Anda di halaman 1dari 11

Windy Eka Noviyani

Teknik Perkapalan

Tugas Makalah
Biro Klasifikasi di Dunia dan Indonesia

Disusun :

Windy Eka Noviyani

Program Studi Teknik Perkapalan

Jurusan

Universitas Pattimura

Ambon 2018
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah Biro
Klasifikasi di Dunia ini dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.
Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Ir. Bakri Jaya selaku Dosen mata kuliah Teknik
Tenaga Listrik dan Penggerak Mula yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Penulis sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai pengertian, tujuan, fungsi, aplikasi dari Biro Klasifikasi.
Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-
kekurangan dan jauh dari apa yang kami harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi penulis maupun yang
membacanya. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih.

Ambon, Maret 2018

Penyusun
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap pembangunan kapal, tidak terlepas dari peranan galangan kapal dan biro
klasifikasi. Kegiatan klasifikasi kapal berdasar pada konstruksi lambung, mesin, dan
listrik kapal, dengan tujuan memberikan penilaian atas layak tidaknya kapal tersebut
untuk berlayar. Klasifikasi dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti Klasifikasi Kapal,
Notasi Kelas, Penerimaan Bangunan Baru, Penerimaan Bangunan Sudah Jadi, Pindah
Kelas, Mempertahankan Kelas, Approval Perusahaan, Approval Material/Komponen, dan
Sertifikasi Juru Las.
Lingkup klasifikasi kapal meliputi lambung kapal, instalasi mesin, instalasi listrik,
perlengkapan jangkar, instalasi pendingin yang terpasang permanen dan merupakan
bagian dari kapal, semua perlengkapan dan permesinan yang di pakai dalam operasi
kapal, serta sistem konstruksi dan perlengkapan yang menentukan tipe kapal. Untuk
mengetahui lebih mendalam mengenai hal tersebut maka dibuatlah makalah ini untuk
mempermudah pemahaman akan Biro Klasifikasi, baik Biro Klasifikasi di dunia maupun
di Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah


Adapun masalah yang dihadapi adalah:
1. Apakah pembaca mengetahui sejarah Biro Klasifikasi di dunia ?
2. Apakah pembaca sejarah Biro Klasifikasi di Indonesia ?
3. Apakah pembaca mengetahui Fungsi dan tujuan dari Biro Klasifikasi ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Pembaca mengetahui sejarah Biro Klasifikasi di Dunia.
2. Pembaca mengetahui sejarah Brio Klasifikasi di Indonesia.
3. Pembaca mengetahui Fungsi dan tugas dari Biro Klasifikasi

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah:
1. Memberikan pengetahuan mengenai sejarah Biro Klasifikasi di Dunia dan di
Indonesia.
2. Mengetahui peran fungsi dan tugas dari Biro Klasifikasi di Dunia dan di Indonesia.
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Biro Klasifikasi di Dunia

Gambar 1. 1 Edward Llyod


Klasifikasi kapal sebenarnya adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengategorikan
kapal ke dalam suatu kelas tertentu. Klasifikasi kapal dunia sudah dimulai sekitar tahun
1760-an, dari sebuah kedai kopi (coffe shop) milik Edward Lloyd di London, pada saat itu
di kedai kopi tersebut banyak berkumpul orang-orang yang dalam bisnisnya berhubungan
dengan dunia perkapalan, mulai dari pelaut, pemilik kapal sampai dengan pihak asuransi.
Berawal dari situlah muncul ide dari Edward Lloyd untuk melakukan pencatatan
(registrasi) terhadap kapal-kapal yang pemiliknya sering berkumpul di kedai kopinya.
Dan singkat kata dari daftar kapal tersebut yang akhirnya terbentuklah Lloyd’s Register of
Shipping (LRS) pada tahun 1760.
Awalnya klasifikasi kapal didasarkan pada kelas A,B,C,D sesuai dengan kondisinya
berdasarkan penilaian para surveyornya yang umumnya mantan kapten kapal. Sampai
akhirnya diterbitkanlah peraturan LRS pertama yang dipakai sebagai standar teknis
klasifikasi kapal. Sejak saat itu dilakukanlah terus menerus penelitian dan pengembangan
(Research and Development) sesuai dengan teknologi dan perkembangan dunia
perkapalan, termasuk untuk kapal perang.
LRS terus dikembangkan dengan berbagai diversifikasi inspeksi teknisnya tidak
hanya terbatas dengan kapal, tetapi juga fasilitas apung seperti FPSO (Floating
Production Storage & Offloading Unit), FSO (Floating Storage & Offloading Unit),
MODU (Mobile Offshore Drilling Unit), platform serta di jalur kereta api (railway),
transportasi, pembangkit listrik dan bidang industri yang lain.
Biro-biro klasifikasi adalah pihak-pihak yang berwenang dengan pengaruh yang
sangat besar dalam pembangunan kapal, rancangan, dan keamanan kapal niaga serta
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

berguna sebagai tuntunan selama seluruh waktu pembangunan kapal. Beberapa biro
klasifikasi yang paling berpengaruh dan penting adalah:
 Biro Klasifikasi Inggris (Loyd’s Register of Shipping/LR)berdiri di London tahun
1760.
 Biro Klasifikasi Perancis (Bureau Veritas/BV) berdiri di Paris tahun 1828.
 Biro Klasifikasi Norwegia (Det Norske Veritas/NV) berdiri di Oslo tahun 1864.
 Biro Klasifikasi italia (Registo Italiano Navale/RIN) berdiri di Genoa tahun 1861.
 Biro Klasifikasi Amerika (The American Bureau of Shipping/ABS) berdiri
di Houston tahun 1862.
 Biro Klasifikasi Jerman (Germanischer Lloyd/GL) berdiri di Hamburg tahun 1867.
 Biro Klasifikasi Jepang (Nippon Kaiji Kyokai/NKK) berdiri di Tokyo tahun 1899.
Dari semua biro-biro klasifikasi diatas, biro klasifikasi di London lah yang paling
terkenal dan diakui. Biro klasifikasi Inggris berhubungan dengan perawatan teknis dalam
konstruksi kapal dan klasifikasi kapal-kapal. Sebagai contoh, catatan dari semua rincian
teknis terkait dan jaminan bahwa kapal akan memenuhi standar. Kapal-kapal yang
diklasifikasi oleh biro jasa Inggris diberikan klasifikasi (+ 100 A1).
Tanda “+” menunjukkan bahwa kapal telah dibangun dibawah pengawasan pengawas dari
biro klasifikasi Inggris, sementara tanda “100 A” menunjukkan bahwa kapal telah
dibangun sesuai dengan standar yang diajarkan dan tanda “1” menunjukkan bahwa
perlengkapan keselamatan, jangkar, dan ruang-ruang akomodasi telah sesuai.
Survey/pemeriksaan pada jangka waktu tertentu dilaksanakan oleh pengawas-
pengawas dari Biro Klasifiasi untuk memastikan bahwa kapal masih memenuhi standar.
Biro Klasifikasi juga berwenang terhadap penerbitan sertifikat “garis muat” untuk
menentukan dan menilai ukuran-ukuran, berat (tonnase) dan untuk memastikan bahwa
kapal telah memenuhi peraturan-peraturan keselamatan. Pengawas-pengawas diseluruh
dunia meaksanakan pengawasan-pengawasan ini dan melaporkan ke markas pusat di
London, serta pusat-pusat yang berada di Negara lain. Sebuah kapal yang tidak lagi
memenuhi standar akan kehilangan klasifikasinya dan dikembalikan kepada pemiliknya.
Dalam mengembangkan Rules atau Aturanya, badan klasifikasi umumnya bertumpu
pada pengalaman empiris yang didapat dari mengklaskan bermacam-macam kapal selama
bertahun-tahun dan kegiatan penelitian yang memberikan kontribusi melalui
pengembangan persyaratan teknik yang relevan. Badan klasifikasi juga dapat meminta
masukan dan kajian dari anggota-anggota industri dan akademisi yang dianggap memiliki
pengetahuan dan pengalaman yang relevan.
Klas sebuah kapal dikatakan terpelihara jika pihak pemilik atau operator
mengindahkan opini Badan Klasifikasi, menjaga agar kapalnya sesuai atau memenuhi
persayaratan Aturan klas yang terkait, yang dipastikan melalui pelaksanaan survey
periodik maupun non periodik.
Sebagai sebuah badan yang independen, mengatur diri sendiri, dan diaudit oleh
pihak eksternal, badan klasifikasi tidak memiliki kepentingan komersil terkait dengan
perancangan, pembangunan, kepemilikan, pengoperasian, manajemen, pemeliharaan atau
perbaikan, asuransi, atau penyewaan kapal.
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

Badan-badan klasifikasi mempunyai sebuah asosiasi yang bernama International


Association of Classification Societies (IACS). IACS mempunyai sekretariat permanen
yang berkedudukan di London, Inggris. Saat ini IACS beranggotakan 12 badan klasifikasi
yaitu:
 Lloyd’s Register (LR) dari Inggris.
 American Bureau of Shipping (ABS) dari Amerika Serikat.
 Bureau Veritas (BV) dari Perancis.
 Det Norske Veritas – Germanischer Lloyd (DnV-GL) yang merupakan
merger dari dua perusahaan klasifikasi DnV dari Norwegia dan GL dari
Jerman.
 Registro Italiano Navale (RINA) dari Italia.
 Polski Rejestr Statkow (PRS) dari Polandia.
 Croatian Register of Shipping (CRS) dari Kroasia.
 Russian Maritime Register of Shipping (RS) dari Federasi Russia.
 Nippon Kaiji Kyokai (NK) dari Jepang.
 China Classification Societies (CCS) dari China.
 Korean Register (KR) dari Korea Selatan.
 Indian Register of Shipping (IRS) dari India.
Didedikasikan untuk keselamatan kapal dan lingkungan laut yang bersih, IACS
memberikan kontribusi yang unik kepada keselamatan maritim dan peraturannya melalui
dukungan teknis, pemenuhan verifikasi, dan kegiatan penelitian dan pengembangan yang
dilakukan.
Sebagai salah satu pemangku kepentingan International Maritime Organization
(IMO), IACS menjadi rujukan peraturan dan standar bagi badan-badan klasifikasi dunia.
Lebih dari 90 persen tonase muatan yang diangkut melalui laut dibawa oleh kapal-kapal
yang berada di bawah aturan dan standar klasifikasi, konstruksi, dan verifikasi
berkelajutan dari 12 badan klasifikasi yang menjadi anggota IACS.

2.2 Sejarah Biro Klasifikasi di Indonesia


Indonesia termasuk salah satu di antara beberapa negara yang menyadari betul
pontensi wilayah maritim sebagai asset strategis yang perlu dijaga dan dimanfaatkan bagi
kepentingan nasionalnya, baik dari sisi kedaulatan dan pertahanan keamanan,
kemandirian ekonomi, pengembangan industri, maupun aspek kehidupan lain yang lebih
luas. Kesaradan itulah yang antara lain mendorong Presiden Sukarno pada tanggal 24
Agustus 1964, nenetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1964 tentang
Pendirian Perusahaan Negara Biro Klasifikasi Indonesia yang berlaku surut hingga
tanggal 1 Juli 1964.
Dasar pertimbangan pendirian Perusahaan Negara Biro Klasifikasi Indonesia (PN
BKI) ini adalah pertama, bahwa pada waktu itu Pemerintah masih menggunakan jasa-jasa
dari biro klasifikasi asing dalam bidang pembangunan dan pemeliharaan kapal-kapal.
Kedua, bahwa dilihat dari segi teknis konstruksi bagi kapal-kapal yang dibangun
untuk pelayaran dalam negeri, syarat-syarat yang ditetapkan oleh biro klasifikasi asing
ada kalanya tidak sesuai, sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika kapal-kapal
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

tersebut diklasifikasikan oleh biro klasifikasi nasional yang lebih menguasai keadaan
pelayaran di Indonesia.
Ketiga, bahwa di samping dilihat dari sudut kebanggaan nasional dengan adanya
biro klasifikasi nasional, diharapkan dapat terjadi penghematan sejumlah devisa yang tiap
tahun ditransfer ke luar negeri jika menggunakan jasa biro klasifikasi asing.
Selain itu dengan adanya biro klasifikasi nasional ini diharapkan terbuka
kesempatan bagi para ahli teknik perkapalan bangsa Indonesia untuk mengembangkan
dan memperluas pengalaman serta keahliannya di bidang pembangunan, pemeliharaan,
dan perbaikan kapal-kapal.
Dari pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasar pendirian PN BKI itu
tergambar betapa kuatnya jiwa dan semangat nasionalisme untuk menegakkan
kemandirian dan supremasi bangsa di bidang maritim, dengan memiliki badan klasifikasi
sendiri yang menguasai keadaan pelayaran dan karakter perairan di Indonesia, yang
sekaligus juga diharapkan menjadi tempat para ahli perkapalan bangsa sendiri
mengembangkan pengalaman dan keahliannya dalam pembangunan, perawatan, dan
perbaikan kapal.
Sebagaimana Perusahaan Negara yang mengacu kepada Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang Nomor 19 tahun 1960, PN BKI memiliki tujuan untuk turut
membangun ekonomi nasional dengan mengutamakan kebutuhan rakyat dan ketentraman
serta kesenangan kerja dalam perusahaan, menuju masyarakat yang adil dan makmur
materiil dan spirituil.
Terkait dengan hal tersebut maka Pemerintah RI melalui Menteri Perhubungan Laut
Ali Sadikin, mengeluarkan serangkaian surat keputusan untuk menjamin pemasaran jasa
PN BKI yang mulai beroperasi pada 1 Januari 1965.
Peraturan-peraturan itu meliputi peraturan tentang wajib klasifikasi kapal,
penunjukan BKI sbagai satu-satunya badan yang berusaha di bidang klasifikasi kapal,
pemberian wewenang untuk mengeluarkan sertifikat-sertifikat tertentu, dan melakukan
pengawasan pengedokan kapal di luar negeri.
Dukungan pemerintah untuk menjamin pemasaran jasa BKI diperlukan karena
klasifikasi kapal pada masa itu termasuk hal yang relatif masih belum banyak dikenal
oleh para pelaku usaha pelayaran, dan selama ini jasa klasifikasi kapal-kapal bendera
Indonesia dilayani oleh badan klasifikasi asing seperti ABS, LR, BV, GL, dan
NK.Sejarah berdiri dan perkembangan BKI juga tidak dapat dilepaskan dari adanya
kerjasama dengan badan klasifikasi internasional seperti Germanischer Lloyd (GL) sejak
22 Juni 1965, Bureau Veritas (BV) sejak 15 Juli 1965, dan Nippon Kaiji Kyokai (NK)
sejak 22 November 1966. Perjanjian kerjasama Mutual Representative atau saling
mewakili juga pertama kali dilakukan antara BKI dengan BV (mulai tahun 1966) dan NK
(mulai tahun 1967).
Pada tanggal 1 Agustus 1969 Pemerintah RI di bawah kepemimpinan Presiden
Suharto menerbitkan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 tentang Penetapan Perpu
Nomor 1 Tahun 1969 tentang Bentuk-bentuk Usaha Negara menjadi undang-undang.
Atas dasar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 ini, maka pada tanggal 31 Januari
1977, Presiden Suharto mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1977
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Negara Biro Klasifikasi Indonesia Menjadi


Perusahaan Perseroan (Persero).
Pengalihan bentuk dari Perusahaan Negara menjadi Perusahaan Perseroan ini
dilakukan setelah Pemerintah melakukan penelitian dan penilaian terhadap kegiatan
operasional BKI termasuk mengenai prospek dan kemungkinan pengembangan bidang-
bidang usahanya tanpa merugi di masa depan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 5 PP Nomor 1 Tahun 1977 itu, terhitung mulai saat
berdirinya Perusahaan Perseroan (Persero) serta dibubarkannya Perusahaan Negara Biro
Klasifikasi Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1964 dan semua peraturan
pelaksanaannya dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pegalihan bentuk perusahaan menjadi Perseroan ini juga menjadi titik awal menuju
badan klasifikasi modern karena tujuan, tugas, dan lapangan usaha BKI tidak lagi hanya
terbatas pada bidang klasifikasi kapal tetapi juga mencakup bidang non class matter
sebagaimana badan klasifikasi internasional yang lebih dahulu ada.
Dengan pengalihan bentuk perusahaan itu tujuan Perusahaan Perseroan Terbatas
Biro Klaifikasi Indonesia (Persero) menjadi semakin fokus dan spesifik, yaitu
memajukan, meningkatkan, dan mengembangkan usaha-usaha yang bersangkut paut dan
berkaitan dengan perkapalan, pelayaran, dan Ocean Engineering agar terjamin
keselamatan jiwa dan benda di laut.
Sedangkan untuk tugas dan bidang usaha Perseroan menjadi:
a. Melakukan survey, pengawasan teknik, klasifikasi dan registrasi dari kapal serta
fasilitas konstruksi lepas pantai;
b. Menguji dan mengawasi kualitas dari bahan-bahan dan peralatan serta
perlengkapandari kapal dan produk industri maritim lainnya;
c. Mengerjakan penetapan dan survey Lambung Timbul dan sebagainya yang
ditugaskan oleh Pemerintah;
d. Memberikan jasa konsultasi maritim;
e. Menguji dan menerbitkan sertifikat kualifikasi juru las dan lainnya;
f. Dengan persetujuan Dewan Komisaris melakukan usaha-usaha lainnya yang dapat
menunjang kegiatan-kegiatan yang tersebut dahulu.
Pada tahun 1982 BKI mengembangkan Unit Non Class Matter (Unit NCM) untuk
memberikan layanan jasa Konsultansi dan Supervisi bidang maritim dan industri lainnya.
Unit Non Class Matter ini menjadi cikal bakal terbentuknya unit usaha Konsultansi dan
Supervisi, yang sekarang menjadi unit usaha Komersil. Sejak saat itu BKI memiliki dua
bidang kegiatan usaha: 1) Bidang Jasa Klasifikasi dan Statutoria dan 2) Bidang Jasa
Komersil (selain jasa klasifikasi dan statutoria).
Sejak pendirian PN Biro Klasifikasi Indonesia hingga bentuk sekarang sebagai PT
Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), badan klasifikasi nasional ini telah dipimpin oleh
sembilan orang Direktur Utama yaitu Mohamad Nazir (1964-1972), F.A. Pattiata (1972-
1977), Abdul Rahman Idris (1977-1986), Sultan Said (1986-1996), Iskandar
Bugandarsyah Ilahude (1996-2005), Muchtar Ali (2005-2010), Purnama Sembiring
Meliala (2010-2011), Ibnu Wibowo (2011-2013), dan sejak Akhir 2013 dipimpin oleh
Rudiyanto.
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

2.3 Fungsi dan Tugas Biro Klasifikasi Dunia


1. Biro klasifikasi adalah badan teknik yang melakukan kegiatan-kegiatan:
 Pengawasan baik untuk pembangunan kapal baru maupun kapal yang sedang
beroperasi.
 Pemberian sertifikasi untuk kapal-kapal yang telah lulus penilaian atas
kesempurnaan konstruksi dan kelengkapannya.
2. Kapal yang telah lulus uji kelas akan teregistrasi dan dikelaskan menurut keadaan
teknisnya.
3. Selain menangani masalah konstruksi, permesinan dan material, biro klasifikasi juga
mendapatkan wewenang untuk menjalankan survey yang didasarkan pada:
 International Convention on Load Lines (ILCC 1966).
 International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS 74).
 IMO Codes (Chemical and Gas Tankers).
 Convention of the Labour Organization Office (ILO).
 International Convention for the Prevention of Pollution from Ships
(MARPOL 73/78).
4. Klasifikasi memungkinkan galangan kapal melaksanakan pembangunan menurut
standar:
 Pengalaman praktek selama bertahun-tahun.
 Penelitian secara ilmiah.
 Perhitungan-perhitungan.
5. Diluar perhitungan konstruksi berdasarkan biro klasifikasi, kesempurnaan hasil
dapat diraih dengan:
 Pemeriksaan dan pengawasan selama pembangunan kapal.
 Pengujian bahan dan perlengkapan.
6. Biro klasifikasi juga mengawasi dan memberikan petunjuk dalam perbaikan
dan konversi kapal
7. Sertifikasi yang dikeluarkan oleh biro klasifikasi menjadi acuan pihak
perusahaan asuransi
8. Kapal yang mendapatkan kelas dari biro klasifikasi akan memperoleh premi
asuransi yang lebih rendah dibandingkan kapal yang tidak mempunyai
sertifikasi kelas
9. Pengawasan menyeluruh dari biro klasifikasi akan memberikan jaminan
keselamatan bagi :
 Awak kapal
 Penumpang
 Pemilik barang
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Dari makalah tentang Biro Klasifikasi di Dunia dan Indonesia, maka ditarik
kesimpulan:
1. Dengan adanya Biro Klasifikasi maka lalalalalala
2. Mempermudah lalalala
Windy Eka Noviyani
Teknik Perkapalan

DAFTAR PUSTAKA

http://aranpelaut.blogspot.co.id/2013/04/biro-klasifikasi-kapal.html
http://www.bki.co.id/pagestatis-62-sejarah-bki-lang-id.html
http://www.bki.co.id/pagestatis-63-profil-perusahaan-lang-id.html
http://joe-pencerahan.blogspot.co.id/2016/02/tentang-lloyd-register-lr.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Edward_Lloyd
http://ilmumarine.blogspot.co.id/2014/03/biro-klasifikasi.html
http://kapal-pelaut-surveyor.blogspot.co.id/2011/12/sejarah-bki-biro-klasifikasi-
indonesia.html
http://shareilmukapal.blogspot.co.id/2016/10/biro-klasifikasi.html