Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

KRISIS EKONOMI
A. Jenis Krisis Ekonomi Dan Jalur Transmisi Dampaknya
Suatu perubahan ekonomi dapat menjelma menjadi suatu krisis ekonomi.
Dilihat dari proses terjadinya, krisis ekonomi mempunyai dua sifat yang berbeda.
Pertama, krisis ekonomi yang tejadi secara mendadak atau muncul tanpa tanda-
tanda sebelumnya, yang umum disebut goncangan ekonomi tak terduga.
Sedangkan krisis ekonomi yang sifatnya tidak mendadak, melainkan melewati
suatu proses akumulasi yang cukup panjang, adalah seperti krisis ekonomi global
yang terjadi pada periode 2008-2009.
1. Krisis Produksi
Krisis produksi adalah termasuk tipe krisis ekonomi yang bersumber
dari dalam negeri. Krisis tersebut bisa dalam bentuk penurunan produksi
domestik secara mendadak dari sebuah [atau sejumlah] komuditas pertanian,
misalnya, padi/beras. Penurunan tingkat produksi tersebut berakibat langsung
pada penurunan tingkat pendapatan rill dari para petani dan buruh tani padi.
Dalam tipe krisis ini, jalur-jalur transmisi dampaknya terhadap
kemiskinan adalah perubahan-perubahan dalam harga [inflasi], jumlah
kesempatan kerja dan tingkat pendapatan. Kelompok-kelompok masyarakat
yang paling rentan terhadap tipe krisis ini adalah petani dan keluarganya,
buruh tani dan keluarganya, dan pada peringkat berikutnya adalah para
pekerja dan pemilik-pemilik usaha serta keluarga-keluarga mereka disektor-
sektor lainnya yang terkait lewat produksi dan subsektor padi.
2. Krisis Perbankan
Dampak langsung atau fase pertama dari efek krisis perbankan adalah
kesempatan kerja dan pendaptan yang menurun di subsektor keuangan
tersebut. Pada fase kedua krisis perbankan merembet ke perusahaan-
perusahaan yang sangat tergantung pada sektor perbankan dalam pembiayaan
kegiatan-kegiatan produksi/bisnis mereka.
Dalam tipe krisis ekonomi ini, jalur-jalur transmisi paling utama lewat
mana krisis tersebut berdampak pada tingkat kemiskinan yakni perubahan
dalam arus kedit dari perbankan ke dunia usaha atau tingkat suku bunga
pinjaman, volume produksi [output], jumlah kesempatan kerja, dan tingkat
pendapatan masyarakat. Kelompok-kelompok yang paling rentan terhadap
krisis ini adalah bukan masyarakat miskin, melainkan masyarakat kelas
menengah dan atas seperti pegawai dan pemilik bank.
3. Krisis Nilai Tukar
Suatu perubahan kurs dari sebuah mata uang, misalnya rupiah terhadap
dolar AS dianggap krisis apabila kurs dari mata uang tersebut mengalami
penurunan atau depresiasi yang sangat besar yang prosesnya mendadak atau
berlangsung terus-menerus yang membentuk sebuah tren yang meningkat
[rupiah per satu dolar AS]. Dampak langsung dari peubahan tersebut adalah
pada ekspor dan impor.
Dalam tipe krisis ekonomi ini, jalur-jalur transmisi kuncinya adalah
perubahan-perubahan dalam volume ekspor dan impor [jika volume impor
tidak berubah, maka nilainya yang berubah]. Sedangkan jalur-jalur

1
sekundernya adalah perubahan-peubahan dalam volume produksi, jumlah
kesempatan kerja, tingkat pendapatan dan laju inflasi. Kelompok masyarakat
yang paling rentan terhadap krisis nilai tukar adalah mereka yang bekerja di
perusahaan-perusahaan yang berurusan langsung maupun tidak langsung
dengan impor.
4. Krisis Perdagangan
Dalam hal krisis-krisis ekonomi yang berasal dari sumber-sumber
eksternal, ada dua jalur utama, yaitu perdagangan dan investasi/arus modal.
Didalam jalur perdagangan itu sendiri ada dua sub-jalur, yaitu ekspor dan
impor [barang dan jasa]. Dalam jalur ekspor, misalnya ekspor barang, suatu
krisis bagi negara eksportir bisa terjadi baik karena harga dipasar
internasional dari komuditas yang diekspor turun secara drastis atau
permintaan dunia terhadap komuditas tersebut menurun secara signifikan.
5. Krisis Modal
Terakhir, suatu pengurangan modal dalam negeri dalam jumlah besar
atau penghentian bantuan serta pinjaman luar negeri akan menjadi sebuah
krisis ekonomi bagi banyak negara miskin didunia, seperti di afrika dan asia
tengah yang ekonomi mereka selama ini sangat tergantung pada ULN atau
hibah internasional. Suatu pelarian modal, baik yang berasal dari sumber
dalam negeri maupun modal asing, terutama investasi asing jangka pendek
[yang umum disebut uang panas], dalam jumlah yang besar dan secara
mendadak bisa menjelma menjadi sebuah krisis besar bagi ekonomi dari
negara-negara yang sangat memerlukan modal investasi.
Dalam kasus ini, jalur-jalur transmisi memiliki dampak utama, yakni
perubahan-perubahan dalam jumlah investasi, khususnya investasi jangka
panjang [volume atau unit proyek], volume produksi, dan jumlah tenaga
kerja yang bekerja.

B. Jalur transmisi kunci dan indikator monitoring dampak krisis


Jalur transmisi dapat diperingkat mcenurut proses munculnya efek-efek dari
sebuah krisis; jalur-jalur pertama atau primer [], yaitu efek-efek pertama yang
muncul; jalur-jalur kedua/sekunder []; jalur-jalur ketiga []; dan seterusnya.
Tabel Jalur Transmisi Dampak Utama Dan Indikator-Indikator Utama untuk
Memonitor Pengaruh Dari Krisis Ekonomi Menurut Tipe Krisis
Tipe Krisis Jalur-Jalur Indikato-Indikator Utama Untuk
Ekonomi Transmisi Utama Memonitor Dampak
Krisis produksi Kesempatan kerja Output menurut sektor dan wilayah
Pendapatan Kesempatan kerja menurut sektor dan
Inflasi  wilayah
Pendapatan menurut sektor dan wilayah
Inflasi [IHK] menurut wilayah
Kemiskinan menurut wilayah
Krisis Kredit Output menurut sektor dan wilayah
perbankan 
Suku bunga pinjaman Kesempatan kerja menurut sektor dan
Output wilayah
Kesempatan kerja  Pendapatan menurut sektor dan wilayah
,

2
Pendapatan, Kemiskinan menurut wilayah
Krisis nilai Ekspor Ekspor menurut sektor dan wilayah
tukar Import Impor menurut sektor dan wilayah
Output Output menurut sektor dan wilayah
Kesempatan kerja Inflasi menurut wilayah
Pendapatan, Kesempatan kerja menurut sektor dan
Inflasi wilayah
Pendapatan menurut sektor dan wilayah
Kemiskinan menurut wilayah
Krisis ekspor Output Ekspor menurut sektor dan wilayah
Kesempatan kerja  Impor menurut sektor dan wilayah
Pendapatan , Kesempatan kerja menurut sektor dan
wilayah
Pendapatan menurut sektor dan wilayah
Kemiskinan menurut wilayah
Krisis impor Output  Output menurut sektor dan wilayah
Kesempatan kerja  Kesempatan kerja menurut sektor dan
Pendapatan wilayah
Inflation  Pendapatan menurut sektor dan wilayah
Kemiskinan menurut wilayah
Inflasi menurut wilayah
Krisis modal Output  Output menurut sektor dan wilayah
Nilai tukar  Kesempatan kerja menurut sektor dan
Kesempatan kerja  wilayah
Pendapatan  Pendapatan menurut sektor dan wilayah
Inflasi Inflasi menurut wilayah
Kemiskinan menurut wilayah
Sebuah krisis ekonomi bisa memiliki jalur-jalur pertama, kedua, dan ketiga
sekaligus, tergantung tipe krisis tersebut.

C. Analisis empiris
1. Krisis Keuangan Asia 1997-1998
Krisis keuangan asia muncul sekitar pertengahan tahun 1997 dan
mencapai klimaknya pada tahun 1998 dipicu awalnya oleh larinya modal,
terutama modal asing jangka pendek. Dari Thailand, secara tiba-tiba dan
dalam jumlah yang tidak kecil, cukup kuat untuk membuat banyak investor
dan pengusaha gugup dalam menanggapinya. Pelarian tersebut
mengakibatkan nilai tukar bath terhadap dolar AS terdepresiasi dalam jumlah
yang besar. Dalam jangka waktu yang tidak lama, hal yang sama juga terjadi
di Indonesia, yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah.
Prosesnya mulai terjadi pada pertengahan kedua tahun 1997 dan terus
berlangsung hingga sempat mencapai diatas Rp10.000 persatu dolar AS
dalam periode 6 bulan pertama tahun 1998. Pemerintah waktu itu berupaya
menghentikan jatuhnya nilai tukar rupiah dan sekaligus membalikkan arus
modal yang lari kembali ke dalam negeri dengan menanikkan tingkat suku
bunga tabungan dalam suatu persentase yang paling tinggi yang pernah

3
dilakukan oleh otoritas moneter indonesia dalam sejarah negara tersebut.
Namun, upaya itu gagal menghentikan laju penurunan nilai rupiah dan tidak
mampu menarik kembali modal dari luar indonesia. Akhirnya, pemerintah
Indonesia terpaksa melepas sistem penentuan kurs rupiah managed floating
[bebas terkendali; kurs rupiah bebas bergerak ke atas dan ke bawah, namun
ada batas minimum dan maksimum] pada tahun 1998, karena bank
indonesia sudah mulai kehabisan stok dolar AS untuk investasi pasar;sistem
yang telah dianut sejak awal orde baru. Artinya, sejak itu pergerakan kurs
rupiah sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan pasar [permintaan dan
penawaran] dan ini yang membuat nilai rupiah terus meluncur ke bawah.
Jatuhnya nilai rupiah sebesar itu juga dipicu oleh kerusakan sosial, terutama
di Jakarta, yang terjadi pada Mei 1998, akibat penembakan empat orang
mahasiswa dari Universitas Trisakti oleh tentara, yang kemudian disusul
dengan pengunduran diri Jenderal Soeharto sebagai presiden Republik
Indonesia.
Menjelang pertengahan tahun 1997, ekonomi-ekonomi Asia,
khususnya Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Korea Selatan mulai
menunjukkan kecenderungan memanas, yang salah satu tandanya adalah laju
inflasi yang mulai merangkak naik. Kecenderungan ekonomi yang memanas
akhirnya bisa’’meledak’’, dan membuat para investor asing yang memegang
saham-saham dari perusahaan-perusahaan besar di negara-negara itu mulai
khawatir; mungkin juga kekhawatiran mereka berlebihan. Mereka yakin
bahwa tidak lama lagi ekonomi dari negara-negara tersebut, terutama
indonesia dan Thailand akan’’meledak’’. Akhirnya, banyak investor asing
waktu itu menjual semua saham yang mereka pegang. Awalnya terjadi di
Thailand dan menjalar ke Indonesia, Korea Selatan dan Filipina.
2. Krisis Ekonomi Global 2008-2009
Krisis ekonomi global 2008-2009 dipicu oleh suatu krisis keuangan
yang besar di AS pada tahun 2007 dan melalui keterkaitan keuangan global,
krisis tersebut menjalar ke sabagian besar dunia, terutama negara-negara
maju seperti Jepang dan UE yang secara ekonomi dan keuangan sangat
terintegritas dengan AS. Oleh banyak ekonom dunia, krisis ini disebut
sebagai krisis ekonomi paling serius setelah depresi ekonomi besar yang
terjadi pada dekade 30-an. Krisis tersebut mempengaruhi secara negatif
keiatan-kegiatan bisnis kunci di dunia terutama sektor-sektor keuangan dan
perdagangan, yang selanjutnya menurunkan laju pertumbuhan ekonomi
global dan tingkat pendapatan rill per kapita di dunia. DiAsia, banyak negara
yang terkena dampak dari krisis tersebut, termasuk cina, india, dan
indonesia; walaupun derajat dari dampaknya bervariasi antarnegara,
tergantung pada kondisi dan tingkat integritas dari negara bersankutan dengan
ekonomi dunia [khususnya dalam area perdagangan dan keuangan]. Krisis
2008-2009 tersebut mempengaruhi banyak negara melalui sejumlah jalur,
yaitu ekspor, investasi [termasuk PMA], dan pengiriman uang dari pekerja-
pekerja migran. Namun demikian, jalur paling utama untuk sebagian besar
negara-negara yang terkena dampaknya adalah ekspor.

4
Karena ekspor merupakan jalur transmisi yang memiliki dampak paling
utama bagi kebanyakan negara, terutama negara-negara yang berorientasi
ekspor seperti; Hongkong-Cina, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Cina
Taipei dan Thailand. Maka krisis global 2008-2009 [berbeda dengan kasus
krisis 1997-1998] bagi banyak negara, termasuk Indonesia, merupakan
sebuah krisis permintaan dunia [krisis pasar ekspor].
Dinegara-negara besar seperti Indonesia yang terdiri atas berbagai pulau
yang jumlahnya sangat banyak dan pembagian wilayah administrasi
[provinsi, kabupaten/kota, dan kecamatan] dalam jumlah yang juga banyak
dengan kondisi dan karakteristik [terutama dalam fisik, ekonomi, demografi,
kelembagaan, pelayanan publik, dan sosial-budaya] yang berbeda, dampak
dari krisis 2008-2009 tersebut bisa berbeda antar wilayah. Dampaknya bisa
sangat parah di sejumlah wilayah dibandingkan di wilayah-wilayah lainnya,
atau bahkan dibandingkan dengan dampaknya pada tingkat nasiaonal.
3. Krisis Utang Zona Euro
Sebenarnya, menjelang berakhirnya kisis ekonomi global pada periode
2008-2009 ekonomi zona euro [ZE],yakni 17 negara angota Uni Eropa [UE]
yang tergabung dalam mata uang tunggal euro, sudah mulai menunjukkan
gejala akan mengalami sebuah krisis besar karena masalah utang pemerintah
Yunani [salah satu anggota ZE yang tidak terbayarkan. Krisis itu cenderung
semakin parah pada tahun 2011, yang bahkan jika kondisinya semakin buruk,
bisa menancam kelansungan sistem mata uang tunggal euro.
Secara teori, krisis ekonomi zona euro akan berdampak buruk pada
ekonomi UE, dan pada gilirannya krisis ekonomi UE akan berdampak buruk
pada ekonomi dunia karena ekonomi UE sangat terbuka, dalam arti ekonomi
UE akan sangat terintegasi dengan ekonomi global khususnya lewat tiga jalur,
yakni perdagangan [barang dan jasa], produksi [rantai nilai suplai], dan
keuangan [investasi dan penyaluran kredit].
Efek dari krisis ekonomi UE terhadap ekonomi dunia memang sudah
terasa sejak tahun 2010, bahkan laju pemulihan ekonomi dunia [akibat krisis
ekonomi global 2008-2009] yang mulai terasa sejak akhir tahun 2009 atau
pada triwulan pertama tahun 2010 terasa lebih lambat dari yang seharusnya.
Ekonomi UE yang sudah menunjukkan pemulihan dari krisis ekonomi global
tersebut dengan laju pertumbuhan ekonomi tahunan sebasar 0,5 persen pada
triwulan pertama tahun 2010 kembali cenderung melemah.