Anda di halaman 1dari 5

EKSTRAK DAN EKSTRAKSI

1. Pengertian ekstrak
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan
mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk
yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Anonim,
1995).
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, ekstrak adalah sediaan kering, kental, atau cair
dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar
pengaruh cahaya matahari langsung (Anonim, 1979)

2. Jenis - jenis ekstrak


1. Ekstrak Kering (Siccum)
Ekstrak kering adalah sediaan padat yang memiliki bentuk serbuk yang didapatkan dari
penguapan oleh pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. substansi ekstrak kering yaitu
eksipien (bahan pengisi),stabilizers (penstabil), dan preservative (bahan pengawet).
Ekstrak kering (Extracta sicca) dibagi dalam dua bagian, yaitu:
a. Ekstrak kering, yang dibuat dengan suatu cairan etanol dan karena tidak larut sepenuhnya
dalam air. Contohnya adalah Ekstraktum Granati, Ekstraktum Rhei.
b. Ekstrak kering yang dibuat dengan air. Contohnya antara lain Ekstraktum Aloes,
Ekstraktum Opii, Ekstraktum Ratanhiae. (Van Duin, 1947)
2. Ekstrak Kental (Spissum)
Ekstrak Kental atau ekstrak semisolid, adalah sediaan yang memiliki tingkat kekentalan di
antara ekstrak kering dan ekstrak cair.Ekstrak kental didapatkan dari penguapan sebagian dari
pelarut, air, alkohol, atau campuran hidroalkohol yang digunakan sebagai pelarut dalam
ekstraksi. Ekstrak semisolid mengandung antimicrobial atau bahan pengawet lainnya yang
sesuai.
Ekstrak lainnya dapat digolongkan dengan jelas dalam dua golongan:
a. Ekstrak kental yang dibuat dengan etanol 70% dan dimurnikan dengan air, contoh:
Ekstrak Belladonnae, Extractum Visci albi, Extractum Hyoscyami.
b. Ekstrak kental yang dibuat dengan air, contoh: Extractum liquiritae, Extractum
Gentianae, Extractum Taraxaci. (Van Duin, 1947)
3. Ekstrak cair (Liquidum)
Ekstrak cair adalah sediaan cair simplisia nabati, yang mengandung etanol sebagai pelarut
atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. Jika tidak dinyatakan lain pada
masing-masing monografi, tiap ml ekstrak mengandung bahan aktif dari 1 g simplisia yang
memenuhi syarat.
Contoh ekstrak cair adalah Extractum Chinae liquidum, Extractum Hepatis liquidum (Van
Duin, 1947).

3. Cara-cara pembuatan simplisia


a. Proses Pembuatan Simplisia
1. Pengumpulan bahan baku, dipengaruhi oleh waktu pengumpulan, dan juga teknik
pengumpulan.
2. Sortasi basah, memiliki tujuan untuk membersihkan dari benda-benda asing seperti
tanah, kerikil, rumput, bagian tanamn lain dan bahan yang rusak.
3. Pencucian simplisia dengan menggunakan air, sebaiknya memperhatikan sumber air,
agar diketahui sumber air tersebut mengalami pencemaran atau tidak.
4. Pengubahan bentuk simplisa seperti perajangan, pengupasan, pemecahan, penyerutan,
pemotongan.
5. Pengeringan dilakukan sedapat mungkin tidak merusak kandungan senyawa aktif
dalam simplisia. Tujuan pengeringan yaitu agar simplisia awet, dan dapat digunakan
dalam jangka waktu yang lama.
6. Sortasi kering, bensa-benda asing yang masih tertinggal, dipisahkan agar simplisia
bersih sebelum dilakukan pengepakan.
7. Pengepakan dan penyimpanan untuk mencegah terjadinya penurunan mutu simplisia
8. Pemeriksaan mutu
b. Pengeringan ekstrak
Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau pengolahan pada bahan dengan cara
mengurangi kadar air, sehingga proses pem-busukan dapat terhambat. Dengan demikian
dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah rusak dan tahan disimpan dalam waktu
yang lama Dalam proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan
berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu diperhati-kan. Pada umumnya suhu
pengeringan adalah antara 40 – 60 °C dan hasil yang baik dari proses pengeringan adalah
simplisia yang mengandung kadar air 10%. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pro-ses
pengeringan adalah kebersihan (khususnya pengeringan mengguna-kan sinar matahari),
kelembaban udara, aliran udara dan tebal bahan (tidak saling menumpuk). Penge-ringan
bahan dapat dilakukan secara tradisional dengan menggunakan sinar matahari ataupun secara
mo-dern dengan menggunakan alat pe-ngering seperti oven, rak pengering, blower ataupun
dengan fresh dryer.
Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat dilakukan de-ngan menggunakan
sinar matahari, oven, blower dan fresh dryer pada suhu 30 – 50 °C. Pengeringan pada suhu
terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya dapat menurun. Untuk irisan
rim-pang jahe dapat dikeringkan meng-gunakan alat pengering energi surya, dimana suhu
pengering dalam ruang pengering berkisar antara 36 – 45 °C dengan tingkat kelembaban 32,8
- 53,3% menghasilkan kadar minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan
matahari lang-sung maupun oven. Untuk irisan temulawak yang dikeringkan dengan sinar
matahari langsung, sebelum dikeringkan terlebih dulu irisan rimpang direndam dalam larutan
asam sitrat 3% selama 3 jam. Selesai peren-aman irisan dicuci kembali sampai bersih,
ditiriskan kemudian dijemur dipanas matahari. Tujuan dari perendaman adalah untuk
mencegah terjadinya degradasi kur-kuminoid pada simplisia pada saat penjemuran juga
mencegah peng-uapan minyak atsiri yang berlebihan. Dari hasil analisis diperoleh kadar
minyak atsirinya 13,18% dan kurkumin 1,89%.
Di samping menggunakan sinar matahari langsung, penjemuran juga dapat dilakukan
dengan menggunakan blower pada suhu 40 - 500C. Kelebihan dari alat ini adalah waktu
penjemuran lebih singkat yaitu sekitar 8 jam, di-bandingkan dengan sinar matahari
membutuhkan waktu lebih dari 1 minggu. Pelain kedua jenis pengeri-ng tersebut juga
terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya hampir sama dengan suhu ruang, tempat
tertutup dan lebih higienis. Kelemahan dari alat ter-sebut waktu pengeringan selama 3 hari.
Untuk daun atau herba, penge-ringan dapat dilakukan dengan me-nggunakan sinar matahari
di dalam tampah yang ditutup dengan kain hitam, menggunakan alat pengering fresh dryer
atau cukup dikering-anginkan saja.
Pengeringan dapat menyebabkan perubahan-perubahan hidrolisa enzi-matis,
pencokelatan, fermentasi dan oksidasi. Ciri-ciri waktu pengering-an sudah berakhir apabila
daun atau-pun temu-temuan sudah dapat di-patahkan dengan mudah. Pada umumnya bahan
(simplisia) yang sudah kering memiliki kadar air ± 8 - 10%. Dengan jumlah kadar air tersebut
kerusakan bahan dapat ditekan baik dalam pengolahan mau-pun waktu penyimpanan.
c. Rendamen
Rendamen adalah perbandingan jumlah ekstrak yang dihasilkan dari ekstraksi tanaman.
Rendamen ekstrak dapat digunakan sebagai parameter standar mutu ekstrak pada tiap bets
produksi maupun parameter ekstraksi
Rendamen = bobot ekstrak X 100%
bobot simplisia

1. Ekstraksi
Ekstraksi berasal dari bahasa latin extractio atau extrahere yang berarti menarik keluar. Zat
yg ditarik dapat berupa senyawa aktif dari tumbuhan dan atau hewan
Ekstraksi merupakan suatu metoda pemisahan berdasarkan kelarutan suatu zat yang tak
saling campur. Metoda - metoda ekstraksi terdiri dari maserasi, sokletasi,perkolasi serta
refluks.
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap
duacairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik.

2. Tujuan ekstraksi
Tujuan ekstraksi bahan alam adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat pada
bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip perpindahan massa komponen zat ke
dalam pelarut, dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka kemudian
berdifusi masuk ke dalam pelarut.

3. Sifat senyawa yang akan diekstaksi


a. kepolaran
Kandungan kimia dari suatu tanaman atau simplisia nabati yang berkhasiat obat umumnya
mempunyai sifat kepolaran yang berbeda-beda, sehingga perlu dipisahkan secara selektif
menjadi kelompok-kelompok tertentu.
Prinsip dasar ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa
non-polar dalam pelarut non-polar.
Jenis pelarut yang digunakan
Jenis pelarut berkaitan dengan polaritas dari pelarut tersebut. Hal yang perlu diperhatikan
dalam proses ekstraksi adalah senyawa yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih
mudah tertarik/ terlarut dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang sama.
b. pH
pH berperan dalam selektifitas dan mutu ekstrak yang dihasilkan. Ph yang netral atau
mendekati netral mempunyai kualitas yang baik
c. termostabilitas
-Menentukan teknik ekstraksi yang tepat dengan mempertimbangkan :
Jenis senyawa yang akan di ekstraksi / disari
Sensitivitas senyawa terhadap panas, senyawa tahan panas (termostabil) atau tidak tahan
panas (termolabil).
Termostabil >> bisa menggunakan metode ekstraksi cara panas dan cara dingin.
Termolabil >> mengguakan metode ekstraksi cara dingin

4. Prinsip ekstraksi

5. Perlakuan awal sebelum diekstraksi


Melembabkan serbuk
• Penambahan sedikit menstruum untuk mengembalikan sel pada keadaan semula.
• Bagian atas serbuk yang basah akan membentuk lapisan penghalang masuknya larutan
penyari ke dalam serbuk bagian bawah.
• Melembabkan serbuk dilakukan dengan dua kali bobot serbuk dan diamkan selama 5-15
menit

6. Istilah dalam ekstraksi


1. Bahan ekstraksi: Campuran bahan yang akan diekstraksi
2. Pelarut (media ekstraksi): Cairan yang digunakan untuk melangsungkan ekstraksi
3. Ekstrak: Bahan yang dipisahkan dari bahan ekstraksi
4. Larutan ekstrak: Pelarut setelah proses pengambilan ekstrak
5. Rafinat (residu ekstraksi): Bahan ekstraksi setelah diambil ekstraknya
6. Ekstraktor: Alat ekstraksi
7. menstruum : larutan penyari

7. Faktor yang mempengaruhi ekstraksi


a. Lama waktu ekstraksi
Lama waktu ekstraksi akan menentukan banyaknya senyawa-senyawa yang terambil. Ada
waktu saat pelarut/ekstraktan jenuh. Sehingga tidak pasti,semakin banyak ekstraksi maka
semakin bertambah banyak ekstrak yang didapatkan
b. Metode
Bersasarkan energi/suhu yang digunaka ekstrasi dibagi menjadi 2 :
- cara dingin: maserasi dan perkolasi
- cara panas : refluks dan soxhletasi
8. Pelarut
1) Pembagian pelarut
a) Pelarut polar
Memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang
polar dari tanaman. Pelarut polar cenderung universal digunakan karena biasanya walaupun
polar, tetap dapat menyari senyawa-senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. Salah
satu contoh pelarut polar adalah: air, metanol, etanol, asam asetat.
b) Pelarut semipolar
Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut
polar. Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan.
Contoh pelarut ini adalah: aseton, etil asetat, kloroform
C) Pelarut nonpolar
Pelarut nonpolar, hampir sama sekali tidak polar. Pelarut ini baik untuk mengekstrak
senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut dalam pelarut polar. Senyawa ini baik untuk
mengekstrak berbagai jenis minyak. Contoh: heksana, eter
2) Syarat pelarut
1. Harus mempunyai titik didih yang cukup rendah, agar pelarut mudah diuapkan
tanpa menggunakan suhu tinggi.
2. Pelarut tidak boleh larut dalam air.
3. Pelarut harus bersifat inert, sehingga tidak bereaksi dengan komponen minyak
atsiri dari tanaman.
4. Pelarut harus mempunyai titik didih yang seragam, dan jika diuapkan tidak akan
tertinggal dalam minyak.
5. Harga pelarut harus serendah mungkin dan tidak mudah terbakar

9. Jenis ekstraksi
a. Metode dingin
Metoda ini artinya tidak ada proses pemanasan selama proses ekstraksi berlangsung,
tujuannya untuk menghindari rusaknya senyawa yang dimaksud rusak karena
pemanasanan. Jenis ekstraksi dingin adalah maserasi dan perkolasi\
b. Metode panas
Metode ini melibatkan panas dalam prosesnya. Dengan adanya panas secara otomatis
akan mempercepat proses ekstraksi dibandingkan cara dingin Metodanya adalah refluks,
ekstraksi dengan alat soxhlet dan infusa.