Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM EKOFISIOLOGI

PRAKTIKUM III
ADAPTASI MAKHLUK HIDUP TERHADAP SUHU

OLEH :

NAMA : LISDAWATI
STAMBUK : F1D1 14 015
KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN PEMBIMBING : DIAZ EKA ANJANI

PROGRAM STUDI BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi

mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel

lingkungan yang dihadapi organisme tersebut. Artinya bahwa setiap organisme

harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi

tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan tingkah laku, pada lingkungan

perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan

homeostatis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan.

Organisme akuatik memerlukan lingkungan untuk melangsungkan

kehidupannya dan tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Lingkungan hidup

organisme akuatik selalu mengalami perubahan yang berfluktuasi yang

disebabkan oleh lingkungan itu sendiri ataupun akibat dari kegiatan yang

dilakukan oleh manusia. Beberapa variabel lingkungan (fisika-kimia) yang dapat

berubah dari waktu ke waktu contohnya seperti suhu, pH, salinitas, deterjen dan

kekeruhan. Perubahan kondisi lingkungan tersebut dapat berubah secara harian,

mempengaruhi kehidupan organisme akuatik baik secara fisiologis, tingkah laku,

biokimia, maupun struktur tubuhnya.

Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan. Kenaikan suhu

air dapat menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu. Air

memiliki beberapa sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air

berjalan lebih lambat dari pada udara, walaupun suhu kurang mudah berubah di
dalam air daripada di udara, namun suhu merupakan faktor pembatas utama, oleh

karena itu mahluk akuatik sering memiliki toleransi yang sempit. Berdasarkan

uraian tersebut maka praktikum adaptasi hewan terhadap suhu perlu dilakukan.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini yaitu bagaimana adaptasi makhluk

hidup terhadap suhu hangat, suhu dingin, dan suhu panas.

C. Tujuan

Tujuan pada praktikum ini yaitu mengetahui dan memahami adaptasi

makhluk hidup terhadap suhu hangat, suhu dingin, dan suhu panas.

D. Manfaat

Manfaat pada praktikum ini yaitu dapat mengetahui dan memahami

adaptasi makhluk hidup terhadap suhu hangat, suhu dingin, dan suhu panas.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Suhu

Distribusi suhu, salinitas dan oksigen terlarut di suatu perairan sangat

berpengaruh pada berbagai aspek parameter lain, seperti reaksi kimia dan proses

biologi. berbagai aspek distribusi parameter seperti reaksi kimia dan proses

biologi merupakan fungsi dari suhu, sehingga suhu ini menjadi suatu variabel

yang menentukan, sedangkan salinitas merupakan faktor penting bagi penyebaran

organisme perairan laut dan oksigen dapat merupakan faktor pembatas dalam

penentuan kehadiran makhluk hidup di dalam air. Penentuan suhu, salinitas dan

oksigen terlarut dalam aspek ekologi seringkali dinyatakan dalam kisaran nilai

harian, mingguan atau musiman dan hasilnya berbeda di setiap perairan (Simon

dan Patty, 2013).

Suhu merupakan salah satu faktor fisika yang sangat penting di dalam air

karena bersama-sama dengan zat atau unsur yang terkandung didalamnya akan

menentukan massa jenis air, densitas air, kejenuhan air, mempercepat reaksi kimia

air dan memengaruhi jumlah oksigen terlarut di dalam air. Suhu tinggi yang masih

dapat ditoleransi oleh ikan tidak selalu berakibat mematikan pada ikan tetapi

dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya

stres yang menyebabkan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal (Aliza,

dkk., 2013).

B. Respon Tanaman terhadap Suhu

Tanaman dapat memberikan respons positif dan negatif terhadap

perubahan lingkungan. Respon tersebut dapat diketahui dari perubahan fenotipik


dan fisiologis tanaman. Faktor yang berpengaruh terhadap respon tanaman

terhadap perubahan lingkungan adalah lama waktu penyinaran tanaman, suhu

udara, dan kandungan CO2 di atmosfer. Respons tanaman terhadap perubahan

suhu tergantung pada fase pertumbuhan. Suhu yang sesuai pada fase

perkecambahan adalah 15-22oC (Taufik dan Sundari, 2012).

C. Ikan

Ikan merupakan salah satu makhluk hidup yang dapat digunakan sebagai

alat untuk melakukan biomonitoring. Ikan dapat digunakan sebagai alat

biomonitoring karena sepanjang hidupnya hidup di air, toleransi ikan satu dengan

yang lainnya berbeda terhadap kadar dan jenis pencemaran, mudah untuk

didapatkan, hidup selama beberapa tahun serta mudah diidentifikasi di lapangan.

Biomonitoring adalah penggunaan respons biologi secara sistematik untuk

mengukur dan mengevaluasi perubahan dalam lingkungan (Suyantri, 2011).

Ikan yang hidup di dalam air yang mempunyai suhu relatif tinggi

akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi. Hal tersebut dapat diamati dari

perubahan pergerakan operculum ikan. Kisaran toleransi suhu antara spesies ikan

satu dengan spesies yang lain, misalnya pada ikan Salmonid suhu terendah yang

dapat menyebabkan kematian berada tepat di atas titik beku, sedangkan suhu

tinggi dapat menyebabkan gangguan fisiologis ikan (Azwar, dkk., 2016).

Ikan mujair (Oreochromis mossambicus) merupakan organisme

perairan tawar yang dapat bertahan terhadap perubahan kondisi lingkungan

perairan, diantaranya kadar oksigen yang rendah dan perubahan salinitas yang
cukup ekstrim. Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) merupakan ikan

yang telah beradaptasi luas di Indonesia berkat kemampuan berkembang

biaknya yang cepat. Organisme yang dapat digunakan sebagai uji hayati

adalah organisme yang penyebarannya luas dan mudah didapat dalam jumlah

yang banyak (Suyantri, dkk., 2011).


DAFTAR PUSTAKA

Aliza, D., Winaruddin., dan Sipahutar, L. W., 2013, Efek Peningkatan Suhu Air
Terhadap Perubahan Perilaku, Patologi Anatomi, dan Histopatologi
Insang Ikan Nila (Oreochromis Niloticus), Jurnal Medika Veterinaria,
7(2) : 142-143.
Azwar, M., Emiyarti, dan Yusnaini, 2016, Critical Thermal dari Ikan Zebrasoma
scopas yang Berasal dari Perairan Pulau Hoga Kabupaten Wakatobi,
Jurnal Sapa Laut, 1(2) : 60-66

Patty, S. I., 2013, Distribusi Suhu, Salinitas dan Oksigen Terlarut di Perairan
Kema Sulawesi Utara, Jurnal Ilmiah Platax, 1(3) : 1-2.
Suyantri, E., Aunurohim, Abdulgani, M. Si, Dra. Nurlita, 2011, Sintasan (Survival
Rate) Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus) Secara In-Situ di Kali
Mas Surabaya, Prosiding, Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
Surabaya.
Taufik, A., dan Sundari, T., 2012, Respons Tanaman Kedelai Terhadap
Lingkungan Tumbuh, Buletin Palawijaya, 23
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum ini dapat dilihat pada tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Hasil pengamatan adaptasi tanaman terhadap suhu


Pertumbuhan
No. Polybag Tempat ternaung Tempat Terang Lab. Botani
(suhu hangat) (suhu panas) (suhu dingin)
1 I - - 22,5 cm

Tabel 4. Hasil pengamatan adaptasi ikan terhadap suhu


Keadaan Pergerakan operculum ikan
No. Suhu
air Jantan Betina
1 Normal 30°C 352 330
2 Dingin 10°C 307 215
3 Panas 43°C 100 127

B. Pembahasan

Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang paling jelas,

mudah di ukur dan sangat beragam. Suhu tersebut mempunyai peranan yang

penting dalam mengatur aktivitas biologis organisme, baik hewan maupun

tumbuhan. Ini terutama disebabkan karena suhu mempengaruhi kecepatan

reaksi kimiawi dalam tubuh dan sekaligus menentukan kegiatan metabolik,

misalnya dalam hal respirasi. Sebagaimana halnya dengan faktor lingkungan

lainnya, suhu mempunyai rentang yang dapat ditolerir oleh setiap oraganisme.

Masalah ini dijelaskan dalam kajian ekologi, yaitu Hukum Shelford. Dengan

alat yang relatif sederhana, percobaan tentang pengaruh suhu terhadap


aktivitas respirasi organisme tidak sulit dilakukan, misalnya dengan

menggunakan respirometer sederhana.

Suhu merupakan faktor lingkungan pada proses pertumbuhan tanaman.

Cekaman merupakan faktor lingkungan biotik dan abiotik yang dapat

mengurangi laju proses fisiologi. Tanaman mengimbangi efek merusak dari

cekaman melalui berbagai mekanisme yang beroperasi lebih dari skala waktu

yang berbeda, tergantung pada sifat dari cekaman dan proses fisiologis yang

terpengaruh. Respon ini bersama-sama memungkinkan tanaman untuk

mempertahankan tingkat yang relatif konstan dari proses fisiologis, meskipun

terjadinya cekaman secara berkala dapat mengurangi kinerja tanaman tersebut.

Jika tanaman akan mampu bertahan dalam lingkungan yang tercekam, maka

tanaman tersebut memiliki tingkat resistensi terhadap cekaman.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada adaptasi tanaman

terhadap suhu. Tanaman yang ditanaman pada tempat ternaungi dan tempat

terang tidak mengalami pertumbuhan dikarenakan waktu penyiraman tanaman

yang tidak efektif sehingga media tanaman menjadi kering dan tanaman

kekurangan nutrisi, sedangkan tanaman yang disimpan di laboratorium botani

(18oC) mengalami pertumbuhan dengan panjang tanaman 22,5 cm. Tanaman

cenderung mengalami pertumbuhan yang sangat cepat pada suhu dingin

karena banyak terdapat oksigen, namun tanaman yang tumbuh pada suhu

dingin cenderung akan mengalami etiolasi karena kekurangan cahaya

matahari.
Pengamatan selanjutnya yaitu pengamatan adapatasi hewan terhadap

suhu dengan menggunakan ikan mujair (Oreochromis mossambicus).

perlakuan pertama pada suhu normal (30°C) pergerakan operculum ikan

jantan yaitu 352 dan ikan betina 330, pada suhu dingin (10°C) pergerakan

operculum ikan jantan yaitu 307 dan ikan betina 215 dan pada suhu panas

(43°C) pergerakan operculum ikan jantan yaitu 100 dan ikan betina 127.
V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan pada praktikum ini yaitu semakin tinggi suhu tempat

tanaman tumbuh maka tanaman akan

Semakin tinggi suhu air maka pergerakan operculum pada ikan semakin

cepat dan begitu pun sebaliknya. Semakin tinggi suhu tempat dimana tanaman

tumbuh maka tumbuhan akan sering melakukan penguapan.

B. Saran

Saran pada praktikum ini yaitu agar praktikan lebih disiplin pada saat

praktikum berlangsung.