Anda di halaman 1dari 4

1.

1 Pendahuluan
Manusia dalam melakukan kegiatan atau aktivitas setiap hari membutuhkan energi,
baik untuk bergerak maupun untuk bekerja. Kemampuan tubuh manusia untuk
melangsungkan kegiatannya dipengaruhi oleh struktur fisiknya. Tubuh manusia terdiri dari
struktur tulang, otot, saraf, dan proses metabolisme. Rangka tubuh manusia disusun dari 206
tulang yang berfungsi untuk melindungi dan melaksanakan kegiatan fisiknya, dimana tulang-
tulang tersebut dihubungkan dengan sendi-sendi otot yang dapat berkontraksi. Otot-otot ini
berfungsi mengubah energi kimia menjadi energi mekanik, dimana kegiatannya dikontrol
oleh sistem saraf sehingga dapat bekerja secara optimal.
Hasil dari proses metabolisme yang terjadi di otot, berupa kumpulan proses kimia yang
mengubah bahan makanan menjadi dua bentuk, yaitu energi mekanik dan energi panas.
Bahan makanan diproses pada sistem pencernaan yang meliputi lambung, diurai atau
dihaluskan menjadi seperti bubur, kemudian masuk ke usus halus untuk diserap. Bahan-
bahan makanan tersebut selanjutnya masuk ke sistem peredaran darah, lalu menuju ke sistem
otot.
Begitu juga dengan udara yang dihirup melalui hidung akan masuk ke paru-paru atau
sistem pernapasan, dimana zat oksigen yang turut masuk ke paru-paru selanjutnya oleh paru-
paru dikirim ke sistem peredaran darah. Selain itu paru-paru berfungsi juga untuk mengambil
karbon dioksida dari sistem peredaran darah untuk dikeluarkan dari dalam tubuh. Selanjutnya
oksigen yang telah berada di sistem peredaran darah dikirimkan ke sistem otot, yang akan
bertemu dengan zat gizi untuk beroksidasi menghasilkan energi.
Selain menghasilkan energi, proses ini juga menghasilkan asam laktat yang dapat
menghambat proses metabolisme pembentukan energi selanjutnya. Selama kebutuhan
oksigen terpenuhi dalam proses metabolisme, oksigen sisa yang ada di dalam darah
digunakan untuk menguraikan asam laktat menjadi glikogen untuk digunakan kembali
menghasilkan energi.
Bila ditinjau pada tingkat sel, tubuh manusia disusun dari 100 triliun sel dan
mempunyai sifat dasar tertentu yang sama. Setiap sel digabung oleh struktur penyokong
intrasel, dan secara khusus beradaptasi untuk melakukan fungsi tertentu. Dari total sel yang
ada tersebut, 25 triliun sel merupakan sel darah merah yang mempunyai fungsi sebagai alat
tranportasi bahan makanan dan oksigen di dalam tubuh dan membawa karbon dioksida
menuju paru-paru untuk dikeluarkan.
Disamping itu, hampir semua sel juga mempunyai kemampuan untuk berkembang
biak, walaupun sel-sel tertentu rusak karena suatu sebab, sel-sel yang tersisa dari jenisnya
akan membelah diri secara kontinyu sampai jumlah yang sesuai untuk membentuk seperti
semula. Semua sel menggunakan oksigen sebagai salah satu zat utama untuk membentuk
energi, dimana mekanisme umum perubahan zat gizi menjadi energi di semua sel pada
dasarnya sama.
Bahan makanan yang berupa karbohidrat, lemak, dan protein yang dioksidasi akan
menghasilkan energi. Energi dari karbohidrat, lemak, dan protein semuanya digunakan untuk
membentuk sejumlah besar Adenosine Tri Posphate(ATP), dan selanjutnya ATP tersebut
digunakan sebagai sumber energi bagi banyak fungsi sel. Bila ATP diurai secara kimia
sehingga menjadi Adenosine Di Posphate (ADP) akan menghasilkan energi sebesar 8
kkal/mol, dan cukup untuk berlangsungnya hampir semua langkah reaksi kimia dalam tubuh.
Beberapa reaksi kimia yang memerlukan energi ATP hanya menggunakan beberapa ratus
kalori dari 8 kkal yang tersedia, sehingga sisa energi ini hilang dalam bentuk panas. Beberapa
fungsi utama ATP sebagai sumber energi adalah untuk mensintesis komponen sel yang
penting, kontraksi otot, dan transport aktif untuk melintasi membran sel.
Bila dilihat secara persentase, energi yang menjadi panas sebesar 60% selama
pembentukan ATP, kemudian lebih banyak lagi energi yang menjadi panas sewaktu
dipindahkan dari ATP ke sistem fungsional sel. Sehingga hanya 25% dari seluruh energi dari
makanan yang digunakan oleh sistem fungsional sel.
Di dalam berbagai jenis olahraga baik olahraga dengan gerakan-gerakan yang bersifat
konstan seperti jogging, marathon dan bersepeda atau juga pada olahraga yang melibatkan
gerakan- gerakan yang explosif seperti menendang bola atau gerakan smash dalam olahraga
tenis atau bulutangkis, jaringan otot hanya akan memperoleh energi dari pemecahan molekul
adenosine triphospate atau yang biasa di singkat sebagai ATP.
Melalui simpanan energi yang terdapat di dalam tubuh yaitu simpanan phosphocreatine
(PCr), karbohidrat, lemak dan protein, molekul ATP ini akan dihasilkan melalui metabolisme
energi yang akan melibatkan beberapa reaksi kimia yang kompleks. Penggunaan simpanan-
simpanan energi tersebut beserta jalur metabolisme energi yang akan digunakan untuk
menghasilkan molekul ATP ini juga akan bergantung terhadap jenis aktivitas serta intensitas
yang dilakukan saat berolahraga.

1.2 Tujuan
1.3 Ma
Keratin (Cr) merupakan jenis asam amino yang tersimpan dalam otot sebagai sumebr energi.
Didalam otot, bentuk kreatin yang sudah terfosforilasi yaitu phosphocreatine (PCr) akan
mempunyai peranan penting dalam proses metabolisme energi secara anaerobic didalam otot
untuk menghasilkan ATP. Sistem hidrolisis PCr menyediakan energi siap pakai yang diperlukan
pada permulaan kegiatan gerak olahraga untuk 6-8 detik pertama. Zat gizi yang berperan adalah
karbohidrat, lemak, dan protein yang dimetabolisme menjadi creatine phosphate (CP) dan ADP
untuk selanjutnya menghasilkan ATP. Pada proses pemulihan setelah selesai melakukan latihan
maka keratin fosfat akan dibentuk kembali sehingga ketersediaan karbohidrat, lemak dan protein
harus cukup. Olahraga yang memakai sistem ini adalah olahraga dengan waktu cepat dan
intensitas tinggi seperti lari cepat 100 m, renang 25 m, dan angkat besi.