Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT ,atas berkat rahmat beserta
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “
Bagaimana Budidaya Buaya Muara dan Buaya Air Tawar Irian ”, dengan baik
meskipun masih banyak kekurangan yang terdapat di dalamnya .

Penulis juga turut berterimakasih kepada dosen pengajar mata kuliah Produksi
Satwa Harapan, Dr. Sauland Sinaga, S.Pt., M.Si. yang telah memberikan ilmu dan
motivasinya dalam proses pembelajaran dalam mata kuliah ini.
Saya sangat berharap agar makalah ini dapat berguna serta bermanfaat kepada
pembacanya serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai
bagaimana budidaya buaya muara dan buaya air tawar irian . penulis juga
menyadari masih banyak kekurangan yang jauh dari kata sempurna , oleh karena
itu penulis berharap adanya kritik dan saran agar dapat lebih baik lagi dalam
kedepanya. Sebelumnya mohon maaf apabila masih terdapat kesalahan kata–kata
yang kurang berkenan kami mohon maaf.

Jatinangor, September 2017

Penyusun,
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Burung Jalak Suren atau dikenal juga dengan nama Jalak Uren memiliki nama
latin (Sturnus contra). Spesies burung ini merupakan salah satu spesies burung yang
hidup di wilayah Anak benua India dan Asia Tenggara dan merupakan salah satu
jenis burung peliharaan yang populer di Indonesia. Burung jalak suren merupakan
spesies burung berukuran sedang dengan bulu berwarna hitam dan putih. Perbedaan
antara jalak suren jantan dengan jalak suren betina terdapat pada panjang tubuhnya,
kulit di sekeliling mata, bulu, ekor, dan jari-jari kakinya.

Habitat burung jalak suren adalah di kaki lembah dan di dataran rendah terutama
di dekat perairan terbuka. Namun tak jarang burung ini terlihat berkeliaran di
sekitaran pemukiman penduduk. Mereka biasanya hidup dalam sebuah kelompok
kecil. Sarang jalak suren biasanya terletak di lubang pohon di dekat sumber air. Di
sarang tersebut biasanya jalak suren akan bertelur sebanyak 4-6 butir sebelum
dierami. Telur-telur tersebut akan menetas setelah dierami selama 14-15 hari.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan masalah yang ada, maka dibuat rumusan masalah yang relevan
untuk kajian ini yaitu :

1.2.1 Sistem Reproduksi pada Jalak Suren


1.2.2 Makanan yang Terdapat di Alam
1.2.3 Teknik Penangkaran dan Kandangnya
1.2.4 Pembuatan Pakan Buatan
1.2.5 Penjualan dan Ekonomis dalam budidaya Jalak Suren
II

PEMBAHASAN

3.1 Sistem Reproduksi pada Jalak Suren

Jalak Suren memiliki sistem reproduksi pada umumnya hewan lain oleh karena
itu akan dibahas mengenai sistem reproduksi pada Jalak Suren yakni sistem
reproduksi Jalan Suren jantan dan Jalak Suren betina.

3.1.1 Sistem Reproduksi Jalak Suren Jantan

A. Sistem Reproduksi Jalak Suren Jantan


Testis berjumlah sepasang, berbentuk oval atau bulat, bagian permukannya licin,
terletak di sebelah ventral lobus penis bagian paling kranial. Pada musim kawin
ukurannya membesar. Di sinilah dibuat dan disimpan spermatozoa.
Saluran reproduksi. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen dan epididimis.
Duktus wolf bergelung dan membentuk duktus deferen. Pada burung- burung kecil,
duktus eferen bagian distal yang sangat panjang membentuk duktus aferen yang
berdilatasi membentuk duktus ampula yang bermuara dikloaka sebagai duktus
ejakulatori. Duktus eferen berhubungan dengan epididimis yang kecil dengan ureter
ketika masuk kloka.

3.1.2 Sistem Reproduksi Jalak Suren Betina


B. Sistem Genitalia Betina.
Ovarium. Selain pada burung elang, ovarium aves yang berkembang hanya yang
kiri, dan terletak di bagian dorsal rongga abdomen. Saluran reproduksi, oviduk yang
berkembang hanya yang sebelah kiri, dan dibagi menjadi beberapa bagian- bagian
anterior adalah infundibulum yang punya bagian terbuka yang mengarah ke rongga
selom sebagai ostium yang dikelilingi oleh fimbre- fimbre. Di posterionya adalah
magnum yang akan Mengekskrsikan albumin, selanjutnya istimus yang
mengsrkresikan fimbre. Di Posteriornya adalah magnum yang akan mensekresikan
albumin, selanjutnya Istimus akan mensekresikan membran sel telur dalam dan
luar.
C. Proses Fertilisasi
Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan
tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati
oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk
membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat
sepasang testis yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka.Fertilisasi
akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk.
Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju
kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikeliingi oleh
materi cangkang berupa zat kapur. Telur dapat menetas apabila dierami oleh
induknya. Suhu tubuh induk akan membantu pertumbuhan embrio menjadi anak
burung. Anak burung menetas dengan memecah kulit telur dengan menggunakan
paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan belum dapat
mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang.

3.2 Makanan yang Terdapat di Alam


Makanan burung jalak suren antara lain biji-bijian, buah-buahan, serangga, telur
serangga, kupu-kupu, cacing tanah, dan moluska (sejenis siput-siputan).

3.3 Teknik Penangkaran dan Kandangnya


Terdapat beberapa kandang atau tempat penangkaran pada Jalak Suren, itu
disesuaikan dengan kondisi Jalak Suren yang sehat dan sakit ataupun umur pada
Jalak Suren itu sendiri sehingga pemeliharaan ataupun budidaya dapat berjalan
dengan baik dan lancar. Beberapa kandang untuk budidaya Jalak Suren, yaitu:
3.3.1 Kandang Penangkaran

Sebenarnya kandang untuk penangkaran burung jalak suren tidak ada ukuran baku,
ukuran kandang yang ideal adalah 2 x 1 x 2,25 m. Jika lokasi tidak terlalu luas bisa
menggunakan ukuran 1 x 1 m² dengan tingga 1 m.

 Dinding kanan, kiri dan belakang kandang bisa terbuat dari batako atau batu
bata. Asalkan jangan diplester menggunakan semen supaya kelembabannya
tetap terjaga
 Untuk dinding depan bisa ditutup dengan kawat ram
 Atapnya separuh ditutup dengan asbes, separuhnya ditutup dengan kawat ram
 Lantai kandang dapat dibuat dari tanah liat agar kandang tetap lembab dan lebih
cepat menyerap kotoran
 Tenggeran dalam kandang menggunakan kayu asem sehingga mudah
dicengkeram
 Sarang dalam kandang dapat dibuat dari kayu atau triplek dengan bentuk
persegi ukuran 25 x 25 x 35 cm². Sarang diletakkan di bagian atas di dalam
kandang karena burung jalak suren lebih senang bertelur di atas
 Sediakan tempat untuk mandi burung di dalam kandang
3.4 Pembuatan Pakan Buatan

Menu pakan yang diberikan pada jalak suren dalam jumlah yang cukup banyak
adalah makanan buatan yang diselingi dengan buah-buahan, sebagai makanan
tambahan untuk melengkapi dan membantu pencernaan burung. Di samping itu,
bisa memberikan makanan ekstra berupa serangga, ulat, dan jangkrik untuk
melengkapi kebutuhannya sehingga burung tetap sehat dan bergairah. Salah satu
jenis makanan buatan untuk jalak suren adalah voer. Sebaiknya Anda memilih voer
yang berkadar protein sedang, yaitu 12-18 persen. Voer yang berharga mahal belum
tentu cocok dengan sistem metabolisme setiap burung. Voer diberikan sebagai
pelengkap kebutuhan nutrisinya.

Beberapa keuntungan dari penggunaan pakan buatan sebagai makanan burung


jalak suren adalah:

 Kandungan gizinya lebih lengkap dan mudah diatur sesuai dengan kebutuhan
dan umur burung.
 Tidak ada ketergantungan pada musim karena dapat disimpan dalam waktu
yang cukup lama dan mudah diperoleh.
 Dapat digunakan dalam keperluan budidaya yang besar.

3.5 Penjualan dan Nilai Ekonomis dalam Budidaya Jalak Suren

Kelangkaan burung jenis jalak uren atau jalak suren membuat para penjual
burung untuk menangkarkannya. Hasilnya setiap bulan tidak kurang dari seratus
burung ocehan itu menetas dan harganya pun lumayan tinggi. Setiap anakan jalak
uren umur 10 hari dijual dengan harga Rp 450 ribu. Untuk satu pasang indukan
harga jual Rp 1,2 juta, itu yang sudah siap berkembang biak atau bertelur.
3.5 Analisi Usaha
PENGELUARAN
1. INDUKAN JALAK SUREN 10 PASANG : Rp. 12.000.000
2. PAKAN 1 BULAN : Rp. 500.000
3. VITAMIN 1 BULAN : Rp. 150.000
4. KANDANG : Rp. 5.000.000
5. BIAYA LAIN LAIN : Rp. 50.000
TOTAL :Rp. 17.700.000
Fertilitas = 75%
jadi jumah telur yang di hasilkan x fertilitas = 4 x 10 x 75%= 30 telur yang
menetas.
ANAK BURUNG JALAK SUREN : Rp. 450000
PENDAPATAN
Jadi
:Rp.450000 x jumlah telur yang menetas = Rp 450000 x 30

Pengeluaran dan Keuntungan periode ke 2


:Rp. 17.700.000 – Rp.13.500.000 = Rp.4.200.000
PENGELUARAN
PAKAN 1 BULAN : Rp. 500.000
OBAT OBATAN 1 BULAN : Rp. 150.000
BIAYA LAIN LAIN : Rp. 50.000
TOTAL : Rp. 700.000
Jadi
:Rp.450000 x jumlah telur yang menetas = Rp 450000 x 30
: Rp.13.500.000- Rp.700.000 = Rp. 12.800.000

PENDAPATAN PERIODE KE 2 : Rp. 12.800.000


DAFTAR PUSTAKA

Butchart, S. & Symes, A. (2012). "Sturnus contra". IUCN Red List of


Threatened Species. Version 2012.2. International Union for Conservation of
Nature.

Hume 1889, hlm. 386 – 387.

Cakrawala (11 November 2011). "Jalak Suren Si Penjaga Rumah yang


Hampir Punah". Cakrawala Online..

MacKinnon, J., K. Phillipps, B. van Balen 2000. Burung-burung di Sumatera,


Jawa, Bali dan Kalimantan. Puslitbang Biologi LIPI, Bogor. hal. 394

Rasmussen, P.C.; Anderton, J.C. (2005). Birds of South Asia. The Ripley Guide.
Volume 2. Washington DC and Barcelona: Smithsonian Institution and Lynx
Edicions. hlm. 583.

"Jalak Suren". Kutilang Indonesia..

Freare & Craig 1998, hlm. 167–168.

"JENIS-JENIS JALAK DI INDONESIA". ANF Bird Farm..


LAMPIRAN