Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

PENENTUAN UKURAN PARTIKEL ( MIKROMERETIK )

DENGAN CARA HAMBATAN KONDUKTIFITAS LISTRIK

(COULTER COUNTER)

OLEH :

NURHAYATI

NIM .1700152

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dalam bidang farmasi, zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat

kebanyakan berukuran kecil dan jarang yang berada dalam keadaan

optimum. Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting

dalam bidang farmasi sebab merupakan penentu bagi sifat-sifat, baik sifat

fisika, kimia dan farmakologik dari bahan obat tersebut.

Hambatan kondukifitas lisrtik (coulter counter) merupakan salah

satu cabang dari mikromeritik . Mikromeritik merupakan ilmu yang

mempelajari tentang ilmu dan teknologi partikel kecil. Pengetahuan dan

pengendalian ukuran, serta kisaran ukuran partikel yang sangat penting

dalam bidang farmasi.

Secara klinik, ukuran partikel suatu obat dapat mempengaruhi

penglepasannya dari bentuk-bentuk sediaan yang diberikan secara oral,

parenteral, rectal, dan tropical. Formulasi yang berhasil dari suspensi,

emulsi dan tablet, dari segi kestabilan fisik , dan respon farmakologis ,

juga bergantung pada ukuran partikel yang dicapai dari produk itu. Dalam

bidang pembuatan tablet dan kapsul, pengendalian ukuran partikel sangat

penting sekali dalam mencapai sifat aliran yang diperlukan dan

pencampuran yang benar dari granul dan serbuk.


BAB II

ISI

1. Mikromeretik

Mikromeritik biasanya diartikan sebagai ilmu dan teknologi tentang

partikel yang kecil. Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan berbagai

cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran luas permukaan rata-rata, volume

rata-rata dan sebagainya. Pengertian ukuran partikel adalah ukuran

diameter rata-rata. (1)

Untuk memulai setiap analisis ukuran partikel harus diambil dari

umunya jumlah bahan besar (ditandai dengan junlah dasar) suatu contoh

yang representatif. Karenanya suatu pemisahan bahan awal dihindari oleh

karena dari suatu pemisahan, contoh yang diambil berupa bahan halus

atau bahan kasar. Untuk pembagian contoh pada jumlah awal dari 10-

1000 g digunakan apa yang disebut Pembagi Contoh piring berputar.

Pada jumlah dasar yang amat besar harus ditarik beberapa contoh

dimana tempat pengambilan contoh sebaiknya dipilih menurut program

acak (2).

Ilmu dan teknologi partikel kecil diberi nama mikromiretik oleh Dalla

Valle. Dispersi koloid dicirikan oleh partikel yang terlalu kecil untuk dilihat

dengan mikroskop biasa, sedang partikel emulsi dan suspensi farmasi

serta serbuk halus berada dalam jangkauan mikroskop optik. Partikel yang
mempunyai ukuran serbuk lebih kasar, granul tablet, dan garam granular

berada dalam kisaran ayakan(3).

Setiap kumpulan partikel biasanya disebut polidispersi. Karenanya

perlu untuk mengetahui tidak hanya ukuran dari suatu partikel tertentu,

tapi juga berapa banyak partikel-partikel dengan ukuran yang sama ada

dalam sampel. Jadi kita perlu sutau perkiraan kisaran ukuran tertentu yang

ada dan banyaknya atau berat fraksi dari tiap-tiap ukuran partikel, dari sini

kita bisa menghitung ukuran partikel rata-rata untuk sampel tersebut (3).

Ukuran partikel bahan obat padat mempunyai peranan penting

dalam farmasi, sebab ukuran partikel mempunyai peranan besar dalam

pembuatan sediaan obat dan juga terhadap efek fisiologisnya (4).

Pentingnya mempelajari mikromiretik, yaitu (5):

1. Menghitung luas permukaan

2. Sifat kimia dan fisika dalam formulasi obat

3. Secara teknis mempelajari pelepasan obat yang diberikan

secara per oral, suntikan dan topikal

4. Pembuatan obat bentuk emulsi, suspensi dan duspensi

5. Stabilitas obat (tergantung dari ukuran partikel).

Metode paling sederhana dalam penentuan nilai ukuran partikel

adalah menggunakan pengayak standar. Pengayak terbuta dari kawat

dengan ukuran lubang tertentu. Istilah ini (mesh) digunakan untuk

menyatakan jumlah lubang tiap inchi linear (5).


Ukuran dari suatu bulatan dengan segera dinyatakan dengan garis

tengahnya. Tetapi, begitu derajat ketidaksimestrisan dari partikel naik,

bertambah sulit pula menyatakan ukuran dalam garis tengah yang berarti.

Dalam keadaan seperti ini, tidak ada garis tengah yang unik. Makanya

harus dicari jalan untuk menggunakan suatu garis tengah bulatan yang

ekuivalen, yang menghubungkan ukuran partikel dan garis tengah bulatan

yang mempunyai luas permukaan, volume, dan garis tengah yang sama.

Jadi, garis tengah permukaan ds, adalah garis tengah suatu bulatan yang

mempunyai luas permukaan yang sama seperti partikel yang diperiksa (3).

Metode-metode yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel:

a. Mikroskopi Optik

b. Pengayakan

c. Sedimentasi

d. Hambatan konduktifitas listrik (coulter counter)


BAB III

PENUTUP

Hambatan kondukifitas lisrtik (coulter counter) merupakan salah satu

cabang dari mikromeritik . Mikromeritik merupakan ilmu yang mempelajari

tentang ilmu dan teknologi partikel kecil. Pengetahuan dan pengendalian

ukuran, serta kisaran ukuran partikel yang sangat penting dalam bidang

farmasi.

Prinsip coulter counter yaitu ketika sebuah lubang ditempatkan

diantara dua elektroda, dan penghantaran ini dimediasi oleh elektrolit

konstrasi rendah, Tahanan listrik akan terjadi pada lubang yang kemudian

akan diukur. Tahanan tersebut akan menciptakan “sensing zone”. Partikel

dapat dihitung dengan membuatnya melewati zona tersebut. Partikel yang

melewati zona tersebut akan menciptakan tahanan baru yang perubahan

tahanan ini dapat diukur menggunakan alat untuk menganalisis

perubahan arus listrik..

Hal-hal yang dapat mempengatuhi pengukuran coulter counter

antara lain terjadi koinsidens yaitu ketika dua partikel terbaca sebagai

satu, dan masalah pada aliran. Masalah tersebut dapat ditangguangi

dengan penggunaan tabung dengan diameter 2:1 dengan partikel,

Penggunaan Tabung yang tebal, dan penggunaan sampel dengan

konsentrasi rendah (10%).


DAFTAR PUSTAKA

1. Tim asisten., (2008) “Penuntun Praktikum Farmasi Fisika”, Jurusan

Farmasi, UNHAS, Makassar.

2. Voigt, R., (1994), “Buku Pelajaran teknologi Farmasi”, edisi V, Cetakan

I, UGM Press, Yogyakarta, 45, 47, 51.

3. Martin, A., (1990), “Farmasi Fisika”, Buku II, UI Press, Jakarta, 1022-

1023, 1036-1038.

4. Moechtar., (1990), “Farmasi Fisika”, UGM Press, Yogyakarta, 169.

5. Parrot, L,E., (1970), “Pharmaceutical Technologi”, Burgess Publishing

Company, Mineapolish, 11, 12

6. https://www.beckmancoulter.com/wsrportal/wsr/industrial/particle-

technologies/coulter-principle/index.htm

7. http://www.azom.com/article.aspx?ArticleID=6020