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman.Oleh sebab itu
erosi mengakibatkan terjadinya kemunduran sifat-sifat fisik dan kimia tanah.

3. Dari Segi Biologi Tanah

a) Keanekaragaman biota dan fauna tanah

Ditunjukkan dengan adanya kascing.Biota tanah memegang peranan


penting dalam siklus hara di dalam tanah, sehingga dalam jangka panjang
sangat mempengaruhi keberlanjutan produktivitas lahan.Salah satu biota tanah
yang paling berperan yaitu cacing tanah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa
cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat
kimia, fisik, dan biologis tanah.
Kascing (pupuk organik bekas cacing atau campuran bahan organik sisa
makanan cacing dan kotoran cacing) mempunyai kadar hara N, P dan K 2,5 kali
kadar hara bahan organik semula, serta meningkatkan porositas tanah (pori total
dan pori drainase cepat meningkat 1,15 kali). Cacing jenis ‘penggali tanah’
yang hidup aktif dalam tanah, walaupun makanannya berupa bahan organik di
permukaan tanah dan ada pula dari akar-akar yang mati di dalam tanah.
Kelompok cacing ini berperanan penting dalam mencampur seresah yang ada di
atas tanah dengan tanah lapisan bawah, dan meninggalkan liang dalam tanah.
Kelompok cacing ini membuang kotorannya dalam tanah, atau di atas
permukaan tanah. Kotoran cacing ini lebih kaya akan karbon (C) dan hara
lainnya dari pada tanah di sekitarnya. (Hairiah, 2004)
BAB III

METODOLOGI

3.1Waktu dan Tempat

Fieldtrip manjemen agroekosistem dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2015 di


Desa Sumber Brantas.Pelaksanaannya mengacu pada tiga aspek yaitu aspek
Budidaya Pertanian, Hama dan Penyakit Tanaman dan aspek Tanah. Pada aspek
BP dilakukan pengamatan dan wawancara kepada petani sawi untuk mengetahui
keberlanjutan pertanian di daerah setempat dari kondisi sosial, ekonomi, cara
budidaya sawi yang dilakukan petani. Sementara pada aspek HPT, dilakukan
dengan mengambil sampel serangga dan penyakit utama tanaman sawi non PHT
dan PHT yang kemudian diidentifikasi untuk mengetahui hama, penyakit dan
musuh alami tanaman budidaya tersebut. Sedangkan pada aspek tanah dilakukan
pengamatan dan identifikasi dari segi fisik, kimia dan biologi tanah.

3.2 Alat dan Bahan

Kuisioner : sebagai acuan pertanyaan kepada narasumber (petani)


Alat tulis : untuk mencatat data informasi
Kamera : dokumentasi

3.3 Cara kerja

Menyiapkan alat dan bahan

Melakukan wawancara pada petani dengan mengacu pada kuisioner

Mencatat hasil wawancara

Mendokumentasikan lahan petani


BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Analisis Keadaan Agroekosistem Local Fieldtrip


4.1.1 Lahan Sawah Jatimulyo
 Sejarah Lahan
Lahan basah yang disurvei adalah lahan sawah yang dikelola Bapak
Buadi dan Ibu Sumiyati, seluas 2 petakan dengan status lahan ini sebagai
lahan sewa. Setiap panen, beliau membayar biaya Rp 300.000,00 kepada
pemilik lahan.
Pangolahan tanah pada lahan tersebut dilakukan dengan alat
pembajak tanah yaitu traktor. Penggunaan lahan ini tidak dilakukan
pembenaman dulu setelah dilakukan pemanenan,sisa panen dikembalikan
lagi kelahan. Jerami-jerami sisa panen dikeringkan atau dibakar dan
dikembalikan lagi ke tanah. Pengolahan dilakukan secepat mungkin agar
tidak menghabiskan waktu dan memanfaatkan lahan sewa dengan cepat.
Sumber irigasi pada lahan ini menggunakan air dari DAS Singosari

 Produktivitas
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, menunjukkan
bahwa Hasil panen lahan padi Bapak Buadi, mencapai 1,5 kw per petak.
Berikut adalah tabel uraian tanaman padi yang ditanam di lahan sawah
Baapak Buadi;
No Uraian Keterangan

1 Varietas IR 64

2 Asal benih(produksi sendiri atau


Beli, benih bersertifikat
beli, bersertifikat)

3 Jarak Tanam 25 cm x 25 cm

4 Sistem tanam (jajar legowo, SRI,


konvensional
konvensional)
5 Jumlah benih/ha 3 pak (1 kg per 0,5 petak)

6 Jenis pupuk yang digunakan

Kotoran kelinci (tanpa


a. Pupuk organic takaran)

b. Pupuk Urea
Tanpa takaran
c. Pupuk SP 36

7. Umur panen (hst) 90 hari

8 Cara panen Tepasan

9 Hasil panen 1,5 kw per petak

Beberapa hal yang berdampak besar bagi produksi

No Uraian Keterangan

Memakai biaya
1 Kekurangan modal
sendiri

Tidak memakai
2 Mahalnya tenaga kerja tenaga kerja, hanya
sewa alat traktor

3 Langkanya ketersediaan pupuk tidak

4 Tingginya serangan hama Jarang terjadi

5 Tingginya serangan penyakit Jarang terjadi

Sebagian hasil
panen disimpan
6 Rendahnya harga jual
hingga panen
berikutnya
Wajar, diatasi
7 Rendahnya kesuburan tanah dengan pupuk
kandang

8 Air terkena limbah -

9 Bencana alam (longsor, banjir, dll) Tidak terjadi

 Stabilitas
Stabilitas diartikan sebagai tingkat produksi yang dapat dipertahankan
dalam kondisi konstan normal, meskipun kondisi lingkungan berubah. Suatu
sistem dapat dikatakan memiliki kestabilan tinggi apabila hanya sedikit saja
mengalami fluktuasi ketika sistem usaha tani tersebut mengalami
gangguan.Sebaliknya, sistem itu dikatakan memiliki kestabilan rendah apabila
fluktuasi yang dialami sistem usaha tani tersebut besar. Kendala produksi yang
dialami oleh Bapak Buadi adalah iklim seperti curah hujan yang tak menentu
yang akan mengakibatkan menurunnya produktivitas padi. Penurunan hasil
produksi pernah dialami, akan tetapi fluktuasinya tidak terlalu tinggi sehingga
agroekosistem dilahan ini tergolong stabil. Penurunan produksi pernah terjadi
dikarenakan lahan sawah milik Bapak Buadi kekeringan higga tanahnya pecah
atau retak. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa
“Produktifitas menerus yang tidak terganggu oleh perubahan kecil dari
lingkungan sekitarnya. Fluktuasi ini mungkin disebabkan karena perubahan
iklim atau sumber air yang tersedia, atau kebutuhan pasar akan bahan makanan”
(Marten, 1998).
 Keberlanjutan
Pada lahan basah (lahan sawah) milik Bapak Buadi ini belum
menerapkan prinsip PHT seutuhnya. Bapak Buadi menerangkan bahwa
pada tanaman padi yang beliau tanam, jarang muncul penyakit. Hama yang
sering ditemukan adalah burung pipit yang menyerang pada saat padi
masak muda, selain itu adalah belalang yang memakan daun padi.
Pengendalian yang diterapkan Bapak Buadi yaitu menggunakan cara
mekanik, dengan jaring untuk melindungi tanaman padinya. Bapak Buadi
tidak pernah menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama pada lahan
yang digarapnya. Sayangnya, pengetahuan mengenai hama penyakit masih
sedikit sehingga terkadang beliau tidak bisa mengidentifikasi hama dan
penyakit aktual yang ditemukan di lahannya.
Sedangkan untuk pemupukan, beliau menggunakan sisa sisa jerami
pasca panen yang dibakar lalu dibenamkan kembali dalam tanah. Jerami
yang dibenamkan akan mempengaruhi nilai C-Organik tanah. Selain itu,
beliau menggunakan pupuk kandang berupa kotoran kelinci sebagai pupuk
organik. Pupuk organik baik untuk tanah karena akan memperbaiki tekstur
tanah dan tidak akan mengakibatkan penumpukan garam mineral pada
tanah. Namun seringnya beliau menggunakan pupuk kimia berupa pupuk
urea dan SP 36.
Salikin (2003) mengatakan sistem pertanian berkelanjutan dapat
dilaksanakan dengan menggunakan empat macam model sistem, yaitu
sistem pertanian organik, sistem pertanian terpadu, sistem pertanian
masukan luar rendah, dan sistem pengendalian hama terpadu sedangkan
beberapa alternatif yang dapat dikemukakan dalam usaha mewujudkan
pertanian berkelanjutan melalui pertanian secara terpadu adalah dengan
cara: sistem tanam ganda, komplementari hewan ternak dan tumbuhan,
usaha terpadu peternakan dan perkebunan, agroforestry, pemeliharaan dan
peningkatan sumberdaya genetik dan pengelolaan hama terpadu yang
sedang gencar-gencarnya dicanangkan oleh Departeman Pertanian adalah
pola usaha tani terpadu.
 Kemerataan
Aspek kemerataan dalam agroekosistem digunakan untuk menggam
barkan bagaimana hasil-hasil pertanian dinikmati oleh segenap lapisan
masyarakat. Pada lahan padi yang digarap Bapak Buadi, kami mengamati
bahwa agroekosistem tersebut belum memiliki suatu sistem usaha tani yang
memiliki suatu ekuitabilitas atau pemerataan sosial yang tinggi karena
penduduk sekitar belum memperoleh manfaat pendapatan, pangan, dan
lain-lain yang cukup merata dari sumber daya yang ada.
Menurut Marten (1998), indikator kemerataan antara lain rata-rata
keluarga petani memiliki akses lahan yang luasnya tidak terlalu berbeda atau
senjang. Pemerataan biasanya diukur melalui distribusi keuntungan dan
kerugian yang terkait dengan produksi barang dan jasa dari agroekosistem
4.1.1 Lahan Jagung Jatimulyo
 Sejarah Lahan
Lahan kering yang disurvei adalah lahan yang dikelola Bapak Buadi
dan Ibu Sumiyati, seluas 1 petakan dengan status lahan ini sebagai lahan
sewa. Setiap panen, beliau membayar biaya Rp 300.000,00 kepada pemilik
lahan. Lahan Tersebut ditanami komoditas padi (Zea mays)
Pangolahan tanah pada lahan tersebut dilakukan secara manual
dengan cangkul. Sebelum dilakukan penanaman, lahan pada tanah tersebut
diberikan pupuk organik berupa kotoran kelinci yang sudah berbentuk
seperti tanah.
Sebelum ditanami jagung, petak lahan tersebut ditanami tanaman
kangkung dan sawi, namun karena tidak berproduksi secara optimal, Bapak
Buadi menggantinya dengan tanaman jagung. Tanaman jagung yang
sekarang beliau tanam ditanam dengan sistem tumpangsari.
 Produktivitas
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, menunjukkan
bahwa Hasil panen satu petak lahan yang digarap Bapak Buadi yaitu
sebesar 10 kg untuk tanaman jagung, 1-1,5 kg untuk tanaman kedelai hitam
dan kacang panjang yang setiap harinya dapat dipetik 5-6 ikat. Hasil panen
dikonsumsi sendiri oleh Keluarga Bapak Buadi. Bapak Buadi menjual
kepada tetangga, dengan komoditas yang biasanya dibeli adalah kacang
panjang seharga Rp 5.000,00 per ikat.
Hama dan penyakit yang ditemukan pada petak lahan kering yang
ditanami jagung tersebut diantaranya adalah ulat daun dan ulat penggerek.
dan Bapak Buadi menyebutkan bahwa terdapat jagung yang pucuknya
mengalami penyakit berupa gejala bekas putih kekuningan yang kami
identifikasi sebagai penyakit bulai. Pengendalian Hama dan penyakit pada
lahan tersebut dilakukan secara manual, terkadang dibiarkan saja. Beliau
tidak mengaplikasikan pestisida ataupun insektida. Intensitas serangan
hama dan penyakit tersebut tidak terlalu berpengaruh pada produktifitas
jagung di lahan beliau.
Berikut adalah tabel uraian tanaman padi yang ditanam di lahan
sawah Baapak Buadi;
No Uraian Keterangan

1 - Jagung biasa (tidak


diketahui Varietasnya)
Jenis Tanaman
- Kedelai hitam

- Kacang panjang

2 Asal benih(produksi sendiri atau Beli di Pasuruan untuk benih


beli, bersertifikat) kedelai hitam

3 Jarak Tanam 25 cm x 25 cm

4 Sistem tanam Tumpangsari

5 Jumlah benih/ha Tidak menggunakan takaran

6 Jenis pupuk yang digunakan

Kotoran kelinci (tanpa


d. Pupuk organic takaran)

e. Pupuk Urea
Tanpa takaran
f. Pupuk SP 36

 Stabilitas
Lahan jagung yang dikelola bapak Buadi dapat dikatakan sudah cukup
stabil karena pada musim tanam akhir akhir ini, produksinya tetap.
Sebelumnya jangung yang ditanam sempat tidak tumbuh. Kemudian beliau
menanami legume pada lahan tersebut. Dugaannya adalah karena masalah
unsur hara pada tanah.
 Keberlanjutan
Lahan jagung Bapak Buadi dapat dikatakan berlanjut karena sudah
menerapkan sistem pertanian tumpangsari, penggunaan pupuk organik, dan
pengendalian hama yang tidak meggunakan bahan kimia yang menimbulkan
residu pada tanah. Namun untuk penggunaan pupuk kimia perlu diberikan
takaran agar tidak merusak kualitas tanah pada lahan tersebut. Sistem taman
tumpang sari yang diterapkan Bapak Buadi mendukung keberlanjutan pada
lahan tersebut.
 Kemerataan
Aspek kemerataan dalam agroekosistem digunakan untuk menggam
barkan bagaimana hasil-hasil pertanian dinikmati oleh segenap lapisan
masyarakat. Lahan yang digarap Bapak Buadi, belum memiliki suatu sistem
usaha tani yang memiliki suatu ekuitabilitas atau pemerataan sosial yang
tinggi karena penduduk sekitar belum memperoleh manfaat pendapatan,
pangan, dan lain-lain yang cukup merata dari sumber daya yang ada.

4.2 Perbandingan Agroekosistem Lahan Basah dan Kering

Pengamatan lahan basah dan kering dilakukan di beberapa lokasi yang


berbeda. Lahan basah yang diamati adalah lahan dengan komoditas padi di
Jatimulyo dan Mertojoyo, dan lahan kering yang diamati adalah lahan jagung di
Jatimulyo dan Kecamatan Dau. Pengelolaan yang dilakukan juga berbeda oleh
masing-masing petani yang mengolahnya.

Pada lahan padi di Jatimulyo, sebelum ditanam, lahan diolah terlebih dahulu
dengan menggenangi lahan tersebut hingga basah, lalu dibajak dengan traktor.
Pengelolaan yang sama juga dilakukan pada pengolahan lahan tanaman padi yang
berada di kawasan Mertojoyo. Penanaman padi di lahan Jatimulyo ditanam
dengan cara menyebar benih secara langsung pada lahan, sedangkan pada lahan
di Mertojoyo, dilakukan penanaman secara manual dengan jarak tanam sebesar 2
jengkal, yang artinya tidak terdapat ukuran pasti jarak tanam tersebut.

Pada lahan jagung di Jatimulyo, lahan dibentuk menjadi guludan-guludan


yang akan ditanami. Penanaman jagung di Jatimulyo ini tidak berhasil, sebab
jagung yang tumbuh tidak merata dan sebagian tanaman jagung tidak tumbuh.
Pada lahan pertanaman jagung di lahan Dau, digunakan pupuk organik berupa
pupuk kandang ternak sapi yang diberikan saat pengolahan tanah sebelum tanam.
Pertanaman ini tidak memperhatikan jarak tanam ditanam secara monokultur.
BAB V

KESIMPULAN

Pada lahan padi, sebelum ditanam, lahan diolah terlebih dahulu dengan
menggenangi lahan tersebut hingga basah, lalu dibajak dengan traktor. Padi ditanam
dengan cara menyebar benih secara langsung atau secara manual dengan jarak tanam
sebesar 2 jengkal, yang artinya tidak terdapat ukuran pasti jarak tanam tersebut.
Pada lahan jagung, lahan dibentuk menjadi guludan-guludan yang akan ditanami.
Sebelum itu dilakukan pengolahan tanah. pemupukan dilakukan dengan
menggunakan pupuk organic berupa pupuk kandang
DAFTAR PUSTAKA

Ghildyal. 1984. Pengelolaan Tanah dan Tanaman untuk Usaha Konservasi.


Pemb.Tanah dan Pupuk. Pusat Penelitian Tanah. Bogor.
Gerald G. Marten, 1998. Productivity, Stability, Sustainability, Equitability and
Autonomy as Properties for Agroecosystem Assessment. Jurnal Sistem
Pertanian 26 (1988) 291-316.
Hidayat, A., Hikmatullah, dan D. Santoso. 2000. Poternsi dan Pengelolaan Lahan
Kering Dataran Rendah. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan
PenelitianDan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Marten, Gerald G.,1998. Productivity, Stability, Sustainability, Equitability and
Autonomy as Properties for Agroecosystem Assessment. JurnalSistem Pertanian
26(1988) 291-316.
Reijntjes, Coen ; Haverkort, Bertus ; dan Water-Bayer, Ann. 1999. Pertanian Masa
Depan : Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar
Rendah. terjemahan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Sahari, P. 2005. Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Kandang Terhadap
Pertumbuhandan Hasil Tanaman Krokot Landa (Talinum triangulare
Willd.).Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta
Salikin, K. A. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Scherr, S.J. 2003. Hunger, Proverty and Biodiversity in Developing Countries. A.
Paper for the Mexico Summit, 2-3 June 2003, Mexico.
Siregar, Hardian. 1981 .Budidaya Tanaman Padi di Indonesia .Bogor : PT.Sastra
Hudaya
Sjarifuddin Musa. 1999. Refleksi Pertanian. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Soegiarto, B., Djafar B., dan Edi S. 1993. Strategi dan program penelitian
hama-hama tanaman pangan PJPT II.Seminar Hama Tanaman, 4-7 Maret
1993 di Sukarami.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.Balai
penelitian Tanaman Pangan Sukarami.
Soejitno, J. ean Edi S. 1993.Arah dan strategi penelitian ambang ekonomi hama
tanaman pangan.Seminar Hama Tanaman, 4-7 Maret 1993 di Sukarami.Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.Balai penelitian Tanaman
Pangan Sukarami.
LAMPIRAN

(Wawancara bersama Bapak Sainuri, (Lahan sawah di Mertojoyo)


Petani Jagung)

(Lahan Jagung di Karangprloso)


(Data Pengamatan)

(Jagung di lahan Karangploso)


(Data Pengamatan)