Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cedera kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di unit
gawat darurat suatu rumah sakit. Cedera kepala adalah suatu trauma mekanik pada
kepala baik secara langsung atau tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi
neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial, baik temporer maupun
permanen. Cedera kepala dapat disebut juga dengan head injury ataupun traumatic
brain injury. Kedua istilah ini sebenarnya memiliki pengertian yang sedikit berbeda.
Head injury merupakan perlukaan pada kulit kepala, tulang tengkorak, ataupun otak
sebagai akibat dari trauma. Sedangkan, traumatic brain injury merupakan gangguan
fungsi otak ataupun patologi pada otak yang disebabkan oleh kekuatan (force) eksternal
yang dapat terjadi di mana saja.1,2,3
Setiap tahun di Amerika Serikat mencatat 1,7 juta kasus cedera kepala, 52.000
pasien meninggal dan selebihnya di rawat inap. Cedera kepala juga merupakan
penyebab kematian ketiga dari semua jenis cedera yang dikaitkan dengan kematian.
Diperkirakan 80.000-90.000 orang di Amerika Serikat mengalami kecacatan yang
lama akibat cedera otak. Insiden cedera kepala lebih tinggi di negara berkembang.
World Health Organization (WHO) meramalkan cedera kepala dan kecelakaan lalu
lintas akan menjadi penyebab kematian ke-3 di seluruh dunia pada tahun 2020. Di
Indonesia, belum terdapat data nasional mengenai cedera kepala.4,5,6
Penyebab utama cedera kepala adalah kecelakaan lalu lintas, kekerasan dan
terjatuh. Kecelakaan kendaraan di jalan adalah penyebab terbanyak dari cedera kepala
yaitu 60%, kemudian jatuh (20-25%), dan 10% karena akibat kekerasan. Kecelakaan
kendaraan bermotor didominasi oleh kelompok usia 15-40 tahun. Angka kejadian
cedera kepala pada laki-laki 58% lebih banyak dibandingkan perempuan. Hal ini
disebabkan karena mobilitas yang tinggi di kalangan usia produktif sedangkan
kesadaran untuk menjaga keselamatan di jalan masih rendah disamping penanganan
pertama yang belum benar serta rujukan yang terlambat.7,8
Kejadian cidera kepala di Amerika Serikat setiap tahunnya diperkirakan
mencapai 500.000 kasus. Dari jumlah tersebut, 10 % meninggal sebelum tiba di rumah
sakit. Yang sampai di rumah sakit, 80 % dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan
(CKR), 10% termasuk cedera kepala sedang (CKS), dan 10% sisanya adalah cedera
kepala berat (CKB).1
Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia produktif antara 15-
44 tahun. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab 48%-53% dari insiden cedera
kepala, 20%-28% lainnya karena jatuh dan 3%-9% lainnya disebabkan tindak
kekerasan, kegiatan olahraga dan rekreasi. Jumlah ini merupakan sepertiga dari total
kematian akibat kejadian cedera.1
Untuk itulah pada refrat ini kami akan membahas cedera kepala terutama yang
berkaitan dengan bidang kedokteran forensik.
BAB III
RINGKASAN

Cidera kepala atau trauma kapitis adalah cidera mekanik yang secara langsung
atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala, fraktur
tulang tengkorak, robekan selaput otak dan kerusakan jaringan otak itu sendiri, serta
mengakibatkan gangguan neurologis. Cidera kepala dapat terjadi dalam berbagai
aspek, seperti kekerasan dalam rumah tangga, bullying, dan kekerasan pada anak.
UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga No. 23 Tahun 2004 Pasal 1
angka 1 (UU PKDRT) memberikan pengertian bahwa “Kekerasan dalam rumah tangga
adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan,
pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup
rumah tangga.”
Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi
anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara
optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 1 butir 2 Undang-undang No. 23 tahun 2003).
Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat
hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat
dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan
sejahtera (pasal 3).
Secara medikolegal, orientasi yang digunakan dalam merinci kecederaan
adalah untuk dapat membantu merekonstruksi peristiwa penyebab terjadinya trauma
atau luka dan memperkirakan derajat keparahan trauma atau luka (severity of injury).
Pada umumnya trauma kepala terjadi akibat kecelakaan lalu lintas, jatuh/tertimpa
benda berat (benda tumpul), serangan/kejahatan (benda tajam), pukulan (kekerasan),
akibat tembakan, dan pergerakan mendadak sewaktu berolahraga.
Orang yang mengalami cedera kepala tentu akan menghadapi masalah hukum
akibat cedera tersebut. Sifat dari cedera dengan pengobatan yang dihasilkannya, serta
penyebab cedera (terbanyak kecelakaan kendaraan bermotor), mengarah ke
keterlibatan dalam sistem hukum. Hak hukum dan tanggung jawab penyedia layanan
kesehatan terhadap cedera kepala yang terjadi menempati peran penting dalam
pengobatan cedera pada pasien dari tahap akut melalui tahap rehabilitasi subakut dan
tahap rehabilitasi posthospital. Perawatan medis dini untuk cedera kepala melibatkan
perawatan darurat dari orang yang akan dapat memberikan persetujuan untuk
pengobatan; perawatan medis lainnya adalah jarak jauh, mengangkat isu-isu hukum
asuransi. Kebanyakan cedera kepala adalah akibat dari kecelakaan kendaraan
bermotor, cedera olahraga, atau trauma yang disebabkan oleh pihak ketiga bertanggung
jawab. Pihak yang bertanggung jawab digugat dengan cara apa yang dikenal sebagai
litigasi cedera pribadi. Masing-masing instansi seperti medis, asuransi, dan pihak yang
terkait dengan kejadian cedera kepala secara pribadi dipengaruhi dan diikat oleh
hukum yang berlaku.

1. Perdossi. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma Spinal.


Perdossi, Jakarta, 2006.
2. Heller JL. Head Injury: First Aid. University of Maryland Medical Center,
Baltimore, 2013
3. Manley GT, Massa AIR. Traumatic Brain Injury: An International Knowledge-
Based Approach. Journal of American Association volume 310, 2013.
4. CDC. Ten Leading Causes of Death and Injury. Centers for Disease Control and
Prevention, 2011.
5. American College of Surgeon Committee on Trauma. Head Trauma. In: Advanced
Trauma Life Support Student Course Manual 9th Edition. American College of
Surgeon, Chicago, 2014.
Dinsmore J. Traumatic Brain Injury: An Evidence-Based Review of Management.
BJA education, Oxford, 2013
6. Gururaj G. Epidemiology of Traumatic Brain Injuries. A Journal of Progress in
Neurosurgery, Neurology and Neurosciences, India, 2002.
7. Smeltzer, Suzanne C, Bare, Brenda G. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2). EGC, Jakarta, 2002.
8. Standring S. Gray's Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice 41st
Edition. Elsevier, UK, 2016.