Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Farmasi (bahasa Inggris: Pharmacy), bahasa Yunani: pharmacon,
yang berarti obat atau medika. Merupakan salah satu bidang profesional
kesehatan yang merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia,
yang mempunyai tanggung-jawab memastikan efektivitas dan keamanan
penggunaan obat. Ruang lingkup dari praktek farmasi termasuk praktek
farmasi tradisional seperti peracikan dan penyediaan sediaan obat, serta
pelayanan farmasi modern yang berhubungan dngan layanan terhadap pasien
(patient care) di antara layanannya klinik, evaluasi, efikasi dan keamanan
penggunaan obat dan penyediaan informasi obat. Kata farmasi berasal dari
kata farma (pharma). Farmasi merupakan istilah yang dipakai pada tahun
1400-1600an. Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang
berkaitan erat dengan produk dan pelayanan produk untuk untuk kesehatan.
Dalam bidang indusrti farmasi, perkembangan teknologi farmasi sangat
berperan aktif dalam peningkatan kualitas obat dengan meminimalkan efek
samping obat tanpa harus mengurangi atau mengganggu dari efek
farmakologis zat aktif obat (Anief, 2007).
Dengan kata lain berbicara soal farmasi tentu saja berbicara seputar
obat-obatan. Obat adalah racikan dari zat-zat aktif yang didapat dari alam
yang umumnya zat-zat aktif tersebut diambil atau diekstraksi dari hewan
atau tumbuhan. Sebagai pengantar untuk mengenal obat-obatan sebagai
sumber atau bahan sediaan obat, dalam ilmu farmasi ada mata kulliah yang
membahas tentang berbagai sediaan obat salah satunya emulsi tepatnya pada
mata kulliah farmasetika dasar.
Farmasetika dasar adalah ilmu yang mempelajari tentang cara
penyediaan obat yang meliputi pengumpulan, pengenalan, pengawetan, dan
pembakuan bahan obat-obatan serta pembuatan sediaan farmasi menjadi
bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat, serta perkembangan

1
2

obat yang meliputi ilmu dan teknologi pembuatan obat dalam bentuk
sediaan yang dapat digunakan dan diberikan kepada pasien. Salah satu
sediaan tersebut adalah sediaan emulsi.
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak
dapat bercampur, biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang
satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini
tidak stabil, butir- butir ini bergabung (koalesen) dan membentuk dua
lapisan yaitu air dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pengemulsi
(emulgator) yang merupakan komponen yang paling penting untuk
memperoleh emulsi yang stabil. Semua emulgator bekerja dengan
membentuk film (lapisan) di sekeliling butir- butir tetesan yang terdispersi
dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan terpisahnya
cairan dispersi sebagai zat pemisah. Terbentuk dua macam tipe emulsi yaitu
tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi dalam fase air dan tipe A/M
dimana fase internal adalah air dan fase eksternal adalah minyak. Emulsi
sangat bermanfaat dalam bidang farmasi karena memiliki beberapa
keuntungan, satu diantaranya yaitu dapat menutupi rasa dan bau yang tidak
enak dari minyak. Selain itu, dapat digunakan sebagai obat luar misalnya
untuk kulit atau bahan kosmetik maupun untuk penggunaan oral.
Pada praktikum farmasetika dasar ini emulsi paraffin cair tipe w/o,
dengan menggunakan emulgator dari golongan surfaktan yaitu tween 80 dan
span 80. Menurut pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan
faktor yang diperlihatkan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak
dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan.
I.2 Maksud Dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui pengertian dan memahami cara pembuatan emulsi
yang baik dan benar.
1.2.2 Tujan Percobaan
1. Mahasiswa Dapat Mengenal Pengertian Emulsi
3

2. Mahasiswa Mampu Mengetahui Pengaruh Alat Pada Stabilitas Emulsi


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Pengetian Emulsi
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau
larutan obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat
pengemulsi atau surfaktan yang cocok (Dirjen POM, 1979).
Selain itu, emulsi adalah emulsi adalah sistem dua fase, yang salah
satu cairannya terdispersi dalam cairan lain dalam bentuk tetesan kecil.
(Dirjen POM, 1995).
II.1.2 Komponen Emulsi
a. Komponen dasar, yaitu bahan pembentuk emulsi harus terdapat di
dalam emulsi (Syamsuni, 2006)
1. Fase dispers/ fase internal/ fase diskontinu/fase terdispersi/fase dalam,
yaitu zat cair yang terbagi-bagi menjadi butiran kecil ke dalam zat cair
lain.
2. Fase eksternal/fase kontinue/ fase pendispersi/fase luar, yaitu zat cair
dalam emulsi yang berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari
emulsi tersebut.
3. Emulgator, adalah bagian dari emulsi yang berfungsi untuk
menstabilkan emulsi.
b. Komponen tambahn, adalah bahan tambahan yang sering ditambahkan
ke dalam emulsi untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Misalnya
cirrigen saporis, odoris, colouris, pengawet (preservative), dan anti
oksidan (Syamsuni, 2006).

4
5

II.1.3 Ketidakstabilan Emulsi


Emulsi dikatakan tidak stabil jika mengalami hal-hal seperti dibawah ini
(Anief, 2007) :
1. Flokulasi dan Creaming
Merupakan pemisahan dari emulsi menjadi beberapa lapis cairan,
dimana masing-masing lapis mengandung fase dispers yang berbeda.
2. Koalesen dan pecahnya emulsi (cracking)
Proses cracking bersifat tidak dapat kembali.
3. Inversi
Peristiwa berubahnya sekonyong-konyong tipe emulsi M/A ke tipe A/M
atau sebaliknya.
Emulsi dikatakan tidak stabil menurut (Syamsuni, 2006) :
1. Creaming yaitu terpisahnya emulsi menjadi 2 lapisan, yaitu satu bagian
mengandung fase dispesi lebih banyak daripada lapisan yang lain.
Creaming bersifat reversible, artinya jika dikocok perlahan-lahn akan
terdispersi kembali.
2. Koalesensi dan cracking (beaking) adalah pecahnya emulsi karena film
yang meliputi partikel rusak dan butir minyak berkoalesensi atau
menyatu menjai fase tunggal yang memisah. Emulsi ini bersifat
ireversibel (tidak dapat diperbaiki kembali.
3. Inversi fase adalah adalah peristiwa berubahnya tipe emulsi o/w
menjadi w/o secara tiba-tiba atau sebaliknya. Sifatnya ireversibel.
II.1.4 Tipe Emulsi
Terdapat 2 macam emulsi yang pertama emulsi dimana minyak
adalah fase terdispersi di dalam air yang kemudian disebut sebagai emulsi
minyak dalam air (o/w). yang ke dua emulsi dimana air adalah fase
terdispersinya di dalam minyak yang kemudian disebut emulsi air dalam
minyak (w/o). Diameter droplet sangat mudah berubah tetapi dalam
emulsi farmaseutical droplet dapat digolongkan polidispersi dengan
rentang diameter kira-kira dari 0,1-0,5 mikrometer. Emulsi dapat
6

diklasifikasikan sebagai minyak dalam air (o/w) atau air dalam minyak
(w/o), tergantung dari kondisi fase kontinyunya baik itu air atau minyak
(Parrot, 1971).
Tipe-tipe emulsi :
1. Emulsi tipe O/W (oil in water) atau M/A (minyak dalam air), adalah
emulsi yang terdiri atas butiran minyak yang tersebar atau terdispersi ke
dalam air. Minyak sebagai fase internal dan air sebagai fase eksternal
(Syamsuni, 2006).
2. Emulsi tipe W/O (water in oil) atau air dalam minyak, adalah emulsi
yang terdiri atas butiran air terebar atau terdispersi ke dalam minyak.
Air sebagai fase internal dan minyak sebagai fase eksternal. (Syamsuni,
2006).
3. Emulsi ganda M/A/M dengan karakteristik minyak dalam air dam
minyak .
4. Emulsi ganda A/M/A dikembangkan untuk memperlambat pelepasan
obat di dalam tubuh, yang pada tahap awal obat yang larut dalam fasa
air emulsi primer (A/M) akan dilepas menjadi fasa luar air dari emulsi
A/M/A tersebut (Tirnaksiz, 2005).
II.1.5 Metode Pembuatan Emulsi
Metode pembuatan emulsi terbagi atas 3 : (Syamsuni, 2006)
1. Metode Gom Basah
Metode ini cocok untuk emulsi yang dibuat dengan mucilago atau
gom yang tidak larut sebagai emulgator. Metode ini penting digunakan
meski lebih lembab dan tidak sebaik metode kontinental. Penting juga
digunakan jika emulgator yang tersedia hanya dalam bentuk air atau
harus dilarutkan lebih dahulu sebelum digunakan.
Caranya : Gom dibuat dengan jumlah kecil lalu sejumlah kecil
minyak di tambahkan dengan pengadukan teratur. Setelah emulsi
sangat visko, ditambahkan lagi dengan pengadukan teratur sampai
7

semua minyak tercampur. Setelah semua minyak ditambahkan,


campuran dicukupkan volumenya dengan air.
2. Metode Gom Kering
Metode ini cocok untuk emulsi yang dibuat dari emulgator gom
kering. Caranya, Gom kering (dengan jumlah setara dari 1 – 4 dari
jumlah minyak), dideskripsikan sekaligus dengan pengadukan teratur
sampai semua minyak tercampur dengan volume air ½ X jumlah
minyak. Ditambahkan sekaligus dengan pengadukan teratur.
Perbandingan 4 bagian dari minyak, 2 bagian air dan 1 bagian
emulgator. Kemudian pengadukan dilanjutkan dengan kecepatan tinggi
menggunakan gerakan spiral sampai terbentuk emulsi utama yang
kembali, suara khas akan terdengan saat emulsi utama yang stabil telah
jadi.
3. Metode Botol
Metode ini digunakan khusus untuk emulsi yang mengandung
minyak menguap dan minyak encer lainnya untuk mencegah zat
tersebut terpercik.
Caranya : Minyak dimasukkan dulu dalam botol besar lalu segera
ditambahkan gom kering dan dikocok dengan cepat. Penting untuk
menambahkan air dengan segera setelah gom terdispersi. Emulsi utama
akan dibentuk melalui pengocokan
II.1.6 Keuntungan dan Kerugian Emulsi
a. Keuntungan (Martin dkk, 1993) :
1. Pemberian oral yang baik untuk cairan yang tidak larut dalam air
terutama jika fase terdispersi mempunyai rasa yang tidak enak.
Beberapa senyawa yang tidak larut dalam lemak seperti vitamin
diabsorpsi lebih sempurna jika diemulsikan dari pada jika diberi peroral
dalam suatu larutan berminyak.
2. Penggunaan emulsi intravena merupakan suatu cara merawat pasien
lemah yang tidak bisa menerima obat-obat yang diberi secara oral.
8

3. Pengguanaan emulsi pada sediaan topical contohnya kosmetik lebih


baik karena cepatdan mudah dalam penyebaranya dan sempurna pada
area yang digunakan.
4. Digunakan dalam sediaan aerosol untuk menghasilkan busa.
b. Kerugian
1. Sepertinya emulsi dapat dikatakan memiliki cracked (pecahan) dan
bagian teredistribusi di dalam fase internal adalah bahan yangharus
selalu dikocok dalam mikstura (Jenkins, 1957).
2. Emulsi kadang-kadang sulit dibuat dan membutuhkan tehnik
pemprosesan khusus. Untuk menjamin karya tipe ini dan untuk
membuatnya sebagai sediaan yang berguna, emulsi harus memiliki sifat
yang diinginkan dan menimbulkan sedikit mungkin masalah-masalah
yang berhubungan (Lachman, 1994).
II.2 Uraian Bahan
1. Aethanolum (Dirjen POM, 1979 )
Nama remi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol, Alkohol
Berat molekul : 46.07 g/mol
Rumus molekul : C2H5OH
Rumus struktur :
H H

H C C O H

H H

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


Pemerian : Cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak
berwarna, dan merupakan alcohol yang paling
sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
9

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dan klorofor dan


dalam eter.
Kegunaan : Untuk mensterilkan alat dan sebagai pelarut.
2. Aqua Destilata (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILATA
Nama lain : Air suling
Berat molekul : 18,02 g/mol
Rumus struktur :

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik


Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa
Kelarutan : Larut dengan semua jenis larutan
Kegunaan : Sebagai zat pelarut
3. Gummi Arabicum (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : GUMMI ACACIAE
Nama lain : Gom akasia atau gom arab
Berat molekul : -
Rumus molekul : -
Rumus struktur :

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


10

Pemerian : Serbuk, putih atau puti kekuningan, tidak berbau.


Kelarutan : Larut hampir sempurna dalam air, tetapi sangat
lambat, meninggalkan sisa bagian tanaman dalam
jumlah sangat sedikit, dan memberikan cairan
seperti mucilage, tidak berwarna atau kekuningan,
kental, lengket, transparan, bersifat asam lemah
terhadap kertas lakmus biru, praktis tidak larut
dalam etanol dan dalam eter P.
Kegunaan : Sebagai zat tambahan dan zat pengikat
4. Paraffinum Liquidum (Dirjen POM, 1979 ; Rowe, 2009)
Nama resmi : PARAFFINUM LIQUIDUM
Nama lain : Parafin cair
Berat molekul : -
Rumus molekul : C14-C18
Rumus struktur :

Penyimpanan : Wadah tertutup rapat, hindari dari cahaya, kering


dan sejuk.
Pemerian : Cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi,
tidak berwarna, hampir tidak mempunyai rasa.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol
(95%) P, larut dalam kloroform P dan dalam eter
P.
Kegunaan : Zat aktif.
11

5. Sirup Simplex
a. Sukrosa (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Sucrosum
Nama lain : Sukrosa
Berat molekul : 342,20
Rumus molekul : C12H22O11
Rumus struktur :

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk warna putih,
tidak berbau, rasa manis.
Kelarutan : Larut dalam 0.5 bagian air dan dalam 370 bagian
etanol (95%) P.
Kegunaan : Sebagai zat tambahan.
b. Metil Paraben (Dirjen POM, 1979 ; Sweetman, 2009)
Nama resmi : METHYLIS PARABENUM
Nama lain : Meril paraben
Berat molekul : 152,15
Rumus molekul : C8H8O3
Rumus struktur :

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.


12

Pemerian : Hablur tidak berwarna atau serbuk warna putih,


tidak berbau, tidak mempunyai rasa, agak
membakar diikuti rasa tebal.
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air
mendidih, dalam 3,5 bagian etanol 95% P dan
dalam 3 bagian aseton P, mudah larut dalam eter P
dan dalam larutan alkali panas, jika didinginkan
larutan tetap jernih.
Kegunaan : Zat tambahn dan zat pengawet.
BAB III
METODE PENELITIAN
III.1 Tempat Pelaksanaan dan Waktu
Praktikum pembuatan emulsi ini dilaksanakan pada tanggal 14
November tahun 2016, pukul 13.00 WITA bertempat di Laboratorium
Farmasetika, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan,
Universitas Negeri Gorontalo
III.2 Alat dan Bahan
III.2.1 Alat

No Nama alat Gambar Fungsi

1. Cawan Porselen
Sebagai wadah
untuk meletakan
bahan

2. Kaca Arloji
Sebagai tempat
untuk
menimbang
bahan

3. Neraca Analitik
Utuk menimbang
bahan obat

13
14

4. Pipet Tetes
Untuk
memindahkan
cairan dalam
jumlah tertentu

5. Gelas Ukur
Untuk mengukur
cairan

III.2.2 Bahan
No Nama bahan Gambar Fungsi

1. Alkohol Berfungsi untuk


mensterilkan
alat

2 Gom Arab Berfungsi


sebagai
emulgator
15

3 Kertas Perkamen Berfungsi


sebagai tempat
untuk meletakan
serbuk

4 Paraffin Berfungsi
sebagai fase
terdispersi

5 Tissue Berfungsi untuk


membersihkan
alat

6 Sirup Simplex
Zat tambahan

7 Aquades
Zat tambahan
16

8 Pewarna
Zat tambahan

III.3 Cara Kerja


1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam percobaan.
2. Dibersihkan alat yang akan digunakan dengan alkohol 70%.
3. Ditimbang gom arab 2.5 g dengan menggunakan neraca analitik.
4. Diukur paraffin 5 ml dengan menggunakan gelas ukur.
5. Diukur aqua destilata sebanyak 3.75 ml digelas ukur.
6. Diukur etanol 90% sebanyak 6 ml dengan gelas ukur.
7. Diukur sirup simplex sebanyak 15 ml digelas ukur.
8. Dimasukkan gom arab kedalam lumpang, kemudian digerus hingga
halus.
9. Dimasukkan paraffin cair, digerus hingga bercampur rata.
10. Dimasukkan air untuk korpus, digerus hingga bercampur rata sampai
menghasilkan bunyi yang spesifik.
11. Dimasukkan sirup simplex dan digerus hingga bercampur rata.
12. Ditambahkan pewarna dan jasmine oil sebanyak 2 teteslalu digerus
hingga bercampur rata.
13. Dimasukkan etanol yang telah diencerkan sebanyak 3 ml lalu digerus
14. Dimasukkan kedalam botol berwarna cokelat.
15. Ditambahkan aqua destilata hingga batas kalibrasi.
16. Di tutup rapat, kemudiaan dikocok.
17. Diberi etiket dan copy resep pada sediaan emulsi yang telah jadi.
BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan

Gambar IV.I
Sediaan emulsi
IV.2 Resep Asli
Dr. Kristanto, Sp. PD
SIK : 228/FM/GTO/84
Jl. Agus Salim No. 30
Telp 0435 – 8755492
Gorontalo, 7-02-2012

R/ Paraffinum Liquidum 10 mL
Gumni Arabicum 25 mg
Sirup Simpleks 15 ml
Aethanolum 90%
Jasmine oil q.s
m.f Emuls da in fl No. 1
s b d.d II C a.c

Pro : Vyra
Umur : 27 tahun

17
18

IV.2.1 Narasi Resep


a. Latin (Syamsuni, 2006)
Recipe paraffidum liquidum 5 ml, gummi arabicum 2.5 g, sirup
simplex 15 ml, aethanolum 90% 6 ml, jasmine oil quantum satis, aqua
destilata ad 50 ml. Misce fac emulsa da in flacon numero uno. Signa
bisde die duo cochlear ante coenam
b. Indonesia (Syamsuni, 2006)
Ambillah paraffinum liquidum 5 ml, gummi arabicum 2.5 g, sirup
simplex 15 ml, aethanol 90% 6 ml, jasmine oil secukupnya, aqua
destilata sampai 50 ml. Campur dan buatlah emulsi. Masukkan kedalam
botol sebanyak satu. Tandai dua kali sehari dua sendok makan sebelum
makan
IV.2.2 Farmakologi Zat Aktif
Paraffin Liquidum termasuk salah satu jenis pencahar emolien.
Obat yang termasuk golongan ini memudahkan defekasi (buang air besar)
dengan cara melunakkan tinja tanpa merangsang peristaltik usus
(sembelit), baik langsung maupun tidak langsung. Bekerja sebagai zat
penurun tegangan permukaan. Obat yang termasuk dalam golongan ini
adalah dioktilnatrium sulfosukonat dan paraffin liquidum. Paraffin
Liquidum (Mineral Oil) adalah campuran cairan hidrokarbon yang
diperoleh dari minyak bumi. Setelah meminum obat tinja ini melunak
disebabkan kurangnya reabsorpsi air dari tinja. Paraffin Liquidum tidak
dicerna didalam usus dan hanya sedikit diabsorpsi. Yang diabsorpsi
ditemukan pada limfa nodus mesenteric, hati dan limfa. Kebiasaan
menggunakan Paraffin Liquid akan mengganggu absorpsi zat larut lemak,
misalnya absorpsi karoten menurun 50%, absorpsi vitamin A dan vitamin
D juga akan menurun. Absorpsi vitamin K menurun dengan akibat
hipoprotrombinemia dan juga dilaporkan terjadinya pneumonia lipid.
Obat ini menyebabkan pruritus ani, menyulitkan penyembuhan pasca
19

bedah daerah anorektal dan menyebabkan pendarahan. Jadi untuk


penggunaan kronik jelas obat ini tidak aman (Dirjen POM, 1995).
IV.3 Perhitungan Bahan dan Dosis
IV.3.1 Perhitungan Bahan
Paraffinum liquidum = 5 ml
Gom arab 5 gr = ½ x Jumlah paraffin
= ½ x 5 ml
= 2.5 ml
Sirup simplex = 15 ml
Aethanolum 90% = 6 ml
Aqua destilata = 50 ml – (5 ml + 2.5 ml + 15 ml + 6 ml)
= 50 ml – 28.5 ml
= 21.5 ml
Air untuk korpus = 1 ½ x Gom arab
= 1 ½ x 2.5 ml
= 3.75 ml
IV.3.2 Perhitungan Dosis
Paraffinum liquidum : DL = -/15-45
1 sendok makan = 15 ml
= 15/50 x 5 ml = 1.5 ml
Untuk 1 kali, II C = 2 x 1.5 = 3 ml
Untuk 1 hari = 2 x 2 sendok makan
= 2 x 3 ml/15
= 0.4 ml
Persentase 1 hari = 0.4 x 100%
= 40% (Tidak Over dosis)
IV.4 Pembahasan
Pada praktikum ini, praktikan membuat sediaan serbuk berupa
serbuk tabur. Langkah pertama yang di lakukan adalah membersihkan alat
20

menggunakan alcohol 70% Agar terhindar dari mikroba organisme (Drtjen


POM, 1979)
Lalu, Menimbang Gom arab terlebih dahulu sesuai dengan
kebutuhan. Gom arab berperan sebagai emulgator pada sediaan emulsi
karena gom arab bekerja sebagai koloid pelindung dan membentuk cairan
yang kental, Sehingga laju pengendapannya cukup kecil (Syamsuni, 2006)
Setelah ditimbang, serbuk gom arab digerus terlebih dahulu
menggunakan lumpang dan alu.Pada praktikum kali ini, kami
menggunakan metode gom kering. Metode ini, Gom Arab dicampur
dengan minyak parafin telebih dahulu, kemudian ditambah air untuk
membentuk korpus emulsi, baru diencerkan (Syamsuni, 2006).
Parafin liquid 30 % sebagai zat aktif dalam sediaan ini dibuat
dalam bentuk emulsi untuk digunakan secara oral yang fungsinya sebagai
laksativ (obat pencahar). Parafin terdiri atas campuran senyawa
hidrokarbon cair jenuh yang diperoleh dari minyak bumi.
Selanjutnya ditambahkan sirup simpleks dan diaduk dengan
penggerusan yang konstan. Penggerusan dilakukan sampai campuran
bahan berubah warna menjadi putih cream dan menghasilkan bunyi
“crack” pada pergerakan alu (Ansel, 1989).
Langkah selanjutnya yaitu menambahkan dua bagian air secara
perlahan-lahan, dan bahan diaduk sesegera mungkin agar semua bahan
tercampur dengan rata. Setelah terbentuk korpus emulsi, campuran bahan
dimasukkan ke dalam botol. Etanol di tambahkan terakhir karena zat –zat
yang menganggu kestabilan emulsi di tambahkan pada langkah terakhir
(Ansel, 1989).
Pada percobaan kali ini, emulsi yang dihasilkan cukup baik karena
menurut Ansel, 1989 bahwa suatu sediaan emulsi yang baik yaitu tidak
terjadinya breaking/pecah pada mucilago emulsi.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat di ambil adalah sebagai berikut :
1. Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan
obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat
pengemulsi surfaktan yang cocok.
2. Pengaruh alat terhadap stabilitas emulsi, berdasarkan teorinya dari
ketiga alat yang digunakan bahwa blender merupakan alat yang
menciptakan kestabilan emulsi yang paling baik, dan diurutan kedua
yaitu homogenizer dan yang menciptakan stabilitas yang paling buruk
adalah mixer.
V.2 Saran
V.2.1 Saran untuk Jurusan
Sebaiknya jurusan farmasi lebih melengkapi alat-alat yang ada di
laboratorium dan menyiapkan bangku di koridor.
V.2.3 Saran untuk Praktikan
Dalam melakukan praktikum, praktikan harus mengerjakan dengan
teliti dan hati-hati agar mendapat sediaan emulsi yang sesuai. Praktikan
juga harus tenang dan tidak ribut saat melakukan praktikum.
V.2.4 Saran Untuk Laboratorium Farmasetika
Sebaiknya laboratorium farmasetika dijaga kebersihan dan
kenyamanannya agar praktikum berjalan dengan lancar.

21
DAFTAR PUSTAKA
Ansel C. Howard. 1985. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Jenkins, G.L. 1957. Scoville’s The Art Of Compounding. London : McGraw-Hill
Book Company
Lachman L, Liebermen HA, Kanig JL. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri
Edisi Ketiga. Jakarta : Universitas Indonesia.
Martin, A.James. 1993.Farmasi Fisik II. Jakarta : UI Press
Parrot, E.L. 1971. Pharmaceutical Technology. USA : Burgess Publishing.
Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.
Sweetman, S.C. 2009. Martindale 36 The Complete Drug Reference. London: The
Pharmaceutical press.
Tirnaksiz, F. 2005. A Topical W/O/W Multiple Emulsions Pre-pared With
Tetronic 908 As Hydrofilik Surfactant. AS : Formulation
Characterization And Realease Study.