Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Pengertian Good and Clean Governance

Good and clean governance memiliki pengertian segala hal yang berkaitan dengan
tindakan atau tingkah laku yang bersifat mengarahkan, mengendalikan, atau memengaruhi
urusan public untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam khidupan
sehari-hari.
Dalam arti yang lebih luas, good governance dapat diartikan sebagai suatu
kesepakatan menyangkut pengaturan negara yang diciptakan bersama pemerintah,
masyarakat madani dan sektor swasta. Kesepakatan tersebut mencakup keseluruhan bentuk
mekanisme, proses, dan lembaga-lembaga dimana warga dan kelompok masyarakat
mengutarakan kepentingannya, menggunakan hak hukum, memenuhi kewajiban dan
menjembatani perbedaan di antara mereka.
Good governance lebih dari sekedar usaha untuk memperbaiki kepemerintahan
semata, akan tetapi kenyataannya jauh lebih pelik dan kompleks. Permasalahan ini semakin
rumit manakala tuntutan good governance mengharuskan perubahan berbagai aspek terkait
dari semua sistem penyelenggaraan pemerintahan yang sudah tertanam lama. Perubahan yang
diinginkan adalah meliputi aspek kinerja kepegawaian sampai dengan pertanggungjawaban
penyelenggaraan pada level elite pemerintahan.1

Definisi good governance menurut World Bank ialah suatu penyelenggaraan


manajemen pembangunan yang solid dan bertanggungjawab yang sejalan dengan prinsip
demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran terhadap kemungkinan salah alokasi dan
investasi, dan pencegahan korupsi baik yang secara politik maupun administratif,
menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan political framework bagi
tumbuhnya aktivitas usaha (Mardiasmo, 2002:23).

Dalam konteks good governance, pemerintah ditempatkan sebagai fasilitator atau


katalisator, sementara tugas untuk memajukan pembangunan terletak pada semua komponen
negara, meliputi dunia usaha dan masyarakat. Dengan begitu, kehadiran good governance
ditandai oleh terbentuknya “kemitraan” antara pemerintah dengan masyarakat, organisasi
politik, organisasi massa, LSM, dunia usaha serta individu secara luas guna terciptanya
manajemen pembangunan yang bertanggungjawab.

2.2. Kriteria Tata Pemerintahan yang Good Governance


Governance merujuk pada tiga pilar yakni; public governance merujuk pada lembaga
pemerintah, coporate governance merujuk pada pihak swasta/dunia usaha, dan civil society
(masyarakat sipil). Untuk mewujudkan good governance, upaya pembenahan pada salah satu
pilar harus dibarengi dengan pembenahan pada berbagai pilar lainnya secara serentak dan
seimbang.

Banyak versi maupun indikator yang digunakan dalam menerangkan good


governance, misalnya UNDP (United Nations Development Program) mendeskripsikan tidak
kurang 6 indikator kesuksesan good governance yaitu:
1) Mengikutsertakan semua
2) Transparan dan bertanggungjawab
3) Efektif dan adil
4) Menjamin adanya supremasi hukum
5) Menjamin bahwa prioritas politik, sosial, dan ekonomi didasarkan pada
konsensus masyarakat
6) Memperhatikan kepentingan mereka yang paling miskin dan lemah dalam proses
pengambilan keputusan menyangkut alokasi sumber daya pembangunan.

Sedangkan World Bank mengusung 3 indikator yaitu


1) Bentuk rejim politik
2) Proses dimana kekuasaan digunakan di dalam manajemen sumber daya sosial dan
ekonomi bagi kepentingan pembangunan
3) Kemampuan pemerintahan untuk mendesain, memformulasikan, melaksanakan
kebijakan, dan melaksanakan fungsi-fungsinya

Dalam hal ini, bank dunia lebih menekankan pada indikator kedua dan ketiga sesuai
dengan kapasitas kelembagaannya (bappernas, 2002).4
2.3.Prinsip-Prinsip Good and Clean Governance

Untuk merealisasikan pemerintahan yang profesional da akuntabel, mengacu pada


UNDP, Lembaga Administrasi Negara RI (LANRI) merumuskan 9 aspek fundamental
(asas/prinsip) yang harus diperhatikan yaitu

1) Partisipasi ( participation ) yaitu keikutsertaan warga masyarakat dalam pengambilan


keputusan, baik langsung maupun melalui lembaga perwakilan yang sah dan
mewakili kepentingan mereka. Bentuk partisipasi di maksud dibangun atau dasar
prinsip demokrasi, yakni kebebasan berkumpul dan menegluarkan pendapat secara
konstruktif. Dalam hal ini perlu deregulasi birokrasi, sehingga proses sebuah usaha
efektif dan efisen.
2) Penegakan hokum ( rule of law ), yaitu bahwa pengelolaan pemerintahan yang
professional harus didukung oleh penegakannya secara konsekuen, maka partisipasi
msyarkat dapat berubah menjadi tindakan yang anarkis. Dalam hal ini perlu komitmen
pemerintah yang mengandung unsur-unsur :
a. Supremasi hokum (supremacy of law);
b. Kepastian hukum (legal certainty);
c. Hukum yang responsif, yang disusun berdasarkan aspirasi masyarakat luas dan
mengakomodasi berbagai kebutuhan secara adil;
d. Konsisten dan nondiskriminatif;
e. Independensi peradilan.
3) Transparansi ( transparency )

Asas ini merupakan unsur lain yang menopang terwujudnya good and cleangovernance.
Menurut para ahli, jika tidak ada prinsip ini, bisa menimbulkan tindakankorupsi. Ada 8 unsur
yang harus diterpkan transparansi yaitu : penetapanposisi/jabatan/kedudukan, kekayaan
pejabat public, pemberian penghargaan, penetapankebijakan, kesehatan, moralitas pejabat
dan aparatur pelayanan masyarakat, keamanan dan ketertiban, serta kebijakan strategis untuk
pencerahan kehidupan masyarakat.

4) Responsif

Asas responsif adalah dalam pelaksanaannya pemerintah harus tanggap terhadap


persoalan-persoalan masyarakat, harus memhami kebutuhan masyarakat, harus proaktif
mempelajari dan menganalisa kebutuhan masyarakat.

5) Konsensus
Asas konsensus adalah bahwa keputusan apapun harus dilakukan melalui
prosesmusyawarah melalui konsensus. Cara pengambilan keputusan consensus memiliki
kekuatanmemaksa terhadap semua yang terlibat untuk melaksanakan keputusan tersebut
danmemuskan semua atau sebagian pihak, serta mengikat sebagian besar komponen
yangbermusyawarah.

6) Kesetaraan

Asas kesetaraan adalah kesamaan dalam perlakuan dan pelayanan publik. Asas
inimengharuskan setiap pelaksanaan pemerintah bersikap dan berperilaku adil dalam
halpelayanan publik tanpa membedakan suku, jenis, keyakinan, jenis kelamin, dan kelas
social.

7) Efektivitas dan Efisiensi

Pemerintahan yang baik dan bersih harus memenuhi criteria efektif (berdaya guna)dan
efesien ( berhasil guna). Efektivitas dapat diukur dari seberapa besar produk yang
dapatmenjangkau kepentingan masyarakat dari berbagai kelompok. Efesiensi umumnya
diukurdengan rasionalisitas biaya pembangunan untuk memenuhi kebutuhan semua
masyarakat.

8) Akuntabilitas

Asas akuntabilitas adalah pertanggungjawaban pejabat public terhadap msyarakatyang


memberinya wewenang untuk mengurusi kepentingan mereka. Setiap pejabat publicdituntut
untuk mempertanggungjawabkan semua kebijakan, perbuatan, moral, maupunnetralitas
sikapnya terhadap masyarakat.

9) Visi Strategis

Visi strategis adalah pandangan-pandangan strategis untuk menghadapi masa yang akan
datang. Kualifikasi ini menjadi penting dalam rangka realisasi good and clean governance.
Dengan kata lain, kebijakan apapun yang akan diambil saat ini, harus diperhitungkan
akibatnya untuk sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.

2.4. Good and Clean Governance dan Kontrol Sosial


Partisipasi masyarakat merupakan salah satu tujuan dari implementasi good and clean
governance. Untuk mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih berdasarkan prinsip-
prinsip pokok good and clean governance, setidaknya dapat dilakukan melalui pelaksanaan
prioritas program, yaitu
1) Penguatan fungsi dan peran lembaga perwakilan.
2) Kemandirian lembaga peradilan.
3) Profesionalitas dan integritas aparatur pemerintah.
4) Penguatan partisipasi Masyarakat Madani.
5) Peningkatan kesejahteraan rakyat dalam kerangka otonomi daerah.

Lahirnya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah memberikan


kewenangan pada daerah untuk melakukan pengelolaan dan memajukan masyakarat dalam
politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam kerangka menjaga keutuhan NKRI. Pencapaian
tingkat kesejahteraan dapat diwujudkan secara lebih cepat yang pada akhirnya akan
mendorong kemandirian masyarakat.

2.5. Good and Clean Governance dan Gerakan Anti Korupsi


Korupsi adalah tingkah laku individu yang menggunakan wewenang dan jabatnguna
meraih keuntungan pribadi, merugikan kepentingan umum dan negara secara
spesifik.Korupsi menyebabkan ekonomi menjadi labil, politik yang tidak sehat, dan
kemerosotanmoral bangsa yang terus menerus merosot.
Menurut Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), korupsi merupakan
tindakan yang merugikan kepentingan umum dan masyarakat luas demi keuntungan pribadi
atau kelompok tertentu.
Menurut data Indeks Persepsi Korupsi 2011 yang dilansir oleh situs resmi
Transparansi Internasional, dalam hal persepsi publik terhadap korupsi sektor publik
Indonesia masuk urutan ke-100 dunia dengan skor rendah (3). Sementara di antara negara-
negara di kawasan Asia Pasifik-Indonesia bertandang di urutan ke-20.
Jeremy Pope mengemukakan bahwa korupsi terjadi jika peluang dan keinginanberada
dalam waktu yang bersamaan. Peluang dapat dikurangi dengan cara mengadakanperubahan
secara sistematis. Sedangkan keinginan dapat dikurangi denagn caramembalikkan siasat “laba
tinggi, resiko rendah” menjadi “laba rendah, resiko tinggi”:dengan cara menegakkan hukum
dan menakuti secara efektif, dan menegakkan mekanisme akuntabilitas.Penanggulangan
korupsi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Adanya political will dan political action dari pejabat negara dan pimpinan
lembagapemerintahan pada setiap satuan kerja organisasi untuk melakukan
langkah proaktif pencegahan dan pemberantasan tindakan korupsi.
2) Penegakan hukum secara tegas dan berat ( mis. Eksekusi mati bagi para koruptor)
3) Membangun lembaga-lembaga yang mendukung upaya pemberantasan korupsi.
4) Membangun mekanisme penyelenggaran pemerintahan yang menjamin
terlaksananya praktik good and clean governance.
5) Memberikan pendidikan antikorupsi, baik dari pendidikan formal atau informal.
6) Gerakan agama anti korupsi yaitu gerakan membangun kesadaran keagamaan dan
mengembangkan spiritual antikorupsi.

2.6. Good and Clean Governance dan Kinerja Birokrasi Pelayanan Publik

Pelayanan umum atau pelayanan publik adalah pemberian jasa baik oleh pemerintah,
pihak swasta atas nama pemerintah ataupun pihak swasta kepada masyarakat,dengan atau
tanpa pembayaran guna memenuhi kebutuhan dan/ atau kepentinganmasyarakat.Beberapa
alasan mengapa pelayanan publik menjadi titik strategis untuk memulai pengembangan dan
penerapan good and clean governance di Indonesia.

2.7. Strategi Penataan Aparatur dalam Pelaksanaan Good Governance menuju


Pemerintahan Yang Bersih

Jajaran birokrasi pemerintahan harus memahami esensi birokrasi itu sendiri dikatkan
dengan penciptaan good governance yang dimaksud Untuk mewujudkan pelaksanaan good
governance secara konsisten dan sustainable
Dalam konteks ini David Obsorn dan Gaebler (1992) menyampaikan 10 konsep
birokrasi sebagai berikut :
1) Catalytic Government : Steering rather than rowing.
Aparatur dan birokrasi berperan sebagai katalisator, yang tidak harus melaksanakan
sendiri pembangunan tapi cukup mengendalikan sumber-sumber yang ada di masyarakat.
Dengan demikian aparatur dan birokrasi harus mampu mengoptimalkan penggunaan dana
dan daya sesuai dengan kepentingan publik.
2) Community-owned government : empower communities to solve their own
problems, rather than marely deliver service.
Aparatur dan birokrasi harus memberdayakan masyarakat dalam pemberian dalam
pelayanannya. Organisasi-organisasi kemasyarakatan sepeti koperasi, LSM dan sebagainya,
perlu diajak untuk memecahkan permasalahannya sendiri, seperti masalah keamanan,
kebersihan, kebutuhan sekolah, pemukiman murah dan lain-lain.
3) Competitive government : promote and encourrage competition, rather than
monopolies”.
Aparatur dan birokrasi harus menciptakan persaingan dalam setiap pelayanan. Dengan
adanya persaingan maka sektor usaha swasta dan pemerintah bersaing dan terpaksa bekerja
secara lebih profesional dan efisien.
4) Mission-driven government : be driven by mission rather than rules”.
Aparatur dan birokrasi harus melakukan aktivitas yang menekankan kepada
pencapaianapa yang merupakan “misinya” dari pada menekankan pada peraturan-peraturan.
Setiap organisasi diberi kelonggaran untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan misinya.
5) Result-oriented government : result oriented by funding outcomes rather than
inputs.
Aparatur dan birokrasihendaknya berorientasi kepada kinerja yang baik. Instansi yang
demikian harus diberi kesempatan yang lebih besar dibanding instansi yang kinerjanya
kurang.
6) Cuntomer-driver government : meet the needs of the customer rather than the
bureaucracy.
Aparatur dan birokrasi harus mengutamakan pemenuhan kebutuhan mayarakat bukan
kebutuhan dirinya sendiri.
7) “ente prising government : concretrate on earning money rather than just
speding it.
Aparatur birokrasi harus memiliki aparat yang tahu cara yang tepat dengan
menghasilkan uang untuk organisainya, disamping pandai menghemat biaya. Dengan
demikian para pegawai akan terbiasa hidup hemat.
8) Anticipatory government : invest in preventing problems rather than curing
crises.
Aparatur dan birokrasi yang antisipasif. Lebih baik mencegah dari pada memadamkan
kebakaran. Lebih baik mencegah epidemi daripada mengobati penyakit. Dengan demikian
akan terjadi “mental swich” dalam aparat daerah.
9) Decentralilazed government : decentralized authority rahter than build hierarcy.
Diperlukan desentralisasi dalam pengelolaan pemerintahan, dari berorientasi hirarki
menjadi partisipasif dengan pengembangan kerjasama tim. Dengan demikian organisasi
bawahan akan lebih leluasa untuk berkreasi dan mengambil inisiatif yang diperlukan.
10) Market-oriented government : solve problemby influencing market forces rather
than by treating public programs.
Aparatur dan birokrasi harus memperhatikan kekuatan pasar. Pasokan didasarkan pada
kebutuhan atau permintaan pasar dan bukan sebaliknya. Untuk itu kebijakan harus
berdasarkan pada kebutuhan pasar.

Melengkapi konsep diatas, Obsorn dan Peter Plastrik (1996) menyampaikan lima (5)
strategi untuk pengembangan konsep Reinventing Government yang dikenal dengan istilah
“The Five C’S”, sebagai berikut :
1) Strategi inti (Core Strategi) yaitu strategi merumuskan kembali tujuan-tujuan
penyelenggaraan pemerintahan, termasuk otonomi daerah melalui penetapan visi,
misi, tujuan, dan sasaran, arah kebijakan serta peran-peran kelembagaan serta
individu aparatur penyelenggara pemerintaha.
2) Strategi konsekuensi (consekquency strategi), dalam hal ini perlu dirumuskan dan
ditata kembali pola-pola insensif kelembagaan maupun individual, baik melalui
pendekatan manajemen kompetitif, manajemen bisnis (komporatisasi dan
privatisasi), atau manajemen kinerja(performance management).
3) Strategi pemakai jasa (customer strategi) aparatur birokrasi dalam hal ini perlu
melakukan reorientasi dari kepentingan politik pemerintahan, serta orientasi pada
kepentingan kelembagaannya, kearah kepentingan pemenuhan kebutuhan
berdasarkan pilihan-pilihan masyarakat (pemakai jasa publik), peningkatan kualitas
layanan, serta kompetisi pasar yang sehat.
4) Strategi pengendalian ( control strategy), yaitu adanya perumusan kembali dalam
upaya pengendalian organisasi, mulai dari :
a. Pengendalian Strategi yang merupakan proses perumusan dan penetapan
organisasi.
b. Pengendalian mamajemen, yang merupakan pengendalian dalam menjaga agar
pelaksanaan telah ditetapkan.
c. Pengendalian tugas sebagai pengendalian yang sifatnya pelaksana (operasional).
Ketiga pengendalian ini bisa dikembangkan melalui pengembangan struktur
organisasi kelembagaan yang bertumpu pada kekuatan aparatur seperti gugus
kendali mutu ( total quality control).
5) Strategi budaya / kultur (cultur Strategi), yaitu adanya upaya reorientasi perilaku
dan budaya aparatur serta birokrasi yang lebih terbuka dan mampu merevitalisasi
dan mengadopsi nilai-nilai budaya (baik budaya lama maupun baru), yang lebih
menyentuh nilai-nilai keadilan dan hati nurani.
BAB III

SIMPULAN

1) Good and clean governance memiliki pengertian segala hal yang berkaitan dengan
tindakan atau tingkah laku yang bersifat mengarahkan, mengendalikan, atau
memengaruhi urusan public untuk mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam khidupan
sehari-hari.
2) Governance merujuk pada tiga pilar yakni; public governance, coporate governance,
dan civil society (masyarakat sipil). Untuk mewujudkan good governance, upaya
pembenahan pada salah satu pilar harus dibarengi dengan pembenahan pada berbagai
pilar lainnya secara serentak dan seimbang.
3) Lembaga Administrasi Negara (LAN) merumuskan sembilan aspek fundamental
(asas) untuk merealisasikan pemerintahan yang profesional dan akuntabel yang
bersandar pada prinsip-prinsip good governance.
4) Good and clean govermance memiliki peranan kontrol sosial yang sangat penting
bagi keberlangsungan roda pemerintahan yaitu untuk mewujudkan pemerintahan yang
baik dan bersih berdasarkan prinsip-prinsip pokok good and clean governance.
5) Good and clean govermance memiliki peran fundamental dalam penanganan kasus
korupsi.
DAFTAR PUSTAKA

Agus Dwiyanto. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. Gadjah Mada
University Press. 2005
A. Ubaedillah Dkk, 2010, Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education), Jakarta: Kencana
Arif Mansuri, 2010, Kewaeganegaraan, Surabaya:Kopertais IV Press
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.2011.Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan
Tinggi/Anti Korupsi.Jakarta: Kemendikbud
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan.2014.Buku Ajar Pendidikan dan Budaya
Antikorupsi.Jakarta: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
Sulistiyani, Ambar Teguh. 2004. Memahami Good Governance: Dalam Perspektif Sumber
Daya Manusia. Yogyakarta: Gaya Media.