Anda di halaman 1dari 4

SINUSITIS MAKSILARIS (ICD 10 : J32.

0)

No Dokumen No. revisi Halaman


01.02.30.12 0 1/4
PANDUAN Ditetapkan oleh,
PRAKTEK KLINIS Direktur RSU Mitra Sejati
(PPK) THT Tanggal terbit
12 Mei 2016

(dr. H.SG. WELDY RITONGA, MM)


Sinusitis Maksilaris adalah peradangan mukosa pada sinus maksilla yang
DEFENISI
paling sering disebabkan oleh infeksi dari nasal atau gigi.
1. GEJALA UTAMA :
 Ingus Mukopurulen
 Ingus Mengalir Ke Belakang Hidung
 Hidung Tersumbat
 Nyeri Wajah
 Hiposmia atau Anosmia
2. GEJALA TAMBAHAN :
 Nyeri Kepala
 Halitosis / bau mulut
ANAMNESE  Nyeri Daerah Gusi atau Gigi Rahang Atas
 Batuk
 Nyeri Telinga
 Kelelahan
3. FAKTOR RESIKO, Jika Ada :
 Rinitis Alergi : Gejala ingus encer, bersin, hidung gatal jika
terpapar allergen.
 Refluks Laringofaringeal : Gejala suara serak, Mendehem, ingus
mengalir ke belakang hidung, rasa mengganjal di tenggorokan.
 Infeksi Gigi Kronis : Terutama gigi molar ketiga bagian atas,
1. Pemeriksaan rinoskopi anterior atau nasoendoskopi dapat ditemukan:
 Sekret mukopurulen dari meatus media
 Edema atau hiperemis di meatus media
PEMERIKSAAN  Ingus mengalir di belakang hidung / post nasal drips
FISIK  Septum deviasi / konka paradox/defleksi prosesus unsinatus ke
lateral.
2. Dapat ditemukian bengkak dan nyeri tekan pada pipi dan kelopak
mata bagian bawah
PEMERIKSAAN 1. Pemeriksaan Radiologi : Foto Polos Sinus Paranasal posisi Waters
PENUNJANG 2. Foto Thorax AP (persiapan operasi)
3. Nasoendoskopi
4. CT Scan Sinus Paranasal potongan koronal aksial soft tissue (jika ada
indikasi / Foto polos meragukan)
5. Pemeriksaan Laboratorium (persiapan operasi) : darah rutin, HST,
Ureum dan Kreatinin, SGOT dan SGPT, KGD) adrandom.
KRITERIA 1. Anamnesis sekret hidung mukopurulen
DIAGNOSIS 2. Pemeriksaan Fisik : sekret di meatus media dan post nasal drips
3. Pemeriksaan Penunjang : Foto polos sinus paranasal ditemukan
gambaran perselubungan (air fluid level) pada sinus maksilaris
SINUSITIS MAKSILARIS (ICD 10 : J32.0)

No Dokumen No. revisi Halaman


01.02.30.12 0 2/4
PANDUAN Ditetapkan oleh,
PRAKTEK KLINIS Direktur RSU Mitra Sejati
(PPK) THT Tanggal terbit
12 Mei 2016

(dr. H.SG. WELDY RITONGA, MM)


DIAGNOSIS Sinusitis Maksillaris (ICD 10; J32.0)

DIAGNOSA 1. Rhinitis Allergi (ICD 10; J30.4)


BANDING 2. Rhinitis Vasomotor (ICD 10; J30.0)
TERAPI/TINDAKAN 1. Non Pembedahan – Medikamentosa :
 Cuci hidung dengan larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%)
Dekongestan, analgetikdan mukolitik.
 Terapi Medikamentosa terhadap faktor resiko yaitu antihistamin
dan steroid topikal intranasal untuk rinitis alergi persistensedang
berat dan PPI/Proton Pump Inhibitor untuk Refluks
Laringofaringeal.
 Antibiotik jika di jumpai gejala dan tanda infeksi bakteri :
Sefalosforin / Eritromisin / Klaritromisin / Azitromisin selama 7-
14 hari.
 Koreksi terhadap gangguan gigi.
2. Pembedahan :
 Indikasi : Foto polos sinus paranasal gambaran perselubungan
(air fluid level pada sinus maksila)
 Intranasal Antrostomy (ICD 9 CM : 22.2)
 Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF)
3. Terapi medikamentosa post operasi : Ceftriaxone/Cefotaxime/
Ceftazidine 1gr/12 jam/iv, Dexametason amp/12 jam/iv, Asam
Tranexamat 500mg/8 jam.iv, Ketorolac 30 mg/8 jam/iv.
4. Terapi Rawat Jalan Post Operasi : Sefalosporin/ Aritromisin/
Eritromisin, Asam Mefenamat 3x 500mg/Na Diklofenak 2x50mg /
Deksametason 3x4 mg, Iliadin nasal drops 0,05%, Antihistamin
(Cetirizine, Loratadine)
EDUKASI 1. Penjelasan tentang diagnosa, rencana pengobatan, operasi dan
komplikasi dan lama rawatan.
2. Pencegahan inflamasi berulang dengan melakukan penatalaksanaan
faktor resiko dan faktor lingkungan.
PROGNOSIS Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam
Ad Fungsionam : dubia ad bonam
TINGKAT EVIDENS I
TINGKAT
REKOMENDASI A

PENELAAH KRITIS KSM THT KL RSU MITRA SEJATI


SINUSITIS MAKSILARIS (ICD 10 : J32.0)

No Dokumen No. revisi Halaman


01.02.30.12 0 3/4
PANDUAN Ditetapkan oleh,
PRAKTEK KLINIS Direktur RSU Mitra Sejati
(PPK) THT Tanggal terbit
12 Mei 2016

(dr. H.SG. WELDY RITONGA, MM)


INDIKATOR MEDIS Foto Polos Sinus Paranasal
KEPUSTAKAAN 1. Mangunkusumo E, Rifki N. Sinusitis. Dalam: Buku Ajar Ilmu
kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi 5. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta 2001. h. 120-4.
2. Metson RB, Mardon S, Sinusitis dan Kualitas Hidup. Dalam: Buku
Panduan The Harvard Medical School. Penerbit PT Bhuana Ilmu
Populer Kelompok Gramedia. Jakarta 2006. h. 1-11.
3. Ballenger JJ. Hidung dan Sinus Paranasal. Dalam: Ballenger
Penyakit Teling, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Jilid satu.
Edisi 13. Binarupa Aksara. Jakarta 1994. h 1-27.
4. Colman BH, Sinusitis, In: Hall and Colman’sDiseases of the Nose,
Throat and Ear, and Headand Neck. Ahandbookfor studentand
prasctitioners. 14th Edition, 1992. p. 49-54.
5. Facer WG, Kern EB, Sinusitis, Current Conceptsand Management. In
: Byron J.Bailey Head and Neck Surgery-Otolaryngology, Vol One,
Philadhelpia. USA. p. 366-76.
6. Bolger EW, MD, Facs. Anatomy of the paranasal Sinuses. In :
Disease of the sinuses Diagnosis and Management. Department of
Radiology/ Otolaryngology. Head and Neck Surgery, Maryland.
London 2001. p. 1-11.
7. Ruckenstein MJ. In : Comprehensive Review of Otolaryngology,
Department Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery,
Hospitalof The University Pennsylvania, Philadelpia. 2004. p. 91-100.
8. International Classification of Disease 10th Revision (ICD 10), Word
Health Organization.
9. International Classification of Disease 9th Revision Clinical
Modification (ICD 9CM). Word Health Organization.

Medan, Januari 2018

Mengetahui, Yang membuat,


Ketua Komite Medik Ka. KSM
RSU MITRA SEJATI

(dr. Rahmat Suhita Wahyu, Sp.PD) (dr. Rehulina Surbakti, Sp.THT-KL)


SINUSITIS MAKSILARIS (ICD 10 : J32.0)

No Dokumen No. revisi Halaman


01.02.30.12 0 4/4
PANDUAN Ditetapkan oleh,
PRAKTEK KLINIS Direktur RSU Mitra Sejati
(PPK) THT Tanggal terbit
12 Mei 2016

(dr. H.SG. WELDY RITONGA, MM)

Disahkan oleh,
Direktur RSU MITRA SEJATI

(dr. H. SG. Weldy Ritonga, MM)