Anda di halaman 1dari 17

TUGAS HEALTY, SAFETY AND ENVIRONMENT MANAGEMENT

KELOMPOK I
MATERI KECELAKAAN KERJA

Disusun oleh :
Tito Setiawan Nugroho 55116120020
Prihatini Ratna Dewi 55117110118
Edi Putra 55116120108

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS PASCASARJANA
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2018
Materi Kecelakaan Kerja

I. Definisi Kecelakaan Kerja


Menurut Heinrich (1980) Kecelakaan kerja atau kecelakaan akibat kerja adalah suatu
kejadian yang tidak terencana dan tidak terkendali akibat dari suatu tindakan atau reaksi
suatu objek, bahan, orang, atau radiasi yang mengakibatkan cidera atau
kemungkinan akibat lainnya. Menurut (AS/NZS 4801: 2001) kecelakaan adalah semua
kejadian yang tidak direncanakan yang menyebabkan atau berpotensial menyebabkan
cidera, kesakitan, kerusakan atau kerugian lainnya. Menurut Peraturan Menteri Tenaga
Kerja No. 03/Men/98 yang mengatur mengenai tata cara pelaporan dan pemeriksaan
kecelakaan, disebutkan bahwa kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak
dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau
harta benda. Sementara menurut OHSAS 18001:2007 Kecelakaan kerja didefinisikan
sebagai kejadian yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan cidera
atau kesakitan (tergantung dari keparahannya) kejadian kematian atau kejadian yang dapat
menyebabkan kematian. Berdasarkan UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja,
kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak dikehendaki,
yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan
kerugian baik korban manusia maupun harta benda. Sedangkan menurut UU No. 3 Tahun
1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang
terjadi dalam pekerjaan sejak berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke
rumah melalui jalan yang biasa atau wajar dilalui.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga, tidak dikehendaki, dan
dapat menyebabkan kerugian baik korban jiwa maupun harta benda yang terjadi
disebabkan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan serta dalam
perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja dan pulang ke rumah melalui jalan
yang biasa atau wajar dilalui.

II. Klasifikasi Kecelakaan Kerja


Menurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) 1989 dalam Triwibowo dan
Pusphandani (2013), kecelakaan kerja dapat diklasifikasin sebagai berikut :
2.1. Klasifikasi menurut Jenis Kecelakaan
Menurut jenisnya, kecelakaan dapat dikategorikan sebagai berikut: (1) Terjatuh, (2)
Tertimpa benda jatuh, (3) Tertumbuk atau terkena benda, terkecuali benda jatuh, (4)
Terjepit oleh benda, (5) Gerakan yang melebihi kemampuan, (6) Pengaruh suhu
tinggi, (7) Terkena arus listrik, (8) Kontak dengan bahan berbahaya atau radiasi, (9)
Jenis lain termasuk kecelakaan yang datanya tidak cukup atau kecelakaan lain yang
belum masuk klasifikasi tersebut.
2.2. Klasifikasi menurut Penyebab
2.2.1. Mesin
Mesin yang dapat menjadi penyebab kecelakaan, diantaranya: (1) Pembangkit
tenaga terkecuali motor listrik, (2) Mesin penyalur (transmisi), (3) Mesin-mesin
untuk mengerjakan logam, (4) Mesin pengolah kayu atau penggergaji kayu, (5)
Mesin pertanian, (6) Mesin pertambangan, (7) Mesin lain yang tak terkelompokkan.
2.2.2. Alat angkutan dan peralatan terkelompokkan
Klasifikasi ini terdiri dari: (1) Mesin pengangkat dan peralatannya, (2) Alat angkutan
yang menggunakan rel, (3) Alat angkutan lain yang beroda, (4) Alat angkutan udara,
(5) Alat angkutan air, (6) Alat angkutan lain.
2.2.3. Peralatan lain
Penyebab kecelakaan kerja oleh peralatan lain diklasifikasikan menjadi : (1) Alat
bertekanan tinggi, (2) Tanur, tungku dan kilang, (3) Alat instalasi pendingin, (4)
Instalasi listrik, termasuk motor listrik tetapi dikecualikan alat listrik (tangan), (5)
Perkakas tangan bertenaga listrik, (6) Perkakas, instrumen dan peralatan, diluar
peralatan tangan bertenaga listrik, (7) Tangga, tangga berjalan, (8) Perancah
(Scaffolding), (9) Peralatan lain yang tidak terklasifikasikan.
2.2.4. Material, Bahan-bahan dan radiasi
Material, Bahan-bahan dan radiasi yang dapat menjadi penyebab kecelakaan
diklasifikasikan menjadi: (1) Bahan peledak, (2) Debu, gas, cairan, dan zat kimia,
diluar peledak , (3) Kepingan terbang, (4) Radiasi, (5) Material dan bahan lainnya
yang tak terkelompokkan.
2.2.5. Lingkungan kerja
Faktor dari Lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kecelakaan diantaranya
berupa: (1) Di luar bangunan, (2) Di dalam bangunan, (3) Di bawah tanah.
2.2.6. Perantara lain yang tidak terkelompakkan
Penyebab kecelakaan berdasarkan perantara lain yang tidak terkelompokkan terbagi
atas: (1) Hewan, (2) Penyebab lain.
2.2.7. Perantara yang tidak terklasifikan karena kurangnya data
Kurangnya data penunjang dari penyebab kecelakaan, dapat diklasifikasikan
tersendiri dalam satu kelompok.
2.3. Klasifikasi menurut Sifat Luka
Menurut sifat luka atau kelainan, kecelakaan dapat dikelompokkan menjadi: (1)
Patah tulang, (2) Dislokasi atau keseleo, (3) Regang otot atau urat, (4) Memar dan
luka yang lain, (5) Amputasi, (6) Luka lain-lain, (7) Luka di permukaan, (8) Gegar
dan remuk, (9) Luka bakar, (10) Keracunan-keracunan mendadak, (11) Akibat cuaca
dan lain-lain, (12) Mati lemas, (13) Pengaruh arus listrik, (14) Pengaruh radiasi, (15)
Luka yang banyak dan berlainan sifatnya.
2.4. Klasifikasi menurut Letak Kelainan
Berdasarkan letak kelainannya, jenis kecelakaan dapat dikelompokkan pada: (1)
Kepala, (2) Leher, (3) Badan, (4) Anggota atas, (5) Anggota bawah, (6) Banyak
tempat, (7) Kelainan umum, (8) Letak lain yang tidak dapat dimasukkan klasifikasi
tersebut.
Sedangkan menurut Bennet NB. Silalahi (1995:156) dalam analisa sejumlah
kecelakaan, kecelakaan-kecelakaan tersebut dapat dikelompokkan kedalam
pembagian kelompok yang jenis dan macam kelompoknya ditentukan sesuai dengan
kebutuhannya.
2.5. Klasifikasi menurut Tingkat Keparahan
Dalam Mijin Politie Reglement Sb 1930 No. 341 kecelakaan dibagi menjadi 3 tingkat
keparahan, yakni mati, berat dan ringan. Dalam PP 11/1979 keparahan dibagi dalam
4 tingkat yakni mati, berat, sedang dan ringan.
2.6. Klasifikasi menurut Daerah Kerja atau Lokasi
Dalam pertambangan minyak dan gas bumi, ditentukan kelompok daerah kerja :
seismik, pemboran, produksi, pengolahan, pengangkutan, dan pemasaran.

III. Penyebab Kecelakaan Kerja


Terjadinya kecelakaan kerja umumnya disebabkan beberapa faktor, antara lain
faktor manusia, peralatan, manajemen dan lokasi kerja. Menurut Ramli (2010), penyebab
kecelakaan kerja pada umumnya digolongkan menjadi dua yaitu perilaku pekerja itu
sendiri (faktor manusia) dan kondisi-kondisi pekerjaan (faktor lingkungan kerja).
Bird dan Germain dalam Tarwaka (2008) dengan teori loss causation models,
menjelaskan bahwa suatu kerugian disebabkan oleh serangkaian faktor-faktor yang
berurutan yang terdiri dari lack of control, basic causes, immediate causes, accident
dan loss
Suatu industri sangat tidak menginginkan terjadinya kecelakaan, karena dapat
menimbulkan kerugian bagi industri tersebut. Kecelakaan dapat disebabkan oleh pekerja
atau keadaan lingkungan kerja pada suatu perusahaan yang tidak tertata atau teratur.
Penyebab atau potensi bahaya yang menimbulkan celaka sering kali tidak dihiraukan
karena belum merupakan hal yang merugikan perusahaan, sampai terjadi kecelakaan
barulah perusahaan mulai menghiraukannya. Pekerja juga sering melakukan tindakan
bahaya tanpa disadari, walaupun sudah mengetahui tindakan tersebut berbahaya tetap saja
pekerja tersebut melakukannya.
Dari data statistik kecelakaan didapatkan bahwa 85% sebab kecelakaan adalah
karena faktor manusia. (Suma’mur PK., 1989:3). Setiap kecelakaan mempunyai penyebab
banyak. Semua penyebab kalau dicari penyebabnya sampai penyebab dasar akan menuju
pada disfungsi manajemen. Faktor penyebab kecelakaan yang langsung berkaitan dengan
kecelakaan disebut sebagai penyebab langsung. Penyebab langsung disebabkan oleh faktor
lain yang disebut penyebab tidak langsung (Syukri Sahab, 1997:176).

IV. Teori Penyebab Kecelakaan Kerja


Suatu kecelakaan biasanya sangat komplek, kecelakaan biasanya bisa disebabkan
oleh oleh 5 atau lebih penyebab. Untuk mengetahui penyebab atau bagaimana kecelakaan
itu terjadi maka kita perlu memahaminya dengan menggunakan teori penyebab atau model
kecelakaan. Teori-teori tersebut dikemas ke dalam suatu model, sehingga terlihat urutan
kejadian, kaitan antara parameter-parameter yang mempengaruhi dapat jelas terlihat. Oleh
karena itu, teori penyebab kecelakaan sering juga disebut sebagai Model Kecelakaan.
Pentingnya mempelajari model kecelakaan adalah sebagai berikut :
1. Memahami klasifikasi sistem, yang logis, objektif, dan dapat diterima secara
universal. Dengan mengklasifikasikan sistem maka beberapa fenomena, kejadian
yang melatar belakangi kcelakaan dapat dikelompok-kelompokan sehingga menjadi
mudah dianalisa.
2. Model kecelakaan dapat mempermudah identifikasi bahaya karena kerangka
logiknya lebih jelas.
3. Model kecelakaan dapat membantu investigasi kecelakaan dan membantu cara-cara
pengendaliannya.
Teori tentang terjadinya kecelakaan kerja banyak dikemukakan antara lain :
4.1. Teori Domino
Teori ini diperkenalkan oleh H.W. Heinrich pada tahun 1931. Menurut Heinrich,
88% kecelakaan disebabkan oleh perbuatan/ tindakan tidak aman dari manusia
(unsafe act), sedangkan sisanya disebabkan oleh hal-hal yang tidak berkaitan dengan
kesalahan manusia, yaitu 10 % disebabkan kondisi yang tidak aman (unsafe
condition) dan 2% disebabkan takdir tuhan. Heinrich menekankan bahwa
kecelakaan lebih banyak disebabkan oleh kekeliruan, kesalahan yang dilakukan oleh
manusia. Menurutnya, tindakan dan kondisi yang tidak aman akan terjadi bila
manusia berbuat suatu kekeliruan. Hal ini lebih jauh menurutnya disebabkan karena
faktor karakteristik manusia itu sendiri yang dipengaruhi oleh keturunan (ancestry)
dan lingkungannya (environment).
Pada gambar 4.1 terlihat batu domino disusun berurutan sesuai dengan faktor-faktor
penyebab kecelakaan yang dimaksud oleh Heinrich. Bila batu pertama atau batu
ketiga roboh ke kanan maka semua batu dikanannya akan roboh. Dengan kata lain
bila terdapat suatu kesalahan manusia, maka akan tercipta tindakan dan kondisi tidak
aman, dan kecelakaan serta kerugian akan timbul. Heinrich mengatakan rantai batu
tersebut diputus pada batu ketiga maka kecelakaan dapat dihindari.

Gambar 4.1 Teori Domino dari H. W. Heinrich


(Sumber : Industrial Accident Prevention)
Konsep dasar pada model ini adalah :
1. Kecelakaan adalah sebagai suatu hasil dari serangkaian kejadian yang berurutan.
Kecelakaan tidak terjadi dengan sendirinya.
2. Penyebab-penyebabnya adalah faktor manusia dan faktor fisik.
3. Kecelakaan tergantung kepada lingkungan fisik kerja, dan lingkungan sosial
kerja.
4. Kecelakaan terjadi karena kesalahan manusia.

4.2. Teori Bird & Lotus


Kunci kejadian masih tetap sama seperti yang dikatakan oleh Heinrich, yaitu adanya
tindakan dan kondisi tidak aman. Bird dan Loftus tidak lagi melihat kesalahan terjadi
pada manusia/pekerja semata, melainkan lebih menyoroti pada bagaimana
manajemen lebih mengambil peran dalam melakukan pengendalian agar tidak terjadi
kecelakaan. Frank E. Bird dan Robert G. Loftus mengembangkan model tersebut
sebagai berikut :

Kelemahan fungsi‐fungsi manajemen, Leadership, pengawasan, standard kerja,


standard performance, correction error.

INDIRECT / Basic Cause


Personal : Pengetahuan, keahlian, motivasi, Kemampuan secara fisik dalam masalah
pekerjaan.

DIRECT / Immmediate Cause


Tindakan tidak aman, dan kondisi tidak aman.

KECELAKAAN

LOSS

Gambar 4.2. Teori Bird & Lotus


(Sumber : Industrial Accident Prevention)

4.3. Teori Swiss Cheese


Mula-mula model ini dikembangkan untuk industry tenaga nuklir, pendekatan
Reason pada penyebab terjadinya kecelakaan adalah berdasarkan asumsi bahwa
elemen-elemen pokok dari suatu organisasi harus bekerjasama secara harmonis bila
menginginkan operasional yang efesien dan aman. Setelah itu teori ini banyak
digunakan di dunia penerbangan. Berdasarkan teori dari Reason, dijelaskan bahwa
kecelakaan terjadi ketika terjadi kegagalan interaksi pada setiap komponen yang
terlibat dalam suatu sistem produksi. Seperti yang digambarkan pada gambar 4.3
dibawah ini, kegagalan suatu proses dapat dilukiskan sebagai “lubang” dalam setiap
lapisan sistem yang berbeda, dengan demikian menjelaskan apa dari tahapan suatu
proses produksi tersebut yang gagal.

Gambar 4.3. Swiss cheese model Dari T. Reason


(Sumber : Data Gathering, James T. Reason)

Sebab-sebab suatu kecelakan dapat dibagi menjadi Direct Cause dan


Latent Cause. Direct Cause sangat dekat hubungannya dengan kejadian kecelakaan
yang menimbulkan kerugian atau cidera pada saat kecelakaan tersebut terjadi.
Kebanyakan proses investigasi lebih konsentrasi kepada penyebab langsung
terjadinya suatu kecelakaan dan bagaimana mencegah penyebab langsung tersebut.
Tetapi ada hal lain yang lebih penting yang perlu di identifikasi yakni “Latent
Cause”. Latent cause adalah suatu kondisi yang sudah terlihat jelas sebelumnya
dimana suatu kondisi menunggu terjadinya suatu kecelakaan.

V. Teori Tiga Faktor Utama (Three Main Factor Teory)


Dari beberapa teori tentang faktor penyebab kecelakaan yang ada, salah satunya
yang sering digunakan adalah teori tiga faktor utama (Three Main Factor Theory). Menurut
teori ini disebutkan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.
Ketiga faktor tersebut dapat diuraikan menjadi :
5.1. Faktor Manusia
5.1.1. Umur
Umur harus mendapat perhatian karena akan mempengaruhi kondisi fisik, mental,
kemampuan kerja, dan tanggung jawab seseorang. Umur pekerja juga diatur oleh
Undang-Undang Perburuhan yaitu Undang-Undang tanggal 6 Januari 1951 No.1
Pasal 1 (Malayu S. P. Hasibuan, 2003:48). Karyawan muda umumnya mempunyai
fisik yang lebih kuat, dinamis, dan kreatif, tetapi cepat bosan, kurang bertanggung
jawab, cenderung absensi, dan turnover-nya rendah (Malayu S. P. Hasibuan,
2003:54).
Umum mengetahui bahwa beberapa kapasitas fisik, seperti penglihatan,
pendengaran dan kecepatan reaksi, menurun sesudah usia 30 tahun atau lebih.
Sebaliknya mereka lebih berhati-hati, lebih dapat dipercaya dan lebih menyadari
akan bahaya dari pada tenaga kerja usia muda. Efek menjadi tua terhadap terjadinya
kecelakaan masih terus ditelaah. Namun begitu terdapat kecenderungan bahwa
beberapa jenis kecelakaan seperti terjatuh lebih sering terjadi pada tenaga kerja usia
30 tahun atau lebih dari pada tenaga kerja berusia sedang atau muda. Juga angka
beratnya kecelakaan rata-rata lebih meningkat mengikuti pertambahan usia.
5.1.2. Jenis Kelamin
Jenis pekerjaan antara pria dan wanita sangatlah berbeda. Pembagian kerja secara
sosial antara pria dan wanita menyebabkan perbedaan terjadinya paparan yang
diterima orang, sehingga penyakit yang dialami berbeda pula. Kasus wanita lebih
banyak daripada pria (Juli Soemirat, 2000:57). Secara anatomis, fisiologis, dan
psikologis tubuh wanita dan pria memiliki perbedaan sehingga dibutuhkan
penyesuaian-penyesuaian dalam beban dan kebijakan kerja, diantaranya yaitu hamil
dan haid. Dua peristiwa alami wanita itu memerlukan penyesuaian kebijakan yang
khusus.
5.1.3. Masa Kerja
Masa kerja adalah sesuatu kurun waktu atau lamanya tenaga kerja bekerja disuatu
tempat. Masa kerja dapat mempengaruhi kinerja baik positif maupun negatif.
Memberi pengaruh positif pada kinerja bila dengan semakin lamanya masa kerja
personal semakin berpengalaman dalam melaksanakan tugasnya. Sebaliknya, akan
memberi pengaruh negatif apabila dengan semakin lamanya masa kerja akan timbul
kebiasaan pada tenaga kerja. Hal ini biasanya terkait dengan pekerjaan yang bersifat
monoton atau berulang-ulang.
Masa kerja dikategorikan menjadi tiga yaitu :
1. Masa Kerja baru : < 6 tahun
2. Masa Kerja sedang : 6 – 10 tahun
3. Masa Kerja lama : < 10 tahun (MA. Tulus, 1992:121).
5.1.4. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Penggunaan alat pelindung diri yaitu penggunaan seperangkat alat yang digunakan
tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi
bahaya atau kecelakaan kerja. APD tidak secara sempurna dapat melindungi
tubuhnya, tetapi akan dapat mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi
(AM. Sugeng Budiono, 2003:329). Penggunaan alat pelindung diri dapat mencegah
kecelakaan kerja sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan praktek pekerja
dalam penggunaan alat pelindung diri.
5.1.5. Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan
bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses
sosial yakni orang yang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan
terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga ia dapat memperoleh atau
mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang
optimal (Achmad Munib, dkk., 2004:33). Pendidikan adalah segala upaya yang
direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau
masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku
pendidikan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003:16). Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang, maka mereka cenderung untuk menghindari potensi bahaya yang dapat
menyebabkan terjadinya kecelakaan.
5.1.6. Perilaku
Variabel perilaku adalah salah satu di antara faktor individual yang mempengaruhi
tingkat kecelakaan. Sikap terhadap kondisi kerja, kecelakaan dan praktik kerja yang
aman bisa menjadi hal yang penting karena ternyata lebih banyak persoalan yang
disebabkan oleh pekerja yang ceroboh dibandingkan dengan mesin-mesin atau
karena ketidakpedulian karyawan. Pada satu waktu, pekerja yang tidak puas dengan
pekerjaannya dianggap memiliki tingkat kecelakaan kerja yang lebih tinggi. Namun
demikian, asumsi ini telah dipertanyakan selama beberapa tahun terakhir. Meskipun
kepribadian, sikap karyawan, dan karakteristik individual karyawan tampaknya
berpengaruh pada kecelakaan kerja, namun hubungan sebab akibat masih sulit
dipastikan (Robert L. Mathis, 2002:226).
5.1.7. Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pelatihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk
memperoleh dan meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku
dalam waktu yang relatif singkat, dan dengan metode yang lebih mengutamakan
praktek daripada teori, dalam hal ini yang dimaksud adalah pelatihan keselamatan
dan kesehatan kerja (Siswanto Sastrohadiwiryo, 2003:200).
Timbulnya kecelakaan bekerja biasanya sebagai akibat atas kelalaian tenaga kerja
atau perusahaan. Adapun kerusakan-kerusakan yang timbul, misalnya kerusakan
mesin atau kerusakan produk, sering tidak diharapkan perusahaan maupun tenaga
kerja. Namun tidak mudah menghindari kemungkinan timbulnya risiko kecelakaan
dan kerusakan. Apabila sering timbul hal tersebut, tindakan yang paling tepat dan
harus dilakukakan manajemen tenaga kerja adalah melakukan pelatihan.
Penyelenggaraan pelatihan dimaksudkan agar pemeliharaan terhadap alat-alat kerja
dapat ditingkatkan. Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah mengurangi
timbulnya kecelakaan kerja, kerusakan, dan peningkatan pemeliharaan terhadap
alat-alat kerja (Siswanto Sastrohadiwiryo, 2003:213 ).
5.1.8. Peraturan K3
Menurut Suma’mur PK (1989) dalam Gempur Santoso (2004:8) menyebutkan
bahwa peraturan perundangan adalah ketentuan-ketentuan yang mewajibkan
mengenai kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi, perawatan dan
pemeliharaan, pengawasan, pengujian dan cara kerja peralatan industri, tugas-tugas
pengusaha dan buruh, latihan, supervisi medis, P3K dan perawatan medis. Ada
tidaknya peraturan K3 sangat berpengaruh dengan kejadian kecelakaan kerja. Untuk
itu, sebaiknya peraturan dibuat dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya untuk
mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan.

5.2. Faktor Lingkungan


5.2.1. Kebisingan
Bising adalah suara/bunyi yang tidak diinginkan (AM. Sugeng Budiono, 2003:32).
Kebisingan pada tenaga kerja dapat mengurangi kenyamanan dalam bekerja,
mengganggu komunikasi/percakapan antar pekerja, mengurangi konsentrasi,
menurunkan daya dengar dan tuli akibat kebisingan. Sesuai dengan Keputusan
Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP-51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas
Faktor Fisika di Tempat Kerja, Intensitas kebisingan yang dianjurkan adalah 85 dBA
untuk 8 jam kerja (Tabel 5.1.).
Tabel 5.1. Nilai ambang batas faktor fisika di tempat kerja
Waktu Pemajanan per Hari Intensitas Kebisingan dalam dBA
8 jam 85
4 88
2 91
1 94
30 menit 97
15 100
7,5 103
3,75 106
1,88 109
0,94 112
28,12 detik 115
14,06 118
7,03 121
3,52 124
1,76 127
0,88 130
0,44 133
0,22 136
0,11 139
Tidak Boleh 140

(Sumber: Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP-51/MEN/1999)


5.2.2. Suhu Udara
Dari suatu penyelidikan diperoleh hasil bahwa produktivitas kerja manusia akan
mencapai tingkat yang paling tinggi pada temperatur sekitar 24°C- 27°C. Suhu
dingin mengurangi efisiensi dengan keluhan kaku dan kurangnya koordinasi otot.
Suhu panas terutama berakibat menurunkan prestasi kerja pekerja, mengurangi
kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan,
mengganggu kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf perasa dan
motoris, serta memudahkan untuk dirangsang (Suma’mur PK., 1989:88).
Sedangkan menurut Grandjean (1986) dalam Eko Nurmianto (2003:278) kondisi
panas sekeliling yang berlebih akan mengakibatkan rasa letih dan kantuk,
mengurangi kestabilan dan meningkatkan jumlah angka kesalahan kerja. Hal ini
akan menurunkan daya kreasi tubuh manusia untuk menghasilkan panas dengan
jumlah yang sangat sedikit.
5.2.3. Penerangan
Penerangan ditempat kerja adalah salah satu sumber cahaya yang menerangi benda-
benda di tempat kerja. Banyak obyek kerja beserta benda atau alat dan kondisi di
sekitar yang perlu dilihat oleh tenaga kerja. Hal ini penting untuk menghindari
kecelakaan yang mungkin terjadi (AM. Sugeng Budiono, 2003:31).
Penerangan yang baik memungkinkan tenaga kerja melihat obyek yang dikerjakan
secara jelas, cepat dan tanpa upaya-upaya tidak perlu (Suma’mur PK., 1989:93).
Penerangan adalah penting sebagai suatu faktor keselamatan dalam lingkungan fisik
pekerja. Beberapa penyelidikan mengenai hubungan antara produksi dan penerangan
telah memperlihatkan bahwa penerangan yang cukup dan diatur sesuai dengan jenis
pekerjaan yang harus dilakukan secara tidak langsung dapat mengurangi banyaknya
kecelakaan.
Faktor penerangan yang berperan pada kecelakaan antara lain kilauan cahaya
langsung pantulan benda mengkilap dan bayang-bayang gelap (ILO, 1989:101).
Selain itu pencahayaan yang kurang memadai atau menyilaukan akan melelahkan
mata. Kelelahan mata akan menimbulkan rasa kantuk dan hal ini berbahaya bila
karyawan mengoperasikan mesin-mesin berbahaya sehingga dapat menyebabkan
kecelakaan (Depnaker RI, 1996:45).
5.2.4. Lantai licin
Lantai dalam tempat kerja harus terbuat dari bahan yang keras, tahan air dan bahan
kimia yang merusak (Bennet NB. Silalahi, 1995:228). Karena lantai licin akibat
tumpahan air, minyak atau oli berpotensi besar terhadap terjadinya kecelakaan,
seperti terpeleset.

5.3. Faktor Peralatan


5.3.1. Kondisi mesin
Dengan mesin dan alat mekanik, produksi dan produktivitas dapat ditingkatkan.
Selain itu, beban kerja faktor manusia dikurangi dan pekerjaan dapat lebih berarti
(Suma’mur PK., 1989:203). Apabila keadaan mesin rusak, dan tidak segera
diantisipasi dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.
5.3.2. Ketersediaan alat pengaman mesin
Mesin dan alat mekanik terutama diamankan dengan pemasangan pagar dan
perlengkapan pengamanan mesin ata disebut pengaman mesin. Dapat ditekannya
angka kecelakaan kerja oleh mesin adalah akibat dari secara meluasnya
dipergunakan pengaman tersebut. Penerapan tersebut adalah pencerminan
kewajiban perundang-undangan, pengertian dari pihak yang bersangkutan, dan
sebagainya (Suma’mur PK., 1989:203).
5.3.3. Letak Mesin
Terdapat hubungan yang timbal balik antara manusia dan mesin. Fungsi manusia
dalam hubungan manusia mesin dalam rangkaian produksi adalah sebagai
pengendali jalannya mesin tersebut.
Mesin dan alat diatur sehingga cukup aman dan efisien untuk melakukan pekerjaan
dan mudah (AM. Sugeng Budiono, 2003:65). Termasuk juga dalam tata letak dalam
menempatkan posisi mesin. Semakin jauh letak mesin dengan pekerja, maka potensi
bahaya yang menyebabkan kecelakaan akan lebih kecil. Sehingga dapat mengurangi
jumlah kecelakaan yang mungkin terjadi.

VI. Akibat Kecelakaan Kerja


Menurut Suma’mur PK. (1989:5) kecelakaan dapat menimbulkan 5 jenis kerugian,
yaitu: Kerusakan, kekacauan organisasi, keluhan dan kesedihan, kelalaian dan cacat, dan
kematian.
Heinrich (1959) dalam ILO (1989:11) menyusun daftar kerugian terselubung akibat
kecelakaan sebagai berikut: (1) Kerugian akibat hilangnya waktu karyawan yang luka, (2)
Kerugian akibat hilangnya waktu karyawan lain yang terhenti bekerja karena rasa ingin
tahu, rasa simpati, membantu menolong karyawan yang terluka, (3) Kerugian akibat
hilangnya waktu bagi para mandor, penyelia atau para pimpinan lainnya karena membantu
karyawan yang terluka, menyelidiki penyebab kecelakaan, mengatur agar proses produksi
ditempat karyawan yang terluka tetap dapat dilanjutkan oleh karyawan lainnya dengan
memilih dan melatih ataupun menerima karyawan baru, (4) Kerugian akibat penggunaan
waktu dari petugas pemberi pertolongan pertama dan staf departemen rumah sakit, (5)
Kerugian akibat rusaknya mesin, perkakas, atau peralatan lainnya atau oleh karena
tercemarnya bahan-bahan baku, (6) Kerugian insidental akibat terganggunya produksi,
kegagalan memenuhi pesanan pada waktunya, kehilangan bonus, pembayaran denda
ataupun akibat-akibat lain yang serupa, (7) Kerugian akibat pelaksanaan sistem
kesejahteraan dan maslahat bagi karyawan, (8) Kerugian akibat keharusan untuk
meneruskan pembayaran upah penuh bagi karyawan yang dulu terluka setelah mereka
kembali bekerja, walaupun mereka (mungkin belum penuh sepenuhnya) hanya
menghasilkan separuh dari kemampuan normal (9) Kerugian akibat hilangnya kesempatan
memperoleh laba dari produktivitas karyawan yang luka dan akibat dari mesin yang
menganggur, (10) Kerugian yang timbul akibat ketegangan ataupun menurunnya moral
kerja karena kecelakaan tersebut, (11) Kerugian biaya umum (overhead) per-karyawan
yang luka.

VII. Pencegahan Kecelakaan Kerja


Menurut Tarwaka (2008) pencegahan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan
metode eliminasi, subsitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif dan penggunaan
APD pada pekerja.
Menurut Irianto (2013) pencegahan kecelakaan kerja dapat dilakukan dengan
subsitusi, isolasi, ventilasi umum, ventilasi keluar setempat, penggunaan APD,
pemeriksaan pra-kerja, pemeriksaan khusus dan berkala serta pendidikan tentang
kesehatan dan keselamatan kerja. Pencegahan kecelakaan kerja menurut Suma’mur (2009)
ditujukan kepada lingkungan, mesin, peralatan kerja, perlengkapan kerja dan terutama
faktor manusia.
Pada penelitian Ahmad (2000), menyatakan bahwa dengan menerapkan sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang melibatkan unsur manajernen, tenaga
kerja dan lingkungan kerja yang terpadu, berpotensi mengurangi jumlah kecelakaan kerja
di tiap-tiap unit kerja. Sedangkan pada penelitian Angkat (2008), pemberian pelatihan,
penyuluhan dan pemakaian APD yang benar dapat memperkecil angka kecelakaan kerja.
Pencegahan kecelakaan berdasarkan pengetahuan tentang penyebab kecelakaan.
Sebab-sebab kecelakaan pada suatu perusahaan diketahui dengan mengadakan analisis
setiap kecelakaan yang terjadi. Metode analisis penyebab kecelakaan harus benar-benar
diketahui dan diterapkan sebagaimana mestinya. Selain analisis mengenai penyebab
terjadinya suatu peristiwa kecelakaan, untuk pencegahan kecelakaan kerja sangat penting
artinya dilakukan identifikasi bahaya yang terdapat dan mungkin menimbulkan insiden
kecelakaan di perusahaan serta mengases besarnya risiko bahaya.
Pencegahan kecelakaan kerja menurut Suma’mur (2009) ditujukan kepada
lingkungan, mesin, peralatan kerja, perlengkapan kerja dan terutama faktor manusia.
1. Lingkungan
Syarat lingkungan kerja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
a. Memenuhi syarat aman, meliputi higiene umum, sanitasi, ventilasi udara,
pencahayaan dan penerangan di tempat kerja dan pengaturan suhu udara
ruang kerja
b. Memenuhi syarat keselamatan, meliputi kondisi gedung dan tempat kerja
yang dapat menjamin keselamatan
c. Memenuhi penyelenggaraan ketatarumahtanggaan, meliputi pengaturan
penyimpanan barang, penempatan dan pemasangan mesin, penggunaan
tempat dan ruangan
2. Mesin dan peralatan kerja
Mesin dan peralatan kerja harus didasarkan pada perencanaan yang baik dengan
memperhatikan ketentuan yang berlaku. Perencanaan yang baik terlihat dari
baiknya pagar atau tutup pengaman pada bagian-bagian mesin atau perkakas
yang bergerak, antara lain bagian yang berputar. Bila pagar atau tutup pengaman
telah terpasang, harus diketahui dengan pasti efektif tidaknya pagar atau tutup
pengaman tersebut yang dilihat dari bentuk dan ukurannya yang sesuai terhadap
mesin atau alat serta perkakas yang terhadapnya keselamatan pekerja dilindungi.
3. Perlengkapan kerja Alat pelindung diri merupakan perlengkapan kerja yang
harus terpenuhi bagi pekerja. Alat pelindung diri berupa pakaian kerja, kacamata,
sarung tangan, yang kesemuanya harus cocok ukurannya sehingga menimbulkan
kenyamanan dalam penggunaannya.
4. Faktor manusia
Pencegahan kecelakaan terhadap faktor manusia meliputi peraturan kerja,
mempertimbangkan batas kemampuan dan ketrampilan pekerja, meniadakan
halhal yang mengurangi konsentrasi kerja, menegakkan disiplin kerja,
menghindari perbuatan yang mendatangkan kecelakaan serta menghilangkan
adanya ketidakcocokan fisik dan mental.
Daftar Pustaka

Heinrich, HW., Petersen, DC., Roos, NR., Hazlett, S., 1980. Industrial Accident Prevention: A
Safety Management Approach. NY: McGraw-Hill
AS/NZS 4801. (2001). Occupational Health And Safety Management Systems.
OHSAS 18001. (2007). Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja.
ILO, 1989, Pencegahan Kecelakaan, Jakarta: PT. Pustaka Binaman Prestindo.
Suma’mur PK, 1989, Higene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Jakarta: Gunung Agung.
Syukri Sahab, 1997, Teknik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jakarta: PT. Bina
Sumber Daya Manusia.
Malayu S. P. Hasibuan, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara.
Juli Soemirat, 2000, Epidemiologi Lingkungan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
MA tulus, 1992, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
AM. Sugeng Budiono, 2003, Bunga Rampai Hiperkes dan KK, Semarang: BP UNDIP.
Achmad Munib, dkk., 2004, 2004, Pengantar Ilmu Pendidikan, Semarang: UPT UNNES Press.
Soekidjo Notoatmodjo, 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Robert L. Malthis dan John H. Jackson, 2002, Manajemen Sumber Daya Manusia
(Buku 2), Jakarta: PT. Salemba Emban Patria.
Siswanto Sastrohadiwiryo, 2003, Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Gempur Santoso, 2004, Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jakarta: Prestasi
Pustaka.
Eko Nurmianto, 2003, Ergonomi (Konsep Dasar dan Aplikasinya), Surabaya: Guna Wijaya.
Depnaker RI, 1996, Indonesian Journal of Industrial Hygiene Occupational
Health and Safety Volume XXIX No. 4, Jakarta: Depnaker.
Bennet Silalahi dan Rumondang Silalahi, 1995, Manajemen keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Jakarta: PT Pustaka Bina Mandiri Prestindo Tbk.

Anda mungkin juga menyukai