Anda di halaman 1dari 11

TUJUAN

1. Mengerti dan memahami proses Leaching.


2. Mengoperasikan peralatan Leaching dengan benar dan aman.
3. Menghitung efisiensi tahap dan yield proses Leaching.
4. Menghitung kebutuhan steam dan jumlah panas yang digunakan untuk proses
Leaching.

DASAR TEORI
A. Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau
cairan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau
lebih komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven)
sebagai separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda
dari komponen-komponen dalam campuran.

B. Ekstraksi Padat-Cair (Leaching)


Leaching ialah ekstraksi padat-cair dengan perantara suatu zat pelarut. Proses
ini dimaksudkan untuk mengeluarkan zat terlarut dari suatu padatan atau untuk
memurnikan padatan dari cairan yang membuat padatan terkontaminasi, seperti
pigmen. Metode yang digunakan untuk ekstraksi akan ditentukan oleh banyaknya zat
yang larut, penyebarannya dalam padatan, sifat padatan dan besarnya partikel. Jika zat
terlarut menyebar merata di dalam padatan, material yang dekat permukaan akan
pertama kali larut terlebih dahulu. Pelarut, kemudian akan menangkap bagian pada
lapisan luar sebelum mencapai zat terlarut selanjutnya, dan proses akan menjadi lebih
sulit dan laju ekstraksi menjadi turun.
Ekstraksi Padat-Cair (Leaching) adalah proses pemisahan zat yang dapat
melarut (solut) dari suatu campurannya dengan padatan yang tidak dapat larut (inert)
dengan menggunakan pelarut cair (solvent). Proses ini dilakukan untuk mendapatkan
bagian yang mudah terlarut karena berharga ataupun untuk menghilangkan bagian yang
kurang berharga. Pelarut akan lebih mudah melarutkan solute yang ada pada permukaan
padatan sebelum mencapai solute selanjutnya.

C. Metode Operasi Leaching


Dikenal 4 jenis metoda operasi ekstraksi padat-cair. Berikut ini disajikan
uraian singkat mengenai masing-masing metoda tersebut:
a.Operasi dengan Sistem Bertahap Tunggal
Dengan metoda ini, pengontakan antara padatan dan pelarut dilakukan
sekaligus, dan kemudian disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara
ini jarang ditemukan dalam operasi industri karena perolehan solut yang rendah.

b.Operasi dengan sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar atau aliran silang.
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut dalam
tahap pertama; kemudian aliran bawah dari tahap ini dikontakkan dengan pelarut
baru pada tahap berikutnya, dan demikian seterusnya. Larutan yang diperoleh
sebagai aliran atas dapat dikumpulkan menjadi satu seperti yang terjadi pada sistem
dengan aliran sejajar, atau ditampung secara terpisah, seperti pada sistem dengan
aliran silang.

Gambar 2.1 Sistem bertahap banyak dengan aliran sejajar

Gambar 2.2 Sistem bertahap banyak dengan aliran silang


c.Operasi secara kontinu dengan aliran berlawanan
Dalam sistem ini, aliran bawah dan atas mengalir secara berlawanan. Operasi
dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat yang merupakan
aliran atas tahap kedua, dan padatan baru. Operasi berakhir pada tahap ke-n (tahap
terakhir), dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru dan padatan yang berasal
dari tahap ke-n (n-1). Dapat dimengerti bahwa sistem ini memungkinkan
didapatkannya perolehan solut yang tinggi, sehingga banyak digunakan di dalam
industri.
Gambar 2.3 Sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
d. Operasi secara batch dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang disusun berderet
atau dalam lingkaran yang dikenal sebagai rangkaian ekstraksi (extraction battery).
Didalam sistem ini, padatan dibiarkan stationer dalam setiap tangki dan dikontakkan
dengan beberapa larutan yang konsentrasinya makin menurun. Padatan yang
hamper tidak mengandung solut meninggalkan rangkaian setelah dikontakkan
dengan pelarut baru, sedangkan larutan pekat sebelum keluar dari rangkaian terlebih
dahulu dikontakkan dengan padatan baru di dalam tangki yang lain.

Gambar 2.4 Operasi batch bertahap empat dengan aliran


berlawanan
Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi ekstraksi:
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin kecil ukuran partikel maka
areal terbesar antara padatan terhadap cairan memungkinkan terjadi kontak secara tepat.
Semakin besar partikel, maka cairan yang akan mendifusi akan memerlukan waktu yang
relative lama.
2. Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin terdistribusi dalam
permukaan kontak akan lebih luas terhadap pelarut. Semakin lama waktu pengadukan
berarti difusi dapat berlangsung terus dan lama pengadukan harus dibatasi pada harga
optimum agar dapat optimum agar konsumsi energi tak terlalu besar. Pengaruh faktor
pengadukan ini hanya ada bila laju pelarutan memungkinkan.
3. Temperatur
Pada banyak kasus, kelarutan material akan diekstraksi akan meningkat dengan
temperatur dan akan menambah kecepatan ekstraksi.

4. Pelarut
Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan viskositas yang cukup
rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut murni akan digunakan meskipun dalam
operasi ekstraksi konsentrasi dari solute akan meningkat dan kecepatan reaksi akan
melambat, karena gradien konsentrasi akan hilang dan cairan akan semakin viskos pada
umumnya (Coulson, 1955: 721). Dalam biologi dan proses pembuatan makanan, banyak
produk yang dipisahkan dari struktur alaminya menggunakan ekstraksi cair-padat. Proses
terpenting dalam pembuatan gula, leaching dari umbi-umbian dengan produksi minyak
tumbuhan, pelarut organic seperti hexane, acetone, dan lainnya digunakan untuk
mengekstrak minyak dari kacang kedelai, biji bunga tumbuhan dan lain-lain. Dalam
industri farmasi, banyak produk obat-obatan diperoleh dari leaching akar tanaman, daun
dan batang. Untuk produksi kopi instan, kopi yang sudah dipanggang di leaching dengan
air segar. Teh dapat larut diproduksi dengan menggunakan pelarut air dan daun teh
(Geankoplis, 1997: 724-725).

ALAT DAN BAHAN

a. Alat

No Nama Alat Jumlah


.
1 Unit Leaching 1 set
2 Gelas Ukur 250 ml 1 buah
3 Stopwatch 1 buah
4 Seperangkat Alat Distilasi Sederhana 1 set
5 Corong 1 buah
6 Gelas ukur plastik 2000 ml 1 buah
7 Piknometer 1 buah

b. Bahan

No. Nama Alat Jumlah


1 Etanol teknis 25 liter
2 Kemiri 1,5 kg

SKEMA KERJA

Dimasukkan air pendingin ke wadah umpan sampai hampir ada yang mengalir melalui
sifone ke labu utama. Drain air yang ada dalam wadah umpan, ukur volume atau
massanya (sebagai massa ekstrak B). Tutup kembali katup wadah umpan.
Dimasukkan pelarut etanol + 25 Liter ke dalam labu utama.

Ditimbang bahan yang di ekstrak (massa umpan A) sesuai kebutuhan ( + 2,5 kg


sebaiknya dihaluskan), bungkus dengan kain kasa lalu masukkan wadah umpan. Ambil
sedikit umpan untuk dianalisa kadar minyak dalam umpan (Xf).

Dibuka katup-katup air pendingin kondensor dengan kecepatan alir secukupnya.

Dibuka katup steam sampai tekanan + 1,5 bar.

Dibiarkan proses berjalan satu siklus (sampai wadah umpan terisi ekstrak hampir penuh,
sebelum ekstrak mengalir melalui sifone), lalu diambil sampel 50 mL dari katup wadah
umpan, tutup lagi, lalu biarkan proses terus berjalan.

Sambil proses berjalan, diukur kecepatan alir steam dari kondensat yang keluar. Ukur
juga suhu kondensat.

Dibiarkan proses berjalan sampai 10 siklus lagi. Tiap-tiap siklus ambil sampel ekstrak 50
mL untuk dianalisa kadar minyaknya dalam ekstrak (y).

Setelah siklus terakhir, dimatikan steam beberapa saat, keluarkan padatan sisa, lalu
distilasi etanol sampai didapat ekstrak yang cukup kental (murni), sedangkan destilat
etanolnya tampung pada jerigen etanol.
Dikeringkan padatan sisa, timbang dan analisa kadar minyaknya.
T Kondensat Sampel Ekstrak Sampel Ekstrak
Siklus t y1 yield
Pelarut Fcond Tcond Sebelum distilasi Setelah Distilasi
ke- (min)
(ᵒC) (ml/s) (ᵒc) m camp + m V ρ m m V V ρ
pikno (g) camp sampel sampel minyak minyak etanol minyak minyak
1 16 61 2.780 62 53.5523 19.7371 50 0.7976 7.331 0.721 47 2.55 0.7460 0.01808 7.691%
2 14 62 2.041 61 53.3962 19.5810 50 0.7913 8.501 1.891 46 3.9 0.7524 0.04779 20.171%
3 11 61 0.980 62 53.3267 19.5115 50 0.7885 8.994 2.384 48 1.65 0.7572 0.06047 25.429%
4 16 62 1.548 61 53.4000 19.5848 50 0.7910 9.232 2.622 48 0.95 0.7614 0.0663 27.968%
5 31 62 1.440 61 53.3990 19.5838 50 0.7914 9.246 2.636 47 0.15 0.7740 0.06662 28.117%
DATA EKSPERIMEN

Siklus Menit Waktu Waktu P P Suhu ρ air Kondensat Hs


Fcond Fcond Tcond hs (kj/kg) λ (kj/kg) q (kj)
ke- ke- (min) (s) (bar) (kPa) (ᵒC) (g/ml) (kj/kg)
(ml/s) (L/s) (ᵒC)
5.8487
1 19 16 960 1.1 2.780 62 2706.41 504.074424 2202.333592
200 120.082 0.95528 0.00278 1
4.4103
2 47 14 840 1.2 2.041 61 2682.07 435.818894 2246.255687
120 103.965 0.96199 0.002041 6
2.1246
3 77 11 660 1.3 0.980 62 2679.03 427.286952 2251.745949
110 101.950 0.96283 0.00098 9
3.3672
4 108 16 960 1.1 1.548 61 2675.99 418.755011 2257.236211
100 99.9356 0.96367 0.001548 6
5 136 31 1860 1 110 101.950 0.96283 1.440 0.00144 61 2679.03 427.286952 2251.745949 3.122
Grafik % yield
30.000%
25.000%
20.000%
15.000%
yield

10.000%
5.000%
0.000%
0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5
siklus ke-

Grafik Kebutuhan Panas (q)


7
6
5
4
q (kj)

3
2
1
0
0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5
siklus ke-

ANALISA DATA
Massa pikno kosong = 33,8718 gram
Volume pikno = 24,745 ml

Contoh perhitungan
Siklus 1
53 ml ml
 Laju kondensat= =2,78
19 s s
massa pikno berisi campuran−massa pikno kosong
 Densitas campuran=
volume pikno
53,5523−33,8718
¿ =0,7976 gram/ml
24,745

 Densitas minyak kemiri


massabotol berisi minyak−massa botol kosong
¿
volume minyak
7,331−6,61
¿ =0,746 gram/ml
2,55

 Perhitungan interpolasi hs (entalphy saturated liquid)

120,082−120 x−503,71
=
125−120 524,99−503,71
0,082 x−503,71
=
5 21,28
0,3489 = x – 503,71
504,0744 = x (hs)

 Perhitungan interpolasi Hv (entalphy daturated vapor)


120,082−120 x−2706,3
=
125−120 2713,5−2706,3
0,082 x−2706,3
=
5 7,2
0,118 = x – 2706,3
2706,418 = x (Hv)

 λ = Hv – hs = 2706,418 – 504,0744 = 2202,3436 kJ/kg

 q = flowrate x densitas air x λ x t / 1000 = 2,780 x 0,995 x 2202,3436 x 960


= 5,84871 kj
 ρ campuran = X1 . ρ etanol + X2 . ρ minyak
ρ campuran = X1 . ρ etanol + (1-X1) . ρ minyak
ρ campuran - ρ minyak = X1 . ρ etanol - X1 . ρ minyak
(ρ campuran - ρ minyak) : (ρ etanol - ρ minyak) = X1
X1 = ( 0,7998−0,7740¿ :(0,7812−0,7740)=¿ 0.7330
 Y1 = X2 = 1 – 0,7330 = 0,267

 B = V etanol . Y1 = 47 . 0,267 = 12,549

 % recovery = B . Y1 = 12,549 x 0,267 = 3,3505

 Massa kemiri awal = 1500 gram


Massa kemiri akhir = 1315 gram
Effisiensi = massa kemiri akhir/massa kemiri awal
= 1315/1500 x 100%
= 87,6 %
 Total rafinat = 1735 ml
Distilasi menggunakan sampel 200 ml rafinat
Minyak = 67 ml
1735 ml
Minyak total = x 67 ml = 581,25 ml
200 ml
Densitas minyak kemiri literature = 0,93 gram/ml
Massa minyak = 581,25 ml x 0,93 gram/ml = 540,539 gram
massa ekstrak 1315 gram
Yield ekstrak = = = 0,7304
massa ektrak+ rafinat 1315 gram+485, 35 gram
massa rafinat 485,35 gram
Yield rafinat = = = 0,269
massa ektrak+ rafinat 1315 gram+ 485,35 gram

BAHASAN
Pada praktikum kali ini praktikan melakukan praktikum yang berjudul Leaching
(ekstraksi padat cair). Tujuan dari praktikum ini adalah mengerti dan memahami proses
Leaching, mengoperasikan peralatan Leaching dengan benar dan aman, menghitung efisiensi
tahap dan yield proses Leaching, serta menghitung kebutuhan steam dan jumlah panas yang
digunakan untuk proses Leaching.
Pada praktikum leaching (ekstraksi padat-cair) hal yang dilakukan adalah
mengekstraksi pelarut secara padat-cair dimana sampel yang digunakan adalah biji kemiri
sebanyak 1,5 kg dengan pelarut etanol sebanyak 25 liter. Kemiri yang digunakan harus
dihaluskan dahulu agar proses ekstraksi pelarut dapat berjalan dengan baik sehingga pelarut
dapat mengekstraksi lemak yang terdapat dalam kemiri itu.
Pelarut etanol yang digunakan karena secara teori pelarut yang digunakan harus
memenuhi kriteria bahwa daya larut terhadap solute cukup besar, dapat diregenerasi, serta
antar solven dan diluen harus memiliki perbedaan densitas yang besar. Penggunaan pelarut
etanol dilakukan karena pelarut ini bersifat mudah menguap dengan titik didih yang rendah,
merupakan pelarut yang dapat melarutkan minyak atau lemak dengan baik sehingga cocok
digunakan pada isolasi lemak yang terkandung di dalam kemiri dan etanol juga tidak mudah
terbakar sehingga bila bereaksi dengan udara tidak akan menimbulkan ledakan.
Pemanasaan pelarut etanol dilakukan selama 5 kali siklus. Dalam tiap siklus, warna
ekstrak yang dihasilkan semakin pudar dari kuning keruh menjadi bening. Densitas campuran
tiap siklus yang dihasilkan juga naik turun atau mengalami fluktuasi. Hal ini tidak sesuai
dengan literatur yang seharusnya densitas campuran mengalami penurunan karena zat terlarut
dalam kemiri akan berkurang.
Pada setiap siklus dilakukan pengambilan sampel sebanyak 100ml. Hasil
praktikum didapatkan berat kemiri akhir sebesar 1315 gram dari semula berat kemiri
1500 gram, sehingga didapatkan efisiensi sebesar 87,6%. Berdasarkan praktikum
didapatkan rafinat sebesar 1735 ml dan minyak kemiri sebesar 581,25 ml.
Berdasarkan perhitungan didapatkan yield ekstrak sebesar 73% dan yield rafinat
sebesar 27%. Hal ini menunjukan bahwa ekstraksi berlangsung kurang optimal.
Kondisi tersebut dapat diakibatkan karena beberapa faktor. Faktor operasi yang
mempengaruhi laju leaching yaitu ukuran partikel padatan, jenis pelarut, suhu operasi,
dan pengadukan atau sirkulasi pelarut. Faktor utama yang berpengaruh pada
praktikum ini adalah suhu operasi. Hal ini disebabkan kondisi steam pada praktikum
tidak stabil karena sempat terjadi pemanasan yang berlebihan pada steam sehingga
mengakibatkan kemiri gosong.
Dari hasil perhitungan didapatkan panas yang dihasilkan pada siklus 1 sebesar 5,84
kj; siklus 2 sebesar 4,41 kj; siklus 3 sebesar 2,12 kj; siklus 4 sebesar 3,36 kj; dan siklus 5
sebesar 3,12 kj.

DAFTAR PUSTAKA
- Coulson, JM., & Richardson, JF., Chemical Engineering, Vol. 2, Pergamon Press,
London, 1980.
- Geankoplis, Christie, Transport Processes and Unit Operations, Allyn & Bacon, Inc.,
Boston, 1988.
- Green, Don, Perry’s Chemical Engineering Handbook, 6th ed. McGraw-Hill, New
York, 1988.
- McCabe, Smith & Harirot, Unit Operation of Chemical Engineering, 4th ed., McGraw-
Hill Book, Co., New York, 1986.
- Modul Ajar Praktikum Pilot Plan 2017 Politeknik Negeri Malang.