Anda di halaman 1dari 2

“ZAT PENGATUR TUMBUH”

OLEH:

NAMA: HENDRA MUSLIM

NIM; A1C415020

DOSEN PENGAMPU

Dr. UPIK YELIANTI, M.S

Dra. MUSWITA, M.Si

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2017

LANDASAN TEORI

Zat pengatur tumbuh sangat diperlukan oleh tumbuhan sebagai komponen medium
pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa penambahan zat pengatur tumbuh dalam medium,
pertumbuhan sangat terhambat bahkan tidak mungkin tidak tumbuh sama sekali.
Pembentukan kalus dan organ-organ ditentukan oleh penggunaan yang tepat dari zat pengatur
tumbuh tersebut. Zat pengatur tumbuh digunakan untuk memacu pertumbuhan
tanaman.Namun, di samping dapat memacu, zat ini pun dapat menghambat pertumbuhan
tanaman yang tidak dikehendaki.Penggunaan zat pengatur tumbuh dimaksudkan untuk
mencegah terjadinya gugur bunga dan buah, memperbaiki mutu buah, dan meningkatkan
hasil buah (Setiadi, 2006: 123). Menurut Setyawan (2016 : 23) Zat pengatur tumbuh
merupakan senyawa organik atau hormon yang mampu mendorong, mengatur dan
menghambat proses fisiologis tanaman .

Hendaryono dan Wijayani (1994: 56) menyatakan Zat pengatur tumbuh dalam tanaman
terdiri dari lima kelompok yaitu Auksin, Giberelin, Sitokinin, Etilen dan Inhibitor dengan
cirri khas serta pengaruh yang berlainan terhadap proses fisiologis. Zat pengatur tumbuh
sangat diperlukan sebagai komponen medium bagi pertumbuhan dan diferensiasi. Tanpa
penambahan zat pengatur tumbuh dalam medium, pertumbuhan sangat terhambat bahkan
tidak mungkin tidak tumbuh sama sekali.

Hormon auksin adalah hormon pertumbuhan pada semua jenis tanaman lain dari hormon ini
adalah IAA atau Asam Indol Asetat. Hormon auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung
akar, fungsi dari hormone auksin ini adalah membantu dalam proses mempercepat
pertumbuhan baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang (Campbell, 2004: 234).

Menurut Gardner (1999: 176) Auksin mengatur proses di dalam tubuh tanaman dalam
morfogenesis. Misalnya kuncup lateral dan pertumbuhan akar dihambat oleh auksin namun
permukaan pertumbuhan akar baru digalakkan pada jaringan kalus. Konsentrasi auksin yang
berlebihan menyebabkan ketidaknormalan seperti epinasti. Auksin mempengaruhi
pengembangan dinding sel dimana mengakibatkan berkurangnya tekanan dinding sel
terhadap protoplas. Maka karena tekanan dinding sel berkurang, protoplas mendapat
kesempatan untuk meresap air dari sel-sel yang adadi bawahnya karena sel-sel yang ada di
dekat titik tumbuh mempunyai nilai osmotis yang tinggi.