Anda di halaman 1dari 5

Sistem Cooling Water

Kebanyakan industri membutuhkan cooling water (air pendingin, selanjutnya disini


menggunakan istilah cooling water) untuk efisiensi proses produksinya. Sistem cooling water
adalah sebuah sistem yang mampu mengontrol suhu dan tekanan dengan cara mentransfer panas
(heat) fluida panas dari proses produksi kedalam cooling water, pada proses ini cooling water
akan menerima panas dan perlu didinginkan kembali atau diganti dengan air baru dari make-up
water. Total nilai pada proses produksi akan tergantung dari seberapa kemampuan sistem cooling
water dalam memempertahankan suhu dan tekanan proses yang ditetapkan. Efisiensi dan
efektifitas design sistem cooling water sangat tergantung terhadap tipe proses produksi yang
akan didinginkan, kualitas air, dan lingkungannya.

Proses pendinginan oleh cooling water melibatkan transfer panas dari satu media ke media
lainnya. Media yang kehilangan panas disebut cooled (yang didinginkan) dan media yang
menerima panas disebut coolant (yang mendinginkan). Sistem cooling water menggunakan air
sebagai coolant. Gambar dibawah menggambarkan prinsip perpindahan panas (heat transfer),
dimana warna merah menunjukan coolant dan warna biru adalah cooled.

Sistem cooling water sangat berpengaruh terhadap biaya total produksi (total cost production,
TCO), karena sistem cooling water menghilangkan panas yang tidak diinginkan pada proses
produksi. Pada saat sistem cooling water tidak dapat menghilangkan panas secara efisien, maka
semua proses akan bermasalah dan menyebabkan peningkatan biaya produksi. Selain itu jika
sistem cooling water tidak beroperasi secara optimal maka akan menyebabkan berlebihnya
penggunaan air, buangan air, dan biaya energi mengakibabkan total biaya operasional semakin
tinggi.

Alasan digunakannya air sebagai coolant pada sistem cooling karena jumlahnya melimpah dan
harga lebih murah dari coolant lainnya, mudah dan aman digunakan, mampu menurunkan panas
dalam jumlah besar per unit volume-nya khususnya dibandingkan dengan udara, serta tidak
mengembang dan mengempis secara signifikan pada saat perubahan suhu, dan tidak terjadi
dekomposisi ke senyawa molekul baru akibat perubahan suhu.
Sumber air yang digunakan untuk sistem cooling water disebut make-up water, dapat berasal dari
air permukaan seperti sungai dan kolam atau air bawah tanah. Umumnya air bawah tanah lebih
konsisten komposisi dan jumlah zat terlarutnya dibandingkan air permukaan, karena air
permukaan dapat dipengaruhi oleh air hujan, erosi dan kondisi lingkungan sekitar. Akan tetapi
air bawah tanah biasanya mengandung besi dan mangan terlarut yang tinggi dimana dapat
menyebabkan fouling pada sistem cooling water jika tidak dihilangkan. Kondisi ini lebih jarang
terjadi pada air permukaan. Karena pertimbangan lingkungan, biaya dan ketersediaan air,
beberapa instalasi saat ini menggunakan effluent air laut dan air limbah sebagai sumber cooling
water. Akan tetapi perlu perhatian lebih dan design yang tepat jika menggunakan kedua sumber
air ini agar kinerja sistem cooling water tetap baik.

Beberapa parameter yang perlu diperhatikan sehubungan dengan kualitas cooling water agar
sistem dapat bekerja dengan baik karena dapat menyebabkan beberapa masalah yaitu
pengkaratan (corrosion), pengkerakan (scaling), pencemaran (fouling), dan kontaminasi mikroba,
adalah sebagai berikut:

1. Konduktivitas (Conductivity), nilai konduktivitas pada sistem cooling water sangat


tergantung dengan design, kualitas air baku, dan tipe penggunaaan bahan kimia.
2. pH, kontrol pH sangatlah penting karena terjadinya korosi akan meningkat, jika pH
dibawah nilai yang direkomendasikan. Efektifitas senyawa kimia biocide tergantung pH
karena pertumbuhan mikroba sangat bergantung pada perubahan pH.
3. Alkalinitas (Alkalinity), pH dan alkalinitas sangat berhubungan erat karena meningkatnya
pH mengindikasikan meningkatnya alkalinitas begitupun sebaliknya. Seperti halnya pH,
jika alkalinitas dibawah nilai yang direkomendasikan maka terjadinya korosi semakin
tinggi dan jika alkalinitas diatas nilai yang direkomendasikan maka peluang terjadi
scaling sangat tinggi. Alkalinitasnya juga dapat mempengaruhi terjadinya fouling.
4. Kesadahan (Hardness), tingkat kesadahan umumnya berhubungan dengan peluang
terbentuknya kerak (scaling). Penggunaan bahan kimia anti-scaling biasanya
direkomendasikan untuk mencegah terjadinya pengkerakan sehingga tingkat kesadahan
masuk ke batasan yang ditetapkan. Untuk pengontrolan korosi, perlu diperhatikan tingkat
kesadahannya karena dapat sebagai inhibitor korosi, dengan demikian penting
diperhatikan penentuan yang tepat agar tidak terlalu rendah kesadahannya.

Tipe Sistem Cooling Water

Terdapat beberapa tipe sistem cooling water yang banyak digunakan oleh industri, berikut
penjelasannya secara singkat:

1. Open recirculating systems


Sistem ini yang paling banyak digunakan diindustri saat ini. Pada sistem ini terdiri atas pompa,
heat-exchanger (HE), dan cooling tower. Pompa akan menjaga air diresirkulasi (dikembalikan
lagi) melalui heat-exchanger. Panas akan ditransfer ke cooling water dan selanjutnya akan
mengalir kembali ke cooling tower dan panas dibuang melalui proses evaporasi (penguapan),
karena terjadi proses evaporasi dalam kondisi sistem terbuka sehingga disebut “open
recirculating systems”. Proses evaporasi akan menyebabkan zat terlarut dalam cooling water
akan semakin pekat sehingga dapat terjadi scaling atau fouling. Bentuk sistem ini berbentuk
menara pagoda agar proses evaporasi terjadi secara baik, sehingga disebut “cooling tower”.

2. Once-through systems
Pada sistem ini, cooling water akan melewati heat-exchanger sekali sehingga konsentrasi zat
terlarut dalam cooling water tidak berubah, akan tetapi dibutuhkan volume cooling water yang
banyak karena tidak ada sistem resirkulasi, sehingga air laut sebagai sumber air sering kali
digunakan. Perubahan suhu akibat cuaca sering kali menjadi masalah terhadap sumber air pada
operasionalnya, selain itu polusi suhu akibat dari buangan cooling water ke sungai atau danau
akan menjadi masalah lingkungan.

3. Closed recirculating systems


Pada sistem ini konsentrasi zat terlarut pada cooling water tidak berubah dan kehilangan cooling
water atau bahan kimia pengontrol sangatlah kecil sebab tidak terjadi evaporasi. Air DI dan
penambahan dosis bahan kimia pengontrol dapat digunakan tanpa adanya penambahan biaya,
karena sistem tertutup dan kehilangan air diminimalisir dalam sistem dengan adanya resirkulasi.

https://iqshalahuddin.wordpress.com/2016/06/24/cooling-water/

Sistem air pendingin PLTU dibedakan menjadi dua yaitu sistem air pendingin utama dan
sistem air pendingin bantu (auxiliary cooling water)

Fungsi utama dari sistem air pendingin utama adalah menyediakan dan memasok air pendingin
yang diperlukan untuk mengkondensasikan uap bekas dan drain uap didalam kondensor. Fungsi
lainnya adalah memasok air untuk mendinginkan “Heat Exchanger” pada sistem air pendingin
bantu (auxiliary cooling water) yang merupakan siklus pendingin tertutup.

Air pendingin utama merupakan media pendingin untuk menyerap panas laten uap bekas dari
turbin yang mengalir kedalam kondensor. Tanpa pasokan air pendingin turbin kondensasi tidak
dapat dioperasikan. Sedangkan aliran air pendingin utama yang kurang dapat menyebabkan vakum
kondensor menjadi rendah dan dapat mengakibatkan unit trip.

Sistem air pendingin harus dirancang mampu memenuhi kebutuhan operasi unit pembangkit secara
konitinyu, ekonomis dan handal. Rancangan sistem air pendingin harus meliputi :

 Menjamin tersedianya air untuk keperluan operasi PLTU pada setiap waktu
 Jumlah aliran airnya cukup untuk menghasilkan efisiensi PLTU yang optimal pada semua
kondisi beban temperatur.
 Penyediaan air yang stabil pada semua kondisi tanpa perlu pengaturan
 Pemeliharaannya murah dan mudah dilakukan
 Biaya investasi dan operasinya rendah.

Jumlah dan temperatur air pendingin yang tersedia akan menentukan vakum kondensor maksimum
yang dapat dicapai. Oleh karena itu banyak PLTU atau PLTGU yang dibangun di tepi pantai (laut)
berhubungan dengan tersedianya sumber air yang tak terbatas.

Aliran uap bekas (exhasut steam) turbin yang masuk kondensor harus terdistribusikan sedemikian
rupa sehingga perpindahan panas laten uap ke air pendingin berlangsung dengan optimal.
Kondensor hanya perlu untuk mengkondensasikan uap saja, pendinginan lebih lanjut justru akan
merugikan.
Jumlah panas yang dibuang ke laut atau udara sangatlah besar, tetapi kerugian panas ini menjadi
berkurang apabila kapasitas unitnya makin besar. Sebagai gambaran untuk mengkondensasikan
0,45 kg uap di kondensor diperlukan air pendingin sekitar 29 kg. PLTU kapasitas 20 MW atau
lebih kecil memerlukan sekitar 0,22 m3 air pendingin untuk setiap tenaga listrik yang dibangkitkan
( 0,22 m3 /kwh).

Related Posts

https://rakhman.net/power-plants-id/sistem-air-pendingin-pltu/