Anda di halaman 1dari 17

1

PRAKTIKUM MIKROBILOGI DASAR

PENGAMATAN KOLONI BAKTERI DAN


JAMUR

NAMA :ALBET DEGO SITUMORANG


NIM :4153220001
KELAS :BIOLOGI NONDIK B 2015
JURUSAN :BIOLOGI
PROGRAM :NONDIK
KELOMPOK :I ( SATU )
TGL.PELAKSANAAN :27 FEBRUARI 2018

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A.2016/2017
2

I.JUDUL : PENGAMATAN KOLONI BAKTERI DAN JAMUR

II.TUJUAN :

1.Mengetahui morfologi koloni bakteri

2.Mengetahui morfologi jamur

3.Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri

4.Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur

III.TINJAUAN TEORITIS

Bakteri
Bakteri merupakan salah satu mikroba yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Bakteri adalah makhluk mikroskopik yang sangat kecil dan umumnya bersel tunggal. Struktur
selnya sederhana tanpa nukleus (inti sel) dan jumlahnya banyak. Bentuk bakteri bisa bermacam-
macam dan umumnya berukuran 0,5 - 5 mikrometer (Anneahira,2004). Dalam kehidupan di
ekosistem bakteri memiliki peranan yang menguntungkan dan merugikan. Bakteri yang
menguntungkan dapat dibudidayakan untuk kepentingan manusia, seperti Lactobacillus strain
yang dimanfaatkan untuk pembutan youghurt. Sedangkan Salmonella thyphosa merupakan
penyebab penyakit tifus (Zaky, 2008).
Nama bakteri itu berasal dari kata “Bakterion” (bahasa Yunani) yang berarti tongkat atau
batang. Berdasarkan bnetuk morfologinya, maka bakteri dapat dibagi atas tiga golongan, yaitu
golongan basil, golongan kokus, dan golongan spiril. (Dwidjoseputro, 1990).
a. Basil (dari bacillus) berbentuk serupa tongkat pendek, silindris. Basil dapat bergandeng-
gandengan panjang disebut streptobasil, bergandengan dua-dua disebut diplobasil atau
terlepas satu sama lain.
b. Kokus(dari coccus) adalah bakteri yang bentuknya serupa dengan bola-bola kecil. Bentuk
kokus ini ada yang bergandengan panjang yang serupa dengan tali leher disebut
streptokokus, ada yang bergandengan dua-dua disebut diplokokus, ada yang
mengelompok empat disebut tetrakokus, yang bentuknya mengelompok merupakan
untaian disebut stafilakokus, sedangkan kokus yang mengelompok serupa kubus disebut
sarsina.
3

c. Spiril(dari spirillum) adalah baktrei yang bengkok atau berbengko-bengkok serupa spiral.
Golongan ini paling sedikit ditemukan dibandingkan dengan golongan kokus maupun
golongan basil.
Pada individu intraseluler, bila sel-selnya membelah diri individunya menjadi bertambah
banyak, pada mikroorganisme uniseluler pembelahan berarti bertambah banyaknya individu, jadi
dalam hal ini pembelahan berarti multiplikasi. Bakteri bermultiplikasi secara aseksual dengan
pembelahan menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan, dan seterusnya. Setiap
keturunannya secara individu dapat melanjutkan proses reproduksi secara tidak terbatas dengan
cara sama dengan induknya atau individu sebelumnya dengan syarat tersedia makanan dan
energi yang cukup dan keadaan lingkungan (pH, suhu) bebas polusi oleh sisa buang yang
beracun dan sebagainya (Irianto, 2006).
Dalam perkembangannya, bakteri sangat penting untuk diteliti, artinya bakteri yang ada di
alam atau sumbernya dapat diisolasi ke dalam medium buatan untuk dikembangkan lebih lanjut.
Oleh karena itu, penting untuk mengetahui bagaimana mengisolasi bakteri (mikroba) dari alam
dan mengidentifikasinya (paling tidak dari karakteristik koloninya).
Identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi
dapat dilakukan dengan cara pengamatan sifat morfologi koloni, morfologi sel bakteri, pengujian
sifa-sifat fisiologi dan biokimianya. Selain itu, identifikasi juga dapat dilakukan dengan
pengujian sifat patogenitas dan serologinya. Pertumbuhan bakteri di alam dipengaruhi oleh
berapa faktor luar seperti substrat pertumbuhan, pH, temperatur, dan bahan kimia. Bakteri yang
nampak dapat memiliki morfologi yang sama, namun keperluan nutrisi dan persyaratan
ekologinya berbeda (Dwidjoseputro, 1990).
Jamur
Jamur (fungi) banyak kita temukan disekitar kita. Jamur tumbuh subur terutama di musim
hujan karena jamur menyukai habitat yang lembap. Beberapa ahli mikologi membagi jamur
menjadi dua kelompok berdasarkan bentuk tubuhnya, yaitu kapang (mold) dan khamir (yeast).
Kebanyakan jamur masuk dalam kelompok kapang. Tubuh vegetatif kapang berbentuk
filamen panjang bercabang yang seperti benang disebut hifa. Hifa akan memanjang dan
menyerap makanan dari permukaan substrat (tempat hidup jamur). Sedangkan jamur dalam
kelompok khamir bersifat uniseluler (berinti satu), bentuknya bulat atau oval.
4

Pengamatan morfologi sangat penting untuk identifikasi dan determinasi. Bahkan


pengamatan morfologi ini lebih penting daripada pengamatan fisiologis. Terdapat beberapa cara
atau metode pengamatan yaitu dengan pembuatan slide cultur atau hanging drop. Untuk
pengamatan morfologi dapat dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis.
(Riecka, 2012)
Jamur tidak mempunyai batang, daun, dan akar serta tidak mempunyai sistem pembulu
seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Jamur umumnya berbentuk seperti benang, bersel banyak,
dan semua dari jamur mempunyai potensi untuk tumbuh, karena tidak mempunyai klorofil yang
berarti tidak dapat memasak makanannya sendiri, maka jamur memanfaatkan sisa-sisa bahan
organik dari makhluk hidup yang telah mati maupun yang masih hidup. (Pracaya, 2007).
Fungi tingkat tinggi maupun tingkat rendah mempunyai cirri khas yaitu berupa benang
tunggal atau bercabang – cabang yang disebut hifa. Fungi dibedakan menjadi dua golongan yaitu
kapang dan khamir. Kapang merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium,
sedangkan khamir merupakan fungi bersel tunggal da tidak berfilamen. (Ita Trie 2012)
Pada umumnya jamur dibagi menjadi 2 yaitu: khamir (Yeast) dan kapang (Mold).
1. Khamir
Khamir adalah bentuk sel tunggal dengan pembelahan secara pertunasan. Khamir
mempunyai sel yang lebih besar daripada kebanyakan bakteri, tetapi khamir yang paling kecil
tidak sebesar bakteri yang terbesar.khamir sangat beragam ukurannya,berkisar antara 1-5 μm
lebarnya dan panjangnya dari 5-30 μm atau lebih. Biasanya berbentuk telur,tetapi beberapa ada
yang memanjang atau berbentuk bola. Setiap spesies mempunyai bentuk yang khas, namun
sekalipun dalam biakan murni terdapat variasi yang luas dalam hal ukuran dan bentuk.Sel-sel
individu, tergantung kepada umur dan lingkungannya. Khamir tidak dilengkapi flagellum atau
organ-organ penggerak lainnya (Coyne 1999)
a. Khamir Murni
Khamir yang dapat berkembang biak dengan cara seksual dengan pembentukan askospora
khamir ini diklasifikasikan sebagai Ascomycetes (Saccharomyces cerevisae, Saccharomyces
carlbergesis, Hansenula anomala, Nadsonia sp). (Coyne 1999)
5

b. Khamir Liar
Khamir murni yang biasanya terdapat pada kulitanggur. Khamir ini mungkin digunakan
dalam proses fermentasi, meskipun galur yang diperbaiki telah dikembangkan yang
menghasilkan anggur dengan rasa yang lebih enak dengan bau yang lebih menyenangkan.
Khamir liar yang ada dikulit anggur dimatikan dengan penambahan dioksida belerang pada buah
anggur yang telah dihancurkan. Inokulum galur khamir yang dikehendaki ditambahkan
kemudian untuk memfermentasi air perasan anggur. (Coyne 1999)
c. Khamir Atas
Khamir murni yang cenderung memproduksi gas sangat cepat sewaktu fermentasi,sehingga
khamir itu dibawa kepermukaan. Khamir atas mencakup khamir yang digunakan dalam
pembuatan roti,untuk kebanyakan anggur minuman dan bir inggris (Saccharomycescereviceae).
(Coyne 1999)

d. Khamir Dasar
Khamir murni yang memproduksi gas secara lebih lamban pada bagian awal fermentasi.
Jadi sel khamir cenderung untuk menetap pada dasar. Galur terpilih digunakan dalam industri bir
lager (Saccharomyces carlsbergensis). (Coyne 1999)

e. Khamir Palsu atau Torulae


Khamir yang didalamnya tidak terdapat atau dikenal tahap pembentukan spora seksual.
Banyak diantaranya yang penting dari segi medis (Cryptococcus neoformans, Pityrosporum
ovale, Candida albicans). (Coyne 1999)

2. Kapang
Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian miselium dan spora (sel
resisten, istirahat atau dorman). Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang
dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5-10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya
berdiameter 1 μm. Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama (Syamsuri 2004)
Ada 3 macam morfologi hifa:
a. Aseptat atau senosit, hifa seperti ini tidak mempunyai dinding sekat atau septum.
(Syamsuri 2004)
6

b. Septat dengan sel-sel uninukleat, sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang atau sel-
sel berisi nucleus tunggal. Pada setiap septum terdapat pori ditengah-tengah yang memungkinkan
perpindahan nucleus dan sitoplasma dari satu ruang keruang yang lain.setiap ruang suatu hifa
yang bersekat tidak terbatasi oleh suatu membrane sebagaimana halnya pada sel yang khas,
setiap ruang itu biasanya dinamakan sel. (Syamsuri 2004)
c. Septat dengan sel-sel multinukleat, septum membagi hifa menjadi sel-sel dengan
lebih dari satu nukleus dalam setiap ruang. (Syamsuri 2004)

Jamur tidak dapat hidup secara autotrof, melainkan harus hidup secara heterotrof. Jamur
hidup dengan jalan menguraikan bahan-bahan organik yang ada dilingkungannya. Umumnya
jamur hidup secara saprofit,artinya hidup dari penguraian sampah sampah-sampah organic
seperti bangkai, sisa tumbuhan, makanan dan kayu lapuk, menjadi bahan-bahan anorganik. Ada
pula jamur yang hidup secara parasit artinya jamur mendapatkan bahan organic dari inangnya
misalnya dari manusia, binatang dan tumbuhan. Adapula yang hidup secara simbiosis
mutualisme, yakni hidup bersama dengan orgaisme lain agar saling mendapatkan untung,
misalnya bersimbiosis dengan ganggang membentuk lumut kerak. (Syamsuri 2004)
Jamur uniseluler misalnya ragi dapat mencerna tepung hingga terurai menjadi gula, dan
gula dicerna menjadi alkohol. Sedangkan jamur multiseluler misalnya jamur tempe dapat
mengaraikan protein kedelai menjadi protein sederhana dan asam amino. Makanan tersebut
dicerna diluar sehingga disebut pencernaan ekstraseluler, sama seperti pada bakteri. Caranya,sel-
sel yang bekerja mengeluarkan enzim pencernaan. Enzim-enzim itulah yang bekerja
menguraikan molekul-molekul kompleks menjadi molekul-molekul sederhana. (Syamsuri 2004)
IV.ALAT DAN BAHAN

4.1.Tabel Alat

No Nama Alat Jumlah


1 Cawan petri 8 Buah
2 Jarum ose 1 Buah
3 bunsen 1 Buah
4 Tabung reaksi 5 Buah
5 Botol sampel 1 Buah
6 Erlemenyer 1 Buah
7 Korek api 1 Buah
7

4.2.Tabel Bahan

No Nama Bahan Jumlah


1 Medium NA Secukupnya
2 Medium PDA Secukupnya
3 Urine Manusia Secukupnya
4 Kertas kuning Secukupnya

V.PROSEDUR KERJA

1. Memanaskan air dalam beaker glass sehingga mencapai suhu 45-50oC.


2. Memasukkan tabung reaksi yang berisi medium (khusus untuk medium tegak) ke dalam
beaker glass supaya mediumnya cair.
3. Biarkan selama 5 menit kemudian menuangkan medium tersebut ke dalam petridish.
4. Memberikan keterangan (label) untuk setiap petrisih berdasarkan nama mediumnya.
5. Membuat perlakuan sebagai berikut:
- Membiarkan cawan petri yang berisi medium kaldu nutrisi agar dalam keadaan terbuka
selama 20 menit dan potato dectrose agar selama 1 jam, lalu segera menutup kembali
petridishnya.
- Mengucapkan kata-kata dengan jarak 5-10 cm dekat medium terbuka selama 3 menit.
Lalu segera menutup kembali petridishnya.
6. Menginkubasikan semua lempeng agar pada suhu kamar selama 2-3 x 24 jam,
mengamati setiap koloni mikroba yang tumbuh setiap hari.
7. Melakukan pengamatan koloni bakteri yang meliputi:
- Warna
- Bentuk
- Ukuran diameter koloni
8. Menghitung jumlah dan macam koloni bakteri dan jamur yang tumbuh pada medium.
9. Membuat tabel hasil pengamatan.
8

VI.HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.HASIL

Kelompok / Bahan NA PDA


1 (Urin diabetes) Tidak ditemukan Tidak ada
2 (Apusan lidah) Bentuk : bulat Tidak ada
Tepian : licin
Elevasi : datar
Warna : putih
Koloni : 2
3 (Dahak) Bentuk : bulat Tidak ada
Tepian : berombak
Elevasi : cembung
Warna : putih
Koloni : 2
4 (Kotoran gigi) Bentuk : bulat Tidak ada
Tepian : licin
Elevasi : datar
Warna : putih
Koloni : 1
5 Apusan ludah Tidak ada Tidak Ada
6 (Urin diabetes) Bentuk : bulat Tidak ada
Tepian : licin
Elevasi : datar
Warna : putih
Koloni : 2

5.2.PEMBAHASAN

5.2.1.Bakteri

Bakteri yang telah ditangkap pada suatu medium dapat dikembangbiakan dan
akan membentuk suatu penampakan berupa koloni. Koloni sel bakteri merupakan
sekelompok masa sel yang dapat dilihat dengan mata langsung. Semua sel yang terdapat pada
satu koloni tersebut dianggap progeny satu organisme yang merupakan suatu keturunan.
Menurut Dewi (2008), isolasi bakteri merupakan pengambilan atau memindahkan mikroba
dari lingkungannya di alam dan menumbuhkannya sebagai biakan murni dalam medium
buatan. Suatu bakteri yang telah ditumbuhkan dapat dimurnikan agar didapatkan 1 jenis
bakteri saja.Pernyataan tersebut diperkuat oleh Lay (1994) menyatakan bahwa biakan murni
merupakan biakan yang hanya mengandung satu jenis bakteri.
9

Bakteri dapat diperoleh hampir disetiap tempat, misalnya: di udara, diantara helaian
rambut, disela-sela gigi, di dalam tanah dan sebagainya. Untuk mempelajari morfologi koloni
bakteri, kita perlu menangkap dan munumbuhkan pada medium lempeng terlebih dahulu.
Pada umumnya koloni bakteri yang tertangkap pada medium lempeng ini akan tumbuh
setelah lebih kurang 1x24 jam. Bakteri yang akan kita pelajar lebih lanjut sebaikanya juga
buat biakan murni (Hastuti, 2012)
Perbedaan warna tiap koloni tersebut dikarenakan perbedaan gizi dan kondisi
lingkungan dari tempat bakteri tersebut dikembangkan. Hal ini dinyatakan oleh
Waluyo(2007) bahwa populasi bakteri tumbuh sangat cepat ketika mereka disertakan dengan
gizi dan kondisi lingkungan yang memungkinkan mereka untuk berkembang. Melalui
pertumbuhan ini, berbagai jenis bakteri kadang-kadang akan menghasilkan koloni yang khas
dalam penampilan. Beberapa koloni mungkin akan berwarna, ada yang berbentuk lingkaran,
sementara yang lain tidak teratur. Karakteristik koloni (bentuk, ukuran, warna, dll) yang
diistilahkan sebagai "koloni morfologi"khas bagi tiap jenis bakteri.
Koloni bakteri mempunyai bermacam-macam bentuk, diantaranya adalah berbentuk
bundar, bundar dengan tepian kerang, bundar dengan tepian timbul, keriput, konsentris, tak
beraturan dan menyebar, berbenang-benang, bentuk L, bundar dengan tepian menyebar,
filliform, rizoid dan kompleks. Tepian koloni bakteri ada yang licin, berombak, berlekuk, tak
beraturan, sikat, bercabang, seperti wol, seperti benang dan dan seperti ikat rambut.
Sedangkan elevasinya ada yang datar, timbul, cembung, seperti tombol, berbukit-bukit,
tumbuh ke dalam medium dan seperti kawah (Hadioetomo, 1985).
Pada koloni bakteri I menampakkan bentuk koloni bundar, tepi koloni licin, elevasi
koloni cembung dan tampak mengkilat. Koloni II menampakkan bentuk koloninya bundar,
tepi koloni licin, elevasi koloni cembung dan tampak mengkilat. Seperti halnya warna,
bentuk, tepi, elevasi dari suatu koloni bakteri juga menunjukkan cirikhas dan perbedaan
fungsi dari bakteri tersebut seperti halnya perbedaan ciri morfologi yang ditunjukkan oleh
koloni bakteri I dan koloni bakteri II.
Pada pengukuran diameter koloni bakteri, didapatkan hasil yang berbeda.
penampakan suatu koloni bakteri dapat hanya berupa satu titik sampai ada yang menutupi
permukaan medium. Menurut Dwidjoseputro(2005)menjelaskanbahwa, besar ke kecilnya
koloni dapat hanya serupa suatu titik, adapula yangsampai menutup permukaan medium dari
10

hasil pengamatan morfologi koloni satumaka di dapatkan diameter koloni 1 adalah 0,32mm
dan pada koloni 2 adalah 5 mm. jumlah koloni dari masing-masing medium juga berbeda,
pada koloni 1 jumlah koloniya adalah 15 sedangkan pada koloni 2 hanya ditemukan 5 koloni.
Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa kedua koloni dapat tumbuh dengan baik, Karena
pada koloni 1, ukuran koloninya kecil tetapi tiga kali lebih banyak dari koloni 2 yang
bentuknya lebih besar. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuahan bakteri
diantaranya adalah :
Menurut Dakurni (2014) beberapa faktor yang berpengaruh
terhadappertumbuhanmikroba yangdidalamnyatermasukbakteri sebagai berikut :

(1) Konsentrasi nutrient, makin banyak bahan nutrisi yang diperlukan makin cepat
pertumbuhan mikroba
(2) pH (keasaman dan kebasaan), beberapa mikroba Konsentrasi nutrient, makin banyak
bahan nutrisi yang diperlukan makin cepat pertumbuhan mikroba mempunyai sifat pH
yang berbeda-beda untuk menunjang pertumbuhannya
(3) konsentrasi air, untuk pertumbuhan mikroba memerlukan konsentrasi yang cukup dan
sangat spesifik
(4) bahan alami, bahan alami tertentu bersifat antimikrobia, yaitu sifat menghambat
pertumbuhan mikrobia, misalnya golongan rempah-rempah
(5) suhu, mikrobia mempunyai sifat spesifi terhadap suhu untuk pertumbuhannya
(6) tekanan osmosis, mempengaruhi kestabilan dari dinding dan membrane sel mikroba
kedua koloni mempunyai sifat yang pekat, hal ini dapat dilihat ketika kita menyentunya
dengan jarum inokulasi.
Ukuran sel-sel mikroorganisme sangat kecil sekali dan tidak dapat diamati dengan
mata tanpa memakai atau menggunakan alat pembesar (Tarigan, 1988). Untuk itu saat
pengamatan bakteri ini kami menggunakan alat bantu berupa mikroskop. Mikroskop yang
digunakan berupa mikroskop cahaya. Pada saat pengukuran sel bakteri di laboratorium,
mikroskop yang kami gunakan adalah mikroskop nomor 10 yang telah kami tera
sebelumnya.Mikroskop cahaya merupakan mikroskop yang umum digunakan di
laboratorium untuk mengamati berbagai jenis mikroba. Mikroskop ini mempunyai 2
perangkat lensa yaitu lensa okuler dan lensa obyektif dan menggunakan cahaya sebagai
sumber iluminasi. Dengan mikroskop cahaya bayangan benda dapat diperbesar sampai 1000
11

kali dan dapat digunakan untuk memeriksa benda-benda atau bagian-bagian dari sel yang
berukuran lebih dari 200nm. Prinsip umum mikroskop adalah bahwa makin pendek
gelombang cahaya yang digunakan, maka resoluinya makin leih besar (Tarigan, 1988).
Ukuran besar bacteria bervariasi, tergantung dari spesiesnya. Rata-rata ukuran
diameter dan panjang bakteri pathogen yang berbentuk batang kira-kira 0,5 µm dan 2 µm,
sedangkan bakteri non pathogen yang berbentuk batang dapat mencapai diameter 4 µm dan
panjangnya 20 µm (Tarigan, 1988). Sedangkan menurut Kusnadi (2003), bentuk dan ukuran
sel bakteri bervariasi, ukurannya berkisar 0,4 – 2,0 mm. Bentuk sel bakteri dapat terlihat di
bawah mikroskop cahaya, dapat berbentuk kokus (bulat), basil (batang), dan spiral. Hal ini
sesuai dengan hasil pengukuran sel bakteri yang telah dilakukan. Bentuk bakteri pada koloni
1 maupun koloni 2 sama-sama berbentuk kokus. Pada koloni bakteri 1rata-rata diameter sel
bakteri 3,33 µm. Pada koloni bakteri 2 rata-rata diameter sel bakteri tersebut adalah 3,75µm.
Rata-rata diameter dan panjang sel bakteri didapat dari tiga kali pengukuran.

5.2.2.Jamur
Morfologi secara harfiah berarti ‘pengetahuan tentang bentuk’ (morphas). Morfologi
jamur merupakan ilmu yang memepelajari tentang bentuk jamur dan mencakup bagian-
bagiannya. Jamur benang yang berukuran kecil dan biasanya bersifat uniseluler dapat diamati
dengan mikroskop. Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati
obyek yang berukuran sangat kecil. Ada dua jenis mikroskop berdasarkan pada kenampakan
obyek yang diamati, yaitu mikroskop dua dimensi (mikroskop cahaya) dan mikroskop tiga
dimensi (mikroskop stereo). Sedangkan berdasarkan sumber cahayanya, mikroskop dibedakan
menjadi mikroskop cahaya dan mikroskop elektron (Tarigan, 2008). Pada praktikum ini,
identifikasi jamur dilakukan dengan menggunakan mikroskop elektrik binokuler dengan
mengamati sifta-sifat morfologinya dan fisologinya.Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan jamur adalah faktor substrat, kelembapan, suhu, derajat keasaman substrat (pH)
dan senyawa-senyawa kimia di lingkungannya. Substrat merupaan sumber utama nutrien bagi
jamur. Kelembapan dari jamur merupaka faktor yang penting bagi pertumbuhan jamur,
kelmbapann yang diperlukan oleh jamur berbeda-beda tergantung pada jenisnya. Suhu
lingkungan juga berperan penting dalam bagi pertumbuhan, berdasarkan suhu dapat
dikelompokkan menjadai psikofil, mesofil dan termofil. pH substart sangat penting karena
enzim-enzim tertentu hanya akan mengurai substrat sesuai dengan aktivitasnya pada pH tertentu.
12

Senyawa-senyawa kimia yang tidak diperlukan lagi akan dikeluarkan kelingkungan sebagai
bentuk dari pengamanan terhadap organisme lain.
Pada percobaan ini praktikan gagal dalam melihat morflogi koloni jamur dan bakteri,
karena media yang disediakan sudah terkontaminasi, sehingga media tidak dapat digunakan
untuk pengamatan. Selain media ynag terkontaminasi mungkin ada faktor lain yang dapat
membuat pengamatan gagal. Dan faktor yang dapat membuat media mudah terkontaminasi.
Slain itu untk dapat melihat morfologi jamur dan bakteri hanrusnya menggunakan
mikroskop cahaya, yaitu mikroskopoptik yang mampu memperbesar ukuran kenampaakan suatu
objek. Padaamikroskop ada dua perbesaran yaitu pada lensa obyektif dan lensa okuler. Pada
lensa okuler biasanya dipakai perbesaran 10x, 40x, dan 100x. Sedangkanpada lensa okuler
perbesaran yang dipakai adalah 10x sehingga secara umumdidapatkan perbesaran 100x,
400x,atau 1000x.namun perbesaran-perbesarantersebut tidak dapat digunakaan untuk mengamati
virus dan bakteri secara mendetail.

5.2.3. Mikroorganisme pada jaringan manusia

Dalam tubuh manusia banyak terdapat mikroba, mikroba dapat kita jumpai pada rongga
mulut, kulit, wajah, telinga, hidung, usus halus, dan anggota tubuh lainnya.
1. Hidung
Flora utama hidung terdiri dari korinebakteria, stafilokokus (S.epidermidis, S.
aureus)dan streptokokus. Didalam hulu kerongkongan hidung, dapat juga dijumpai
bakteriBranhamella catarrhalis (suatu kokus gram negatif) dan Haemophilus
influenzae (suatu batang gram negatif). Stafilokokus Epidermidis hidup pada daerah yang
bersuhu 370 C, pH 5-7, berperan dalam menyaring udara, bersifat aerob.
2. Mulut
Adanya makanan terlarut secara konstan dan juga partikel-partikel kecil makanan
membuat mulut merupakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri. Mikrobiota mulut
atau rongga mulut sangat beragam; banyak bergantung pada kesehatan pribadi masing-
masing individu. Diperolehnya mikrobiota mulut. Pada waktu lahir, rongga mulut pada
hakikatnya merupakan suatu inkubator yang steril, hangat, dan lembap yang mengandung
sebagai substansi nutrisi. Air liur terdiri dari air, asam amino, protein, lipid, karbohidrat, dan
senyawa-senyawa anorganik. Jadi, air liur merupakan medium yang kaya serta kompleks
13

yang dapat dipergunakan sebagai sumber nutrien bagi mikroba pada berbagai situs di dalam
mulut.
Beberapa jam sesudah lahir, terdapat peningkatan jumlah mikroorganisme sedemikian
sehingga di dalam waktu beberapa hari spesies bakteri yang khas bagi rongga mulut menjadi
mantap. Jasad-jasad renik ini tergolong ke dalam genus Streptococcus, Neisseria, Veillonella,
Actinomyces, dan Lactobacillus. Jumlah dan macam spesies ada hubungannya dengan nutrisi
bayi serta hubungan antara bayi tersebut dengan bayinya, pengasuhnya, dan benda-benda
seperti handuk serta botol-botol susunya. Spesies satu-satunya yang selalu diperoleh dari
rongga mulut, bahkan sedini hari kedua setelah air, ialah Streptococcus salivarius.

3. Usus kecil bagian atas (atau usus dua belas jari)


Mengandung beberapa bakteri. Di antara yang ada, sebagian besar adalah kokus dan
basilus gram positif. Di dalam jejunum atau usus halus kosong (bagian kedua usus kecil, di
antara usus dua belas jari dan ileum atau usus halus gelung) kadang kala dijumpai spesies-
spesies Enterokokus, Laktobasilus, dan Difteroid. Khamir Candida albicans dapat juga
dijumpai pada bagian usus kecil ini.
4. Usus besar
Usus besar mengandung populasi mikroba yang terbanyak. Diperkirakan jumlah
mikroorganisme di dalam spesimen tinja adalah ± 1012-13 organisme per gram. meliputi
bakteri anaerob : Bacteroides sp, Clostridium sp dan Lactobacillus. Dan anerob fakultatif (
E.coli). Di dalam tubuh manusia, kolon atau usus besar, mengandung populasi mikroba yang
terbanyak. Telah diperkirakan bahwa jumlah mikroorganisme di dalam spesimen tinja adalah
kurang lebih 1012 organisme per gram. Basilus gram negatif anaerobik yang ada meliputi
spesies Bacteroides (B. fragilis, B. melaninogenicus, B. oralis) dan Fusobacterium. Basilus
gram positif diwakili oleh spesies-spesies Clostridium(serta spesies-spesies
Lactobacillus.Flora saluran pencernaan berperan dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen
empedu dan asam empedu, absorpsi zat makanan serta antagonis mikroba
patogen. Bacteroides fragilis
5. Kulit
Kulit secara konstan berhubungan dengan bakteri dari udara atau dari benda-benda,
tetapi kebanyakan bakteri ini tidak tumbuh pada kulit karena kulit tidak sesuai untuk
14

pertumbuhannya. Kebanyakan bakteri kulit di jumpai pada epitelium yang seakan-akan


bersisik (lapisan luar epidermis), membentuk koloni pada permukaan sel-sel mati.
Kebanyakan bakteri ini adalah spesies Staphylococcus (kebanyakan S. epidermidis dan S.
aureus) dan sianobakteri aerobik, atau difteroid. Jauh di dalam kelenjar lemak dijumpai
bakteri-bakteri anaerobik lipofilik, seperti Propionibacterium acnes, penyebab jerawat.
Jumlahnya tidak dipengaruhi oleh pencucian. Staphylococcus. Pada umumnya beberapa
bakteri yang ada pada kulit tidak mampu bertahan hidup lama karena kulit mengeluarkan
substansi bakterisida. Sebagai contoh, kelenjar keringat mengekskresikan lisozim, suatu
enzim yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri. Kelenjar lemak mengekskresikan lipid
yang kompleks, yang mungkin diuraikan sebagian oleh beberapa bakteri; asam-asam lemak
yang dihasilkannya sangat beracun bagi bakteri-bakteri lain.
6. Mata
Mikroorganisme konjungtiva terutama adalah difteroid (Coynebacterium xerosis), S.
epidermidis dan Streptokukus non hemolitik. Neiseria dan basil gram negatif yang
menyerupai spesies Haemophilus (Moraxella) seringkali juga ada. Flora konjungtiva dalam
keadaan normal dikendalikan oleh aliran air mata, yang mengandung lisozim.
7. Telinga
Flora liang telinga luar biasanya merupakan gambaran flora kulit. Dapat
dijumpaiStreptococcus pneumonia, batang gram negatif termasuk Pseudomonas aeruginosa,
Staphylococcus aureus dan kadang-kadang Mycobacterias aprofit. Telinga bagian tengah dan
dalam biasanya steril.
8. Vagina
Penghuni utama vagina dewasa adalah lactobacilus yang toleran terhadap asam. Bakteri
ini mengubah glikogen yang dihasilkan epitelium vagina, dan menghasilkan asam. pH di
dalam vagina terpelihara pada sekitar 4.4 sampai 4,6. Mengalami perubahan flora dengan
bertambahnya usia. Sebelum pubertas, flora dominan Staphylococcus, Streptococus,
Diphtheroid, dan Escherichia coli. Setelah pubertas, aerophillus Lactobacillus mendominasi
, dan fermentasi glikogen oleh bakteri berperanan untuk menjaga pH asam, yang mencegah
pertumbuhan berlebih dari organisme vagina lainnya.
15

Beberapa jamur, termasuk Candida albicans. dapat berkembang biak menyebabkan


kandidiasis jika pH vagina meningkat dan menurunkan daya bersaing.
Bakteri Protozoa: Trichomonas vaginalis dapat ditemukan pada wanita yang sehat.

VI.KESIMPULAN

 Pada koloni II bakteri menampakkan bentuk koloni bundar, tepi koloni licin, elevasi
koloni cembung dan tampak mengkilat. Koloni III menampakkan bentuk koloninya
bundar, tepi koloni licin, elevasi koloni cembung dan tampak mengkilat. Seperti halnya
warna, bentuk, tepi, elevasi dari suatu koloni bakteri juga menunjukkan cirikhas dan
perbedaan fungsi dari bakteri tersebut seperti halnya perbedaan ciri morfologi yang
ditunjukkan oleh koloni bakteri Ii dan koloni bakteri III.
 Pada percobaan ini praktikan gagal dalam melihat morflogi koloni jamur dan bakteri,
karena media yang disediakan sudah terkontaminasi, sehingga media tidak dapat
digunakan untuk pengamatan. Selain media ynag terkontaminasi mungkin ada faktor lain
yang dapat membuat pengamatan gagal. Dan faktor yang dapat membuat media mudah
terkontaminasi
 faktor yang berpengaruh terhadappertumbuhan mikroba yangdidalamnyatermasukbakteri
sebagai berikut :Konsentrasi nutrient, pH (keasaman dan kebasaan), konsentrasi air,
bahan alami, suhu,tekanan osmosis.
16

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan. Jakarta. Rahayu,

Lay, W. B. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Pracaya, 2007. Hama Dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta.

Riecka.2012.http://rieckamissziiph.blogspot.com/2012/03/pengamatan-morfologi-fungi-
praktikum.html. diakses tanggal 7 desember

Syamsuri., I. 2000. Biologi 2000. Erlangga. Jakarta.

Sumarsih, Sri. 2003.Diktat Kuliah Mikrobiologi Dasar.Faperta UPN “Veteran” Yogyakarta.

Winiati Pudji, 2000. Aktivitas Antimikroba Bumbu Masakan Tradisional Hasil Olahan Industri
terhadap Bakteri Patogen dan Perusak. Buletin Teknologi dan Industri Pangan.Vol. XI.No.
2.IPB.
17

DOKUMENTASI

MEDIA NA

MEDIA PDA