Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM (PRODI D IV)

MATA KULIAH PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG


PENGGANGGU-A
SAMPLING TELUR DAN LARVA NYAMUK

I KADEK ANANTA KUSUMA EDI


NIM. P07133214010

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
DENPASAR
2016
LAPORAN PRAKTIKUM (PRODI D IV)
MATA KULIAH PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG
PENGGANGGU-A

SAMPLING TELUR DAN LARVA NYAMUK

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan


Mata Kuliah Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu-A
Jurusan Kesehatan Lingkungan Program Studi DIV

Oleh :
I KADEK ANANTA KUSUMA EDI
NIM. P07133214010

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
DENPASAR
2016

i
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini Dosen Pembimbing Praktikum Mata Kuliah
Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu-A, telah melakukan bimbingan dan
pemeriksaan terhadap Laporan Praktikum yang disusun oleh :
NAMA : I KADEK ANANTA KUSUMA EDI
NIM : P07133214010
JUDUL : Sampling Telur dan Larva Nyamuk
Dan mendapat hasil : A/B/C/D dengan nilai
Demikian pengesahan hasil penilaian dimaksud.

Mengetahui Mengetahui
Koordinator MK PVBP-A Pembimbing MK PVBP-A

I Gusti Ayu Made Aryasih, S.KM., M.Si Nengah Notes, S.KM., M.Si
NIP. 197301191998032001 NIP. 195812311983031036

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya, sehingga Laporan Praktikum Mata Kuliah Vektor dan
Binatang Pengganggu-A yang berjudul ”Sampling Telur dan Larva Nyamuk”
dapat disusun dan selesai tepat pada waktunya. Laporan Praktikum ini bertujuan
untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Pengendalian Vektor dan Binatang
Pengganggu-A.
Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang secara
langsung maupun tidak langsung telah membantu menyelesaikan Laporan Praktikum
ini, diantaranya :
1. Bapak I Wayan Suarta Asmara, BE., SST, M.Si selaku Ketua Jurusan
Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Denpasar.
2. Ibu I Gusti Ayu Made Aryasih, S.KM., M.Si selaku penanggung jawab
mata kuliah Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu-A
3. Nengah Notes, S.KM., M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah
Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu-A
4. Masyarakat Banjar. Sekar Kangin, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan atas
izin dan kesempatan yang telah diberikan kepada penulis untuk melakukan
praktikum
Penulis menyadari akan keterbatasan yang dimiliki, maka dengan kerendahan
hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
penyempurnaan Laporan Praktikum ini.

Denpasar, April 2016

Penulis

iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………… i
LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………………. ii
KATA PENGANTAR……………………………………………………………. iii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………… iv
DAFTAR TABEL………………………………………………………………… v
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………… 1
A. Latar Belakang…………………………………………………………..... 1
B. Tujuan……………………………………………………………………... 2
BAB II LANDASAN TEORI…………………………………………………….. 3
A. Pengertian Ovitrap…..…………………………………………………….. 3
B. Jenis-jenis Nyamuk..................................................................................... 3
C. Siklus Hidup Nyamuk ...........…........…………...……………………….. 4
BAB III METODE PRAKTIKUM……………………………………………….. 9

A. Alat dan Bahan……………………………………………...…………….. 9

B. Cara Kerja………………………………………………………………… 9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...………………………………………. 10

A. Hasil……...………………………………………………………………... 10

B. Pembahasan …….………………………………………………………… 11

BAB V SIMPULAN DAN SARAN……………………………………………… 13

A. Simpulan…………………………………………………………………... 13

B. Saran………………………………………………………………………. 13

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 14

LAMPIRAN

iv
DAFTAR TABEL

1. Tabel Hasil Pemeriksaan Ovitrap di 10 Rumah di lingkungan Banjar Sekar 10


Kangin, Desa Sidakarya, Denpasar Selatan…………………………………….

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nyamuk merupakan vektor atau penular utama dari penyakit. Menurut
klasifikasinya nyamuk dibagi dalam dua subfamili yaitu Culicinae yang terbagi
menjadi 109 genus dan Anophelinae yang terbagi menjadi 3 genus. Di seluruh dunia
terdapat lebih dari 2500 spesies nyamuk namun sebagian besar dari spesies nyamuk
tidak berasosiasi dengan penyakit virus (arbovirus) dan penyakit- penyakit lainnya.
Jenis–jenis nyamuk yang menjadi vektor utama, dari subfamili Culicinae adalah
Aedes sp, Culex sp, dan Mansonia sp, sedangkan dari subfamili Anophelinae adalah
Anopheles sp. (Harbach, 2008 dalam Susanti, 2014).
Nyamuk sering kali berkembang biak ditempat penampungan air seperti bak
mandi, tempayan, drum, barang bekas, pot tanaman air dan lain sebagainya. Oleh
karena itu, untuk mengantisipasi segala dampak yang bisa ditimbulkan nyamuk,
masyarakat umum perlu mengetahui jenis, kehidupan, permasalahan, yang
disebabkan oleh nyamuk sebagai langkah awal pencegahan terhadap dampak buruk
akibat serangga (khususnya nyamuk) bagi kesehatan. Kegiatan pemantauan jentik
nyamuk untuk mengetahui kepadatan jentik merupakan salah satu upaya yang harus
dilakukan guna menurunkan kejadian pnyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Dengan
berbekal pengetahuan inilah masyarakat secara mandiri dapat melakukan upaya
pengendalian jentik nyamuk. (Anonim, 2013)
Untuk mengetahui jumlah nyamuk yang terdapat di lingkungan, perlu dilakukan
survey berupa survey telur dan survey larva. Survey telur nyamuk menggunakan
metode penangkapan dengan ovitrap. Ovitrap (singkatan dari oviposition trap) adalah
peralatan untuk mendeteksi keberadaan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus
jika kepadatan nyamuk rendah dan survei larva menunjukkan hasil yang tidak
produktif (misal BI kurang dari 5), seperti dalam kondisi yang normal. Secara khusus,
ovitrap digunakan untuk mendeteksi infestasi nyamuk ke area baru yang sebelumnya
pernah dibasmi. (Ira Nurulla, 2015). Sedangkan survey larva dilakukan dengan

1
memeriksa tempat-tempat yang sering biasanya digunakan nyamuk untuk
berkembang biak seperti tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan,
drum, barang bekas, pot tanaman air dan lain sebagainya.. Survey ini dilakukan
untuk mengetahui kepadatan jentik nyamuk.

B. Tujuan Praktikum
1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui populasi nyamuk di lingkungan

2. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat terampil dalam membuat ovitrap untuk sampling telur
nyamuk
2. Mahasiswa dapat menghitung index ovitrap
3. Mahasiswa dapat mengidentifikasi jentik yang terdapat pada ovitrap

2
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Ovitrap
Ovitrap (singkatan dari oviposition trap) adalah peralatan untuk mendeteksi
keberadaan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus jika kepadatan nyamuk
rendah dan survei larva menunjukkan hasil yang tidak produktif (misal BI kurang dari
5), seperti dalam kondisi yang normal. Secara khusus, ovitrap digunakan untuk
mendeteksi infestasi nyamuk ke area baru yang sebelumnya pernah dibasmi (Anonim,
2016).
Ovitrap yang berupa bejana, misalnya kaleng (seperti bekas kaleng susu atau
gelas plastik) yang dinding sebelah dalamnya di cat hitam, kemudian diberi air
secukupnya. Kedalam bejana tersebut dimasukkan paddle berupa potongan bilah
bambu atau kain yang tenunannya kasar dan berwarna gelap sebagai tempat
meletakkan telur bagi nyamuk (Tanjung, 2011).
Ovitrap diletakkan di dalam dan di luar rumah di tempat yang gelap dan lembab.
Ovitrap yang dibuat berwarna hitam menarik nyamuk betina bertelur didalam ovitrap.
Ketika telur menetas dan memasuki stadium larva, maka larva nyamuk tersebut akan
mati di dalam perangkap karena didalam ovitrap telah dibubuhi abate dengan dosis
0,05 gram pada 0,5 liter air (Tanjung, 2011)

B. Jenis-Jenis Nyamuk
Berdasarkan jenisnya, nyamuk dibedakan menjadi 4, yaitu:
a. Nyamuk Aedes
Nyamuk Aedes sp merupakan nyamuk yang aktif pada waktu siang hari. Yang
termasuk kedalam jenis nyamuk Aedes sp. adalah Aedes aegypti dan Aedes
albopictus. Kedua nyamuk tersebut merupakan vektor utama penyakit demam
berdarah (Sembel, 2009). Nyamuk jenis ini berkembangbiak pada tempat
penampungan air bersih atau air hujan, seperti bak mandi, tangki penampungan air,

3
vas bunga, kaleng-kaleng, ban-ban bekas, dan semua bentuk wadah yang menampung
air bersih.

b. Nyamuk Culex sp
Nyamuk Culex sp memiliki waktu aktif , yaitu pagi, siang, dan ada yang aktif
pada sore atau malam hari. Jenis nyamuk ini dapat menularkan penyakit filariasis
(kaki gajah). Culex berkembangbiak di selokan yang berisi air bersih ataupun
selokan air pembuangan yang kotor, serta di tempat yang tergenang air hujan.

c. Nyamuk Mansonia sp
Nyamuk Mansonia sp biasanya berkembangbiak dalam kolam - kolam air tawar,
seperti kolam ikan. Jenis nyamuk ini menularkan penyakit kuning.

d. Nyamuk Anopheles sp
Nyamuk ini dapat berkembangbiak dalam kolam air tawar yang bersih, air kotor,
air payau, maupun air yang tergenang di pinggiran laut. Masa aktif terbang nyamuk
ini adalah waktu pagi, siang, sore, ataupun malam. Nyamuk Anopheles sp dapat
menularkan penyakit malaria.(Sembel, 2009 dalam Susanti, 2014)

C. Siklus Hidup Nyamuk


2.3.1 Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti
a. Telur
Telur nyamuk Aedes Aegypti berwarna putih saat pertama kali dikeluarkan, lalu
menjadi coklat kehitaman. Telur berbentuk oval, panjang kurang lebih 0,5 mm dan
diletakkan di dinting wadah. Jumlah telur yang dikeluarkan sekali waktu adalah
sekitar 100-400 butir. Secara umum telur nyamuk diletakkan pada dinding tendon air.
Jika tidak ada genangan air, telur akan bertahan beberapa minggu sampai beberapa
bulan. Telur menetas menjadi larva dalam 2 hari (Cecep, 2011)

4
b. Larva
Telur menetas menjadi larva yang sering juga disebut jentik. Larva nyamuk
memiliki kepala yang cukup besar serta toraks dan abdomen yang cukup jelas. Larva
dan kebanyakan nyamuk menggantungkan diri pada permukaan air. Jentik-jentik
nyamuk biasanya menggantungkan tubuhnya agak tegak lurus pada permukaan air,
guna untuk mendapatkan oksigen di udara (Sembel, 2009 dalam Kurniati 2015).
Larva nyamuk Ae. Aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulu - bulu
sederhana yang tersusun bilateral simetris. Larva ini dalam pertumbuhan dan
perkembangannya mengalami 4 kali pergantian kulit (ecdysis), dan larva yang
terbentuk berturut – turut disebut larva instar I, II, III, dan IV. Larva instar I,
tubuhnya sangat kecil, warna transparan, panjang 1 – 2 mm, duri – duri (spinae) pada
dada (thorax) belum begitu jelas, dan corong pernafasan sudah (siphon) belum
menghitam. Larva instar II ertambah besar, ukuran 2,5 – 3,9 mm, duri dada belum
jelas, dan corong pernafasan sudah bewarna hitam. Larva instar IV telah lengkap
struktur anatominya dan jelas tubuh dapat di bagi menjadi bagian kepala (chepal),
dada (thorax), dan perut (abdomen) (Soegijanto, 2004 dalam Kurniati, 2015).
c. Pupa
Stadium pupa ini merupakan tahapan akhir dari siklus hidup nyamuk dalam air.
Pupa adalah fase inaktif yang tidak membutuhkan makan, namun tetap membutuhkan
oksigen untuk bernafas. Untuk keperluan pernafasannya pupa berada didekat
permukaan air. Umumnya nyamuk jantan yang terlebih dahulu keluar sedangkan
nyamuk betina muncul belakangan.
d. Nyamuk Dewasa
Nyamuk memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, memiliki kaki panjang dan
merupakan serangga yang memiliki sepasang sayap sehingga tergolong pada ordo
Diptera dan famili Culicidae. Tubuh nyamuk terdiri atas tiga bagian yaitu kepala,
dada dan perut. Nyamuk jantan lebih kecil dari pada nyamuk betina (Lestari, 2010).
Nyamuk Ae. Aegypti memiliki ciri khas yaitu mempunyai warna dasar yang hitam
dengan bintik-bintik putih pada bagiannya badannya terutama pada akinya. Morfologi
yang khas adalah gambaran lira (lyre-form) yang putih padapunggungnya

5
(Gandahusada, 2000). Nyamuk ini hidup didalam dan disekitar rumah. Boleh
dikatakan bahwa nyamuk betina sangat menyukai darah manusia (antrothpillic) dari
pada darah binatang. Nyamuk betina mempunyai kebiasaan menghisap darah
berpindah-pindah berkali-kali dari satu individu ke individu lain (Soegijanto, 2004).
Nyamuk Ae. Albopictus secara morfologis sangat mirip dengan nyamuk Ae. Aegypti
yang membedakan hanyalah pada strip putih yang terdapat pada skutumnya. Pada Ae.
Albopictus strukturnya juga bewarna hitam hanya berisi satu garis putih tebal
dibagian dorsalnya (Supartha, 2008 dalam Kurniati, 2015).

2.3.2 Siklus Hidup Nyamuk Culex


a. Telur
Telur nyamuk Culex berbentu seperti cerutu (elips) warna coklat kehitaman. Telur
diletakkan berkelompok (Sekitar 200 buah) seperti rakit diatas permukaan air,
masing-masing tanpa alat apung dan tidak tahan kering (Cecep, 2011).
b. Larva
Larva nyamuk culex memiliki siphon dengan beberapa kumpulan rambut yang
membentuk sudut pada permukaan air. Larva culex memiliki 4 tingkatan,
yaitu:
1. Larva Instar I, berukuran paling kecil 1 – 2 mm atau 1 – 2 hari setelah
menetas. Duri-duri pada dada betina belum jelas dan corong pernafasan pada
siphon belum jelas
2. Larva Instar II, berukursn 2,5 – 3,4 mm atau 2 – 3 hari setelah telur menetas.
Duri – duri belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
3. Larva Instar III, berukuran 4 -5 mm atau 3 – 4 hari setelah telur menetas.
Duri-duri dada mulai jelas dan corong pernafasan bewarna coklat kehitaman.
4. Larva IV, berukuran paling besar yaitu 5 – 6 mm atau 4 – 6 hari setelah telur
menetas
c. Pupa
Merupakan stadium akhir nyamuk di dalam air. Pada stadium ini pupa tidak
membutuhkan makan. Pupa membuuhkan 2 – 5 hari. Sebagian kecil pupa kontak

6
dengan permukaan air, berbentuk terompet, panjang dan ramping, setelah 1 - 2 hari
akan menjadi nyamuk culex
d. Nyamuk Dewasa
Ciri – ciri nyamuk culex dewasa adalah bewarna hitam belang- belang putih,
kepala bewarna hitam dan bewarna putih pada ujungnya. Pada bagian thorak terdapat
2 garis putih berbentuk kurva (Kardinan, 2003 dalam Kurniati, 2015).

2.3.3 Siklus Hidup Anopheles


a. Telur
Telur Anopheles berbentuk seperti perahu yang bagian bawahnya konveks dan
bagian atasnya konkaf dan diletakkan di air langsung yang diletakkan secara terpisah
yaitu satu persatu. Nyamuk dewasa mampu menghasilkan telur 50 – 200 butir telur.
Telur menetas dalam waktu 2 – 3 hari.
b. Larva
Larva Anopheles mengapung sejajar dengan permukaan air, karena mereka tidak
mempunyai siphon (alat bantu pernafasan). Lama hidup kurang lebih hari, dan hidup
dengan memkan algae, bakteri dan mikroorganisme lain yang terdapat dipermukaan.
c. Pupa
Pada stadium pupa terdapat tabung pernafasan yang disebut respiratoru trumpet
yang berbentuk lebar dan pendek yang berfungsi untuk mengambil O2 dari udara.
Bentuk fase pupa seperti kma, dan setelah beberapa hari pada bagian terbelah sebagai
tempat keluar nyamuk dewasa.
d. Nyamuk dewasa
Nyamuk Anopheles jantan dapat hidup sampai satu minggu, sedangkan nyamuk
betina mampu bertahan hidup selama 1 bulan. Nyamuk dewasa mempunyai
prombocis yang berfungsi sebgai menghisap darah atau makanan lainnya (missal:
nectar atau cairan lainnya sebagai sumber gula). Perkawinan terjadi setelah beberapa
hari menetas dan kebanyakan perkawinan terjadi sekitar rawa (breeding place). Untuk
membantu pematangan telur, nyamuk menghisap darah, dan beristirahat sebelum

7
bertelur. Salah satu ciri khas dari nyamuk Anopheles adalah pada saat posisi istirahat
menungging (Safar, 2010 dalam Kurniati, 2015).

2.3.4 Siklus Hidup Nyamuk Mansonia


a. Telur
Telur Mansonia terdapat pada permukaan bawah daun tumbuhan inang diletakkan
saling berdekatan membentuk rakit, bentuk kelompok yang terdiri dari 6 butir.
Telurnya berbentuk lonjong dengan salah satu ujungnya meruncing.
Larva
Larva mansonia mempunyai siphon berujung lancip, bergigi dan berpigmen
gelap. Ujung siphon ditusukkan ke akar tumbuhan air.
b. Pupa
Stadium pupa, Mansonia memiliki cororng pernafasan seperti diri dan bentuk
segmen 10 juga seperti duri. Untuk menjadi nyamuk dewasa pupa membutuhkan
waktu 1 – 3 hari.
c. Nyamuk Dewasa
Nyamuk dewasa mansonia betina memiliki palpi lebih pendek dari promboscis
dan pada jantan palpi lebih panjang dari promboscsi. Sisik dayap lebar asimetris,
berselang – selang terang dan gelap (Gandahusada, Illahude, Wira Pribadi, 1998
dalam Kurniati, 2015).

8
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


1. Alat
a. Ovitrap
b. Padle
c. Mikroskop
d. Pipet
e. Petridish
f. Cidukan
g. Slide dan cover glass

2. Bahan
a. Larva
b. Chloroform/alkohol

B. Cara Kerja
1. Membuat dan memasang ovitrap
2. Mengamati keadaan telur nyamuk pada ovitrap
3. Membiarkan larva menetas dan berkembang menjadi larva dalam ovitrap
sampai mencapai intar III dan IV kemudian melanjutkan dengan identifikasi
di laboratorium
4. Meletakkan larva-larva tersebut dalam petridish dengan menggunakan pipet
5. Menuangi alcohol atau chloroform pada petridish
6. Mengambil larva dengan menggunakan jarum sesi
7. Meletakkan larva pada slide dengan posisi terlentang
8. Menutup objek glass dengan cover glass
9. Mengamati larva menggunakan mikroskop
10. Mengidentifikasi atau mencocokkan larva menggunakan kunci identifikasi

9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Peletakan
No. Nama KK Alamat rumah Ovitrap Hasil Keterangan
Dalam Luar
1. Jln. Sidakarya 2 2 negatif Tidak ada lendir
I Wayan Muliarsa
No.143
2. Jln. Sidakarya 2 2 negatif Tidak ada lendir
I Ketut Sukawidana GG.Kakaktua
No. 1
3. Jln.Sidakarya 2 2 negatif Tidak ada lendir
I Kd. Sudarsana
No.125
4. Jln.Sidakarya 2 2 negatif Tidak ada lendir
Wayan Arsana Gang
Kakaktua No.3
5. Jln. Sidakarya 2 2 negatif Tidak ada lendir
Agus Sutama Gang Merak
No.1
6. Jalan 2 2 negatif Tidak ada lendir
Sidakarya
I Wayan Karma
Gang
Kakaktua No.1
7. Ida Bagus Jln. Sidakarya negatif Tidak ada lendir
Suniantara No.151
8. Jln. Sidakarya negatif Tidak ada lendir
Pak Komang Gang Nori
No.12

10
9. Jln. Sidakarya negatif Tidak ada lendir
I Wayan Arsana Gang
Kakaktua No.2
10. Jln. Sidakarya 2 2 negatif Tidak ada lendir
I Wayan Sudiarsa
No.147
Jumlah Ovitrap 20 20

Ovitrap Index = Jumlah paddle dengan telur x 100%


Jumlah paddle yang diperiksa
Ovitrap Index = 0 x 100%
40
Ovitrap Index = 0

B. Pembahasan
Nyamuk merupakan vektor atau penular utama dari penyakit. Nyamuk sering kali
berkembang biak ditempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum,
barang bekas, pot tanaman air dan lain sebagainya. Oleh karena itu, untuk
mengantisipasi segala dampak yang bisa ditimbulkan nyamuk, masyarakat umum
perlu mengetahui jenis, kehidupan, permasalahan, yang disebabkan oleh nyamuk
sebagai langkah awal pencegahan terhadap dampak buruk akibat serangga
(khususnya nyamuk) bagi kesehatan.
Untuk mengetahui jumlah nyamuk yang terdapat di lingkungan, perlu dilakukan
survey berupa survey telur dan survey larva. Survey telur nyamuk menggunakan
metode penangkapan dengan ovitrap. Ovitrap adalah peralatan untuk mendeteksi
keberadaan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus jika kepadatan nyamuk
rendah dan survei larva menunjukkan hasil yang tidak produktif (misal BI kurang dari
5), seperti dalam kondisi yang normal. Secara khusus, ovitrap digunakan untuk
mendeteksi infestasi nyamuk ke area baru yang sebelumnya pernah dibasmi (Anonim,
2016).

11
Ovitrap berupa bejana, misalnya kaleng (seperti bekas kaleng susu atau gelas
plastik) yang dinding sebelah dalamnya di cat hitam, kemudian diberi air secukupnya.
Kedalam bejana tersebut dimasukkan paddle berupa potongan bilah bambu atau kain
yang tenunannya kasar dan berwarna gelap sebagai tempat meletakkan telur bagi
nyamuk (Tanjung, 2011).
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di 10 rumah warga Banjar Sekar
Kangin, Sidakarya tentang kondisi lingkungan rumah yang kami amati cukup bersih,
kamar mandi juga terawat. Sedangkan untuk sampling telur nyamuk dengan
menggunakan alat yang dinamakan ovitrap diperoleh hasil negatif. Hal ini
kemungkinan dipengaruhi oleh ovitrap karena saat itu masih tercium bau cat dalam
ovitrap tersebut kemudian dari segi peletakkan ovitrap sebagian besar tumpah untuk
yang di luar rumah terutama di kebun hal ini disebabkan ada yang karena binatang
pengganggu seperti tikus yang lewat sehingga menjatuhkan ovitrapnya dan juga
akibat faktor hujan lebat dan angin. Kemudian dari faktor manusia karena kesalahan
kurang memantau secara rutin dan menyiram tanaman. Sedangkan untuk yang di
dalam rumah seperti kamar mandi dan dapur masih banyak yang utuh.

12
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa:
1. Ovitrap yang diletakkan pada 10 rumah di lingkungan Br. Sekar Kangin tidak
ditemukan ovitrap yang positif telur nyamuk.
2. Ada beberapa factor yang mempengaruhi hasil ovitrap negative, yaitu:
a. Ovitrap masih tercium bau cat
b. Adanya binatang pengganggu seperti tikus dan ayam yang membuat
ovitrap menjadi jatuh
c. Faktor hujan lebat dan angin

B. Saran
Bagi masyarakat harus lebih memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar agar
terhindar dari penyakit yang ditularkan melalui vector nyamuk.

13
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. Pembuatan Ovitrap. Web: http://evasulistiani.blogspot.co.id/2013/04/


pembuatan-ovitrap-alat-untuk-merangkap.html

Anonim, 2016. Tinjauan Pustaka Aedes Aegypti (online),(http://digilib.unimus.ac.id


/download.php?id=5700)

Ira Nurulla, 2015. Ovitrap. Web :http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/113


/jtptunimus-gdl-iranurulla-5631-3-babii.pdf

Kurniati, 2015. Tinjauan Umum Mengenai Nyamuk (online),


(http://repository.usu.ac.id /bitstream/123456789/49538/4/Chapter%20II.pdf)

Susanti, 2014. Pengenalan Nyamuk (online), (http://repository.usu.ac.id/bitstream


/123456 789/41397 /4/Chapter%20II.pdf)

Tanjung. 2011. Hubungan Difusi Inovasi dengan Pemanfaatan Ovitrap oleh Ibu
Rumah Tangga di Kelurahan Sei Kera Hilir I Kecamatan Medan Perjuangan
Kota Medan Tahun 2010 (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara,
(online), (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21698/7/Cover.pdf)

14
LAMPIRAN

Peletakkan Ovitrap di Dalam Rumah (Di Belakang Lemari Pendingin)

Peletakkan Ovitrap di Dalam Rumah (Di Dalam Kamar Mandi)


LAMPIRAN

Peletakkan Ovitrap di Luar Rumah (Di antara Pot Tanaman)

Peletakkan Ovitrap di Luar Rumah (Di diatas Pot Tanaman)