Anda di halaman 1dari 3

6.

Bahaya Potensial
Manisfestasi klinik reaksi alergi golongan penisislin yang terberat adalah reaksi
anafilaksis yang termasuk dalam kelompok reaksi alergi immediate. Reaksi ini lebih banyak
terjadi pada pemberian parenteral, tetapi pemberian oral dan pemberian uji kulit intradermal
dapat pula menimbulkan reaksi anafilaksis yang fatal. Reaksi alergi lain yang sifatnya berat
adalah angioedema, penyakit serum 3.

Reaksi alergi yang sifatnya ringan sampai sedang berupa berbagai bentuk kemerahan,
dermatitis kontak, glositis, serta gangguan pada mulut, demam yang kadang-kadang disrtai
menggigil. Reaksi alergi yang paling sering terjadi adalah kemerahan kulit 3.

Beberapa efek samping dari amoksisilin adalah 4 :

- Susunan Saraf Pusat : Hiperaktif, agitasi, ansietas, insomnia, konfusi, kejang,


perubahan perilaku, pening.

- Kulit : Acute exanthematous pustulosis, rash, eritema multiform, sindrom stevens-


johnson, dermatitis, tixic ephidermal necrolisis, hypersensitif vasculitis, urtikaria.

- GI : Mual, muntah, diare, hemorrhagic colitis, pseudomembranous colitis, hilangnya


warna gigi.

- Hematologi : Anemia, anemia hemolitik, trombisitopenia, trombositopenia purpura,


eosinophilia, leukopenia, agranulositosi.

- Hepatic : AST (SGOT) dan ALT (SGPT) meningkat, cholestatic joundice, hepatic
cholestatis, acute cytolitic hepatitis.

- Renal : Cristalluria

Pernah dilaporkan: Reaksi hipersensitifitas, meliputi reaksi anaphilaksis dapat


mengakibatkan efek yang fatal (kematian). Penggunaan jangka panjang, kemungkinan dapat
mengakibatkan terjadinya suprainfeksi termasuk Pseudomembranous collitis. Pada pasien
gagal ginjal, perla penyesuaian dosis. Kasus diare merupakan kasus terbanyak jika
amoksisilin digunakan sendiri.

7. Toksikologi
Amoksisilin menunjukan efek samping sebagai reaksi hipersensitivitas seperti
urtikaria, demam nyeri sendi, diare, syok anafilaksis, ruam eritematosus, leukemia limfatik
kronik, dan iritasi gastrointestinal (Adesanoye et al., 2014). Studi farmacovigilance dilakukan
untuk mendokumentasikkan efek samping obat dalam program WHO untuk International
Drug Monitoring (IDM) dari Januari 1988 sampai Juni 2005, database Pharmacovigilance
Inter-regional Group (GIF) mengumpulkan 37,906 laporan, yang 1095 terkait dengan
amoksisilin. Persentase reaksi efek samping pada kulit 82%, gastrointestinal 13%, hepatik
4%, dan hematologi 2% (Kaur et al., 2011).
Beberapa dosis amoksisilin yang umum digunakan untuk per oral yaitu 0,25–0,5 g tid
untuk dosis dewasa, dan 20–40 mg/kg/hari dalam tiga dosis untuk dosis anak (Katzung,
2006). Amoksisilin memiliki toksisitas akut pada tikus, lethal dose oral pada referensi
Beecham Research Laboratories untuk tikus jantan lebih besar dari 5000mg/kgBB, lethal
dose oral pada referensi Hardy, Palmer dan Cozens untuk tikus jantan lebih besar dari 5500
mg/kgBB atau untuk tikus betina lebih besar dari 8200 mg/kgBB (WHO, 2012).
DAFTAR PUSTAKA

Kaur SP, Rao R dan Nanda S, 2011. Amoxicillin : A Broad Spectrum Antibiotic.
International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 3(3): 30-37.

Adesanoye OA, Ifezue AOC & Farombi EO, 2014. Influence of Chloramphenicol and
Amoxicillin on Rat Liver Microsomal Enzymes and Lipid Peroxidation. African Journal of
Biomedical Reseach, 17(March): 135–142.

World Health Organization. 2012. World Health Statistic. 13 April 2012

Anonim. Amoksisilin. http://digilib.unila.ac.id/20870/15/BAB%20II.pdf. Diakses pada pukul


20.30 22 Februari 2018