Anda di halaman 1dari 26

ABSTRAK

Penyehatan udara melalui sumber dengan metode penyerapan setempat ialah


kegiatan atau usaha untuk mengurangi jumlah polutan diudara dengan menggunakan
penyerapan di satu tempat dan sumber pencemarnya yang bergerak. Sekarang ini,
sebanyak kurang lebih 70% pencemaran udara di Indonesia disebabkan oleh emisi
kendaraan bermotor yang mengeluarkan zat-zat berbahaya yang mana dapat
menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap
lingkungan diantaranya kerusakan pertumbuhan tanaman; iritasi, keracunan hingga
kematian pada manusia. Ada beberapa metode yang telah dikembangkan untuk
penyederhanaan buangan gas. Dasar pengembangan yang dilakukan salah satunya
adalah absobrsi atau penyerapan. Pilihan metode tersebut didasarkan atas berbagai
faktor, misalnya jenis bahan pencemar, komposisi, konsentrasi, kecepatan polutan
udara, daya racun polutan, berat jenis, reaktivitas dan kondisi lingkungan. Penyerapan
tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan alat dan atau penanaman beberapa jenis
tanaman. Keefektifitasan penggunaan media penyerap dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor baik dari dalam media tersebut maupun dari lingkungan media. Untuk
itu penggunaan media untuk pengendalian pencemar udara harus disesuaikan dengan
kondisi/sumber pencemar itu sendiri.

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang
mengelilingi bumi. Komposisi campuran gas tersebut tidak selalu konstan. Kualitas
dari udara yang telah berubah komposisinya dari komposisi udara alamiahnya
adalah udara yang sudah tercemar sehingga tidak dapat menyangga kehidupan.
Udara merupakan komponen kehidupan yang sangat penting untuk kelangsungan
hidup manusia maupun makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan dan hewan. Tanpa
makan dan minum kita bisa hidup untuk beberapa hari tetapi tanpa udara kita hanya
dapat hidup untuk beberapa menit saja (Fardiaz, 1992).
Udara dimana di dalamnya terkandung sejumlah oksigen, merupakan
komponen esensial bagi kehidupan, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya.
Udara merupakan campuran dari gas, yang terdiri dari sekitar 78% Nitrogen, 20%
Oksigen; 0,93% Argon; 0,03% Karbon Dioksida (CO2) dan sisanya terdiri dari Neon
(Ne), Helium (He), Metan (CH4) dan Hidrogen (H2). Udara dikatakan "Normal" dan
dapat mendukung kehidupan manusia apabila komposisinya seperti tersebut diatas.
Sedangkan apabila terjadi penambahan gas-gas lain yang menimbulkan gangguan
serta perubahan komposisi tersebut, maka dikatakan udara sudah
tercemar/terpolusi.
Akibat aktifitas manusia, udara seringkali menurun kualitasnya. Perubahan
kualitas ini dapat berupa perubahan sifat-sifat fisis maupun sifat-sifat kimiawi.
Perubahan kimiawi, dapat berupa pengurangan maupun penambahan salah satu
komponen kimia yang terkandung dalam udara, yang lazim dikenal sebagai
pencemaran udara. Kualitas udara yang dipergunakan untuk kehidupan tergantung
dari lingkungannya. Kemungkinan disuatu tempat dijumpai debu yang bertebaran
dimana-mana dan berbahaya bagi kesehatan. Demikian juga suatu kota yang
terpolusi oleh asap kendaraan bermotor atau angkutan yang dapat menimbulkan
gangguan kesehatan. Oleh sebab itu, dalam makalah berikut akan dibahas
mengenai penyehatan udara dari sumber melalui penyerapan setempat.
Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber
polusi udara mencapai 60-70%, sementara, kontribusi gas buang dari cerobong
asap industri hanya berkisar 10-15%, dan sisanya berasal dari sumber pembakaran
lain; misalnya rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dan lain-lain
(BPLH DKI Jakarta, 2013).Untuk itu perlu dilakukan pengendalian untuk
menurunkan beban emisi terutama pada sektor transportasi baik langsung maupun

2
tidak langsung, misalnya dengan meminimalisir penggunaan kendaraan, memilih
bensin yang bebas timbal, dan lain-lain.

B. Tujuan
1. Mengetahui maksud dari penyehatan udara
2. Mengetahui sumber dan zat pencemar udara
3. Mengetahui media/ zat yang dapat digunakan sebagai penyerapan setempat
sebagai upaya untuk penyehatan udara
4. Mengetahui mekanisme penyerapan dari media/zat yang disebutkan
5. Mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan jika tidak ada penyerapan
setempat
6. Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyerapan setempat
7. Mengetahui kelebihan dan kekurangan penyerapan setempat
8. Mengetahui efekrivitas dari penyerapan setempat

C. Manfaat Penulisan
Sebagai dasar untuk melakukan pencegahan pencemaran udara dan tindak
lanjut untuk melakukan tindakan penyehatan udara.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Penyehatan Udara dari Sumber melalui Penyerapan Setempat


Penyehatan udara melalui sumber dengan metode penyerapan setempat ialah
kegiatan atau usaha untuk mengurangi jumlah polutan diudara dengan
menggunakan penyerapan di satu tempat dan sumber pencemarnya yang
bergerak.
Contohnya, tumbuhan yang merupakan penyangga yang baik terhadap
pencemaran udara. Tumbuhan dapat difungsikan sebagai penyerap dan digunakan
sebagai ruang terbuka hijau (seperti yang ada di Surabaya) untuk mengurangi
jumlah polusi udara yang sebagian besar bersumber dari kendaraan bermotor dan
kegiatan produksi. Namun, dalam pembuatan ruang terbuka hijau sebagai media
penyerapan setempat harus disesuaikan dengan kemampuan
tumbuhanperuntukkantumbuhantersebut karena setiap tumbuhan mempunyai
karakteristik yang berbeda dalam mengabsorpsi gas-gas tertentu di udara.

B. Macam Sumber dan Zat Pencemar Udara


Secara umum terdapat dua sumber pencemar udara, yaitu:
1) Pencemaran akibat sumber alamiah, seperti letusan gunung berapi.
2) Pencemaran akibat kegiatan manusia, seperti yang berasal dari transportasi,
emisi pabrik, dan lain-lain.
Sekarang ini, sebanyak kurang lebih 70% pencemaran udara di Indonesia
disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor yang mengeluarkan zat-zat berbahaya
yang mana dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia
maupun terhadap lingkungan. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan
menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit
listrik, industri, dan rumah tangga. Sedangkan, sumber bergerak adalah aktifitas lalu
lintas kendaraan bermotor dan transportasi laut.
Dari data BPS tahun 1999, di beberapa provinsi terutama kota-kota besar
seperti Medan, Jakarta, dan Surabaya, emisi kendaraan bermotor merupakan
kontribusi terbesar terhadap konsentrasi NO2 dan CO di udara yang jumlahnya
lebih dari 50%. Penurunan kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun
terakhir menunjukkan betapa pentingnya digalakkan usaha-usaha pengurangan
emisi ini.
Menurut Wardhana (1984), di dunia dikenal zat pencemar udara utama yang
berasal dari kegiatan manusia berupa gas buangan hasil pembakaran bahan bakar

4
fosil dan industri. Perkiraan persentase komponen pencemar udara utama di
Indonesia khususnya transportasi dan industri, yaitu:
 Karbon Monoksida (CO) 70,50%
 Oksida Sulfur (SOx) 0,9%
 Nitrogen Oksida (NOx) 8,9%
 Hidrokarbon (HC) 18,34%
Berikut adalah penjelasan tentang komponen-komponen pencemar udara :
a. Karbon Monoksida (CO)
Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di
berbagai perkotaan. Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara
dan bahan bakar dalam proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin
diesel. Percampuran yang baik antara udara dan bahan bakar terutama yang
terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan Turbocharge merupakan salah
satu strategi untuk meminimalkan emisi CO. Strategi penurunan kadar karbon
monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti penggunaan
bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi karbon
dioksida dan penggunaan bahan bakar terbaru yang rendah polusi bagi
kendaraan bermotor.
b. Oksida Sulfur (SOx)
Emisi SOx terbentuk dari fungsi kandungan sulfur dalam bahan bakar,
selain itu kandungan sulfur dalam pelumas, juga menjadi penyebab
terbentuknya SOx emisi. Gas yang berbau tajam tapi tidak berwarna ini jika
bereaksi di atmosfer akan membentuk zat asam.
c. Nitrogen Oksida (NOx)
Menurut Schlesinger and William (1991), bahwa kira-kira 90% dari emisi
NOx disebabkan proses thermal NOx,. Setelah bereaksi dengan atmosfer zat ini
membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yang dapat menembus
bagian terdalam paru-paru. Selain itu zat oksida ini jika bereaksi dengan asap
bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan zat hidrokarbon lain akan
membentuk ozon rendah atau smog kabut berawan coklat kemerahan yang
menyelimuti sebagian besar kota di dunia.
d. Hidrokarbon (HC)
Pada mesin, emisis Hidrokarbon (HC) terbentuk dari bermacam-macam
sumber. Tidak terbakarnya bahan bakar secara sempurna, tidak terbakarnya
minyak pelumas silinder adalah salah satu penyebab munculnya emisi HC.
Emisi HC pada bahan bakar HFO yang biasa digunakan pada mesin-mesin

5
diesel besar akan lebih sedikit dibandingkan dengan mesin diesel yang
berbahan bakar Diesel Oil (DO).

C. Media/Zat yang dapat Digunakan sebagai Penyerapan Setempat


Ada beberapa metode yang telah dikembangkan untuk penyederhanaan
buangan gas. Dasar pengembangan yang dilakukan salah satunya adalah absobrsi
atau penyerapan. Pilihan metode tersebut didasarkan atas berbagai faktor,
misalnya jenis bahan pencemar, komposisi, konsentrasi, kecepatan polutan udara,
daya racun polutan, berat jenis, reaktivitas dan kondisi lingkungan. Berikut ini
merupakan media yang dapat digunakan untuk menyerap zat-zat pencemar
sebagai upaya penyehatan udara:
1. Absorbsi Melalui Benda Mati
a. Menara Isi
Menara berbentuk silinder tegak diisi dengan butiran-butiran pengisi
untuk memperluas permukaan kontak. Cairan mengalir melalui butiran
sementara gas dapat mengalir searah atau berlawanan arah dengan
cairan penyerap.Butiran pengisi dapat dibuat dari bahan plastik atau
karbon dengan dimensi 2,5 s/d 5 cm.
b. Menara semprot
Menara semprot menggunakan cairan penyerap yang disemburkan ke
dalam menara, dan cairan ini mudah bereaksi dengan gas, seperti gas
klor. Yang penting gas mudah larut ke dalam cairan. Gas masuk dari
bagian samping bawah silinder, sementara butiran cairan masuk dari
samping silinder bagian tengah. Gas dan butiran padat akan larut bersama
cairan penyerap dan turun ke bawah, sementara gas bersih keluar melalui
saluran pembuangan bagian atas.
c. Penyerapan dengan Tarikan Cairan
Alat ini berfungsi untuk menarik partikel dari buangan gas. Cairan
penyerap dibangkitkan agar terjadi kontak dengan partikel sehingga terjadi
ikatan partikel dengan cairan. Sementara gas terbuang melalui lubang
pembuangan atas.
d. Penyemprot Siklon
Alat ini berupa silinder tegak dimana di bagian bawahnya terdapat alat
penyemprot. Gas masuk ke dalam silinder melalui saluran yang berbentuk
tangensial. Aliran gas yang berjalan mengelilingi cairan akan menabrak
butiran cairan sehingga terjadi penyerapan.

6
e. Absorbsi Mekanis
Alat ini diisi cairan penyerp yang diputar dengan kipas. Gas kotor
masuk ke dalam cairan. Reaksi antara cairan dan gas berlangsung dengan
cukup baik. Gas dan partikel yang mudah bereaksi dengan air akan tinggal
bersama cairan sementara gas yang keluar sudah bersih.
f. Absorbsi oleh Benda Padat
Disini zat padat dikontakkan dengan gas buang sehingga gas itu akan
terikat pada bahan padat. Penyerapan ini dapat berlangsung baik secara
fisika maupun kimia. Penyerapan secara fisika merupakan kondensasi gas
pada permukaan zat padat, sedangkan penyerapan secara kimia berupa
reaksi yang membentuk molekul/senyawa baru.
2. Absorbsi Melalui Benda Hidup (Tanaman)
Menurut Iwan (2011) karakter umum tanaman yang mempunyai
kemampuan tinggi menyerap polutan indoor maupun outdoor, secara umum
serupa. Tanaman memiliki tajuk rimbun, tidak gugur daun, tanamannya tinggi.
Karakter khusus tanaman yang mempunyai kemampuan tinggi mengurangi
polutan, yaitu memiliki bulu halus, permukaan daun kasar, daun bersisik, tepi
daun bergerigi, daun jarum, daun yang permukaannya bersifat lengket, yang
efektif untuk menyerap polutan. Ciri spesifik pada tanaman sansevieria
diantaranya mampu hidup pada rentang suhu dan cahaya yang luas, sangat
resisten terhadap gas udara yang berbahaya (polutan). Bunga Matahari dan
Kersen mempunyai kemampuan menyerap debu lebih tinggi dibanding daun
dengan permukaan halus. Selain tanaman tersebut, menurut Krisantini (2008)
ada juga tanaman lain yaitu tanaman puring. Selain ketiga bunga tersebut juga
terdapat beberapa tanaman yang mampu menyerap debu.Tanaman-tanaman
tersebut adalah tanaman yang terdapat pada tabel di berikut ini :
Tabel 1. Tanaman yang Mempunyai Kemampuan Meyerap Debu
3
Nama Tanaman Kemampuan Menyerap Debu (g/m )
Asam Keranji 76,3
Trengguli 48
Kembang Merak 46,3
Sonokeling 41,6
Mindi 37,5
Sengon 34,6
Jambu Air 34,1

7
Berikut adalah klasifikasi tanaman yangmempunyai kemampuan untuk
mereduksi pencemar udara, antara lain :
1) Tanaman yang Mempunyai Kemampuan Menyerap CO
Kemampuan Menyerap CO
No. Nama Lokal Nama Ilmiah
(ppm/hari)
1. Puring Codiaeum interuptum 125 ppm/hari
2. Tanaman Kacang Merah Phaseolus vulgaris 12-120 ppm/hari
3. Sirih Belanda Epipremnum Aureum 113 ppm/hari
4. Angsana Pterocarpus indicus 109 ppm/hari

2) Tanaman yang Mempunyai Kemampuan Menyerap CO2


Kemampuan Menyerap CO2
No. Nama Lokal Nama Ilmiah
(kg/pohon/tahun)
1. Trembesi Samanea saman 28.448,39
2. Cassia Cassia sp 5.295,47
3. Kenanga Canangium odoratum 756,59
4. Pingku Dysoxylum excelsum 720,49
5. Beringin Ficus benyamina 535,90
6. Krey payung Fellicium decipiens 404,83
7. Matoa Pornetia pinnata 329,76
8. Mahoni Swettiana mahagoni 295,73
Adenanthera
9. Saga 221,18
pavoniana
10. Bungkur Lagerstroema speciosa 160,14

3) Tanaman yang Mempunyai Kemampuan Menyerap NO2 pada Tanaman


Semak
Kemampuan Menyerap NO2
No. Nama Lokal Nama Latin
(µg/g)
1. Lolipop merah Jacobina carnea 100,02
2. Kihujan Malphigia sp. 93,28
3. Akalipa merah Acalypha wilkesiana 64,8
4. Lolipop kuning Pachystachys lutea 61,7
Nusa indah
5. Mussaendah erytrhophylla 53,53
merah
6. Daun mangkokan Notophanax scultellarium 46,07

8
7. Bougenvil merah Bougenvillea glabra 45,44
8. Kaca piring Gardenia augusta 45,29
9. Miana Coleus blumei 41,7
10. Hanjuang merah Cordilyne camara 36,34

4) Tanaman yang Mempunyai Kemampuan Menyerap NO2 pada Tanaman


Pohon
Kemampuan Menyerap NO2
No. Nama Lokal Nama Latin
(µg/g)
1. Dadap kuning Erythrina variegate 68,31
2. Kaliandra Caliandra surinamensis 41,01
3. Kayu putih Eucalyptus alba 23,65
4. Jambu biji Psidium guajava 30,8
5. Bambu jepang Bambusa vulgaris 25,33
6. Akasia Acacia auriculiformis 12,39
7. Lamtoro Laucaena glauca 12,2
8. Beringin karet Ficus elastic 8,86
9. Bungur Lagerstromia loudonii 6,13
10. Palem merah Cyrtostachys lakka 7,79

Selain yang telah disebutkan diatas, penelitian yang telah dilakukan antara
NASA dengan Asosiasi Kontraktor Lanslap Amerika (ALCA) membuktikan bahwa
tanaman hias sangat efisien untuk menyerap beberapa zat pencemar yang
terdapat di udara dalam ruang. Jenis tanaman tersebut diantaranya :
a. Jenis tanaman philodendron, laba-laba, dan pothos atau sirih Belanda dapat
menyerap zat pencemar jenis formaldehid.
b. Sedangkan tanaman berbunga seperti gerbera dan krisan sangat baik
menyerap gas-gas golongan benzena.
c. Palem bambu (Camaedorea seifritzii), mempunyai daun kecil panjang-
panjang, bergabung dalam pelepah yang panjang dan panjangnya bisa
mencapai dua meter.
d. Sri rejeki (Chinese avergreen/Aglaonema modestum), daunnya hijau
berbelang-belang putih, biasanya ditanam di dalam pot. Jenis yang berdaun
lebih lebar biasa disebut beras kutah di Jawa.
e. Gerbera (Gerbera jamesonii), merupakan jenis bunga potong yang memiliki
aneka warna.

9
f. Daun jagung (Dracaena marginata), bentuknya mirip daun jagung, pinggiran
daun hijau dengan warna kuning terang ditengahnya.
g. Pedang-pedangan (San seviria laurentii), daunnya mirip dengan pedang,
warna hijau dengan belang-belang kuning atau putih.

D. Mekanisme Penyerapan
1. Penyerapan melalui peralatan
Prinsip dari penyerapan (absorbsi) adalah pemisahan zat pencemar
berbentuk gas melalui suatu cairan penyerap yang tidak mudah menguap.
Udara yang mengandung zat pencemar dialirkan melalui cairan penyerap
yang tidak mudah menguap (misalnya, air) sehingga zat-zat tersebut
terserap. Proses penyerapan akan berlangsung dengan mudah apabila
permukaan kontak cukup luas. Untuk itu dilakukan dengan membentuk
butiran cairan atau membentuk cairan yang membuat gelembung-gelembung
gas. Disamping itu perlu juga diperhatikan zat pencemarnya, untuk kemudian
ditentukan zat penyerapnya agar antara keduanya dapat dengan cepat
bereaksi; misalnya asam dengan alkohol.
2. Penyerapan melalui tanaman
Penyerapan zat pencemar udara oleh tanaman dilakukan melalui pori-
pori yang terdapat di permukaan daunnya dan dapat pula melalui akarnya.
Berikut merupakan contoh mekanisme penyerapan CO dan NO oleh
tanaman:
1) Mekanisme penyerapan CO
Tanaman menyerap polutan dalam dua tahap,yaitu:
a. Tahap pertama (Proses penangkapan dan pemecahan)
Tanaman menangkap polutan melalui stomata. Polutan tersebut
dipecah menjadi ion. Ion diserap oleh jaringan. Begitu pula CO di
udara, ditangkap oleh tanaman melalui stomata. Kemudian dipecah
menjadi ion C dan O, dan diserap oleh jaringan yang mengandung
pregnance glycoside.
b. Tahap kedua
Tanaman mengeluarkan oksigen melalui akar. Senyawa beracun
keluar dan menumpuk di jaringan akar kemudian dilepaskan.
Peristiwa ini terjadi pada proses transpirasi. CO yang sudah terpisah
menjadi C dan O, jika ion C bereaksi dengan senyawa H2O (air)
maka dapat membentuk C6H12O6 (gula) dan O2 (oksigen).

10
Contohnya adalah tanaman sansiviera. Pada proses fotosintesis,
klorofil pada sansevieria berfungsi menyerap cahaya matahari,
sehingga dengan adanya cahaya matahari stomata dapat membuka
dan CO di udara masuk melalui stomata. Semakin tinggi
pencahayaan, semakin banyak stomata yang membuka, sehingga
CO yang diserap semakin besar.
2) Mekanisme penyerapan NO
Sejumlah kecil nitrogen pindah dari atmosfer ke tanah sebagai NH4+
dan NO3- bersama air hujan dan diserap oleh akar. NH4+ ini berasal dari
pembakaran industri, aktivitas gunung berapi dan kebakaran hutan
sedangkan NO3- berasal dari oksidasi N2 oleh O2 atau ozon dengan
bantuan kilat atau radiasi ultraviolet. Penyerapan NO3- dan NH4+ oleh
tumbuhan memungkinkan tumbuhan untuk membentuk berbagai
senyawa nitrogen terutama protein.
Pengubahan nitrogen organic menjadi NH4+ oleh bakteri dan fungi
tanah disebut amonifikasi yang dapat berlangsung oleh berbagai macam
mikroorganisme pada suhu dingin dan pada berbagai nilai pH.
Selanjutnya pada tanah yang hangat dan lembab dan pH netral, NH4+
akan dioksidasi menjadi nitrit (NO2) dan NO3- dalam beberapa hari
setelah pembentukkannya atau penambahannya sebagai pupuk disebut
dengan nitrifikasi yang berguna dalam menyediakan energi bagi
kelangsungan hidup dan perkembangan mikroba tersebut. Selain itu
terdapat pula denitrifikasi yaitu suatu proses pembentukan N2, NO, N2O
dan NO2 dari NO3- oleh bakteri aneorobik yang berlangsung di dalam
tanah yang penetrasi O2- nya terbatas.
Nitrat sangat mudah larut dlm tanah sehingga cepat hilang karena
proses pembusukan. Taraf ketersediaan nitrogen dlm tanah tergantung
pada banyaknya bahan organik, populasi jasad renik, tingkat
pembasuhan. Dlm keadaan alami terjadi keseimbangan antara laju
pertumbuhan dan gaya-gaya yg menentukan penyediaan nitrogen dlm
tanah.

E. Dampak yang Ditimbulkan Jika Tidak Ada Penyerapan Setempat


Apabila tidak ada penyerapan setempat, pencemar udara dari berbagai
sumber seperti kendaraan bermotor dan industri, akan menimbulkan dampak
negatif baik bagi manusia maupun lingkungan. Dampak yang dapat ditimbulkan
oleh berbagai pencemar udara tersebut antara lain:

11
1. Dampak CO
a. Pengaruh CO terhadap tanaman
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian CO selama
1 sampai 3 minggu pada konsentrasi sampai 100 ppm tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap tanaman. Namun
kemampuan fiksasi nitrogen oleh bakteri bebas akan terhambat dengan
pemberian CO selama 35 jam pada konsentrasi 2000 ppm. Demikian
pula kemampuan terhadap akar tanamam juga terhambat dengan
pemberian CO sebesar 100 ppm selama 1 bulan. Karena konsentrasi
CO di udara jarang mencapai 100 ppm, meskipun dalam waktu
sebentar, maka pengaruh CO terhadap tanaman-tanaman biasanya
tidak terlihat secara nyata
b. Pengaruh CO terhadap manusia
Adanya kontak antara manusiadengan CO pada konsentrasi
tinggi dapat menyebabkan kematian sedangkan dalam konstrasi rendah
seperti asap kendaraan bermotor konsentrasi gas CO sekitar 10-15 ppm
dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan jumlah
kematian bayi serta kerusakan otak. Adapun pengaruh beracun CO
terhadap tubuh terutama disebabkan oleh reaksi antara CO dengan
hemoglobin (Hb) di dalam darah. Dengan adanya CO, hemoglobin
dapat membentuk karboksihemoglobin. Apabila reaksi demikian terjadi,
maka kemampuan darah untuk mentranspor oksigen menjadi
berkurang. Afinitas CO terhadap hemoglobin adalah 200 kali lebih tinggi
daripada afinitas oksigen terhadap hemoglobin, akibatnya jika CO dan
O2 terdapat bersama-sama di udara akan terbentuk COHb yang jauh
lebih banyak daripada O2Hb.Faktor penting yang menentukan pengaruh
CO terhadap tubuh manusia adalah konsentrasi COHb yang terdapat di
dalam darah.
Apabila COHb terhisap masuk ke paru-paru, mengakibatkan
fungsi vital darah, keadaan ini menyebabkan darah menjadi lebih
mudah menangkap gas CO dan menyebabkan fungsi vital darah
sebagai pengangkut oksigen terganggu. Keracunan gas CO dapat
ditandai dari keadaan yang ringan berupa pusing, sakit kepala dan
mual. Keadaan yang lebih berat: menurunnya kemampuan gerak tubuh,
gangguan pada sistem kardiovaskuler, serangan jantung sampai pada
kematian.

12
c. Pengaruh CO terhadap ekosistem dan lingkungan
Di udara, CO terdapat dalam jumlah yang sedikit, hanya sekitar
0,1 ppm. Di perkotaan dengan lalu lintas yang padat, konsentrasi gas
CO antara 10-15 ppm. Gas CO dalam jumlah yang banyak (konsentrasi
tinggi) dapat menyebabkan gangguan pada ekosistem dan lingkungan

2. Dampak Nitrogen Okside


a. Pengaruh NOx terhadap tumbuhan
Kandungan NOx di atmosfer akan mengakibatkan kerusakan
tanaman menurut percobaan dengan cara fumigasi tanaman-tanaman
dengan NOx menunjukkan terjadinya bintik-bintik pada daun jika
digunakan konsentrasi 1.0 ppm, sedangkan dengan konsentrasi yang
lebih tinggi (3.5 ppm atau lebih) terjadi nekrois atau kerusakan tenunan
daun (stoker dan seager, 1972)
b. Pengaruh NOx terhadap manusia
Gas nitrogen oksida ada dua macam, yaitu gas nitrogen
monoksida (NO) dan gas nitrogen dioksida (NO2). Kedua komponen
tersebut menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada
NO. Pada konsentrasi yang normal NO tidak mengakibatkan iritasi dan
berbahaya, tetapi pada konsentrasi udara ambient yang normal NO
dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang lebi beracun. NO2 bersifat
racun terutama terhadap paru-paru. Zat NOx setelah bereaksi dengan
atmosfer akan membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yaang
dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Paru-paru yang
terkontaminasi dengan NO2akan membengkak sehingga penderita sulit
bernafas yang dapat mengakibatkan kematian. Pada konsentrasi
rendah gas NO2juga menyebabkan iritasi pada mata yang meyebabkan
mata perih dan berair.
c. Pengaruh Nox terhadap lingkungan
Pencemaran udara oleh gas Nox dapat menyebabkan timbulnya
Peroxy Acetil Nitrates (PAN). Campuran PAN bersama senyawa kimia
lainnya yang ada di udara dapat menyebabkan terjadinya kabur foto
kimia atau Photo Chemistry Smog yang sangat berdampak terhadap
lingkungan dan bersifat karsinogenik. Salah satu dampaknya terhadap
lingkungan yaitu akibat timbulnya asap tebal dapat menyebabkan
terhentinya alat-alat transportasi karena dikhawatirkan terjadi tabrakan.

13
3. Dampak Sulfur Oksida
a. Pengaruh SOx terhadap tanaman
Apabila tanaman kontak dengan SO2 pada konsentrasi tinggi dan
waktu yang sebentar mengakibatkan daun tanaman menjadi kering,
warnanya memucat dan sampai mati. Sedangkan kontak dengan SO2
pada konsentrasi rendah dalam waktu yang lama menyebabkan
kerusakan kronis yang ditandai dengan adanya perubahan warna
menjadi kuning pada daunya, karena terhambatnya
mekanismepembentukan khlorofil.
b. Pengaruh SOx terhadap manusia
Polutan SOx mempunyai pengaruh terhadap manusia dan hewan.
Pengaruh yang dapat ditimbulkan berupa gangguan sistem pernafasan,
karena gas SOx yang mudah menjadi asam menyerang selaput lendir
pada hidung, tenggorokan dan saluran pernafasan yang lain sampai ke
paru-paru. Pada konsentrasi 1-2 ppm, bagi orang yang sensitif
serangan gas SOx ini menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang
terkena langsung. Namun bagi orang yang cukup kebal akan terasa
teriritasi pada konsentrasi 6 ppm dengan waktu pemaparan singkat.
Pemaparan dengan SOx lebih lama dapat meyebabkan peradangan
yang hebat pada selaput lendir yang diikuti oleh kelumpuhan sistem
pernafasan, kerusakan dinding ephitelium dan pada akhirnya diikuti oleh
kematian
c. Pengaruh SOx terhadap lingkungan
Suspensi asam di udara dapat terbawa turun ke tanah bersama
air hujan dan mengakibatkan air hujan bersifat asam. Dampak dari
hujan asam ini antara lain, mempengaruhi kualitas air permukaan,
merusak tanaman, melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam
tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan.
4. Dampak HC
a. Pengaruh HC terhadap tanaman
Campuran PAN dengan gas CO dan O3 disebut kabut foto kimia
(Photo Chemistry Smog) yang dapat merusak tanaman. Daun menjadi
pucat karena selnya mati. Jika hidrokarbon bercampur bahan lain
toksisitasnya akan meningkat
b. Pengaruh HC terhadap manusia
Hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan
akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyluc aromatic hidrocarbon

14
(PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalulintas. Bila
PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan
merangsang terbentuknya sel-sel kanker. Pengaruh hidrokarbon
aromatic pada kesehatan manusia dapat terlihat pada tabel dibawah ini :
Konsentrasi Jenis HC (ppm) Dampak Kesehatan
Benzena (C6H6)
100 Iritasi membran mukosa
3000 Lemas setelah ½-1 jam
7500 Pengaruh sangat berbahaya setelah
pemaparan 1 jam
20000 Kematian setelah pemaparan 5-10 menit
Toluena (C7H8)
200 Pusing lemah dan berkunang-kungan
setelah pemaparan 8 jam
600 Kehilangan koordinasi bola ata terbalik
setelah pemaparan 8 jam

c. Pengaruh HC terhadap ekosistem dan lingkungan


Reaksi pembakaran hidrokarbon yang melibatkan O2 akan
menghasilkan panas yang tinggi. Panas yang tinggi ini menimbulkan
peristiwa pemecahan (cracking) menghasilkan rantai hidrokarbon
pendek atau partikel karbon. Gas hidrokarbon dapat bercampur dengan
gas buangan lainnya. Cairan hidrokarbon membentuk kabut minyak
(droplet). Padatan hidrokarbon akan membentuk asap pekat dan
menggumpal menjadi debu/partikel. Hidrokarbon bereaksi dengan NO2
dan O2 menghasikan PAN.
5. Dampak partikel
a. Pengaruh partikel terhadap tanaman
Pengaruh partikel terhadap tanaman terutama adalah dalam bentuk
debunya, dimana debu tersebut jika bergabung dengan uap air atau air
hujan gerimis, membentuk kerak yang tebal pada permukaan daun dan
tidak dapat tercuci dengan air hujan kecualidengan menggosoknya.
Lapisan kerak tersebut akan mengganggu proses fotosintesis pada
tanaman karena menghambat masuknya sinar matahari dan mencegah
pertukaran CO2 dengan atmosfer. Akibatnya pertumbuhan tanaman
menjadi terganggu.

15
b. Pengaruh partikel terhadap manusia
Polutan partikel masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui
sistem pernafasan, oleh karena itu pengaruh yang merugikan langsung
terutama terjadi pada sistem pernafasan.
Penyakit pneomokoniosis bermacam-macam tergantung dari jenis
partikel debu yang masuk ke dalam paru-paru, dan jenis yang sering
dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri dan teknologi
yatiu silikosis yang disebabkan oleh pencemaran debu silika SiO2,
asbestosis merupakan pencemar debu atau serat asbes terutama dari
magnesium silikat, bisinosis penyakit yang disebabkan oleh debu kapas
di udara, dan antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang
disebabkan oleh debu batubara.

F. Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Penyerapan Setempat


1. Penyerapan menggunakan alat
a. Desain alat. Desain alat akan mempengaruhi kecepatan penyerapan
diantaranya luasnya permukaan kontak.
2. Penyerapan melalui tanaman
Selain morfologi tanaman, proses fotosintesis sebagian besar juga
mempengaruhi penyerapan setempat melalui penyerapan. Faktor yang
mempengaruhi fotosintesis adalah sebagai berikut :
a. Konsentrasi polutan (CO2) di udara, semakin tinggi konsentrasi CO2 di
udara maka laju fotosintesis semakin meningkat.
b. Klorofil. Semakin banyak jumlah klorofil maka proses fotosintesis
berlangsung semakin cepat. Banyaknya klorofil yang terbentuk
dipengaruhi oleh kondisi cahaya selama pertumbuhan tanaman tersebut.
Tanaman yang tumbuh di tempat gelap tidak memiliki klorofil. Selain itu
semakin tua tanaman kualitas klorofil semakin menurun.
c. Cahaya. Intensitas cahaya yang cukup diperlukan agar fotosintesis
berlangsung dengan efisien.
d. Air. Ketersediaan air mempengaruhi laju fotosintesis karena air
merupakan bahan baku dalam proses ini.
e. Suhu. Semakin optimum 10-35oC akan meningkatkan laju fotosintesis.
Namun suhu yang terlalu tinggi >35oC akan menghentikan kerja enzim
yang berperan dalam fotosintesis.

16
G. Kelebihan dan Kekurangan Penyerapan Setempat
1. Penyerapan menggunakan alat
a. Kelebihan
1) Keadaan musim tidak merpengaruhi kerja alat penyerapan
2) Mampu menyerap berbagai zat polutan.
b. Kekurangan
1) Membutuhkan biaya mahal
2) Memerlukan perawatan dan kontrol khusus secara berkala
3) Memerlukan tenaga untuk menjalankan alat. Misalnya listrik, bahan
bakar, dan lain-lain.
2. Absorbsi melalui tanaman
a. Kelebihan
1) Bernilai ekonomis
2) Perawatan lebih mudah. Jenis tanaman misalnya sirih Belanda
sangat mudah berkembang biak, bisa ditanam dengan media tanah
maupun air. Sedangkan bunga krisan dan pedang-pedangan dapat
tumbuh subur di tanah dalam pot yang banyak sinar matahari;
Tanaman daun jagung dapat tumbuh subur di tanah kering. Jenis
tanaman lain yang perawatannya mudah adalah palem bambu, sri
rejeki.
3) Dapat digunakan untuk penghias ruangan. Jenis tanaman sirih
Belanda selain cocok untuk tanaman meja, juga untuk pot besar
disudut ruangan maupun dibiarkan merambat dipotongan batang
pohon yang diletakkan dalam pot.
4) Fleksibel (dapat ditempatkan dimana pun), dapat diletakkan di
dalam rumah atau di dalam kantor.
b. Kekurangan
1) Musim dan umur tanaman mempengaruhi keefektifitasan tanaman.
Musim dan umur tanaman mempunyai pengaruh terhadap
kemampuan tanaman dalam menyerap polutan. Semakin tua umur
tanaman maka kemampuan fotosintesis tanaman tersebut juga
berkurang. Pada musim panas intensitas angin dan debu lebih
banyak, sedangkan tanaman memiliki batasan kemampuan
penyerapan.
2) Tidak semua tanaman bisa menyerap polutan. Selain itu jenis
polutan yang dapat diserap oleh tanaman yang teridentifikasi
mampu bersifat absorben juga terbatas.

17
H. Keefektifan Penyerapan Setempat
Penyerapan setempat bisa dicontohkan sebagai Ruang Terbuka Hijau
(RTH). Setiap kota sendiri harus memiliki 30% Ruang Terbuka Hijau (menurut
Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang). Sehingga bagi
kota yang belum memenuhi kriteria tersebut seyogianya melakukan
penambahan ruang terbuka hijau, dengan mempertimbangkan pemilihan jenis-
jenis tanaman yang mempunyai fungsi ganda, yaitu selain tanaman dapat
memberikan O2, juga dapat mereduksi CO.]

Setiap orang memerlukan 0,5 kg oksigen (O2) per hari (leaflet Dinas
Pertamanan dan Pemakaman Bandung). Sedangkan sebuah pohon pelindung
berguna untuk memenuhi kebutuhan oksigen untuk 2 orang (Ahda Imran, 2002).
Sehingga Ruang Terbuka Hijau sebagai penyerapan setempatmerupakan salah
satu solusi yang efektif untuk mengurangi pencemar udara yang dihasilkan baik
oleh kendaraan maupun industri.

18
BAB III
STUDI KASUS

Berikut ini merupakan permasalahan yang timbul atau contoh kasus dari
penyehatan udara melalui penyerapan setempat
A. Contoh kasus sumber pencemar buatan manusia
Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di Jakarta disebabkan
karena benda bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar
terutama berasal dari metromini. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat
berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan
manusia maupun terhadap lingkungan. Zat berbahaya tersebut seperti timbal, timah
hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx),
hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Badan WHO
PBB menyatakan bahwa pada tahun 1987 jumlah sulfur dioksida di udara yang
dihasilkan dari penggunaan bahan bakar dan pelumas telah mencapai ambang
batas yang ditetapkan oleh WHO dan tercatat bahwa dengan penggunaan
HFO(Heavy Fuel Oil), bahan bakar yang biasa digunakan di kapal,
menyumbangkan emisi NOx sebesar 20-30%.
Di Jakarta, sumber pencemaran udara yang utama adalah kendaraan bermotor
dan industri. Dalam hal ini, tehadap beban emisi total, kendaraan bermotor
menyumbang sekitar 71% pencemar oksida nitrogen (NOX), 15% pencemar oksida
sulfur (SOx), dan 70% pencemar partikulat (PM10). Tampaknya, emisi gas dan
kandungannya menjadi beban moral bagi pengguna transportasi dan industri
transportasi (BPLH DKI Jakarta, 2013).
Permasalahan seperti ini telah menjadi fenomena pembangunan. Walau
pembangunan transportasi yang ideal amat diharapkan oleh masyarakat, namun,
dari sudut pandang ekologi, dampak sosial transportasi dengan lingkungan telah
menimbulkan depresi terhadap masyarakat. Secara lebih tegas dapat dikatakan,
udara yang tercemar akibat transportasi telah menimbulkan tingkat stress pada
manusia yang mengalami gangguan tersebut.
Pada umumnya, dari berbagai sektor yang potensial dalam mencemari udara,
maka, sektor transportasi memegang peran yang sangat besar dibanding dengan
sektor yang lainnya. Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor
sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%, sementara, kontribusi gas buang
dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%, dan sisanya berasal dari
sumber pembakaran lain; misalnya rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran
hutan, dan lain-lain (BPLH DKI Jakarta, 2013).

19
Pengendalian
Upaya pengendalian pencemaran udara akibat kendaraan bermotor yang
mencakup upaya-upaya pengendalian baik langsung maupun tidak langsung, akan
dapat menurunkan tingkat emisi dari kendaraan bermotor secara efektif antara lain
(Sudrajad, 2006):
1. Mengurangi jumlah mobil lalu lalang. Misalnya dengan jalan kaki, naik sepeda,
kendaraan umum, atau naik satu kendaraan pribadi bersama teman-teman (car
pooling).
2. Selalu merawat mobil dengan saksama agar tidak boros bahan bakar dan
asapnya tidak mengotori udara.
3. Meminimalkan pemakaian AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi.
4. Memilih bensin yang bebas timbal (unleaded fuel).
B. Contoh kasus sumber pencemar alami yang ada di Indonesia
Letusan Gunung Merapi. Gunung Merapi yang terletak di bagian tengah Pulau
Jawa merupakan salah satu gunung teraktif di Indonesia. Gunung ini memiliki siklus
erupsi yang cukup singkat yaitu dua sampai lima tahun sekali sehingga dalam
jangka waktu tersebut gunung ini akan meletus. Puncak erupsi merapi di tahun
2010 terjadi pada awal November tepatnya tanggal 5 November 2010. Letusan
gunung berapi mengeluarkan material vulkanik berupa lava (cairan magma dengan
suhu tinggi), lahar (lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material
lain), abu letusan, awan panas, dan gas vulkanik. Gas vulkanik ini diantaranya
terdiri dari karbon monoksida, karbon dioksida, sulfur dioksida, hidrogen sulfida, dan
nitrogen dioksida. Gas-gas vulkanik yang menimbulkan potensi bahaya besar untuk
manusia, pertanian, dan material adalah belerang dioksida, karbon dioksida, dan
hidrogen flourida.
Pengendalian
Mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer, berdasarkan siklus CO2 dan O2,
maka diperlukan pelaksanaan pengelolaan hutan konservasi, penghijauan, gerakan
menanam pohon belakang rumah dan memperbanyak taman kota.

20
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

- Penyehatan udara melalui sumber dengan metode penyerapan setempat:


Kegiatan atau usaha untuk mengurangi jumlah polutan diudara dengan
menggunakan penyerapan di satu tempat dan sumber pencemarnya yang
bergerak.
- Sumber pencemar udara: Pencemaran akibat sumber alamiah, seperti letusan
gunung berapi; pencemaran akibat kegiatan manusia, seperti yang berasal dari
transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain.
- Pencemar udara utama di Indonesia khususnya transportasi dan industri:
 Karbon Monoksida (CO) 70,50%.Dampak: Pada konsentrasi tinggi dapat
menyebabkan kematian sedangkan dalam konsentrasi rendah (10-15
ppm) dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan
jumlah kematian bayi serta kerusakan otak.
 Oksida Sulfur (SOx) 0,9%. Dampak: Menjadi penyebab terbentuknya SOx
emisi, dan jika bereaksi di atmosfer akan membentuk zat asam
 Nitrogen Oksida (NOx) 8,9%. Dampak: Membentuk partikel-partikel nitrat
halus yang dapat menembus bagian terdalam paru-paru setelah bereaksi
dengan atmosfer, dapat membentuk ozon rendah atau smog kabut
berawan coklat kemerahan
 Hidrokarbon (HC) 18,34%. Dampak: Apabila HC berupa cairan, HC akan
membentuk kabut minyak (droplet) yang akan sangat mengganggu
lingkungan. Apabila HC berupa padatan, maka udara akan tampak
seperti asap hitam
- Media yang dapat digunakan untuk menyerap zat-zat pencemar:
 Absorbsi melalui benda mati: menara Isi, menara semprot, penyerapan
dengan tarikan cairan, penyemprot siklon, absorbsi mekanis, absorbsi
oleh benda padat
 Absorbsi melalui benda hidup: tanaman
- Kelebihan penyerapan setempat: Keadaan musim tidak mempengaruhi kerja alat
penyerapan (absorbsi melalui benda mati); bernilai ekonomis, perawatan lebih
mudah, dapat digunakan untuk penghias ruangan, fleksibel (absorbsi melalui
tanaman).

21
- Kekuranganpenyerapan setempat: Membutuhkan biaya mahal, memerlukan
perawatan dan kontrol khusus secara berkala, memerlukan tenaga untuk
menjalankan alat (absorbsi melalui benda mati); musim dan umur tanaman
mempengaruhi keefektifitasan tanaman (absorbsi melalui tanaman).
- Keefektifan penyerapan setempat: Setiap orang memerlukan 0,5 kg oksigen (O2)
per hari sedangkan sebuah pohon pelindung berguna untuk memenuhi
kebutuhan oksigen untuk 2 orang.Sehingga Ruang Terbuka Hijau sebagai
penyerapan setempat merupakan salah satu solusi yang efektif untuk
mengurangi pencemar udara yang dihasilkan baik oleh kendaraan maupun
industri.

Saran

1. Selalu merawat mobil dengan saksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya
tidak mengotori udara
2. Meminimalkan pemakaian AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi
3. Mencanangkan gerakan menanam pohon dan memperbanyak taman kota
4. Pengendalian zat pencemar dari sumber bisa dilakukan dengan cara penyerapan
melalui cerobong asap (pada pabrik) atau knalpot (pada kendaraan bermotor) yang
dilengkapi dengan filter
5. Pengendalian terhadap lingkungan di udara bisa dilakukan salah satunya dengan
cara menyediakan ruang terbuka hijau dengan mempertimbangkan pemilihan jenis-
jenis tanaman yang mempunyai fungsi ganda, yaitu selain tanaman dapat
memberikan O2, juga dapat mereduksi CO. Serta tanaman yang dapat mereduksi
zat-zat pencemar lain sesuai dengan fungsinya
6. Dampak terhadap populasi dapat ditindaklajuti dengan cara penggunaan APD
seperti masker untuk menghindari polusi udara bagi pengendara, dan pekerja
pabrik yang beresiko terkena pencemaran dari pabrik (misal, pencemaran debu
silika). Apabila pecemaran telah berdampak besar bagi populasi, maka perlu dicari
sumber penyebab utama dan mengevaluasi sumber tersebut kemudian kerusakan/
kekurangan pada alat (misal cerobong asap) berfilter dapat diperbaiki

22
DAFTAR PUSTAKA

Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Air dan Udara. Bogor: Penerbit kasinus
Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik (JMTransLog) - Vol. 01 No. 03, November
2014
Krisantini. 2008. Galeri Tanaman Hias Daun. Depok Jakarta : Penebar Swadaya
Kristanto, Philip. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta : Penerbit ANDI Yogyakarta
Nasrullah, N., Heny, S., Soertini, G., Marietje W., dan Andi, G. 2000. Penggunaan Gas
15
NO2 berlabel N dalam Mengukur Absorbsi Polutan NO2 oleh Tanaman.Jakarta : Badan

Tenaga Atom Nasional, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi.


Pelczar, Michael J.1988.Dasar-dasar Mikrobiologi.Jakarta:Universitas Indonesia
Pudjiastuti, Lily, dkk. 1998. Kualitas Udara dalam Ruang. Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Salisbury,Frank B,dkk.1992.Fisiologi tumbuhan JILID 2. Bandung: ITB
Santoso,S.N. (tt). Penggunaan Tumbuhan Sebagai Pereduksi Pecemaran Udara
jurnal.Jurusan Teknik Lingkungan FTSP ITS
Sugiarti. 2009. Gas Pencemar Udara dan Pengaruhnya bagi Kesehatan Manusia. Jurnal
Chemica. Vol 10, 50-58

23
Nama Anggota Kelompok :

Evi Nurdiana P27833314003


Fadlillah Fauziah Rahmah P27833314006
Yuliana Sarasati P27833314009
Wahyuningtyas P27833314014
Herlina Widyastuti P27833314015
Randi Aditya Pambudi P27833314020
Yayang Hidayatul F.N. P27833314021
Masfufah Anggraini P27833314026
Ade Darmawan Ananta P27833314030
Nidia Nuraini P27833314031
Iqbal Abdi Gustiawan P27833314032
Dina Rakhmawati P27833314034
Dwi Shinta Nurefendi P27833314039
Anggit Premeitya P27833314041

24
Daftar Isi

Daftar Isi ..............................................................................................................


Abstrak ................................................................................................................. 1
Bab I Pendahuluan
Latar Belakang ...................................................................................................... 2
Tujuan ................................................................................................................... 3
Manfaat Penulisan ................................................................................................. 3
Bab II Tinjauan Pustaka
Pengertian Penyehatan Udara dari Sumber Melalui Penyerapan Setempat .......... 4
Macam Sumber dan Zat Pencemar Udara............................................................. 4
Media/zat yang Dapat Digunakan Sebagai Penyerapan Setempat ........................ 5
Mekanisme Penyerapan ........................................................................................ 10
Dampak yang Ditimbulkan Jika Tidak Ada Penyerapan Setempat ......................... 11
Faktor-faktor yang Dapat Mempengaruhi Penyerapan Setempat .......................... 16
Kelebihan dan Kekurangan Penyerapan Setempat ............................................... 17
Keefektifan Penyerapan Setempat ........................................................................ 18
Bab III Studi Kasus .............................................................................................. 19
Contoh Kasus Sumber Pencemar Buatan Manusia ............................................... 19
Contoh Kasus Sumber Pencemar Alami yang Ada di Indonesia ............................ 20
BAB IV Penutup
Kesimpulan............................................................................................................ 21
Saran..................................................................................................................... 22
Daftar Pustaka .................................................................................................... 23

25
MATERI PENYEHATAN UDARA
Pertemuan Minggu ke - IV
“Penyehatan Udara dari Sumber Melalui Penyerapan Setempat”

Dosen Pembimbing :
S. Bambang Eko W, SKM, M.Kes

Oleh:
Kelompok A
(D IV – Semester 5)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PROGRAM STUDI D-IV KESEHATAN LINGKUNGAN
TAHUN 2016

26