Anda di halaman 1dari 25

HYPERTENSION HEART DISEASE

Disusun oleh :

CHARLA SYAFEFI
NIM : 11108114622

Pembimbing:
dr. Pramudjo Abdulgani, Sp.JP(K)-FIHA

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER BAGIAN


KARDIOLOGI DAN KEDOKTERAN VASKULER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMADPEKANBARU
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di pembuluh darah

meningkat secara kronis.1 Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik

yang sama atau lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik yang sama atau

lebih dari 90 mmHg. Prevalensi hipertensi secara umum sebesar 30-45% dan

meningkat seiring bertambahnya usia.2 Satu dari tiga orang di Amerika meng

hipertensi.3 Prevalensi hipertensi di Indonesia tahun 2013 adalah 25,8 %.1

Faktor resiko dari penyakit hipertensi adalah pasien dengan jenis kelamin

laki-laki, laki-laki yang berusia diatas 55 tahun, perempuan yang berusia di atas

65 tahun, pasien dengan dislipidemia, peningkatan gula darah puasa, obesitas dan

keluarga dengan riwayat penyakit kardiovaskuler.4

Hipertensi dapat menyebabkan gangguan organ tubuh. Organ tubuh yang

dapat diserang seperti jantung, ginjal, mata, otak dan pembuluh darah . Gangguan

jantung yang dapat disebabkan oleh hipertensi seperrti penyakit jantung koroner,

gagal jantung, fibrilasi atrium dan hipertrofi ventrikel kiri.2 Penyakit hipertensi

yang dideteksi dengan cepat dan diterapi dengan tepat dapat mencegah kerusakan

dari organ target.5

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

2.1.1 Definisi

Hipertensi adalah kenaikan tekanan sitolik besar atau sama dengan 140

mmHg dan tekanan diastolik besar atau sama dengan 90 mmHg.2

2.1.2 Mekanisme pengaturan tekanan darah

TEKANAN DARAH

Curah jantung Resistensi


perifer

Frekuensi Isi sekuncup


Tonus Elastisitas p.
p.darah darah
perifer
Kontraktilitas Volume
miokard darah

Parasimpatis Simpatis SRAA Faktor Lokal


H ditent

Mekanisme pengaturan tekanan darah6

2
Tekanan darah ditentukan oleh dua faktor utama yaitu curah jantung dan

resistensi vaskuler perifer. Curah jantung adalah hasil kali antara frekuensi denyut

jantung dengan isi sekuncup, sedangkan isi sekuncup ditentukan oleh aliran balik

vena dan kekuatan kontraksi miokard. Resistensi perifer ditentukan oleh tonus

otot pembuluh darah, elastisitas pembuluh darah, dan viskositas darah. Semua hal

di atas dipengaruhi oleh saraf simpatis dan parasimpatis, sistem renin-angiotensin-

aldosteron dan faktor lokal berupa bahan-bahan vasoaktif yang diproduksi oleh sel

endotel pembuluh darah.

Sistem saraf simpatis cenderung meningkatkan pembuluh darah dengan

meningkatkan frekuensi denyut jantung, memperkuat kontraktilitas miokard dan

meningkatkan resistensi pembuluh darah. Sistem parasimpatis bersifat

menurunkan tekanan darah karena menurunkan frekuensi denyut jantung. SRAA

bersifat vasokontriksi angiotensin II dan perangsangan aldosteron yang

menyebabkan retensi natrium di ginjal sehingga meningkatkan volume darah. Sel

endotel memproduksi bahan vasoaktif seperti endotelin, tromboksan A2 dan

angiotensin II lokal. Sel endotelium juga memproduksi bahan vasodilator seperti

endothelium-derived relaxing factor (EDRF) atau nitird oxid dan prostasiklin.6

2.1.3 Faktor resiko

Faktor resiko hipertensi antara lain laki-laki, usia laki-laki yang lebih atau

sama dengan 55 tahun dan perempuan lebih atau sama dengan 65 tahun,

dislipidemia, glukosa darah puasa antara 102-125 mg/dl, glukosa darah puasa

terganggu, obesitas, dan riwayat keluarga dengan hipertensi.2

3
2.1.4 Etiologi hipertensi

Etiologi dari hipertensi adalah sebagai berikut:3,7

a. Hipertensi primer

Penyebab dari hipertensi primer ini tidak diketahui. Penyebab hipertensi

umumnya adalah hipertensi primer sebanyak 95%.

b. Hipertensi sekunder

Hipertensi sekunder dapat ditemukan pada gagal ginjal kronis, stenosis

arteri ginjal, pheokromositoma dan sleep apneu.

2.1.5 Klasifikasi

Joint Nation Committe 7 (JNC 7) membagi hipertensi sebagai berikut:4

Klasifikasi tekanan Tekanan darah Tekanan darah

darah sistolik (mmHg) diastolik (mmHg)

Normal <120 <80

Prehipertensi 120-139 80-89

Hipertensi derajat 1 140-159 90-99

Hipertensi derajat 2 >160 >100

2.1.6 Diagnosa

Tujuan dari diagnosis adalah:8

1. Mengkonfirmasi diagnosis hipertensi

2. Mendeteksi penyebab hipertensi sekunder

3. Mendeteksi faktor resiko kardiovaskuler serta kerusakan organ.

4
Hipertensi didiagnosisi dengan peningktan tekanan darah sistolik yang

lebih atau sama dengan 140 mmHg dan tekanan darah disatolik lebih atau sama

dengan 90 mmHg setidaknya diukur dalam 2 kali pengukuran dan minimal dalam

2 kali kunjungan.2

Pemeriksaan fisik:3

1. Pengukuran Body Mass Index: berguna untuk menentukan resiko penyakit

kardiovaskuler.

2. Waist circumference: menilai resiko gangguan metabolik dan penyakit

dibetes melitus tipe 2 (DM tipe 2).

3. Tanda-tanda gagal jantung: menentukan terapi hipertensi. Hipertropi

ventrikel kiri dapat dilakukan pemeriksaan palpasi, dan gagal jantung

dapat diperiksa dengan peningkatan vena jugularis, pemeriksaan dada,

pembesaran hati, dan udem pada ekstremitas.

4. Stastus neurologi: melihat gejala stroke dan efek pengobatan.

5. Mata: pemeriksaan funduskopi.

6. Pulsasi : kurangnya atau hilangnya pulsasi pada daerah peripheral dapat

mengindikasikan penyakit arteri perifer.

Pemeriksaan penunjang:3

1. Pemeriksaan darah

- Elektrolit: tingginya kadar kalium dapat mengindikasikan adanya

gangguan ginjal.

5
- Gula darah puasa (GDP) : Mengindikasikan adanya toleransi glukosa

terganggu dan diabetes melitus.

- Kreatinin : peningkatan kadar kreatinin dapat mengindikasikan adanya

gangguan ginjal.

- Pemeriksaan kadar kolesterol: peningkatan kadar Low Density

Lipoprotein (LDL) dan penurunan kadar High Density Lipoprotein (HDL)

meningkatan resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler.

- Hemoglobin dan hematrokit : menandakan adanya anemia dan gangguan

ginjal kronik.

2. Pemeriksaan urin :

- Albuminuria menandakan adanya gangguan ginjal.

- Eritrosit dan leukosit : penemuan pada urin menadakan adanya infeksi

traktus urinarius.

Pemeriksaan untuk menilai kerusakan organ target:2

1. Jantung

- Elektrokardiografi: elektrokardiografi merupakan pemeriksaan yang

rutin dilaksanakan pada pasien hipertensi. Pada pemeriksaan ini dapat

dinilai hipertrofi ventrikel kiri, iskemia, gangguan konduksi, dan

gangguan irama jantung.

- Ekokardiografi: pemeriksaan ini lebih sensitif dibandingkan

elektrokardiografi dalam mendiagnosis hipertrofi ventrikel kiri tapi tidak

rutin dilaksanakan.

6
2. Pembuluh darah :

- Pemeriksaan ultrasongrafi: melihat ketebalan lapisan medial pembuluh

darah dan melihat plak yang dapat menyebabkan infark miokard dan

stroke.

- Pemeriksaan ankle brachial index (ABI): mendeteksi penyakit arteri

perifer.

3. Ginjal: penurunan fungsi ginjal dan peningkatan kadar albumin.

Peningkatan kadar sistatin dan kreatinin serum dapat menyebabkan

gangguan ginjal dan penyakit kardiovakuler.

4. Mata: Hipertensi retinopati dapat didiagnosis dengan pemeriksaan

funduskopi.

5. Otak: hipertensi dapat menyebabkan terjadinya stroke, berhubungan

dengan kerusakan otak yang asimtomatik yang dapat dilihat dengan MRI

pada pasien yang sudah tua.

7
2.1.7 Penatalaksanaan

Algoritma penatalaksanaan hipertensi berdasarkan JNC 8:4

8
Penatalaksanaan hipertensi dibagi menjadi:

1. Terapi Nonfarmakologi3

- Mengurangi makanan tinggi garam

- Tidak mengkonsumsi minuman beralkohol

- Hindari merokok

- Mengkonsumsi buah dan sayuran dan makanan rendah lemak

- Olahraga selama lebih kurang 30 menit, sebanyak 5-7 kali dalam

seminggu

2. Terapi Farmakologis

Obat-obat yang digunakan pada hipertensi adalah sebagai berikut:6

Obat Dosis (mg) Pemberian Sediaan


Diuretik
-diuretik tiazid
Hidrokorotiazid 12,5-25 1x sehari Tab 50 mg
Indapamid 1,25-2,5 1x sehari Tab 2,5 mg
-diuretik kuat
 Furosemid 20-80 2-3x sehari Tab 40 mg, amp 20
mg
-diuretik hemat
kalium
 spironolakton 25-100 1x sehari Tab 25 dan 100 mg

ACEI
- Captopril 25-100 2-3 x sehari Tab 12,5 dan 25 mg

-Ramipril 2,5-20 1x sehari Tab 10 mg


-Lisinopril 10-40 1x sehari Tab 5 dan 10 mg

ARB
-Losartan 25-100 1-2 x sehari Tab 50 mg
-Valsartan 80-320 1x sehari Tab 40 dan 80 mg

Beta Bloker
 nonselektif
-Propanolol 40, max 160 2-3 x sehari Tab 10 dan 40 mg

 Kardioselekti

9
-Bisoprolol 2,5, max 10 1xsehari Tab 5 mg
-Atenolol 25, maax 100 1x sehari Tab 50 dan 100 mg
CCB
-Amlodipin 2,5-10 1x sehari Tab 5 dan 10 mg
Tab 30 dan 60 mg,
-Diltiazem 90-180 3x sehari amp 50 mg

-Verapamil 80-320 mg 2-3 x sehari Tab 40,80,120 mg,


amp 2,5 mg/ml
Aldosteron
antagonis
-Spironolakton 12,5 mg 1x sehari Tab 25 dan 100 mga

Target tekanan darah dari penatalaksanaan penyakit hipertensi adalah :2

- Tekanan darah sistolik

Target tekanan darah sistolik yang diharapkan dari terapi hipertensi

adalah <140 mmHg.

- Tekanan darah diastolik

Target teknanan darah diastolik yang diharapkan dari terapi hipertensi

adalah < 90 mmHg.

10
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

- Nama : Ny. ES

- Usia : 58 Tahun¸ 9 Bulan

- Jenis kelamin : Perempuan

- Agama : Islam

- Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

- Status : Janda

- Alamat : Jl. Jendral Sudirman No.230 Bengkalis

- Tanggal masuk RS : 2 April 2015

- Tanggal pemeriksaan : 4 April 2015

3.2 Anamnesis

- Keluhan utama

Nyeri dada seperti ditusuk 2 jam sebelum masuk rumah sakit (SMRS).

- Riwayat Penyakit Sekarang

2 Jam SMRS :Pasien mengeluh nyeri dada seperti ditusuk, nyeri dada

menjalar sampai ke punggung. Nyeri dirasakan selama 5-10

menit. Pasien tidak mengeluhkan sesak, mual (-), muntah (-

). Tekanan darah pasien adalah 170/110 mmHg. Pasien

dirujuk ke RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Setelah 1

11
hari dirawat di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau pasien

mengeluhkan nyeri terasa sampai ke lengan kiri.

6 bulan SMRS : Pasien mengeluhkan sudah pernah mengalami nyeri dada

tapi hilang bila beristirahat.

- Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi (+) : Hipertensi sudah dialami pasien lebih kurang 10 tahun

yang lalu. Pasien mengkonsumsi obat hipertensi bila

tekanan darah tinggi, dan menghentikan konsumsi obat bila

tekanan darah sudah kembali normal.

Maag (+) : Riwayat nyeri pada ulu hati sudah dialami pasien dalam

waktu satu tahun belakangan ini. Pasien mengaku sering

terlambat makan.

Diabetes militus (-)\

Asma (-)

Hipertiroid (-)

- Riwayat Penyakit Keluarga

Terdapat riwayat penyakit hipertensi dalam keluarga.

- Riwayat pekerjaan, kebiasaan, dan sosial ekonomi

Riwayat obstetri : P5A0H4

Kebiasaan mengkonsumsi makanan bersantan dan makan sering terlambat.

Pasien mengatakan jarang berolahraga.

12
3.3 Pemeriksaan Fisik

- Pemeriksan umum

- Kesadaran : Kompos mentis

- Keadaan umum : Tampak sakit ringan

- Tekanan darah : 150/90 mmHg

- Nadi : 86 x/menit

- Nafas : 20 x/menit

- Suhu : 35,6 °C suhu aksila

- Berat badan : 50 kg

-Tinggi badan : 150 cm

-BMI : 22,2 (normoweight)

- Kepala dan leher

- Kulit dan wajah : tidak sembab

- Konjungtiva : tidak anemis

- Sklera : tidak ikterik

- pupil : bulat, isokor diameter 3mm/3mm, refleks cahaya

+/+

- Leher :tidak terdapat pembesaran KGB, tidak ada

pembesaran tiroid dan JVP dalam batas normal (5-

2).

-Thoraks

1. Paru-paru

Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan, otot

napas tambahan (-)

13
Palpasi : Vokal fremitus simetris kiri dan kanan

Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Ronkhi (-/-) Wheezing (-/-)

2. Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis tidak teraba

Perkusi : Batas jantung kanan : SIK 4 linea parasternalis

dekstra

: Batas jantung kiri : SIK 6, 1 jari lateral dar

midklavikula sinistra

Auskultasi : Bunyi jantung I dan II normal. Murmur (-), gallop

(-)

-Abdomen

Inspeksi : Perut datar, distensi (-), scars (-)

Auskultasi : bising usus normal

Palpasi : Nyeri tekan abdomen (-), hepar tidak teraba

Perkusi : Timpani di seluruh abdomen

-Eksremitas

Akral hangat, capillary refill time < 2 detik

Atas : Edema (-/-)

Bawah : Edema (-/-)

14
3.4 Pemeriksaan Penunjang

- Pemeriksaan Labor

Hb : 13,3 gr/dl

Ht : 41,6 %

Leukosit : 6.800/ul

GDS : 100 mg/dl

Troponi I : 0,04ug/l

LDL :160 mg/dl

Total kolestrol :227 mg/dl

Elektrolit : Na+:140,8 mmol/l

K+:3,40 mmol/l

Cl:109,9 mmol/l

15
- EKG

Hasil EKG :

1. Irama : Sinus Rythm

2. Frekuensi :100 kali/menit

3. Axis : Left Axis Deviation (LAD)

4. Morfologi:

- Komplek QRS > 0.12 detik Left Bundle Brunch Blok.

- Gelombang S di V1+ Gelombang R di V 6 > 35 mm hipertrofi

ventrikel kiri.

- STEMI  elevasi pada Lead V1-V4.

- T inverted di lead III AVF

- Poor r wave progression.

16
Hasil Ekokardiografi

EF 41 %
Hipokinetik septal

3.5 Resume

Ny ES, 58 tahun datang dengan keluhan nyeri dada 2 jam SMRS. Pasien

mengatakan nyeri dada seperti ditusuk dan menjalar hingga ke punggung kiri.

Nyeri dada dapat berlangsung selama 5-10 menit. Pasien menyangkal sesak

nafas, mual dan muntah. Pasien merupakan rujukan dari RSUD Bengkalis.

Setelah 1 hari dirawat di ruang rawatan pasien mengeluhkan nyeri yang

menjalar ke lengan kiri. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan

pasien menderita hipertensi derajat 2 (170/110 mmHg). Hasil pemeriksaan

EKG menunjukkan bahwa pasien mengalami STEMI, hipertrofi ventrikel kiri

17
dan left bundle branch blok (LBBB). Hasil pemeriksaan laboratorium

menunjukkan peningkatan kadar enzim jantung.

Daftar masalah :

1. STEMI anteroseptal

2. Hipertension grade II

3. Congestive Hearth Failure

3.6 Rencana Penatalaksanaan

- Non Farmakologis

Diet rendah garam seperti mengurangi makanan yang asin

Mengurangi makanan bersantan dan berminyak

Berolahraga teratur 3 kali seminggu minimal setiap olahraga 30 menit

Mengkonsumsi sayur dan buah-buahan

Makan dengan teratur

- Farmakologis

2 September 2015 (saat masuk IGD RSUD AA)

R/ Oksigen 2 liter nasal kanul

IVFD RL 12 tts/menit

ISDN 3x5 mg

Aspilet 1x80 mg

Clobazim 1x10 mg

Inj ozid 1x40 mg

Antacid syrp 3x10 cc

18
3.7 Follow up

Hari/ Tanggal S O A P

Kamis/ 2-4-15 Nyeri dada (+) TD :160/120 -STEMI -Oksigen 2 liter nasal

HR : 92 x/menit anteroseptal kanul

RR : 22x/ menit -Hipertensi -RL 12 tts/menit

S : 36. C grade II - ISDN 3x5 mg

KU : Baik -CHF -Aspilet 1x80 mg

- Clobazim 1x10 mg

-Inj ozid 1x1

-Antacid syrp 3x10 cc

Jumat/ 3-04-15 Nyeri berkurang TD : 150/80 -STEMI -RL 12 tts/menit

HR : 90 x/menit anteroseptal - ISDN 3x5 mg

RR : 22 x/ menit -Hipertensi -Aspilet 1x80 mg

S : 36. C grade II - Clobazim 1x10 mg

KU : Baik -CHF -Inj ozid 1x1

-Antacid syrp 3x10 cc

Sabtu/ 04-04-15 Nyeri berkurang TD : 150/90 -STEMI -RL 12 tts/menit

HR : 86x/ menit anteroseptal - ISDN 3x5 mg

RR : 20/ menit -Hipertensi -Aspilet 1x80 mg

S : 35,6 C grade II - Clobazim 1x10 mg

19
KU : Baik -Inj ozid 1x1

-Antacid syrp 3x10 cc

- Clopidogrel 1x75 mg

Minggu/ 05-04- Nyeri berkurang -STEMI -RL 12 tts/menit

2015 anteroseptal - ISDN 3x5 mg

-Hipertensi -Aspilet 1x80 mg

grade II -Inj ozid 1x1

- CHF -Antacid syrp 3x10 cc

-Clopidogrel 1x75 mg

-Alprazolam 1x 0,5

mg

20
BAB IV

PEMBAHASAN

Ny ES 58 tahun datang dengan keluhan nyeri dada 2 jam SMRS. Pasien

mengeluhkan nyeri dada seperti ditusuk dan menjalar hingga ke punggung.

Pasien menyatakan nyeri dapat berlangsung selama 5-10 menit. Pasien memiliki

riwayat hipertensi dan nyeri ulu hati. Riwayat penyakit hipertensi terdapat dalam

keluarga pasien. 6 bulan SMRS pasien mengeluhkan nyeri dada yang hilang

dengan istirahat. Pasien merupakan rujukan dari RSUD Bengkalis. Berdasarkan

anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan yang dilakukaan, diagnosis pasien

ini adalah STEMI, Hipertensi grade II.

Diagnosis hipertensi ditegakkan dengan pengukuran tekanan darah

sistolik yang lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik yang lebih dari 90

mmHg. Pada anamnesis yang telah dilakukan pasien menyatakan telah lebih dari

10 tahun mengalami hipertensi, riwayat keluarga dengan penyakit hipertensi, serta

kebiasaan mengkonsumsi makanan bersantan, berlemak, kurang mengkonsumsi

sayuran dan buah-buahan serta kurang aktifitas fisik.

Hasil EKG dari pasien ini didapatkan kompleks QRS yang melebar, left

axis deviation (LAD), panjang gelombang q di lead V1 ditambah dengan panjang

gelombang R di lead V6 lebih dari 35 mm dan ST elevasi pada lead V1, V2, V3

dan V4. Hasil pemeriksaan EKG dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan

arah aksis ke arah kiri, left ventrikel hipertrofi, STEMI anteroseptal dan left

bundle branch blok. Deviasi aksis jantung ke kiri dapat disebabkan oleh hipertrofi

ventrikel kiri.

21
Hipertrofi ventrikel kiri merupakan penebalan dari dinding ventrikel kiri.

Hal ini dapat disebabkan oleh penyakit hipertensi yang diderita oleh pasien.

Hipertrofi ventrikel merupakan salah satu bentuk kompensasi tubuh dalam

memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Hipertrofi ventrikel kiri berhubungan

dengan peningkatan insidensi infark miokard, gagal jantung, aritmia ventrikel kiri

dan kematian mendadak. Hipertensi yang lama dapat menyebabkan kerusakan

organ tubuh seperti jantung, ginjal, otak dan pembuluh darah.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan. Riset kesehatan dasar


2013. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesi;2013.

2. Mancia G, Fagard R, Narkiewicz K, Redon J, Zanchetti A, Bohm M.


2013 ESH/ESC guidelines for the management of arterial ypertension. The
task force for the management of arterial hypertension of the europian
society of hypertension (ESH) and of the europian society of cardiologi
(ESC). Journal of Hypertension: volume 31, number 7, July 2013.

3. Weber MA, Schiffirin EL, White WB,Mann S Lindholm LH, Kenerson


JG. Clincal practice guidline for menagement of hypertension in the
community : A statement by the american society of hypertension and the
international society of hypertension. Journal of the America Society of
Hypertension. 2014.

4. 2014 evidance-based guidelines for the management of high blood


pressure in adults report from the pannel members appointed to the eight
joint national comitte 8. American medical assosiation 2013.

5. Zizek B.Target Organ Demange in essensial hypertension, genetics and


phathophysiologi of essensial hypertension. Editors: Khullar M. In Tech:
2012.

6. Departemen Farmakologi dan Terapeutik. Farmakologi dan terapi. Edisi 5.


Universitas Indonesia: Jakara 2010.

7. Longmor M, Wilkinson I, Baldwin A, Wallin Oxford handbook for


clinical medicine. 2014. Oxford University .

8. Narkiewivcz k, Redon J, Zanchetti A, Bohm M, Christianes T, Cifkova


R.Essential massagesfrom esc guidelines. Eur Heart 2013; 24;2159-219-
doi:10.1093/eurheart/eht151)

23
24