Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM METABOLISME

“UJI LEMAK”

Disusun oleh :
1. Novi Setiorini 14030654009
2. Ni’matur Rohmah 14030654013
3. Nanda Putri Ramadhany 14030654029
4. Merry Dwi Prastiwi 14030654042

PENDIDIKAN IPA A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2016

0
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak asing lagi dengan istilah
lemak. Jika menyebut lemak terkadang kita membayangkan minyak
seperti minyak goreng misalnya, minyak goreng merupakan beberapa jenis
dari minyak nabati yang berasal dari kelapa sawit. Ada beberapa macam
jenis lemak dalam kehidupan kita. Lemak atau lipid adalah senyawa yang
tersusun oleh rantai hidrokarbon yang panjang dan memiliki sifat sukar
larut dalam air. Lemak yang utama dalam tubuh adalah trigliserida,
kolesterol, phospholipid, dan glikolipid. Trigliserida sering disebut lemak
atau minyak. Disebut lemak jika pada suhu kamar berwujud padat.
Sebaliknya, disebut minyak jika pada suhu kamar berwujud cair. Lemak
mempunyai peran penting dalam tubuh yaitu, berperan utama sebagai
bahan bakar dan komponen penting dalam membrane sel dan struktur sel
serta membuat stabilitas membran sel dalam bentuk lipoprotein. Asam
lemak dan gliserol adalah unsur utama dalam trigliserid dan phospholipid.
Asam lemak penyusun lipid ada dua macam, yaitu asam lemak jenuh dan
asam lemak tidak jenuh. Selain dapat sebagai sumber energi bagi tubuh,
lemak yang tertimbun berlebih juga dapat mengganggu fungsi kerja organ
tubuh. Didalam praktikum ini kita akan melakukan uji kualitatif lipid
untuk mengidentifikasi derajad ketidakjenuhan lemak dalam minyak
kelapa dan mengidentifkasi adanya kolesterol.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dibuat suatu pertanyaan
pengamatan sebagai berikut :
1. Bagaimana cara mengidentifikasi derajad ketidakjenuhan lemak dalam
minyak kelapa melalui penentuan bilangan iod?
2. Bagaimana cara mengidentifikasi adanya kolesterol melalui percobaan
liebermann-Buchard dan percobaan Salkowski?

C. Tujuan
Berdasarkan pertanyaan pengamatan, maka tujuan dari praktikum ini
adalah sebagai berikut :

1
1. Dapat mengidentifikasi derajad ketidakjenuhan lemak dalam minyak
kelapa melalui penentuan bilangan iod.
2. Dapat mengidentifikasi adanya kolesterol melalui percobaan
liebermann-Buchard dan percobaan Salkowski.

D. Hipotesis
1. Jika dalam minyak kelapa terdapat ikatan tak jenuh maka setelah
penambahan larutan iodium menyebabkan hilangnya warna larutan
iod.
2. Jika hasil uji kolesterol positif maka menghasilkan warna hijau tua
setelah perlakuan.

BAB II

DASAR TEORI

Lipid merupakan senyawa yang tersusun oleh rantai hidrokarbon yang


panjang sehingga tidak larut dalam air. Secara umum dibagi menjadi golongan
lipid sederhana dan lipid kompleks. Lipid sederhana adalah senyawa yang tidak
mempunyai gugus ester dan tidak dapat dihidrolisis, meliputi steroid. Glolongan
lipid kompleks tersusun oleh senyawa-senyawa yang mempunyai gugus ester dan
dapat dihidrolisis, meliputi minyak, lemak dan lilin.

2
Lipid atau lemak merupakan 15% dari tubuh. Senyawa ini terutama
terdiri atas hidrokarbon dan mempunyai afinitas yang kecil saja dengan air.
Beraneka ragam molekul termasuk dalam kelompok lipid ini. Yang paling
sederhana diantaranya adalah asam-asam lemak Sebagian besar asam lemak
adalah senyawa dengan rantai lurus yang mengandung atom C dalam jumlah
genap. Asam lemak seluruhnya dibentuk oleh hidrokarbon, kecuali gugus asam
yang berkutub atau polar pada salah satu ujungnya. Oleh karena salah satu ujung
molekulnya bersifat polardan yang lain tidak, maka dikatakan bahwa asam lemak
bersifat amfipatik.Asam-asam lemak yang merupakan bahan penyusun lemak
dapat dilihat pada tabel berikut:

Rumus Nama Trivial Nama IUPAC


C11H23COOH Asam Laurat Asam Dodekanoat
C17H31COOH Asam Linoleat Asam 9,12-oktadekanoat
C17H29COOH Asam Linolenat Asam 9,12,15-oktadekanoat
C13H27COOH Asam Miristat Asam Tetradekanoat
C17H33COOH Asam Oleat Asam 9-oktadekanoat
C15H31COOH Asam Palmitat Asam Heksadekanoat
C17H35COOH Asam Stearat Asam oktadekanoat

Lemak atau minyak nabati atau hewan merupakan contoh dari gliserol dan
lemak jenuh atau minyak yang dapat dihidrolisis oleh larutan alkali menjadi
garam dari asam lemak yang sehari-hari kita kenal sebagai sabun. Reaksi
hidrolisis ini disebut penyabunan. Ester dapat dibuat dengan cara mereaksikan
asam karbosilat dengan alkohol yang dapat dikatalisis oleh asam mineral,
misalnya asam sulfat atau asam klorida. Reaksi yang terjadi merupakan suatu
keseimbangan. Apabila digunakan asam dalam jumlah yang sama, pada keadaan
seimbang akan diperoleh 67 % ester. Hasil ini ditingkat dengan menggunakan
pereaksi berlebihan atau dengan mengeluarkan air dari campuran.
Lemak netral tergolong senyawa-senyawa majemuk dan ikatannya
menyerupai ester. Asamnya terdiri atas asam-asam monokarbosilat yang tidak
bercabang, yaitu asam lemak sedangkan komponen alkoholnya gliserin
merupakan suatu alkohol. Banyaknya asam karbosilat yang diikatkan pada
gliserin menghasilkan mono dan trigiserida.

3
Berdasarkan fungsi dan strukturnya lipid dibagi menjadi 3 macam,
yaitu:
1. Trigliserida (asam lemak)
Berfungsi sebagai sumber energi yang tersusun atas ester gliserol dari
asam lemak (asam karboksliat suku tinggi). Trigliserida disebut juga lemak
yang terdiri atas 2 jenis. Yaitu lemak yang tersusun atas asam lemak yang
jenuh dan minyak yang tersusun atas asam lemak tak jenuh. Lemak
berbentuk padat sedangkan minyak berwujud cair. Rumus umumnya
adalah:
O

H C-O-C-R
2
O

HC-O-C-R'
O

H C-O-C-R
2

Dimana R, R’ dan R” dapat merupakan gugus yang sejenis atau berbeda,


misalnya C17H33 atau C17H35 dan yang lainnya.
Reaksi antara lemak dan basa akan menghasilkan gliserol dan sabun yang
dikenal dengan reaksi penyabunan (saponifikasi).
2. Fospolipid
Fospolipid merupakan komponen utama pembentuk membran sel dan
merupakan senyawa yang polar. Fospolipid merupakan ester dari gliserol
yang mengandung ester asam posfat dengan rumus umum :
O

H C-O-C-R
2
O

HC-O-C-R'
O

H C-O-P-O-R"
2

OH

Dimana Gugus R” adalah kolin (disebut fosfatidilkolin), etanolamin


(fosfatidil etanolamin), serin (fosfatidil serin), dan inositol (fosfatidil
inositol). Membran sel yang tersusun atas fospolipida merupakan senyawa
polar dimana bagian luar adalah hidrofil sedangkan bagian dalam adalah
hidrofob.

4
3. Steroid
Steroid merupakan lipid yang berperan dalam proses-proses biologis
dalam organisme hidup. Misalnya kolesterol, asam-asam empedu,
testoteron dan lain-lain.
Strukturnya adalah:
R
CH 3

CH 3

Steroid tidak mengandung komponen asam lemak ataupun gliserol dan


tidak dapat mengalami penyabunan.
Gliserol merupakan suatu trihidroksi alkohol yang terdiri atas 3 atom
karbon. Jadi tiap atom karbon mempunyai gugus –OH. Gliserol dapat diperoleh
dengan jalan penguapan hati-hati kemudian dimurnikan dengan destilasi pada
tekanan rendah.
Gliserol yang diperoleh dari hasil penyabunan lemak atau minyak adalah
suatu zat cair yang tidak berwarna dan mempunyai rasa yang agak manis. Steroid
merupakan lipid yang banyak dialam. Pada umumnya senyawa ini ditemukan
dalam bentuk sterol bebas, sterol berikatan dengan glikosida atau sterol yang
berbentuk ester. Dari kelompok sterol, kolesterol merupakan salah satu yang
paling melimpah. Kolesterol adalah salah satu jenis lemak yang di buat di hati dan
ditemukan pada makanan hewani. Kolesterol adalah salah satu sterol yang penting
dan terdapat banyak di alam. Dari rumus kolesterol dapat dilihat bahwa gugus
hidroksil yang terdapat pada atom nomor 3 mempunyai posisi beta oleh karena
dihubungkan dengan garis penuh.
Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol (bahasa Inggris:
waxy steroid) yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma
darah. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang
menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids
ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Struktur ini terdiri atas 4 cincin
atom karbon. Berikut struktur dari kolesterol :

5
Gambar 1.Struktur dasar dari kolesterol

Kolesterol diperlukan oleh fungsi tubuh yang penting seperti :


(a) Membangun dinding sel
(b) Melindungai jaringan saraf
(c) Membuat hormon
(d)Ada dua tipe kolesterol.
(e) Yang baik. (HDL atau High Density Lipid)
(f) Yang jahat dan jelek (LDL or Low Density Lipid.)
Kolesterol dapat larut dalam pelarut lemak, misalnya eter, kloroform,
benzena dan alkohol panas. Apabila terdapat dalam konsetrasi tinggi, kolesterol
mengkristal dalam bentuk kristal yang tidak berwarna, tidak berasa dan tidak
berbau dan mempunyai titik lebur 150-151oC.
Hanya kolestrol yang termasuk kategori LDL (Low Density Lipoprotein)
saja yang berakibat buruk sedangkan jenis kolestrol HDL (High Density
Lipoprotein) merupakan kolestrol yang dapat melarutkan kolestrol jahat dalam
tubuh. Batas normal kolesterol dalam tubuh adalah 160-200 mg. Kadar kolesterol
yang tinggi dapat diturunkan dengan simvastatin.
Endapan kolesterol apabila terdapat dalam pembuluh darah dapat
menyebabkan penyempitan pembuluh darah karena dinding pembuluh darah
menjadi makin tebal. Hal ini mengakibatkan juga berkurangnya elastisitas atau
kelenturan pembuluh darah. Dengan penyempitan pembuluh darah dan
berkurangnya kelenturan pembuluh darah, maka aliran darah terganggu dan untuk
mengatasi gangguan ini jantung harus memompa darah lebih keras. Hal ini berarti
jantung harus bekerja lebih keras daripada biasanya.
Adanya kolesterol dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa reaksi
warna. Salah satu diantaranya adalah reaksi Salkowski. Apabila kolesterol
dilarutkan dalam kloroform dan larutan ini dituangkan di atas larutan asam sulfat
pekat dengan hati-hati maka bagian asam berwarna kekuningan dengan

6
flouresensi hijau bila dikenai cahaya. Bagian kloroform akan berwarna biru dan
yang berubah menjadi merah dan ungu. Larutan kolesterol dalam kloroform bila
ditambahan anhidrida asam asetat dan asam sulfat pekat, maka larutan tersebut
mula-mula akan berwarna merah, kemudian biru dan hijau. Ini disebut reaksi
Lieberman Burchard. Warna hijau yang terjadi ini ternyata sebanding dengan
konsentrasi kolesterol. Karenanya reaksi Lieberman Burchard dapat digunakan
untuk menentukan kolesterol secara kuantitatif. Dalam darah manusia normal
terdapat antara 150-200 miligram tiap 100 mL darah.

Bilangan Iodium (BI)

Bilangan iodium mencerminkan ketidakjenuhan asam lemak penyusun


minyak dan lemak. Asam lemak tak jenuh mampu mengikat iod dan membentuk
senyawaan yang jenuh. Banyaknya iod yang diikat menunjukkan banyaknya
ikatan rangkap. Lemak yang tidak jenuh dengan mudah dapat bersatu dengan
iodium (dua atom iodium ditambahkan pada setiap ikatan rangkap dalam lemak).
Semakin banyak iodium yang digunakan semakin tinggi derajat ketidakjenuhan.
Biasanya semakin tinggi titik cair semakin rendah kadar asam lemak tidak jenuh
dan demikian pula derajat ketidakjenuhan (bilangan iodium) dari lemak
bersangkutan. Asam lemak jenuh biasanya padat dan asam lemak tidak jenuh
adalah cair; karenanya semakin tinggi bilangan iodium semakin tidak jenuh dan
semakin lunak lemak tersebut. Bilangan iodium dinyatakan sebagai banyaknya
gram iod yang diikat oleh 100 gram minyak atau lemak. Penentuan bilangan
iodium dapat dilakukan dengan cara Hanus atau cara Kaufmaun dan cara Von
Hubl atau cara Wijs (Sudarmadji dkk, 1997). Pada cara Hanus, larutan iod
standarnya dibuat dalam asam asetat pekat (glasial) yang berisi bukan saja iod
tetapi juga iodium bromida. Adanya iodium bromida dapat mempercepat reaksi.
Sedang cara Wijs menggunakan larutan iod dalam asam asetat pekat, tetapi
mengandung iodium klorida sebagai pemicu reaksi.

Suatu larutan dari ion iodida (I─) adalah berwarna kuning/coklat. Namun,
ketika ditambahkan pada suatu larutan kompleks, maka gugus kimia (biasanya
ikatan rangkap C=C) dalam larutan yang bereaksi dengan iodium secara efektif
mengurangi kekuatannya, atau kekuatan warnanya (dengan mengambil ion-ion

7
iodida keluar dari larutan). Dengan demikian jumlah iodium yang diperlukan
untuk membuat suatu larutan mempertahankan karakteristik warna kuning/coklat
yang dapat digunakan dengan efektif untuk menentukan jumlah gugus sensitif
iodium yang ada di dalam larutan.

Dalam satu prosedur khusus, asam lemak yang diperlakukan dengan


larutan Hanus atau Wijs berlebih, yang, masing-masing merupakan larutan iodium
monobromida (IBr) dan iodium monoklorida (ICl) dalam asam asetat glasial.
Iodium monobromida (atau monoklorida) yang tidak bereaksi kemudian bereaksi
dengan kalium iodida, yang
mengubahnya menjadi
iodium, yang konsentrasinya
dapat ditentukan melalui
titrasi dengan natrium
tiosulfat.

Reaksi kimia ini


dikaitkan dengan metoda
analisis ini yang meliputi
pembentukan diiodo alkena
(R dan R’ merupakan simbol
dari alkil atau gugus organik
lain) :

R-CH=CH-R′ + I2 → R-
CHI-CHI-Rn′

Prekursor alkena
(RCH=CHR’) tidak berwarna
dan karena itu merupakan
Tabel Bilangan Iod
produk organoiodium (RCHI-
CHIR’). Kolesterol
merupakan salah satu lipid
pembentuk membran sel. Dari
hasil pembuktian kimia dan dari hasil pengamatan dengan menggunakan

8
mikroskop elektron serta dari hasil analisis persamaan dalam sifat-sifat lapisan
ganda dari fosfolipid sintetik serta sifat-sifat membran alami. Bagian matriks atau
bagian yang berkesinambungan dari struktur membran adalah lapisan ganda lipida
polar. Lapisan ini bersifat fluida karena ekor hidrofobik dari kandungan lipid
polarnya.

Kolesterol merupakan penyusun lipid membran (25%) sehingga kolesterol


juga bersifat fluida dari kolesterol adanya ekor. Hidrofobik menyebabkan adanya
pergerakan akibat perbedaan kepolaran dengan larutan dan juga adanya
peningkatan suhu.

Lipid selain dapat mengalami hidrolisis juga dapat mengalami oksidasi.


Oksidasi ini dimulai dengan pembentukkan radikal bebas karena adanya faktor
yang mempercepat reaksi misalnya panas, cahaya, peroksida lemak atau
hidroperoksida, logam berat (seperti Fe, Co, Cu) serta logam pengering.
Umumnya reaksi oksidasi lipid terjadi melalui tahap-tahap sebagai berikut :

1. Inisiasi.

Pada reaksi Inisiasi molekul dan asam lemak tidak jenuh melepaskan 1 atom H
dengan adanya cahaya atau Oksigen dan membentuk radikal bebas.

2. Propagasi.

Pada keadaan ini terbentuk radikal bebas peroksida dan hidroperoksida serta
radikal baru.

3. Terminasi.

Pada tingkat Terminasi ini hidroperoksida terurai menjadi senyawa karbonil asam,
alcohol dan sebagainya

Uji identifikasi lipid

Banyak uji identifikasi lipid yang dapat dilakukan seperti uji kelarutan
lipid, uji akrolein, uji Lieberman-Burchard, uji ketengikan, uji Salkowski untuk
kolesterol, uji bilangan iod, uji penyabunan, dan lain-lain. Pada praktikum ini

9
hanya dilakukan uji ketidakjenuhan lemak dengan bilangan iod, uji Salkowski dan
uji Lieberman-Burchard.

- Uji Ketidakjenuhan

Uji ketidakjenuhan dengan penentuan bilangan iod merupakan uji untuk


menentukan derajad ketidakjenuhan lemak. Besarnya angka iod
menunjukkan derajat ketidakjenuhan asam lemak. Makin tidak jenuh asam
lemaknya, makin besar angka iodnya. Pada uji ketidakjenuhan bahan yang
jenuh memberikan perubahan warna menjadi merah muda sedangkan yang
tidak jenuh ketika penambahan larutan iodium terjadi reaksi adisi yang
menyebabkan hilangnya warna larutan iod.

- Uji Salkowski

Uji Salkowski merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk


mengidentifikasi keberadaan kolesterol. Warna yang mula-mula timbul
adalah biru menjadi merah di bagian kloroform sedangkan dibagian asam
berwarna kuning dengan fluorosensi hijau bila dilihat melalui sinar
refleksi (bintang 2010).

- Uji Lieberman-Burchard
Uji Lieberman Buchard merupakan uji kuantitatif untuk kolesterol. Prinsip
uji ini adalah mengidentifikasi adanya kolesterol dengan penambahan
asam sulfat ke dalam campuran. Sebanyak 2-3 tetes asam asetat dilarutkan
ke dalam larutan kolesterol dan kloroform. Setelah itu, asam sulfat pekat
ditambahkan. Tabung dikocok perlahan dan dibiarkan beberapa menit.
Mekanisme yang terjadi dalam uji ini adalah ketika asam sulfat
ditambahkan ke dalam campuran yang berisi kolesterol, maka molekul air
berpindah dari gugus C3 kolesterol, kolesterol kemudian teroksidasi
membentuk 3,5-kolestadiena. Produk ini dikonversi menjadi polimer yang
mengandung kromofor yang menghasilkan warna hijau. Warna hijau ini
menandakan hasil yang positif. Reaksi positif uji ini ditandai dengan
adanya perubahan warna dari terbentuknya warna pink kemudian menjadi
biru-ungu dan akhirnya menjadi hijau tua. (Puspita, 2013).

10
BAB III

METODE PERCOBAAN

A. Alat dan Bahan


Alat dan bahan yan digunakan dalam percobaan ini adalah :
Alat :
1. Tabung reaksi 3 buah
2. Rak tabung reaksi 6 buah
3. Pipet tetes 1 buah
4. Gelas ukur 10 mL 1 buah

Bahan :
1. Minyak kelapa 3 ml
2. Air-brom secukupnya
3. Kloroform 5 ml
4. Larutan kolesterol 0,5% 3 ml
5. Anhidrida asam asetat 10 ml
6. H2SO4 pekat 5 ml

B. Rancangan Percobaan
Percobaan 1 Bilangan Iod Lemak

Tabung reaksi diisi oleh


kloroform, minyak kelapa, dan Dikocok hingga warna air brom hilang
air brom.

11
Percobaan 2 Liebermann-Burchard

Larutan kolesterol 0,5% + 10 tetes anhidrida Dikocok dengan hati-hati


asam asetat dan
Percobaan 3 tetes H2SO4 pekat
3 Salkowski

Kloroform + 2 ml larutan kolesterol 0,5% + Dikocok dengan hati-hati


C. H 2SO4 pekat
Langkah dengan volume yang sama.
Percobaan
1. Percobaan 1 Bilangan Iod Lemak
Langkah percobaan pertama adalah menyiapkan alat dan
bahan yang dibutuhkan. Memasukkan 1 atau 2 tetes minyak kelapa
dalam 2 sampai 3 cc kloroform ditambah air brom. Menunggu
hingga terdapat 2 bagian cairan. Mengocok hingga warna air brom
hilang. Penambahan air brom tetap dilanjutkan sehingga warna
tidak berubah dan menghasilkan reaksi adisi.

2. Percobaan 2 Liebermann-Burchard
Langkah pertama adalah menyiapkan alat dan bahan yang
dibutuhkan. Selanjutnya mengambil 1 ml kolesterol 0,5% dan
dimasukkan kedalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 10 tetes
anhidrida asam setat dan 2-3 tetes H2SO4 pekat. Kemudian dikocok
dengan hati-hati. Setelah itu diamati perubahan warna yang terjadi
dan adanya endapan.
3. Percobaan 3 Salkowski
Langkah pertama adalah menyiapkan alat dan bahan yang
dibutuhkan. Selanjutnya mengambil kloroform dan dimasukkan

12
kedalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 1 ml kolesterol 0,5% dan
H2SO4 pekat dengan volume yang sama. Kemudian dikocok
dengan hati-hati. Setelah itu diamati perubahan warna yang terjadi
dan 2 lapisan cairan tersebut yang terpisah. Pengamatan dilakukan
dalam perubahan warna pada lapisan kloroform dan lapisan asam
sulfat.

D. Alur
1) Penentuan bilangan iod dari lemak

Tabung reaksi

ditambahkan 2-3 ml kloroform

ditambahkan 1-2 tetes minyak kelapa

ditambahkan air-brom hingga terdapat 2 bagian cairan

2 bagian cairan

dikocok hingga warna air-brom hilang

ditambahkan air-brom hingga warna tidak berubah

dihitung banyaknya iod yang diserap oleh minyak kelapa

Derajat ketidakjenuhan lipid

2) Percobaan Liebermann-Burchard

Tabung reaksi

ditambahkan 1 ml larutan kolesterol 0,5%


ditambahkan 10 tetes anhidrida asam asetat dan 2-3 tetes H2SO4
pekat
dikocok dengan hati-hati

Perubahan warna

diamati perubahan warna yang terjadi


3)
Percobaan Salkowski

13
Tabung reaksi

ditambahkan kloroform
ditambahkan 2 ml larutan kolesterol 0,5%
ditambahkan H2SO4 pekat dengan volume yang sama

dikocok dengan hati-hati


2 lapisan cairan terpisah

diamati perubahan warna dalam lapisan kloroform dan lapisan


asam sulfat

BAB IV

DATA DAN ANALISIS

A. Data
Dari hasil praktikum diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 4.1 Data hasil percobaan Bilangan Iod dari Lemak

No. Larutan Sampel Sebelum Sesudah


1. 2 ml kloroform + 1 Terdapat 2 lapisan, Terdapat 2 lapisan, bagian
tetes minyak kelapa bagian atas berwarna atas jernih dan bagian
+ air brom hingga jingga bagian bawah bawah lebih keruh.
terdapat 2 bagian jernih Larutan atas lebih encer
cairan (10 tetes) daripada larutan bawah

14
Tabel 4.2 Data hasil percobaan Liebermann-Burchad

No. Larutan Sampel Sebelum Sesudah


1. 1 ml larutan kolesterol Larutan tidak berwarna Larutan berubah warna
0,5% + 10 tetes (jernih) menjadi hijau. Sebelum
anhidrida asam asetat + menjadi hijau, larutan
3 tetes H2SO4 pekat sempat berwarna biru

Tabel 4.3 Data hasil percobaan Salkowski

No. Larutan Sampel Sebelum Sesudah


1. 2 ml larutan Larutan berwarna Larutan berangsur-angsur berubah
kolesterol 0,5% kuning pada bagian warna menjadi merah keunguan
dalam kloroform atas dan bagian pada bagian atas dan bagian
+ 2 ml H2SO4 bawah jernih bawah berwarna jernih. Bagian
pekat tengah terdapat fluorosensi hijau
ketika disinari.

15
B. Analisis

Berdasarkan praktikum uji lemak yang sudah dilakukan diperoleh hasil


pada tabel 4.1 yaitu Bilangan Iod dari Lemak. Larutan sampel yang dipakai
yaitu 2 ml kloroform + 1 tetes minyak kelapa + air brom hingga terdapat 2
bagian cairan (10 tetes). Sebelum bereaksi pada larutan terdapat 2 lapisan,
bagian atas berwarna jingga bagian bawah jernih. Setelah dikocok, pada
larutan terdapat 2 lapisan, bagian atas jernih dan bagian bawah lebih keruh.
Larutan atas lebih encer daripada larutan bawah.

Berdasarkan pada tabel 4.2 percobaan Liebermann-Burchad dengan


larutan sampel 1 ml larutan kolesterol 0,5% + 10 tetes anhidrida asam asetat +
3 tetes H2SO4 pekat diperoleh hasil sebelum reaksi yaitu larutan tidak
berwarna (jernih). Setelah bereaksi larutan berubah warna menjadi hijau.
Namun, sebelum menjadi hijau larutan sempat berwarna biru.

Berdasarkan pada tabel 4.3 percobaan Salkowski dengan larutan sampel 2


ml larutan kolesterol 0,5% dalam kloroform + 2 ml H 2SO4 pekat diperoleh
hasil sebelum reaksi yaitu larutan berwarna kuning pada bagian atas dan
bagian bawah jernih. Setelah bereaksi larutan berangsur-angsur berubah
warna menjadi merah keunguan pada bagian atas dan bagian bawah berwarna
jernih. Pada bagian tengah larutan terdapat fluorosensi hijau ketika disinari.

C. Diskusi

Percobaan Bilangan Iod dari Lemak dilakukan untuk menyatakan adanya


ikatan tak jenuh dalam suatu lemak. Reaksi yang terjadi pada percobaan ini
adalah reaksi adisi oleh iodium. Iodium akan memutus ikatan rangkap yang
terdapat molekul zat, kemudian iodium tersebut akan menggantikan posisi
dari ikatan rangkap tersebut melalui reaksi adisi sehingga jumlah ikatan
rangkap dalam molekul zat akan berkurang atau menjadi tidak ada sama
sekali (jika teradisi semuanya oleh iodium). Dengan adanya reaksi ini, maka
warna larutan iodium akan hilang. Minyak mengandung triasil gliserol
dengan 80-85 % asam lemak jenuh. Asam lemak utama yang terdapat dalam

16
minyak adalah asam laurat dan asam miristat (merupakan asam lemak dengan
bobot molekul rendah dan memiliki bilangan penyabunan yang tinggi). Selain
itu, minyak kelapa juga mengandung asam kaprilat, asam kaprat, dan asam
oleat.

Dari hasil uji lemak pada percobaan Bilangan Iod dari Lemak yaitu
menggunakan larutan sampel 2 ml kloroform + 1 tetes minyak kelapa + air
brom hingga terdapat 2 bagian cairan (10 tetes). Setelah dikocok, pada larutan
terdapat 2 lapisan, bagian atas jernih dan bagian bawah lebih keruh. Larutan
atas lebih encer daripada larutan bawah. Sesuai dengan teori yang ada hal ini
mengindikasikan bahwa dalam minyak kelapa terdapat ikatan tak jenuh
(ikatan rangkap) karena dengan penambahan larutan iodium, terjadi reaksi
adisi yang menyebabkan hilangnya warna larutan iod. Sedangkan warna
larutan yang didapatkan menunjukkan ikatan tak jenuh yang terdapat dalam
minyak kelapa tinggi. Bilangan iod minyak kelapa antara 7-10.

Sedangkan pada percobaan kedua yaitu Uji Liebermann-Buchard


merupakan uji kuantitatif untuk kolesterol. Pereaksi Liebermann-Burchard
merupakan campuran antara asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat.
Prinsip uji ini adalah mengidentifikasi adanya kolesterol dengan penambahan
asam sulfat ke dalam campuran, asam asetat dilarutkan ke dalam larutan
kolesterol dan kloroform. Alasan digunakannya asam asetat anhidrat adalah
untuk membentuk turunan asetil dari steroid yang akan membentuk turunan
asetil didalam kloroform. Penambahan kloroform berfungsi untuk melarutkan
kolesterol yang terkandung di dalam sampel. Fungsi dari kloroform adalah
untuk melarutkan lemak karena sifat dari lemak atau lipid adalah non polar.
Sesuai dengan prinsip “like disolve like” maka senyawa non polar akan larut
pada pelarut non polar (Lehninger 1988).

Dari hasil percobaan yang didapatkan dengan menggunakan larutan


sampel 1 ml larutan kolesterol 0,5% + 10 tetes anhidrida asam asetat + 3 tetes
H2SO4 pekat. Setelah bereaksi larutan berubah warna menjadi hijau.
Perubahan warna menjadi hijau menandakan larutan positif mengandung
kolesterol. Namun, sebelum menjadi hijau larutan sempat berwarna biru. Hal

17
ini telah sesuai teori dengan urutan perubahan warna larutan yang
mengandung kolesterol yaitu dari merah ke biru kemudian ke hijau.

Mekanisme yang terjadi dalam uji ini ketika asam sulfat ditambahkan ke
dalam campuran yang berisi kolesterol, maka molekul air berpindah dari
gugus C3 kolesterol, kolesterol kemudian teroksidasi membentuk 3,5-
kolestadiena. Produk ini dikonversi menjadi polimer yang mengandung
kromofor yang menghasilkan warna hijau. Warna ini disebabkan karena
adanya gugus hidroksi (−OH) dari kolesterol bereaksi dengan pereaksi
Liebermann-Burchard dan meningkatkan konjugasi dari ikatan tak jenuh
dalam cincin yang berdekatan. Warna hijau ini menandakan hasil yang positif,
dan adapun reaksi yang terjadi pada uji Liebermann-Burchard ini adalah
sebagai berikut :

Gambar 1. Reaksi pada uji Lieberman Burchard

Pada percobaan ketiga yaitu uji Salkowski merupakan uji kualitatif yang
dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan kolesterol. Warna yang mula-
mula timbul adalah biru menjadi merah di bagian kloroform sedangkan
dibagian asam berwarna kuning dengan fluorosensi hijau bila dilihat melalui
sinar refleksi (bintang 2010).

Percobaan Salkowski dilakukan dengan larutan sampel 2 ml larutan


kolesterol 0,5% dalam kloroform + 2 ml H2SO4 pekat, asam sulfat berfungsi
sebagai pemutus ikatan ester lipid. Setelah bereaksi larutan berangsur-angsur
berubah warna menjadi merah keunguan pada bagian atas dan bagian bawah
berwarna jernih. Pada bagian tengah larutan terdapat fluorosensi hijau ketika
disinari.

18
Berdasarkan percobaan yang dapat dilihat pada tabel 4.3, hasil pada uji
kolesterol positif, yang mana lapisan kolesterol di bagian atas menjadi
berwarna merah keunguan dan asam sulfat terlihat berubah menjadi jernih
dengan warna fluoresensi hijau. Berikut adalah reaksi uji Salkowski.

Gambar 2. Reaksi uji Salkowski (Girindra 1986)

19
BAB V
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
1. Percobaan Bilangan Iod dari Lemak dilakukan untuk menyatakan
adanya ikatan tak jenuh dalam suatu lemak. Minyak kelapa memiliki
derajad ketidakjenuhan yang tinggi terbukti warna laritan iod hilang
setelah penambahan iodium. Bilangan iod minyak kelapa antara 7-10.
2. Pada Uji Liebermann-Buchard merupakan uji kuantitatif untuk
mengidentifikasi adanya kolesterol. Hasil praktikum uji ini yaitu
terjadi perubahan warna menjadi hijau yang menandakan larutan
positif mengandung kolesterol.
3. Pada uji Salkowski merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk
mengidentifikasi keberadaan kolesterol. Warna yang mula-mula timbul
adalah biru menjadi merah di bagian kloroform sedangkan dibagian
asam berwarna kuning dengan fluorosensi hijau bila dilihat melalui
sinar refleksi.

B. Saran
Pada percobaan selanjutnya disarankan agar lebih teliti dalam
mengukur volume larutan yang direaksikan dan juga lebih teliti dalam
mengamati perubahan yang terjadi selama reaksi berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

20
Ciptadi. 2003. Penuntun Praktikum Biokimia. Palangka Raya: UNPAR.

Dorothy E Schumm. 1992. Alih Bahasa: Sadikin Mochtar. Intisari Biiokimia.


Jakarta: Binarupa Aksara.

Girindra, A. 1986. Biokimia I. Gramedia: Jakarta.

Lehninger, Albert L..1984.Dasar-dasar Biokimia Jilid 1.Penerjemah: Maggy


Thenawijaya.Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Principles of
Biochemistry

Poedjiadi, Anna. 1994. “Dasar-Dasar Biokimia”. Jakarta : UI-Press.

Puspita,Fika.2013.Uji Identifikasi Lipid.


[online]fikapuspita.blogspot.in/2013/07/laporan-uji-kualitatif-
lipid.html?m=1 diakses tanggal 25 Mei 2016

Sunarya, Yayan. 2003. Kimia Dasar II. Bandung: Alkemi Grafisindo Press

Setiadi, Rahmat, dkk. 2001. Biokimia. Jakarta : Universitas Terbuka


Indonesia

Vogel. 1990. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta:


Kalman Media Pusaka

LAMPIRAN FOTO

21
Percobaan 1 1.
setelah
Terbentuk 2
lapisan
penambahan
kloroform+minyak
air brom
kelapa

Percb Percb
1 2

22
Hasil percobaan 3.
Salkowski

23

Anda mungkin juga menyukai