Anda di halaman 1dari 14

PERTEMUAN 7.2.

BANTALAN DAN ELEMEN TRANSMISI

Poros

Definisi Poros

Poros adalah suatu bagian stasioner yang beputar, biasanya


berpenampang bulat dimana terpasang elemen-elemen seperti
roda gigi (gear), pulley, flywheel, engkol, sprocket dan elemen
pemindah lainnya. Poros bisa menerima beban lenturan, beban
tarikan, beban tekan atau beban puntiran yang bekerja sendiri-
sendiri atau berupa gabungan satu dengan lainnya.

Fungsi Poros

Poros dalam sebuah mesin berfungsi untuk meneruskan tenaga


bersama-sama dengan putaran. Setiap elemen mesin yang
berputar, seperti cakara tali, puli sabuk mesin, piringan kabel,
tromol kabel, roda jalan dan roda gigi, dipasang berputar terhadap
poros dukung yang tetap atau dipasang tetap pada poros dukung
yang berputar. Contohnya sebuah poros dukung yang berputar,
yaitu poros roda keran pemutar gerobak.

Macam - Macam Poros Berdasarkan Pembebanannya

1. Poros Transmisi (Transmission Shafts)

Poros transmisi lebih dikenal dengan sebutan shaft. Shaft akan


mengalami beban puntir berulang, beban lentur berganti ataupun
kedua-duanya. Pada shaft, daya dapat ditransmisikan melalui
gear, belt pulley, sprocket rantai, dll.
2. Gandar

Poros gandar merupakan poros yang dipasang diantara roda-roda


kereta barang. Poros gandar tidak menerima beban puntir dan
hanya mendapat beban lentur.

3. Poros Spindle

Poros spindle merupakan poros transmisi yang relatif pendek,


misalnya pada poros utama mesin perkakas dimana beban
utamanya berupa beban puntiran. Selain beban puntiran, poros
spindle juga menerima beban lentur (axial load). Poros spindle
dapat digunakan secara efektif apabila deformasi yang terjadi pada
poros tersebut kecil.

A. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Merencanakan


Poros

1. Kekuatan Poros

Poros transmisi akan menerima beban puntir (twisting moment),


beban lentur (bending moment) ataupun gabungan antara beban
puntir dan lentur. Dalam perancangan poros perlu memperhatikan
beberapa faktor, misalnya: kelelahan, tumbukan dan pengaruh
konsentrasi tegangan bila menggunakan poros bertangga ataupun
penggunaan alur pasak pada poros
tersebut. Poros yang dirancang tersebut harus cukup aman untuk
menahan beban-beban tersebut.

2. Kekakuan Poros

Meskipun sebuah poros mempunyai kekuatan yang cukup aman


dalam menahan pembebanan tetapi adanya lenturan atau defleksi
yang terlalu besar akan mengakibatkan ketidaktelitian (pada
mesin perkakas), getaran mesin (vibration) dan suara (noise). Oleh
karena itu disamping memperhatikan kekuatan poros, kekakuan
poros juga harus diperhatikan dan disesuaikan dengan jenis
mesin yang akan ditransmisikan dayanya dengan poros tersebut.

3. Putaran Kritis

Bila putaran mesin dinaikan maka akan menimbulkan getaran


(vibration) pada mesin tersebut. Batas antara putaran mesin yang
mempunyai jumlah putaran normal dengan putaran mesin yang
menimbulkan getaran yang tinggi disebut putaran kritis. Hal ini
dapat terjadi pada turbin, motor bakar, motor listrik, dll. Selain
itu, timbulnya getaran yang tinggi dapat mengakibatkan
kerusakan pada poros dan bagian-bagian lainnya. Jadi dalam
perancangan poros perlu mempertimbangkan putaran kerja dari
poros tersebut agar lebih rendah dari putaran kritisnya.

4. Material Poros

Poros yang biasa digunakan untuk putaran tinggi dan beban yang
berat pada umumnya dibuat dari baja paduan (alloy steel) dengan
proses pengerasan kulit (case hardening) sehingga tahan terhadap
keausan. Beberapa diantaranya adalah baja khrom nikel.

5. Korosi
Apabila terjadi kontak langsung antara poros dengan fluida
korosif maka dapat mengakibatkan korosi pada poros tersebut,
misalnya propeller shaft pada pompa
air. Oleh karena itu pemilihan bahan-bahan poros (plastik)
dari bahan yang tahan korosi perlu mendapat prioritas utama.

B. GETARAN – GETARAN PADA POROS


Suatu fenomena yang terjadi dengan berputarnya poros pada
kecepatan – kecepatan tertentu adalah getaran yang sangat tinggi,
meskipun poros dapat berputar dengan baik pada kecepatan –
kecepatan yang lain. Pada kecepatan – kecepatan semacam itu
dimana getaran menjadi sangat besar, dapat terjadi kegagalan
poros atau bantalan – bantalan. Atau getaran dapat menyebabkan
kegagalan karena tidak bekerjanya komponen – komponen sesuai
dengan fungsinya, seperti yang dapat terjadi pada sebuah turbin
uap dimana ruang bebas antara rotor dan rumah adalah kecil.
Getaran semacam ini dapat menyebabkan apa yang disebut olakan
poros, atau mungkin menyebabkan suatu osilasi puntir pada
poros, atau suatu kombinasidari keduanya. Meskipun kedua
peristiwa itu berbeda, namun akan ditunjukkan bahwa masing –
masing dapat ditangani dengan cara – cara yang serupa dengan
memperhatikan frequensi pribadi dari isolasi. Karena poros –
poros pada dasarnya elastik, dan menunjukkan karakteristik –
karakteristik pegas.
Poros ini mengalami suatu momen punter atau momen lentur
. Jika pada poros tersebut terdapat kombinasi antara momen
lentur dan momen puntir maka perancangan poros harus
didasarkan pada kedua momen tersebut. Banyak teori telah
diterapkan untuk menghitung elastic failure dari material ketika
dikenai momen lentur dan momen puntir, misalnya :
1. Maximum shear stress theory atau Guest’s theory
Teori ini digunakan untuk material yang dapat diregangkan
(ductile), misalnya baja lunak (mild steel).
2. Maximum normal stress theory atau Rankine’s theory
Teori ini digunakan untuk material yang keras dan getas (brittle),
misalnya besi cor (cast iron).
Pada pembahasan selanjutnya, cakupan pembahasan akan lebih
terfokus pada pembahasan baja lunak (mild steel) karena
menggunakan material S45C sebagai material.
Secara analitis getaran yang mengakibatkan tegangan pada poros
dapat dihitung secara terperinci. Misalnya, tegangan geser yang
diizinkan untuk pemakaian umum pada poros dapat diperoleh
dari berbagai cara, salah satu cara diantaranya dengan
menggunakan perhitungan berdasarkan kelelahan puntir yang
besarnya diambil 40% dari batas kelelahan tarik yang besarnya
kira-kira 45% dari kekuatan tarik. Jadi batas kelelahan puntir
adalah 18% dari kekuatan tarik, sesuai dengan standar ASME.
Untuk harga 18% ini faktor keamanan diambil sebesar . Harga 5,6
ini diambil untuk bahan SF dengan kekuatan yang dijamin dan
6,0 untuk bahan S-C dengan pengaruh masa dan baja paduan.
Faktor ini dinyatakan dengan . Selanjutnya perlu ditinjau apakah
poros tersebut akan diberi alur pasak atau dibuat bertangga
karena pengaruh konsentrasi tegangan cukup besar. Pengaruh
kekasaran permukaan juga harus diperhatikan. Untuk
memasukan pengaruh ini kedalam perhitungan perlu diambil
faktor yang dinyatakan dalam yang besarnya 1,3 sampai 3,0
(Sularso dan Kiyokatsu suga, 1994: 8).
Pada Pembebanan yang berubah – ubah (fluctuating loads),Pada
berbagai sumber bacaan tentang poros pembebanan
tetap (constant loads) telah banyak dibahas mengenai yang terjadi
pada poros dan ternyata pembebanan semacam ini divariasikan
apapun akan tetap konstan sehingga pembebanan seperti apapun
tidak menjadi masalah, dengan asumsi masih dibawah tegangan
luluhnya (yield). Dan dari segi lain pada kenyataannya bahwa
poros akan mengalami pembebananpuntir dan pembebanan lentur
yang berubah-ubah. Dengan mempertimbangkan jenis beban, sifat
beban, dll. yang terjadi pada poros maka ASME (American Society
of Mechanical Engineers)menganjurkan dalam perhitungan untuk
menentukan diameter poros yang dapat diterima (aman) perlu
memperhitungkan pengaruh kelelahan karena beban berulang.
C. PERANCANGAN BAHAN POROS
Pada perancangan bahan poros ini terdapat perlakuan
panas.Perlakuan panas adalah proses pada saat bahan
dipanaskan hingga suhu tertentu dan selanjutnya didinginkan
dengan cara tertentu pula. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
sifat-sifat yang lebih baik dan yang diinginkan sesuai dengan
batas-batas kemampuannya. Sifat yang berhubungan dengan
maksud dan tujuan perlakuan panas tersebut meliputi:
1. Meningkatnya kekuatan dan kekerasannya.
2. Mengurangi tegangan.
3. Melunakkan .
4. Mengembalikan pada kondisi normal akibat pengaruh
pengerjaan
sebelumnya.
5. Menghaluskan butir kristal yang akan berpengaruh terhadap
keuletan
bahan.
Untuk proses pembuatan poros dengan melakukan hardening
permukaan. Pemanasan poros ini dilakukan di atas suhu
transformasi fase dan selanjutnya didinginkan dengan cepat sekali
pada suhu kamar. Sehingga terbentuk suatu fase yang stabil pada
suhu tinggi, pengerasan dengan cara ini mengakibatkan
terbentuknya susunan yang tidak stabil. Tetapi inilah yang
membuat elemen poros ini tidak mudah aus tergerus oleh gesekan
yang ada.
Untuk mendapatkan sifat-sifat bahan untuk poros yang
lebih baik sesuai dengan karakter yang diinginkan dapat
dilakukan melalui pemanasan dan pendinginan. Tujuannya
adalah mengubah struktur mikro sehingga bahan dikeraskan,
dimudahkan atau dilunakan. Pemanasan bahan dilakukan diatas
garis transformasi kira-kira pada 770 derajat C sehingga perlit
yang ada pada bakal poros itu berubah menjadi austenit yang
homogen karena terdapat cukup karbon. Pada suhu yang lebih
tinggi ferrit menjadi austenit karena atom karbon difusi ke dalam
ferrit tersebut. Untuk pengerasan baja, pendinginan dilakukan
dengan cepat melalui pencelupan kedalam air, minyak atau bahan
pendingin lainnya sehingga atom-atom karbon yang telah larut
dalam austenit tidak sempat membentuk sementit dan ferrit
akibatnya austenit menjadi sangat keras yang disebut martensit.
Pada baja setelah terjadi austenit dan ferrit kadar karbonya akan
menjadi makin tinggi sesuai dengan penurunan suhu dan akan
membentuk hipoeutektoid. Pada saat pemanasan maupun
pendinginan difusi atom karbon memerlukan waktu yang cukup.
Laju difusi pada saat pemanasan ditentukan oleh unsur-unsur
paduanya dan pada saat pendinginan cepat austenit yang berbutir
kasar akan mempunyai banyak martensit. Austenit serta
martensit inilah yang nantinya akan menjadi sumber kekerasan
luar dari poros

1. Aturan umum perancangan poros :


a. Untuk meminimalisasi defleksi dan tegangan, poros
diusahakan sependek mungkin dan meminimalisasi keadaan
‘overhang’,
b. Sebisa mungkin menghindari susunan batang kantilever, dan
mengusahakan tumpuan sederhana, kecuali karena tuntutan
perancangan. Hal ini karena batang kantilever akan terdefleksi
lebih besar,
c. Poros berlubang mempunyai perbandingan kekakuan dengan
massa (kekakuan spesifik) lebih baik dan frekuensi pribadi lebih
besar dari pada poros pejal, tetapi harganya akan lebih mahal dan
diameter akan lebih besar,
d. Usahakan menghindarkan kenaikan tegangan pada lokasi
momen bending yang besar jika memungkinkan dan
meminimalisasi efeknya dengan cara
menambahkan fillet dan relief.
e. Jika tujuan utamanya adalah meminimalisasi defleksi, baja
karbon rendah baik untuk digunakan karena kekakuannya
setinggi baja dengan harga yang lebih murah dan pada poros yang
dirancang untuk defleksi, tegangan yang terjadi cenderung kecil,
f. Defleksi pada roda gigi yang terpasang pada pada poros tidak
boleh melebihi 0.005 inch dan slope relatif antar sumbu roda gigi
harus kurang dari 0.03º.
g. Jika digunakan plain bearing, defleksi poros pada arah
sepanjang bantalan harus kurang dari tebal lapisan oli pada
bantalan,
h. Jika digunakan non-self-alligning rolling element bearing,
defleksi sudut poros pada bantalan harus dijaga kurang dari
0.04º,
i. Jika terjadi gaya aksial, harus digunakan paling tidak
sebuah thrust bearing untuk setiap arah gayanya. Jangan
membagi gaya aksial pada beberapa thrust bearing karena
ekspansi termal pada poros akan mengakibatkan overload pada
bantalan.
j. Frekuensi pribadi pertama poros minimal tiga kali frekuensi
tertinggi ketika gaya terbesar yang diharapkan terjadi pada saat
operasi. Semakin besar akan semakin baik, tetapi akan semakin
sulit untuk dicapai.

1. Perhitungan Diameter Poros.


Dalam perhitungan diameter poros ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yakni faktor koreksi yang dianjurkan ASME dan juga
dipakai disini. Faktor koreksi akibat terjadinya tumbukan yang
dinyatakan dengan Kt, jika beban dikenakan beban secara halus,
maka dipilih sebesar 1,0. Jika terjadi sedikit kejutan atau
tumbukan, maka dipilih sebesar 1,0-1,5. Jika beban dikenakan
dengan kejutan atau tumbukan besar, maka dipilih sebesar 1,5-
3,0. Dalam hal ini harga Kt diambil sebesar 3 karena cangkang
terhisap langsung kedalam mesin fan sehingga mendapatkan
beban kejut atau tumbukan yang besar secara tiba-tiba.
Meskipun dalam perkiraan sementara ditetapkan bahwa beban
hanya terdiri atas momen puntir saja, perlu ditinjau pula apakah
ada kemungkinan pemakaian dengan beban lentur. Dimana untuk
perkiraan sementara ditetapkan bahwa beban hanya terjadi
karena momen puntir saja dengan harga diantara 1,2-2,3 (jika
diperkirakan tidak akan terjadi pembebanan lentur maka Cb
diambil 1,0), dalam perencanaan diambil faktor koreksinya
sebesar 1,2. Maka rumus untuk merencanakan diameter poros ds
diproleh:

dimana : ds = diameter poros yang direncanakan


(mm)
a = kekuatan tarik bahan (kg/mm2) aτ
Kt = faktor koreksi untuk kemungkinan terjadinya tumbukan
Cb = faktor koreksi untuk kemungkinan terjadinya beban
lentur.

a. Pembebanan Tetap (constant loads)


1) Poros yang hanya terdapat momen puntir saja.

Untuk menghitung diameter poros yang hanya terdapat momen


puntir saja(twisting moment only) dapat diperoleh dari persamaan
berikut :

Dimana : T = Momen puntir pada poros


r = Jari – jari poros
J = Momen Inersia Polar
Selain dengan persamaan diatas, besarnya momen puntir
pada poros(twisting moment) juga dapat diperoleh dari hubungan
persamaan dengan variable-variable lainnya, misalnya :
a)

Daya yang ditransmisikan

buk penggerak (belt drive) : T = (T1 – T2) x R


dimana T1 = tarikan yang terjadi pada sisi kencang
T2 = tarikan yang terjadi pada sisi kendor
R = jari-jari pulley

2) Poros yang hanya terdapat momen lentur saja.


Untuk menghitung diameter poros yang hanya terdapat
momen lentur saja (bending moment only), dapat diperoleh dari
persamaan berikut :

dimana : M = Momen lentur pada poros


I = Momen Inersia
y = jari-jari poros
= Bending stress

Untuk poros yang berbentuk bulat padat besarnya momen


Inersia dirumuskan :

3) Poros dengan kombinasi momen lentur dan momen puntir.


Jika pada poros tersebut terdapat kombinasi antara momen
lentur dan momen puntir maka perancangan poros harus
didasarkan pada kedua momen tersebut. Banyak teori telah
diterapkan untuk menghitung elastic failure dari material ketika
dikenai momen lentur dan momen puntir.
a) Maximum shear stress theory atau Guest’s theory
Teori ini digunakan untuk material yang dapat diregangkan
(ductile), misalnya baja lunak (mild steel).
b) Maximum normal stress theory atau Rankine’s theory
Teori ini digunakan untuk material yang keras dan getas
(brittle), misalnya besi cor (cast iron). Pada pembahasan
selanjutnya, cakupan pembahasan akan lebih terfokus pada
pembahasan baja lunak (mild steel)karena menggunakan material
S45C sebagai material poros. Terkait dengan Maximum shear
stress theory atau Guest’s theory bahwa besarnya maximum
shear stress pada poros dirumuskan :

Dengan mensubsitusikan ke persamaan akan diperolah :


Tegangan geser yang diizinkan untuk pemakaian umum
pada poros dapat diperoleh dari berbagai cara, salah satu cara
diantaranya dengan menggunakan perhitungan berdasarkan
kelelahan puntir yang besarnya diambil 40% dari batas kelelahan
tarik yang besarnya kira-kira 45% dari kekuatan tarik. Jadi batas
kelelahan puntir adalah 18% dari kekuatan tarik, sesuai dengan
standar ASME. Untuk harga 18% ini faktor keamanan diambil
sebesar . Harga 5,6 ini diambil untuk bahan SF dengan kekuatan
yang dijamin dan 6,0 untuk bahan S-C dengan pengaruh masa
dan baja paduan. Faktor ini dinyatakan dengan . Selanjutnya
perlu ditinjau apakah poros tersebut akan diberi alur pasak atau
dibuat bertangga karena pengaruh konsentrasi tegangan cukup
besar. Pengaruh kekasaran permukaan juga harus diperhatikan.
Untuk memasukan pengaruh ini kedalam perhitungan perlu
diambil faktor yang dinyatakan dalam yang besarnya 1,3 sampai
3,0

b. Pembebanan Berubah-ubah (fluctuating loads)


Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai
pembebanan tetap (constant loads) yang terjadi pada poros. Dan
pada kenyataannya bahwa poros justru akan mengalami
pembebanan puntir dan pembebanan lentur yang berubah-ubah.
Dengan mempertimbangkan jenis beban, sifat beban, dll. yang
terjadi pada poros maka ASME (American Society of Mechanical
Engineers)menganjurkan dalam perhitungan untuk menentukan
diameter poros yang dapat diterima (aman) perlu
memperhitungkan pengaruh kelelahan karena beban berulang

Jenis Pembebanan Km Kt
1. Poros tetap
a. Beban perlahan 1,0 1,0
b. Beban tiba-tiba 1,5 - 1,5 –
2,0 2,0
2. Poros yang berputar
a. Beban perlahan ataupun 1,5 1,0
tetap
b. Beban tiba-tiba kejutan 1,5 – 1,5 –
ringan 2,0 2,0
c. Beban tiba-tiba kejutan 2,0 – 1,5 –
berat 3,0 3,0

3. Daya Poros

Di stasiun Kernel pada Pabrik Kelapa Sawit,


poros Depericarper Fanakan mendapatkan daya dari boiler. Daya
tersebut akan ditransmisikan dari turbin ke poros melalui V-Belt.
Daya merupakan daya nominal output dari motor penggerak
dalam hal ini turbin uap. Daya yang besar mungkin diperlukan
pada saat mulai (start), atau mungkin beban yang besar terus
bekerja setelah start. Dengan demikian sering diperlukan koreksi
pada daya rata-rata yang diperlukan dengan menggunakan faktor
koreksi pada perencanaan.

Ada beberapa jenis faktor koreksi sesuai dengan daya yang


akan ditransmisikan sesuai dengan tabel 2.1.
Tabel 2.1 Jenis-jenis faktor koreksi berdasarkan daya yang
ditransmisikan

Daya yang ditransmisikan fc


Daya rata-rata yang
1,2 – 2,0
diperlukan
Daya maksimum yang
0,8 – 1,2
diperlukan
Daya normal 1,0 – 1,5

Dalam perhitungan poros ini diambil daya rata-rata sebagai


daya rencana dengan faktor koreksi sebesar fc = 2,0. Harga ini
diambil dengan pertimbangan bahwa daya yang direncanakan
akan lebih besar dari daya maksimum sehingga poros yang akan
direncanakan semakin aman terhadap kegagalan akibat momen
puntir yang terlalu besar. Sehingga besar daya rencana Pd yaitu :

Dimana :
Pd = daya rencana (kW)
fc = faktor koreksi
N = daya normal keluaran motor penggerak (kW)

Dengan adanya daya dan putaran, maka poros akan


mendapat beban berupa momen puntir. Oleh karena itu dalam
penentuan ukuran-ukuran utama poros akan dihitung
berdasarkan beban puntir serta kemungkinan-kemungkinan
kejutan/tumbukan dalam pembebanan, seperti pada saat motor
mulai berjalan. Besarnya momen puntir yang dikerjakan pada
poros dapat dihitung :

Dimana :
T = momen puntir rencana (kg.mm)
Pd = daya rencana (kW)
n = putaran (rpm)

Bahan poros yang direncanakan adalah baja cor yaitu jenis


baja karbon tinggi dengan kadar C > 0,5 %. Baja karbon
konstruksi mesin (disebut bahan S-C) dihasilkan dari ingot
yang dikil (baja yang dioksidasikan dengan ferrosilikon dan
dicor), kadar karbon terjamin. Jenis-jenis baja S-C beserta
dengan kekuatan tariknya dapat dilihat dari tabel 2.2.

Dalam perencanaan poros ini dipilih bahan jenis S30C yang


dalam perencanaannya diambil kekuatan tarik sebesar . Maka
tegangan puntir izin dari bahan dapat diperoleh dari rumus :
Dimana :

τa = tegangan geser izin (kg/mm2)


σb = kekuatan tarik bahan (kg/mm2)
Sf1 = faktor keamanan yang bergantung kepada jenis bahan.
Sf2 = faktor keamanan yang bergantung pada bentuk poros
(harga 1,3-3,0)

Sesuai dengan standar ASME, batas kelelahan puntir adalah


18% dari kekuatan tarik, dimana untuk harga ini faktor keamanan
diambil sebesar =5,6. Harga 5,6 diambil untuk bahan SF dan 6,0
untuk bahan S-C dengan pengaruh massa dan baja paduan.
Harga Sf1 diambil 6 karena dalam perencanaan pemilihan bahan
diambil jenis S30C. Sedangakan nilai Sf2, karena poros yang
dirancang merupakan poros bertingkat, sehingga dalam
perencanaannya faktor keamanan diambil 1,4. bσ10,18

4. Pemeriksaan Kekuatan Poros


Ukuran poros yang telah direncanakan harus diuji kekuatannya.
Pengujian dilakukan dilakukan dengan memeriksa tegangan geser
yang terjadi (akibat momen puntir) yang bekerja pada poros.
Apabila tegangan geser ini melampaui tegangan geser izin yang
dapat ditahan oleh bahan maka poros mengalami kegagalan.
Besar tegangan geser akibat momen puntir yang bekerja pada
poros diperoleh dari:

dimana:
τp = tegangan geser akibat momen puntir ( kg/mm2 )
T = momen puntir yang terjadi (direncanakan)
( kg.mm )
ds = diameter poros ( mm )
Daftar Pustaka

1. http://www.academia.edu/5646486/ELEMEN_MESIN_Peranca
ngan_Poros.
2. http://www.academia.edu/5863621/POROS
3. http://www.academia.edu/5646486/ELEMEN_MESIN_Peranca
ngan_Poros
4. Sularso. 2002. Dasar perencanaan dan pemilihan elemen
mesin. Jakarta, Pradnya Paramita