Anda di halaman 1dari 12

tingkat konsumsi makanan, yaitu jumlah dan distribusi

makanan dalam rumah tangga. Dengan jumlah dan distribusi


makanan dalam rumah tangga. Dengan jumlah anggota
keluarga besar diikuti dengan distribusi makanan yang tidak
merata, dengan asumsi orang dewasa lebih banyak di
bandingkan anak-anak akan menyebabkan anak balita dalam
keluarga tersebut menderita kurang gizi.
BKKBN (2008) mengelompokan jumlah anak dalam keluarga
menjadi 3, yaitu :
1. Keluarga kecil ≤ 4 orang
2. Sedang 5-7 orang
3. Besar > 7 orang
Hasil penelitian Amos (2000) yang mengemukakan ada
hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan status gizi
balita. Semakin besar jumlah anggota keluarga, maka semakin
besar risiko terjadinya masalh status gizi balita.

2.3.3 Ketersediaan
Ketersedian pangan adalah ketersedian pangan secara fisik
disuatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan
domestic, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan
pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut,
perdangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah terbut, stok
yang di miliki oleh perdagangan pangan dan cadangan pemerintah,
dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisai lainnya.
Ketersediaan pangan tingkat rumah tangga artimya
ketersediaan pangan di sebuah rumah tangga baik stok yang
dimiliki, hasil dari kebun sendiri, memancing, berburu dll serta
yang diberi oleh orang lain.
Metode pengukuran yang di gunakan dalam pengukuran
ketersdiaan pangan salah satunya adalah metode invetasri
(Inventory Method.) prinsipnya dengan cara menhitung atau
mengukur semua persediaan makanan di rumah tangga (berat dan
jenisnya) mulai dari awal sampai akhir survey. Semua makanan

25
yang diterima, dibeli dan dari produksi sendiri dicatat dan
dihitung/ditimbang selama periode pengumpulan data (biasanya
sekitar satu minggu). Semua makanan yang terbuang, tersisa dan
busuk selama penyimpanan dan diberikan pada orang lain atau
binatang peliharaan juga diperjitungkan (Gibson, 2010).
2.3.3.1 Hubungan Antara Ketersediaan Pangan Terhadap Status Gizi
Jika produksi pangan meningkat dan masyarakat mampu
menjangkau pangan tersebut maka kebutuhan gizi masyarakat
akan terpenuhi.
Jika tingkat pendapatan masyarakat tinggi, maka daya beli
masyarakat juga akan meningkat sehingga kemampuan
pemenuhan kebutuhan pangan juga akan menigkat dan kebutuhan
masyarakat juga akan terpenuhi.
Hubungan Ketersediaan Pangan dengan Status Gizi dapat
ditunjukkan oleh konsep yang dikeluarkan oleh Unicef bahwa
ketersediaan pangan yang cukup di tingkat rumah tangga akan
mempengaruhi dikonsumsi makanan semua anggota keluarga dan
selanjutnya status gizi yang baik atau seimbang dapat diperoleh
tubuh untuk tumbuh kembang, aktifitas, kecerdasan,
pemeliharaan kesehatan, penyembuhan penyakit dan proses
biologis lainnya.
Jadi hubungan antara ketersediaan pangan pola konsumsi
terhadap status gizi dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya :
a) Jenis dan banyaknya pangan yang diproduksi dan tersedia.
Jika Produksi pangan meningkat dan masyarakat mampu
menjangkau pangan tersebut maka kebutuhan gizi masyarakat
akan terpenuhi.

b) Tingkat pendapatan
Jika tingkat pendapatan masyarakat tinggi, maka daya beli
masyarakat juga akan meningkat sehingga kemampuan
pemenuhan kebutuhan pangan juga akan meningkat dan
kebutuhan gizi masyarakat juga akan terpenuhi.
c) Pengetahuan Gizi

26
Pengetahuan gizi mempengaruhi pola konsumsi
masyarakat. Pola konsumsi masyarakat haruslah mengandung
Unsur 3B (Bergizi, Berimbang, Beragam). Jika pengetahuan
tentang gizi masyarakat tinggi, maka kesadaran akan pentingnya
makan makanan bergizi juga meningkat sehingga kebutuhan gizi
masyarakat juga akan terpenuhi.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan status gizi
masyarakat dalam kaitannya dengan ketersediaan pangan dan pola
konsumsi diantaranya :
a. Memperluas Lahan Pertanian dan sektor sektor lain yang
mampu menunjang produksi pangan Indonesia (Peternakan,
perikanan)
b. Memperbanyak Jumlah Petani, peternak dan tenaga ahli di
bidang pangan dan gizi
c. Memperbaiki Pola konsumsi masyarakat
d. Pemerintah harus mampu menyediakan pangan yang bergizi
dan mudah dijangkau, baik secara fisik maupun ekonomis
e. Distribusi pangan yang baik
f. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gizi
2.3.4 Pelayanan Kesehatan
Definisi pelayanan kesehatn menurut Depkes RI tahun 2009
adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau bersama-
sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat.
Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat
kesehatan masyarakat, melalui pelayanan yang efektif oleh
pemberi [elayanan, pada institusi pelayanan yang diselenggrakan
seara efisien. Interaksi ketiga pilar utama pelayanan kesahatan
yang serasi, selaras, dan seimbang, merupakan panduan dari
kepuasan tiga pihak, dan ini merupakan pelayanan keshatan yang
memuaskan (Ahmad, dan Djojosugitjo, 2001).
a. Pelayanan Kesehatan Di Posyandu
Posyandu yang meliputi lima program proiritas, yaitu : KB,
KIA, Gizi, Imunisai, dan penggulangan diare dengan sasaran bayi,
anak balita, pasangan usia subur dan ibu hamil. Penyuluhan

27
kesehatan, pemberian makanan tambahan (PMT), tablet vitamin A
dosis tinggi, pemberian oralit, dan terbukti mempunyai daya ungkit
besar terhadap angka kematian bayi (Supariasa, 2001).
b. Kb (Keluarga Berencana)
Keluarga Berencana adalah perencanaan kehamilan, sehingga
kehamilan terjadi pada waktu yang diinginkan. Dalam pelayanan
Keluarga Berencana di posyandu antaralain : pembagian pil KB atau
kondom, suntikan KB, konsultasi KB, alat ontrasepsi dalam rahim
dan imflan (susuk) (Depkes RI, 2009).
c. Imunisasi
Tujuan dari imunisai adlah untuk mengirangi angka
penderitaan suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehtan
bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa
penyakit yang dapat di hindari dengan imunisasi yaitu : hepatitis,
campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air,
TBC.
Jenis-jenis Imunisasi : Imunisasi hepatisi B, Imunisasai polio,
Imunsiasi DPT, Imunisasi BCG, Imunisasi Hib, Imunisasi
Pneumokukus, Influenza, Varisela, MMR, Tifoid, Hepatitis, HPV,
P2D (Pencegahan & Penanggulangan Diare).
Pada dasaranya ada 2 jenis Imunisasi, yaitu :
1. Imunisasi pasif adalah immune gobolin untuk mrncrgah
penyakit campak.
2. Imunisasi aktif :
- BCG, untuk mencegah penyakit TBC
- DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis dan tatanus.
- Polio untuk mencegah penyakit polio meltis.
- Campak untuk mencegah penyakit campak.
Pokok-pokok kegiatan :
1. Pencegahan terhadap bayi (imunisasi lengkap) :
- Imunisasai BCG
- Imunisasi PT 3X
- Imunisasi polio 3X
- Imuniasai campak 1X
2. Pencegahan terhadap anak usia dasar
- Imnusiasi DT
- Imunisasi TT
.
2.3.4.1 Hubungan Antara Pelayanan Kesehatan Dengan Status Gizi

28
Upaya pelayanan kesehatan dasar diarahkan kepada
peningkatan sehatana dan status gizi anak shungga terhindar dari
kematian dini dan mutu fisik yang rendah (Irianto, 2003).
Peran pelayan kesehatan telah lama diadakan untuk
memperbaiki status gizi. Pelayanan kesehatan yang berpengaruh
terhadap kesehatan dengan adanya penanganan yang cepat
terhadap masalah kesehatan terutama masalah gizi (Bumi, 2005).
2.3.5 Sosial Ekonomi
Status ekomoni adalah suatu kedudukan yang diatur secara sosial
dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu (Adi, 2004). penelitian
Najoan, et al. (2010), yang mengungkapkan bahwa tingkat sosial ekonomi
tidak berpengaruh dengan kejadian kurang energi kronik.hasil penelitian
ini berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan Asriningtyas (2010)
dan Surasih (2006), yang mengemukakanbahwa status sosial ekonomi
berpengaruh dengan status gizi pada ibu hamil. Ekonomi seseorang
mempengaruhi dalam pemilihan makanan yang akan dikonsumsi sehari-
hari. Maka seseorang dengan ekonomi yang tinggi maka kemungkinan
besar gizi yang dibutuhkan akan tercukupi serta adanya pemriksaan
kehamilan membuat gizi ibu semakin terpantau.
2.3.5.1 Pendapatan
Masalah utama penduduk miskin pada umumnya sangat
tergantung pada pendapatan per hari yang pada umumnya tidak
dapat mencukupi kebutuhan dasar secara normal. Penduduk miskin
cenderung tidak mempunyai cadangan pangan karena daya belinya
rendah. Pada Tahun 1998, ada 51,0 % rumah tangga di daerah
perkotaan dan 47,5 % rumah tangga di daerah pedesaan mengalami
masalah kekurangan konsumsi pangan (Dini Latief, dkk 2000).
Munurut Indonesia Nutrition Network (INN) tahun 2003
adalah Rp. 96.956 untuk perkotaan dan Rp. 72.780 untuk pedesaan.
Kemudian menteri sosial menyabutkan berdasarkan indikator BPS
garis kemiskinan yang diterapkannya adalah keluarga yang
memiliki penghasilan di bawah RP. 150.000 perbulan. Bahhkan
Bappennas yang sama mendasarkan pada indikator BPS tahun 2005

29
batas kemiskinan keluarga adlah yang memiliki penghasilan di
bawah Rp. 180.000 perbulan.
Jadi pendapatan yang rendah ini menimbulkan keterbatasan
ekonomi, yang berarti tidak mampu membeli bahan makanan yang
berkualitas baik, maka pemenuhan zati gizinya juga akan
terganggu. Produk pangan (jenis dan jumlah makanan), jumlah
macam makanan dan jenis serta banyakanya bahan makanan dalam
pola pangan di suatu negara atau daerah tertentu biasanya
berkembang dari pangan setempat tersebut untuk jangka waktu
yang panjang.
2.3.5.2 Pengeluaran
Pengeluaran rumah tangga/keluarga dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu pengeluaran pangan dan non pangan. Secara
tidak langsung setiap keluarga lebih mendahulukan pemanfaatan
setiap pengularannya digunakakn untuk kebutuhan pangan sehari-
hari, bary kemudian digunakan utnu kebutuhan non pangan. Tetapi
perilaku ini tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya,
sepeti jumlah anggota keluarga, pendidikan kepala keluarga, lokasi
tempat tinggal, musim dan yang terutama pendapatan rumah
tangga (Mangkuprawira, 2000). Jadi, pengeluaran rumah tangga
juga berpengaruh terhadap status gizi balita.

2.3.5.2 Hubungan Pendapatan Dan Pengeluaran Terhadap Status


Gizi
Manusia selalu ingin memenuhi kebutuhan hidupnya baik
moral maupun material, baik kebutuhan penting maupun tidak
sesuai dengan kemampuan mereka.Makanan dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan kesehatan dan melakukan gerak hidupnya.
Peningkatan pendapatan dalam rumah tangga memberikan
kesempatan kepada rumah tangga untuk memperbaiki dan
meningkatkan mutu jumlah dan keragaman pangan yang mereka
beli. Hal ini sesuai dengan pendapat Soekirman (2000:19), yang
menyatakan bahwa keluarga yang berstatus sosial ekonomi yang
rendah atau miskin umumnya menghadapi masalah gizi kurang

30
keadaanya serba terbalik dari masalah gizi lebih dan pendapat
Soetjiningsih (1998:10), yang menyatakan bahwa pendapatan
keluarga yang baik dapat menunjang tumbuh kembang anak.
Karena orang tua menyediakan semua kebutuhan anak-anaknya
Rendahnya pendapatan merupakan rintangan lain yang
menyebabkan orang tidak mampu membeli pangan dalam jumlah
yang diperlukan. Sehingga tinggi rendahnya pendapatan sangat
mempengaruhi daya beli keluarga terhadap bahan pangan yang
akhirnya berpengaruh terhadap status gizi seseorang terutama anak
balita karena pada masa itu diperlukan banyak zat gzi untuk
pertumbuhan dan perkembangannya.
Pendapatan merupakan determinan yang dikenal luas dalam
model perilaku konsumen, dan juga termasuk dalam model
penawaran pangan.Apabila tingkat pendapatan seseorang naik,
maka daya beli seseorang tersebut terhadap makanan cenderung
meningkat. Hal ini terkait dengan jumlah makanan yang akan
dikonsumsi. Apabila seseorang mampu mencukup kebuthan
pangannya tentunya tingkat konsumsi pangan seseorang juga akan
meningkat seiring dengan asupan gizi yang dia dapatkan pula.
Pandangan umum mengenai hubungan antara pendapatan dan
konsumsi pangan berasal dari bukti empiris umum bahwa ada
perbedaan pola konsumsi pangan pada kelompok masyarakat
menengah ke atas dan menengah ke bawah. Umumnya pola
konsumsi pangan kelompok menengah ke bawah lebih sederhana
dimana mereka lebih mengutamakan mengonsumsi sumber kalori
yang murah (bahan pangan pokok) dan mudah dijangkau terlepas
dari apakah yang dia konsumsi mengandung zat gizi yang
diperlukan oleh tubuhnya atai tidak, sedangkan pada kelompok
menengah ke atas pola konsumsi pangannnya lebih beragam
dengan lebih banyak mengonsumsi pangan sumber protein dan
vitamin sehingga pola konsumsi bertambah dan asupan gizi juga
akan maksimal (Hardinsyah, 2007).
2.3.6 Sosial Budaya

31
Menurut Andreas Eppink, sosial nudaya atau kebudayaan adalah
segala sesuatu atau tata nilai yang berlaku dalam sebuah masyarakay yang
menjadi ciri-ciri khas dari masyarakat tersebut.
2.3.6.1 Pengetahuan
Menurut Notoatmojo (2003) pengetahuan seseorang biasanya
dipeoleh dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber,
misalnya media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas
keshatan, media poster, kerabat dekat dan sebagainya.

2.3.6.2 Kebiasaan Makan


Di dalam masyakata dikenal dengan stilah nilai sosial terhadap
berbagai jenis makanan dan bahan makanan, karena itu masyarakat
akan mengkosumsi bahan makanan dan makanan tertentu yang
mempunyai nilai dan dianggap sesuai dengan ngkat naluri pangan
yang terdapat pada masyarakat tersebut. Misalnya, beras pecah kulit
mempunyai nilai gizi tingggi tetapi dianggap mempunyai nilai sosial
yang lebih rendah dibandingkan dengan giling sempurna. Pengaruh
kebiasaan dan kebudayaan yang ada membatasi masyarakat dalam
mengkonsumsi makanan (Moehji, 2003).
2.3.6.3 Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Status Gizi
Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap
sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan yang pada akhirnya
akan berpengaruh pada keadaan gizi individu yang bersangkutan.
Semakin tinggi pengetahuan gizi seseorang diharapkan semakin baik
pula keadaan gizinya (Irawati et al. 1992). Namun berdasarkan uji
korelasi pearson tidak terdapat perbedaan yang nyata antara
pengetahuan gizi dengan status gizi. Hal ini menunjukkan bahwa
tingkat pengetahuan gizi yang baik belum tentu diikuti dengan pola
makan dan konsumsi pangan yang baik
Apriadji (1986) mengemukakan bahwa faktor-faktor berperan
dalam menentukan status gizi seseorang pada dasarnya terdiri dari 2
bagian yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yaitu
faktor yang berpengaruh di luar seseorang (konsumsi makanan,
tingkat pendidikan, pengetahuan gizi, latar belakang sosial budaya,

32
serta kebersihan lingkungan). Faktor internal yang dimaksud adalah
faktor yang menjadi dasar pemenuhan tingkat kebutuhan gizi
seseorang (status kesehatan, usia, dan jenis kelamin).
a. Hubungan Pengetahuan Ibu Terhadap status gizi Balita
Pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang gizi dan kesehatan
merupakan faktor yang menentukan dalam penyediaan pangan dalam
keluarga. Ibu-ibu yang berpengetahuan gizi baik akan mengupayakan
kemampuan menerapkan pengetahuannya di dalam pemilihan dan
pengolahan pangan, sehingga konsumsi pangan yang mencukupi
kebutuhan lebih terjamin (Khumaidi 1989). Semakin bertambah
pengetahuan ibu maka seorang ibu akan semakin mengerti jenis dan
jumlah makanan untuk dikonsumsi balitanya sehingga dapat
mengurangi atau mencegah gangguan gizi pada balita.
Menurut Suharjo (1988) salah satu penyebab dari gangguan
gizi adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi atau kemampuan
untuk menerepkan informasi yang diperoleh dalam kehidupan sehari-
hari.
2.3.7 Kesehatan Lingkungan
Kesehatan lingkungan merupakan suatu kondisi yang
berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang
optimum. Kesehatan limgkungan masyarakat antara lain
perumahan, pembuangan sampah, pembuangan tinja, penyediaan
air bersih, pembuangan air limbah dan sebagainya maslah air
bersih, dalam pengadaannya harus didukung oleh sarana yang
mempengaruhi syarat-syarat kesehatan (Azwar, 2000).
2.3.7.1 Air bersih
Air merupakan kebutuhan yang sangat esensial bagi manusia,
karena didalam tubuh manusia air berkisar 50-70% dari seluruh
berat badan. Kebutuhan manusia akan air setiap hari minimal 1,5-2
liter untuk diminum, sebab jika manusia kekurangan air maka akan
menyebabkan kematian (Slamet, 2002).
2.3.7.2 Mandi,Cuci dan Kakus
MCK merupakan singkatan dari Mandi, Cuci, Kakus adlah
salah satu sarana fasilitas umum yang digunkan bersama oleh
bebrapa keluarga untuk keperluan mandi, mencuci, dan buang air di

33
lokasi pemukiman tertentu yang dinilai berpenduduk padat dan
tingkat kemampuan ekomoni rendah (Pengembangan Prasarana
Perdesaan (P2D), 2002).
2.3.7.3 Pengolahan Limbah
Azrul Azwar (2000) mendefinisikan air limbah adalah
kotoran air bekas tidak bersih yang mengandung berbagai zat
yang membahayakan kehidupan manusia dan hewan lainnya yang
muncul karena hasil perbuatan manusia.
2.3.7.4 Pengolahan Sampah
Munurut deinisi WHO, sampah adalah sesuatu yang
dgunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang
dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi
dengan sendirinya. (Budiman, 2007).
Ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam
pengolahan sampah antara lain : (1) Harus ditutup sehingga tidak
menjaditempat bersarangnya serangga atau binatang-binatang
lainnya seperti tikus, lalat dan kecoa. (2) Pengangkutan atau
pengumpulan sampah (colection) atau sampah di tampung dalam
tempat sampah sementara dikumpul kemudian diangkut dan
dibuang. Pada pengumpulan dan pengankutan sampah dapat
dilakukan perorangan, pemerintah dan swasta.
2.3.7.5 Hubungan Kesehatan Lingkungan terhadap Status Gizi Balita
Sanitasi lingkungan sehat secara tidak langsung
mempengaruhi kesehatan anak balita yang pada akhirnya dapat
mempengaruhi kondisi status gizi anak balita.
Penyebab kurang gizi secara langsung adalah konsumsi
makanan tidak seimbang dan penyakit infeksi. Di samping
konsumsi makanan dan penyakit infeksi, status gizi juga
dipengaruhi oleh sosiodemografi, sanitasi lingkungan, dan
pelayanan kesehatan.
Proporsi Anak balita status gizi kurang (BB/U) yang
tumbuh di lingkungan yang tidak sehat, lebih besar di banding di
lingkungan sehat. Sebaliknya pada status gizi baik, proporsi anak
balita yang tinggal di sanitasi sehat, terlihat lebih besar, dibanding
di lingkungan yang tidak sehat. Hal ini menunjukkan hubungan

34
bermakna antara status gizi berdasarkan BB/U dengan sanitasi
lingkungan.
Masalah gizi pada bayi dan anak balita di Indonesia
disebabkan penyakit infeksi yang erat kaitannya dengan sanitasi
lingkungan.Penyakit infeksi yang sering diderita oleh anak balita
umumnya adalah diare, radang tenggorokan, infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA).Diare terjadi pada anak balita karena
sistem pertahanan tubuh anak rendah.
Penyakit diare termasuk salah satu penyakit dengan sumber
penularan melalui air (water borne diseases).Kurangnya akses
masyarakat terhadap air bersih atau air minum serta buruknya
sanitasi dan perilaku higiene berkontribusi terhadap kematian 1,8
juta orang per tahun karena diare. Upaya penurunan angka kejadian
penyakit bayi dan balita dapat diusahakan dengan menciptakan
sanitasi lingkungan yang sehat, yang pada akhirnya akan
memperbaiki status gizinya.
Hasil analisis data menyatakan bahwa proporsi balita yang
menderita diare, terjadi lebih besar pada balita berstatus gizi
kurang (BB/U).Demikian halnya pada anak balita pendek (TB/U),
serta kurus (BB/TB) juga mempunyai proporsi lebih besar
dibanding proporsi anak balita yang tidak sakit diare.
Pada balita yang sering mengalami diare akan berpeluang
menjadi penderita gizi kurang, pendek dan mengalami kekurusan,
satu kali lebih besar dibanding pada anak balita yang normal atau
anak balita status gizi baik.

2.4 Kerangka Teori


Berdasarkan penjelasan dari bab sebelumnya, maka kerangka teori yang
digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

keturunan

Pelayanan Derajat
lingkungan
kesehatan kesehatan
Gambar 2.1
Sumber : Hendrik L.Blum (1974)
perilaku

35
2.5 Kerangka Konsep

Karakteristik keluarga :

Umur orang tua

Pendidikan orang tua

Pekerjaan orang tua

Jumlah anggota keluarga

Jenis kelamin balita


Ketersedian Pangan

Sosial Ekonomi :
Tingkat Status gizi
Pengeluaran Konsumsi
Pendapatan

Sosial Budaya :

Pengetahuan

Kebiasaan
Penyakit infeksi

Kesehatan Lingkungan

Pelayanan Kesehatan

Gambar 2.2

36