Anda di halaman 1dari 39

BAB III

ELEMEN-ELEMEN KONSTRUKSI

Batang Tarik

Gaya batang yang bekerja pada suatu titik dan arah gayanya meninggalkan titik
tersebut, dinamakan gaya tarik. Bila telah diketahui besarnya gaya yang bekerja
pada batang tarik, maka ukuran batang/balok tersebut dapat kita tentukan.
Untuk menghitung batang tersebut perlu mengetahui tegangan ijin tarik (σtr) dari
kayu yang digunakan.
Batang tarik akan mengalami perlunakan (perlemahan) akibat alat-alat sambung,
seperti : baut, paku, pasak dan lain-lain.

Untuk menghitung tegangan tarik yang terjadi digunakan rumus :

σtr// = S / F netto

dimana :
σtr// = Tegangan tarik yang terjadi
S = Gaya tarik
F netto = luas penampang bersih

Apabila batang tarik bertampang tunggal dilakukan penyambungan maka


sambungan tersebut tidak menguntungkan, dimana akan terjadi deformasi bila
eksentrisitas gaya yang bekerja.

Gambar 68 : Terjadi deformasi akibat beban tarik

1
Untuk sambungan bertampang ganda, penyambungan menggunakan Klos dapat
dilakukan, akan tetapi Klos yang berada pada bagian luar kemungkinan akan terjadi
Klos tersebut akan melengkung, dan akan lebih baik jika posisi Klos terletak
dibagian dalam (gambar ).

Gambar 69 : Klos untuk penyambungan tampang ganda

Bila bentang-bentang ganda terlalu panjang, maka pada beberapa jarak tertentu
diberi Klos perangkai. Hal ini dibuat untuk pengaku dan mengoptimalkan fungsi
batang tarik tersebut terutama bila terjadi momen.
Sebagaimana diketahui bahwa sambungan akan mengalami perlemahan akibat dari
alat sambung yang digunakan.
Perlemahan akibat alat sambung tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 18 : Perlemahan alat penyambung


No. Jenis Alat Penyambung Perlemahan (p)
1. Paku (10-15) %
2. Baut dan Sambungan Gigi (20-25) %
3. Pasak kayu 30 %
4. Plat Kokot dan Pasak Cincin 20 %
5. Perekat 0%

2
Contoh Soal :

Sebuah batang/balok tarik dengan gaya ( S ) = 6.000 kg. Sambungan tersebut


disambung menggunakan pasak kayu. Kayu digunakan Klas II.

Ditanyakan :
Bila lebar balok b = 8 cm, hitung berapa tinggi ( h ) dari balok tersebut untuk dapat
menahan gaya yang ada.

Gambar 70 : Balok batang tarik tampang tunggal

Penyelesaian :
Tegangan ijin tarik kayu klas II : σtr// = 85 kg/cm2
Tegangan tarik yang terjadi pada kayu adalah :

Gaya tarik
σtr// =
F netto

Gaya tarik
F netto =
σtr//

6000 kg
F netto = = 70,6 cm2
2
85 kg/cm

sambungan yang digunakan pasak (perlemahan) adalah = 30 %


jadi luas penampang (F bruto) sekarang :

F bruto = F netto x (100 % + 30 %)


= 70,6 x (130 %)
= 92 cm2

jadi tinggi h balok tersebut adalah :

h = F bruto / lebar balok

3
= 92 cm2 / 8 cm
= 11,5 cm

3. 2. Batang Tekan

Untuk menentukan ukuran dari batang/balok tekan, maka selain besarnya gaya
tekan pada batang tersebut juga klas kekuatan dari kayu yang digunakan.
Tegangan tekan yang terjadi (σtk// ) adalah merupakan fungsi dari nilai banding
kelangsingan ( λ ). Sedangkan λ adalah tergantung dimensi dari kayu yang
digunakan.

(lk)
λ =
(i min)

dimana jari-jari lembam minimum :


I min
i min = √
F bruto

I min = momen lembam minimum


i min = jari-jari lembam minimum
lk = panjang batang tekuk
F bruto = luas penampang kotor

Untuk menentukan panjang batang tekuk ( lk) tergantung dari :


- panjang batang ( ls )
- sifat perletakan ujung batang (sendi, bebas dan jepit).

Rumus-rumus tekuk Euler : Pk = π2 E I / (lk)2

4
Gambar 71 : Panjang batang tekuk

λ ≤ 100 -------- berlaku rumus Tetmayer : σk = 293 – 1,94 λ

λ > 100 -------- berlaku rumus Euler : Pk = π2 E I / (lk)2 ------ Pk = gaya kritis

Faktor keamanan : n -------- n = 3,50 untuk λ ≤ 100


n = 3,50 – 4,00 untuk 100 < λ ≤ 150

Untuk perhitungan konstruksi rangka dipakai anggapan bahwa (l tekuk) = l (panjang


batang) karena dianggap batang-batang tersebut ujungnya bersendi.

- Untuk balok persegi momen inersia (I min ) = 1/12 bh3


- Untuk balok bolat (I min) = 1/64 π d4

untuk menghidarkan bahaya tekuk yang terjadi pada batang tekan (desak), maka
gaya yang bekerja pada batang tersebut harus dikalikan dengan faktor tekuk ( ω ).
Tegangan yang terjadi pada batang tekuk adalah :

S.ω
σ tk// = ≤ σ tk //
F bruto

σ tk// = Tegangan yang terjadi


S = Gaya yang bekerja
ω = Faktor tekuk (tabel)
F bruto = Luas penampang kotor

Momen inersia (I min) untuk penampang segi empat :

Momen inersia ( I min ) :


Sumbu x : Ix = 1/12 b h3
Sumbu y : Iy = 1/12 b3 h

Momen Penahan ( W ) :
Sumbu x : Wx = 1/6 b h2
Sumbu y : Wy = 1/6 b2 h

Jari-jari inersia sb x :
Ix
ix =√ = 0,289 h
F
Jari-jari inersia sb y :

5
Iy
iy =√ = 0,289 b
F Gambar 72

Tabel 19 : Faktor tekuk

6
Lanjutan : Faktor tekuk

7
Contoh Soal :

Diketahui sebuah kolom/batang tekan (desak) tampang persegi panjang, dari kayu klas II
dengan tinggi kolom adalah 3 m. Beban tekan yang bekerja adalah S = 5 ton. Perletakan
dari kolom tersebut adalah sendi-sendi.

Ditanyakan:
Bilamana ukuran h = 12 cm, berapa ukuran lebar b balok tersebut supaya mampu
menahan beban tekan S.

Gambar 73

Penyelesaian :
Kayu klas II tegangan ijin tekan adalah σ tk // = 85 kg/cm2
Telah ditentukan h = 12 cm.
Direncanakan lebar balok b = 12 cm

Momen Inersia balok :


Ix = 1/12 b h3
= 1/12 12 cm x 12 cm3
= 1728 cm4

Luas penampang kotor (F bruto) :

F =b.h
= 12 cm x 12 cm

8
= 144 cm2

jari-jari inersia :
I min
i min = √
F

1728 cm4
i min = √ = 3, 46 cm
2
144 cm

angka kelangsingan ( λ ) :
l tekuk
λ =
i min

λ = 300 cm / 3,46 cm = 86,60

faktor tekuk dengan kelangsingan λ = 86,60 -------- didapat ω = 2,364 (tabel)


Jadi tegangan yang terjadi adalah :
S.ω
σ tk// = ≤ σ tk //
F bruto

5.000 kg. 2,364


σ tk// = = 82,08 kg/cm2 < σ tk // 85 kg/cm2 (OK.)
2
144 cm

Jadi ukuran balok b = 12 cm dan h = 12 cm mampu memikul beban S tersebut.

Batang Tekan Ganda :

Pada batang ganda, didalam menghitung momem inersia (lembam) terhadap sumbu-
sumbu bahan ( sumbu x gambar a, b), kita dapat menganggap sebagai batang tunggal
dengan lebar sama dengan jumlah masing-masing bagian sehingga terdapat jari-jari
inersia (i min) = 0,289 h.

9
Gambar 74 : Batang tekan ganda
Untuk menghitung momen lembam terhadap sumbu bebas bahan (sumbu x dalam gambar
c) dan y dalam gambar a, b harus dipakai rumus sebagai berikut :

Iy = ¼ ( It + 3 Ig )

Iy = momen lembam yang diperhitungkan


It = momen lembam teoritis
Ig = momen lembam geser, dengan anggapan masing-masing bgian itu digeser hingga
berhimpitan satu sama lain.

Apabila jarak antara masing-masing bagian a > 2b, didalam menghitung It (momen
lembam teoritis) harus diambil a = 2b, masing-masing bagian yang membentuk batang
berganda harus mempunyai momen lembam :
10 . S. l y2
I ≥
n
S = gaya tekan yang timbul pada batang tekan ganda
ly = pnjang tekuk terhadap sumbu bebas bahan
n = jumlah batang (bagian)
Masing-masing bagian itu pada ujung-ujungnya dan juga pada dua titik yang masing-
masing dari ujung-ujung batang tertekan itu sepertiga panjang batang harus diberi
perangkai (klos).

Jika lebar bagian b ≤ 18 cm --------- dipakai 2 buah baut


Jika lebar bagian b > 18 cm --------- dipakai 4 buah baut

Untuk konstruksi paku sebagai ganti baut-baut tersebut, dapat dipakai paku yang
jumlahnya sesuai dengan keperluan dan pemasangannya harus sesuai dengan peraturan.

10
Gambar 75 : Klos perangkai serta baut

Contoh Soal 1 :
Diketahui sebuah batang tekan (ganda) terdiri dari 2 buah balok (gambar), dengan
ukuran b = 4 cm, h = 14 cm dan jarak antara kedua balok tersebut a = 12 cm.

Ditanyakan :
Hitung jari-jari inersia (lembam) terhadap sumbu x (ix) dan sumbu y (iy) ?

Gambar 76

Penyelesaian :
Jari-jari inersia sb x :

11
Ix
ix =√ = 0,289 h
F
ix = 0,289 . 14 cm = 4,05 cm

Momen Teoritis :

It = 2. 1/12 b h3 + 2 (b) x h (½ a + ½ b)2

Karena a > 2 b ------- maka jarak a = 2b

It = 2. (1/12. 4 . 143) + 2 (4) x 14 {½ (2.4) + ½ 4)}2


= 4181,33 cm4

Momen Lembam Geser :


Ig = 1/12 b3 h
= 1/12 (4+4) 3 x 14 cm
= 597,33 cm4

Momen Lembam sumbu y :


Iy = ¼ (It + 3. Ig)
= ¼ (4181,33 cm4 + 3 x 597,33 cm4)
= 1493,33 cm4

Iy
iy = √
F

1493,33 cm4
iy =√ = 3,65 cm
2 (4 cm .14cm )

Jadi batang tersebut akan menekuk ke-arah sumbu y : iy 3,65 < ix 4,05.

Contoh Soal 2 :
Diketahui :
Sebuah batang tekan ganda, dimana jarak kedua balok a = 4 cm dan lebar balok b = 4
cm. Kayu digunakan klas II, dan beban tekan yang bekerja adalah P = 4500 kg.
Tinggi kolom /batang = 210 cm

12
Ditanyakan :
Tentukan berapa h balok tersebut dan hitung tegangan tekan yang terjadi ?.

Gambar 77

Penyelesaian :
Direncanakan h = 12 cm
ix = 0,289 . 12 cm = 3,47 cm

Momen Teoritis :
It = 2. 1/12 b h3 + 2 (b) x h (½ a + ½ b)2

Karena a > 2 b ------- maka jarak a = 2b

It = 2. (1/12. 4 . 123) + 2 (4) x 12 {½ (2.4) + ½ (4)}2


= 1664 cm4

Momen Lembam Geser :


Ig = 1/12 b3 h
= 1/12 (4+4) 3 x 12 cm
= 512 cm4
Momen Lembam sumbu y :
Iy = ¼ (It + 3. Ig)
= ¼ (1664 cm4 + 3 x 512 cm4)
= 800 cm4

Iy

13
iy =√
F
800 cm4
iy =√ = 3,88 cm
2 (4 cm .12 cm )
ix 3,47 cm > iy 2,88 cm ------ iy yang menentukan :

angka kelangsingan :

λ = l tekuk / i min
λ = 210 cm / 2,88 cm = 72,74 ---------- faktor tekuk ω = 1,94 (tabel)

Tegangan yang terjadi :


S.ω
σ tk// = ≤ σ tk //
F bruto

4500 . 1,94
σ tk// = = 91, 41 kg/cm2 > σ tk // 85 kg/cm2 (tidak aman).
2 ( 4.12)

Contoh Soal 3 :
Diketahui tiga buah batang balok tekan, dimana lebar balok b = 4 cm dan h = 12
cm, sedangkan jarak antara balok a = 4 cm.

Ditanyakan :
Hitung jari-jari inersia (lembam) terhadap sumbu x (ix) dan sumbu y (iy) ?.

Gambar
78

Penyelesaian :
Jari-jari inersia sb x :
Ix

14
ix =√ = 0,289 h
F
i x = 0,289 . 12 cm = 3,67 cm
Momen Teoritis :
It = 3. 1/12 h b3 + 2 (b) x h (½ b + a + ½ b)2
It = 3. (1/12. 12 . 43) + 2 (4) x 12 (2 + 4 + 2)2
= 192 + 6144
= 6336 cm4
Momen Lembam Geser :
Ig = 1/12 h . b3
= 1/12 x 12 x ( 4 + 4 + 4 )3
= 1728 cm4
Momen Lembam sumbu y :
Iy = ¼ (It + 3. Ig)
= ¼ (6336 cm4 + 3 x 1728 cm4)
= 2880 cm4
Iy
iy =√
F
2880 cm4
iy =√ = 4,47 cm
3 (4 cm .12 cm )

Jadi batang tersebut akan menekuk ke-arah sumbu x : ix 3,47 < iy 4,47.

Panjang Bentangan ( l )

Untuk balok yang ditumpu bebas oleh dua perletakan, maka sebagai bentang harus
diambil jarak tengah-tengah kedua perletakan tersebut.
Apabila balok itu diletakkan langsung diatas pasangan, maka besarnya bentang diambil :
L = ld + (1/20 x ld ) = 1,05 ld

15
Gambar 79 : Lebar bentangan
L = bentangan
ld = jarak antara pasangan

Untuk gelagar terusan 3 perletakan atau lebih, sebgai bentangannya diambil jarak masing-
masing pusat perletakan. Untuk balok diberi penopang diambil :

L = (l1 + l2) / 2

Gambar 80 : Lebar bentangan

3. 3. Balok Lendutan

Pada balok lendutan/balok yang menahan lendutan selain ukurannya demikian besar
sehingga tegangannya tidak melebihi yang diijinkan, juga balok tersebut disyaratkan
bahwa lendutan ditengah-tengah balok tidak boleh melebihi uatu batas tertentu.
Dengan mengabaikan pergeseran pada tempat-tmepat sambungan, lendutan pada
suatu konstruksi akibat berat sendiri dan muatan tetap dibatasi sebagai berikut :

- untuk balok yang dipergunakan untuk konstruksi yang terlindung:


f max ≤ 1/300 l
- untuk balok yang dipergunakan untuk konstruksi yang tidak terlindung:
f max ≤ 1/400 l
- untuk balok pada konstruksi kuda-kuda, seperti gording, kasau, dan sebagainya : f
max ≤ 1/200 l
- untuk konstruksi rangka batang terlindung :
f max ≤ 1/500 l
- untuk konstruksi rangka batang yang tidak terlindung :
f max ≤ 1/700 l

16
f = lendutan
l = jarak batang
Lendutan yang terjadi untuk balok mendukung beban terpusat ditengah-tengah bentang
(f) adalah :

1 Pl3
f maks =
48 EI

Gambar 81 : Beban terpusat ditengah bentang

Lendutan yang terjadi untuk balok mendukung beban terbagi rata penuh adalah :
5 q l4
f maks =
384 E I

Gambar 82 : Beban merata penuh

Contoh Soal :

17
Diketahui sebuah balok ukuran b= 12 cm, h = 12 cm dan panjang 4 m, yang dibebani
baban merata penuh sebesar q = 0,8 t/m’. Kayu tersebut adalah kayu klas II,

Ditanyakan :
- Hitung lendutan yang terjadi ditengah-tengah bentang
- Kontrol terhadap tegangan.

q = 0,8 t/m’

Gambar 83 : Balok dibebani beban merata

Penyelesaian :
Kayu klas II :
Tegangan ijin lentur (σ lt) = 100 kg/cm2
Modulus Elastisitas ( E ) = 100.000 kg/cm2
Lendutan dengan beban merata penuh adalah :
5 ql4
f = .
384 EI

Inersia ( I ) = 1/12 b . h3
= 1/12 12 . 123
= 1728 cm4

q = 0,8 t/m’
= 800 kg/m’
= 8 kg/cm’

Lendutan yang terjadi adalah :

5 ql4
f = .
384 EI

5 8 kg/cm’ . 4004 cm
f = .

18
384 100.000 kg/cm2 . 1728 cm4

5 2,048 11 kg/cm3
f = .
384 172.800.000 kg/cm2

5
f = . 1185,19 cm = 15,43 cm
384

Kontrol terhadap tegangan :


Momen max. (M) = 1/8 . q l 2
= 1/8. 8 kg/cm’ . 4002 cm
= 160.000 kg cm.

Momen tahan (W) = 1/6 . b h 2


= 1/6. 12 cm . 12 2 cm
= 288 cm3.

M
W =
σ lt //

M 160.000 kg cm
σ lt// = = = 555 kg/cm2 > σ lt// = 100 kg/cm2 (tidak aman)
3
W 288 cm

3. 4. Balok Dibebani Momen

Balok / gelagar pada dua perletakan yang dibebani suatu momen, maka pada bagian
atas akan terdesak (momen negatif) dan bagian bawah akan tertarik ( momen positif)

19
Gambar 84 : Balok dibebani momen

Tegangan lentur :
M
σ lt =
W
σ lt = tegangan lentur
M = Momen yang bekerja (momen lentur)
W = Momen tahan
Wn= Momen tahan untuk macam alat sambung.

Bila besar momen yang bekerja telah diketahui (dihitung) dengan cara umum). Tegangan
lentur juga diketahui, maka ukuran demensi balok dapat ditentukan.
Dalam hal ini biasanya ditentukan (direncanakan) terlebih dahulu ukuran b atau h balok
tersebut.
M
Momen tahan W = 1/6 b h2 = dimana apabila terdapat alat sambung
σ lt
pada balok tersebut W (momen tahan) yang dipakai adalah Wn. Momen tahan alat
sambung ini direduksi sesuai dengan faktor reduksi pada batang tarik.

Contoh Soal 1 :

Diketahui sebuah balok diatas 2 perletakan ukuran b = 12 cm dan panjang 4 m, yang


dibebani baban merata penuh sebesar q = 0,8 t/m’. Kayu yang digunakan adalah klas II.

Ditanyakan :
Hitung tinggi balok h untuk menahan beban merata tersebut.

q=0,8t/m

Gambar 85

20
Penyelesaian :
Kayu klas II : Tegangan ijin lentur (σ lt) = 100 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100.000 kg/cm2

Momen max. (M) = 1/8 . q l 2


= 1/8. 0,8 t/m’ . 4 2 m
= 1,6 ton m
= 160.000 kg cm.

Momen tahan (W ) = 1/6 . b h 2


M
W =
σ lt

M
2
1/6 12 h =
σ lt

160.000 kg cm
2
2 h =
100 kg/cm2

2 h2 = 1600 cm

1600 cm
h = √ = 28, 28 cm.
2

Contoh Soal 2 :

Diketahui sebuah balok diatas 2 perletakan, lebar bentang 4 m, yang dibebani baban
terpusat P1 = 105 kg dan P2 = 40 kg, jarak beban seperti pada gambar. Kayu yang
digunakan klas II.

Ditanyakan :
Tentukan ukuran balok untuk dapat menahan beban (P1 & P2) yang ada diatasnya.

21
Gambar 86

Penyelesaian :
Kayu klas II : Tegangan ijin lentur (σlt) = 100 kg/cm2
Modulus Elastisitas (E) = 100.000 kg/cm2

Σ MB = 0
4 RA – P1.2,5 – P2.2 = 0
4 RA = 105 . 2,5 + 40 . 2
RA = 85,625 kg.

Momen max. (M) = RA . x – P1 (x – 1,5) – P2 (x - 2)


= 85,625 kg . 1,5
= 128,438 km
= 12843,8 kg cm

direncanakan lebar balok b = 12 cm

Momen tahan (W) = 1/6 . b h2


= 1/6 . 12. h2
= 2h2
M
W =
σ lt
12843,8 kg cm
2 h2 =
100 kg/cm2

2 h2 = 128, 438 cm

128,438 cm
h = √ = 8, 01 cm.
2

22
3.4.1. Sambungan Momen (Pelat Sambung Diatas Dan Dibawah)

Sambungan dengan Pelat sambung dibawah dan diatas

Gambar 87 : Pelat sambung diatas dan dibawah

Pada sambungan yang Pelat sambung diletakkan dibawah dan diatas, berdasarkan
percobaan-percobaan yang dilakukan dengan memakai alat sambung yang sama
maka akan diperoleh hasil yang lebih baik (kuat) daripada Pelat sambung diletakkan
disamping.
Pelat sambung bagian atas akan menahan momen tekan, sehingga luasan (A) dapat
dipakai bruto (Abr), sedang bagian bawah menahan momen positif (tarik), sehingga
luasan yang dipakai adalah luasan bersih (Ant).
Pada penyambungan, ujung-ujung kayu yang disambung haruslah dihimpitkan,
sebab bila renggang akan terjadi lendutan yang lebih besar daripada lendutan yang
diperhitungkan.

Contoh Soal 1 :

Sebuah balok dari kayu klas III, ukuran b = 8 cm dan h = 12 cm. Pelat sambung
yang digunakan adalah kayu dengan tebal = 3 cm dan lebar = 8 cm.

Ditanyakan :

23
a. Berapa momen maksimum yang dapat didukung, jika disambung dengan alat
sambung paku.
b. Berapa buah paku yang digunakan ?.

Penyelesaian :
Kayu klas III :
Tegangan ijin lentur (σ lt) = 75 kg/cm2
Tegangan ijin tekan (σ tk//) = 60 kg/cm2

Momen tahan alat sambung (Wn) = 0,9 .1/6 . b h 2


= 0,9 .1/6 . 8 .12 2
= 173 cm3

Momen mak = σ lt . Wn
= 75 kg/cm2. 173 cm3
= 12975 kg cm.

Pelat sambung dipakai 2 x 3/8 cm, maka Pelat sambung akan menghasilkan momen
sebesar :

M =Pxe
= A net x σ tk// x e
= (0,9 x 3 x 8) x 60 x 15 cm
= 19440 kg cm > 12975 kg cm ------- (aman).

P =M/e
= 12975 kg cm / 15 cm
= 865 kg.

Dipakai paku 4” BWG 8 dengan kekuatan P = 47 kg


Jumlah paku (n) :
n = P / P paku
= 865 kg / 47 kg
= 18,4 buah ≈ diambil 20 buah.

24
Gambar 88 : Penempatan paku

Contoh Soal 2 :

Diketahui Balok ukuran b = 14 cm dan h = 20 cm disambung dengan pelat sambung 2 x


5/14 cm dan alat sambung yang digunakan baut. Kayu klas II dengan beban tetap dan
konstruksi terlindung.

Ditanyakan :

Rencanakan sambungan tersebut.

Penyelesaian :

Kayu klas II :
Tegangan ijin lentur (σ lt) = 100 kg/cm2
Tegangan ijin tekan σ tr// = σ tk// = 85 kg/cm2

Momen tahan alat sambung (Wn) = 0,75 .1/6 . b h 2


= 0,75 .1/6 . 14 .20 2
= 700 cm3

Momen mak = σ lt x Wn
= 100 kg/cm2 x 700 cm3
= 70000 kg cm.

Pelat sambung ukuran 2 x 5/14 menghasilkan momen :

Momen =Pxe
= A netto x σ lt x e
= (0,75 . 5 .14 ) x 85 x 25
= 111562,5 kg cm > 70000 kg cm.

25
Gambar 89
Gaya tarik atau tekan yang didapat pada alat sambung :

P = Momen mak / e
= 70000 kg cm / 25 cm
= 2800 kg.
Sambungan dalah tampang 2 :  λb = 4,3
λb = b/d
dimana: b = tebal kayu
d = garis tengah baut
s = kekuatan sambungan (kg)
α = sudut antara arah gaya dan arah serat kayu
λb = b/d
4,3 = 5/d
d = 5 / 4,3 = 1,2 cm (diameter baut digunakan)
kekuatan sambungan tamapang dua untuk kayu klas II.

1. S = 100 db3 (1- 0,6 Sin α)


= 100 x 1,2 x 20 ( 1- 0,6 Sin 0O )
= 2400 kg

2. S = 200 db1 (1- 0,6 Sin α)


= 200 x 1,2 x 5 ( 1- 0,6 Sin 0O )
= 1200 kg

3. S = 430 d2 (1- 0,35 Sin α)


= 430 x 1,22 ( 1- 0,35 Sin 0O )
= 619,20 kg.
Jumlah baut yang digunakan (n) :

n = 2800 kg./ 619,20 kg.


= 4,522 bh ≈ 5 buah baut diameter 1,2 cm.

26
Gambar
90 :
Pemasangan baut

3.4.2. Sambungan Momen (Pelat Sambung Disamping)

Sambungan ini adalah sambungan yang paling sering digunakan, meskipun


mempunyai kelemahan pelat sambung bertambah panjang, alat sambung bertambah
banyak.

Gambar
91

Momen = 0,9 x ∑ P x e1
= 0,9 x n P x e1

kontrol gaya yang timbul pada alat sambung yang terjauh dari titik pusat ≤ P.
Dimana P ijin adalah gaya yang diijinkan tiap alat sambung.

Contoh Soal :
Sebuah balok rangkap 2 x 3/14 cm terbuat dari kayu klas IV, konstruksi terlindung
dan beban permanen. Penyambungan menggunakan paku.

Ditanyakan :
Tentukan momen maksimum yang terjadi.

Penyelesaian :

27
Kayu klas IV :
Tegangan ijin lentur (σ lt) = 50 kg/cm2
Momen tahan (Wn) :
(Wn) = 0,90 .1/6 . b h 2
= 0,90 .1/6 . 3 .14 2
= 177 cm3

Momen mak.= σ lt x Wn
= 50 kg/cm2 x 177cm3
= 8850 kg cm.

Diambil paku 4” BWG 8  dari tabel didapat kekuatan paku P = 47 kg.


Misal kita ambil jumlah paku 12 buah / kelompok :

Gambar 92 : Penempatan paku

Jadi :
Momen = 0,9 x ∑ P x e1
8850 kg cm = 0,9 x n P x e1
8850 kg cm = 0,9 x 12 x 47 x e
e1 = 17,43 cm

kontrol gaya yang terjadi pada alat sambung yang terjauh dari titik pusat :

Momen = 2 [{6 P x (a12/a1)} + {6 P x (a22/a1)}


8850 = 2 [{6 P x (12,52/12,5)} + {6 P x (7,52/12,5)}
P = 43, 38 kg < P = 47 kg. ------ ( aman).

28
3. 5. Balok Mendukung Momen Dan Gaya Normal

3. 5. 1. Lenturan Dan Tarikan


Pada suatu konstruksi sering terjadi teganagn normal (desakan dan tarikan) dan
tegangan lentur timbul bersama-sama. Misal : kuda-kuda pada bagian bawah akan
menahan beban mati + angin, akan mendapat tegangan tarik. Sedangkan langit-
langit dan penggantungnya akan memberikan lenturan/lendutan. Maka pada batang
tersebut terjadi tegangan tarik dan lendutan bersama-sama.
Jumlah tegangan yang terjadi tidak boleh melebihi tegangan ijin.

Gambar 93 : Kuda-kuda

Tegangan yang terjadi adalah :

σ terjadi = S + μ1 M < σ tr//


Anetto Wn
dimana :

μ = faktor koreksi tegangan


= σ tr// / σ lt ------- kayu klas II = 85/100 = 0,85
S = gaya tarik
M = momen
Wn = momen tahan
A netto = luas penampang bersih.

3. 5. 2. Lenturan Dan Desakan

29
Untuk perhitungan prinsipnya sama dengan lenturan dan tarikan, hanya saja perlu
diperhitungkan adanya bahaya tekuk.
Tegangan yang terjadi adalah :

σ terjadi = S . ω + μ2 M < σ tk//


A bruto Wn

dimana :
μ = faktor koreksi tegangan
= σ tk// / σ lt ------- kayu klas II = 85/100 = 0,85
S = gaya tekan
M = momen
Wn = momen tahan
ω = faktor tekuk
A bruto= luas penampang kotor.

Contoh Soal :

Sebuah balok panjang 300 cm, mendukung beban terpusat P1 = P2 = 350 kg dengan
jrk 100 cm dari perletakan. Disamping itu batang menahan gaya desak sebesar S =
4000 kg,
lebar balok b = 12 cm, kayu klas II, konstruksi terlindung dan beban permanen.

Ditanyakan :
Tentukan berapa tinggi h dari balok tersebut.

Gambar
94

Penyelesaian :
Momen maksimum = 35.000 kg cm. ---------- (setelah dicari/hitung)
Beban tekan ( S ) = 4.000 kg

σtk// = 5/4 x 85 kg/cm2 = 106,25 kg/cm2

30
σlt = 5/4 x 100 kg/cm2 = 125 kg/cm2

kita selidiki akibat momen dan gaya tekan dengan cara coba-coba dipilih h = 18 cm
A bruto =bxh
= 12 cm x 18 cm
= 216 cm2

Momen tahan (W) = 1/6 b h2


= 1/6 . 12 . 182
= 648 cm3

jari-jari inersia sumbu x:


ix = 0,289 h
= 0,289 . 18 cm = 5,2 cm

kelangsingan ( λ ) = l tekuk / ix
= 300 cm / 5,2 cm
= 57,69

faktor tekuk : ----------- ω = 1,62 (tabel tekuk)

jari-jari inersia sb y :
iy = 0,289 b
= 0,289 . 12 cm = 3,5 cm

kelangsingan ( λ ) = l tekuk / iy
= 300 cm / 3,5 cm
= 85,67
faktor tekuk : ----------- ω = 2,33 (tabel tekuk)

Tegangan yang terjadi :

σ terjadi = S . ω + μ2 M < σ tk//


A bruto Wn

σ terjadi = ( 4000. 2,33 ) + 85/100 ( 35000 )


216 648

σ terjadi = 89,06 kg/cm2 < 85 kg/cm2 ---- (tidak aman, dimensi h diperbesar).

31
3. 6. Balok Susun Dengan Pasak Kayu Dan Kokot

Untuk konstruksi berat biasanya diperlukan dimensi kayu besar. Untuk mengatasi hal
tersebut dibuat beberapa balok susun sedemikian rupa sehingga mampu menahan beban
yang ada diatasnya. Dalam penyusunan balok ini ada beberapa cara untuk
menyambungnya.
- dengan cara memberikan bentuk gigi pada bidang balok yang bersentuhan
- dengan memberi pasak kayu atau kokot diantara balok tersebut
Semua sambungan ini dimaksudkan untuk menahan gaya geser yang timbul dalam balok
susun tersebut.

Gambar 95 : Gaya geser yang timbul pada batang/balok susun

Pada gambar diatas terlihat bahwa untuk balok susun yang disusun begitu saja balok-
balok saling menggeser dengan tidak ada yang menghalanginya. Untuk balok yang
disusun dan disatukan dengan pasak-pasak atau yang lainnya, kekuatannya akan lebih
besar dari balok yang disusun begitu saja. Hal ini dapat dilihat pada momen lembam yang
terjadi. Balok susun dengan pasak dan lain-lain harus diperhitungkan perlemahannya,
maka dalam menghitung momen lembam ( I ) dan momen penahan ( W ) harus dikoreksi.

a. Konstruksi terlindung :
Dengan 2 bagian :
I = 0,6 x 1/12 b h3
W = (0,8 – 0,9) 1/6 b h2

32
Dengan 3 bagian :
I = 0,3 x 1/12 b h3
W = (0,7 – 0,8) 1/6 b h2

b. Konstruksi tidak terlindung :


Dengan 2 bagian :
I = 0,6 x 1/12 b h3
W = (0,7 – 0,8) 1/6 b h2
Dengan 3 bagian :
I = 0,3 x 1/12 b h3
W = (0,6 – 0,7) 1/6 b h2

Gambar 96 : Balok susun

Contoh Soal 1 :

Sebuah balok dengan lebar bentangan 5 meter. Kayu dengan berat jenis = 0,6 dengan
tampang 10/20 dan 30/20 disusun menjadi satu. Berat sendiri diabaikan dan beban q ton/m’
penuh diatas seluruh bentangan. Konstruksi terlindung dan beban permanen.

Ditanyakan :

a.Berapa beban q ton/m’ yang dapat dipikul oleh balok susun tersebut.
b.Kontrol terhadap geser ( τ ).

33
Gambar 97
Penyelesaian :
a. Menentukan q ton/m’
Tegangan lentur kayu Bj 0,6
σ lt = 170 x BJ
= 170 x 0,6 = 102 kg/cm2
Tegangan tarik kayu BJ 0,6
σ tr = 150 x BJ
= 150 x 0,6 = 90 kg/cm2

Tegangan geser kayu BJ 0,6


τ = 20 x BJ
= 20 x 0,6
= 12 kg/cm2
Momen tahan (Wn) = 0,9 x 1/6 b h2
= 0,9 x 1/6 . 20 .402
= 4800 cm3
Momen maksimum pada bentang :
Momen mak = 1/8 q l2
= 1/8 q 52
= 1/8 . 25 . q ton m
= 25/8 x 100.000 x q kg cm.

σ lt = M mak / Wn
102 kg/cm2 = 25/8 x 100.000 x q kg cm
4800 cm3
= 156.600 kg/cm
= 1,566 ton/m.

b. Kontrol tegangan geser ( τ ) :


Tegangan geser :
τ = 3/2 x D / b h
= 3/2 x ½ ql

34
bh
= 3/2 x ½ 156600 kg cm x 500 cm
20 cm x 40 cm
= 7,05 kg/cm2 < τ = 12 kg/cm2 ----- (aman).

Contoh Soal 2 :
Diketahui sebuah balok seperti gambar.

Kayu klas II, beban q = 620 kg/m, dengan ukuran balok (2 susun) h1 20 cm dan h2 20 cm.
lebar bentang l = 6,60 m, sambungan dengan pasak cincin.

Ditanyakan :

a. Hitung gaya geser maksimum ( τ mak.)


b. Berapa buah pasak cincin untuk balok tersebut.

Gambar 98

Penyelesaian :
a. Kontrol terhadap geser ( τ ).
Momen maksimum pada bentang :
Momen maksimum = 1/8 q l2
= 1/8 . 620 . 6,602
= 3375,90 kg m.
= 337590 kg cm.
Kayu klas II : σ lt = 100 kg/cm2

35
Momen tahan yang terjadi :
Wn = M mak / σ lt
= 337590 kg cm
100 kg/cm2
= 3375,9 cm3

Momen tahan (Wn) = 0,9 x 1/6 b h2


= 0,9 x 1/6 . 16 .402
= 3840 cm3 > 3375,90 cm3 ---- (aman).

Momen lembam ( I ) :
I = 0,6 x 1/12 b h3
= 0,6 x 1/12 .16. 403
= 51200 cm4

Gaya lintang maksimum (D) :


D =½ql
= ½ x 620 kg/m x 6,60 m

= ½ x 6,20 kg/cm x 660 cm

= 2046 kg

Kontrol tegangan geser ( τ ) :


τ = 3/2 x D / bh
= 3/2 x ½ ql
bh
= 3/2 x 2046 kg
16 cm x 40 cm
= 4, 79 kg/cm2 < τ = 12 kg/cm2 ----- (aman).

Gambar 99

36
Gaya geser total :
τ = ½ x τ mak x b x l / 2

= ½ x 4,79 kg/cm2 x 16 cm x 660 / 2


= 12658,80 kg.

b. Menghitung jumlah pasak cincin

Diambil pasak cincin Ø 120 mm, dari tabel didapat kekuatan pasak P = 2100 kg.
Jadi jumlah pasak cincin :

n = 12658,80 kg = 6,03 bh.


2100 kg

penempatan pasak cincin sebanyak (n= 6 buah) dengan cara grafis sebagai berikut :

x/c =a/t

a = t. x
c

Gambar 100

membagi a dalam n bagian yang sama = a / n


m bagian luas, mempunyai total luas :
m . a / n = ½ . (tx / C ) . x
= tx2 / 2 C

m / n .a = tx2 / 2 C
m / n .tx /C = tx2 / 2 C

x =C√m/n

maka dengan C = ½.l

37
= ½ . 660 = 330 cm
n=6
m = 1 ------ x1 =C√m/n
= 330 √ 1 / 6 = 135 cm

m = 2 ------ x2 =C√m/n
= 330 √ 2 / 6 = 191 cm

m = 3 ------ x3 =C√m/n
= 330 √ 3 / 6 = 233 cm

m = 4 ------ x4 =C√m/n
= 330 √ 4 / 6 = 269 cm

m = 5 ------ x5 =C√m/n
= 330 √ 5/ 6 = 301 cm

m = 6 ------ x5 =C√m/n
= 330 √ 6/ 6 = 330 cm.

Langkah kerja :
a. Buat lingkaran dengan jari-jari L/4
b. Bagi L/2 dalam 6 bagian
c. Lukis ordinat α, β, γ, δ, ε
d. Lukis busur dengan pusat M
e. Didapat titik x1, x2, x3, x4, x5, x6
f. Proyeksikan ke atas jarak dan letak pasak

38
Gambar 101 : Penempatan pasak

Daftar Pustaka :

- Konstruksi kayu I, Course note edisi 1983. PEDC Bandung


- Konstruksi Kayu I, Ir. Suwarno Wiryomartono.
- Konstruksi kayu, Ir. K.H. Felix Yap.
- Konstruksi Kayu, Ir. Sardji. Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. 2000
- Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia, NI.5 (PKKI) 1961
- Peraturan Muatan Indonesia (N.I – 18 ) 1970
- Teknik Sipil, Ir. Sunggono Kh. NOVA 1984

39