Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

LIQUID PENETRANT TEST

Disusun Oleh :

KELOMPOK II
Azan Hidayatullah 3334140296
Brama Arnoldy Saputra 3334141332
Elisa Apriliana Anggraini 3334141732
Kholil Azmi 3334142036
Naufal Eka Vinanza 3334140232

JURUSAN TEKNIK METALURGI - FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

CILEGON - BANTEN

2017
I. Pengertian Non Destructive Test (NDT)

Non Destructive Test (NDT) merupakan metode pengujian untuk memeriksa ada atau

tidaknya cacat pada sebuah benda kerja. Oleh karena itu, pengujian tersebut tidak boleh

menimbulkan kerusakan. Tujuan dilakukannya NDT adalah untuk meyakinkan atau

menjamin bahwa suatu benda dapat bekerja dengan sempurna sesuai dengan rancangan.

NDT atau biasa dikenal dengan pengujian tanpa kerusakan adalah aktivitas tes atau

pengujian terhadap suatu objek (material, rangka mesin, rangka pipa, dll) untuk mengetahui

lebih jelas kondisi mesin dan untuk mengetahui isi kandungannya dan komposisi yang ada

dalam objek pengujian, apakah kondisi objek dalam keadaan rusak, retak, hancur atau terjadi

ketidak sinambungan objek atau hal-hal lainnya yang mungkin terjadi. Pengujian yang

terstruktur dilakukan mendapatkan hasil yang maksimal tanpa merusak objek yang sedang

dalam proses pengujian. Pada dasarnya, pengujian ini dilakukan untuk menjamin bahwa

material (objek) yang digunakan masih dalam masa aman dan belum melewati batas toleransi

kerusakan material.

Proses Non Destructive Test (NDT) biasanya dilakukan dua kali atau bisa lebih

berdasarkan kebutuhannya, berikut dua proses yang mayoritas dilakukan :

1. Pengujian objek dari awal pembuatan serta pengujiannya sampai dengan diakhir

proses pengujian untuk menentukan kandungan objek dan dapat ditentukan untuk

menguji hasil material serta mutunya, Non Destructive Test (NDT) ini dijadikan

sebagai bagian dari kendali mutu dari pada mesin atau material itu sendiri.

2. Pengujian material dan mesin yang telah dalam tahap pengesahan standarisasi setelah

material atau mesin digunakan dalam jangka waktu tertentu, setelah itu diuji tingkat

ketahanan berdasarkan penggunaan mesin dengan waktu yang telah ditentukan

bertujuan untuk memperoleh kekurangan atau kegagalan suatu mesin atau material

sebelum mencapai batas toleransi kerusakannya.


Beberapa yang perlu diperhatikan dalam sistem pengujian Non Destructive Test:

1. Pengujian ini memprioritaskan keutuhan mesin maksud utamanya adalah agar

terjaganya objek yang diuji dari awal pengujian tanpa memberikan dampak buruk

atau pun kehancuran objek uji dan mengulas habis hasil data tentang objek yang

diproses untuk mendapatkan review kekurangan objek, kerusakan objek, tingkat cacat

objek dan kegagalan objek yang terjadi. Setelah didapatkan hasil yang akurat objek

yang telah diuji jika mengalami banyak kerusakan dapat dilakukan condition

monitoring yang terstruktur untuk dapat dimaksimalkan kembali dalam tahap

penggunaan atau pengujian kembali tetapi jika mengalami cacat fisik pada objek yang

diuji akan ditindak lanjuti berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku dan

penyesuaian standarisasi objek yang telah ditetapkan.

2. Vibration Analysis (Analisa Getaran) analisa getaran dapat dilakukan pada saat

pengujian untuk mengetahui kondisi mesin berdasarkan getaran mesin.

3. Sound Analysis (Analisa Suara) analisa suara dapat dilakukan pada saat pengujian

untuk mengetahui kondisi mesin berdasarkan suara mesin.

Ada banyak cara pemeriksaan NDT, yang setiap metoda pengujiannya memiliki

kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun jenis metode pengujian yang sering

dilakukan, yaitu:

1. Visual Test

2. Liqiud Penetrant Test

3. Magnetic Particle Test

4. Ultrasonic Test

5. Radiographic Test

II. Liquid Penetrant Test


Liquid Penetrant Testing (LPT) merupakan salah suatu metode pengujian tidak

merusak (Non Destructive Test) pada permukaan material yang tidak berpori (non porous

material). Metode yang digunakan pada Penetrant Test ada dua pilihan yaitu menggunakan

perbedaan warna atau menggunakan fluoresensi. Metode yang paling umum digunakan

adalah Penetrant Test mengguakan metode perbedaan warna.

Pengujian penetrant ini dapat digunakan untuk mendeteksi kerusakan atau

diskontinuitas yang terbuka pada permukaan. Penggunaan uji penetran sangat luas, selain

untuk memeriksa sambungan las dan surface pada benda kerja, metode uji penetrant ini juga

bisa untuk mendeteksi kerusakan retakan yang terjadi pada komponen mesin seperti crank

shaft, roda gigi, dll.

Tujuan dasar dari penetrant test adalah untuk meningkatkan kejelesalan atau

keterangan pandangan antara suatu diskontinuitas dengan latar belakangnya. Hal ini dapat

diperoleh dengan memberikan area yang diinspeksi dengan cairan pencari yang sesuai dan

kekuatan penetrasi yang tinggi (yang dapat memasuki diskontinuitas permukaan yang

terbuka). Metoda liquid penetrant sudah dikenal dari dahulu sebelum diterapkan pada

pesawat terbang. Hanya saja, dahulu metoda ini dengan menggunakan alat and bahan yang

seadanya saja. Berdasarkan sejarah, metode liquid penetrant pada awalnya digunakan untuk

merawat atau menginspeksi rel kereta api di akhir tahun 1800-an. Teknik yang digunakan

cukup sederhana, yaitu dengan cara mencelupkan part ke dalam oli bekas, kemudian diangkat

dan oli yang masih menempel di permukaan part dibersihkan.

Setelah itu, part dilapisi dengan serbuk kapur atau kapur yang di suspensikan dengan

alkohol. Oli yang terperangkap dalam celah retak akan tertarik keluar dan memperlihatkan

noda pada lapisan kapur. Pada tahun 1930, metode ini digantikan dengan magnetic particle

inspection untuk baja dan ferrous material. Sedangkan non ferromagnetik masih

menggunakan metode liquid penetrant yang lebih maju dengan menambahkan bahan yang
bersifat fluoresence ke dalam oli yang berdaya tembus tinggi sebagai penetrant. Sejak saat

itu, banyak berbagai jenis penetrant bermunculan dan berkembang.

A. Prinsip Kerja

Pengujian ini mempergunakan sifat kapiler benda cair yang dipergunakan

adalah cairan tidak kental dan mempunyai tegangan permukaan kecil, yang

biasanya berwarna sebagai penetrant. Material uji dicelup atau disemprot dengan

cairan ini, karena sifat kapilernya , maka cairan masuk kedalam retakan, celah

atau pori-pori pada perukaan material uji tersebut sampai ke bagian yang paling

dalam. Setelah permukaan dibersihkan dipakai detektor untuk menyerap penetran,

sehingga terlihat bekas yang jelas pada retakan, celah atu pori-pori.

Pemeriksaan dengan penetran ini dilakukan untuk cacat permukaan (cacat

retak) dan dapat digunakan untuk material metal atau non metal (keramik dan

plastik). Sedangkan untuk cacat yang tidak sampai kepermukaan cara ini tidak

dapat dipakai :

1. Benda yang diperiksa permukaannya harus bersih terhadap segala macam

kotoran, minyak, olie, parafin dan lain sebagainya. Dimana kotoran-

kotoran tersebut akan menutupi cacat yang diperiksa

2. Benda yang diperiksa harus dalam keadaan kering dan tidak

keropos(porous)

3. Jika permukaan benda dicat, maka hilangkan cat tersebut dengan kertas

gosok.

Sebagai bahan pembersih untuk membersihkan benda yang akan

diperiksa dapatdigunakan minyak bensin, acctone atau bahan kimia lain yang

bersifat serupa denganbahan pebersih diatas. Sedangkan bahan pembersih

kedua yang fungsinya untuk membersihkan penetran yang menempel pada


benda yang diperiksa adalah cairan pembersih (cleaner) dan biasanya dijual

bersama satu set dengan penetran dan developer, tetapi dapat juga dipakai air

hangat, minya bensin atau acetone atau cairan lain yang murah harganya. Tidak

merusak benda yang diperiksa ( menyebabkan karat) dan tidak beracun.

Diskontinuitas dapat dikelommpokkan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Inherent

Biasanya berhubungan dengan diskontinuitas yang ditemukan dalam logam

cair. Contoh: porosity

2. Inherent Wrought Discontinuities

Inherent Wrought Discontinuities, berhubungan dengan peleburan dan

pembekuan ingot sebelum dibentuk menjadi slab, bloom, dan billet.

3. Inherent Cast Discontinuities

Inherent Cast Discontinuities, berhubungan dengan peleburan, pengecoran,

dan pembekuan benda cor. Biasanya disebabkan karena variabel bawaan

seperti kurang pengisian, gating, suhu tuang berlebihan, dan gas yang

terperangkap.

4. Processing Discontinuities

Biasanya berhubungan dengan aneka proses manufakur seperti permesinan,

pembentukan, extruding, pengerolan, pengelasan , laku panas, dan

pelapisan.

5. Service Discontinuities

Berhubungan dengan aneka kondisi pengoperasian seperti korosi, tegangan,

kelelahan dan erosi.

Prinsip dari pengujian ini adalah memanfaatkan kemampuan cairan

penetrant untuk memasuki celah discontinuity serta kerja developer untuk


mengangkat kembali cairan yang meresap pada retakan, sehingga cacat dapat

terdeteksi.

Gambar 1. Prinsip Kapilaritas pada Liquid Penetrant Test

Prinsip kerja dari metode ini adalah menggunakan cairan penetrant

dengan memanfaatkan kemampuannya yang bisa meleweati celah

discontinouity serta kerja developer untuk mengangkat kembali cairan yang

meresap pada retakan, dengan begitu cacat pada material dapat terdeteksi.

Tujuh langkah dalam proses inspeksi dengan menggunakan penetrant

test yaitu:

1. Pembersihan (cleaning) permukan hasil lasan yang akan diinspeksi


2. Pengeringan (pengeringan)

3. Pemberian penetran (penetrant application)

4. Pembersihan penetran (penetrant removal)

5. Pemberian developer (developer application)

6. Evaluasi subjek yang diinspeksi


7. Pembersihan akhir dari subjek yang diinspeksi

Berikut merupakan prosedur pemeriksaannya:

1) Surface preparation. Seluruh permukaan yang akan diinspeksi, baik

terlokalisir maupun tidak, harus dibersihkan dan dikeringkan secara

menyeluruh sebelum diinspeksi. Cacat yang terekspos di permukaan

harus terbebas dari minyak, air, atau kontaminan lainnya agar dapat

terdeteksi.

2) Penetration. Setelah benda kerja dibersihkan, penetrant diberikan

dengan cara tertentu (e.g. disemprot) sehingga menghasilkan lapisan di

permukaan. Lapisan ini dibiarkan pada permukaan untuk memungkinkan

penetrasi maksimum ke dalam diskontinyuitas.


3) Removal of excess penetrant. Penetrant yang berlebih harus dibersihkan

dari permukaan. Metode pembersihan tergantung kepada tipe penetrant

yang digunakan. Beberapa tipe penetrant dapat dibersihkan

menggunakan air, tipe lainnya memerlukan agen emulsifikasi atau

pelarut tertentu.

4) Development. Agen developing membentuk lapisan di atas permukaan

yang berperang untuk mengisap rembesan penetrant agar keluar dari

diskontinyuitas permukaan sehingga memperlihatkan indikasi cacat.

5) Inspection. Setelah benda kerja diberikan developer, permukaannya

kemudian diinspeksi secara visual untuk memeriksa indikasi bleedback

dari diskontinyuitas permukaan. Inspeksi visible penetrant dilakukan di

bawah cahaya putih (white light). Apabila menggunakan fluorescent

penetrant, maka inspeksi dilakukan di dalam ruang gelap dengan

bantuan cahaya ultraungu (black light) yang menyebabkan penetrant

berpendar cemerlang.

Gambar 2. Prinsip Kerja pada Liquid Penetrant Test


Selain itu developer juga ada yang bekerja pada kondisi kering maupun

basah. Dry Developer biasanya digunakan untuk penetrant yang fluorescent.

Sedangkan Wet Developer, ada yang berupa water suspendible (suspensi

dalam air) maupun solvent suspenpendible (suspensi dalam cairan yang

mudah menguap). Namun hal penting yang perlu diingat bahwa warna

developer harus kontras dengan cairan penetrant, agar mudah mengamati

cacat yang timbul.

Metode pengujian ini dapat digunakan untuk mendeteksi cacat

permukaan maupun di bawah permukaan (sub surface). Akan tetapi seberapa

dalam dari permukaan bergantung daya kapilaritas cairan penetrant.

B. Klasifikasi liquid penetrant sesuai cara pembersihannya:

Liquid penetrant bila dilihat dari cara pembersihannya dapat

diklasifikasikan menjadi tiga macam metoda dan ketiganya memiliki

perbedaan yang mencolok. Pemilihan salah satu sistem bergantung pada

faktor-faktor berikut ini :

a. Kondisi permukaan benda kerja yang diselidiki

b. Karakteristik umum discontinuity atau keretakan logam

c. Waktu dan tempat penyelidikan

d. Ukuran benda kerja

Metoda pengujian liquid penetrant ini diklasifikasikan sesuai dengan

cara pembersihannya, yaitu:

1. Water Washable Penetrant system

Sistem liquid penetrant ini dapat berupa fluorescent. Proses

pengerjaannya cepat dan efisien. Pembilasan harus dilakukan secara

hati-hati, karena liquid penetrant dapat terhapus habis dari permukaan


diskontinyuitas.

2. Post Emulsifible System

Biasa digunakan untuk menyelidiki keretakan yang sangat

kecil, menggunakan penetrant yang tidak dapat dibasuh dengan air.

Penetrant jenis ini dilarutkan dengan oli dan membutuhkan langkah

tambahan pada saat penyelidikan yaitu pembubuhan emulsifier yang

dibiarkan pada permukaan spesimen.

3. Solvent Removable System

Biasa digunakan pada saat pre cleaning dan

pembasuhan penetrant. Penetrant jenis ini larut dalam oli.

Pembersihan penetrant secara optimum dapat dicapai dengan cara

mengelap permukaan benda kerja dengan lap yang telah dilembabkan

dengan solvent. Tahap akhir dari pengelapan dilakukan dengan

menggunakan kain kering. Penetrant juga dapat dihilangkan dengan

cara membanjiri permukaan benda kerja dengan solvent.

C. Klasifikasi liquid penetrant berdasarkan pengamatannya

Berdasarkan pengamatannya ada tiga jenis liquid penetrant, yaitu:

1. Visible penetrant

Visible penetrant adalah zat pewarna merah yang tampak jelas

di bawah kondisi pencahayaan normal. Pada

umumnya visible penetrant berwarna merah. Hal ini ditunjukkan pada

penampilannya yang contrast terhadap latar belakang

warna developernya. Proses ini tidak membutuhkan

pencahayaan ultra violet, tetapi membutuhkan cahaya putih minimal

1000 lux untuk pengamatan.


2. Fluorescent penetrant

Liquid penetrant ini adalah yang dapat berkilau bila

disinar UV Fluorescent penetrant bergantung pada kemampuannya

untuk menampilkan diri terhadap cahaya ultra violet yang lemah pada

ruangan yang gelap.

Ada tiga tingkatan sensivitas, yaitu :

1. Sensitivitas normal (cahaya normal)

2. Sensivitas tinggi (cahaya gelap)

3. Sensivitas ultra tinggi (infra merah)

Pemilihan penggunaan sensitivitas penetrant bergantung pada

kekritisan inspeksi. Kondisi permukaan yang diselidiki, jenis proses

(sistem), dab tingkat sensitivitas yang diinginkan.

3. Dual Sensitivity Penetrant

Penetrant ini adalah gabungan dari visible penetrant dan

fluorecent penetrant, dimana benda kerja mengalami dua kali

pengujian yaitu : Visible Penetrant dan fluorecent Penetrant, sehingga

dengan duel sensitivity dapat diperoleh hasil yang lebih teliti dan

akurat.

D. Evaluasi Indikasi

Evaluasi Indikasi akan dinyatakan oleh retensi penetrant partikel.

Semua indikasi seperti itu tidak selalu sempurna, tetapi bila permukaan yang

kasar sangat banyak, penetrant akan merembes ke HAZ, dll. Hal tersebut dapat

menghasilkan indikasi yang serupa. Indikasi yang tidak sempurna mungkin

akan menjadi lebih besar. Namun ukuran indikasi merupakan dasar untuk

penerimaan evaluasi. Hanya indikasi yang memiliki dimensi yang lebih besar
dari 1/16 inchi akan dianggap relevan. Indikasi apapun yang di pertanyakan

atau meragukan akan dikaji ulang untuk menentukan apakah relevan atau

tidak relevan.

Dalam pengujian penetrant dapat dinyatakan bahwa material tersebut

dapat diterima apabila permukaannya bebas dari :

1. Relevant Linier Indication

Suatu cacat dikatakan memiliki indikasi linier dan akan direject apabila

pada cacat tersebut memiliki panjang lebih dari 3 kali lebarnya dan

yang besarnya lebih dari 1/16 in. (1,6 mm).

2. Relevant Rounded Indication

Suatu cacat dikatakan memiliki indikasi lingkaran apabila pada cacat

tersebut memiliki panjang kurang dari 3 kali lebarnya.

a. Material tersebut akan direject apabila memiliki panjang atau

lebar indikasi lingkaran lebih dari3/16 (4,8 mm).

b. Material tersebut akan direject apabila memiliki 4 atau lebih

indikasi lingkaran yang tersusun dalam satu baris, dengan jarak

antara indikasi lingkaran kurang dari 1,6 mm.

c. Maka, apabila permukaan suatu material bebas dari kedua

indikasi yang telah disebutkan di atas, material tersebut dapat

diterima.

E. Penetrant, Developer, dan Cleaner

Dalam Liquid Penetrant Test ini menggunakan cairan penetrant,

developer, dan cleaner adapun penjelasan dari masing-masing adalah sebagai

berikut:

1. Penetrant
Cairan penetrant digunakan sebagai cairan yang akan

mendeteksi cacat pada permukaan benda uji. Prinsip kerjanya yaitu

dengan menyemprotkan atau mengusapkan cairan penetrant ke

permukaan benda uji yang terlebih dahulu sudah dibersihkan dan di

keringkan. Dengan adanya daya kapilaritas dari cairan penetrant,

cairan penetranti akan masuk kedalam celah permukaan jika terjadi

cacat. Adapun macam-macam cairan penetrant terdiri dari dua jenis

yaitu visible penetrant dan flourocent penetrant.

2. Developer

Cairan developer adalah cairan yang membantu menarik

penetrant keluar dari celah cacat, sehingga terlihat perbedaan warna di

sekitar celah permukaan yang retak. Prinsip kerjanya yaitu dengan

menyemprotkan cairan developer setelah diberikan cairan penetrant

terlebih dahulu dan dibiarkan meresap. Saat sudah meresap, cairan

developer diberikan dan didiamkan agar cairan developer menarik

cairan penetrant yang masuk kedalam celah retakan. Setelah selesai

maka akan terlihat perbedaan warna pada daerah yang terjadi retakan.

3. Cleaner

Cairan cleaner adalah jenis cairan pembersih untuk

membersihkan permukaan logam yang akan dilakukan Liquid

Penetrant Test. Prinsip kerjanya dengan menyemprotkan cairan

cleaner pada permukaan benda uji, lalu di usap atau bersihkan dengan

kain majun. Kotoran-kotoran yang menempel pada permukaan akan

hilang dengan pembersihan ini, sehingga cairan penetrant akan dapat

masuk sempurna ke celah retakan.


Gambar 3. Penetrant, Cleaner, dan Developer

F. Kelebihan dan Kekurangan Liquid Penetrant

Berikut ini kelebihan dan kekurangan dari pengujian Liquid Penetrant

1. Kelebihan dari Liquid Penetrant Test adalah:

a. Mudah diaplikasikan

b. Murah dalam pembiayaan

c. Tidak dipengaruhi oleh sifat kemagnetan material dan komposisi

kimianya

d. Jangkauan pemeriksaan cukup luas

e. Kekurangan dari metode ini:

f. Tidak dapat dilakukan pada benda berpori atau material produk

powder metallurgy. Hal tersebut akan menyebabkan terserapnya

cairan penetrant secara berlebihan sehingga dapat mengindikasikan

cacat palsu.

2. Kekurangan dari Liquid Penetrant Test adalah :

a. Tidak dapat dilakukan pada benda berpori atau material


produk powder metallurgy. Hal tersebut akan menyebabkan

terserapnya cairan penetrant secara berlebihan sehingga dapat

mengindikasikan cacat palsu.

b. Keretakan atau kekeroposan yang ada dapat dideteksi jika

keretakan tersebut merembat hingga ke permukaan benda.

Sedangkan keretakan yang ada dibawah permukaan benda,

tidak akan terdeteksi dengan menggunakan metoda pengujian

ini.

c. Pada permukaan yang terlalu kasar atau berpori-pori juga dapat

mengakibatkan indikasi palsu.

d. Metoda pengujian ini tidak dianjurkan untuk menyelidiki

benda-benda hasil hasil metallurgy yang kurang padat.

e. Terbatas hanya untuk cacat permukaan terbuka.

f. Bahanya zat kimia daro bahan dari liquid penetrant untuk

kesehatan.

g. Kurang sensitivity