Anda di halaman 1dari 6

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF BERBASIS LESSON

STUDY DENGAN MEDIA LKS TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR


SISWA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM

Laila Majnun Hutagaol

Universitas Negeri Medan

Jl. Willem Iskandar Pasar V Medan

laylamanniz@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peningkatan hasil belajar siswa yang dibelajarkan
menggunakan Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Lesson Study dengan Media LKS lebih tinggi daripada
peningkatan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model Direct Instruction dengan Media LKS
pada materi hidrolisis garam. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan Pretest-posttest
Control Group Design. Sampel penelitian yaitu kelas XI IPA 5 dan XI IPA 7 MAN 1 MEDAN tahun pelajaran
2015/2016 yang diambil dengan cara random sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui hasil
belajar siswa adalah tes objektif dalam bentuk pilihan berganda berjumlah 20 soal. Data penelitian yang diambil
berupa nilai pre-test dan post-test. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas dengan uji
Shapiro-Wilks pada SPSS, uji homogenitas dengan uji Levene Test pada SPSS, dan uji hipotesis dengan uji
Independent-Sampel T Test pada SPSS. Dari rata-rata gain, diperoleh persen peningkatan hasil belajar siswa
kelas eksperimen sebesar 78% sedangkan persen peningkatan hasil belajar siswa kelas kontrol sebesar 63%.
Hasil penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar kimia siswa yang menerapkan model pembelajaran
kolaboratif berbasis lesson study dengan media LKS lebih tinggi dibandingkan dengan model pembelajaran
Direct Instruction dengan media LKS pada materi hidrolisis garam, hal ini dibuktikan dengan perhitungan pada
uji t yaitu diperoleh Sig. Thitung < α (0,000 < 0,05).

Kata Kunci: Peningkatan hasil belajar, Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Lesson Study, Model Direct
Instruction, media LKS, Hidrolisis Garam.

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan usaha terencana untuk mengembangkannya [11]. Dalam menyajikan
mewujudkan suasana belajar dan proses materi kimia agar menjadi lebih menarik, guru harus
pembelajaran agar peserta didik secara aktif memiliki kemampuan dalam mengembangkan
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki metode mengajarnya sedemikian rupa sehingga
keterampilan yang diperlukan dirinya dan tujuan pembelajaran yang diharapkan pada standar
masyarakat. Proses belajar mengajar yang kompetensi dapat dicapai dengan baik [5].
berkembang di kelas umumnya ditentukan oleh Berdasarkan observasi awal di MAN 1
peran guru dan siswa sebagai individu-individu MEDAN ditemukan bahwa dalam pembelajaran
yang terlibat langsung di dalam proses tersebut. kimia, guru kimia masih menyampaikan
Prestasi belajar siswa itu sendiri sedikit banyak pembelajaran seperti pada umumnya yaitu metode
tergantung pada cara guru menyampaikan pelajaran ceramah (Direct Intruction). Sebagian besar siswa
pada anak didiknya. Oleh karena itu kemampuan tidak bersemangat ketika mengikuti pembelajaran
serta kesiapan guru dalam mengajar memegang kimia dan siswa menganggap bahwa kimia adalah
peranan penting bagi keberhasilan proses belajar pembelajaran yang sulit dan membosankan. Di
mengajar. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan dalam kurikulum KTSP untuk MAN, mata pelajaran
antara prestasi belajar siswa dengan metode kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang
mengajar yang digunakan oleh guru [8]. wajib untuk kelas XI MAN Program ilmu
Kesulitan pembelajaran kimia terletak pada pengetahuan alam (IPA). Salah satu materi kimia
kesenjangan yang terjadi antara pemahaman konsep yang terdapat pada kelas XI MAN adalah materi
dan penerapan konsep yang ada sehingga Hidrolisis Garam. Pada materi ini banyak
menimbulkan asumsi sulit untuk mempelajari dan
mengandung konsep, perhitungan dan penerapan kompetensi pembelajaran. Dalam mencapai tujuan
pada kehidupan. siswa melakukan konsultasi atau sharing dengan
Melihat permasalahan diatas, maka perlu guru [7].
dilakukan perbaikan, perubahan dan pembaharuan Pembelajaran model kolaboratif ini pernah
dimana siswa tidak boleh dianggap sebagai objek diteliti oleh beberapa peneliti sebelumnya, antara
pembelajaran semata, tetapi harus diberikan peran lain: Arif Dermawan (2014), hasil penelitiannya
aktif serta dijadikan mitra dalam proses menyatakan bahwa terdapat peningkatan ketuntasan
pembelajaran sehingga siswa bertindak sebagai agen belajar siswa pada kelas eksperimen yang
pembelajar yang aktif sedangkan guru bertindak menerapkan collaborative learning berbasis quiz
sebagai fasilitator dan mediator yang kreatif. Upaya edutainment lebih banyak daripada kelas kontrol.
yang dapat dilakukan adalah adalah meningkatkan Berdasarkan nilai rerata hasil belajar kognitif siswa
kualitas guru dalam menyampaikan pembelajaran, di kelas eksperimen, ketuntasan siswa mencapai
menerapkan model pembelajaran yang tepat serta 93,5 %. Sedangkan ketuntasan siswa di kelas kontrol
penggunaan media yang sesuai dalam menunjang mencapai 91,17%. Sehingga dapat dikatakan bahwa
tercapainya tujuan pembelajaran. model pembelajaran collaborative learning berbasis
Kecakapan seorang guru dalam quiz edutainment efektif diterapkan dengan kriteria
menyampaikan materi yang dapat menggugah sangat baik. Dan peneliti lain yaitu Eviyanto,dkk
semangat/motivasi siswa untuk mempelajarinya menyatakan bahwa terdapat perbedaan pada hasil
adalah suatu prestasi tersendiri yang menunjukkan belajar antara kelas yang dibelajarkan menggunakan
tingkat keprofesionalan guru yang bersangkutan. model pembelajaran kolaboratif. Perbedaan tersebut
Lesson study merupakan salah satu bentuk yang dapat dilihat dari hasil uji t dan nilai rata-rata
dapat dilakukan untuk meningkatkan masing-masing kelas yaitu kelas eksperimen sebesar
keprofesionalan guru [13]. Lesson Study bukanlah 83,33 % dan kelas kontrol sebesar 76,17%.
suatu strategi atau metode dalam pembelajaran, Media adalah bagian yang tidak terpisahkan
tetapi merupakan salah satu upaya pembinaan untuk dari proses belajar mengajar demi tercapainya
meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan tujuan pendidikan pada umumnya dan tujuan
oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan pembelajaran disekolah pada khususnya [1]. Media
berkesinambungan, dalam merencanakan, pembelajaran merupakan alat bantu proses belajar
melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan
kegiatan pembelajaran. Lesson Study merupakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya kemampuan atau keterampilan pembelajaran
sebuah komunitas belajar (learning society) yang sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.
secara konsisten dan sistematis melakukan Tanpa menyebutkan jenis dari masing-masing
perbaikan diri, baik pada tataran individual maupun medianya, gagne membuat 7 macam
manajerial [9]. Lesson study dilaksanakan dalam pengelompokan media, yaitu benda untuk
tiga tahapan yaitu Plan (merencanakan), do didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak,
(melaksanakan), dan see (merefleksi) yang gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan
berkelanjutan. Dengan kata lain, lesson study mesin belajar [10]. Lembar kerja siswa merupakan
merupakan suatu cara peningkatan mutu pendidikan salah satu jenis dari media cetak yang dirasa cocok
yang tak pernah berakhir [12]. yang dimaksudkan untuk siswa belajar secara
Salah satu contoh model pembelajaran yang terarah serta berisi tugas yang dikerjakan oleh siswa
dapat diterapkan dalam upaya meningkatkan hasil berupa soal secara berkelompok. Menurut penelitian
belajar siswa adalah model pembelajaran kolaboratif Dhewani, dkk (2015) menyatakan bahwa penerapan
(Collaborative Learning). Model pembelajaran model pembelajaran STAD dilengkapi media LKS
kolaboratif merupakan salah satu model dapat meningkatkan motivasi belajar dan prestasi
pembelajaran yang dapat mengembangkan belajar siswa. Lestari, dkk (2014), hasil
partisipasi aktif siswa. Model pembelajaran penelitiannya menyatakan bahwa penerapan model
kolaboratif terdiri dari 6 langkah yaitu: pembelajaran kooperatif tipe NHT disertai dengan
Penyampaian tujuan dan memotivasi siswa; media LKS dapat meningkatkan prestasi belajar dan
Penyajian informasi dalam bentuk demonstrasi atau kreativitas siswa pada materi kelarutan dan hasil kali
melalui bahan bacaan; Pengorganisasian siswa ke kelarutan siswa kelas XI IPA 4 SMA N 2
dalam kelompok-kelompok belajar; Membimbing Karanganyar tahun pelajaran 2012/2013.
kelompok bekerja dan belajar; Asesmen tentang apa Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti
yang sudah dipelajari sehingga masing-masing tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya; serta tentang “Pengaruh Model Pembelajaran Kolaboratif
Memberikan penghargaan baik secara kelompok Berbasis Lesson Study dengan Media LKS Terhadap
maupun individu. Pembelajaran kolaboratif Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Materi
dirancang untuk melaksanakan belajar tuntas. Hidrolisis Garam”
Pembelajaran tidak akan berhasil jika masing- Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
masing siswa tidak memahami tujuan atau peningkatan hasil belajar siswa yang dibelajarkan
menggunakan Model Pembelajaran Kolaboratif sebagai masukan serta bahan pertimbangan dalam
Berbasis Lesson Study dengan Media LKS lebih memilih model pembelajaran yang efektif dan
tinggi daripada peningkatan hasil belajar siswa yang inovatif dalam proses belajar mengajar, c) Bagi
dibelajarkan menggunakan model Direct Instruction peneliti lain, yaitu sebagai masukan atau bahan
dengan Media LKS pada materi hidrolisis garam” pertimbangan dalam pengembangan penelitian yang
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian sejenis di dunia pendidikan, d) Bagi pembaca,
ini secara umum dapat dijabarkan sebagai berikut: a) memberikan informasi tentang Pengaruh Model
Bagi siswa, dapat memberikan motivasi siswa, Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Lesson Study
melatih keterampilan siswa, mengembangkan sikap dengan Media LKS Terhadap Peningkatan Hasil
kritis dan dapat meningkatkan minat serta hasil Belajar Siswa Pada Materi Hidrolisis Garam.
belajar kimia siswa, b) Bagi guru, dapat dijadikan

METODE PENELITIAN HASIL DAN PEMBAHASAN


Jenis penelitian ini merupakan penelitian Setelah melalui hasil perhitungan validitas,
eksperimental. Dalam penelitian ini melibatkan dua realibitas, tingkat kesukaran dan daya beda
perlakuan yang berbeda antara kelas eksperimen dan diperoleh 20 soal yang layak digunakan sebagai
kelas kontrol dengan disain: Pretest-posttest instrument tes pada penelitian.
Control Group Design. Adapun rancangan Dari penelitian yang dilakukan diperoleh
penelitian dapat dilihat pada tabel 1. adanya peningkatan hasil belajar dari model
pembelajaran kolaboratif berbasis lesson study. Hal
Tabel 1. Disain penelitian ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pretest kelas
eksperimen sebesar 41,56 dan nilai rata-rata pretest
kelas kontrol sebesar 41,50. Berdasarkan rata-rata
Kelompok Pre-test Perlakuan Post-test
nilai pretest, masing-masing kelas menunjukkan
bahwa kedua data tersebut berdistribusi normal dan
Kelas eksperimen T1 X1 T2 memiliki varian yang homogen. Hal ini berarti
sampel memiliki kemampuan dasar (awal) yang
Kelas kontrol T1 X2 T2 sama. Kemudian kedua kelas yaitu kelas eksperimen
dan kelas kontrol dilakukan perlakuan, lalu
dilakukan posttest untuk mengetahui hasil belajar.
Keterangan : Rata-rata nilai post-test pada kelas eksperimen
X1 = Perlakuan pada kelas eksperimen, yaitu sebesar 86,72 sedangkan rata-rata post-test pada
model pembelajaran kolaboratif berbasis kelas kontrol sebesar 77,63. Gambar grafik untuk
lesson study dengan media lembar kerja hasil belajar terdapat dalam gambar 1.
siswa (LKS)
X2 = Perlakuan pada kelas kontrol, yaitu model
pembelajaran direct Instruction dengan
Rata-rata Hasil Belajar
media lembar kerja siswa (LKS)
T1 = Tes awal (Pre-test) yang diberikan pada kelas 86.72
eksperimen dan kelas kontrol 100 77.63
T2 = Tes akhir (Post-test) yang diberikan pada
kelas eksperimen dan kelas control 41.562541.5
50
Sampel penelitian ini yaitu kelas XI IPA 5 dan
XI IPA 7 MAN 1 MEDAN tahun pelajaran 0
2015/2016 yang diambil dengan cara random Rata-Rata Pretest Rata-Rata Posttest
sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan
metode tes dan metode angket. Metode tes Eksperimen Kontrol
digunakan untuk memperoleh data hasil belajar
siswa. Sedangkan metode angket digunakan untuk Gambar 1. Rata-Rata Hasil Belajar Siswa
keterlaksanaan atau pencapaian indikator lesson Perbedaan hasil belajar siswa antara kedua
study. Analisis data dalam penelitian ini kelas dapat diketahui melalui data gain. Dimana dari
menggunakan uji normalitas dengan uji Shapiro- rata-rata gain, diperoleh persen peningkatan hasil
Wilks pada SPSS, uji homogenitas dengan uji belajar siswa kelas eksperimen sebesar 78%
Levene Test pada SPSS, dan uji hipotesis dengan uji sedangkan persen peningkatan hasil belajar siswa
Independent-Sampel T Test pada SPSS. kelas kontrol sebesar 63%. Gambar grafik untuk
hasil belajar terdapat dalam gambar 2.
study melakukan refleksi yaitu perbaikan
Persentase Peningkatan pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya.
Penekanan dari lesson study lebih kepada guru
Hasil Belajar dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran dan pembelajaran yang melibatkan
proses komunikasi secara utuh didalam kelas.
78.0% Dari hasil refleksi yang dilakukan diperoleh
100.0% 63.00%
bahwa terjadi peningkatan pencapaian indikator dari
pertemuan satu ke pertemuan kedua kecuali pada
0.0% pencapain indikator pertama terjadi penurunan.
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Diperoleh dari pencapaian indikator pertama terjadi
penurunan sebesar 25%. indikator kedua terjadi
kenaikan sebesar 25%, indikator ketida terjadi
kenaikan sebesar 37,5%, indikator keempat terjadi
Gambar 2. Persentase peningkatan hasil belajar
kenaikan sebesar 37,5% , indikator kelima terjadi
Dengan demikian dapat diketahui bahwa kenaikan sebesar 25%, indikator keenam terjadi
perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan kenaikan sebesar 37,5%, indikator ketujuh terjadi
model pembelajaran kolaboratif berbasis lesson kenaikan sebesar 12,5%, dan indikator kedelapan
study dengan media LKS dan model pembelajaran terjadi kenaikan sebesar 25%. Ketercapaian
Direct Instruction dengan media LKS sebesar 15%. indikator lesson study dapat ditunjukkan melalui
Hal ini menunjukkan bahwa penerapan model gambar 3. berikut ini:
pembelajaran kolaboratif berbasis lesson study
dengan media LKS dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. Pencapaian indikator
Dalam pelaksanaannya, penggunaan model lesson study
pembelajaran kolaboratif merupakan suatu model
pembelajaran berkelompok yang dirancang untuk 1.2 100% 100% 100% 100% 100% 100%
1 87.50%
melaksakan belajar tuntas yaitu pembelajaran tidak 75% 75% 75% 75% 75%
0.8 62.50%
62.50% 62.50%
akan berhasil jika masing-masing siswa ridak 50%
0.6
memahami tujuan atau kompetensi pembelajaran. 0.4
Dalam kegiatan belajar mengajar pada model 0.2
pembelajaran ini, siswa belajar berkelompok, 0
berdiskusi, berkerja sama, bertanggung jawab
terhadap tugas yang telah disepakati, dan
mempersentasekan hasil diskusi terhadap tugas
yang telah disepakati. Dalam proses belajar tersebut
ternyata dapat mengembangkan partisipasi aktif Pertemuan I Pertemuan II
siswa. Dari kondisi kelas yang aktif dan siswa-siswi
yang antusias dalam mengikuti pembelajaran
Gambar 3. Pencapaian Indikator Lesson Study
dengan model pembelajaran kolaboratif ini, dapat
dilihat perbedaan dari pembelajaran sebelumnya
dimana siswa hanya duduk mendengarkan Dari data pencapaian indikator lesson study ini
penjelasan dari guru, dimana guru sepenuhnya terlihat bahwa pada indikator pertama terjadi
memberikan pengetahuan kepada siswa (teacher penurunan, hal ini disebabkan karena kondisi kelas
center). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa yang kurang luas dengan jumlah siswa yang cukup
dengan diterapkannya model pembelajaran banyak. Pada pertemuan pertama posisi duduk later
kolaboratif, siswa lebih tertarik dan semangat ketika U yang terbentuk berlapis dua dan ketika tiap-tiap
belajar karena siswa terlibat dalam proses belajar kelompok berdiskusi atas tugas yang diberikan, para
mengajar. siswa kurang nyaman dalam berdiskusi. Sehingga,
Dalam penelitian ini, model pembelajaran pada pertemuan kedua, posisi duduk later U hanya
kolaboratif berbasiskan Lesson study dengan media berjalan sampai guru model (peneliti) menjelaskan
LKS. Dalam pelaksanaan pembelajaran yang materi pembelajaran, tetapi ketika dalam waktu
berbasis lesson study, tim lesson study membuat berdiskusi posisi duduk later U tidak dijalankan lagi.
perencanaan pembelajaran dengan menyiapkan Pencapaian indikator yang mengalami peningkatan
RPP, kemudian guru model yaitu peneliti besar yaitu pada indikator ketiga yaitu siswa yang
melakukan pembelajaran dikelas sesuai dengan RPP tidak mengerti minta diajari, keempat yaitu siswa
yang telah dibuat, dan yang lain sebagai observer yang peduli dan mengajari siswa lain dan keenam
bertugas untuk mengobservasi ketercapaian yaitu siswa yang lebih banyak menyimak daripada
indikator Lesson Study yang sedang dilakukan. berbicara. Secara keseluruhan pencapaian indikator
Kemudian setelah pembelajaran selesai, tim lesson lesson study meningkat dari pertemuan pertama
70,31% hingga pada pertemuan kedua 95,31%. homogenitas data telah terpenuhi sehingga dapat
Keberhasilan penerapan lesson study ini dapat dilanjutkan dengan pengujian hipotesis. Pengujian
terlihat dari proses pembelajaran, dengan hipotesis dilakukan dengan spss menggunakan uji
diterapkannya denah duduk U guru dapat melihat Independent Sampel T-Test dari data gain dengan
siswa secara keseluruhan dan guru menjadi lebih taraf signifikan α = 0,05 dengan kriteria Sig. Thitung
leluasa memberikan materi pembelajaran serta siswa < α (0,05) maka Ha diterima dan H0 ditolak, dan
yang duduk paling belakang tidak lagi merasa diperoleh nilai Sig. Thitung = 0,000 , maka Sig. Thitung
terasingkan atau tidak diperhatikan. Selain itu, < α (0,000 < 0,05) maka Ha diterima. Dengan
banyak aspek yang berkembang juga seperti bekerja demikian, dapat disimpulkan bahwa peningkatan
sama, peduli terhadap sesama, saling membantu, hasil belajar kimia siswa yang menerapkan model
menghargai orang lain dan memiliki motivasi pembelajaran kolaboratif berbasis lesson study
belajar bersama yang sangat sesuai dengan tujuan dengan media LKS lebih tinggi dibandingkan
dari model pembelajaran kolaboratif. Kemudian dengan model pembelajaran Direct Instruction
dengan adanya lesson study ini, guru juga dapat dengan media LKS pada materi hidrolisis garam.
meningkatkan kinerjanya dengan lebih mempelajari
bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru KESIMPULAN
mengajar sehingga ketika ada kesalahan atau Dari hasil penelitian, maka dapat disimpulkan
ketidaksesuaian rencana pembelajaran yang telah bahwa Peningkatan hasil belajar siswa melalui
dibuat pada pertemuan pertama, guru dapat penerapan model pembelajaran kolaboratif berbasis
memperbaiki kesalahannya dengan adanya refleksi lesson study menggunakan media LKS lebih tinggi
dari para observer sehingga proses pembelajaran yaitu sebesar 78% daripada peningkatan hasil
dapat berjalan lebih baik pada pertemuan yang akan belajar siswa yang dibelajarkan dengan model
datang daripada pertemuan sebelumnya. pembelajaran direct instruction dengan media LKS
Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih sebesar 63%.
dahulu dilakukan uji prasyarat data yaitu uji
normalitas dan uji homogenitas. Hasil pengujian DAFTAR PUSTAKA
normalitas data dengan SPSS menggunakan [1] Arsyad, A., (2007), Media Pembelajaran,
Shapiro-Wilks pada taraf nyata α=0,05 dengan PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
kriteria sign. > α, dapat dilihat pada tabel 2. Sebagai [2] Dermawan, A.,(2014), Keefektifan
berikut: Collaborative Learning Berbasis Quis
Tabel 2. Hasil Uji Normalitas
Edutainment Terhadap Ketuntasan Hasil
Belajar, Jurnal Chemistry In Education, 1:
58-63.
[3] Dhewani,M.,A., Yamtinah, S., dan
Martini,K.,S., (2015), Penerapan Model
Pembelajaran STAD (Student Teams
Achievement Division) Dilengkapi Dengan
LKS Untuk Meningkatkan Motivasi dan
Prestasi Belajar Pada Materi Reaksi Kimia
Dari tabel 2 diatas diperoleh kesimpulan Kelas VII SMP Negeri 19 Surakarta, Jurnal
bahwa data pretest, postest, dan gain kedua Pendidikan Kimia,4: 137-143
kelompok sampel memiliki data yang normal. [4] Eviyanto, M., Joharmawan, R., dan Afandy,
Sedangkan hasil pengujian homogenitas dengan D., (2013), Perbedaan Hasil Belajar Siswa
menggunakan spss yaitu dengan uji Levene Test Yang Dibelajarkan Menggunakan Model
pada taraf nyata α=0,05 dengan kriteria Sign. Mean Pembelajaran Kolaboratif Dengan Model
> α, dapat dilihat pada tabel 3. Sebagai berikut: Pembelajaran Ekspositori Tentang Larutan
Penyangga Kelas XI MA,Universitas Negeri
Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas
Malang, Malang
[5] Jusniar, (2009), Pengaruh Penggunaan Tutor
Sebaya Terhadap Hasil Belajar Kimia Siswa
Kelas X SMA N 1 Bajeng (studi pada materi
pokok perhitungan kimia), Jurnal Chemica,
1: 36-43
[6] Lestari, W.,T., Utami,B., dan Masykuri,M.,
(2014), Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Numbered Head Together
Dari tabel 3 diatas diperoleh kesimpulan (NHT) Disertai Dengan Media Lembar Kerja
bahwa data pretest, postest, dan gain antara Siswa (LKS) Untuk Meningkatkan Prestasi
kelompok sampel tersebut dinyatakan homogen. Belajar dan Kreativitas Siswa Pada Materi
Dengan demikian syarat pengujian normalitas dan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Siswa
Kelas XI IPA 4 SMA Negeri2 Karanganyar
Tahun Ajaran 2012/2013, Jurnal Pendidikan
Kimia, 3: 28-35
[7] Margowati, D., (2009), Penerapan Model
Pembelajaran Kolaboratif Disertai Strategi
Quantum Learning Dalam Meningkatkan
Hasil Belajar Biologi, Universitas Sebelas
Maret, Surakarta
[8] Nurhayati, Liyana, Martini K.S, Redjeki T.,
(2013), Peningkatan Kreativitas dan Prestasi
Belajar Pada Materi Minyak Bumi Melalui
Penerapan Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) Dengan Media
Crossword, Jurnal Pendidikan Kimia (JPK),
2 : 151-158
[9] Rusman, (2011), Model-Model
Pembelajaran , PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta
[10] Sadiman,A.S.,Rahardjo,R.,Haryono,A.,dan
Rahardjito,(2009), Media Pendidikan,
Rajawali Pers, Jakarta
[11] Sugiyo, W., Kusuma,E., & Wahyuni,P.T.,
(2009), Efektifitas Metode Student Centered
Learning yang Berbasis Fun Cemistry Untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa.
Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, 2: 469-475
[12] Sumarni,W.,(2008), Lesson Study Untuk
Meningkatkan Mutu Proses dan Hasil
Pembelajaran Perkuliahan Dasar Pemisahan
Analitik, Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia
Universitas Negeri Semarang, Vol.2, No.1
[13] Widarti,H.R.,(2012),Study Tentang
Pelaksanaan Lesson Study di SMA
Brawijaya Smart School Malang Semester
Genap 2010-2011, Prosiding Seminar
Nasional Kimia Unesa 2012, 229-235

Anda mungkin juga menyukai